← Daftar isi Kejadian (3) · bab 4/15

KEHIDUPAN DI DALAM KEBANGKITAN (1)

Dalam berita yang lalu kita sudah melihat Nuh dan keluarganya di dalam bahtera melewati air bah. Kita tahu bahwa dalam Perjanjian Baru, melalui air bah ini melambangkan baptisan. Setelah air bah surut, bahtera kandas di pengunungan Ararat (Kej. 8:4). Ini juga suatu tanda, lambang, bayangan, dari kebangkitan Kristus. Menurut Alkitab, bahtera melambangkan Kristus. Bahtera melalui air bah menandakan Kristus melewati air kematian penghakiman Allah. Bahtera terhenti (kandas) di atas pegunungan, menandakan Kristus bangkit dari air kematian.

5. Kehidupan di Dalam Kebangkitan

Alkitab adalah sebuah buku yang ajaib. Kejadian 8:4 mengatakan bahwa pada tanggal 17 bulan 7, bahtera terkandas di pegunungan Ararat. Jika Anda dengan cermat membaca Alkitab, mempelajari sejarah dan kamus bahasa Ibrani yang terbaik, Anda akan menemukan bahwa ketika orang Israel merayakan perayaan Paskah di Mesir, bulan ketujuh itu mereka jadikan sebagai bulan pertama (Kel. 12:2). Orang Yahudi mempunyai dua macam penanggalan, yaitu penanggalan umum dan penanggalan kudus. Penanggalan umum ialah yang lama dan penanggalan kudus ialah yang baru. Penanggalan baru dimulai dari hari Paskah yang pertama, ketika Allah memerintahkan orang Israel berhari raya Paskah, Allah menghendaki agar mereka menjadikan bulan perayaan itu sebagai permulaan bulan dalam satu tahun. Orang Ibrani menyebut bulan ini sebagai bulan Abib (Kel. 13:4). Abib berarti bersemi, bertunas, berkuncup. Hal ini menandakan bahwa dalam pandangan Allah, perayaan Paskah dihitung sebagai permulaan hayat baru. Mengapa saya menunjukkan hal ini? Karena Tuhan Yesus disalibkan pada hari raya Paskah, tanggal 14 bulan itu (Kel. 12:6, Yoh. 18:28). Menurut penanggalan kudus, Ia disalibkan pada bulan pertama; menurut penanggalan umum, Ia disalibkan pada bulan ketujuh, bulan yang sama ketika bahtera kandas di pegunungan Ararat. Pada bulan itu tanggal 14, Tuhan disalibkan, pada hari ketiga bangkit. Sebab itu, menurut penanggalan kudus, Kristus bangkit pada tanggal 17 bulan pertama, sedang menurut penanggalan umum adalah tanggal 17 bulan 7, tepat pada hari bahtera kandas di pegunungan Ararat. Jadi, sejak dini dalam perlambangan bahtera kandas di pegunungan, sudah menunjukkan kepada kita hari kebangkitan Kristus. Alangkah ajaibnya!

Dalam 1 Petrus 3:20-21, Petrus menghubungkan kebangkitan Kristus dengan bahtera. Ia mengatakan, “Hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan melalui air bah itu. Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan, melalui kebangkitan Yesus Kristus.” Baptisan yang dikiaskan air juga menyelamatkan kita melalui kebangkitan. Saya katakan lagi, bahtera kandas di pegunungan menandakan Kristus bangkit dari dalam air kematian. Hari dan bulan terjadinya kedua perkara ini sama persis.

a. Suatu Bayangan Gereja

(1). Bangkit Bersama Kristus

Apa yang kita lihat setelah kebangkitan? Kita melihat suatu kehidupan yang baru. Nuh dengan keluarganya tujuh orang mempunyai satu kehidupan yang baru. Perhatikanlah sebuah fakta, jumlah orang di dalam bahtera adalah 8. Angka 8 ini menunjukkan kebangkitan. Seminggu ada 7 hari, dan permulaan minggu yang baru adalah hari kedelapan. Kristus bangkit pada hari pertama minggu itu yaitu hari kedelapan (Yoh. 20:1). Jadi angka 8 ini mewakili kebangkitan. Dalam kehidupan yang baru itu, manusia berada dalam kebangkitan. Apa pun yang mereka lakukan, semuanya ada di dalam kebangkitan.

Tidak banyak orang Kristen mengenal apa arti sebenarnya lambang dari bagian Alkitab ini. Kita harus menurut perlambangan memahami Alkitab bagian ini. Semua orang Kristen setuju bahwa bahtera adalah lambang Kristus. 1 Petrus 3:20-21 jelas menerangkan pada kita, melalui air bah adalah suatu lambang baptisan. Berdasarkan kedua fakta ini, kita harus paham bahwa setelah air bah, setiap perkara yang berkaitan dengan diri Nuh dan tujuh orang lainnya, merupakan sebagian dari lambang itu, setiap bagian itu disatukan menjadi satu lambang yang utuh dan lengkap. Melalui air bah melambangkan baptisan, bahtera kandas di pegunungan melambangkan kebangkitan Kristus; namun kita tidak akan berhenti sampai di sini saja. Setelah melewati air bah, bagaimana kehidupan kedelapan orang itu? Dengan kata lain, bagaimana kehidupan mereka setelah bangkit? Kehidupan mereka menandakan kehidupan gerejani (atau hidup gereja, church life). Kehidupan setelah kebangkitan manusia yang bangkit adalah “hidup gereja”. Ini sangatlah logis. Kedelapan orang dalam bahtera itu menandakan kaum beriman Perjanjian Baru.

