← Daftar isi Kejadian (3) · bab 5/15

KEHIDUPAN DALAM KEBANGKITAN (2)

Dalam berita ini kita akan melihat lebih banyak tentang bayangan hidup gereja yang dilambangkan dalam Kejadian 8 dan 9. Kali ini kita melihat sedikit aspek negatifnya.

(7). Kegagalan Pemimpin dan Wakil Kekuasaan

Di antara aspek-aspek positif hidup gereja, terjadi beberapa perkara negatif, yakni kegagalan Nuh yang se-bagai pemimpin dan wakil kekuasaan Allah atas bumi yang baru (Kej. 9:20-27).

(a) Dikarenakan Kesuksesan Pekerjaannya

Mengapa Nuh gagal? Sebab dia sudah sangat berhasil (sukses). Menurut catatan Kitab Kejadian, Nuh telah menjadi pemimpin daratan yang baru dan bapa semua umat manusia di bumi. Saat itu, sebagai bapa dan pemimpin semua umat manusia, ia tentunya berada di bawah berkat Allah. Nuh mulai menjadi seorang petani dan menggarap sebuah kebun anggur (Kej. 9:20). Kita tahu bahwa ia sudah sangat sukses dalam hal ini, karena hasil kebun anggur telah dibuat arak anggur (Kej. 9:21). Kemudian Nuh menjadi agak kendur. Arak anggur me-mang bergizi sekali, namun Nuh minum berlebihan. Dia bersalah atas keteledoran ini. Seharusnya dia mengontrol dirinya sendiri, namun tidak demikian, malahan ia mi-num sampai mabuk. Dalam mabuknya ini, tak saja ia sangat kendur, juga lalai, lengah, sampai-sampai telan-jang tanpa sadar. Ia telanjang di luar kesadarannya, dan putranya, Ham, melihat hal ini. Ini menampakkan kepa-da kita, kapan saja kita mengalami kesuksesan di bawah berkat Allah, kita harus waspada karena kesuksesan ini mudah sekali membuat kita kendur dan lengah. Jangan-lah kita terlalu girang terhadap kesuksesan kita. Seba-liknya kita harus gembira di dalam penderitaan kita. Ketika kita menderita, hendaklah kita bersukacita (Rm. 5:3). Namun ketika sukses, hendaklah kita berhati-hati. Sukses dalam bentuk apa pun, dapat membuat Anda kendur di hadapan Allah. Sekali kendur, Anda akan men-jadi lengah. Lalu Anda akan kehilangan kesadaran, se-hingga menjadi telanjang. Apakah arti telanjang? Artinya Anda kehilangan penutup di depan mata Allah.

Di sini saya harus mengutarakan perkataan yang berat. Sebagai manusia yang telah jatuh, kita memerlu-kan penutup. Bukan hanya penutup rohani, tetapi juga penutup jasmani. Di hadapan Allah, baik rohani maupun jasmani kita perlu ada penutup. Sebelum manusia jatuh, di hadapan Allah manusia adalah telanjang. Ketelan-jangan itu tak ada salahnya, karena saat itu tidak ada dosa. Setelah jatuh, dosa masuk, sehingga telanjang itu berdosa. Dalam sifat kita ada dosa, maka di hadapan Allah memerlukan penutup.

Dari aspek jasmani, penutup yang pantas itulah pakaian kita. Setelah jatuh, Adam dan Hawa segera sa-dar bahwa mereka telanjang, kemudian mereka berusa-ha sebisanya untuk menutupi dirinya (Kej. 3:7). Namun mereka tak berdaya menutupi dengan baik. Kemudian Allah datang menutupi mereka dengan kulit binatang kurban (Kej. 3:21). Penutupan ini melambangkan Kristus menjadi penutup manusia yang telah jatuh. Dari aspek jasmani, manusia jatuh perlu ditutup, terutama di ha-dapan Allah. Imam tidak diperbolehkan telanjang. Ketika mereka masuk ke hadapan Allah, haruslah tertutup selu-ruh tubuhnya (Kel. 20:25-26, 28:40-43).

