KEHIDUPAN DI DALAM KEBANGKITAN (4)
b. Suatu Bayangan Kerajaan
Dalam berita-berita yang lalu, kita telah melihat banyak tentang kelimpahan di dalam Kitab Kejadian. Da-lam berita ini kita akan melihat butir kelimpahan yang lain, yaitu kerajaan. Kerajaan adalah salah satu di antara benih-benih kebenaran yang tertabur dalam Kitab Ke-jadian, benih ini tumbuh besar dalam seluruh Alkitab, ke-mudian menjadi matang dan dituai di dalam Kitab Wah-yu. Kita telah melihat bahwa setelah air bah, Nuh dan keluarganya menempuh hidup di dalam kebangkitan. Dan kehidupan semacam ini merupakan bayangan gereja. Sekarang kita akan melihat bahwa kehidupan di dalam kebangkitan ini adalah bayangan Kerajaan. Dalam Alki-tab, kerajaan merupakan sebuah topik yang sangat besar, merupakan perkara yang sangat bermakna.
(1) Awal Pemerintahan Manusia
(a) Manusia Diberi Kuasa untuk Mengatur Orang Lain
Dalam Kejadian 9:1-7 menyiratkan tentang kerajaan. Ayat 6 mengatakan, “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia.” Ini adalah ayat yang penting dalam Kitab Kejadian. Semua guru Alkitab menyetujui bahwa ayat ini menunjukkan Allah memberi manusia kuasa untuk mengatur orang lain; dalam ayat ini kita nampak awal pemerintahan ma-nusia. Sebelum itu, Allah tidak pernah memberi manusia kuasa untuk mengatur orang lain; semua orang langsung di bawah Allah. Tetapi karena kejatuhan, di dalam ma-nusia terdapat sifat pemberontak. Karena inilah maka di bumi Allah mendirikan wakil kekuasaan-Nya untuk meng-atur manusia. Dari awal Kitab Kejadian sampai pasal 9:6, selain suami disebut sebagai kepala istri (Kej. 3:16), tidak pernah disinggung tentang Allah memberi kuasa kepada manusia untuk mengatur orang lain. Namun setelah air bah, di dalam kebangkitan manusia di bumi menempuh hidup baru, barulah Allah mendirikan wakil kekuasaan di bumi.
(b) Nuh Adalah Wakil Kekuasaan
Setelah air bah, Nuh menjadi wakil kekuasaan Allah. Sebagai kepala umat baru, Nuh adalah wakil kekuasaan di bawah Allah. Adam bukan wakil kekuasaan Allah yang mengatur orang lain. Adam hanya diberi kuasa mengatur makhluk ciptaan lain, bukan manusia. Jika Anda membaca Kejadian 1 dengan cermat, Anda akan nampak bahwa Adam mendapat kuasa atas ikan-ikan di laut, bu-rung-burung di udara, ternak, binatang melata yang me-rayap di bumi (Kej. 1:26, 28). Tetapi di sana sama sekali tidak dikatakan kalau Adam beroleh kuasa untuk meng-atur manusia. Namun, setelah Nuh menjadi kepala umat baru, Allah memberinya kuasa bukan hanya mengatur segala makhluk ciptaan, tetapi juga mengatur manusia.
(c) Kerajaan Allah di Antara Manusia di Bumi
Jika Anda membaca Kejadian 9 dengan cermat, di sana Anda akan nampak bayangan kerajaan. Apakah ke-rajaan itu? Kerajaan adalah suatu pengaturan, suatu pe-nguasaan. Jadi dalam Kejadian 9 kita melihat bayangan Kerajaan Allah di antara manusia di bumi. Pemerintahan oleh kuasa pemberian Allah di antara manusia di bumi yang baru, melambangkan penguasaan Kerajaan Allah dalam hayat Kebangkitan.
