KEJATUHAN MANUSIA KALI KEEMPAT
6. Kejatuhan Kali Keempat
Dalam berita ini kita sampai pada Kejadian 11. Menurut catatan ilahi dalam kitab Kejadian, manusia mengalami empat kali kejatuhan. Kali pertama adalah kejatuhan Adam dalam pasal 3; kali kedua adalah kejatuhan Kain dalam pasal 4; kali ketiga adalah kejatuhan zaman bobrok sebelum air bah yang tercatat dalam pasal 6. Sekarang, dalam Kejadian 11, kita melihat kejatuhan manusia kali keempat (ayat 1-9). Keempat kejatuhan ini saling berurutan. Dalam kejatuhan kali keempat ini, ter-singkaplah kelicikan musuh. Kejatuhan kali ini terjadi setelah air bah, terjadi di bumi baru setelah air bah, terjadi di bumi baru setelah pemulihan kehidupan manusia di bawah pimpinan Nuh. Kita telah nampak bahwa kehidupan pada waktu itu merupakan suatu lambang kehidupan di dalam kebangkitan. Inilah latar belakang kejatuhan manusia kali keempat ini.
a. Penyebabnya
Di balik setiap kejatuhan terdapat satu sumber yang sama dan satu-satunya, yaitu Iblis, musuh Allah. Mung-kin Anda bertanya, “Bukankah Allah itu Mahakuasa? Jika Ia Mahakuasa, mengapa musuh ini tidak dimusnah-kan? Bagi-Nya hal ini tentu sangat mudah.” Namun, sekalipun musuh Allah, dalam ekonomi Allah sedikitnya berguna juga. Meskipun dalam ekonomi Allah terdapat begitu banyak yang positif, pihak yang putih, tetapi perlu juga sedikit yang negatif, pihak yang hitam, untuk me-nonjolkan yang putih. Iblis itulah pihak yang hitam, yang negatif.
Banyak ahli filsafat menulis buku-buku mengenai keadaan manusia di bumi. Semua tulisan itu tidaklah berarti, tidak satu pun yang tepat mengenai sasaran penting. Tetapi ketika kita membaca Alkitab, kita mene-mukan bahwa di dalamnya penuh dengan fakta dan wah-yu ilahi, tidak sepatah kata pun yang berlebihan. Misal-nya, dua pasal pertama Kitab Kejadian mewahyukan tujuan Allah dan hubungan antara Allah dan manusia. Selanjutnya dari pasal 3 sampai pertengahan pasal 11, ada delapan setengah pasal yang mencatat empat kali kejatuhan manusia. Dalam kejatuhan manusia kali keempat, manusia jatuh paling parah, tidak dapat jatuh lebih dalam lagi. Ini menunjukkan dalam kejatuhan manusia kali keempat, musuh Allah, Iblis, sudah bertindak sekuatnya, tidak bisa lebih lagi. Iblis sudah berbuat sampai puncaknya dan menggunakan segala upayanya, menyebabkan kejatuhan manusia kali keempat.
(1) Hasutan Iblis
Di dalam hati manusia, Iblis menghasut manusia untuk memberontak kepada Allah. Sebab itu, kejatuhan manusia kali keempat mutlak adalah suatu pemberontak-an. Walaupun dalam kejatuhan kali pertama terdapat se-dikit unsur pemberontakan, tetapi itu masih belum me-rupakan suatu pemberontakan, hanya merupakan suatu kejatuhan. Namun kejatuhan manusia kali keempat sung-guh suatu pemberontakan yang dihasut Iblis. Kejatuhan kali keempat sama seperti tiga kejatuhan sebelumnya, mempunyai dua faktor, yaitu Iblis dan manusia. Dalam kejatuhan kali keempat, Iblis adalah penyebab yang sesungguhnya, karena dialah yang menggerakkan pembe-rontakan dalam manusia untuk melawan Allah. Dalam arti lain, Iblislah yang di dalam hati manusia mencipta-kan pemberontakan. Dalam semua kejatuhan manusia, sedikitnya manusia jatuh dari tiga tahap, sekarang kita perlu melihat masing-masing tahap ini.
(a) Manusia Jatuh dari Hadirat Allah ke Dalam Hati Nurani
Tahap pertama, manusia jatuh dari hadirat Allah ke dalam hati nurani manusia. Ini berarti manusia jatuh dari pemerintahan Allah ke pemerintahan diri sendiri. Menurut Kejadian 2, setelah Allah menciptakan manusia, ma-nusia ditaruh di hadapan-Nya sendiri. Manusia ada di hadirat Allah, antara Allah dan manusia tidak ada se-katan, halangan, atau rintangan apa pun. Manusia lang-sung berada dalam penyertaan Allah. Dalam arti yang sangat indah dan positif, manusia langsung diperintah oleh hadirat Allah.