Manusia hari ini suka bertelanjang, berusaha seda-pat mungkin untuk memamerkan tubuhnya. Tidak perlu tanya bagaimana Alkitab membicarakan hal ini. Cukup bertanya kepada diri Anda sendiri. Tidakkah Anda me-rasa malu ketika telanjang? Kodrat manusia dapat mem-beri tahu kita bahwa hal ini memalukan. Keadaan hari ini sungguh kasihan. Manusia tidak hanya bertentangan de-ngan Alkitab, bahkan bertentangan dengan kodrat dan perasaan mereka sendiri. Baik pria maupun wanita ha-ruslah menutupi tubuh mereka. Seturut pernyataan perasaan yang mendalam inilah saya menutupi diri saya sedapat mungkin. Saya tidak suka memamerkan tubuh saya. Semakin kita tertutup, semakin menyembunyikan diri di bawah suatu penutup, semakinlah tenteram. Se-masa masih muda, saya melihat orang-orang mengenakan celana pendek di musim panas. Seandainya saya disuruh memakai celana pendek itu untuk menunaikan pelayanan saya, saya pasti tidak bisa bersekutu apa-apa. Saya disuruh berdiri di atas mimbar dengan kaki telanjang atau memakai baju tanpa lengan, saya akan sukar ber-bicara. Makin banyak memperlihatkan tubuh, makin ku-rang tenteram. Ketika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan bahwa perasaan bersalah terhadap ketelan-jangan ini berasal dari kejatuhan. Betapa pun kudusnya kita, kita tetap perlu penutup. Tubuh kita harus ditutupi. Jika saya dapat menutupi seluruh tubuh saya, termasuk kepala dan tangan saya, saya pasti dapat berbicara jauh lebih baik, sebab saya yakin, tidak seorang pun yang melihat saya. Saya dapat berbicara dalam keadaan ter-tutup. Kita semua harus menutupi diri kita sebanyak mungkin.

Penutup rohani bagi kita lebih perlu daripada penutup jasmani. Apakah penutup rohani kita? Itulah Kristus. Dalam perlambangan, semua pakaian dan jubah kita melambangkan Kristus sebagai penutup kita (Luk. 15:22, Mzm. 45:14). Telanjang menurut arti rohaninya ialah kehilangan penutup di hadapan Allah, kehilangan Kristus sebagai penutup. Sering kali, dalam persekutuan, para saudara terlalu gembira oleh kesuksesan yang telah mereka capai. Dalam pembicaraan mereka yang penuh kegembiraan itu, mereka menjadi kendur dan lalai, me-reka kehilangan Kristus sebagai penutup. Mereka ber-bicara di hadapan Allah tanpa penutup. Keadaan demi-kian ini pernah saya temukan di antara para saudari. Ada saudari-saudari berdoa dengan amat rohaninya de-ngan penutup yang sempurna di dalam sidang, namun begitu saling bersekutu atas perkara-perkara yang meng-gembirakan, mereka menjadi kendur dan lengah. Mereka kehilangan Kristus sebagai penutup mereka. Dalam arti tertentu, mereka telah mabuk dan telanjang. Melihat para saudari dalam keadaan demikian, saya tidak berani masuk. Dari apa yang saya pelajari di masa lampau, saya tahu bahwa tidaklah baik melihat ketelanjangan kaum saleh siapa pun. Ketika para saudari sedang bergembira dengan persekutuannya yang bertelanjang, tidaklah baik bagi saya untuk melihat ada apa di sana. Saya suka me-lihat sidang doa yang indah, sidang yang membubung tinggi dengan doa yang kuat, dan semua saudara saudari sepenuhnya di bawah penutupan Kristus. Melihat sidang yang semacam ini merupakan suatu berkat. Tetapi, jika melihat keadaan yang sebaliknya, saya segera kabur, karena saya tidak ingin melihat keadaan yang berte-lanjang di sana. Kita harus hati-hati, jangan sampai ber-gembira sehingga menjadi kendur, lalai, mabuk, telan-jang, dan kehilangan penutup yang sepatutnya. Sering kali, di tengah kita memperbincangkan perkara rohani atau hidup gereja, kita pun bisa jatuh dalam keadaan serupa. Bahkan boleh jadi kita sedang membicarakan tentang suatu sidang gereja yang amat tinggi, namun kita membicarakannya dalam keadaan telanjang, tanpa ada penutupan Kristus. Sebagai manusia yang telah jatuh, kita harus menjaga diri kita di bawah penutupan Kristus atas setiap aktivitas atau sesuatu yang kita perbuat atau katakan. Saya tidak mau berbuat sesuatu tanpa adanya penutupan Kristus. Saya tidak mau ber-bicara kepada istri saya, anak saya, saudara saya tanpa ditutupi oleh Kristus. Jika saya berbuat sesuatu tanpa ditutupi oleh Kristus, itu berarti saya kendur, lengah, mabuk, dan telanjang. Berarti saya kehilangan pengen-dalian diri. Demikianlah perkara yang terjadi pada diri Nuh.

