← Daftar isi Kejadian (3) · bab 6/15

KEHIDUPAN DI DALAM KEBANGKITAN (3)

Dalam berita yang lalu kita telah membicarakan sejarah Nuh sebagai topik utama. Kita telah melihat bagaimana bahtera yang dibangun oleh Nuh itu melewati air bah serta membawa Nuh sekeluarga beralih ke zaman yang baru. Menurut perlambangan, Nuh sekeluarga hi-dup di dalam kebangkitan. Hidup seperti itu merupakan bayang-bayang dari hidup gereja. Bayang-bayang hidup gereja dalam kebangkitan ini mewahyukan bagaimana “orang-orang gereja” bangkit bersama Kristus, menyem-bah Allah bersama Kristus, dan telah memulihkan ke-hendak Allah yang semula, yaitu mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Di samping itu, bayang-bayang ini memberi tahu kita bagaimana orang-orang gereja hidup di bawah janji Allah. Kita boleh menyebut mereka seba-gai “Orang-orang perjanjian”. Apa pun yang mereka perbuat, semuanya berada di bawah janji Allah; penuh dengan berkat. Kita nampak juga, alangkah sayangnya, dalam bayang-bayang hidup gereja terdapat sebuah kegagalan. Karena dalam arti yang satu, Nuh yang selaku wakil kuasa Allah telah menggagalkan Allah. Oleh kegagalan itu, tersingkaplah beberapa perkara. Ada yang mendapat berkat dan ada pula yang menerima kutukan.

(8). Bangsa-bangsa Pertanda Timbulnya Denominasi

Dalam berita ini kita akan melihat hidup gereja dalam aspek yang tidak menyenangkan. Dalam sejarah gereja ada aspek yang mulia, ada pula aspek yang memalukan dan tidak menyenangkan. Kita perlu melihat aspek yang tidak menyenangkan ini.

Setelah air bah, Nuh sekeluarga mempunyai permu-laan baru. Di tengah-tengah mereka ada kesatuan yang riil; dalam setiap perkara mereka adalah satu. Pertama, mereka adalah satu dengan Allah. Dalam kebangkitan (angka 8 menunjukkan kebangkitan) mereka berdelapan tertampil sebagai satu orang di hadapan Allah. Mereka menyembah Allah yang esa. Kedua, mereka hanya memi-liki satu tujuan, yaitu mengekspresikan Allah dan mewa-kili Allah. Tujuan mereka adalah kembali kepada kehendak Allah yang semula. Pada mulanya Allah meng-hendaki manusia mengekspresikan Dia seturut gambar-Nya sambil mewakili-Nya melalui penguasaan-Nya. Sete-lah peristiwa air bah, bangsa yang baru sudah kembali kepada kehendak Allah yang semula, mengekspresikan Allah serta mewakili Allah. Ketiga, kedelapan orang ini adalah satu dalam opini, bahasa, konsepsi, dan penger-tian. Mereka berbicara dalam bahasa yang sama. Mereka benar-benar satu.

Tahun demi tahun jumlah mereka makin bertambah. Peningkatan yang pesat atas jumlah penduduk mengaki-batkan adanya perpecahan. Mereka tidak saja terpecah menjadi banyak keluarga dan generasi, bahkan juga men-jadi berbagai bangsa. Bangsa ialah suatu kerajaan atau penguasaan di mana ada orang yang mengepalai dan menguasai. Di mana ada orang yang berkuasa atas orang lain, di situlah terbentuk suatu kerajaan, yakni suatu bangsa. Pada permulaan zaman baru dari hidup dalam kebangkitan, hanya ada seorang kepala perwakilan, yaitu Nuh. Ia mewakili Allah, Pemimpin sejati itu. Di sebuah keluarga hanya ada satu kepala. Itu merupakan kesatuan yang sempurna. Namun kemudian anak cucu Nuh bukan hanya terpecah menjadi berbagai keluarga, bahkan men-jadi berbagai bangsa. Itu sungguh mengerikan.

Seperti yang sering kita sebut dalam berita-berita di depan, Kitab Kejadian yang mencakup segala hal ini, adalah sebuah kitab benih. Hampir segala sesuatu yang diwahyukan oleh seluruh Alkitab merupakan sebuah be-nih yang tertabur di dalam Kitab Kejadian. Benih-benih yang tertabur dalam Kitab Kejadian berkembang terus dalam kitab-kitab lainnya dalam Alkitab. Dan sampai Kitab Wahyu, menjadi masak dan siap dituai. Demikian pula benih perpecahan. Benih perpecahan ini tertabur dalam Kejadian 10. Kemudian bertumbuh dalam kitab-kitab Perjanjian Baru dan sampai di Kitab Wahyu yang telah menjadi masak dan siap untuk dituai. Sekarang kita akan menggunakan sedikit waktu untuk melihat perpecahan di antara umat Allah ini.