Di sini saya ingin berkata kepada kaum muda. Ketika saya masih seorang Kristen muda, terhadap perkataan yang dikatakan Alkitab “Kita di dalam Kristus” ini, saya selidiki dengan memeras otak. Saya ingin mengerti bagaimana kita bisa di dalam Kristus. Tetapi bagaimanapun saya tidak dapat melihat realitas hal ini, juga tidak dapat mengerti artinya. Pada suatu hari, ketika saya sedang memikirkan bahtera Nuh melewati air bah, Tuhan mewahyukan kepada saya bahwa delapan orang yang di dalam bahtera itu merupakan sebuah gambar yang memperlihatkan bagaimana kita di dalam Kristus. Tatkala bahtera melewati air bah, kedelapan orang itu juga di dalam bahtera melewati air bah, tetapi mereka tidak tersentuh air bah, karena bahtera menahan masuknya air bah. Hal ini telah menjawab pertanyaan saya: bagaimana tersalibnya Kristus dapat menjadi tersalibnya kita, dan bagaimana kita dapat tersalib di dalam Kristus? Ketika bahtera keluar dari air bah, kedelapan orang yang di dalam bahtera itu juga keluar dari air bah. Pada waktu bahtera kandas di pegunungan Ararat, delapan orang itu pun di dalam bahtera terhenti di sana. Efesus 2:6 mengatakan bahwa kita telah bangkit bersama Kristus. Sebelum kita dilahirkan, kita sudah bangkit. Ketika Kristus bangkit dari air kematian, kita sudah berada di dalam-Nya. Maka di dalam gereja, kita adalah orang-orang yang telah bangkit.

Jika kita melihat gambar lambang ini, kita akan nampak bahwa gereja adalah semacam kelompok yang lain, dia bukanlah masyarakat yang lama. Kelompok yang lama dan masyarakat yang lama sudah dikubur. Ketika kita dibaptis, kita telah mengubur masyarakat lama itu. Ketika air bah datang, telah mengubur masyarakat Nuh yang lama, hanya delapan orang yang bangkit. Sekarang kehidupan delapan orang ini di dalam lingkungan baru tentu melambangkan hidup gereja (church life). Kita adalah orang gereja, dan orang gereja adalah orang yang telah bangkit. Kita adalah suatu kelompok yang lain, suatu masyarakat yang lain. Hidup gereja adalah suatu kelompok yang baru.

Setelah air bah, kedelapan orang yang beroleh selamat melalui bahtera mulai menempuh kehidupan yang baru. Sebelum air bah, mereka melihat banyak perkara yang jahat dan tidak ibadah. Namun mereka telah beroleh selamat, telah terpisah, telah bangkit, dan telah dibawa masuk ke dalam suatu kehidupan yang baru. Kehidupan yang baru ini adalah lambang dari hidup gereja. Dalam Kitab Kejadian, di samping banyak benih lain, benih hidup gereja juga tertabur di sana. Setiap bagian dari kehidupan delapan orang itu semua merupakan bagian dari lambang kehidupan gereja.

(2). Burung Gagak Menandakan Manusia Karnal, Kembali ke Dunia yang Dihakimi oleh Allah

Sebelum kedelapan orang itu memulai kehidupan mereka yang baru di bumi yang baru, Nuh melakukan beberapa percobaan. Ia melepaskan seekor burung gagak dan seekor burung merpati (Kej. 8:7-12). Burung gagak menandakan manusia karnal (milik daging). Jika Anda membaca Imamat 11 dengan teliti, Anda akan nampak bahwa burung gagak adalah burung yang najis. Burung ini dikatakan najis karena gemar makan bangkai. Dengan kata lain, mereka makan kematian. Mereka najis, karena kematian adalah makanan mereka. Dalam pandangan Allah, kematian adalah barang yang najis. Menurut Perjanjian Lama, begitu seseorang menjamah kematian, ia menjadi najis. Burung yang najis makan kematian, tetapi burung yang tidak najis makan biji-bijian yang berkulit. Setiap biji itu mengandung hayat. Karena hayat sebagai makanan burung yang tidak najis, maka mereka bersih. Dalam pandangan Allah, tidak ada yang lebih bersih daripada hayat, juga tidak ada yang lebih najis daripada kematian. Hayat atau kematiankah yang Anda makan? Anda makan bangkai atau makan biji-bijian? Yang makan bangkai adalah burung gagak, sedang yang makan biji-bijian adalah burung merpati.