(2) Sebelum Kerajaan Itu
(a) Bumi Penuh dengan Kekerasan
Bagaimanakah situasi di bumi, sebelum masa kerajaan itu? Pertama-tama, bumi penuh dengan kekerasan (Kej. 6:11, 13). Mengapa bumi penuh dengan kekerasan? Karena tidak ada wakil kekuasaan, tidak ada orang yang diberi kuasa untuk mengatur orang lain. Sebelum air bah, tidak ada wakil kekuasaan yang mengatur manusia. Andaikata, hari ini tidak ada pemerintahan daerah, atau pemerintahan pusat, apakah kita masih dapat hidup dengan aman? Tidak, bumi pasti penuh dengan kekerasan! Malam hari tidak seorang pun dapat tidur dengan nyenyak, karena semuanya was-was kalau harta bendanya akan dicuri orang. Karena tidak ada pemerin-tahan sebelum air bah, maka di bumi penuh dengan kekerasan. Dalam berita selanjutnya, kita akan melihat bahwa pemerintahan pada waktu itu adalah hati nurani manusia. Sebelum jatuh, manusia di dalam Taman Eden langsung di bawah pengaturan Allah, yakni pemerintahan Allah. Setelah kejatuhan, manusia berada di bawah pe-merintahan nuraninya sendiri. Tetapi pemerintahan hati nurani atau boleh dikatakan pemerintahan diri sendiri tidak terlaksana dengan baik. Akibatnya, seluruh bumi penuh dengan kekerasan. Karena itu, setelah air bah, Allah memberi kuasa kepada manusia untuk mengatur orang lain, dan sejak itu mulailah pemerintahan manusia.
(b) Manusia Tidak Mempedulikan Kepentingan Allah
Kedua, sebelum kerajaan itu, manusia tidak mempedulikan kepentingan Allah. Menurut Lukas 17:26-27, sebelum air bah, manusia makan dan minum, kawin dan mengawinkan, tidak ada orang yang mempedulikan kepentingan Allah. Akhirnya, penghakiman Allah menimpa ke atas diri mereka.
(3) Di Dalam Kerajaan Itu
Setelah air bah, keadaannya berbeda. Di bawah pemerintahan wakil kekuasaan Allah (yang merupakan bayangan Kerajaan Allah), situasinya menjadi berbeda.
(a) Bumi Penuh Kedamaian
Setelah air bah, bumi penuh kedamaian. Dari mana kita tahu? Kitab Kejadian 9:20 mengatakan bahwa Nuh membuat kebun anggur. Mikha 4:3-4 menyebutkan tatka-la umat Allah mempunyai kebun anggur, berarti di bumi ada kedamaian. Ayat-ayat dalam Kitab Mikha membica-rakan Kerajaan Allah yang akan datang, di sana memberi tahu kita bahwa mereka akan menempa pedang-pedang-nya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas, karena tidak lagi ada peperangan, me-reka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggur-nya dan di bawah pohon aranya. Ini menunjukkan adanya kedamaian. Nuh membuat kebun anggur, membuktikan ia sedang menikmati damai sentosa di dalam kerajaan. Pada waktu itu, tidak ada kekerasan. Hidup gereja yang normal pada hari ini adalah kebun anggur yang sejati, di dalamnya tidak ada peperangan, yang ada hanyalah kedamaian.
(b) Manusia Dipulihkan ke Sebermula
Dalam kerajaan itu, manusia dipulihkan kepada tu-juan semula Allah atas manusia, yaitu mengekspresikan dan mewakili Allah (Kej. 9:1-7). Adalah hal yang menarik melihat bahwa perkataan dalam Kejadian 1:26-28, di-ulangi lagi dalam Kejadian 9. Ini menunjukkan bahwa se-telah air bah, manusia dibawa kembali kepada sebermula untuk mencapai tujuan Allah, yaitu dengan satu sasaran mengekspresikan Allah dan mewakili Allah.
(4) Berakibatkan pada Pemberontakan Babel
Ketika kita sampai pada bagian terakhir dari Alkitab, kita nampak bahwa kerajaan itu mengakibatkan suatu situasi yang sangat tidak menyenangkan, yaitu ada satu pemberontakan besar. Demikian juga dengan lambang dalam Kitab Kejadian. Alangkah baiknya ketika Nuh menikmati damai sentosa di dalam kerajaan, dan umat manusia terpulihkan ke sebermula untuk menggenapkan tujuan Allah. Namun hasil dari semua itu justru adalah pemberontakan Babel. Pemberontakan manusia di Babel mutlak dikarenakan pekerjaan Iblis.
(a) Iblis Menduduki Manusia,
Membuat Manusia Menyalahgunakan Kuasa Pemberian Allah
untuk Membentuk Bangsa-bangsa
Iblis menduduki manusia, membuat manusia menya-lahgunakan kuasa mengatur orang lain yang diberikan Allah untuk membentuk bangsa-bangsa. Allah memberi manusia kuasa untuk mengatur orang lain adalah supaya ada kedamaian. Tetapi Iblis menduduki manusia dan membuat manusia menyalahgunakan kuasa ini untuk membentuk bangsa-bangsa. Meskipun Allah memang bermaksud menyuruh manusia untuk mengatur manusia, namun Allah tidak pernah menyuruh manusia membentuk bangsa-bangsa. Terbentuknya bangsa-bangsa merupa-kan pekerjaan Iblis. Iblis membuat manusia menyalah-gunakan kekuasaannya untuk membentuk bangsa-bangsa, mendirikan kerajaan kecil bagi dirinya sendiri.