(a) Semula Adalah Satu

Pada mulanya umat Allah adalah satu. Mengapa me-reka itu satu? Memang unsur keluarga mengikat mereka menjadi satu, namun faktor utama kesatuan mereka di-karenakan mereka hanya mempunyai satu Allah. Nuh sekeluarga menyembah Allah yang Maha Esa. Allah yang Maha Esa ini adalah faktor utama yang mengikat umat Allah di dalam kesatuan. Keluarga Nuh bersatu dikare-nakan mereka menyembah Allah yang satu, Allah yang unik. Menyembah Allah merupakan unsur penting yang menentukan. Bila penyembahan kepada Allah berubah sasaran, seluruh keadaan di tengah-tengah umat Allah pasti juga berubah. Jika di antara umat Allah terdapat penyembahan yang berlainan, pasti terjadi perpecahan di tengah-tengah mereka. Jadi faktor utama untuk meme-lihara kesatuan suku bangsa baru ialah selain satu Allah yang benar tidak ada allah lain. Demikian juga, kita ha-nya memiliki satu Allah, kita hanya menyembah Allah yang unik itu. Allah kita unik (satu-satunya), karena itu kita esa. Efesus 4:6 mengatakan tentang satu Allah satu Bapa. Sebab kita hanya memiliki satu Allah dan satu Bapa, karena itu kita pun esa.

Tidak hanya demikian, saya juga pernah menying-gung bahwa Nuh sekeluarga terwujud satu disebabkan mereka hanya mempunyai satu sasaran yang unik. Baik Nuh maupun anak-anaknya tidak ada yang mencari ke-pentingan pribadinya; mereka semua bagi sasaran Allah. Apakah sasaran Allah? Sasaran Allah ialah agar manusia mengekspresikan dan mewakili-Nya. Nuh sekeluarga tidak memiliki allah lain dan tidak ada sasaran lain.

Sasaran mereka bukan pertanian, pendidikan, atau industri. Sasaran mereka bukan keuntungan pribadi me-reka, satu-satunya sasaran mereka adalah mengeks-presikan Allah dan mewakili Allah. Terhadap hal ini hen-daknya kita mempunyai kesan yang mendalam. Meskipun kita mempunyai Allah yang sama, mungkin kita mempu-nyai sasaran yang berbeda. Bila kita bersasaran lain, kita akan terpecah belah. Apakah sasaran Anda? Ingin me-mashyurkan nama Anda di dunia? Atau hendak men-dirikan perkara-perkara di luar kehendak Allah? Kami di sini hanya untuk mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Kita mempunyai satu kedudukan yang tidak ter-goyahkan untuk memproklamirkan kepada seluruh alam semesta, juga kepada Iblis beserta semua malaikat yang memberontak, pemerintah yang berkuasa di angkasa de-ngan antek-anteknya bahwa kita sebagai gereja lokal ada-lah untuk sasaran Allah, berdiri bersatu dengan Allah. Sasaran kita satu-satunya adalah mengekspresikan Allah kita. Kita di sini bagi pengekspresian Allah.

Terhadap orang-orang yang baru datang mengikuti perhimpunan kita, saya ingin berkata dengan singkat. Tahukah kalian, apa yang kita ekspresikan di sini? Kita bukanlah orang-orang yang berpakaian mentereng di sini, atau kaum intelek. Pemimpinnya tidak ganteng, elok, atau menarik. Kita pun tidak mempunyai grand piano atau organ. Bahkan satu tanda pun tidak kita mi-liki. Lalu, apakah kita ini? Apa pun bukan. Kita hanya suara yang berseru di padang gurun (Yoh. 1:23). Ketika kalian datang ke tengah perhimpunan kami, kalian tidak dapat melihat apa pun di luaran. Namun kemungkinan besar kalian nampak suatu hal — Allah sendiri tereks-presikan. Boleh jadi setelah Anda mengikuti suatu si-dang, Anda merasa agak heran: “Wah! Sungguh baik bersama-sama mereka di sini, tetapi aku tidak dapat mengatakan secara tepat di mana letak kebaikannya. Nyanyian mereka tidak begitu berirama, juga tidak ada orang yang berpakaian menarik. Sedikit pun tidak ada keindahan dan keagungan di luar. Tetapi di tengah-tengah mereka terdapat ‘sesuatu’”. “Sesuatu” ini adalah ekspresi Allah. Allah itu ekspresi kita, keagungan, ke-elokan, dan daya tarik kita. Kita adalah gereja, kita sudah kembali kepada kehendak Allah yang semula — yaitu manusia yang mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Inilah pemulihan Tuhan.

Sebagai gereja, kita mewakili Allah. Karena itu kita berulang kali berdoa, “Tuhan, kami menyuruh Engkau bekerja. Di sini kami mewakili diri-Mu, bukan mewakili diri kami sendiri. Karena kami adalah wakil-Mu, maka Engkau harus bekerja bagi diri-Mu sendiri.” Bisakah Anda berdoa demikian? Beranikah Anda berdoa demi-kian? Kecuali Anda berdiri pada kedudukan mewakili Allah, hati nurani Anda tidak akan mengizinkan Anda berdoa demikian. Tetapi begitu Anda berdiri pada kedu-dukan mewakili Allah, hati nurani Anda akan membe-narkan dan menguatkan Anda untuk berkata, “Tuhan, kami menyuruh Engkau untuk menyatakan jalan-Mu. Ini adalah pemulihan-Mu, tujuan-Mu, Engkau harus turun tangan. Di sini kami bukan mewakili perkara lain, me-lainkan mewakili-Mu. Tuhan, Engkau harus ikut cam-pur.” Inilah hidup gereja yang normal. Asalkan kita begini, kita akan mempunyai kesatuan yang unik. Kita adalah mutlak satu. Kita tidak perlu berkata, “Saudara, marilah kita bersatu.” Kalau perlu mengatakan begitu baru bersatu, itu sudah terlambat. Asalkan kita kembali kepada tujuan Allah yang semula, yakni manusia meng-ekspresikan-Nya dan mewakili-Nya, dengan sendirinya kita adalah satu. Kita adalah satu karena kita mempu-nyai satu sasaran yang sama.