Kaum muda haruslah belajar tertutupi seluruhnya di dalam sikap, percakapan, bahkan persekutuan mereka. Inilah pelajaran yang riil. Apa saja kekurangan kalian sekarang, kelak akan tersingkap sepenuhnya pada masa tua. Kita yang sudah tua tahu bahwa apa kekurangan kita sekarang menunjukkan kurang belajarnya kita pada masa muda kita. Hal ini sama dengan pendidikan. Bila kalian tidak belajar secukupnya pada waktu muda, kelak ketika tua niscaya merasakan kurangnya pengetahuan tertentu. Sangatlah baik kita diselamatkan sedini mung-kin. Kaum muda patutlah menerima dorongan untuk be-lajar sekarang. Kalau tidak, nanti usia mereka lebih besar, niscaya kekurangan mereka akan menyingkapkan kurangnya belajar di masa kini. Sekarang inilah saatnya mempelajari pelajaran secara detail mengenai hayat rohani.

(b) Ham, Bapa Kanaan, Menerima Kutukan karena Memperlihatkan Kegagalan

Nuh melakukan suatu kesalahan dan mengalami kegagalan. Setelah Nuh bangun, ia tidak membuat suatu pengakuan. Malahan ia serta-merta mengutuki orang yang memperlihatkan ketelanjangannya (Kej. 9:22, 24, 25). Ketika saya masih muda, saya merasa kurang menyukai perbuatan Nuh ini. Saya berkata, “Nuh, apa kau tidak tahu bahwa kau yang salah? Seharusnya engkau mengaku dosa dulu di hadapan Allah, kemudian mengaku kepada putramu Ham yang melihat ketelanjanganmu. Namun engkau tidak hanya tidak mengetahui, malahan mengutuk.” Saya sungguh bingung. Nuh mengutuki orang yang menyingkapkan dirinya dan memberkati orang yang menudunginya. Ia mengutuki orang yang tidak memihak-nya dan memberkati orang yang memihaknya. Mungkin di antara kalian ada juga orang yang terbentur pada masalah atas bagian firman ini. Mungkin kalian tidak mengerti mengapa bisa demikian.

Dari aspek rohaninya, orang seperti Nuh ini se-benarnya mudah sekali merendah hati dan mengaku salah. Tidakkah Anda mengira hal ini mudah? Namun, bagi orang yang pernah gagal dan yang tersingkapkan, tidaklah mudah disuruh mengutuk dan memberkati. Nuh adalah kepala keluarga, juga pemimpin umat manusia. Setiap orang memandang padanya. Ia telah gagal dan te-lah tersingkapkan. Ia bisa saja merendah hati dan meng-aku bahwa ia telah gagal. Namun karena Allah sudah mengangkatnya sebagai pemimpin, maka dia harus ber-bicara bukan seturut rasa salahnya, melainkan berbicara menurut pemerintahan Allah. Manakah yang lebih mudah

— merendah hati dan mengakui, atau berbicara seturut pemerintahan Allah? Siapa saja mudah merendah hati dan mengaku kegagalannya. Namun jika Nuh demikian, lalu bagaimana dengan pemerintahan Allah di bumi ini? Bagaimanakah dengan keturunannya nanti? Bagaimana dengan ekonomi Allah, administrasi Allah? Bagi Nuh, membuat pengakuan itu tidak mengapa, namun ini akan berarti meruntuhkan pemerintahan Allah di bumi. Selain Nuh, siapakah yang dapat mewakili Allah berbicara secara pemerintahan? Kecuali Nuh, tidak ada seorang yang bisa melakukannya. Bagi Nuh, sebagai orang yang telah gagal, sulit sekali mewakili Allah berbicara secara pemerintahan. Tatkala ia demikian berbicara, hati nuraninya mungkin merepotkannya, Iblis bisa mendakwa hati nuraninya seraya berkata, “Kamu telah mengalami kegagalan itu, bagaimana engkau dapat berkata demikian?” Kadang kala ketika pemimpin-pemimpin gereja jatuh dalam keadaan yang begini, mereka tinggal diam dan bungkam seribu bahasa, sehingga tidak terdapat pemerintahan ilahi.

Janganlah menghakimi Nuh menurut konsepsi manu-sia. Dalam pemerintahan Allah, Nuh merupakan contoh yang baik. Walaupun ia telah gagal, ia tetap tegap mewa-kili Allah serta berbicara secara pemerintahan. Bagi Nuh, ini memang sulit dilakukan. Jangan sekali-kali melihat Nuh dari aspek dirinya, yakni dari aspek kegagalannya. Kita harus melihatnya dari aspek pemerintahan Allah. Memang Nuh salah. Ia kendur, lalai, mabuk, telanjang. Namun kita harus memandang Nuh dari sudut pandang pemerintahan Allah.