Dalam berita kesepuluh kita nampak Allah menciptakan manusia ke dalam tiga bagian — roh, jiwa, dan tubuh. Roh langsung berhubungan dengan hadirat Allah, jiwa dipimpin oleh roh, dan tubuh dikendalikan oleh jiwa. Inilah keadaan sebermula. Pada waktu se-bermula, hadirat Allah adalah esens pengendalian. Kita boleh menyebutnya sebagai pemerintahan Allah. Sebelum kejatuhan, manusia tercipta dan yang belum jatuh itu langsung di bawah pemerintahan ilahi ini. Pada waktu itu, manusia tidak diatur oleh sesuatu yang berasal dari Allah, melainkan langsung diatur oleh hadirat Allah. Alangkah indahnya hal itu! Saya suka diatur oleh hadirat seseorang. Bila ada saudara yang meninggalkan perkata-an kepada saya, menyuruh saya mengerjakan sesuatu, saya akan merasa kurang nyaman. Saya tidak suka di-atur oleh perkataan mereka, saya ingin mendapat pe-tunjuk langsung di depan mereka. Misalnya, dalam kehidupan pernikahan, sang istri sering diatur oleh hadirat suaminya, hal ini sangatlah manis. Ketika saya diundang makan ke rumah suatu keluarga, sering kali melihat keadaan demikian. Sang suami tidak perlu ber-kata-kata apa pun, asalkan sang istri melihat mata suami, sudahlah tahu harus berbuat apa. Asal melihat wajah suami, si istri sudah bisa tahu bahwa sekaranglah saatnya menyajikan teh. Dibimbing dan diatur oleh ha-dirat orang yang kita kasihi, alangkah manisnya!
Mula-mula, manusia berada di bawah hadirat Allah. Manusia terlebih dulu jatuh dari hadirat Allah ke dalam hati nurani sendiri. Mengenai hati nurani ini, banyak penyelidik Alkitab menganggapnya sebagai suatu masalah, sebab tidak ada orang yang dapat memastikan, pada waktu Allah menciptakan manusia, apakah menciptakan hati nurani bagi manusia. Tidak ada catatan yang jelas tentang ini. Akibatnya, banyak penyelidik Alkitab me-ngira bahwa sebelum kejatuhan kali pertama, manusia tidak mempunyai hati nurani. Namun kita harus percaya, sejak semula Allah sudah menciptakan suatu unsur di dalam manusia, dan unsur ini akhirnya menjadi hati nurani manusia. Unsur hati nurani sudah ada di dalam manusia pada saat manusia diciptakan, namun fungsi hati nurani baru ternyata setelah manusia jatuh. Setelah Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, mata mereka tercelik dan hati nurani mereka mulai berfungsi. Allah adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu, Ia bisa mengetahui sesuatu secara dini. Ketika Ia menciptakan manusia, Ia sudah menyediakan adanya hati nurani, menaruh unsur hati nurani ke dalam manusia. Namun hati nurani manusia baru berfungsi se-telah manusia jatuh dihasut Iblis. Ketika manusia jatuh, hati nurani mulai berfungsi.
Misalnya, alarm anti pencuri, meskipun alarm ini sudah terpasang di suatu kamar, tetapi alarm itu tidak berbunyi kecuali ada pencuri masuk. Namun begitu pencuri masuk, segera alarm berbunyi. Contoh ini dapat menerangkan unsur hati manusia. Ketika manusia dicip-takan, hati nurani sudah ditaruh dalam manusia, telah dipasang dalam bangunan manusia, namun sampai pada waktu tertentu, barulah berguna. Saat itu ialah saat manusia jatuh untuk pertama kalinya, begitu manusia jatuh, segera hati nurani berfungsi, Adam dan Hawa segera tahu bahwa mereka telanjang (Kej. 3:7). Mereka merasa malu. Itulah saatnya hati nurani manusia mulai berfungsi.
Manusia bisa merasa malu itu suatu hal yang baik. Bila saya mencuri sesuatu dan masih dapat membangga-kan apa yang saya curi, itu sangatlah menakutkan. Andaikata saya mencuri suatu barang, saya seharusnya me-rasa malu sekali. Namun hari ini banyak pemuda pemudi tidak memiliki perasaan malu. Terhadap kelakuannya yang jahat dan buruk itu mereka tidak merasa malu. Perasan malu bagi orang yang jatuh adalah suatu perlin-dungan, itulah sebagian dari fungsi hati nurani. Bila kita mempunyai hati nurani yang benar, baik, dan bersih, ke-tika kita melakukan perkara yang tidak bersih atau tidak senonoh, kita pasti merasa malu. Ini adalah perlin-dungan yang amat baik.
Sepanjang sejarah menyatakan bahwa fungsi hati nurani manusia selalu melindungi manusia. Hanya ber-sandar pada kekuatan hukum, pengadilan, dan polisi ti-daklah cukup. Di sini perlu pekerjaan yang halus, batini, dan lebih mendalam, yaitu fungsi hati nurani. Fungsi hati nurani bukan hanya menegur kita, tetapi juga membuat kita merasa malu. Namun selama 50 tahun ini, keadaan manusia sudah sangat bejat. Hari ini ada orang yang tanpa malu membanggakan perkara mereka yang amoral. Mereka seperti binatang yang tidak mempunyai hati nu-rani. Apakah perbedaan antara manusia dan binatang? Manusia mempunyai hati nurani, supaya manusia berpe-rasaan malu, binatang tidak mempunyai hati nurani yang demikian. Inilah bagian dari pemerintahan Allah dalam kedaulatan-Nya atas manusia. Pada kejatuhan kali pertama, manusia jatuh dari hadirat Allah, jatuh ke dalam hati nurani. Jatuh dari hadirat Allah tentu meru-pakan perkara yang memilukan. Tetapi jatuh ke dalam hati nurani manusia masih merupakan suatu perlin-dungan.
