← Daftar isi Kejadian (3) · bab 2/15

JALAN PENYELAMATAN DARI KEJATUHAN MANUSIA KALI KETIGA (2)

(3) Bahtera

Dalam berita ini kita sampai pada bahtera (Kej. 6:14-16). Kita telah melihat, dalam Kitab Kejadian terkandung banyak benih rohani. Sesungguhnya bahtera adalah sebutir benih yang besar. Tuhan sudah menunjukkan kepada kita tentang dalamnya rahasia yang dilambangkan bahtera ini.

(a) Ukurannya

Terlebih dulu kita membicarakan tentang ukuran bahtera. Panjang bahtera 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta (Kej. 6:15). Bahtera itu bertingkat tiga (Kej. 6:16). Karena tinggi keseluruhannya 30 hasta, maka setiap tingkat tentu 10 hasta tingginya. Ukuran-ukuran ini sangat bermakna. Mengapa bahtera itu bukan 800 hasta panjangnya, 70 hasta lebarnya, dan 20 atau 40 hasta tingginya? Mengapa justru panjang 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 30 hasta? Karena angka-angka dasar dalam pembangunan Allah ialah 3 dan 5.

Kitab Keluaran 25:10 memberi tahu kita sebuah bah-tera yang lain, yakni tabut perjanjian Allah. (Dalam bahasa Inggris istilah “bahtera” dan “tabut” sekata yaitu “ark”). Di dalam Alkitab ada dua ark — bahtera Nuh dan tabut Perjanjian Allah. (Tabut Perjanjian Allah disebut juga tabut kesaksian Allah). Bahtera yang pertama memiliki dua angka, yaitu 3 dan 5. Namun ukuran tabut kesaksian ialah panjang 2,5 hasta, lebar 1,5 hasta, dan tinggi 1,5 hasta. Kalau kita membandingkan kedua bahtera ini, kita tahu 2,5 hasta adalah setengah dari 5 hasta, sedang 1,5 hasta adalah setengah dari 3 hasta. Ukuran bahtera pertama ialah angka penuh, ukuran bahtera kedua ialah angka setengah. Alkitab adalah firman Allah dan setiap titik di dalamnya mempunyai arti yang pen-ting. Mengapa ukuran tabut kesaksian itu adalah angka setengah? Ketika Anda melihat yang setengah ini, Anda segera tahu bahwa masih ada setengah yang lain, dan dua dari setengah ini disatukan menjadi satu kesaksian. Dua dari setengah ini membentuk satu kesatuan yang lengkap. Itulah kesaksian Allah. Bahtera yang kedua ialah kesaksian Allah. Mengapa kesaksian dinyatakan dengan angka? Meskipun orang melihat angka, namun tidak mudah memahami akan kesaksian, tetapi ketika orang melihat ukuran tabut kesaksian, angka-angka itu semua setengah, mereka akan segera menyadari perlu setengah yang lain. Mereka akan mengetahui inilah separuh dari kesaksian, karena 2 adalah angka kesaksian. Ukuran bahtera menyaksikan apa? Yaitu menyaksikan angka dasar pembangunan 3 dan 5.

