KEHIDUPAN DAN PEKERJAAN YANG MENGUBAH ZAMAN
Dalam pembahasan yang merupakan suatu pembicara-an sisipan ini, beban saya ialah agar kita semua nampak satu titik pokok dalam kehidupan Nuh — kehidupan dan pekerjaan Nuh telah mengubah zaman. Walaupun dulu ketika mempelajari Kitab Kejadian saya telah nampak hal ini, namun tidak seperti hari-hari ini yang begitu dalam dan berkesan. Mengubah zaman bukanlah suatu hal yang kecil. Dalam Kejadian 1 dan 6 terdapat suatu pertentangan yang sangat besar. Dalam Kejadian 1 bagian akhir, kita nampak Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya dengan tujuan untuk mengekspresikan diri-Nya sendiri (Kej. 1:26). Maksud Allah ialah supaya manusia menjadi ekspresi-Nya. Manusia diciptakan menurut gam-bar dan rupa Allah, supaya dapat mengekspresikan Allah sendiri, bukan lainnya. Manusia seperti selembar foto, difoto menurut Allah, untuk mengekspresikan Allah. Tidak hanya demikian, Allah juga memberikan kuasa-Nya ke-pada manusia, supaya manusia dapat mewakili Allah ber-kuasa atas bumi ini. Kita harus nampak bahwa hal ini adalah suatu amanat yang sangat besar. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, supaya manusia dapat mengekspresikan Allah. Allah juga mengamanatkan kua-sa-Nya kepada manusia, agar manusia mewakili Allah ber-kuasa di bumi, menguasai segala makhluk dan benda ciptaan. Allah tidak menyuruh manusia bekerja atau mendirikan suatu misi. Tidak, maksud Allah adalah su-paya manusia mengekspresikan Dia menurut gambar dan rupa-Nya, dan memiliki kuasa-Nya untuk mewakili Dia.
Setelah Allah menciptakan manusia, dipandangnya, lalu Allah berkata, “Sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Selama 6 hari Allah bekerja, umumnya Allah hanya menga-takan, “Baik.” Pada hari kedua, Allah tidak mengatakan, “Baik,” karena pada hari itu, di angkasa ada malaikat yang telah jatuh dan di air ada setan. Pada hari itu Allah tidak mungkin mengatakan, “Baik.” Pada hari keenam, se-telah Allah menciptakan manusia, Allah melihat pekerjaan-Nya terutama melihat manusia, lalu Ia berkata, “Sungguh amat baik!” Dalam pandangan Allah, manusia sangatlah baik.
Lima pasal berikutnya, pada Kejadian 6, terhadap manusia Allah mempunyai pandangan yang lain. Ketika pada Kejadian 1 Allah pertama kali melihat manusia, Ia sungguh girang dan berkenan kepada manusia. Tetapi ke-tika Allah pada Kejadian 6 sekali lagi melihat manusia, manusia sudah menjadi bejat dan jahat tak kepalang, sehingga Allah menyesal sudah menciptakan manusia. Alangkah berubahnya hal ini dengan Kejadian 1! Semula manusia berada pada derajat yang begitu tinggi, tetapi mulai pasal 3, manusia terus-menerus jatuh merosot. Seandainya Anda adalah Allah, apa yang akan Anda lakukan? Mungkin Anda akan berkata, “Lupakanlah itu!” Tetapi bagaimana dengan rencana kekal Allah? Bukankah Allah adalah Allah yang kekal? Dapatkah Allah yang kekal itu berubah? Allah bukanlah Allah yang fana, melainkan Allah yang kekal, pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yak. 1:17). Sekali Ia berketetapan tidak akan berubah selama-lamanya. Jikalau Allah melupakan ke-hendak-Nya yang kekal, musuh-Nya akan menertawai Dia dan berkata, “Engkau ingin mengalahkanku dengan men-ciptakan manusia, tetapi nyatanya Engkau tidak dapat me-ngalahkanku, sebaliknya Engkau telah kukalahkan.” Dapatkah Allah dikalahkan? Sekali-kali tidak. Lalu, apa yang harus Allah lakukan? Jawaban ini tercatat pada Kejadian 6:8 “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.” Selama berabad-abad prinsip ini terus tidak berubah.