Nuh pandai sekali, ia melepas seekor burung gagak lebih dulu. Begitu burung gagak meninggalkan bahtera, bagaikan keluar dari sangkar, dan begitu melihat bangkai-bangkai terapung-apung di atas air penghakiman, bangkai-bangkai itu segera disantapnya. Ketika ia terkurung di dalam bahtera, ia tidak mempunyai kesempatan makan bangkai, karena di dalam bahtera tidak ada kematian. Ketika ia terbang keluar dari bahtera, ia melihat di atas air penuh dengan bangkai, penuh kematian. Apakah artinya ini? Hal ini menunjukkan di dalam gereja tidak ada kematian, semua burung gagak pasti kelapar-an. Di dalam gereja, orang yang biasa dengan kematian sebagai makanan mereka semuanya kelaparan. Pada suatu hari, ketika ada kesempatan keluar, burung-burung gagak ini akan terbang keluar, makan bangkai yang mereka sukai. Beberapa tahun ini, saya telah melihat banyak “burung gagak” semacam ini. Setelah sejangka waktu mereka berada di dalam kehidupan gereja, mereka keluar lagi menyentuh dunia yang dihakimi Allah, kembali makan bangkai. Tak peduli siapa saja yang menyukai dunia yang terhukum itu, ia bagaikan seekor burung gagak makan barang kematian. Bahkan seperti Demas yang pernah menjadi sekerja Paulus, pergi mencintai dunia, meninggalkan Paulus (2 Tim. 4:10). Mencintai dunia adalah makan barang-barang yang mati yang dihakimi dan dihukum Allah.

(3). Burung Merpati Menandakan Manusia Rohani,

Tinggal dalam Gereja, Memperhatikan

Kehidupan dalam Roh

Setelah Nuh melepaskan seekor burung gagak, lalu melepaskan seekor burung merpati. Burung merpati itu tidak menemukan tempat untuk hinggap, karena bumi masih penuh dengan air kematian. Maka merpati itu kembali ke bahtera (Kej. 8:9). Tujuh hari kemudian, Nuh melepaskan burung merpati itu lagi, kali ini merpati itu kembali dengan membawa sehelai daun zaitun yang segar (Kej. 8:11). Dalam perlambangan, zaitun menandakan Roh Kudus, dan daun zaitun segar menandakan hayat baru di dalam Roh Kudus. Burung merpati melihat daun zaitun yang segar lalu dipetiknya sehelai. Inilah tanda hayat.

Agar gereja mempunyai suatu perluasan yang baru, perlu daun-daun zaitun yang segar. Jika kita hendak mendirikan gereja di suatu kota, haruslah kita terlebih dulu mengutus satu atau dua “burung merpati” pergi melihat-lihat, apakah di sana ada daun zaitun yang segar. Kalau ada, ini memungkinkan terbangunnya kehidupan gereja di kota itu. Bila tidak ada, merpati harus kembali ke bahtera. Untuk ketiga kalinya Nuh melepaskan bu-rung merpati, ternyata burung yang dilepaskan kali ini tidak kembali, karena sudah tumbuh hayat di bumi. Ini juga merupakan satu tanda bahwa kita boleh mendirikan hidup gereja. Misalnya ada sekelompok kaum saleh ingin memulai hidup gereja di suatu kota, mereka harus bisa memastikan apakah air kematian di sana sedang pasang atau sudah surut, bila air kematian telah surut, dan pada pohon zaitun tumbuh daun baru, itulah satu tanda bahwa gereja boleh didirikan di sana. Mereka harus menunggu sampai air kematian itu surut, di bumi ada hayat tumbuh. Itulah baru saatnya mereka memulai hidup gereja. Di mana pun kita akan memulai hidup gereja, haruslah bertindak menurut prinsip ini, mencoba dan menilik keadaan tempat itu, apakah sesuai bagi adanya hidup gereja.

(4). Mempersembahkan Kurban Menandakan Mempersembahkan Kristus kepada Allah, Mezbah Menandakan Melewati Salib

Setelah orang-orang yang bangkit itu keluar dari bahtera dan memulai kehidupan baru, apakah yang mereka kerjakan? Setelah mereka keluar dari bahtera, perkara pertama yang dikerjakan ialah mendirikan mezbah, mempersembahkan kurban kepada Allah (Kej. 8:20-22). Perkara pertama dalam hidup gereja semestinya bukan bekerja, melainkan melalui salib mempersembah-kan Kristus kepada Allah. Nuh mendirikan mezbah dan mempersembahkan kurban kepada Allah (Kej. 8:20). Mezbah persembahan dan kurban kedua-duanya adalah lambang. Mezbah melambangkan salib Kristus dan kur-ban melambangkan aspek-aspek Kristus. Kita harus di setiap aspek mempersembahkan Kristus kepada Allah. Kita harus mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah. Jika kita telah mengalami Kristus sebagai kurban bakaran, hendaklah kita mempersembahkan Kristus yang kita alami sebagai kurban itu kepada Allah. Allah ingin kita mempersembahkan Kristus kepada-Nya. Ketika kita mengalami Kristus dan mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah, Allah sangat berkenan. Kita harus mempersembahkan Kristus kepada Allah, agar Allah terpuaskan. Dalam hidup gereja, kita harus perhatikan hal ini. Kita perlu belajar bagaimana mengalami Kristus, membawa Kristus kepada Allah, dan menikmati Kristus bersama Allah. Inilah yang diperkenan oleh Allah.

Melalui salib kita mempersembahkan Kristus kepada Allah. Janganlah bekerja — pergilah ke salib. Janganlah ingin memiliki perbuatan atau pergerakan apa pun, me-lainkan pergilah ke salib. Bagaimana salib menanggulangi Anda? Salib hanya melakukan satu hal: menyingkirkan Anda. Sebelum Anda mengerjakan apa pun bagi Tuhan, Anda harus pergi ke salib, supaya dia menyingkirkan Anda terlebih dulu. Jika seorang muda ingin menaati pe-rintah menghormati ayah ibu, ia harus ke salib dulu, biar salib menyingkirkannya. Kalau seorang suami ingin me-ngasihi istrinya, juga harus menyingkirkan dirinya. Istri ingin taat kepada suami, sama juga halnya. Apakah Anda mau bekerja bagi Allah? Sebelum Anda bekerja bagi-Nya terlebih dulu Anda harus pergi ke salib dan disingkirkan. Hasilnya, tidak akan ada pekerjaan, pelayanan, dan per-buatan alamiah. Setelah Anda melalui salib, yang terting-gal hanyalah Kristus. Kristus yang demikian ini merupa-kan kurban yang harum untuk dipersembahkan kepada Allah.