Apakah makna bilangan 3 dan 5? Dalam Alkitab, angka 3 menyatakan Allah Tritunggal — Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus (Mat. 28:19). Mengapa Allah harus dalam 3 persona? Sebenarnya kita mempunyai satu Allah atau tiga Allah? Kita harus menegaskan bahwa kita hanya mempunyai satu Allah. Tetapi ada orang-orang Kristen yang memahami dengan pikiran, lalu percaya ada tiga Allah. Suatu kali, seseorang memberi tahu saya: Allah, Putra, dan Roh Kudus adalah tiga Allah. Setelah saya mendengar, saya berkata, “Jangan berkata begitu, itu benar-benar bidat. Alkitab tidak pernah mengatakan ada tiga Allah, selalu mengatakan hanya ada satu Allah.” Allah kita adalah Allah yang esa (Ul. 6:4, Yes. 45:5, 1 Kor. 8:4). Mengapa atau bagaimana bisa Allah yang tunggal ini di-katakan mempunyai tiga persona? Istilah “persona” ini tidak ada dalam Alkitab, ini ialah interpretasi manusia. Griffith Thomas, penulis catatan kaki Surat Roma yang terbaik, dalam buku karyanya “Principles of Theology” mengatakan, “Istilah ‘persona’ kadang-kadang juga diten-tang. Istilah ini sudah tentu tidak boleh terlalu ditekan-kan, jika terlalu ditekankan, bisa menyebabkan kesimpul-an pada ajaran tiga Allah . . . Sekalipun kita terpaksa menggunakan beberapa istilah seperti wujud (substance) dan persona (person). Tetapi artinya bukan seperti yang dimengerti orang biasa akan wujud dan persona . . . Pengalaman terhadap kebenaran Allah Tritunggal tidak tergantung pada istilah-istilah teologi.” Thomas juga mengatakan, “Bahasa manusia tidak dapat mengutarakan rahasia ilahi ini. Kita kekurangan bahasa, pengutaraan, dan istilah-istilah itu. Terhadap rahasia ilahi ini, kita kurang memiliki pengertian yang tepat. Istilah apa yang harus kita gunakan? Kita tidak tahu. Tidak ada istilah tepat yang dapat digunakan. Allah Tritunggal adalah sua-tu rahasia, kita tidak mempunyai sesuatu yang dapat di-pakai sebagai pengantara, tidak ada cara untuk mengutarakan. Ketika Filipus mohon Tuhan Yesus supaya Bapa ditunjukkan kepadanya dan murid-murid yang lain, Tuhan berkata, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” (Yoh. 14:9).

Saya pernah disalahkan orang, karena saya mengatakan Tuhan Yesus adalah Roh itu. Walaupun saya tidak mau membantah atau menjawab, tetapi saya ingin sekali bertanya kepada saudara-saudara terkasih yang menyalahkan saya, bagaimanakah mereka menjelaskan 2 Korintus 3:17. Di sana dikatakan, “Sebab Tuhan adalah Roh itu” (Tl.). Jangan bertanya, “Kalau begitu, apakah Tuhan dan Roh itu satu?” Kita tidak mampu, juga tidak mempunyai cara yang dapat menerangkannya dengan memadai. Meskipun demikian, dalam Alkitab terdapat sebuah ayat yang mengatakan, “Sebab Tuhan adalah Roh.” Di manakah An-da menempatkan ayat ini? Apakah Anda akan menggun-ting ayat ini dari Alkitab? Saya ingin memberikan lagi Yesaya 9:5 kepada saudara-saudara itu, yang mengata-kan, “Seorang putra telah diberikan untuk kita . . . namanya disebutkan orang . . . Bapa yang kekal.” Sebenarnya Dia Putra atau Bapa? Di sini juga memperlihatkan kepada kita, meskipun kita tidak dapat dengan memadai menerangkan hal ini, tetapi dalam Alkitab ada ayat ini, Putra disebut Bapa. 2 Korintus 3:17 mengatakan, “Sebab Tuhan adalah Roh.” Yesaya 9:6 mengatakan, “Putra disebut Bapa.” Inilah rahasia Allah Tritunggal. Kita sungguh mempunyai Bapa, Putra, dan juga Roh. Tetapi Putra disebut Bapa, dan Putra itulah Roh. Ketiganya tetap adalah satu Allah.

Kita semua tahu Yohanes 1:1, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah.” Di sini jelas sekali, Firman dan Allah itu terpisah, tetapi kemudian Yohanes mengatakan “Firman itu adalah Allah.” Perkataan ini menimbulkan pertanyaan. Pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Sebenarnya Firman dan Allah itu satu atau dua? Ini suatu rahasia, rahasia Allah Tritunggal.

Efesus 4:6 mengatakan bahwa Bapa di dalam kita. Kolose 1:27 mengatakan bahwa Kristus, Sang Putra, ada di tengah-tengah kita. Yohanes 14:17 mengatakan bahwa Roh diam di dalam kita. Bapa, Putra, dan Roh Kudus se-muanya ada di dalam kita. Suatu kali saya menunjukkan ayat-ayat ini kepada seseorang, dan bertanya kepadanya apakah ia jelas dan percaya. Saya bertanya, “Percayakah Anda akan fakta-fakta ini — Allah, Putra, dan Roh ada di dalam Anda?” Dia mengatakan, “Percaya.” Lalu saya bertanya lagi, “Katakanlah ada berapa yang di dalam Anda?” Jawabnya, “Satu.” Saya bertanya lagi, “Bukankah Anda mengakui Bapa, Putra, dan Roh yang dikatakan Alkitab semuanya diam di dalam Anda? Bagaimana Anda dapat mengatakan hanya ada satu di dalam Anda?” Dia tidak dapat menjawab. Alkitab sungguh mengatakan Bapa, Putra, dan Roh, ketiga-tiganya tinggal di dalam kita. Tetapi menurut pengalaman kita, hanya ada satu yang diam di dalam kita, yang disebut Roh atau Tuhan. Inilah rahasia ketritunggalan Allah kita. Dialah Allah yang esa, tetapi Dia juga Bapa, Putra, dan Roh.