Apa yang harus kita lakukan saat pemimpin ber-salah? Hal ini mempengaruhi pemerintahan Allah. Di sini ada dua perkara: pemerintahan ilahi dan kegagalan ma-nusia. Jika kita ingin memahami bagian firman ilahi ini, kita harus melihat apakah pemerintahan ilahi itu. Ini bukan hanya masalah kegagalan manusia. Entah pemim-pin itu benar atau salah, pemerintahan Allah harus tetap dipelihara. Ham yang menyingkapkan ketelanjangan Nuh, telah meremehkan pemerintahan Allah. Memperlihatkan kegagalan pemimpin adalah menyangkut pemerintahan ilahi. Kita semua harus nampak ini. Andaikata Nuh bu-kan pemimpin dan bukan wakil kekuasaan Allah di bumi, niscayalah apa yang orang-orang perbuat terhadap kega-galannya tidak akan seserius itu. Apa pun tindakan mereka tidak akan menyangkut pemerintahan Allah atau terlibat ke dalam penanggulangan pemerintahan Allah. Namun Nuh adalah seorang pemimpin serta wakil kekua-saan Allah di bumi. Bagaimana sikap kita yang semes-tinya terhadap kegagalan pemimpin yang sedemikian itu? Ini akan melibatkan kita ke dalam penanggulangan pemerintahan Allah. Musa bersalah karena mengambil istri seorang Kusy (Bil. 12:1). Miryam mengucapkan kata-kata yang menentang dia, sehingga terkena kutukan kusta (Bil. 12:10). Dia terkutuk karena meremehkan pemerintahan Allah, dan menjamah pemerintahan Allah dengan cara yang negatif.

Mengapa Alkitab tegas sekali mengatakan, “Terku-tuklah orang yang memandang rendah (tidak menghor-mati) ibu dan bapanya” (Ul. 27:16). Karena ini me-nyangkut pemerintahan Allah. Allah adalah Allah yang memiliki aturan, Allah yang memiliki pemerintahan. Bila Anda memperhatikan ciptaan Allah, Anda pasti nampak bahwa segala sesuatunya berada dalam keadaan baik dan teratur. Keteraturan ini berkaitan dengan pemerintahan Allah. Di dalam pemerintahan universal Allah, orang tua adalah kuasa Allah terhadap anak-anak. Kalau anak-anak tidak menghormati ayah ibunya, itu berarti mereka berontak terhadap pemerintahan Allah, berarti mereka tidak menghormati wakil kuasa Allah di bumi. Begitu mereka berbuat demikian, mereka akan menerima ku-tukan. Bukan kepalang kesalahan Daud di dalam hal membunuh Uria dan mengambil istrinya. Namun Absa-lom, putranya memberontak kepadanya dan ia menerima kutukan maut (2 Sam. 15:10, 18:14-15). Hari ini, banyak orang muda yang meremehkan dan tidak menghormati ayah ibunya, akibatnya, mereka kehilangan berkat Allah. Lihatlah keadaan hidup dan tindakan mereka — serupa dengan binatang-binatang rendahan. Mereka kehilangan berkat yang Allah takdirkan bagi manusia. Mengapa mereka kehilangan berkat Allah? Karena mereka telah terkutuk oleh ketidakhormatan mereka terhadap orang tuanya. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa orang yang menghormati ayah ibunya pasti menerima berkat bahagia dan panjang umur di bumi (Ef. 6:2-3). Wahai, kaum muda, jika kalian menghormati ayah ibu kalian, kalian pasti diberkati panjang umur, hidup dengan nor-mal. Anda akan tahu bagaimana menjadi orang yang bijak dan bagaimana bertingkah laku. Anda akan tahu jalan yang tepat bagi penempuhan hidup yang normal. Anda tidak akan menerima kutukan sehingga hidup se-perti binatang-binatang rendahan. Penempuhan hidup yang salah adalah pertanda kutukan.