Marilah kita membaca Kejadian 6:5-8, “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Dalam bahasa Ibrani, “kecenderungan hati” di sini tidak hanya mengacu kepada pemikiran, tetapi juga mengacu kepada tujuan dan hasrat. “Maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah Tuhan: ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Ku ciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun he-wan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menja-dikan mereka.’” Jika semuanya berakhir hanya sampai di sini, maka tidak ada harapan. Namun, haleluya! Kita masih ada ayat 8! Ayat ini dimulai dengan suatu kata “Tetapi” yang besar. “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan.” Inilah salah satu ayat yang besar dalam Kitab Kejadian. Iblis senang ketika mendengar bahwa Allah akan menghapus manusia dari muka bumi, tetapi Nuh menda-pat kasih karunia di mata Tuhan. Inilah yang mengubah keadaan dan mengubah zaman. Haleluya! Allah sekali-kali tidak dapat dikalahkan! Dalam keadaan lahiriah, tam-paknya sudah kalah; tetapi melalui seorang yang mendapat kasih karunia di mata Tuhan, kekalahan itu telah menjadi kemenangan. Inilah suatu titik peralihan. Kalau Anda mem-baca sejarah dalam Alkitab, Anda akan melihat bahwa pada setiap zaman, Iblis selalu dengan sekuat tenaga me-rusak orang-orang pada zaman itu, namun tetap ada satu atau beberapa orang yang mendapat kasih karunia di ma-ta Tuhan, menjadi orang yang mengubah zaman itu. Ingat-lah akan sejarah bani Israel, meskipun mereka jatuh lagi, bahkan sangat jatuh, tetapi muncullah seorang pemuda yang mengejutkan musuh, yaitu Daniel. Daniel 1:8 mengatakan, “Tetapi Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja.” Dalam Kitab Daniel dikatakan, “Tetapi, Daniel”, sedang Kejadian 6:8 mengatakan: “Tetapi, Nuh” Ketika manusia mutlak jatuh, selalu ada “tetapi” muncul.
Kalau kita melihat kehidupan Nuh, kita akan nampak bahwa hal ini bukan hanya merupakan perkara bergaul dengan Allah atau membangun bahtera. Hal yang mendasar dan penting ialah Allah memakai Nuh untuk mengubah zaman itu. Musuh telah membuat keadaan manusia menjadi bobrok hingga mencapai puncaknya, sampai-sampai Allah menyesal telah menciptakan manusia, seolah-olah sudah tidak ada harapan lagi. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia, kehidupan Nuh adalah suatu kehidupan yang mengubah zaman.
Lihatlah keadaan hari ini. Kalau Anda membaca kitab Injil dan kalau Anda melihat kehendak Allah terhadap gereja, Anda akan mengenal betapa gereja mempunyai amanat yang begitu tinggi. Gereja dihasilkan dari hayat Allah, untuk mengekspresikan Allah dalam zaman Perjanjian Baru ini. Gereja telah diamanati dengan amanat yang begitu mulia. Kita tidak perlu melihat masa yang lalu; ke-adaan masa kini sudah cukup memberi tahu kita akan kemerosotan gereja yang begitu parah. Betapa jauhnya gereja menyimpang dari tujuan Allah. Tetapi jangan putus asa. Meskipun Iblis merusak dengan sekuat tenaga, Allah tetap berdaya untuk melaksanakan kehendak-Nya yang semula. Di antara semua kegagalan ini, Allah hari ini mem-bangunkan gereja lokal untuk mengubah zaman.
1. Kehidupan
Sekarang marilah kita melihat kehidupan yang meng-ubah zaman. Kehidupan macam apakah ini? Terhadap hal ini saya mempunyai beban yang berat. Saya takut dan gentar kalau-kalau menggagalkan perkara Allah dalam pewahyuan-Nya. Saya bukannya ingin memberitakan suatu berita khotbah yang baik kepada kalian, melainkan saya ingin menyampaikan beban yang telah Tuhan berikan kepada saya untuk kalian. Kita sungguh perlu melihat kehidupan yang dapat Allah pakai untuk mengubah zaman ini.
a. Mewarisi Jalan Ibadah Nenek Moyang
Kehidupan semacam ini selalu mewarisi jalan ibadah nenek moyang. Syukur pada Allah bahwa Nuh, generasi ke-10 setelah Adam, mempunyai banyak nenek moyang yang baik. Henokh ialah generasi ke-7, Metusalah ke-8, Lamekh ke-9, dan Nuh ke-10. Kesembilan generasi nenek moyang Nuh, mulai dari Adam sampai Lamekh semuanya adalah orang-orang yang beribadah. Walaupun Kitab Kejadian mencatat kejatuhan manusia, tetapi ini hanya suatu latar belakang, yang menyajikan suatu gambaran riil dari jalan yang ibadah.