Sifat Allah yang Tritunggal adalah untuk menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Makanan kalau tidak melalui proses pemasakan dan pengolahan, tidak dapat masuk ke dalam kita. Bila makanan tidak dimasak, paling sedikit juga harus dikunyah, ditelan, dicerna, dan diserap. Kalau tidak ada proses ini, tidak ada yang dapat masuk ke dalam kita. Allah Tritunggal ialah Allah yang menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Matius 28:19 mengatakan, “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak (Putra) dan Roh Kudus.” Untuk tujuan apakah kita membaptis orang dalam Bapa, Putra, dan Roh Kudus? Yaitu supaya membuat mereka masuk ke dalam Allah dan juga membuat Allah masuk ke dalam mereka. Allah Tritunggal, bu-kan suatu teori atau ajaran teologi, melainkan penyaluran Allah.

Angka “tiga” ini menyatakan Allah dalam penyaluran-Nya, yakni Allah yang menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Ketika Alkitab mengatakan Allah dan manusia berbaur, mengatakan Allah masuk ke dalam manusia, selalu menggunakan “Tritunggal” ini. Misalnya 2 Korintus 13:13, “Anugerah (kasih karunia) Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Ini bukan teori tentang tiga Allah, melainkan Allah Tritunggal di dalam proses penyaluran-Nya, menggarapkan diri-Nya sendiri masuk ke dalam kita dan membawa kita masuk ke dalam segala kelimpahan-Nya. Inilah arti angka “tiga”.

Lalu angka “lima” menyatakan apa? Mudah sekali dimengerti. Sepuluh hukum Taurat ditulis pada 2 buah loh batu, setiap loh batu terdapat 5 hukum. Dalam Matius 25, ada 10 anak dara dibagi dua kelompok, tiap kelompok ada 5. Lihatlah diri Anda sendiri, Anda mempunyai 10 jari tangan dan 10 jari kaki, yang masing-masing dikelompokkan 5. Lima jari dari setiap tangan adalah terdiri dari 4 tambah 1. Andaikata setiap tangan Anda memiliki 2 ibu jari dan 3 jari, akan canggung untuk mengerjakan apa pun. Tetapi dengan 1 ibu jari dan 4 jari, amatlah mudah melakukan apa saja. Satu ibu jari, mewakili Allah yang esa sebagai pencipta. empat jari merupakan angka ciptaan Allah, seperti 4 makhluk hidup (Why. 4:6). Maka 4 tambah 1 berarti manusia yang diciptakan ditambah dengan Allah. Pemikiran yang dinyatakan angka 3 dan 5 di sini ialah perbauran antara Allah dan manusia. Apakah pembangunan Allah? Pembangunan Allah ialah membangun diri-Nya sendiri ke dalam kita (manusia) dan membangun kita ke dalam-Nya, supaya Dia bersatu dengan kita dan kita bersatu dengan Dia. Membuat bahtera menggunakan angka dasar 3 dan 5 untuk menyatakan bahwa pembangunan ini adalah perbauran antara Allah dan manusia.

Mengapa panjang bahtera 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 300 hasta? Jelaslah, angka 300 ialah 3 kali 100, 50 ialah 5 kali 10, 30 ialah 3 kali 10. Angka dasar ialah 3 dan 5, sedangkan angka 300, 50, 30, semuanya adalah kelipatan dari 3 dan 5. Angka 100 menyatakan kelimpahan kepenuhan. Tuhan Yesus mengatakan yang paling banyak berbuah adalah 100 kali lipat (Mat. 13:23). Maka angka “100” dalam Alkitab adalah angka kelimpahan kepenuhan. Angka “100” berarti sempurna (Dan. 1:12, 20). Bila Anda kekurangan sebuah ibu jari, maka Anda tidak sempurna. Karena “10” menyatakan kesempurnaan, sedangkan “100” menyatakan kepenuhan, maka bahtera adalah perbauran Allah Tritunggal dan manusia dalam kepenuhan dan kesempurnaan.