(b) Akhirnya Terpecah-belah

Lalu, mengapa manusia menjadi terpecah-belah? Me-reka terpecah-belah karena mereka mulai mempunyai penyembahan yang berlainan, juga mempunyai tujuan, kepentingan, dan sasaran yang berbeda. Kejadian 10:31 mewahyukan perpecahan manusia disebabkan empat hal: kaum (suku) mereka, bahasa mereka, yaitu tulisan, pen-dapat, pengertian, dan pengutaraan berbeda; tanah me-reka; dan bangsa mereka yang berlainan. Mari kita bahas tentang keempat hal ini.

Apakah kaum atau kesukuan ini? Suku menunjukkan hubungan darah daging. Banyak orang tidak mempeduli-kan Allah, tidak mengacuhkan tujuan-Nya, tidak meng-indahkan kepentingan-Nya. Mereka hanya tahu mempe-dulikan kaum (suku) mereka sendiri. Apakah sebabnya mereka bersatu dengan sukunya? Karena suku ini ter-susun dari hubungan sanak famili mereka sendiri. Hari ini, prinsip di antara umat Allah pun juga sama. Banyak perpecahan ditimbulkan oleh hubungan jasmaniah. Setiap pertalian darah daging adalah awal perpecahan. Walau-pun dalam tubuh daging kita tidak dapat berada dalam satu keluarga, namun di antara kita mungkin ada hu-bungan tubuh daging. Anda mengasihi saudara tertentu, mungkin karena saudara itu tergolong yang Anda sukai; terhadap saudara golongan lain Anda tidak begitu me-nyukai. Begitu Anda hanya mengasihi saudara yang ter-masuk golongan yang Anda sukai, Anda termasuk suku milik jasmani, hubungan yang terbentuk menurut selera daging. Karena itu, untuk memelihara kesatuan yang sejati, kita harus mengatasi hubungan darah daging.

Faktor lain yang menimbulkan perpecahan yaitu bahasa. Bahasa bukan sekadar berarti berbicara, juga berarti pengutaraan dari pengertian. Bahasa adalah pengutaraan pendapat seseorang. Perpecahan mungkin disebabkan pengertian dan pendapat yang berbeda. Anda berpegang teguh kepada satu pendapat, saya mengukuhi pendapat yang lain, dan orang ketiga bersikeras pada pendapat yang lain pula. Akhirnya kita bertiga menga-takan perkataan yang berbeda. Kita semua bisa ber-bahasa Inggris, namun masing-masing berbicara menurut cara masing-masing, dan berbicara dalam bahasa masing-masing. Sehingga timbullah percekcokan dan perpecahan. Oleh karena kita mempunyai kepentingan daging masing-masing, terjadilah pembedaan kaum (suku); oleh karena kita mempunyai konsepsi dan pengutaraan masing-ma-sing, terjadilah bahasa yang berlainan. Pengutaraan yang berlainan ini mengakibatkan pertengkaran dan perteng-karan mengakibatkan perpecahan. Lihat saja sejarah kekristenan. Pada mulanya kaum saleh yang terkasih mutlak satu. Namun, setelah berselang beberapa saat, ada beberapa orang saleh menerima pendapat yang berlainan, sehingga mulai mengatakan perkataan yang berlainan, akhirnya timbul bahasa yang berbeda, dan ter-jadilah kesulitan. Inilah sejarah perpecahan kekristenan sepanjang abad. Bahasa benar-benar merupakan salah satu penyebab perpecahan.

Kemudian apakah tanah? Tanah menandakan wila-yah. Sewaktu saya masih muda, saya mendengar misio-naris menginjil di daerah saya, yang mengabarkan Tuhan yang sama, Injil yang sama. Tetapi pada sebuah konfe-rensi, mereka membagi-bagi daerah itu ke dalam bebe-rapa wilayah. Mereka mengatakan wilayah itu milik Baptis Selatan, wilayah lain milik Presbyterian, Open Brethen, dan lain-lain. Mereka membagi daerah itu ke dalam empat atau lima wilayah. Terhadap hal ini mereka bersikap serius sekali. Jika terjadi pelanggaran wilayah, mereka segera berkata, “Mengapa kamu menginjil ke wi-layahku? Tidak tahukah bahwa kita sudah setuju atas pembagian wilayah ini?”

Tuhan telah memimpin kita memberitakan keduduk-an gereja lokal di Amerika Serikat. Sepuluh tahun yang lalu, kedudukan gereja lokal mendapat tentangan yang sengit sekali, tetapi sekarang telah menjadi “barang yang digemari di pasaran”. Banyak orang mengatakan gereja lokal, banyak orang mengumumkan bahwa mereka adalah gereja lokal di tempat mereka tinggal. Namun perhim-punan-perhimpunan sebanyak itu bukanlah gereja lokal, melainkan sekte-sekte setempat. Ada beberapa orang berkata kepada kita, “Kami sebagai gereja lokal di sini, janganlah mengganggu kami.” Lainnya berkata, “Kami gereja lokal di sini, di sinilah kami berotonomi.” Lalu apakah otonomi itu? Tidak lain pembagian daerah demi kepentingan diri sendiri. Orang berkata, “Jangan meng-ganggu kami, kami adalah gereja lokal di tempat ini.” Na-mun dalam pandangan Allah, mereka bukan gereja lokal, melainkan sekte setempat. Dewasa ini orang melakukan perpecahan dengan alasan yang beraneka ragam. Me-mang, masing-masing gereja lokal berdiri sendiri di tiap lokal. Namun, dalam alam semesta merupakan satu tu-buh. Kita boleh mengatakan, di bumi ada banyak gereja lokal, namun kita tidak boleh mengatakan ada banyak tu-buh. Sekalipun bisa ada seribu gereja lokal, namun tubuh Kristus di alam semesta ini hanyalah satu. Kristus tidak mempunyai tubuh lebih dari satu. Jika para saudara di Anaheim mengumumkan bahwa mereka adalah gereja di Anaheim, orang lain jangan mengganggu mereka, mereka segera menjadi suatu sekte setempat. Mereka telah membagi-bagikan tanah.