(1) Jalan Keselamatan Adam
Nuh mewarisi jalan keselamatan Adam (3:20-21). Dari diri Adam kita melihat jalan keselamatan. Sekalipun Adam pernah jatuh, namun dia memperoleh jalan keselamatan Allah. Jika Anda tidak pernah jatuh, Anda selamanya tidak akan dapat merasakan indahnya karunia keselamatan Allah. Marilah kita dengan girang menimba air dari mata air keselamatan (Yes. 12:3). Adam adalah pelopor yang me-nimba air dengan girang dari mata air keselamatan Allah. Dia begitu girang, sehingga menamakan istrinya “hidup” (Kej. 3:20 arti “hawa” ialah “hidup”). Tidakkah Anda ber-pikir, ketika dia menyebut istrinya “hidup”, dia sangat girang? Saya sungguh yakin bahwa dia dengan girang me-nimba air dari mata air keselamatan. Saya juga benar-benar percaya bahwa Nuh mewarisi jalan keselamatan ini.
(2) Jalan Persembahan Habel
Nuh juga mewarisi jalan persembahan Habel (Kej. 4:4). Jalan Adam ialah jalan supaya dirinya beroleh selamat, tetapi jalan Habel adalah melalui persembahan kurban ke-pada Allah untuk mencari perkenan Allah (Ibr. 11:4). Dapatkah Anda bayangkan bahwa orang yang telah jatuh bisa memperoleh perkenan Allah? Habel, orang yang telah jatuh, namun dia memperoleh perkenan Allah. Jalannya memperoleh perkenan Allah adalah dengan mempersem-bahkan persembahan yang melambangkan Kristus kepada Allah. Saya juga dapat dengan jalan yang sama memperoleh perkenan Allah. Meskipun saya adalah orang yang telah jatuh, dan tentunya mempunyai sifat yang jatuh, tetapi saya dapat mempersembahkan Kristus sebagai persembahan kepada Allah untuk memperoleh perkenan Allah. Saya bukannya sombong, tetapi saya dapat mengumumkan kepada kalian, di dalam beberapa hari ini saya sangat memperoleh perkenan Allah. Saya tahu Allah berkenan kepada saya. Bahkan pada pagi dan sore ini saya selalu girang, karena Allah saya sangatlah girang. Allah saya girang, saya pun girang. Apakah jalan untuk memperoleh perkenan Allah? Yaitu jalan Habel, mempersembahkan Kristus kepada Allah. Kristus tidak hanya menjadi kurban penebus dosa kita, juga menjadi hadiah kita untuk memperoleh perkenan Allah. Ketika Anda memberi hadiah kepada seseorang, dia akan girang. Demikian pula, ketika kita mempersembahkan Kristus kepada Allah, Allah pun sangat girang, Allah berkenan kepada Kristus. Nuh tentunya mengambil jalan Habel.
(3) Jalan Penyeruan Enos
Jalan ibadah yang ketiga yang diwarisi oleh Nuh ialah Enos menyeru nama Tuhan, untuk menikmati segala apa adanya Tuhan (4:26). Inilah jalan tambahan di samping dua macam jalan ibadah di atas. Jalan ini bukan sekadar beroleh selamat atau memperoleh perkenan Tuhan, lebih-lebih melalui menyeru nama Tuhan, berbagian dan menikmati segala apa adanya Allah. Melalui menyeru na-ma Tuhan, kita boleh berbagian dalam kelimpahan Tuhan. Nuh pasti sudah melaksanakan hal ini.
(4) Jalan Hidup dan Melahirkan dari Semua Nenek Moyang
Nuh juga mewarisi jalan hidup dan melahirkan (Kej. 5:3-28). Nuh seperti moyangnya, tidak malas menganggur, melainkan mempunyai satu tujuan hidup bagi Allah, dan juga melahirkan anak laki-laki dan perempuan agar manusia berkembang biak, sehingga tujuan Allah dapat tercapai di bumi ini melalui manusia.
(5) Jalan Henokh Hidup Bergaul dengan Allah
Nuh juga mewarisi jalan yang kelima, yaitu jalan hidup bergaul dengan Allah (Kej. 5:22, 24). Alangkah indahnya bahwa orang yang telah jatuh dapat hidup bergaul dengan Allah! Orang yang telah jatuh dapat beroleh selamat, memang suatu hal yang indah ajaib, namun kita perlu melihat lebih lanjut bahwa orang seperti ini bahkan dapat bergaul dengan Allah! Dalam generasi manusia ke-7, Henokh menemukan jalan hidup bergaul dengan Allah.