(b) Iblis Menghasut Manusia
untuk Memberontak kepada Allah
Iblis menghasut manusia membangun Kota Babel dan Menara Babel untuk memberontak kepada Allah. Membangun Kota Babel dan Menara Babel merupakan deklarasi merdeka terhadap Allah. Manusia mendeklarasikan bahwa mereka merdeka terhadap Allah.
(c) Dihakimi oleh Allah
Pemberontakan kali itu langsung dihakimi oleh Allah sendiri. Pada zaman air bah, Allah tidak menghakimi bumi secara langsung. Melainkan mengirim air bah untuk menghakimi zaman itu. Tetapi di Babel, Allah sendiri langsung turun tangan dan menghamiki pemberontakan itu. Ia tidak mengutus siapa-siapa untuk menanggulangi pemberontakan itu, Ia sendiri menanggulanginya.
(5) Gereja Adalah Kerajaan di Dalam Realitas
Sekarang kita telah mencapai Perjanjian Baru, kita nampak kerajaan yang sejati, kerajaan di dalam realitas. Perjanjian Baru adalah sebuah kitab kerajaan; seluruh Perjanjian Baru menyinggung tentang kerajaan. Apakah butir pertama yang diberitakan dalam Perjanjian Baru? Kerajaan. Dalam pasal-pasal permulaan kitab Injil sudah diberitakan tentang kerajaan. Perjanjian Baru memberi-takan Injil secara kerajaan, bukan memberitakan tentang masuk surga. Perjanjian Baru bukan mengatakan, “Bertobatlah, karena surga telah tersedia bagimu!” Melainkan “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat. 3:2; 4:17). Anda telah mendengar banyak berita tentang Injil, pernahkah Anda mendengar sebuah berita Injil yang memberi tahu orang harus bertobat sebab kerajaan sudah dekat? Seumur hidup saya, saya belum pernah mendengar Injil yang demikian. Penginjilan orang-orang Kristen dewasa ini, umumnya menyinggung tentang dosa, surga, dan neraka, hampir tidak pernah menyinggung Injil yang berkaitan dengan kerajaan. Namun pemberi-taan Injil yang pertama dalam Perjanjian Baru menyuruh kita bertobat kerena kerajaan.
Injil adalah untuk kerajaan. Tujuan mengabarkan Injil adalah agar supaya manusia memasuki kerajaan. Injil diberitakan supaya manusia beroleh selamat, meme-nuhi syarat, dan diperlengkapi untuk memasuki keraja-an. Dilahirkan kembali adalah untuk kerajaan (Yoh. 3:3, 5). Jika Anda belum dilahirkan kembali, Anda tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sudahkah Anda beroleh selamat, dibasuh bersih dengan darah, dan dilahirkan kembali? Untuk apa semua ini? Sebelum saya masuk dalam hidup gereja, orang memberi tahu saya bahwa kita harus beroleh selamat, dibasuh, dan dilahirkan kembali, agar dapat naik ke surga. Akan tetapi, dalam gereja, kita telah nampak hal-hal yang lebih tinggi — kita beroleh se-lamat, dibasuh bersih, dan dilahirkan kembali adalah untuk gereja (Ef. 5:25, 23; Kis. 20:28). Injil Kerajaan membawa orang berdosa yang memberontak ke dalam gereja. Sekarang kita perlu melihat, apakah realitas ge-reja. Realitas gereja adalah kerajaan. Jika Anda beroleh selamat, dibasuh bersih, dan dilahirkan kembali untuk gereja, itu berarti Anda mengalami semua ini untuk realitas kerajaan.
Beban saya dalam berita ini ialah memberi tahu Anda apakah hidup gereja yang sejati. Hidup gereja yang sejati ialah kerajaan. Injil adalah untuk kerajaan: beroleh selamat, dibasuh, dilahirkan kembali, semuanya adalah perkara kerajaan.
Gereja adalah kerajaan di dalam realitas. Ada bebe-rapa orang Kristen mempertahankan bahwa sekarang ini zaman gereja, sedangkan zaman kerajaan belum tiba. Menurut konsepsi mereka, harus menunggu setelah zaman gereja berlalu barulah mulai zaman kerajaan. Dari sudut yang satu, konsepsi ini benar, namun dari sudut yang lain, tidaklah benar. Kita wajib nampak bahwa gereja hari ini adalah kerajaan. Gereja yang tepat, sejati, dan hidup itulah kerajaan, dan kerajaan itulah realitas gereja. Jika tidak ada kerajaan, tidak ada gereja. Karunia keselamatan dan kelahiran kembali kita adalah untuk gereja, dan gereja adalah kerajaan.