Sebagai contoh, negara Amerika Serikat terdiri dari 50 negara bagian. Lima puluh negara bagian ini bukanlah tanah perpecahan. Kita boleh saja bepergian dari satu daerah ke daerah lain. Anda boleh saja menjadi pen-duduk California hari ini dan menjadi penduduk Oregon esok harinya. Tidak lama kemudian Anda boleh pindah ke Arizona dan menjadi penduduk di sana. Amerika Serikat terdiri dari 50 daerah, tetapi tidak terpecah menjadi 50 negara.

Sekali Anda menjadi kaum (suku) daging, Anda akan mempunyai bahasa yang dipengaruhi oleh pendapat, dan membagi tanah secara terpisah satu sama lain. Akhirnya Anda akan menjadi satu bangsa. Dalam bahasa Inggris, kata “denominasi” (denomination) meliputi kata “bangsa” (nation), ini sangat berarti. Dalam perlambangan disebut bangsa, sedang dalam agama Kristen disebut denominasi. Arti denominasi ialah yang dinamai. Dalam perlambangan terdapat negara-negara, seperti Etiopia, Mesir, Sheba, dan lain-lain. Dalam agama Kristen terdapat denominasi-denominasi seperti Lutheran, Presbyterian, Episcopalian, dan lain-lain. Semua ini merupakan negara-negara atau denominasi-denominasi. Semuanya berdiri sendiri.

Ketika saya baru beroleh selamat, saat itu para pendeta dan penginjil suka menggunakan istilah “denomi-nasi”. Kemudian Allah membangunkan kita untuk mem-bongkar kesalahan denominasi, lalu para pendeta dan penginjil berhenti menggunakan istilah ini. Sekalipun mereka sudah tidak lagi menggunakan istilah-istilah ini, namun mereka tetap mempertahankan nama-nama yang berbeda. Apakah Anda nampak bahwa setiap nama atau sebutan itu adalah suatu perpecahan? Setiap denominasi, setiap nama atau sebutan, semuanya merupakan suatu perpecahan. Janganlah mengatakan nama kita adalah “gereja lokal”, kita tidak bernama. Misalnya, nama bulan ialah bulan, bulan tidak mempunyai nama apa pun. Kita cukup menyebutnya bulan. Pernah ada perkataan yang mengatakan, bulan Amerika lebih terang daripada bulan China. Namun sesungguhnya tidak ada bulan Amerika maupun bulan China. Paling-paling Anda hanya dapat mengatakan bulan di Amerika atau bulan di China. Ha-nya ada satu bulan. Demikian pula, gereja ialah gereja. Gereja lokal bukan nama kita, hanya berupa sebutan status saja. Kita bukan terpecah-belah, terpisah menjadi gereja sebutan, melainkan kita adalah gereja di suatu tempat (lokal). “Gereja lokal” tidak lain menunjukkan si-fat kita, bukan nama kita. Jangan sekali-kali mengira ge-reja lokal itu sebuah nama. Paling-paling kita hanya boleh mengatakan, gereja di tempat A, misalnya, gereja di Los Angeles, gereja di Anaheim, dan seterusnya.

Di dalam kaum tidak ada raja. Kepala kaum bu-kanlah raja. Selama pendapat atau pengutaraan kalian masih berbeda, kalian belum mempunyai raja. Tatkala semua membagi tanah, masih belum ada raja. Namun ketika orang sudah mempunyai sebutan, menjadi negara, lalu muncullah raja, dan segera pula terpecah-belah. Ke-satuan mula-mula berdasarkan satu Allah, satu sasaran, tetapi terpecah-belah disebabkan banyak penyembahan yang berbeda, bahkan karena kepentingan dan tujuan yang berlainan, menyembah banyak sasaran yang tidak sama. Akhirnya, terbentuklah kaum (suku), ternyatalah bahasa yang lain, tanah menjadi daerah masing-masing, dan terbentuk pula negara, atau dikatakan denominasi; akibatnya ialah terpecah-belah. Bila Anda membaca sejarah agama Kristen, bisa mengetahui terjadinya per-pecahan tepat benar seperti demikian.