Kita bisa beroleh selamat, memperoleh perkenan Allah, menyeru nama-Nya, hidup dan melahirkan, lagi pula hidup bergaul dengan Allah. Apakah yang masih kita inginkan? Kita sudah puas sama sekali. Kita sudah beroleh selamat; kita bisa memperoleh perkenan Allah, kita bisa menyeru nama-Nya untuk menikmati segala kelimpahan yang ada pada-Nya; kita bisa hidup bagi satu tujuan dan melahirkan untuk perkembangbiakan Allah, yaitu berbuah; dan kita pun bisa hidup bergaul dengan Allah. Masih kurang apakah kita? Tidak ada yang kurang. Kita sungguh girang dan puas. Tetapi Allah belum mendapat kepuasan. Inilah beban yang Tuhan berikan kepada saya. Hanya melihat Nuh mewarisi segala jalan ibadah nenek moyangnya, tidaklah cukup. Jika saya hanya membantu kalian melihat sebanyak ini, masih dapat melalaikan perkara Allah. Kita harus melihat lebih banyak lagi.
b. Menerima Lebih Banyak Wahyu
Allah memberi Nuh wahyu yang hampir mencakup segala-galanya, yaitu wahyu yang lebih lanjut yang tidak pernah dilihat oleh semua nenek moyangnya. Meskipun Henokh pernah menubuatkan, ketika Metusalah anaknya meninggal, air bah akan datang (inilah artinya Metusalah) dan penghakiman Allah akan menimpa bumi yang penuh kejahatan ini; bahkan ia juga meramalkan kedatangan Tuhan (Yud. 14). Namun Henokh tidak pernah menerima visi Allah akan mengakhiri zaman yang bobrok ini, dan mendatangkan zaman yang baru. Tidak seorang pun nenek moyang Nuh yang melihat visi ini. Pada suatu hari Allah datang kepada Nuh dan mewahyukan visi ini kepada Nuh. Hasilnya, pandangan Nuh terhadap perkara ibadah mempunyai perkembangan yang besar, melihat lebih banyak dan lebih luas daripada semua moyangnya. Ia melihat visi ini, menerima visi yang teguh dari Allah. Kita semua perlu mempunyai wahyu yang demikian.
Pada prinsipnya, keadaan kita tepat seperti keadaan Nuh. Zaman ini adalah bobrok, bumi penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Dilihat menurut kebobrokan ma-nusia, seolah-olah Allah sudah dikalahkan dan dienyahkan dari bumi ini. Tetapi tidakkah Anda melihat dengan jelas, hari ini ada satu kata “tetapi” yang besar? Beberapa orang yang terkasih telah mewarisi jalan ibadah semua orang kudus abad pertama zaman kekristenan sampai kini. Kita mewarisi semua jalan ibadah yang terlaksana dalam tiap-tiap abad yang lalu. Namun, bolehkah kita berhenti sampai di sini? Bolehkah kita mengatakan, “Lihatlah, semua milik kita?” Tidak, sekalipun kita mewarisi jalan ibadah sebanyak ini, puas lagi cukup, tetapi Allah bagaimana? Bagaimana dengan tujuan Allah? Allah harus mengakhiri zaman ini, Allah membutuhkan suatu perubahan zaman. Allah perlu sebuah bahtera yang membawa umat-Nya keluar dari zaman ini, dan mulai dengan zaman baru. Allah perlu sebuah bahtera. Saya sudah melihat hal ini dan saya akan menyerukan (meneriakkan) hal ini.
Sudahkah Anda beroleh selamat? Puji Tuhan! Sudah beroleh selamat. Apakah Anda mempunyai sebuah jalan untuk memperoleh perkenan Allah? Syukur kepada Allah! Dapatkah Anda menyeru nama-Nya dan berbagian dalam kelimpahan-Nya? Sejak tahun 1967, kami sudah melatih hal menyeru nama Tuhan ini. Apakah Anda hidup dan melahirkan? Ya, setiap hari kita hidup bagi Tuhan dan melahirkan untuk mengembangbiakkan Allah. Puaskah Anda? Haleluya, kita sudah puas! Tetapi bagaimanakah Allah dan tujuan-Nya? Apakah Anda sudah melihat bah-wa Allah akan mengakhiri zaman ini dan mendatangkan zaman baru? Supaya dapat melakukan hal ini, Dia perlu sebuah bahtera. Kita tidak dapat membuat bahtera menurut imajinasi kita. Sama seperti Nuh, kita harus menerima wahyu mengenai Allah perlu bahtera.
