PENYALURAN ILAHI DARI KRISTUS YANG ALMUHIT DALAM MERAWAT, MENDIRIS, DAN MENGUBAH KAUM BERIMAN
Garis Besar dan Pembacaan Alkitab
I. Kristus yang almuhit adalah penyaluran ilahi sebagai Anak Domba Paskah dan roti yang tidak beragi, merawat orang beriman, menyuplaikan hayat — 1 Kor. 5:7-8:
A. Tidak hanya menyuplai kaum beriman dengan tenaga hayat supaya dapat menempuh penempuhan yang telah ditetapkan Allah untuk mengikuti Dia.
B. Tetapi juga menyuplai kaum beriman dengan gizi hayat, menambahkan unsur pertumbuhan Allah di dalam mereka.
II. Kristus yang almuhit adalah penyaluran ilahi sebagai batu karang rohani yang mengalirkan air hidup, dan sebagai roti rohani dari surga, merawat mereka dan menyuplai mereka dengan hayat — 1 Kor. 10:3-4; Yoh. 6:57b-58a:
A. Bukan hanya menyuplai kaum beriman dengan tenaga hayat agar dapat menempuh jalan Allah.
B. Tetapi juga menyuplai kaum beriman dengan unsur ilahi untuk pertumbuhan Allah.
III. Kristus yang almuhit adalah penyaluran ilahi sebagai pengurapan Roh majemuk, dan sebagai meterai yang memeteraikan, menjenuhi dan mengubah kaum beriman — 2 Kor. 1:21-22:
A. Bukan hanya mengurapi dan memeteraikan unsur ilahi Allah ke dalam seluruh diri kaum beriman secara lahir batin.
B. Tetapi juga mengubah sifat kaum beriman secara metabolis dengan unsur ilahi Allah agar seluruh diri mereka dapat mengalami pengubahan ilahi.
IV. Kristus yang almuhit adalah penyaluran ilahi di dalam kaum beriman sebagai tulisan tinta, yang adalah Roh pemberi-hayat, dan di luar kaum beriman sebagai “salinan” atau “kopi” Roh yang mengubah mereka (seperti cermin), menyusun kaum beriman menjadi minister Perjanjian Baru, memantulkan gambar mulia-Nya untuk menunaikan ministri Perjanjian Baru — 2 Kor. 3:3, 18:
A. Bukan hanya membuat kaum beriman menjadi susunan hayat Allah di batin.
B. Tetapi juga membuat mereka menjadi ekspresi mulia Kristus di lahir.
Dalam berita yang lalu kita telah nampak bahwa Kristus adalah bagian kekal yang diberikan Allah kepada kita. Bagian kekal ini bukanlah satu benda, melainkan satu persona yang hidup. Ia adalah perwujudan Allah Tritunggal. Allah dalam Anak (Putra) diwujudkan dalam seorang manusia yang memiliki darah dan daging. Secara lahiriah, Ia adalah seorang manusia; tetapi secara batiniah, Ia adalah Allah. Ia adalah manusia-Allah yang ajaib yang lahir di palungan, dibesarkan di Nazaret, disalibkan di atas salib, mati dan bangkit, dan dalam kebangkitan menjadi Roh pemberihayat (1 Kor. 15:45b). Inilah persona yang Allah berikan kepada kita menjadi bagian kita bersama (1 Kor. 1:2). Ia adalah persona yang ke dalamnya kita dipanggil (1 Kor. 1:9). Selama beberapa sidang ini, kaum saleh dari berbagai tempat berkumpul bersama. Sebelumnya, kita mungkin tidak mengenal satu sama lain, tetapi kita dapat berdoa, memuji, dan berbicara dengan cara yang sama karena faktor persekutuan kita adalah Kristus itu sendiri.
Satu Korintus 1 dimulai dengan menunjukkan kepada kita secara eksplisit dan jelas bahwa Allah telah memberikan Kristus kepada kita sebagai bagian kekal, untuk menjadi kekuatan, hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita. Allah memberikan Putra-Nya kepada kita sebagai bagian kekal kita, sehingga kita dapat disuplai dan ditunjang dan dapat memperhidupkan kehidupan yang tidak dapat diperhidupkan oleh orang, mampu menanggung penderitaan yang tidak mampu ditanggung oleh orang, menempuh jalan yang tidak dapat ditempuh oleh orang, dan melakukan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang. Dengan demikian, kita menjadi manusia yang unggul di antara manusia, manusia yang hebat di antara manusia. Hari ini, dalam mengikuti Tuhan, dalam melayani Dia, dalam mengurus gereja, dan dalam bersaksi untuk Tuhan, jalan yang terbaik adalah disalibkan bersama Tuhan dan hidup bersama-Nya dalam kebangkitan. Dalam gereja atau dalam pekerjaan-Nya, kapan saja kita menemui kesulitan, kritik, atau bahkan tentangan, dan tampaknya kita menemui jalan buntu, jalan keluar kita adalah Kristus dan salib-Nya. Seluruh kehidupan kristiani kita, kepengurusan gereja kita, dan kepemimpinan Tuhan dalam pelayanan kita, semuanya tergantung pada kita mati dan hidup bersama Kristus. Inilah kekuatan, inilah hikmat.