Sekitar tahun 1930, saya mengatakan banyak ten-tang masalah denominasi. Pada suatu hari, setelah lama meninggalkan rumah saya kembali ke kampung halaman saya. Lalu ada beberapa teman mengundang saya untuk makan bersama dengan pemimpin-pemimpin senior aga-ma Kristen yang cukup baik mengenal saya. Setiba di sana, saya yang baru saja melalui usia 30 ini, segera dikelilingi oleh sekelompok orang tua, yang usianya enam puluhan lebih. Seorang di antaranya yang mengepa-lai mereka berkata kepada saya, “Tuan Lee, beberapa tahun yang lalu, kau berkhotbah menyalahkan denomi-nasi. Kini kami ingin bertanya, kalau memang benar kau menyalahkan denominasi, mengapa engkau sendiri men-dirikan sebuah denominasi?” Mereka mengira perkataan ini tentunya sudah mengalahkan saya. Saya menjawab, “Saya senang sekali bahwa hari ini dapat berkumpul bersama kalian. Justru inilah kesempatan yang terbaik bagi saya untuk dapat menjelaskan masalah ini. Rasul Paulus mencela jemaat di Korintus, karena mereka me-ngatakan, ‘Aku golongan Apolos’, ‘Aku golongan Paulus’, ‘Aku golongan Kefas’, bahkan ada yang menyebut dirinya, ‘golongan Kristus’. Paulus menegur keras orang-orang di Korintus yang menimbulkan perpecahan ini (1 Kor. 1:11-13). Kalian semua mengatakan kalian sebagai golongan gereja Baptis, gereja Presbyterian, atau gereja Kristus Tionghoa. Beritahukanlah kepada saya dengan hati yang jujur, andaikata sekarang ini Rasul Paulus ada di sini, dapatkah ia memuji kalian?” Mereka berkata, “Tidak, Paulus tentunya tidak akan memuji kita.” Mereka meng-aku dengan jujur. Mereka tidak dapat tidak mengakui, karena perkataan saya telah mengena mereka. Lalu saya melanjutkan, “Kalau kalian sudah setuju bahwa menga-takan, ‘Aku golongan gereja Baptis’, ‘Aku golongan gereja Presbyterian’ itu salah, lalu saya ini akan kalian tempat-kan di mana? Apakah kalian akan menempatkan saya di Presbyterian, ataukah di gereja Baptis kalian, atau di gereja Kristus Tionghoa?” Mereka menjawab, “Kami ti-dak menempatkan Anda di mana pun.” Kemudian saya berkata, “Namun kalian tetap harus menempatkan saya di suatu tempat. Tidakkah seharusnya saya berada di suatu tempat?” Mereka bungkam seribu bahasa. Saya melanjutkan, “Berkat belas kasihan dan karunia Tuhan, saya sungguh mencintai Dia. Karena saya mencintai Dia, saya harus mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum percaya. Melalui penginjilan saya, banyak orang yang beroleh selamat. Lalu, ke mana saya harus me-nempatkan mereka? Ke dalam denominasi mana saya harus bawa mereka? Ke dalam gereja Baptiskah? Ataukah ke dalam gereja Presbyterian? Ataukah ke da-lam gereja Kristus Tionghoa?” Mereka membisu lagi. Kemudian saya menegaskan, “Sudahkah kalian nampak keadaan ini? Sekarang kalian sudah tahu, mengapa di satu pihak, saya menentang perpecahan, sedang di pihak lainnya saya malah mengerjakan perkara yang menurut pandangan kalian seolah membuat perpecahan. Kita perlu berhimpun bersama. Kami tidak bersatu dengan kalian karena kalian yang memaksa kami. Jika kalian setuju, mulai besok, turunkanlah papan nama kalian, lu-pakan semua nama kalian yang berlainan, niscaya malam ini juga saya pulang bersekutu dengan semua saudara mengenai segera menutup tempat sidang kami. Agar kita bisa berhimpun bersama-sama sebagai satu-satunya gereja di kota ini. Bagaimana pendapat kalian?” Saat ini mereka berkata, “Tidak, kami tidak dapat berbuat demikian.” Akhirnya saya menyimpulkan, “Kalau memang ka-lian tidak mau berbuat demikian, siapa yang harus bertanggung jawab atas perpecahan ini?” Sejak malam itu, sampai saya meninggalkan daratan China, mereka tidak pernah mengusik-usik saya lagi. Mereka telah merasa kalah di depan pengadilan surgawi. Mereka ingin mempertahankan perpecahan, nama-nama, atau sebutan-sebutan denominasi. Ada orang berkata, “Kami adalah gereja Kristus Tionghoa dan tidak ada yang lebih baik daripada ini.” Ada orang lain berkata, “Kami adalah ge-reja Presbyterian generasi yang ketiga, bagaimana kami dapat membuang nama ini.” Ada lagi yang berkata, “Kami adalah gereja Baptis. Gereja Baptis jauh lebih baik daripada gereja Presbyterian. Gereja Presbyterian hanya dipercik saja, hal itu tidak benar, kami adalah dicelup seluruhnya.” Terhadap pertengkaran begini, kita sudah paham sekali.