Mengapa Ham terkutuk? Sebab ia melanggar kuasa Allah, terlibat ke dalam pemerintahan Allah. Nuh ber-salah, akan tetapi, Ham haruslah mempertimbangkan kedudukannya dan pemerintahan Allah. Kegagalan pe-mimpin selalu merupakan ujian bagi kita. Benarkah kita berada di bawah pemerintahan Allah? Kalau ya, kita pasti diberkati. Kalau tidak, kita akan kehilangan berkat. Kegagalan Nuh merupakan ujian bagi anak-anaknya. Dari ujian yang sama itu, yang satu menerima kutukan, sedang yang dua beroleh berkat. Terkutuk atau diberkati atas ujian yang sedemikian ini tergantung pada bagai-mana Anda melibatkan diri di dalam pemerintahan Allah. Meskipun kegagalan Nuh itu tidak baik, tetapi itu mem-beri kesempatan yang baik bagi Sem dan Yafet untuk memperoleh berkat.

Ketika saya masih muda, saya merasa sedih ter-hadap catatan Alkitab. Seolah-olah setiap kali Allah be-kerja, Iblis segera datang merusaknya. Waktu itu saya hanya nampak pihak yang hitam, tidak nampak pihak yang putih. Kemudian Allah menunjukkan kepada saya bahwa pihak yang putih adalah lebih besar daripada pihak yang hitam. Nuh gagal — itulah pihak yang hitam. Kekenduran, kelengahan, kemabukan, dan ketelanjangan Nuh, seluruhnya dikarenakan pekerjaan Iblis melalui da-ging. Namun kegagalan yang diakibatkan oleh Iblis ini mendatangkan suatu berkat yang besar. Tanpa adanya kegagalan ini, berkat Allah tidak akan pernah seriil seka-rang ini. Namun, janganlah sekali-kali mengatakan, “Marilah kita berbuat jahat agar yang baik datang.” Sekali-kali jangan. Berkat Allah selamanya mengungguli perusakan Iblis. Iblis selalu merusak, namun Allah terus-menerus memberkati. Allah seolah berkata, “Hai Iblis, laksanakan saja perusakanmu atas pekerjaan-Ku. Setelah kamu merusak, Aku akan datang memberkati. Berkat-Ku akan mengungguli perusakanmu.” Siapa yang bisa menerima berkat ini? Yaitu orang-orang yang tinggal di bawah pemerintahan Allah. Jangan gelisah oleh perusak-an Iblis terhadap pekerjaan Allah. Jagalah diri Anda di bawah pemerintahan Allah, dan jauhilah perusakan yang dibuat oleh Iblis, demikian Anda akan beroleh berkat.

Ham kehilangan kesempatan “emas” untuk mene-rima berkat. Karena ia meremehkan pemerintahan Allah, maka ia kehilangan berkat ini. Perkataannya kepada saudara-saudaranya berdasarkan fakta. Ia tidak me-nyebarkan desas-desus atau kabar bohong. Tetapi kedua kakaknya, Sem dan Yafet, mengetahui dan menghormati pemerintahan Allah. Apakah Anda memperhatikan apa yang mereka lakukan? “Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya” (Kej. 9:23). Terhadap ketelan-jangan ayahnya sekejap pun mereka tidak melihat. Apa yang mereka lakukan tidak hanya benar, juga bermoral, bahkan sepenuhnya berada di bawah pemerintahan Allah. Janganlah lupa, keadaan itu bukan hanya berhubungan dengan perilaku manusia, tetapi juga berhubungan de-ngan pemerintahan Allah. Berhati-hatilah! Benar salah-nya ayah Anda adalah urusan pribadinya. Jangan lupa bahwa ia berada pada kedudukan sebagai wakil kuasa Allah di bumi. Jika Anda menyingkapkan kegagalannya, Anda telah melibatkan diri ke dalam pemerintahan Allah. Kita semua harus nampak butir ini. Saya mengatakan apa yang sepenuhnya pernah saya alami. Sem dan Yafet mengenal pemerintahan Allah. Mereka masuk, bukan untuk melihat kegagalan, sebaliknya menutupi kegagalan.