(a) Supaya Allah Puas

Ketika kita melalui salib mempersembahkan Kristus yang kita alami kepada Allah, Allah memperoleh ke-puasan. Kita harus pergi ke mezbah lebih dulu untuk me-nyingkirkan ego kita, kemudian baru boleh mempersem-bahkan Kristus yang kita alami tiap hari kepada Allah. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan, beberapa tahun ini gereja-gereja di Amerika Serikat sudah melaksanakan dua hal ini. Kami terus-menerus disingkirkan, juga terus-menerus mengalami Kristus, membawakan Kristus ke-pada Allah, dan bersama orang lain menikmati Kristus di hadapan Allah. Setiap kali kami demikian bersidang, kami yakin Allah dipuaskan. Bagaimana kami tahu bahwa Allah dipuaskan? Karena kami telah puas. Ketika Anda lapar, Allah niscaya juga lapar. Ketika Anda tidak gem-bira, Allah pun tidak gembira. Tetapi ketika Anda puas, Allah yang mendapat sajian Kristus dari Anda juga puas. Semakin Anda bekerja bersandar diri sendiri, semakin merasa tidak puas. Semakin ingin berbuat baik demi diri sendiri, semakin merasa lapar dan dahaga di dalam. Te-tapi begitu Anda disingkirkan pada salib, dan mengalami Kristus dengan berlimpah, Anda akan kenyang, gembira, dan puas. Anda akan berkata, “Haleluya! Aku sudah ke-nyang, sudah puas, sentosa, aku makan dan minum. Aku memiliki segalanya.” Hal ini menunjukkan bahwa Allah telah puas.

(b) Supaya Jauh dari Kutukan

Melalui salib mempersembahkan Kristus kepada Allah, supaya jauh dari kutukan. Akibat dari kejatuhan manusia kali pertama, manusia jatuh di bawah kutukan (Kej. 3:17). Apakah kutukan itu? Kutukan ialah akibat yang mendatangkan kematian. Kematian, mencakup se-mua penderitaan, merupakan akibat terakhir dari kutuk-an. Melalui salib kita mempersembahkan Kristus, agar jauh dari kutukan. Ini juga berarti supaya kematian menjauh dari kita. Semua obrolan, kritikan, gerutu, dan lain sebagainya adalah pertanda kutukan kematian. Melalui salib mengalami Kristus, semua hal ini akan ter-sapu lenyap. Jika tidak mengalami Kristus melalui salib, kita akan jatuh di bawah kutukan kematian — ngobrol sia-sia, mengkritik, menggerutu. Pada waktu itu, kalau kita datang bersidang, kita akan berada di bawah kutuk-an kematian. Ketika kita datang bersidang dan merasa tertekan oleh kematian, ini menunjukkan bahwa sidang itu sedikit banyak ada di bawah kutukan. Tetapi ketika kita menghadiri suatu sidang yang di dalamnya penuh dengan hayat, sehingga kita merasa lincah, gairah, te-rang, itu membuktikan di sana tidak ada kutukan. Kutukan sudah tersingkir, sebagai gantinya adalah berkat hayat. Dalam Alkitab kutukan akhirnya menjadikan kematian, tetapi berkat yang terbesar ialah hayat. Hayat adalah berkat yang ditentukan Allah (Mzm. 133:3). Dalam sidang-sidang gereja yang baik, kematian akan tertelan dan kutukan akan tersingkir.

(c) Mendatangkan Berkat ke Bumi

Melalui salib mempersembahkan Kristus kepada Allah, juga mendatangkan berkat ke bumi. Kejadian 8:22 menyebutkan delapan berkat. Pertama ialah menabur yaitu menabur benih di tanah. Dalam hidup gereja kita harus menaburkan Kristus kepada orang lain. Kita harus mengabarkan Injil dan menyuplai orang lain dengan Kristus sebagai benih hayat. Kita menabur Kristus, itulah waktu kita menabur. Kemudian kita menuai. Menabur adalah memulai sedangkan menuai adalah penggenapan, waktu kita menuai. Kita tidak saja menyuplaikan Kristus kepada orang lain, kita juga membawanya kepada penuaian. Membawa masuk orang yang baru beroleh selamat yang mempunyai Kristus di dalamnya ke dalam gereja, inilah tuaian kita.

Ketiga dan keempat ialah dingin dan panas. Bila Anda ingin memiliki tubuh yang sehat, paling baik tinggal di tempat yang bermusim dingin dan bermusim panas. Kita tidak boleh tidak dingin dan tidak panas. Di satu aspek, gereja harus dingin — terhadap Iblis, dosa, dan dunia. Terhadap Iblis, dosa, dan dunia gereja harus seperti sebuah gunung es yang besar. Terhadap ego, daging, hayat jiwa, dan segala hal yang negatif, kita harus dingin. Kita bisa berkata, “Iblis, datanglah, kami akan membekukanmu hingga mati!” Di aspek lain, kita juga harus panas, membarakan orang lain. Kejadian 8:22 juga mengatakan tentang kemarau dan hujan, siang dan malam. Semua ini adalah berkat hayat.