(1) Mengenai Zaman
Allah tidak hanya memberi wahyu kepada Nuh bah-wa Dia perlu sebuah bahtera, Allah juga mewahyukan kepadanya keadaan zaman itu. Zaman itu dalam pandangan Allah seluruhnya tersingkap jelas. Ini juga tersingkap kepada Nuh melalui wahyu Allah. Tahukah Anda bahwa banyak orang, termasuk orang Kristen, tidak jelas akan zaman di mana kita hidup. Manusia telah diselubungi oleh semua hawa nafsu dan kesenangan dosa, dibius dan dikelabui, bahkan apa yang disebut “gereja-gereja” Kristen juga dibius oleh arus zaman. Kita perlu suatu wahyu. Kita perlu Allah datang kepada kita, mewahyukan keadaan yang sesungguhnya dari zaman yang jahat ini kepada kita. Kita perlu melihat hal ini. Hampir 50 tahun yang lalu saya telah mendapatkan wahyu ini, yaitu Allah telah menampakkan kepada saya zaman yang jahat ini.
(2) Mengenai Maksud Hati Allah
Allah tidak hanya memperlihatkan zaman yang jahat itu kepada Nuh, tetapi juga mewahyukan maksud hati-Nya kepadanya. Allah dahulu, sekarang, tetap adalah Allah yang memiliki tujuan. Dia tidak pernah bisa digagalkan dalam tujuan-Nya. Banyak tahun yang lalu, Allah menyuruh kita melihat tujuan-Nya. Banyak di antara kita pernah membaca kesaksian Saudara Watchman Nee sendiri. Dalam kesaksiannya, dia berkata bahwa pada suatu kali ia bermimpi, maksudnya mendapat wahyu, dia melihat di China terbangun gereja lokal di tiap-tiap tempat. Ia melihat semua gereja yang dibangun oleh Allah. Mimpi yang dikatakannya itu sesungguhnya adalah wahyu. Banyak tahun yang lalu, melalui Saudara Watchman Nee, Allah memberi tahu kita bahwa Dia perlu gereja. Sebelum Tuhan datang kembali, Dia perlu gereja-gereja terbangun. Jika tidak, Dia tidak dapat datang kembali. Apakah bahtera hari ini? Apakah jalan Allah untuk mengakhiri zaman yang jahat ini dan mendatangkan satu zaman yang baru? Ti-dak lain ialah gereja-gereja. Allah mewahyukan bahtera kepada Nuh. Saya harus bersaksi, yang diwahyukan Allah kepada kita adalah hidup gereja yang normal. Hidup gereja yang normal adalah bahtera yang diperlukan Allah hari ini. Hidup gereja diperlukan untuk mengakhiri zaman ini dan mendatangkan zaman baru.
Sejak hari kita memperoleh wahyu ini dan mengumumkannya, kita menerima penentangan, penolakan, dan disalahkan. Seratus dua puluh tahun berlalu ketika Nuh memberi tahu orang-orang apa yang diwahyukan Allah kepadanya, dan ia sedang membuat bahtera. Dalam ku-run waktu itu, Nuh tentu mengalami banyak cemoohan. Mungkin orang berkata kepadanya, “Nuh, sedang apa kamu? Apakah kami semua salah dan hanya kau seorang yang benar? Apakah segala yang kami perbuat akan dihukum dan hanya kapal jelek yang kaubuat itu bisa tetap utuh?” Nuh mungkin menjawab, “Waktu bisa membuktikan, lihatlah nanti. Air bah kalau tidak datang dalam waktu 10 tahun, mungkin akan datang dalam waktu 50 tahun. Bila tidak datang dalam waktu 50 tahun, mungkin akan datang dalam waktu 80 tahun, 100 tahun atau da-lam waktu 119 tahun. Tunggulah suatu saat, air bah pasti datang. Ketika itu kamu baru tahu bahwa kamu memerlukan bahtera, tetapi sudah terlambat.”