Melihat kegagalan orang lain bukanlah berkat. Ketika Anda mengunjungi rumah seorang saudara, ja-nganlah mengelilingi rumahnya sambil memeriksa setiap bagiannya. Ini bukan berkat, melainkan kutuk. Ini tidak berfaedah bagi Anda, sebaliknya merugikan. Kapan kala Anda mengunjungi rumah saudara atau saudari, datang-lah dengan mata tertutup. Itulah sebabnya saya mem-punyai jawaban yang bagus terhadap orang-orang yang bertanya kepada saya tentang orang lain. Saya men-jawab, “Saya tidak tahu.” Jawaban saya ini adalah yang sebenarnya. Saya benar-benar tidak tahu. Telah berulang kali saya diundang ke rumah saudara tertentu, namun saya tidak tahu apa-apa selain ruang tamu dan ruang makannya. Saya pun tidak tahu di mana letak dapurnya. Saya tidak suka mengetahui perkara-perkara itu. Saya suka menutup mata. Saya tidak suka tahu apa-apa. Saya hanya mau tahu beban yang Tuhan amanatkan kepada saya. Saudara saudari, belajarlah untuk tidak mengeta-hui, belajar tidak melihat, belajar menjadi buta dan tuli. Tahukah Anda, dari mana datangnya gosip? Gosip ber-asal dari melihat dan mendengar. Jika Anda buta dan tuli, Anda tidak akan bergosip. Kita semua harus belajar tidak melihat situasi orang lain. Jangan mencoba melihat perkara-perkara ini, karena itu bisa melibatkan Anda ke dalam pemerintahan Allah. Terlibat ke dalam pemerin-tahan Allah bukanlah perkara yang sepele.

Selama 50 tahun ini, saya melihat dan mendengar kaum saleh yang terkasih mengkritik Saudara Watchman Nee. Namun, saya boleh bersaksi dengan tegas bahwa di antara para penentang dan pengkritik ini, yang mengatakan bahwa Watchman Nee salah dan mereka yang benar, tidak ada seorang pun yang menerima berkat. Banyak di antara mereka yang mengalami kerugian rohani. Ada yang kehilangan kesehatan tubuhnya, ada pula yang kehilangan usahanya. Hampir tidak ada yang terkecuali. Dalam tahun-tahun yang lalu, saya tidak tahu mengapa. Lambat laun saya paham bahwa alasannya yaitu kaum penentang dan kaum pengkritiknya telah melanggar pemerintahan Allah.

Masalahnya bukan pada benar salahnya pemimpin, melainkan Anda di bawah pemerintahan Allah atau tidak. Kalau seorang pemimpin selalu mutlak benar, Anda ti-dak akan pernah menemui ujian. Kegagalan atau ke-salahan pemimpin merupakan ujian yang menyatakan di manakah Anda. Jika Anda dengan tepat berada di bawah pemerintahan Allah, kegagalan pemimpin akan menjadi berkat Anda.

Izinkan saya mengisahkan kepada kalian pengalaman saya sendiri. Sejak tahun 1942 sampai tahun 1948, se-lama 6 tahun, Saudara Watchman Nee menghentikan penunaian tugas ministrinya. Akibat pekerjaan Iblis di China, muncullah badai rohani yang menghentikan penu-naian ministri Watchman Nee. Selama masa perang, saya terpisah dengan dia. Setelah perang selesai, pada tahun 1946 di daerah Utara saya menerima undangan untuk datang ke ibu kota di daerah Selatan. Sebagian sekerja yang pernah terlibat dalam badai menentang Saudara Watchman Nee, mereka sangat kenal dengan saya, mereka jauh-jauh datang menjumpai saya dan berkata, “Saudara Lee, dapatkah engkau mengatakan bahwa Saudara Nee tidak pernah bersalah?” Saya men-jawab, “Saudara-saudara, dia benar atau salah, bukan urusan saya. Kalian harus mengakui satu hal — kita se-mua beroleh banyak dari Saudara Nee. Kita harus meng-akui bahwa dia itu sama seperti seorang ayah terhadap kita semua. Kalau dia bukan seorang ayah terhadap kalian, saya harus bersaksi dengan tegas bahwa dalam ekonomi Allah, ia itu benar-benar seorang ayah terhadap saya. Sebelum saya berjumpa dengan Saudara Nee, saya sama sekali tidak tahu tentang ekonomi Allah. Dia adalah ayah rohani saya, dan kerohanian saya berasal darinya.” Selanjutnya, saya mengisahkan kisah Nuh kepada para saudara itu. Saya berkata, “Saudara-saudara, lihatlah kisah Nuh. Salahkah Nuh? Jelas, ia bersalah. Namun, bu-kan benar salahnya Nuh yang dipersoalkan, melainkan dari manakah kita memperoleh adanya kita. Bukankah Nuh ayah kita? Seandainya Nuh itu tetangga kalian, bu-kan ayah kalian, ceritanya tentu akan lain. Tetapi ingat, keberadaan kalian adalah dari dia. Dia adalah ayah ka-lian. Apa adanya kalian dan apa yang kalian peroleh, se-mua berasal dari dia. Inilah yang melibatkan kalian ke dalam pemerintahan Allah. Saudara-saudara, saya tidak nampak perkara yang orang-orang gugatkan kepada Sau-dara Nee. Bahkan sekalipun saya nampak bahwa dia ber-salah, saya tidak mempunyai kedudukan untuk menga-takan kesalahannya, karena dia adalah ayah rohani saya, dan adanya kerohanian saya berasal dari dia. Saya tidak boleh mengatakan apa-apa yang menentang dia. Saya berada di bawah pemerintahan Allah. Saudara-saudara, hendaklah kalian mempertimbangkan bahwa melawan ayah rohani kita bukanlah perkara yang kecil. Sewaktu kalian tidak berlawanan dengan Saudara Nee, bagaimana perasaan batiniah kalian?” Mereka semua mengakui bah-wa mereka merasakan penuh dengan hayat. Saya ber-tanya lagi, “Bagaimana sekarang?” Jawab mereka, “Kami harus mengakui bahwa kami mati, tidak ada pengurapan, tidak ada pendirisan di dalam kami. Kami layu kering.” Kemudian saya berkata, “Saudara-saudara, kalian sewa-jarnya menaati perasaan batiniah yang riil ini. Jangan mempedulikan analisis otak kalian. Menurut analisis otak kalian, Saudara Nee dapat disalahkan. Tetapi se-lama kalian menyalahkannya, kalian mati. Semakin ka-lian menyalahkannya, kalian semakin mati.” Segera, sau-dara-saudara itu berpaling kembali, dan diselamatkan dari keadaan maut.