Dalam hidup gereja yang tepat, di samping selalu ada keadaan hujan dan dingin untuk menumpas Iblis, juga ada waktu malam untuk tidur. Kita perlu pula kemarau, panas, dan siang untuk Allah kita. Semua ini adalah berkat. Tetapi lihatlah masyarakat hari ini, tidak ada dingin, panas, kemarau, hujan, siang, dan malam. Orang-orang pergi ke klub-malam, menjadikan malam sebagai siang dan siang sebagai malam. Karena mereka tidak memiliki kehidupan yang tepat, mereka berada di bawah kutukan. Di dalam gereja, kita harus berada di bawah pemberkatan Allah menempuh kehidupan yang tepat. Orang dunia tidak seperti kita, mereka tidak betah dengan hidup gereja. Kita yang senantiasa menempuh hidup gereja, sungguh ada di bawah berkat Allah, tidak hanya secara rohani dan mentalitas mendapat berkat, tubuh pun mendapat berkat. Seluruh orang gereja begitu sehat, sebab mereka melalui hidup gereja berada di bawah berkat Allah. Banyak orang gereja dapat bersaksi, sebelum mereka memasuki hidup gereja, tubuh mereka lemah dan sering sakit, bahkan banyak pula yang berpenyakit jiwa. Tetapi setelah memasuki hidup gereja, pikiran dan tubuh mereka menjadi sehat. Ini adalah berkat. Berkat semacam ini adalah hasil dari mempersembahkan Kristus kepada Allah melalui salib. Para saudari, kalau Anda ingin sehat, Anda perlu mengalami Kristus dan melalui salib mempersembahkan Dia kepada Allah. Jika Anda menempuh kehidupan seperti ini sejangka waktu, Anda akan bertubuh sehat dan berpikiran jernih. Saudari-saudari muda yang menempuh kehidupan demikian, baik pikiran maupun emosi mereka akan menjadi sehat. Ba-nyak wanita muda kalau bukan emosi, tentu pikirannya yang berpenyakit, dokter ahli jiwa pun tidak dapat menolong mereka. Tetapi asalkan Anda menempuh hidup gereja, Kristus yang Anda persembahkan kepada Allah itu dapat menyembuhkan Anda, Dia lebih baik daripada dokter jiwa mana pun. Jangan cari dokter jiwa — da-tanglah kepada Kristus, mempersembahkan Kristus ke-pada Allah, demikian Anda pasti menjadi sehat, pikiran jernih, emosi pun seimbang. Karena hidup gereja adalah kehidupan yang tepat, maka ia mendatangkan berkat Allah. Damai sejahtera, sukacita, kasih, simpati, murah hati, kehidupan yang normal — semuanya ini adalah tanda-tanda berkat hayat. Berkat macam ini datang dari mengalami Kristus melalui salib.

(5). Mencapai Tujuan Allah

Hidup gereja adalah kembali ke awal mula untuk mencapai tujuan Allah (Kej. 9:1-2, 6-7). Pada mulanya, tujuan Allah ialah ingin manusia mengekspresikan Allah dan mewakili Allah (Kej. 1:26). Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, supaya manusia dapat meng-ekspresikan-Nya. Allah juga memberi manusia kuasa untuk mengatur, supaya manusia dapat mewakili-Nya. Dalam kedua hal ini manusia tidak melalaikan amanat Allah. Maka, Allah melalui air menyelamatkan delapan orang; di dalam kebangkitan membawa mereka ke suatu zaman yang baru. Kemudian Allah menaruh kembali tu-juannya pada manusia yang bangkit. Inilah hidup gereja. Dalam hidup gereja, kita dibawa kembali ke tujuan Allah yang semula, yaitu supaya manusia mengekspresikan Dia dan mewakili Dia. Kini di dalam hidup gereja, kita meng-ekspresikan Allah dan mewakili Allah.

Bahkan gereja bisa, juga harus memanfaatkan kuasa surgawi untuk mengendalikan situasi dunia dewasa ini. Kita harus memberi tahu Tuhan, “Tuhan, kami tidak se-tuju dengan keadaan dunia dewasa ini, segala perubahan haruslah untuk kepentingan-Mu.” Kita harus mengguna-kan roh kita mengumumkan demikian kepada seluruh alam semesta. Gereja memiliki wewenang berbuat demi-kian. Maafkan saya berkata, hari ini banyak orang Kristen kehilangan terang ini, mereka tidak mengenal bahwa gereja mempunyai kuasa sedemikian.