(a) Gereja Terbangun, Kerajaan Didirikan
Ketika gereja terbangunkan, kerajaan didirikan. Terbangunnya gereja adalah berdirinya kerajaan. Matius 16:18-19 dapat membuktikan hal ini. Dalam ayat 18 Tuhan berkata, “Di atas batu karang ini Aku akan men-dirikan jemaat-Ku.” Ayat 19, “Kepadamu akan Kuberi-kan kunci Kerajaan Surga.” Dalam ayat 18 Tuhan me-nyinggung tentang gereja (jemaat), dan dalam ayat 19 “gereja” digantikan dengan “kerajaan”. Ini membuktikan bahwa gereja dan kerajaan adalah istilah yang dapat di-pakai bergantian; keduanya menunjukkan perkara yang sama.
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa bagi pembangun-an gereja, perlulah kunci kerajaan diserahkan kepada Petrus. Saya percaya, Petrus hanya mempunyai dua buah anak kunci. Apakah kedua anak kunci itu? Kapan ia menggunakannya? Setiap pintu, setiap tempat masuk, mempunyai sebuah lubang kunci yang memakai anak kunci tertentu. Pada hari Pentakosta, Petrus telah meng-gunakan kunci yang pertama (Kis. 2); kunci ini telah membukakan pintu masuk kerajaan bagi orang Yahudi. Kemudian di rumah Kornelius, ia menggunakan kunci kedua (Kis. 10); kunci ini telah membukakan pintu ma-suk kerajaan bagi orang kafir. Tuhan memberikan kunci ini kepada Petrus dan Petrus menggunakannya untuk membuka dua pintu masuk ke dalam kerajaan. Yang satu bagi orang Yahudi dan yang lainnya bagi orang kafir, se-hingga gereja dapat terbangun. Kerajaan yang dimasuki oleh orang Yahudi dan orang kafir adalah gereja.
Siapa yang dapat mengatakan bahwa gereja hari ini bukan kerajaan? Misalnya, tempat tinggal Anda itu rumah Anda. Anda mustahil berkata, “Aku mempunyai sebuah tempat tinggal, namun aku tidak mempunyai ru-mah.” Asalkan Anda mempunyai tempat tinggal, Anda sudah mempunyai rumah. Karena tempat tinggal itulah rumah Anda. Demikian pula, asalkan di bumi ada gereja, Allah memiliki kerajaan. Jangan mengatakan gereja bu-kan kerajaan, gereja itulah kerajaan.
(b) Hidup Gereja Adalah Kerajaan
Roma 14:17 menunjukkan bahwa hidup gereja itulah kerajaan. Surat Roma adalah satu kitab yang menyinggung tentang kehidupan orang Kristen dan ke-hidupan gereja. Sebelum pasal 12, surat ini membi-carakan tentang kehidupan orang Kristen. Mulai pasal 12, menyinggung tentang kehidupan Tubuh. Membaca dari pasal 12 sampai 14, Anda akan nampak bahwa pasal 14 merupakan sebagian dari pelaksanaan kehidupan Tu-buh, dan pelaksanaan kehidupan Tubuh ini adalah keraja-an. Dalam Roma 14:17 Paulus menyinggung tentang Ke-rajaan Allah. Dalam ayat ini, Paulus tidak menyebut gereja atau kehidupan tubuh, melainkan: Kerajaan Allah adalah soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus. Ini bukan perkara yang akan datang, ini adalah perkara yang terjadi hari ini. Kehidupan tubuh, kehidupan gereja adalah kerajaan.
(c) Orang-orang Gereja Hari Ini Berada dalam Kerajaan
Kitab Wahyu 1:9 mewahyukan bahwa orang-orang gereja hari ini berada di dalam kerajaan. Hari ini di dalam gereja, kita berada di bawah pemerintahan surgawi. Kita semua perlu diperintah oleh Allah. Kalau kita di-perintah oleh Allah, barulah kita dapat menggunakan kuasa surgawi untuk memerintah bagi Allah. Matius 16 pertama kali melibatkan kerajaan dengan gereja, di sana disinggung tentang “terikat” dan “terlepas”. Ini berarti kita memerintah berdasarkan kekuasaan Allah. Ketika kita berada di bawah pemerintahan Allah, kita dapat me-makai kuasa-Nya untuk mengendalikan situasi kita.