Sewaktu kami ke Taiwan, Tuhan memberkati pekerjaan-Nya. Jumlah kita dari 500 kurang bertambah sampai 20.000 lebih. Pada tahun 1957 dalam sidang istimewa selama 10 hari di Taipei, saya memberitakan sedikitnya 30 berita mengenai kedudukan yang esa. Sepuluh hari kemudian, para penatua merasa sebaiknya menghubungi pemimpin-pemimpin golongan bebas di Taipei. Di Taipei terdapat paling sedikit dua atau tiga golongan yang menyebut dirinya tidak bersekte (free group). Mereka hanya bersidang demi nama Tuhan. Mula-mula kami mengutus dua sampai tiga penatua mengunjungi mereka, membicarakan tentang masalah kesatuan di antara kaum saleh. Kemudian mengundang tiap golongan itu mengutus beberapa pemimpinnya untuk bersekutu dengan kami. Ketika semua bertemu, kami berkata kepada mereka, “Saudara-saudara, mungkin kalian mengira karena jumlah kami jauh lebih banyak daripada kalian, maka nantinya kami bisa menguasai seluruhnya. Namun jangan khawatir, dengan hati yang tulus ikhlas kami mau bersekutu dengan kalian. Kami memang serius untuk pe-mulihan Tuhan dan kesatuan Tubuh yang sejati. Kami rela mengundurkan diri dari kedudukan penatua, kemu-dian mempersilakan kalian para saudara menjadi pe-natuanya. Kami rela menyerahkan semua barang milik perhimpunan kami ke dalam tangan kalian. Lebih-lebih kami ingin mengadakan konferensi yang memberi tahu kaum saleh agar semua bersatu dengan kalian, dan taat kepada kalian. Kami berjanji untuk rela menyetujui secara tertulis serta menandatanganinya.” Mereka amat tercengang. Kemudian mereka berkata, “Saudara-sau-dara, kami berterima kasih atas ketulusan kalian, tetapi kami tetap ingin menuruti cara kami sendiri.” Masing-masing pemimpin golongan mengatakan demikian. Sejak itu kami jelas mengetahui bahwa mereka tidak berminat untuk bersatu. Mengapa mereka tidak berminat bersatu? Karena mereka menyukai kerajaan kecil mereka, bangsa kecil mereka.

Setelah perang dunia I, Presiden Amerika Serikat Wilson beserta para pemimpin Inggris dan Prancis mendirikan Liga bangsa-bangsa, yang bertujuan ingin mempersatukan semua negara di dunia. Namun akhir-nya, mereka gagal. Seusai Perang Dunia II, Presiden Amerika Serikat Roosevelt beserta pemimpin-pemimpin dunia lainnya membentuk Persatuan Bangsa-bangsa. Be-narkah negara-negara itu telah bersatu? Mereka hanya bersatu dalam peperangan. Kira-kira 50 tahun yang lalu, di kampung halaman saya terjadi perkara yang prinsipnya sama dengan itu. Belum lama saya beroleh selamat, saya bertanya kepada seorang pendeta, meng-apa orang-orang Kristen terpecah-belah. Ia berkata, “Oh, kamu pasti akan gembira. Aku beritahukan kabar baik bahwa seluruh denominasi di kota kita akan bersatu padu.” Namun tidak berselang lama pendeta itu memberi tahu saya, semakin mereka ingin bersatu, semakin hebat perpecahannya. Di dalam sidang persatuan mereka, tu-juan mereka ingin bersatu, tetapi malahan saling menye-rang. Jika Anda tidak percaya, boleh mencoba mencari semua pemimpin denominasi untuk berkumpul bersama, dan lihat apa yang akan terjadi. Mereka semua akan mengatakan perkataan yang berbeda. Boleh jadi mereka sama berbahasa Inggris, akan tetapi mereka akan meng-utarakan konsepsi yang berbeda. Kalian akan nampak situasi perpecahan di antara mereka.

Berbantah-bantahan dan tidak seia sekata adalah suatu kutukan. Bila Anda berbantahan, Andalah yang pertama menerima kutuk. Bila Anda mengucapkan per-kataan yang berbeda, Andalah yang pertama mematikan roh Anda. Tidak disangsikan lagi, Anda akan merugikan hidup gereja. Namun yang paling dirugikan adalah Anda sendiri. Berbantah-bantahan dan tidak seia sekata bukan-lah berkat, sebaliknya mendatangkan kutukan. Menurut pengamatan dan penelitian saya selama 45 tahun ini, saya tidak pernah melihat seorang pun yang berbantah-bantahan yang tidak mengalami kerugian. Saudara-saudara, kita tidak perlu berbantah-bantahan. Bukankah kita hanya mempunyai satu Allah? Satu Alkitab? Bukan-kah kita hanya percaya pada satu Tuhan? Jika memang kita hanya mempunyai satu Allah, satu Alkitab, dan satu Tuhan, marilah kita lupakan semua pendapat yang ber-lainan, untuk kepentingan Tuhan berbicaralah hal yang sama. Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati kita, “Supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat ber-satu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). Lagi pula, “Menga-runiakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan ke-hendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah” (Rm. 15:5-6).

Pada tahun pertama saya bekerja di Amerika Serikat bagi pemulihan Tuhan, saya diundang ke Tyler, Texas. Saya tahu bahwa orang-orang Kristen sering memperta-hankan pendapat yang berlainan, karena itu saya sangat waspada dan berhati-hati. Saya tidak berseru atau ber-teriak “Amin, puji Tuhan!” dengan suara yang keras. Pada waktu ada orang berdoa, saya duduk di sana dengan suara pelan berkata, “Amin, ya Tuhan!” Saya mengira ti-dak ada orang yang mendengar. Namun akhirnya ada orang datang kepada saya berkata, “Saudara Lee, mung-kin Anda tidak mengetahui kebiasaan di sini. Orang di sini tidak biasa mendengar suara: Amin.” Sampai-sampai suara ‘Amin’ saya yang pelan pun harus saya hentikan juga. Kemudian ada orang berkata kepada saya, “Orang-orang di negeri ini tidak setuju mengatakan ‘Amin’ dalam sidang.” Beberapa tahun yang lalu di dalam apa yang disebut dengan gereja-gereja Wesleyan, mereka menye-diakan sebuah “pojok amin”. Siapa yang ingin mengu-capkan “Amin”, diharuskan duduk di pojok itu. Hari ini tidak semestinya kita terganggu oleh masalah mengatakan amin ini. Orang mengatakan amin atau tidak, keras atau pelan, tidak menjadi soal bagi kita.