Kita semua harus memperhatikan pemerintahan Allah. Saya sungguh yakin bahwa di tengah-tengah kita ada pemerintahan Allah. Jika ini memang pemulihan Tuhan, pemerintahan Allah pasti ada di tengah-tengah kita.

Nuh mengutuk dan memberkati di bawah inspirasi Allah, di dalam penanggulangan pemerintahan Allah. Bu-kan menurut perasaan Nuh pribadi, melainkan menurut pemerintahan Allah. Bukan dari Nuh sendiri, melainkan dari Allah yang melaksanakan pemerintahan-Nya atas umat manusia. Seorang dari putra Nuh terkutuk dan dua lainnya mendapat berkat. Kutuk datang dahulu, kemudian berkat menyusul. Menurut sejarah dan ilmu bumi, Sem, putra sulung Nuh, adalah nenek moyang orang Ibrani, yakni orang Yahudi. Ham, putra kedua Nuh, adalah nenek moyang kaum kulit hitam. Anak Ham ialah Kusy, nenek moyang orang Etiopia. Yafet, putra Nuh yang ketiga adalah nenek moyang orang Eropa.

(c) Sem dan Yafet Memperoleh Berkat karena Menutupi Kegagalan

Dalam nubuat yang diucapkan Nuh, jelas menyata-kan bahwa Yafet akan diperluas oleh Allah (Kej. 9:27). Perkataan ini memerlukan waktu berabad-abad untuk menggenapkannya. Sejarah memberi tahu kita bahwa bangsa Eropa sudah diperluas. Lihat saja sejarah selama lima abad ini. Betapa pesat perkembangan dan perluasan di Eropa setelah zaman Colombus! Ekspansi ini masih terus berkembang. Ekspansi ini disebabkan oleh tiga faktor utama di antara orang-orang Eropa; kekuatan pe-merintahan, ilmu pengetahuan, serta kesenian dan kebu-dayaan termasuk teknik dan perniagaan. Berdasarkan ketiga unsur tersebut, bangsa Eropa berkembang terus-menerus. Amerika Serikat merupakan ekspansi bangsa Eropa. Akhirnya kebudayaan dan pendidikan meluas ke seluruh dunia melalui Amerika Serikat. Ini adalah peng-genapan dari berkat yang dinubuatkan kepada Yafet. Kata “Berkembang” yang dinubuatkan ini, memerlukan waktu yang berabad-abad untuk mewujudkannya. Banyak bangsa mengikuti ala pemerintahan bangsa Eropa, kare-na bangsa Eropa kuat dalam hal ini, yaitu mereka belajar dari bangsa Romawi. Selain itu, ilmu pengetahuan, teknik dan kesenian juga berasal dari bangsa Eropa. Ke-semuanya ini sebagai penggenapan nubuat Allah yang menubuatkan bahwa Yafet akan diperluas.