Kita, orang-orang Kristen yang berada dalam hidup gereja, apakah masih memerlukan pengaturan lahiriah dari pemerintah atau polisi? Jika kita masih memerlukan pengaturan lahiriah, itu adalah hal yang memalukan, ka-rena di dalam kita ada pengaturan surgawi. Misalnya, Anda membeli makanan di toko cepat saji (fast-food store), dan kasirnya memberikan uang kembali yang kele-bihan kepada Anda, apakah Anda bisa makan dengan ra-sa nyaman? Tidak, Anda pasti akan mengembalikan uang kelebihan itu kepada kasirnya; karena atas diri Anda dan di dalam diri Anda ada pemerintahan surgawi yang tidak mengizinkan Anda merugikan orang lain. Anda tidak perlu polisi memerintah Anda untuk mengembalikan uang tadi. Kita, orang-orang gereja, berada di bawah pe-merintahan surgawi Allah, di tengah-tengah kita ada realitas kerajaan.
Namun, karena kita masih berada dalam sifat ala-miah kita yang jatuh, kadang kala kita masih perlu peng-aturan orang lain. Karena kita belum sepenuhnya patuh kepada pemerintahan surgawi, maka ada saudari-saudari yang masih memerlukan pengaturan suaminya. Mungkin mereka terlalu emosi, sehingga perlu diatur oleh suami mereka. Inilah pengaturan suami, bukan pengaturan sur-gawi. Karena banyak saudari yang masih begitu alamiah, belum sungguh-sungguh hidup bersandarkan Kristus, atau hidup dalam roh, maka mereka masih perlu diatur oleh suami mereka. Bila mereka hidup bersandarkan Kristus dan hidup dalam roh, pengaturan suami tidak diperlukan lagi. Jika istri berada di bawah pemerintahan surgawi, niscayalah ia tidak memerlukan pengaturan suami.
Saudara saudari muda yang sebagai pelajar memerlukan para guru untuk mengatur mereka. Di rumah, mereka memerlukan orang tua untuk mengatur mereka. Tegasnya, jika semua saudara saudari muda mutlak taat kepada pemerintahan surgawi Allah, mereka pasti tidak memerlukan pengaturan yang lain. Di toko, di sekolah, di rumah, di tempat lain, pemerintahan sur-gawi Allah lebih baik daripada semuanya. Inilah kerajaan. Kita ada di dalam kerajaan dan kerajaan ada di dalam gereja. Gereja adalah kerajaan dan kerajaan adalah realitas gereja.
Kerajaan sebagai realitas gereja mutlak tergantung pada hidup di dalam roh. Apakah hidup di dalam roh? Yaitu kehidupan di bawah pemerintahan surgawi Allah. Selama kita hidup dan berperilaku di dalam roh, kita berada di bawah pemerintahan surgawi Allah. Hidup di bawah pemerintahan Allah inilah realitas hidup gereja. Inilah realitas kerajaan hari ini. Kerajaan benar-benar ternyata dalam gereja yang hidup.
(6) Gereja Mendatangkan Kerajaan dalam Manifestasi
Gereja dengan kerajaan sebagai realitasnya menda-tangkan manifestasi kerajaan. Kerajaan mempunyai as-pek-aspek yang berlainan. Kerajaan di dalam realitas itu satu aspek, dan kerajaan di dalam manifestasi itu aspek yang lain. Di dalam gereja kita memiliki kerajaan dalam realitas, namun tidak memiliki kerajaan dalam manifes-tasi. Kerajaan terealisasi melalui hidup gereja kita, te-tapi bukan termanifestasi. Ini adalah realisasi di batin, bukan manifestasi di lahir. Realisasi kerajaan, realitas di batin, adalah di dalam gereja hari ini; sedangkan manifestasi di lahir baru akan terwujud di masa yang akan datang.
Jika kita berada di dalam realitas kerajaan, kita akan mengembalikan kelebihan uang dari kasir toko atau restoran. Ketika kita berbuat demikian, orang lain tidak mengerti. Mereka heran, mengapa kita tidak mau meng-gunakan kesempatan itu. Orang-orang tidak mengerti bahwa mengembalikan uang kelebihan itu dan tidak mau merugikan orang lain adalah contoh dari kehidupan orang-orang Kristen dalam realitas kerajaan. Orang dunia tidak nampak bahwa inilah kerajaan. Namun ketika Tuhan Yesus datang lagi, manifestasi kerajaan akan di-datangkan. Waktu itu, semua orang akan berkata, “Inilah kerajaan dalam manifestasi.”