Mengenai baptisan juga terdapat banyak argumen-tasi. Ada orang berkata bahwa percikan dengan air ada-lah cara baptis yang tepat. Ada pula yang berkata bahwa tercelup ke dalam air barulah sesuai dengan Alkitab. Ada orang mempertahankan baptisan celup hendaknya muka menghadap ke bawah, ada pula yang menghendaki muka harus menghadap ke atas. Ada orang berpegang pada pembaptisan sekali saja, ada pula yang berpegang pada pembaptisan tiga kali. Ada orang memperdebatkan air baptisan. Air dingin ataukah air panas. Air asin ataukah air tawar. Kolam buatan ataukah telaga. Sungai ataukah laut. Beraneka ragam dan berbeda-beda pen-dapat telah muncul. Kita tidak seharusnya terpecah oleh karena semua kelainan itu. Asalkan kita semua menyem-bah satu Allah, percaya pada satu Tuhan Yesus Kristus. Sang Putra Allah yang berinkarnasi menjadi Juruselamat kita, mati tersalib bagi dosa kita, mengalirkan darah-Nya untuk menebus kita, bangkit pada hari ketiga, kini Dialah Tuhan di surga, juga hayat di dalam kita, maka sewajar-nyalah kita ini satu, jangan mau dipisahkan oleh apa pun.

Setelah Tuhan memimpin kita mempraktekkan doabaca firman Tuhan dan menyeru nama Tuhan, mulailah ada beberapa orang Kristen menentang kita mengenai hal-hal ini. Sebagian mengkritik kita, bahkan ada yang menyalahkan kita dengan niat yang jahat. Jika doa-baca firman Tuhan dan menyeru nama Tuhan dapat mengubah kehidupan seseorang, saya pasti setuju berbuat demikian. Hal ini adalah beribu-ribu kali lebih bermanfaat daripada nonton film atau nonton pertandingan olahraga, dan jauh lebih baik daripada musik rock.

Mengenai masalah “tritunggal”, sesuai Alkitab kita percaya pada satu Allah, yaitu Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita percaya tepat seperti apa yang Alkitab katakan. Namun ada orang yang mendefi-nisikan menurut konsepsi mereka, bahwa “Bapa, Putra, Roh adalah tiga persona yang berbeda namun di dalam sifat adalah satu Allah.” Lalu bagaimanakah sebenar-nya Allah ini? Apakah Dia satu persona? Karena bila Bapa adalah satu persona, Putra satu persona, Roh satu persona, maka Allah dengan sendirinya juga merupakan satu persona. Dengan demikian, dalam satu Allah tentu-nya ada empat persona! Membicarakan Tritunggal de-ngan istilah semacam ini menimbulkan kesulitan dan membuat bingung orang. Kita jangan terlibat dalam hal itu. Griffith Thomas, yang kenamaan atas tafsirannya terhadap Surat Roma, dalam sebuah bukunya “The Prin-ciples of Theology” mengatakan, “Istilah ‘oknum’ ini tidak boleh terlalu ditekankan, itu akan menimbulkan teori triteisme (tiga Allah) . . . kebenaran dan penga-laman Tritunggal bukan tergantung pada istilah khusus teologia.” Tritunggal ini merupakan suatu rahasia yang tidak terduga. Tidak seorang pun dapat menjelaskannya dengan memadai. Kita hanya dapat mengatakan bahwa menurut Alkitab, Allah adalah satu dan unik. Dia itu Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh. Yesaya 9:6 menga-takan, Putra itulah Bapa; 2 Korintus 3:17 mengatakan, Tuhan itulah Roh. Kita hanya percaya dengan sederhana terhadap apa yang dikatakan oleh Alkitab, selain itu kita tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Mereka yang mempertahankan Allah mempunyai tiga persona yang berbeda, tetapi “di dalam sifat adalah satu Allah”, mung-kin juga adalah saudara-saudara dalam Tuhan, namun mereka terpisah-pisah oleh opini dan terminologi (per-istilahan). Sekalipun mereka berpegang pada pendapat ini, asalkan mereka percaya pada satu Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh; percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Putra Allah yang berinkarnasi sebagai Juruse-lamat kita, mati tersalib bagi dosa kita, menebus kita melalui penumpahan darah-Nya, bangkit pada hari ke-tiga, kini Dialah Tuhan di surga juga hayat di dalam kita; asalkan mereka percaya demikian, kita sudah harus mengakui mereka sebagai saudara di dalam Kristus. Menurut firman Alkitab yang murni, kita percaya kepada Allah Tritunggal. Kita tidak boleh mempertahankan pen-dapat-pendapat yang berbeda-beda. Di sini kita adalah untuk kesatuan tubuh di dalam pemulihan Tuhan. Per-pecahan mendatangkan kutuk, namun kesatuan menda-tangkan berkat. “Sungguh, alangkah baiknya dan indah-nya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun . . . Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mzm. 133:1, 3).