(b) Manusia Jatuh dari Hati Nurani
ke Pemerintahan Manusia
Manusia tidak bertahan lama di bawah pemerintahan hati nuraninya sendiri. Kain adalah orang pertama yang merusak pengaturan hati nurani. Kejadian 4 mewahyu-kan, Kain membunuh Habel adiknya dan berbohong, te-tapi tidak merasa malu. Ia berbohong kepada Allah ten-tang kematian Habel, ini menyatakan perusakan secara terbuka terhadap pemerintahan hati nurani. Dia sangat sombong, sama sekali tidak malu akan dosanya. Oleh karena manusia telah melanggar hati nuraninya, maka sebelum air bah, bumi penuh dengan kekerasan (Kej. 6:11). Dalam berita yang lalu kita telah melihat, sebelum air bah tidak ada pemerintahan manusia. Setelah air bah barulah Allah mendirikan wakil kekuasaan di bumi, manusia baru mulai melaksanakan kuasa Allah untuk mengatur orang lain. Itulah permulaan pemerintahan manusia. Jadi, kejatuhan kali kedua ialah dari pemerin-tahan diri sendiri ke pemerintahan orang lain.
Dalam 9 pasal pertama dari Kitab Kejadian kita nampak tiga macam pemerintahan: pemerintahan ilahi, pemerintahan hati nurani atau pemerintahan diri sendiri, dan pemerintahan manusia. Semua penyelidik Alkitab setuju bahwa pemerintahan ini membentuk tiga pengaturan ekonomi Allah, yang juga merupakan tiga cara Allah memperlakukan manusia. Pengaturan pertama ialah pemerintahan ilahi, kedua adalah pemerintahan hati nurani manusia sendiri. Ketika manusia jatuh dari pemerintahan hati nurani, manusia berada di bawah pengaturan ketiga, yaitu pemerintahan manusia.
Saya ingin berkata-kata sedikit kepada kaum muda. Syukur kepada Allah, kita adalah ciptaan-Nya. Sebagai manusia, kita berada di bawah-Nya, Dialah pemerintah yang sejati di atas kita. Kita juga mempunyai hati nurani yang telah dipersiapkan-Nya bagi kita. Ini suatu yang baik. Selain itu, kita masih mempunyai banyak wakil kekuasaan: di dalam keluarga ada orang tua, di sekolah ada guru dan kepala sekolah, masih ada pejabat peme-rintah. Semuanya ini adalah wakil kekuasaan Allah. Ber-sandarkan tiga macam pengaturan ini, umat manusia dapat terpelihara. Walaupun manusia belum diselamat-kan, namun bersandarkan ketiga macam pengaturan ini, manusia bisa terpelihara hingga sekarang. Dikatakan secara manusiawi, kita semua harus takwa kepada Allah, menuruti hati nurani kita, dan menghormati wakil ke-kuasaan Allah. Kita harus menghormati orang tua kita, guru kita, dan para pejabat pemerintah. Allah memakai semua wakil kekuasaan ini untuk memelihara manusia, agar tujuan-Nya dapat tercapai. Selamanya jangan mem-berontak kepada Allah, memberontak kepada hati nu-rani, atau memberontak kepada pemerintahan manusia.
Karunia keselamatan Allah berlawanan arah dengan kejatuhan manusia. Pertama, manusia jatuh dari hadirat Allak ke dalam hati nurani manusia. Kedua, manusia jatuh dari hati nurani ke pemerintahan manusia. Terakhir, manusia jatuh dari pemerintahan manusia ke dalam pemberontakan yang dihasut oleh Iblis. Karunia keselamatan Allah terlebih dulu menyelamatkan kita dari pemberotakan ke pemerintahan manusia, kemudian dari pemerintahan manusia diselamatkan ke hati nurani, dan terakhir dari hati nurani diselamatkan ke hadirat Allah di dalam roh kita.