Kita adalah orang-orang yang bangkit, dari keja-tuhan dipulihkan kepada yang semula. Di dalam Adam kita telah jatuh, tetapi di dalam Kristus kita telah di-pulihkan. Di dalam Kristus kita telah dibawa kembali ke-pada yang semula, untuk mengekspresikan Allah dan mewakili Allah. Kita boleh memberi tahu orang dunia, “Inginkah kalian melihat Allah? Inginkan kalian mengenal Allah? Silakan datang ke gereja, kalian pasti melihat-Nya. Di dalam gereja kalian dapat melihat ekspresi Allah.” Selain itu gereja sudah diberi kuasa oleh Allah, di bumi mewakili Allah pada zaman ini. Kita adalah duta besar Kristus (2 Kor. 5:20). Janganlah berdoa dengan cara yang kasihan meminta-minta kepada Tuhan yang berkuasa atas seluruh alam semesta ini. Karena kita sudah mempunyai kuasa, maka ketika berdoa kita harus memakai dan menyatakan kuasa ini. Melalui doa, kita harus menyatakan sikap kita dan berkata, “Kita tidak setuju dengan perkara-perkara yang jahat yang terjadi di negara ini.” Allah akan menghargai doa ini, karena dalam hidup gereja kita adalah wakil Allah.

Kejadian 1:26 mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah. Kolose 3:10 memberi tahu kita, gereja adalah manusia baru, yang diciptakan menurut gambar Allah. Ini berarti hidup gereja telah menggantikan Adam yang jatuh. Adam kehilangan kedudukannya, gereja sudah menggantikannya. Sekarang gereja adalah pengganti Adam, menggunakan kuasa Allah untuk me-naklukkan alam semesta. Setelah air bah, Allah memberi tahu Nuh bahwa semua makhluk hidup diserahkan ke dalam tangannya (Kej. 9:2). Tidak hanya pada waktu diciptakan, juga pada waktu dibangkitkan, Allah sudah menentukan bahwa semua makhluk hidup takluk pada penguasaan manusia. Mereka bukan ditentukan takluk pada penguasaan manusia yang jatuh, melainkan takluk pada penguasaan manusia yang telah bangkit. Dalam hi-dup gereja, Anda seorang yang jatuh atau seorang yang bangkit? Kita harus bangun memberi tahu musuh bahwa kita tidak setuju dengan perkara-perkaranya yang jahat itu, dia harus meninggalkan kita. Sering kali kita perlu mempunyai doa yang demikian. Di dalam sidang doa, ge-reja harus berdoa demikian. Kadang kala “burung gagak” tidak saja makan bangkai, dapat pula kembali mengacau hidup gereja. Maka kita harus menggunakan kuasa memberi tahu musuh bahwa kita tidak setuju dengan pengacauan ini dan tidak memperbolehkan perkara de-mikian terjadi. Kita berhak berkata demikian, karena kita sudah mempunyai kedudukan untuk mewakili Allah. Kita sudah ditaruh pada kedudukan manusia yang se-mula. Inilah hidup gereja. Kita tidak hanya hidup, tetapi juga harus menaklukkan. Suatu gereja lokal, haruslah mengendalikan tempat itu. Bila gereja itu tepat, berdiri pada posisi yang benar, ia akan memiliki kuasa untuk mengendalikan setiap macam keadaan.

(6). Hidup di Bawah Janji Allah

(a) Tidak Ada Lagi Penghakiman Kematian

Ketika itu Allah mengadakan perjanjian dengan Nuh, keturunannya, dan segala makhluk hidup (Kej. 9:8-11). Yang terpenting dalam janji ini hanyalah satu — tidak akan ada lagi penghakiman air kematian, yang membawa kematian menimpa mereka. Janji ini terutama melam-bangkan bahwa dalam hidup gereja tidak akan ada ke-matian lagi, hanya ada hayat. Kedelapan orang itu hidup di bawah janji ini. Karena kita tidak mempunyai latar belakang mereka, maka sulit sekali mengerti bagaimana perasaan mereka ketika meninggalkan bahtera. Andai-kata Anda adalah menantu perempuan Nuh. Setelah Anda meninggalkan bahtera, Anda mungkin masih me-rasa khawatir kalau-kalau beberapa waktu kemudian air bah menimpa lagi. Anda mungkin berkata pada diri sen-diri, “Sebelum air bah, aku berkeyakinan. Melihat langit cerah. Aku sangat yakin, karena langit begitu cerah. Aku sedikit pun tidak takut. Namun sekarang, setelah meng-alami air bah, aku tidak mempunyai keyakinan apa pun. Walau langit tetap cerah, namun air bah sewaktu-waktu dapat menimpa.” Orang-orang yang tidak memiliki ke-yakinan merasa terancam dan sangat takut. Ini menan-dakan meskipun kita sudah beroleh selamat dan masuk dalam hidup gereja, tetap masih berada di bawah an-caman maut. Banyak orang terancam oleh dosa yang mudah dilakukan atau amarah yang mungkin timbul. Mereka membenci temperamen mereka. Dua minggu yang lalu langit masih cerah, tetapi tiba-tiba hujan petir sambar menyambar — temperamen mereka kumat. Se-tiap kali temperamennya kumat, mereka ketakutan. Ba-nyak orang saleh memberi tahu saya, “Saudara, berada dalam hidup gereja sungguh baik, namun aku tidak ber-iman dan berkeyakinan bahwa setiap hari selalu sama. Hari ini aku sangat ramah terhadap istri, tetapi mungkin dua hari kemudian aku marah-marah, hancur berantakan. Aku tidak berkeyakinan, tidak ada damai, penuh dengan ketakutan.” Ada juga saudari terhadap suami atau di antara saudari tidak ada kedamaian. Mereka takut kalau-kalau air kematian akan menimpa sekali lagi.