(9). Babel Menandakan Penggenapan Babilon

Babel berasal dari bangsa-bangsa, melambangkan Babilon berasal dari denominasi-denominasi. Semua perpecahan dan sekte akan tergenap sebagai Babilon besar. Kata “Babilon” berasal dari bahasa Yunani, sama dengan “Babel” dalam bahasa Ibrani. Bila Anda membaca Alkitab Perjanjian Baru, Anda dapat melihat bahwa dari perpe-cahan-perpecahan kekristenan yaitu dari denominasi-denominasi timbullah Babilon. Bangsa-bangsa pada za-man kuno menimbulkan Babel, sedangkan denominasi-denominasi kekristenan akhirnya akan tergenap sebagai Babel besar. Sekali lagi kita nampak, Kitab Kejadian me-rupakan sebuah kitab benih. Dalam Kejadian 10 kita mendapatkan benih Babel dan dalam Kitab Wahyu 17-18 kita mendapatkan panenan Babel besar.

(a) Berasal dari Garis Terkutuk

Babel berasal dari bangsa-bangsa adalah menyusuri garis terkutuk (Kej. 10:6, 8). Garis terkutuk adalah pada Ham. Kusy, pendiri Babel adalah anak Ham. Lagi pula anak Kusy — Nimrod, menjadi raja pertama atas Babel.

Ini adalah sebuah lambang kekristenan. Kekristenan mutlak dilambangkan oleh bangsa-bangsa. Dari bangsa-bangsa timbullah Babel yang menyusuri garis terkutuk. Apakah sebab musabab kutukan? Pemberontakan. Ham terkutuk karena ia memberontak terhadap pemerintah Allah. Keturunan Ham jatuh di bawah kutukan Allah ka-rena pemberontakan Ham terhadap pemerintahan, aki-batnya, diperalat oleh Iblis untuk mendirikan sebuah sis-tem Iblis yaitu Babel. Demikian juga hari ini. Babel telah dibangun oleh orang-orang Kristen yang hanya tahu me-mentingkan kerajaannya sendiri, tanpa mempedulikan pemerintahan Allah.

Di dalam setiap denominasi termasuk Katolik, di antara mereka ada orang-orang Kristen yang benar-benar beroleh selamat. Mereka adalah umat Allah, milik Tuhan. Namun organisasi denominasi di mana mereka berada itu bukan berasal dari Allah. Organisasi denominasi itu telah diperalat Iblis untuk mendirikan sistem setani agar merusak hidup gereja yang normal sebagai ekonomi Allah. Semua orang yang benar-benar percaya, tidak pe-duli dia tergolong denominasi yang mana, sekalipun ter-golong Katolik, semuanya beroleh selamat; namun sistem organisasinya yang jahat itu berada di bawah peng-hakiman Allah.

(b) Nimrod Adalah Raja Pertama Babel yang Mendatangkan Berhala

Nimrod, raja pertama Babel, menurut sejarah men-datangkan banyak berhala (Kej. 10:10). Penyembahan berhala semacam itu menciptakan sebuah simbol yang paling setani, yaitu gambar “bunda kudus dan anak ba-yinya”. Menurut buku “The Two Babylons”, “bunda ku-dus” itu semula mengacu kepada ibu Nimrod, yang juga adalah istrinya. Simbol yang diciptakan oleh penyembah-an Babilon itu tersebar luas ke seluruh bumi — ke Mesir, India, Yunani, Roma, Tibet, China, dan Jepang, bahkan telah menyusup ke dalam aliran Kristen tertentu. Beberapa ratus tahun yang lalu, ketika aliran Kristen ini mengutus misionarisnya ke China, misionaris-misionaris itu menemukan bahwa di dalam kuil Budha pun terdapat simbol ini, lalu mereka memberi laporan ke “markas” mereka di Italia. Hal ini tercatat dalam buku “The Two Babylons”. Sebelum saya diselamatkan, sebagai anak ke-cil saya mengunjungi sebuah katedral di China, saya melihat simbol ini. Dalam kurun waktu yang sama, saya juga mengunjungi sebuah kuil Budha, dan di sana saya juga melihat gambar yang sama. Setelah saya beroleh se-lamat, dalam pemberitaan saya, saya memberi tahu orang-orang bahwa dalam beberapa hal, kedua aliran agama ini berasal dari sumber yang sama. Simbol se-orang ibu memeluk seorang anak bayi, dapat dijumpai di dalam katedral dan di kuil. Hal ini menyingkapkan asal-usul beberapa hal di dalam aliran Kristen tersebut.

Sebagaimana bangsa-bangsa menghasilkan Babel, akhirnya denominasi-denominasi aakan menghasilkan Ba-bel besar. Perkataan ini kedengarannya tidak enak, tetapi janganlah kecewa. Tatkala bangsa-bangsa berubah men-jadi Babel, Allah turun tangan, memanggil Abraham ke-luar. Allah berbuat lebih baik daripada yang sebelumnya. Sejarah Abraham lebih indah daripada sejarah Nuh. Siapakah Abraham hari ini? Orang-orang gereja. Di satu aspek, kita adalah Nuh hari ini; namun di aspek lain, kita adalah Abraham hari ini. Mengenai angkatan yang jahat ini, kita adalah Nuh hari ini; terhadap kekristenan denominasi, kita adalah Abraham hari ini, yang sudah terpanggil keluar dari Babel. Kita akan melihat lebih lanjut tentang kehidupan Abraham dalam berita-berita yang akan datang.