(c) Manusia Jatuh dari Pemerintahan Manusia
ke Dalam Hasutan Iblis
Kejatuhan manusia dari pemerintahan diri sendiri ke pemerintahan manusia belum merupakan kejatuhan yang terakhir. Kejatuhan manusia bahkan lebih dalam dari-pada ini, yakni jatuh dari pemerintahan manusia ke da-lam hasutan Iblis. Pemerintahan manusia berasal dari wewenang Allah. Namun Iblis menggunakan wewenang yang Allah berikan kepada manusia untuk mendirikan bangsa-bangsa, dan menghasut manusia dengan sarana bangsa-bangsa memberontak kepada Allah. Demikianlah manusia jatuh ke dalam pemberontakan secara terbuka terhadap Allah. Apakah pemberontakan itu? Pemberon-takan adalah penyangkalan terhadap hak dan kekuasaan. Dalam pemberontakan Babel, manusia menyatakan penyangkalan mereka terhadap hak Allah dan mutlak terlepas dari kuasa Allah. Hari ini kita juga nampak keadaan yang demikian di dalam dunia. Ada orang ber-kata, “Siapakah Allah? Apakah Allah itu?” Mereka me-ngesampingkan perasaan hati nurani mereka dan menyangkal hak dan kuasa Allah atas diri mereka. Inilah yang terjadi di Babel. Dalam pemberontakan itu, manusia telah menolak hak dan kuasa Allah atas diri manusia. Hari ini, meskipun di antara manusia ada suatu kecon-dongan yang terus maju menyusuri arus ini, namun ma-sih ada sebagian orang yang tidak demikian, itulah sebabnya Allah masih mengizinkan manusia tetap ber-eksistensi di bumi. Jika umat manusia tiba-tiba semua menjadi seperti orang di Babel, Allah akan bersabda, “Inilah waktunya Aku harus turun bertindak.” Kita telah nampak, ketika manusia memberontak di Babel, Allah sendiri keluar bertindak, langsung menghakimi pembe-rontakan kali itu.
Kejatuhan manusia kali keempat di Babel tidak ha-nya merupakan kejatuhan biasa, lebih-lebih merupakan pemberontakan. Pemberontakan kali itu adalah hasutan Iblis. Kejatuhan kali keempat itu bukan masalah amoral, pembunuhan, atau kekerasan. Jika Anda membaca Kejadian 11 mengenai catatan kejatuhan manusia kali ke-empat itu, Anda nampak di sana tidak dikatakan masalah amoral dan kekerasan. Sewaktu muda saya membaca bagian Alkitab ini dan merasa bagian ini tidak terlalu buruk. Saya berkata kepada diri sendiri, “Manusia mendirikan sebuah kota, membangun sebuah menara, apa salahnya? Menurut pandangan saya masih sangat baik. Di sini tidak ada pencurian, pembunuhan, atau perkara amoral, mengapa Allah harus turun menghakimi?” Ketika itu saya tidak melihat apa yang ada di balik pembe-rontakan kali itu. Di balik pemberontakan kali itu ada hasutan Iblis. Sebab itu kejatuhan manusia kali keempat disebut pemberontakan. Kejatuhan kali itu bukanlah masalah bermoral atau tidak, melainkan masalah siapa-kah yang memiliki hak dan kuasa di alam semesta ini. Hak dan kuasa di alam semesta ini bagi Allah atau bagi manusia? Tentu semuanya adalah bagi Allah. Dialah Pen-cipta, Tuhan pemilik segala-galanya. Semua hak dan kua-sa haruslah milik Dia. Di Babel, sang tercipta membe-rontak kepada Pencipta. Ini berarti bahwa mereka tidak mau mempedulikan Allah, menyatakan bahwa mereka adalah pemilik segala sesuatu, kuasa itu milik mereka dan mereka boleh berbuat semaunya. Karena itu, keja-dian itu bukan sekadar jatuh, tetapi adalah pemberon-takan yang dihasut oleh Iblis, si pemberontak itu.
Semula, manusia di bawah pemerintahan Allah; ke-mudian, manusia di bawah pemerintahan hati nurani; selanjutnya, manusia di bawah pemerintahan manusia. Pada waktu Menara Babel, di mana manusia? Saat itu manusia di dalam hasutan Iblis, seluruhnya berada di bawah kuasa Iblis dan bekerja sama dengan Iblis. Seka-rang kita nampak faktor kedua dari penyebab kejatuhan kali keempat.
(2) Pemberontakan Umat Manusia
Faktor kedua dari penyebab kejatuhan kali keempat ialah pemberontakan umat manusia. Segenap umat ma-nusia bersama-sama memberontak terhadap hak dan kuasa Allah. Sebagaimana telah kita lihat, persoalannya terletak pada siapa yang berhak dalam alam semesta ini dan siapa yang berkuasa di bumi. Segenap umat manusia terdorong, terhasut untuk memberontak, menyatakan bahwa mereka tidak mempedulikan hak dan kuasa Allah.
(a) Manusia Tidak Menggunakan Roh
Dalam kejatuhan kali pertama, manusia tidak menggunakan rohnya. Jika Anda membaca Kejadian 3, Anda nampak Adam dan Hawa mungkin sudah melupakan roh mereka. Mereka tidak menggunakan roh.
(b) Manusia Hidup Berdasarkan Jiwa
Dalam kejatuhan kali kedua, manusia hidup berdasarkan jiwanya. Jika Anda membaca Kejadian 4 tentang kisah Kain, Anda nampak bahwa dia adalah orang yang seratus persen hidup dalam jiwa, sama sekali tidak hidup dalam rohnya.
(c) Manusia Bertindak Menurut Daging
Dalam kejatuhan kali ketiga, manusia bertindak menurut dagingnya. Nampakkah Anda akan ketiga langkah ini? Pertama, manusia melalaikan roh; kedua, hidup berdasarkan jiwa; ketiga, sama sekali hidup dan bertindak menurut daging. Sebab itu sampai pada Kejadian 6, manusia telah menjadi daging (Kej. 6:3). Allah tidak dapat mempertahankan lebih lama lagi daging yang bobrok ini. Karena itu, Allah lalu menurunkan air bah untuk menghakimi.