Oleh karena Nuh dan orang-orang lainnya mempu-nyai perasaan yang terancam ini, maka Allah mengada-kan perjanjian dengan mereka. Seolah-olah Allah berkata, “Damai sejahtera menyertai kalian, tenanglah, tidak akan ada air bah lagi. Air kematian tidak akan datang lagi.” Ini menandakan bahwa dalam hidup gereja kita boleh tenang, boleh damai, karena tidak akan ada kematian lagi. “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Tidak ada air kematian lagi. Kita berada di Roma 8, di sana tidak ada hukuman, tidak ada air bah, tidak ada ke-matian, tidak ada penghakiman. Makin banyak kita me-ngatakan “tidak ada”, kita makin mengenal bahwa pada diri kita tidak ada kematian. Janganlah percaya kepada perasaan Anda, janganlah mendengar tuduhan dari diri Anda sendiri. Tuduhan dari diri Anda sendiri tidak dapat diandalkan, itu bohong belaka. Anda harus hidup di ba-wah janji Allah. Jangan hidup di bawah perasaan Anda, tindakan Anda, atau lingkungan Anda. Janji Allah menya-takan, setiap kali langit berawan, Allah dapat mengeluar-kan pelangi. Ketika Anda melihat pelangi, Anda tahu bahwa air bah tidak akan datang lagi. Kalau istri atau suami Anda selama dua minggu ini baik sekali berkumpul dengan Anda, tetapi tiba-tiba langit berubah kelam, ja-ngan percaya itu. Anda harus berkata, “Tuhan, keluarkanlah pelangi.” Jangan percaya suami Anda akan marah, berkatalah, “Ya Tuhan, Engkau adalah setia dan tidak berubah. Engkau dapat menyingkirkan awan-awan dan mengeluarkan pelangi.” Kalau Anda berkata demikian, langit akan cerah.

Jangan percaya Anda lemah, itu adalah tipuan Iblis. Jangan percaya Anda bisa marah-marah, Anda bisa jatuh. Jika Anda percaya kepada perkara-perkara yang negatif, dan bahkan mengatakan hal-hal itu, hal-hal itu akan benar-benar terjadi; ramalan yang tidak baik itu akan ternyata. Jika Anda takut terhadap sesuatu dan bahkan lebih dulu mengatakan perkara-perkara itu, maka per-kara-perkara itu akan terjadi. Jangan mempercayai ke-lemahan Anda. Percayakah Anda bahwa Anda lemah? Anda kini hidup dalam kelemahan Anda, atau hidup dalam janji Allah? Seluruh kitab dalam Perjanjian Baru disebut juga sebagai Surat Wasiat. Surat Wasiat lebih baik daripada perjanjian. Kita mempunyai 27 kitab per-janjian. Janji itu mengatakan, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1). Janji itu mengatakan pula, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam ke-lemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor. 12:9). Percayakah Anda hal ini? Bila kita percaya, kita harus berseru dengan nyaring, “Amin!” Janji ini lebih-lebih mengatakan, “Yesus Kristus, yang melalui Injil telah me-matahkan kuasa maut” (2 Tim. 1:10). Percayakah Anda akan hal ini? Jangan melihat diri Anda sendiri — pan-danglah Kristus. Setiap kali Anda melihat diri Anda sendiri, Anda bisa gemetar. Kita tidak seharusnya hidup di dalam diri sendiri, kita harus hidup di dalam janji Allah. Kita mempunyai satu janji! Perjanjian yang diada-kan oleh Allah kepada Nuh sangat pendek, paling banyak hanya setengah pasal. Namun perjanjian kita ada 27 kitab. Apakah Anda lemah? Anda harus mengatakan: Tidak, aku tidak lemah lagi karena janji Allah memberi tahu aku bahwa aku bisa menjadi kuat oleh anugerah da-lam Kristus Yesus (2 Tim. 2:1), dan aku bisa bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku (2 Kor. 12:9). Saya sangat suka dengan sebuah nya-nyian yang saya pelajari pada waktu kecil: “Yesus cinta padaku — tercatat di Alkitab.” Kita juga boleh berkata, “Aku kuat di dalam anugerah-Nya — ini kutahu, karena Alkitab berkata demikian.” Kita dapat mengumumkan, “Aku terlindung dan tidak tersandung — ini kutahu, karena Alkitab berkata demikian” (Yud. 24). Ada orang mungkin tidak beriman untuk berkata demikian, Anda mungkin mengira ini keterlaluan, dan bertanya, “Bagaimana dapat mengatakan bahwa aku terlindung, tidak tersandung — ini kutahu? Aku tidak berani berkata demikian. Kalau malam ini aku mengatakan perkataan ini, besok aku pasti akan jatuh.” Ya, Anda akan jatuh, karena Anda sudah meramalkan akan jatuh. Penyebab jatuhnya Anda adalah karena Anda hidup di dalam perasaan Anda sendiri, Anda tidak hidup di dalam janji Allah.

Di dalam janji-Nya, Allah mengatakan, “Tidak akan ada air bah lagi. Allah tidak akan menghakimi dengan air lagi.” Andaikata pada waktu itu Anda di sana, dapatkah Anda berkata “Amin?” Saya mau berkata, “Amin!”

berulang kali. Pada waktu Nuh melihat awan hitam, ia tidak perlu takut, karena ia tahu pelangi pasti akan keluar. Karena itu, ketika amarah timbul, Anda dapat berkata, “Tuhan, aku tidak mau marah, suruhlah pelangi keluar. Aku tidak peduli awan — aku hanya memper-hatikan pelangi. Langit hitam, awan tebal, tetapi pelangi yang indah akan segera muncul. Lihat saja pelangi!” Kalau Anda berkata demikian, Anda demi iman telah menjadikan apa yang tadinya tidak ada. Iman ini bukan menurut pemikiran Anda, melainkan menurut kedua puluh tujuh kitab perjanjian yang ditulis Allah.