Bila Anda membaca Keluaran 27, Anda akan menemukan angka 3 dan 5 juga sebagai angka dasar Kemah Suci. Pelataran Kemah di sebelah selatan dan utara keduanya 100 hasta panjangnya (Kel. 27:9, 11). Pelataran sebelah timur dan barat keduanya 50 hasta lebarnya (Kel. 27:12-13). Pagar pelataran ialah 5 hasta tingginya (Kel. 27:18). Dua layar pada sisi di samping pintu gerbang pelataran adalah 15 hasta panjangnya (Kel. 27:14-15). Di setiap layar ada 3 tiang yang menopangnya sedang jarak antara tiap-tiap tiang ialah 5 hasta. Di dalam Alkitab tidak ada satu pun yang tidak berarti. Semua ukuran pelataran Kemah Suci terdiri dari angka dasar 3 dan 5. Selanjutnya, seluruh kemah terdiri dari 3 bagian: pela-taran, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Di dalam tempat kudus ada 3 benda: meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah kurban bakaran. Kesemuanya ini sangat berarti. Angka 3 dan 5 adalah angka dasar pembangunan Allah.

Saya harap Anda dapat mendengar firman ini hingga masuk ke dalam Anda, jelaslah bahwa semua bagian Anda dalam pembangunan gereja harus ada 3 dan 5. Harus merupakan perbauran antara Allah Tritunggal dan manusia. Apa pun yang Anda lakukan untuk pembangunan gereja haruslah perbauran Allah Tritunggal dengan Anda beserta orang lain. Pemikiran ini sangat dalam.

(b) Tiga Tingkat

Bahtera terdiri dari 3 tingkat, tingkat bawah, tengah, dan atas (Kej. 6:16). Tiga tingkat ini menyatakan tinggi bahtera. Ketiga bagian kemah menunjukkan seberapa dalam yang harus kita masuki. Ketiga tingkat bahtera menunjukkan ketinggian yang harus kita capai. Dikatakan dari suatu segi, kita harus mencapai lebih tinggi. Jelaslah, ketiga tingkat bahtera menunjukkan Allah Tritunggal. Di dalam ketritunggalan dari ke-Allahan, kita sering mengatakan urutannya ialah Bapa, Putra, dan Roh. Kalau begitu tingkat bawah bahtera menunjukkan yang mana dari Allah Tritunggal? Sedang yang di tingkat dua mudah sekali dikatakan, karena kita tahu Putra berada di tengah dari ketiga itu. Tetapi tingkat bawah adalah Allah Bapa, ataukah Allah Roh? Di Lukas 15 kita melihat tiga perumpamaan: gembala yang mencari domba yang sesat, perempuan yang mencari dan menemukan dirham yang hilang, dan bapa yang menerima kembali anak yang hilang. Perumpamaan pertama mengatakan Putra, kedua menyatakan Roh, sedang ketiga menyatakan Bapa. Menurut pengalaman kita Roh dulu yang datang kepada kita, menemukan kita, membawa kita ke hadapan Putra dan mengharukan kita untuk percaya pada Putra. Sesudah kita percaya kepada Putra, kita berseru, “Ya Bapa!” Roh membawa kita kepada Putra, lalu Putra membawa kita kepada Bapa. Ketika kita datang ke hadirat Bapa, kita masuk ke tingkat tiga.

Injil Yohanes adalah kitab yang mengatakan tentang Putra sedangkan 1 Yohanes mengatakan tentang Bapa. Di dalam kitab tentang Putra ada anugerah tetapi dalam kitab tentang Bapa ada kasih. Kasih itu melampaui anugerah. Di dalam Injil Yohanes ada kebenaran, di 1 Yohanes ada terang. Terang melampaui kebenaran. Injil Yohanes itu baik, karena membawa kita ke hadapan Putra. Satu Yohanes lebih baik, karena membawa kita ke hadapan Bapa. Kita harus selalu maju dari Putra ke Bapa.