(d) Segenap Umat Manusia Bersama-sama Memberontak kepada Allah
Dalam kejatuhan kali keempat, manusia berkumpul bersama dan memberontak kepada Allah. Mereka seluruhnya digerakkan oleh Iblis untuk memberontak kepada Allah. Renungkanlah sejenak pengalaman Anda, Anda akan menemukan bahwa di dalam Anda ada keempat hal ini. Adakalanya kita tidak menggunakan roh, adakalanya kita hidup berdasarkan jiwa, adakalanya lebih celaka lagi, perilaku kita menuruti daging. Adakalanya sangat celaka, di dalam kita mengatakan, “Aku tidak peduli akan Allah.” Saya percaya kita semua pernah mengatakan perkataan demikian. Sekalipun mungkin tidak sering, paling sedikit pernah mengatakan beberapa kali. Saya tidak percaya ada orang yang tidak pernah mengatakan begitu. Kalaupun tidak dikatakan di luar, tentu dikatakan di dalam: “Aku tak peduli akan Allah, Ia terlalu merepot-kan. Aku adalah orang yang bebas, tidak ingin diganggu Allah.” Bahkan setelah Anda masuk ke dalam hidup gereja, di dalam Anda masih terdapat hasutan Iblis yang demikian. Inilah pekerjaan Iblis untuk mendirikan Babel lagi di dalam Anda. Bila Anda berkata bahwa Anda tidak peduli akan Allah, itu berarti Anda ingin mendirikan sebuah kota dan sebuah menara. Itulah pemberontakan yang ditimbulkan oleh hasutan Iblis.
(e) Manusia Jatuh Sampai Titik yang Terendah
Pada kejatuhan kali keempat, manusia sudah jatuh sampai titik terendah, tidak dapat jatuh lebih dalam lagi. Manusia sudah jatuh sampai dasarnya. Kejatuhan kali terakhir ini menyebabkan Allah membuang kaum ketu-runan Adam. Allah berketetapan membuang kaum ter-cipta. Kaum ini sudah tidak tertolong, bahkan Allah pun tidak dapat berbuat apa-apa. Walaupun Allah telah mem-buang kaum tercipta, namun Ia tidak membuang tujuan-Nya atas diri manusia. Dalam satu aspek, Ia telah membuang kaum Adam; tetapi dalam aspek lain, dari antara kaum yang jatuh itu Ia memanggil seorang ke-luar, untuk memulai suatu permulaan yang baru. Nama orang yang terpanggil itu ialah Abraham. Menurut Alkitab, Abraham menjadi kepala kaum yang baru. Adam ialah kepala kaum tercipta, sedangkan Abraham ialah kepala kaum terpanggil. Dalam berita selanjutnya kita akan lebih banyak membahas hal terpanggilnya Abraham.
Allah mempunyai jalan-Nya untuk mencapai tujuan-Nya. Tidak peduli bagaimana Iblis menghasut, atau bagai-mana manusia memberontak, Allah tetap Allah. Dia yang berdaulat atas segala sesuatu. Allah seolah-olah berkata, “Baiklah, Aku akan mengesampingkan kaum Adam.” Na-mun di bawah kedaulatan-Nya, Ia memilih satu orang untuk menjadi kepala kaum yang baru. Pilihan ini adalah yang ditetapkan sebelum dunia diciptakan. Demikianlah Allah merencanakan dan melaksanakannya menurut jad-wal. Allah mempunyai suatu jadwal. Di dalam jadwal-Nya, Ia mengesampingkan kaum keturunan Adam, dan me-manggil Abraham keluar menjadi pemimpin kaum yang baru.
b. Prosesnya
(1) Bermufakat Memberontak kepada Allah
Sekarang kita melihat proses, prosedur dari pemberontakan ini. Dalam pemberontakan ini ada permufakatan (Kej. 11:3). Di bawah hasutan Iblis, manusia berkumpul bersama bermufakat untuk memberontak kepada Allah. Pemberontakan terhadap Allah yang dihasut oleh Iblis sering kali dimulai dari persekongkolan. Selama berabad-abad, berulang kali manusia bermufakat menentang Allah, dan yang pertama kali adalah di Babel. Itulah awal mula manusia memberontak kepada Allah. Di bawah hasutan Iblis, manusia berketetapan bersama-sama menolak Allah dan memberontak kepada Allah.
(2) Dengan Usaha Manusia Membuat Batu Bata dari Tanah
Apa yang dikerjakan manusia dalam permufakatan-nya memberontak kepada Allah? Mereka membuat batu bata dan membakarnya baik-baik (Kej. 11:3). Kelihatan-nya, ini adalah sebuah cerita yang sangat sederhana, bahkan anak kecil pun sangat paham. Namun makna perkara ini sangatlah dalam.