Selanjutnya, Kristus juga telah menjadi kebenaran kita dari Allah. Ia adalah kebenaran yang hidup di dalam kita, membuat kita dapat menempuh hidup yang benar dan tepat. Yang kita perhidupkan seharusnya bukanlah kebenaran, pekerjaan, atau tingkah laku moral kita sendiri, melainkan Kristus yang benar. Selain itu, Kristus menjadi pengudusan kita dari Allah. Ia adalah kekuatan dan faktor pengudusan kita, menguduskan kita bukan hanya dalam aspek kedudukan, tetapi juga dalam aspek watak (sifat), sehingga seluruh diri kita, roh, jiwa, dan tubuh kita dikuduskan seluruhnya. Pada akhirnya, Kristus menjadi penebusan kita dari Allah. Segala sesuatu di dalam kita yang berasal dari manusia alamiah kita, daging, diri, dunia, dosa, ciptaan lama, dan segala sesuatu yang bersifat setani, harus disalibkan di atas salib dan dihakimi oleh Allah sebelum kita ditebus dan dimuliakan. Dari sudut yang dangkal, Kitab 1 Korintus membicarakan semua kekacauan, perpecahan, dan keadaan yang tidak tepat dalam gereja di Korintus. Sebenarnya, kitab ini menunjukkan kepada kita Kristus yang almuhit, persona yang telah mati dan bangkit, dan salib-Nya. Sebab itu, untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam gereja, kita harus memberi Kristus tempat yang tepat di dalam diri kita dan di antara kita, sehingga Ia dapat menjadi segala sesuatu kita, dan kita dapat menerima penyaluran-Nya. Dengan demikian, apa saja masalah yang kita hadapi, entah itu hubungan antar kaum saleh, antara suami istri, atau antar kaum beriman, akan terselesaikan bila kita mengalami kematian Kristus dan hidup dalam kebangkitan-Nya.
Ini adalah gambaran yang diperlihatkan dalam 1 Korintus 1. Gambaran ini melukiskan sekelompok orang yang memuaskan hasrat hati Allah dan dihasilkan menurut ekonomi-Nya melalui penyaluran-Nya dan penebusan Kristus dalam kematian dan kebangkitan. Kita semua harus menjadi orang semacam ini, yang memiliki Kristus sebagai kekuatan, hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita dalam batin, dan disuplai oleh Dia terus-menerus. Bila kita semua mencapai keadaan ini, perhimpunan kita akan menjadi gereja, Tubuh Kristus, sebagai tempat kediaman Allah, untuk mengekspresikan kemuliaan Allah.
KRISTUS YANG ALMUHIT ADALAH PENYALURAN ILAHI SEBAGAI
ANAK DOMBA PASKAH DAN ROTI YANG TIDAK BERAGI
Dari 1 Korintus 2 sampai pasal terakhir dari 2 Korintus, ada 28 pasal. Pasal-pasal itu menunjukkan kepada kita bagaimana Kristus digarapkan ke dalam kaum beriman melalui penyaluran ilahi. Dari pasal-pasal itu saya telah meringkas delapan butir perkara menjadi empat pasang. Pasangan pertama diuraikan dalam 1 Korintus 5:7-8. Kristus adalah Anak Domba Paskah dan roti yang tidak beragi. Kedua benda ini adalah makanan dan suplai hayat. Injil yang sejati bukan hanya perkara penebusan oleh darah Anak Domba, tetapi juga perkara suplai hayat dari roti yang tidak beragi. Pada malam orang Israel meninggalkan Mesir, setiap rumah harus menyembelih seekor anak domba dan mengoleskan darahnya pada ambang pintu dan tiang pintu rumah untuk menghindari penghakiman Allah. Selain itu, mereka harus makan daging anak domba dengan roti yang tidak beragi dan sayur pahit. Sementara mereka makan, mereka harus mengikat pinggang, memakai kasut pada kaki mereka, dan tongkat pada tangan mereka; dan mereka harus makan dengan cepat (Kel. 12:1-11). Ini adalah untuk suplai hayat mereka dan untuk peperangan dan pergerakan mereka. Kristus adalah Anak Domba Paskah dan roti yang tidak beragi, keduanya adalah untuk penyaluran ilahi. Sebab itu, Kristus yang almuhit sebagai Anak Domba Paskah dan sebagai roti yang tidak beragi tidak hanya menyuplai kaum beriman dengan tenaga hayat untuk menempuh jalan yang ditetapkan Allah dan mengikuti Dia, tetapi menyuplai kaum beriman dengan gizi hayat untuk menambahkan unsur pertumbuhan Allah di dalam mereka.