Tingkat bawah bahtera menunjukkan Roh. Banyak orang Kristen suka memperbincangkan tentang apa yang disebut baptisan Roh Kudus dan hal-hal kharismatik, tetapi semuanya ini ada pada tingkat bawah. Kita datang kepada Roh agar mengenal Putra, Kristus. Mengenal Kristus adalah berbeda, karena setingkat lebih tinggi. Pada suatu hari kita masih akan masuk ke tingkat Bapa, yaitu tingkat yang paling tinggi, paling agung, dan paling rahasia.

Misalnya, saya mempunyai rumah bertingkat tiga. Kalau Anda bukan teman saya, saya hanya memperbolehkan Anda masuk tingkat bawah, tidak membiarkan Anda masuk tingkat tengah. Bila Anda teman baik saya, saya mengizinkan Anda ke tingkat dua. Tetapi kecuali Anda teman saya yang paling akrab, saya tentu tidak akan memperbolehkan Anda ke tingkat tiga, memperlihatkan rahasia barang-barang berharga yang tersembunyi kepada Anda. Saya tidak berani membuka rahasia dan kekayaan saya kepada Anda. Siapa yang boleh masuk ke tingkat tiga? Tentu saja istri saya boleh masuk, tetapi orang luar, tidak boleh masuk.

Sekarang misalnya Anda sudah masuk bahtera, Anda ingin diam di tingkat bawah, tingkat dua, atau tingkat tiga? Saya sungguh percaya, Nuh dan istri, anak dan menantunya berada di tingkat atas. Binatang rendah dan binatang melata berada di tingkat pertama, binatang yang lebih tinggi di tingkat tengah. Saya dapat bersaksi, saya sendiri sudah melalui tingkat bawah, saya ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.

(c) Sebuah Jendela Menghadap Langit untuk Mendapatkan Terang

Selanjutnya kita lihat mengenai hal terang. Pada atap bahtera terdapat sebuah jendela yang menghadap ke langit (Kej. 6:16). Itulah jendela di atap rumah. Dalam bahasa Ibrani istilah “jendela” mempunyai akar kata yang sama dengan “siang”, artinya ketika Anda di bawah jendela, Anda berada pada siang hari. Anda ada di bawah sinar matahari dan penuh dengan terang. Anda sebenar-nya berada di tingkat bawah, tengah, atau atas ditentukan dari derajat terang yang Anda peroleh. Saya pernah melihat banyak orang Kristen yang sangat bergairah. Mereka sungguh-sungguh berapi-api, tetapi mereka tidak banyak di dalam terang. Saya juga menjumpai para saleh lain yang terkasih, bersama dengan mereka membuat orang merasa setiap perkara sangatlah jelas. Banyak kali saya bersama-sama dengan Saudara Watchman Nee. Kapan saja seseorang duduk di hadapannya, segala kegelapannya lenyap tersapu, setiap perkara menjadi jelas. Di hadapannya sungguh adalah siang hari. Anda berada pada tingkat bahtera yang mana? Di tingkat mana Anda berada, terlihat dari seberapa banyak terang yang Anda dapatkan. Makin banyak terang Anda, makinlah tinggi tingkat Anda berada. Sebaliknya, makin sedikit terang Anda, makin rendah tingkat Anda berada.

Di bahtera hanya ada satu jendela. Hari ini orang berdebat tentang berbagai macam ministri, tetapi saya tidak peduli jumlah ministri itu. Jendela hanya satu dan terang pun hanya ada satu. Rasul Paulus memberi tahu kita haruslah menolak ajaran yang berbeda dengan pemberitaan dan pengajarannya (Gal. 1:6-9; Rm. 16:17; 1 Tim. 1:3). Dalam ekonomi Allah dan dalam gereja Allah hanya boleh ada satu jendela. Terang tidak boleh datang dari arah utara, selatan, timur atau barat, tetapi datang dari langit. Dalam pembangunan Allah hanya satu jendela, satu wahyu, dan satu visi. Terang datang dari atas.