Menurut wahyu seluruh Alkitab, pembangunan Allah tidak pernah memakai batu bata. Allah membangun de-ngan batu. Terakhir, Yerusalem Baru dibangun dari batu permata (Why. 21:18-20). Batu berbeda dengan bata. Batu adalah buatan Allah, bata adalah buatan manusia. Batu permata tidak saja Allah yang membuat, lebih-lebih adalah Allah yang mengubah. Bata dibuat orang dari ta-nah. Di Babel orang membakar tanah, membakar tanah liat menjadi bata, untuk membangun sebuah kota dan menara. Firaun juga mendirikan kota-kota perbekalan dengan batu bata (Kel. 1:11, 14a). Sekarang kita perlu mengiaskan bagian firman Allah ini, agar jelas terhadap tanda yang dimaksud dalam kisah ini.
Menurut catatan Alkitab, bumi adalah untuk menumbuhkan hayat (Kej. 1:11). Pertumbuhan hayat membutuhkan berbagai unsur. Bumi memiliki semua unsur yang diperlukan untuk menghasilkan hayat. Bah-kan pertumbuhan tubuh kita pun bersandar pada unsur-unsur yang ada di dalam tanah. Daging, sayur-mayur, biji-bijian yang kita makan, semuanya dihasilkan dari tanah. Sebab itu bumi mengandung berbagai macam unsur yang diperlukan untuk pertumbuhan hayat. Lalu, apa artinya membuat batu bata? Membuat batu bata ada-lah untuk bangunan manusia, membinasakan dan membakar setiap unsur pertumbuhan hayat di dalam tanah. Bila Anda mempunyai pandangan yang demikian, Anda akan mengenal bahwa setiap macam masyarakat, setiap ma-cam kebudayaan manusia hari ini, adalah membakar tanah untuk dijadikan batu bata. Misalnya, sekolah, sedang membinasakan dan membakar unsur pertumbuh-an hayat, membakar tanah untuk dijadikan batu bata.
Dikatakan secara perlambangan, tanah menandakan sifat manusia. Pemberontakan yang dihasut oleh Iblis telah membunuh unsur-unsur pertumbuhan hayat dalam manusia, membakar musnah unsur-unsur ini, dan menyalahgunakan manusia untuk membangun hal-hal yang memberontak kepada Allah. Perkara ini terjadi di Babel, dalam prinsip yang sama, juga terjadi dalam sejarah seluruh umat manusia.
Membuat batu bata perlu jerih payah, perlu kerja keras. Karena manusia telah menyangkal Allah, manusia harus bekerja keras baru dapat membuat sesuatu. Seluruh sejarah manusia adalah sebuah catatan tentang kerja keras pembangunan manusia, dan bahan yang digunakan untuk pembangunan adalah tanah liat yang disalahgunakan (yaitu manusia sendiri). Inilah cara pembangunan di Babel — menggunakan tanah liat yang disalahgunakan ditambah dengan kerja keras manusia.
(3) Mendirikan Sebuah Kota,
Menempuh Kehidupan Tanpa Allah
Memakai tanah liat yang disalahgunakan dengan kerja keras mendirikan sebuah kota, berarti mendirikan suatu kehidupan manusia yang tanpa Allah. Dalam kota yang didirikan di Babel, tidak dapat menumbuhkan apa-apa. Di sana tidak ada Allah, tidak ada hayat. Lihatlah kebudayaan manusia, masyarakat, dan keadaan seluruh dunia dewasa ini. Apa yang sedang dilakukan manusia? Mereka sedang membakar tanah menjadi batu bata, mendirikan suatu kota yang tanpa Allah, tanpa hayat. Inilah masyarakat hari ini. Setiap masyarakat adalah sebuah Babel. Masyarakat hari ini terbentuk dari batu bata buatan manusia dengan jalan membakar tanah yang diciptakan Allah, sehingga memusnahkan unsur pertum-buhan hayat yang ada di dalamnya. Hari ini setiap orga– nisasi dalam masyarakat, semuanya sedang membakar tanah liat untuk dijadikan batu bata, guna membangun suatu Kota Babel yang tanpa Allah dan tanpa hayat.
Pernahkah Anda melihat ada masyarakat yang tidak demikian? Jika Anda pernah melihat masyarakat yang demikian, itu pastilah gereja. Gereja tidak membakar tanah liat, gereja menggarap tanah dan menaburkan be-nih ke atasnya. Gereja tidak membangun kota yang tan-pa Allah dan tanpa hayat; gereja membangun sebuah kota yang penuh dengan hayat, penuh dengan Allah. Pembangunan gereja adalah dengan batu permata, bukan dengan batu bata yang dibuat dengan cara membakar tanah. Tidak hanya pada masyarakat yang duniawi, bah-kan pada apa yang disebut masyarakat orang Kristen, dalam agama Kristen, pada taraf tertentu, mereka juga sedang membakar tanah untuk membuat batu bata. Me-reka membakar hingga mati unsur yang menumbuhkan hayat, untuk membangun suatu kota yang tanpa Allah dan tanpa hayat. Saya harap di dalam gereja, setiap orang bisa nampak perbedaan antara gereja dengan ber-bagai macam kumpulan masyarakat. Gereja adalah satu-satunya yang tidak membakar tanah liat. Gereja meng-garap tanah, menabur benih, dan menyiram, supaya benih hayat, yaitu Kristus, bertumbuh besar dan meng-hasilkan bahan-bahan untuk pembangunan kota kudus Allah. Inilah yang dikerjakan gereja di sini. Namun mas-yarakat-masyarakat lain, termasuk yang menyebut diri-nya perhimpunan agama Kristen, sedang membakar un-sur yang menumbuhkan hayat, untuk membangun kota yang tanpa Allah dan tanpa hayat. Dalam hidup gereja kita tidak membakar tanah, sebaliknya, menyirami tanah, bercocok tanam, dan menumbuhkan. Kita menggarap, menabur, menyirami, dan menumbuhkan. Kita tidak membakar atau membunuh. Kita mempunyai sebuah bangunan yaitu bangunan Allah. Namun bukan dibangun dengan batu bata buatan manusia, bersandarkan jerih payah manusia, melainkan dengan batu yang dibuat dan diubah oleh Allah, bersandar pada pekerjaan Allah.