Setelah air bah, kedelapan orang itu menjadi orang milik perjanjian. Mereka adalah sekelompok “orang per-janjian”. Dalam kehidupan gereja, dalam kebangkitan Kristus, kita adalah orang perjanjian, kita mempunyai satu perjanjian. Kita tidak hidup dalam menghukum diri sendiri, dalam pertimbangan, atau kepalsuan, kita hidup di dalam janji Allah. Kita sekarang hidup di dalam Perjanjian Baru. Apakah Anda lemah? Apakah Anda mau marah? Ingin bertengkar dengan istri? Ingin mengasihi dunia? Anda dapat berkata, “Tidak, karena Alkitab mem-beri tahu demikian.” Bila kita bersandarkan janji Allah di dalam perjanjian-Nya, kita sudah mendapat perlindung-an. Janji-janji ini sangat besar dan berharga, olehnya kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan lu-put dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia (2 Ptr. 1:4).

(b) Ada Pelangi sebagai Tanda

Kesetiaan Allah Memegang Janji

Apakah makna pelangi sebagai tanda perjanjian yang Allah taruh di angkasa? (Kej. 9:12-17). Pelangi menanda-kan kesetiaan Allah. Kesetiaan Allah ialah pelangi. Da-lam Kitab Wahyu, kitab terakhir dari Alkitab, Yohanes melihat Allah duduk di atas takhta, dan suatu pelangi melingkungi takhta itu (Why. 4:3). Kitab Wahyu adalah suatu kitab penutup yang terus-menerus membawa kita kembali ke permulaan Alkitab. Dalam kitab pertama dari Alkitab terdapat sebuah pelangi, dalam kitab terakhir masih terlihat sebuah pelangi. Kesetiaan Allah kekal sampai selamanya, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Tim. 2:13). Begitu sekali Dia berkata, akan ditepati selamanya. Dia sendiri adalah setia. 1 Korintus 1:9 mengatakan, “Allah, yang memanggil kamu ke-pada persektuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” 1 Yohanes 1:9 mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Puji Tuhan, Allah itu setia!

Allah setia terhadap apa? Allah setia terhadap yang dikatakan-Nya. Allah setia terhadap firman-Nya. Firman-Nya adalah wasiat, adalah janji. Janji ialah firman Allah. Allah setia terhadap semua yang dikatakan-Nya. Inilah pelangi. Ketika awan datang, Anda harus menyeru hingga tampil kesetiaan Allah, yaitu menyeru hingga pelangi keluar. Kapan saja Anda merasa lemah, Anda harus menyerukan kesetiaan Allah dengan berkata, “Oh Tuhan, Engkau adalah setia. Aku lemah, namun Engkau harus menurut perkataan-Mu membuat aku kuat.” Kita semua hidup di bawah janji Allah, ada kesetiaan Allah sebagai tanda yang pasti, air bah tidak akan datang lagi. Inilah hidup gereja.

Kehidupan kristiani kita dan hidup gereja kita mut-lak adalah kehidupan perjanjian. Kita berada di bawah janji. Dalam setiap ayat Alkitab Perjanjian Baru, kita melihat janji Allah. Saya akan memberi kalian sebuah ayat di antaranya yang paling banyak saya alami: “Pen-cobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiar-kan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Kor. 10:13). Ayat ini boleh Anda gunakan pada waktu Anda menjumpai segala macam keadaan. Bila Anda berpegang pada janji Allah, saya dapat menjamin, apa pun yang Anda alami, di sini ada sebuah ayat Alkitab sebagai janji yang hidup, Anda bisa bersandar dan hidup berdasarkan-nya. Kita semua harus belajar bagaimana hidup di bawah janji Allah. Janganlah kita tercekam ketakutan oleh tuduhan dari diri kita sendiri, perasaan, lingkungan, awan mendung, dan sebagainya. Kita berada di bawah janji Allah dan mutlak dalam berkat-Nya. Tidak ada hukuman lagi, tidak ada penghakiman, tidak ada kutuk-an. Maut sudah dipatahkan. Di dalam gereja kita tak henti-hentinya menikmati hayat. Setiap hal adalah hayat. Janganlah takut kehilangan pekerjaan atau kesehatan Anda. Janganlah terancam oleh kegelapan atau perkara-perkara yang negatif. Kita adalah orang-orang yang memiliki janji. Kita mempunyai sebuah ayat Alkitab yang dapat menghadapi segala macam keadaan. Kita harus berdiri di bawah janji, tidak percaya kegagalan, kelemah-an, kegelapan apa pun, atau perihal yang negatif. Kita ditakdirkan berada di bawah janji yang telah dipercik oleh darah adi. Haleluya! Kita adalah orang perjanjian. Di sini tidak ada awan mendung, tidak ada air bah — hanya ada hayat. Tidak ada kutukan — hanya ada berkat. Hidup gereja adalah kehidupan semacam ini, orang da-lam gereja adalah orang yang di bawah janji. Sesung-guhnya kita dapat disebut sebagai gereja perjanjian.