Saya sungguh merasakan, hari ini kita berada dalam keadaan yang sama. Karena kesaksian kita yang teguh tentang gereja menurut wahyu Allah, banyak kritik dan tentangan yang ditujukan kepada kita. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa kita menyebarkan ajaran sesat. Bagaimana mungkin kita menyebarkan ajaran sesat? Secara jujur, kita lebih murni percaya firman Tuhan dari-pada orang lain pada zaman ini. Kita bukan menyombongkan diri, kita hanya mengatakan fakta. Sedikitnya kita sama dengan orang Kristen lainnya yang percaya firman Allah, tetapi tidak dengan cara beragi. Apakah pengkritik-pengkritik kita yang terkasih itu benar-benar yakin bahwa dalam hati nurani mereka mengatakan kita ini sesat? Setiap orang Kristen memiliki hati nurani dan mereka seharusnya di hadapan Tuhan mendengar suara hati nurani mereka. Dengarlah hati nurani Anda, dengarlah apa yang Allah katakan kepada Anda di dalam hati nurani Anda.
Saya pernah bertanya kepada saudara saudari Amerika Serikat di sini, mengapa orang kecil seperti saya ini yang datang dari China ke negara terkemuka di dunia ini bisa begitu diperhatikan? Mengapa mereka menghargai saya? Seharusnya mereka sama sekali melupakan orang kecil ini. Sekarang dari Pantai Barat Amerika sampai ke Timur ada kabar angin yang mengatakan bahwa Witness Lee itu bidat. Bahkan pada tahun 1964, ketika saya pergi ke Texas, ada beberapa orang Kristen yang membuntuti saya bagaikan detektif, dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mencatat pemberitaan saya dan membelokkannya, lalu dicetak. Demikianlah selama 10 tahun saya, orang kecil ini, mendapat perhatian yang berlebihan. Mengapa ada begitu banyak orang memperhatikan orang sekecil ini? Karena orang kecil ini telah membawakan sesuatu ke-pada negara ini yang membuat musuh kacau, mengancam kerajaan kegelapan. Kesaksian ini menjamah kalangan kuasa kegelapan.
Saya adalah orang yang tidak berarti. Tetapi dari da-lam saya, dari hati nurani saya yang bersih, saya sangat yakin, ministri saya ialah memberitahukan wahyu Allah hari ini kepada umat-Nya. Amerika Serikat adalah negara Kristen, tidak perlu orang dari Timur memberi tahu mereka perihal agama Kristen. Tetapi di negara ini umat saleh yang terkasih perlu melihat wahyu Allah hari ini. Apakah yang ingin Tuhan kerjakan hari ini? Dia tidak hanya mau menyelamatkan manusia, agar manusia mem-peroleh perkenan Allah, mengajar orang menyeru nama Tuhan, supaya orang dapat hidup, melahirkan, dan ber-gaul dengan Allah. Hari ini apa yang dilakukan-Nya melebihi semua itu. Dia perlu membangun gereja-gereja. Kehendak hati-Nya ialah membangunkan orang-orang yang mengasihi dan menuntut-Nya, supaya mereka ber-kumpul menjadi satu untuk melaksanakan hidup gereja yang normal. Inilah suatu kesaksian untuk menanggu-langi kerajaan gelap musuh, juga suatu persiapan untuk kedatangan-Nya. Inilah kehendak hati-Nya hari ini. Kita semua harus melihat hal ini, juga menjadi Nuh hari ini untuk membangun bahtera, supaya dapat mengakhiri zaman ini dan mendatangkan kerajaan di zaman baru.
(3) Mengenai Hasrat Allah
Allah tidak saja mempunyai satu kehendak, tetapi juga mempunyai suatu hasrat. Allah sungguh ingin menger-jakan sesuatu, bahkan sangat mendambakan untuk mendapatkannya. Allah berhasrat adanya hidup gereja. Pada tahun 1933, ada seorang pendeta yang baik mencari saya. Dia tidak memanggil saya, “Saudara Lee”, tetapi “Tuan Lee”. Ia berkata, “Tuan Lee, kalau Anda tidak menyebut-kan gereja dan hanya memberitakan firman Allah, kami semua akan mengundang Anda berkhotbah di gereja kami. Kami akan mengatur untuk Anda dalam setahun penuh secara bergilir berkhotbah dari satu gereja ke gereja lainnya. Bila Anda menutup tempat sidang Anda, membubarkan orang bersidang di tempat Anda, dan terus berkhotbah, kami semua akan membuka pintu lebar-lebar menyambut Anda.” Saya berkata, “Terima kasih, saya mempunyai beban saya, dan cukup banyak hal yang akan saya kerjakan.”