(4) Membangun Sebuah Menara
Menyatakan Menolak Allah
Sewaktu saya masih muda, saya tidak mengerti me-ngapa orang-orang di Babel membangun sebuah kota dan membangun sebuah menara. Apa tujuan membangun me-nara? Jika Anda membaca firman Allah bagian ini, Anda akan nampak bahwa menara adalah untuk menyatakan kepada seluruh alam semesta, terutama kepada Allah, bahwa manusia telah merdeka dari Allah dan segala sesuatu.
Hari ini dalam masyarakat manusia, prinsip kota dan menara masih sama. Menara menandakan penyebaran berita atau iklan. Sampai-sampai dalam pekerjaan ke-kristenan juga ada pembangunan “menara iklan”. Mi-salnya, Doktor A diberitakan sebagai pengkhotbah yang tersohor di dunia; pengiklanan ini adalah sebuah menara, dalam keadaan demikian, nama Yesus Kristus tidak begitu tersohor seperti Doktor A pengkhotbah ulung di dunia. Orang pergi mendengarkan dia, bukan mende-ngarkan Kristus. Tanda yang besar, iklan yang gencar, semuanya adalah bangunan sebuah menara.
Babel adalah Babilon, Babilon adalah bahasa Yunani, dalam bahasa Ibrani adalah Babel. Dalam Kejadian 11 ada Babel, demikian juga dalam Wahyu 17. Babel dalam Wahyu 17 adalah dunia kekristenan hari ini. Hari ini ba-nyak pemimpin kekristenan tahu bahwa Babel dalam Wahyu 17 menunjukkan dunia kekristenan dewasa ini. Namun mereka masih terus membangun Babel mereka sendiri. Mereka tidak hanya tinggal di Babel, bahkan se-dang membangun Babel. Mereka membangun menara mereka setinggi mungkin.
Suatu hari, ketika saya memikirkan perkara ini, Tuhan menampakkan kepada saya bahwa Kota Babel se-pertilah sebuah kuburan, sedangkan menara seperti se-buah batu nisan. Kuburan tanpa batu nisan, tidaklah lengkap. Tatkala orang-orang mendirikan sebuah tanda reklame, mereka harus tahu, itu adalah sebuah batu nisan, sebuah tanda kematian.
(5) Mencari Nama bagi Manusia, Menyangkal Nama Allah
Pembangunan menara juga untuk membuat tenar nama manusia. Mereka berusaha mencari nama bagi diri mereka sendiri, dengan demikian menyangkal nama Allah, yaitu menyangkal Allah sendiri. Yang paling ber-dosa kepada Allah ialah manusia membangun Menara Babel untuk menyohorkan namanya sendiri. Menyohor-kan nama seseorang sesungguhnya berarti menyangkal Allah. Jika Anda membaca Kejadian 12 dengan cermat, Anda dapat nampak, ketika Abraham memasuki tanah permai, ia tidak membangun sebuah menara untuk menyohorkan namanya sendiri; ia hanya mendirikan mezbah, di mana ia dapat berseru pada nama TUHAN Yehova (Kej. 12:7-8).
Di Babel, orang-orang yang memberontak membangun sebuah kota dan sebuah menara, untuk menyohorkan nama manusia. Tetapi sebaliknya, di tanah permai, Abraham mendirikan kemah untuk tempat tinggalnya, juga mendirikan mezbah dan memanggil nama Tuhan. Di Babel, menara yang dibangun orang sungguh adalah suatu yang berdosa terhadap Allah. Membangun menara untuk menyohorkan nama diri sen-diri sama dengan menyangkal nama Allah. Lebih baik menyembunyikan nama diri sendiri. Jika Anda ingin mendapat nama tenar, lebih baik mendapat nama buruk, asal nama Tuhan dimuliakan.
c. Akibatnya
(1) Diserakkan ke Seluruh Bumi
Akibat pertama dari kejatuhan manusia kali ke-empat ialah manusia tidak dapat lagi tinggal di satu tempat, melainkan tercerai-berai ke seluruh bumi (Kej. 11:8-9). Menurut Alkitab, gereja pada abad pertama tidak terpecah-pecah, tetapi menyebar ke banyak tempat. Demikian juga, karena kita bertransmigrasi, kita terus ber-kembang ke banyak tempat. Bercerai-berai adalah per-pecahan. Tetapi kita bukan terpecah. Kita utuh, tunggal, dan berkembang luas. Kita harap di tahun-tahun men-datang, lebih banyak gereja terbangunkan. Tetapi itu bu-kanlah perpecahan, itu suatu perluasan yang sangat indah dan baik. Gereja bukan ingin terpecah-pecah, me-lainkan ingin berkembang.