Sekarang kita beralih ke Sem. “Lagi katanya: Ter-pujilah TUHAN, Allah Sem.” Perluasan dimiliki Yafet, tetapi Allah dimiliki oleh Sem. Semua orang Yahudi patut berbangga dan berkata, “Allah adalah milik kita.” Bahkan Tuhan Yesus pun memberi tahu perempuan Sa-maria bahwa karunia keselamatan berasal dari orang Yahudi (Yoh. 4:22). Segala yang bersangkutan dengan Allah berasal dari orang Yahudi. Siapa yang menulis Alkitab Perjanjian Lama? Orang Yahudi. Siapa pula yang menulis Alkitab Perjanjian Baru? Kecuali orang Kafir — tabib Lukas, lainnya semua orang Yahudi. Bahkan Lukas menulis melalui bahan yang diperolehnya dari orang Ya-hudi yang beriman. Semua hal mengenai Allah, mengenai Injil Allah, mengenai Kristus, dan karunia keselamatan, berasal dari orang Yahudi. Yehova Elohim pernah dinu-buatkan sebagai milik Sem. Sem tidak mempunyai politik atau ilmu pengetahuan, namun Sem memiliki Allah. Da-lam nubuat itu dikatakan bahwa Yafet yang diperluas itu akan tinggal dalam kemah-kemah Sem (Kej. 9:27). Orang-orang Eropa, termasuk orang Amerika Serikat, memang kuat, namun mereka membutuhkan kemah-kemah orang Ibrani. Bila Anda tidak menaruh iman terhadap apa yang diberitakan oleh orang-orang Yahudi, niscaya Anda tidak akan memiliki kemah, tidak ada damai sejahtera.

Keturunan Sem tidak membangun Babilon; mereka mendirikan kemah seperti Abraham dan mendirikan Tabernakel bagi Allah. Tuhan Yesus adalah salah satu keturunan Sem, diumpamakan sebagai Kemah (Tabernakel) (Yoh. 1:14 Tl.). Akhirnya, Yerusalem Baru pun merupakan tabernakel Allah yang kekal (Why. 21:2-3), di atasnya tertulis nama kedua belas suku bangsa Yahudi dan kedua belas nama rasul Yahudi. Jadi, keturunan Yafet, yakni orang-orang Eropa, termasuk orang-orang Amerika Serikat, benar-benar tinggal dalam kemah ke-selamatan Sem. Nubuat ini sudah terbukti dan masih terus terbukti.

Yafet sudah diperluas dan perlu tinggal di dalam kemah-kemah Sem. Ham sudah terkutuk, karena dia telah terlibat dalam pemerintahan Allah; ia kehilangan berkat. Di bawah kutukan, dia menjadi hamba dari ham-ba. Sudahkah kutukan ini telah terbukti dalam sejarah? Sudah. Namun, bukalah Kisah Para Rasul 13:1. “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang di-asuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Sau-lus.” Dalam ayat ini, kita menyaksikan bangsa-bangsa yang berlainan telah menjadi sebuah gereja. Di sini kita nampak beberapa nabi dan pengajar yang tergolong di antara anggota-anggota tubuh yang unggul dan berfungsi. Barnabas dan Saulus adalah orang Yahudi. Simeon yang disebut Niger (artinya hitam), dari sebutan ini terlihat bahwa kemungkinan ia seorang negro. Lukius, orang Ki-rene berasal dari Afrika. Kirene adalah sebuah kota di Afrika Utara (Libia hari ini). Menahem pernah diasuh bersama Herodes. Walaupun Herodes adalah keturunan orang Edom, tetapi dalam pemerintahan termasuk orang Romawi (orang Eropa). Karena itu, meskipun nenek mo-yang Menahem tidak dapat diketahui, namun dia itu sebagai seorang saudara seasuhan Herodes, pasti juga telah dieropanisasikan. Jadi, kita nampak bahwa dalam gereja di Antiokhia ada lima anggota tubuh yang sangat berfungsi, terdiri dari dua orang Yahudi (keturunan Sem), seorang berasal dari Afrika, dan satu lainnya mungkin berkulit hitam, (keduanya mungkin keturunan Ham), dan seorang yang setidak-tidaknya dalam segi ke-budayaan bersangkutan dengan keturunan Yafet. Mereka semua menjadi satu gereja. Entah keturunan siapa Anda, janganlah kecewa. Kita telah dilahirkan kembali, karena itu kita semua adalah orang-orang gereja. Kita dilahirkan oleh bangsa-bangsa yang berbeda, namun kini semuanya di dalam satu gereja yang sama. Kita semua dilahirkan di dalam penggenapan nubuat Allah mengenai umat ma-nusia yang diucapkan melalui Nuh. Akan tetapi status alamiah kita telah diubah oleh karunia keselamatan Allah di dalam Kristus.