Dikatakan dari satu aspek, kerajaan ada di sini; dikatakan dari aspek lain, kerajaan sedang datang. Ini seperti Tuhan Yesus sendiri. Di satu aspek, Tuhan Yesus ada di sini menyertai kita. Di mana pun kita berada, Tuhan selalu hadir bersama kita. Namun di aspek lain, Tuhan sedang datang. Tuhan di batin beserta dengan kita; bersamaan dengan ini, Ia di lahir sedang datang. Hari ini kita perlu memberi tahu orang bahwa kita yang percaya Tuhan memiliki-Nya di dalam kita. Kita perlu menjelaskan kepada mereka, apa makna percaya kepada Tuhan dan memperolehnya di dalam kita. Tetapi ketika Tuhan datang kembali secara lahir dan mendatangkan manifestasi kerajaan, sudah tidak perlu lagi penjelasan yang lebih lanjut. Setiap orang akan nampak kerajaan dalam manifestasi. Manifestasi kerajaan ini akan didatangkan oleh gereja yang adalah realitas kerajaan. Manifestasi kerajaan bukan datang secara tiba-tiba, me-lainkan datang melalui hidup gereja. Mengapa? Karena perlu pemenang-pemenang menaklukkan si jahat itu, me-ngalahkan dunia, menyiapkan jalan bagi Tuhan, dan men-dirikan tumpuan (tempat berpijak), supaya Tuhan bisa datang kembali. Demikian manifestasi kerajaan didatang-kan.
(a) Gereja Menghasilkan Para Pemenang
Gereja menghasilkan para pemenang. Hal ini dinya-takan sepenuhnya dalam Wahyu 12. Dalam pasal ini kita nampak seorang perempuan yang mewakili seluruh umat Allah, termasuk orang-orang kudus Perjanjian Lama dan orang-orang beriman Perjanjian Baru (orang-orang ber-iman Perjanjian Baru adalah gereja). Jangan mengira bahwa seluruh gereja, beserta setiap orang di dalamnya adalah pemenang. Tidak, di dalam gereja, ada yang bisa menjadi pemenang, tetapi ada yang tidak bisa menjadi pemenang. Ini seperti di dalam suatu keluarga, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kuat. Siapakah pemenang di dalam keluarga? Yang kuat itulah pemenang. Menurut Kitab Bilangan, setiap orang yang berusia di atas 20 tahun dan dibawah 50 tahun, adalah orang-orang yang sanggup berperang (Bil. 1:20; 4:3). Yang di bawah usia 20 tahun dan di atas 50 tahun, adalah orang-orang yang menikmati. Yang sanggup berperang itulah yang kuat, yaitu orang-orang berusia di atas 20 tahun dan di bawah 50 tahun. Dalam hidup gereja dewasa ini, ada orang yang secara rohani telah berumur 50 tahun; mereka adalah orang-orang yang menikmati. Syukur kepada Tuhan, di dalam gereja ada orang-orang muda, yang secara rohani di bawah usia 20 tahun, mereka itulah penikmat-penikmat muda. Namun lebih lagi bersyukur kepada Tuhan bahwa kita memiliki orang-orang yang secara rohani ber-usia 20 tahun ke atas dan 50 tahun ke bawah. Mereka itulah pasukan yang gagah perkasa. Mereka itulah yang sanggup berperang. Peperangan terletak di tangan me-reka. Sisanya yang lain adalah orang-orang yang menik-mati. Gereja sedang menghasilkan orang-orang perkasa, pemenang-pemenang, yang akan berperang melawan mu-suh Allah, Iblis berikut dunianya.
(b) Para Pemenang Mendatangkan Kerajaan
Menurut Wahyu 12, ketika para pemenang terangkat ke surga, Iblis akan dilemparkan ke bumi (Why. 12:5, 9). Kemudian diumumkan datangnya Kerajaan Allah (Why. 12:10). Kerajaan Allah tiba melalui para pemenang. Ge-reja menghasilkan para pemenang, dan para pemenang mengalahkan musuh, sambil mendatangkan manifestasi kerajaan. Mengenai hal ini, kita akan membahas lebih lanjut dalam Pelajaran-Hayat Kitab Wahyu.