(2) Bahasa Menjadi Kacau-balau
Kedua, akibat dari kejatuhan manusia kali keempat ialah bahasa seluruh manusia dikacaubalaukan, tidak lagi dapat berbahasa yang sama (Kej. 11:7, 9). Di Babel, bahasa manusia dikacaubalaukan. Dalam berita ke-34, saya pernah menegaskan bahwa bahasa adalah pengucapan dan pengutaraan konsepsi kita. Di dalam gereja kita tidak seharusnya mempunyai perkataan yang berbeda, karena di dalam gereja kita hanya sehati sepikir. Dalam Roma 15:5-6, 1 Korintus 1:10, dan Filipi 2:2, Rasul Paulus menasihati kaum saleh untuk sehati sepikir. Kita hanya sehati sepikir. Ada orang dengan hebat mengkritik kita dengan mengatakan: Semua gereja lokal adalah sama, mengatakan perkara yang sama, mempunyai satu konsepsi yang sama. Mereka mengira ini sangat menakutkan, tetapi saya akan berkata bahwa ini sangat indah. Inilah kebalikan Babel.
Akibat kutukan selalu adalah kekacauan. Jika dalam gereja di sini ada perbedaan pikiran dan pendapat, itu menunjukkan bahwa kutukan sedang menimpa kita. Ber-tahun-tahun dalam pekerjaan ini, saya tidak pernah mengatakan perkataan perbantahan. Ini bukan berarti dalam segala aspek saya sama dengan rekan sekerja yang lain, melainkan saya benar-benar mengenal bahwa saya tidak seharusnya menjadi seorang yang berada di bawah kutukan. Setiap orang yang berbantahan pasti berada di bawah kutukan. Maka haruslah waspada! Bila Anda berbantahan, Andalah yang pertama kali akan jatuh di bawah kutukan. Allah memerintahkan berkat kehidup-an untuk selama-lamanya di atas kerukunan (Mzm. 133:3). Saya bersyukur kepada Tuhan, bertahun-tahun ini saya tidak mendapat kutukan, sebaliknya menerima berkat, karena saya tidak pernah berbantahan dengan para sekerja. Dalam hidup gereja kita harus sadar untuk tidak berkata-kata yang berbeda. Jangan menunjukkan kepandaian atau ketajaman Anda, jangan menunjukkan bahwa Anda lebih baik atau lebih tinggi daripada orang lain. Orang yang paling pandai adalah orang yang mene-rima berkat, dan menerima berkat tergantung pada kita mengucapkan perkataan yang sama. Bahkan Roma 15:5-6 mengatakan hendaklah satu hati dan satu suara. Gereja seharusnya hanya memiliki satu suara (satu mulut), karena gereja ialah satu tubuh. Lihatlah diri Anda sendiri, berapakah hati dan mulut Anda? Tentu saja Anda hanya mempunyai satu hati dan satu mulut. Bila Anda punya dua hati, Anda akan berada dalam kesulitan yang sangat besar. Hari ini mengapa agama Kristen mempu-nyai begitu banyak kesulitan? Karena mempunyai ber-puluh-puluh ribu hati. Agama Kristen hari ini hampir sama sekali tidak mempunyai tangan atau kaki, yang ada hanyalah banyak hati dan mulut. Setiap bagian adalah mulut. Dulu saya pernah berada dalam keadaan demi-kian, saya tidak mendengar perkataan lain, kecuali “Itu aku tidak setuju”, atau “Aku tidak beranggapan begitu”, atau “Aku tidak suka ini”. Bahkan istri tidak setuju de-ngan suami, anak-anak tidak setuju dengan orang tua mereka. Inilah situasi yang sangat kasihan dalam kekris-tenan sebutan, dan juga merupakan penyebab mengapa di antara mereka penuh dengan kutukan.
Apa yang kita miliki di dalam hidup gereja? Kita memiliki berkat, karena kita satu hati dan satu suara. Jika Anda mengunjungi gereja-gereja, Anda akan heran mendengar mereka berkata-kata sama. Akhir-akhir ini saya tinggal di Taipei sebulan lamanya, kemudian di Ko-rea dan Jepang beberapa hari. Kaum saleh di Korea dan di Jepang dengan kaum saleh di Taipei mengatakan halhal yang sama. Meskipun saya tidak mengerti bahasa Korea dan bahasa Jepang, saya mengerti “nada suara” mereka. “Nada suara” mereka tidak terkacaukan. Ini bu-kan Babel; inilah Pentakosta. Pada hari Pentakosta, ada berbagai macam orang dengan bahasa mereka masing-masing, tetapi mereka dapat saling mengerti (Kis. 2:7-11). Hidup gereja hari ini adalah Pentakosta yang sejati. Kita tidak terpecah-belah, kita satu. Kita tidak menjadi kacau-balau, kita hanya berkata-kata hal yang sama. Kita adalah orang pentakosta sejati.