Ketika saya di Taiwan, seorang utusan Injil Barat (misionaris) datang menemui saya. Mula-mula ia sangat memuji saya dan berkata, “Saudara Lee, kita sungguh berterima kasih kepada Allah karena Ia telah memakai Anda, dan betapa kita berterima kasih kepada Allah karena Ia telah membangun suatu pekerjaan yang indah di Taiwan.” Pada waktu ia memuji saya demikian, saya tahu selanjutnya ia akan mengatakan apa. Lalu ia mengatakan sesuatu tentang penolakan terhadap gereja. Di Timur Jauh beberapa utusan Injil Barat menganggap pelaksanaan gereja kita seperti “lalat mati di dalam minyak wangi”. Ada orang berkata kepada saya, “Kalau Anda tidak lagi membicarakan gereja, semua orang Kristen akan menyambut Anda.” Saya katakan, “Maaf, ini tidak tergantung kepada saya, melainkan Tuhanlah yang telah memberi saya beban ini.” Saya sering berkata kepada mereka, “Saya berterima kasih kepada kalian, saudara-saudara dari negara yang begitu jauh datang mengabarkan Injil. Terutama pada satu abad yang lalu, pelopor-pelopor itu dengan naik kapal selama 6 bulan, datang ke China. Kami sangat berterima kasih kepada kalian karena meninggalkan negeri sendiri, keluarga, rumah, segala-galanya, datang ke sini mengabarkan Injil. Tetapi beban kami tidak hanya Injil, juga gereja. Allah perlu gereja. Menga-barkan Injil seharusnya untuk gereja. Kalian tahu, kami juga mengabarkan Injil, tetapi pengabaran Injil kami adalah untuk membangun gereja. Maafkan saya berkata, da-lam pandangan kami, kalian tidak memperhatikan sasaran yang Allah wahyukan kepada kami itu.”
Pada tahun 1958, saya diundang untuk mengunjungi London dan Denmark. Saya tidak dapat melukiskan kepada kalian betapa hangatnya sambutan kedua tempat ini kepada saya. Terakhir, sebagian besar pemimpin-pemimpin di kedua tempat ini tidak senang kepada saya disebabkan persoalan gereja. Saya untuk gereja. Ada beberapa persahabatan yang mantap di dalam Tuhan menjadi putus oleh karena hal ini. Karena saya berdiri tegap demi kehidupan gereja yang menurut wahyu Allah, ada beberapa orang saleh yang saya kenal baik mening-galkan saya. Saya sedikit pun tidak ragu bahwa waktu akan membuktikan, hidup gereja adalah yang Allah butuhkan hari ini. Ada saudara yang dapat bersaksi, pada tahun 1962 saya datang di Los Angeles bersama-sama dengan beberapa saudara untuk pemulihan Tuhan. Pada waktu itu saya memberi tahu sekelompok kecil para saudara itu bahwa 5 tahun atau 10 tahun lagi, mereka akan melihat sesuatu. Hari ini saya mengatakan per-kataan yang sama. Saya harap Tuhan segera datang. Kalau Tuhan lebih lama datangnya, tunggulah 10 tahun lagi, lihatlah ada perkara apa yang terjadi. Untuk pemulihan-Nya, Tuhan akan mendapatkan negara ini dan negara-negara lain yang terkemuka.
Kita semua perlu melihat visi ini. Kita semua harus memiliki wahyu hari ini untuk mengetahui apakah hasrat dalam hati Allah. Maukah Anda menjadi Nuh hari ini? Jika mau, Anda harus melihat apa yang dikerjakan Nuh. Yang dikehendaki Allah tidak hanya beribu-ribu orang beroleh selamat, lebih-lebih terwujudnya kehidupan gereja yang sangat indah.
Kita sangat bersyukur kepada Allah akan para saleh yang pernah Tuhan pakai pada waktu-waktu yang lampau.