(7) Berkuasa dalam Kebangkitan
Gereja adalah penguasaan (pemerintahan) kerajaan. Namun penguasaan ini bukan di dalam tubuh daging kita atau di dalam hayat alamiah kita. Pelaksanaan ini harus di dalam kebangkitan. Penguasaan semacam ini tidak ha-nya untuk masa kelak, melainkan hari ini juga harus ada di dalam roh kita. Andaikata di tengah-tengah kita ada penatua yang sok berkedudukan, dalam gereja memak-sakan kekuasaan untuk mengatur orang lain, demikian mustahil berhasil. Jika penatua berbuat demikian, di da-lam roh kita akan merasakan bahwa mereka bukan ber-kuasa di dalam kebangkitan, melainkan berkuasa dalam kedudukan. Kita semua harus belajar bahwa gereja ada-lah realitas kerajaan, karena itu kita harus hidup dan berperilaku di dalam roh. Kita harus hidup dan bertin-dak di dalam kebangkitan. Asal kita hidup di dalam ke-bangkitan, kita pasti memiliki kuasa. Mengatakan sau-dara adalah kepala dan saudari harus berada di bawah pimpinan saudara, ini memang benar. Namun jika para saudara tidak hidup dan berperilaku di dalam roh, seba-liknya para saudari yang hidup dan berperilaku di dalam roh, di dalam kita akan sungguh merasakan bahwa sau-dara tidak memiliki kedudukan kepala, sebaliknya justru saudari yang memiliki semacam kekuasaan. Dalam ke-adaan ini, saudari mempunyai kekuasaan karena kehi-dupan mereka berada di dalam kebangkitan. Begitu kita berbicara berdasarkan orang alamiah kita, segeralah kita kehilangan kedudukan. Tetapi kapan kita berbicara dan berperilaku di dalam roh, kedudukan kekuasaan kita niscaya terpelihara. Pemerintahan di dalam gereja bu-kanlah yang manusiawi atau yang alamiah, melainkan di dalam kebangkitan.
Izinkan saya berkata-kata kepada para suami dan para istri. Sebagai suami, jika menerapkan kekuasaan secara alamiah, segera ia bukan lagi sebagai kepala, me-lainkan sebagai ekor. Namun, kalau ia hidup di dalam roh, Roh Allah akan memberi tahu setiap orang: Inilah kepala, semua harus patuh kepadanya. Bahkan anak ke-cil di rumah pun dapat mengenal hal ini. Sering kali ke-tika orang tua bertengkar, anak-anak bisa berkata, “Ma, mama salah, papa yang benar, mama harus mendengar-nya.” Di waktu lain, anak-anak bisa berkata, “Papa berada di dalam daging, bagaimana bisa menjadi kepala?” Per-kara semacam ini sering terjadi dalam keluarga Kristen. Tidak saja Roh Kudus yang di dalam roh kita tahu, bah-kan anak kecil di rumah kita pun tahu, apakah kita ber-ada di dalam tubuh daging atau di dalam roh. Sampai-sampai anak-anak kalian yang berumur 2 atau 3 tahun pun tahu di mana kalian. Para suami, janganlah hanya menjadi kepala pada kedudukan. Kalian harus hidup dan berperilaku di dalam roh. Jadilah orang yang mutlak di dalam kebangkitan. Jika demikian, kalian adalah kepala.
Berkuasa dalam Kerajaan Allah adalah perkara da-lam kebangkitan. Di dalam kebangkitan adalah di dalam roh. O, kita sungguh perlu berada di dalam roh! Walau-pun adakalanya si istri tidak adil, namun Roh Kudus yang ada di dalam mereka itu adil. Di dalam mereka ada roh yang adil yang memberi tahu mereka, “Suamimu itu benar.” Tetapi jika kita tidak di dalam roh, kita akan ke-hilangan kedudukan kita. Kita akan kehilangan peme-rintahan surgawi. Agar bisa di dalam kebangkitan, kita harus di dalam roh. Ketika kita di dalam roh, kita berada di bawah pemerintahan surgawi, dan secara spontan oleh pemerintahan ini kita menguasai segenap situasi.
(a) Bersama Kristus di Dalam Zaman Baru
Pada suatu hari, pemenang akan bangkit, dan meraja bersama Kristus (Why. 20:4, 6). Selama kita mati, kita tidak bisa meraja bersama Kristus. Orang-orang yang bangkit akan meraja bersama Kristus, dalam zaman yang baru selama 1.000 tahun.
(b) Memerintah Bangsa-bangsa
Orang-orang yang bangkit akan meraja bersama Kristus, memerintah bangsa-bangsa (Why. 2:26-27, 12:5). Sewaktu muda, membaca ayat ini, saya tidak dapat mempercayainya. Saya berkata kepada diri sendiri, “Kamu pasti tidak memenuhi syarat untuk memerintah bangsa-bangsa.” Apakah Anda sunguh-sungguh percaya bahwa Anda akan di dalam kebangkitan meraja bersama Kristus, memerintah bangsa-bangsa? Jika Anda percaya, cobalah lihat diri Anda sendiri. Apakah Anda mirip se-orang raja? Di dalam hidup gereja, di dalam realitas kerajaan, kita sedang menerima pelatihan untuk menjadi raja. Kita perlu hidup di dalam roh, berjalan di dalam roh, agar hayat alamiah kita ditanggulangi, dan senan-tiasa hidup di dalam kebangkitan. Jika Anda di dalam kebangkitan, Anda adalah seorang yang sangat agung, terhormat. Anda adalah seorang raja.