(d) Sebuah Pintu pada Lambungnya

Bahtera hanya mempunyai sebuah pintu pada lambungnya (Kej. 6:16). Tidak seorang pun yang pernah ja-tuh dari langit ke dalam bahtera, kita semua masuk melalui pintu. Hanya ada satu pintu, satu jalan masuk ke bahtera. Ada orang bisa berdebat dengan mengatakan bahwa di Yerusalem Baru ada dua belas pintu, di keempat sisinya masing-masing ada tiga pintu. Tetapi tahukah Anda tiga itu adalah satu? Apakah tiga itu? Tiga adalah penyaluran ke-Allahan. Pada atap bahtera hanya ada satu jendela untuk terang masuk dan hanya ada satu pintu untuk orang masuk. Kita semua, termasuk Paulus, masuk melalui satu pintu yang sama, pintu ini ialah Kristus.

(e) Bahan — Kayu Gofir

Bahtera dibuat dari kayu gofir (Kej. 6:14). Apakah kayu gofir itu? Itu adalah semacam pohon eru, banyak mengandung damar. Semacam kayu yang berdamar, tahan air. Kayu yang tidak mengandung damar, tidak tahan air. Kayu gofir dapat bertahan dari serangan air bah. Kidung Agung 1:17 mengatakan kayu aras dan kayu eru. Pohon eru sangat mirip dengan pohon aras. Penerjemah yang baik hampir semuanya menerjemahkan pohon eru dalam bahasa Ibrani sebagai pohon aras. Dalam perlambangan, terutama dalam Kidung Agung, pohon aras melambangkan Kristus yang bangkit. Kristus yang bangkit adalah pohon aras yang tumbuh di puncak Gunung Libanon. Pohon eru melambangkan Kristus yang tersalib dapat melawan air kematian. Dia telah merasakan kematian, namun maut tidak berdaya atas-Nya. Bahtera dibuat dari kayu gofir, dia melalui air bah, berkali-kali terserang air bah namun tidak terjadi kerusakan. Ini melambangkan Kristus yang tersalib adalah kokoh. Kristus adalah kayu gofir yang sejati, kayu eru yang sejati, penuh dengan damar, dapat kokoh menentang air bah, air bah kematian tidak dapat melukai-Nya.

(f) Dalam dan Luarnya Ditutup dengan Pakal

Kristus tidak saja yang tersalib, juga berdarah menutupi kita, menghindarkan kita dari hukuman dosa. Maka, bahtera dari dalam dan dari luar ditutup dengan pakal (Kej. 6:14). Dalam bahasa Ibrani istilah “pakal” mempunyai akar kata yang sama dengan “penebusan dosa” artinya “menutupi”. Tutup tabut perjanjian atau disebut takhta kasih karunia juga berasal dari akar kata ini. Ini menunjukkan bahwa di dalam Kristus kita mempunyai penutupan yang mutlak. Kita semua berada di bawah penutupan penebusan-Nya. Kematian tidak dapat melukai-Nya, karena itu kutukan dan hukuman tidak dapat menimpa kita, karena kita berada di bawah penutupan penebusan Kristus. Pakal menunjukkan penebusan Kristus, yang menutupi pembangunan Allah dari dalam dan dari luar. Penutupan dari dalam adalah untuk diperlihatkan kepada kita, penutupan dari luar adalah untuk diperlihatkan kepada Allah. Ketika air bah datang menyerang bahtera, orang-orang di dalam bahtera mungkin sangat takut. Tetapi asalkan mereka melihat pakal yang menutupi dari dalam, tenteramlah mereka. Pakal di bagian dalam bahtera adalah untuk kedamaian mereka. Pakal di bagian luar bah-tera adalah untuk kepuasan Allah, juga untuk Iblis dan malaikat-malaikat. Inilah suatu gambaran darah. Kapan saja kita melihat darah, damailah kita. Kapan saja Allah melihat darah, Dia puas. Kapan saja Iblis melihat darah, dia tidak dapat menyerang. Kapan saja malaikat melihat darah, mereka bersorak-sorai.

(g) Lambang Kristus

Seluruh bahtera adalah suatu lambang dari Kristus (1 Ptr. 3:20-21). Kristus bukan sebuah sampan melainkan sebuah bahtera. Sampan dibuat dari batang kayu yang dibuat berongga. Bahtera dibuat dari banyak batang kayu yang dihubungkan dengan baik, bahtera adalah suatu pembangunan. Sampan adalah individu, tetapi bahtera adalah kumpulan korporat. Kristus kita ialah sebuah bahtera. Di dalam sampan, kita tidak akan aman. Tetapi ketika kita di dalam bahtera, tidak peduli betapa kencang angin ribut, ombak besar di luar, kita dapat tidur dengan nyaman di dalam bahtera. Kita ada di dalam bahtera. Ada orang Kristen mungkin menjadikan Kristus sebagai sampan, tetapi Kristus kita adalah bahtera.