Dari kehidupan dan pekerjaan mereka kita mendapat bantuan yang sangat besar. Tetapi kita percaya pada zaman ini, Tuhan akan memperlihatkan lebih banyak hal kepada kita. Benar, kita telah mengikuti jalan ibadah semua nenek moyang di dalam Tuhan, tetapi wahyu Tuhan membawa kita lebih maju selangkah pada jalan yang ditempuh-Nya. Wahyu ini tentu menjadikan kita tidak sama dengan para saudara yang masih tetap dalam tradisi. Mohon Tuhan membelaskasihani kita, supaya kita dapat setia kepada wahyu-Nya tanpa memperhatikan perbedaan dengan orang lain.
c. Percaya dan Melaksanakan Wahyu yang Dilihat
Sesudah Nuh menerima wahyu, dia percaya akan wahyu ini, dan melaksanakan wahyu ini (Kej. 6:22). Ia melak-sanakan tanpa mempedulikan adanya perbedaan dengan nenek moyangnya ataupun dengan orang-orang zaman itu. Mungkin orang berkata kepadanya, “Nuh, apa yang sedang kaulakukan? Adam tidak pernah mengatakan begitu, Habel dan Enos pun tidak. Semua moyang hidup, melahirkan lalu mati, tetapi tidak seorang pun dari mereka mengatakan seperti yang kaukatakan. Siapakah kau? Apakah kau lebih besar daripada Adam atau Henokh? Kita mengagumi Henokh, karena ia bergaul dengan Allah. Apa yang sedang kaukatakan? Bagaimana kau dapat mengatakan air bah akan datang? Apakah maksudmu membuat sebuah bahtera?”
Prinsip hari ini juga sama. Kita menuruti Alkitab, mengikuti wahyu Allah, untuk melaksanakan hidup gereja, tetapi banyak orang Kristen yang kekurangan wahyu ini. Wahyu Allah sering kali menyuruh Anda berbeda dengan yang lain. Daniel beserta tiga temannya berbeda dengan lainnya karena mereka menolak makan makanan raja; Paulus berbeda; demikian pula Martin Luther. Setiap orang yang sudah melihat wahyu Allah berbeda dengan orang lain. Wahyu itulah yang membuat berbeda dengan yang lain. Kita harus berbeda dengan famili kita, teman sekolah, tetangga, bahkan orang Kristen yang lain. Hanyalah orang-orang yang kekurangan wahyu Allah baru bisa sama. Kapan kala kita melihat sesuatu, itu akan membuat kita berbeda dengan orang lain. Dalam hal ini, ber-beda dengan orang lain itu baik.
2. Pekerjaan
a. Memberitakan Kebenaran
Sekarang kita harus melihat pekerjaan Nuh. Mula-mula pekerjaan Nuh adalah memberitakan kebenaran (2 Ptr. 2:5). Kalau Anda membaca seluruh Alkitab, Anda akan nampak bahwa pada zaman Nuh, memberitakan ke-benaran adalah menentang zaman yang jahat waktu itu. Zaman Nuh adalah jahat, penuh dengan kekerasan. Namun Nuh justru memberitakan kebenaran, menentang semua yang tidak benar, kejahatan, dan kekerasan. Dia bersaksi akan jalan kebenaran Allah.
b. Membangun Bahtera
(1) Demi Iman, Menurut Wahyu Allah
Nuh memberitakan kebenaran sambil membangun bahtera. Pada prinsipnya kita juga melakukan hal yang sama. Kita juga memberitakan kebenaran, menentang zaman jahat ini. Ketika kita mengabarkan Injil, kita juga membangun sebuah bahtera yang korporat. Nuh membangun bahtera menurut wahyu Allah demi iman (Ibr. 11:7). Dia tidak membangun menurut tradisi atau pendapat dan penemuannya sendiri, melainkan mutlak mem-bangun menurut wahyu Allah. Karena itu, di dalam setiap hal kita harus di dalam firman Allah kembali ke wahyu-Nya. Kita harus kembali ke firman Allah yang murni.
(2) Berlawanan dengan Arus Zaman
Membangun bahtera mutlak berlawanan dengan arus zaman Nuh waktu itu. Nuh menentang kecondongan zaman itu, “karena iman itu ia menghukum dunia” (Ibr. 11:7). Selain Nuh sekeluarga, tidak seorang pun yang mengindahkan pekerjaan ini. Pekerjaan Nuh dan sekeluarganya pada waktu itu sangatlah unik, aneh, istimewa, tidak riil dalam pandangan orang. Nuh menurut wahyu Allah, karena itu berlawanan dengan arus dan kecondongan zaman itu. Pikirkanlah, secara prinsip, bukankah hari ini juga sama? Apa yang kita beritakan dan kerjakan, semua berlawanan dengan arus zaman ini. Tetapi puji Tuhan! Kita berada di dalam arus-Nya. Kita bukan di dalam arus zaman ini, kita menurut wahyu-Nya, berada dalam arus yang keluar dari takhta. Puji Dia!