Andaikata, saya adalah orang yang tua di dalam ke-luarga, juga seorang yang tua di antara para saudara. Jika saya bertindak berdasarkan martabat alamiah, saya akan berkata kepada keluarga saya, “Anak-anak, tidak-kah kalian tahu bahwa akulah kepala keluarga? Tidakkah kalian tahu, aku ini kakek dan kalian cucu-cucu berada di bawahku?” Jika saya bertindak demikian, saya akan menjadi seekor kura-kura. Meskipun saya mencoba berlaku sebagai orang terhormat, namun sesungguhnya saya sudah kehilangan kehormatan saya. Jika saya ber-kata kepada para saudara, “Tidakkah kalian tahu, akulah yang paling tua, paling memenuhi syarat? Aku harus menikmati kehormatan di antara para saudara.” Begitu saya bersikap demikian, saya segera menjadi seekor kala-jengking, dan tidak memiliki martabat apa pun. Namun semakin saya hidup di dalam roh, berjalan di dalam roh, berperilaku dalam kebangkitan, semakinlah saya memiliki kehormatan yang sejati. Inilah pemerintahan raja. Peme-rintahan raja ini terletak pada hidup di dalam roh yang tepat, terletak pada hayat dalam kebangkitan. Tidak per-lu berebut wewenang atau kekuasaan. Cara terbaik untuk memperoleh kekuasaan ialah menjaga diri di dalam ke-bangkitan. Inilah tongkat Harun yang bertunas (bertunas melambangkan kebangkitan), ini memberi Harun kuasa di dalam pelayanan (Bil. 17:3-10).
(8) Berakibat pada Pemberontakan
Menurut lambang kerajaan dalam Kejadian, akibat kerajaan adalah pemberontakan Babel. Sekarang dalam manifestasi kerajaan di Wahyu 20, kita nampak pembe-rontakan yang sesungguhnya. Dapatkah Anda percaya bahwa setelah seribu tahun pemerintahan surgawi, di ba-wah kekerajaan Kristus di dalam pemulihan (Kis. 3:21), masih mungkin terjadi pemberontakan yang sedemikian? Namun, baik lambang atau realitasnya, kedua-duanya sama. Akibatnya adalah pemberontakan.
Banyak guru agama Kristen mengatakan, asal Tuhan kembali, segalanya akan beres. Saya menegaskan, tidak demikian. Bahkan setelah Tuhan kembali, sifat pemberontakan itu masih ada di dalam manusia. Setelah pemulihan selama 1.000 tahun, sifat pemberontakan manusia tetap ada di dalam manusia.
(a) Iblis Dibebaskan untuk Menyingkapkan Sifat Pemberontakan Manusia
Pada akhir 1.000 tahun itu, Iblis akan dibebaskan dari penjaranya (Why. 20:7). Mengapa Allah mengizinkan Iblis dilepaskan? Iblis dibebaskan untuk menyingkapkan sifat pemberontakan yang tersembunyi di dalam manusia. Wahyu 20:8 mengatakan tentang Gog dan Magog ber-ada di sebelah utara bumi. Hari ini kecondongan umat manusia menyatakan pemberontakan ini. Bahkan setelah pemerintahan surgawi selama 1.000 tahun, sifat pemberontakan tetap ada di dalam manusia. Itulah sebabnya Allah akan melepaskan Iblis dari penjaranya, supaya pemberontakan yang ada di dalam manusia tersing-kapkan.
(b) Manusia dan Iblis Dihakimi oleh Allah
Setelah pemberontakan kali itu, Allah akan melaksanakan penghakiman atas manusia dan Iblis. Penghakiman kali itu akan membersihkan seluruh sifat pemberontakan manusia.
Kita tidak seyogianya memahami kerajaan sebagai sebuah doktrin. Kita semua harus nampak di mana kita hari ini. Kita berada di dalam hidup gereja di bawah pemerintahan surgawi. Sekarang kita perlu berada di dalam kebangkitan, hidup dan berjalan menurut roh, demikian di tengah-tengah kita akan ada realitas kerajaan.