Jika bahtera adalah suatu lambang dari Kristus, bagaimana Nuh dapat membuatnya? Bagaimanapun, bahtera dibuat oleh Nuh. Banyak orang Kristen hanya mengabarkan Injil, mengharap pada suatu hari Allah menurunkan bahtera dari langit. Kalau Anda mengatakan, “Kita harus bekerja membuat bahtera, yaitu karunia keselamatan.” Orang-orang akan menyalahkan Anda dengan berkata, “Kita beroleh selamat adalah bersandarkan anugerah, bukan bersandarkan perbuatan.” Tetapi bahtera yang dengannya Nuh beroleh selamat adalah dibuat oleh pekerjaannya. Filipi 2:12-16 mengatakan, “Karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar . . . Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya . . . supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan.” Apakah artinya “kerjakan keselamatanmu” di sini? Yaitu berpegang pada firman kehidupan, supaya Kristus terpancarkan, tersorot keluar, diperhidupkan. Hal ini adalah melalui Allah bekerja di dalam kita, baik untuk bertekad maupun untuk melaksanakan. Ketika Allah bekerja di dalam kita, kita harus mengerjakan keselamatan kita. Meskipun kita sudah beroleh selamat, Allah tetap bekerja di dalam kita, supaya kita dapat mengerjakan keselamatan kita. Beribu-ribu orang telah beroleh selamat, tetapi ada berapa orang yang mempunyai kehidupan yang dikatakan dalam Filipi 2:15? Banyak orang tidak mengerjakan keselamatan mereka.

Apakah kita sekarang sedang mengerjakan kesela-matan kita? Nuh membangun bahtera, akhirnya tidak saja menyelamatkannya dari penghakiman Allah, juga menolongnya keluar dari angkatan yang jahat hatinya dan yang sesat itu. Kita harus mengerjakan keselamatan yang demikian ini. Tidak disangsikan lagi, kita sudah diselamatkan dari kebinasaan yang kekal. Tetapi Nuh tidak hanya diselamatkan dari kebinasaan, dia juga tertolong keluar dari zaman yang jahat untuk masuk ke dalam zaman yang baru. Bahtera yang dia bangun mengakhiri angkatan lama dan mendatangkan angkatan baru. Inilah macam keselamatan yang dibangun oleh Nuh. Bukan hanya keselamatan dari kebinasaan yang kekal, tetapi juga keselamatan yang terhindar dari angkatan yang jahat dan sesat. Keselamatan ini tidak hanya yang disediakan Allah, tetapi juga terbangun melalui kerja sama korporat orang-orang yang beroleh selamat.

Orang yang sudah beroleh selamat tentu tidak akan binasa lagi. Tetapi kita perlu suatu keselamatan yang lebih maju, lebih unggul, yang akan menyelamatkan kita keluar dari angkatan yang jahat dan sesat. Apakah Anda sudah beroleh selamat? Bagaimanakah Anda pada zaman yang akan datang? Adakah bagian Anda? Adakah Anda di sana ketika Kristus datang kembali untuk mengambil alih seluruh bumi, meraja, dan berkuasa? Apakah Anda ber-bagian dalam kekuasaan Kerajaan-Nya? Walaupun kita sudah diselamatkan dari kebinasaan kekal, namun banyak di antara kita belum mengerjakan apa pun untuk menolong dirinya terlepas dari zaman yang jahat ini. Bahtera yang dibuat Nuh adalah suatu keselamatan, keselamatan itu tidak hanya menolongnya dari penghakiman Allah, juga memisahkannya dari angkatan yang jahat dan sesat, dan membawanya masuk ke suatu zaman yang baru. Dikatakan dari penghakiman Allah, kita semua sudah beroleh selamat. Tetapi dikatakan dari ekonomi Allah, kita masih kurang. Allah sudah menghakimi dunia ini, namun Anda tetap mengasihinya. Allah sudah memperingatkan Anda, larilah dari angkatan ini, namun Anda masih tetap berakar di dalamnya. Anda kurang keselamatan yang lebih maju dan lebih tinggi itu. Keselamatan yang disebutkan dalam Filipi 2 bukanlah keselamatan yang lepas dari binasa, melainkan keselamatan yang lepas dari angkatan yang jahat dan sesat ini.

Ketika rasul-rasul mengabarkan Injil, saat itu juga mereka sedang membangun bahtera, di dalamnya menikmati keselamatan secara penuh dan sempurna. Apakah bahtera itu? Bahtera adalah Kristus yang korporat. Rasul memberitakan Kristus yang individu, selain itu juga membangun Kristus yang korporat. Melalui Kristus yang korporat ini, beribu-ribu orang selain diselamatkan dari penghakiman Allah, juga tertolong keluar dari angkatan yang jahat dan sesat ini.

Hari ini kalau kita setia kepada Allah, kita harus mengerjakan hal yang sama. Di satu pihak kita mengabarkan Injil, di lain pihak kita membangun bahtera. Apa yang kita beritakan ialah apa yang kita bangun. Yang kita beritakan bukanlah teori atau ajaran, kita memberitakan apa yang sedang kita bangun. Melalui kehidupan dan pekerjaan kita, kita membangun apa yang kita beritakan kepada orang lain. Akhirnya, kita akan masuk ke dalam apa yang kita bangun, orang lain juga boleh memasukinya. Bahtera yang terbangun itu akan menyelamatkan kita lepas dari angkatan yang terhukum ini. Percayakah Anda bahwa kita sedang membangun bahtera? Saya girang sekali, karena kita sedang membangun bahtera. Sanak keluarga dan teman-teman saya sering bertanya, “Apakah yang sedang kau kerjakan?” Saya menjawab, “Perkara yang saya lakukan tidak mudah kalian mengerti, kalau kalian ingin mengerti, cara satu-satunya ialah kalian masuk sendiri.” Kita tidak hanya memberitakan, lebih-lebih kita sedang membangun apa yang kita beritakan. Bukankah kita memberitakan Kristus? Bagaimana memberitakan Kristus, bagaimana pula membangun Kristus. Artinya kita hidup bersandar Kristus, juga hidup bersama Kristus. Kita memperhidupkan Kristus. Kita berpegang pada Kristus dan memperhidupkan Kristus. Inilah pekerjaan pembangunan kita.

Pada saat yang sama, kita sedang membangun gereja. Gereja adalah Kristus yang korporat (1 Kor. 12:12). Gereja boleh dikatakan adalah bahtera hari ini. Beribu-ribu orang telah diselamatkan karena memasuki hidup gereja. Banyak orang dapat bersaksi, bagaimana mereka karena datang ke gereja lalu beroleh selamat. Meskipun mungkin Anda sudah bertahun-tahun beroleh selamat, namun sampai Anda masuk ke dalam hidup gereja, barulah Anda terlepas dari dunia yang jahat dan sesat ini. Bahtera yang korporat itu memisahkan Anda. Asal saja kita memasuki gereja, tidak perlu orang lain memberi tahu kita untuk keluar dari dunia. Asalkan kita mulai menempuh hidup gereja, sering datang bersidang, akhirnya rambut gondrong berserta banyak duniawi akan lenyap. Melalui hidup gereja, semua hal dari angkatan yang jahat ini akan sirna. Apakah yang dapat menolong kita lepas dari angkatan yang sesat ini? Hidup gereja dapat menolong kita. Kita sedang membangun bahtera, bahtera ini dapat menolong kita, juga dapat menolong orang lain lepas dari zaman yang dihukum oleh Allah ini.

(h) Bukan Hanya untuk Manusia, tetapi juga untuk Semua Makhluk Hidup

Bahtera tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga menyelamatkan semua makhluk hidup. Melambang-kan apakah ini? Ibrani 2:9 mengatakan bahwa Kristus tidak hanya mengalami maut bagi semua manusia, menurut bahasa Ibraninya, juga menunjukkan untuk segala sesuatu. Maka Kolose 1:20 mengatakan bahwa oleh Kristuslah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Makhluk hidup yang tercipta juga sama dengan manusia berada di dalam bahtera. Kristus untuk semua-nya, telah menggenapkan kematian yang mencakup semua. Jadi, bahtera tidak hanya untuk keselamatan manusia, juga untuk keselamatan semua makhluk hidup.