Ini memperlihatkan kepada kita bahwa keselamatan Allah adalah menyalurkan diri-Nya kepada kita sebagai Penyelamat dan Penebus kita. Jalan untuk mengalami penyaluran ini adalah mengambil Kristus sebagai makanan. Setiap kali kita datang ke meja Tuhan untuk mengingat Dia, kita tidak datang ke penyembahan yang agamis, melainkan makan dan minum Dia. Dengan demikian, Ia akan mendapatkan peringatan yang sejati dari kita (Mat. 26:26-28; Luk. 22:19).
KRISTUS YANG ALMUHIT ADALAH PENYALURAN ILAHI
SEBAGAI BATU KARANG ROHANI YANG MENGALIRKAN AIR HIDUP
DAN SEBAGAI ROTI ROHANI DARI SURGA
Pasangan kedua diuraikan dalam 1 Korintus 10:3-4, Kristus adalah batu karang rohani, yang darinya mengalir air hidup, dan juga makanan rohani yang turun dari surga. Kristus adalah batu karang rohani yang mengikuti kita. Dari Dia mengalir air hidup, yang meleraikan dahaga kita dan memuaskan kita. Selain itu, Dia adalah makanan rohani sehari-hari yang turun dari surga, menjadi suplai hayat kita untuk perjalanan kita. Bila kita makan, minum, dan menikmati Dia setiap hari, dengan spontan kita akan hidup oleh Dia (Yoh. 6:57-58). Dalam Yohanes 6:63 Tuhan Yesus berkata, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Tuhan tidak memberikan daging tubuh jasmani-Nya untuk kita makan. Daging, tubuh daging manusia, tidak berguna. Yang Dia berikan kepada manusia adalah Roh pemberi-hayat, yang tidak lain adalah diri-Nya sendiri dalam kebangkitan.
Seluruh Alkitab penuh dengan pikiran semacam ini, yaitu Allah ingin kita makan dan menerima Dia. Kini, dalam kebangkitan, Ia adalah Roh pemberi-hayat. Roh ini terwujud dalam firman-Nya. Ketika kita menerima firman-Nya dengan melatih roh kita, kita makan dan minum Tuhan.
Dengan demikian kita menerima Roh yang adalah hayat. Melalui hal ini, Kristus menyuplai kita bukan hanya dengan tenaga hayat agar kita dapat berjalan dalam penempuhan Allah, tetapi juga menyuplai kita dengan unsur ilahi agar Allah bertumbuh di dalam kita.
KRISTUS YANG ALMUHIT ADALAH PENYALURAN ILAHI
SEBAGAI PENGURAPAN ROH MAJEMUK
DAN SEBAGAI METERAI YANG MEMETERAIKAN
Pasangan ketiga diuraikan dalam 2 Korintus 1:21-22, Kristus sebagai Roh yang majemuk merupakan pengurapan dan pemeteraian. Minyak urapan kudus dalam Keluaran 30 adalah lambang Roh majemuk Kristus. Minyak urapan itu terbentuk dari satu macam minyak dicampur dengan empat macam rempah-rempah, melambangkan fakta bahwa Roh Kristus adalah Roh yang majemuk. Roh ini mencakup keilahian, keinsanian, kematian, khasiat kematian, kebangkitan, keharuman kebangkitan, dan unsur-unsur lain. Ketika Allah melekatkan kita dengan Kristus, persona yang diurapi, kita diurapi oleh Allah dengan Dia, yaitu kita diurapi dengan Roh majemuk Kristus. Pengurapan ini adalah penyaluran, penambahan unsur ilahi Allah ke dalam kita. Selain itu, pengurapan Roh majemuk Kristus ini di dalam kita merupakan suatu pemeteraian, membuat unsur ilahi menjadi satu meterai di dalam kita, dan dengan demikian mengekspresikan gambar Allah.
Pengurapan dan pemeteraian adalah penyaluran ilahi. Penyaluran ini bukan hanya mendiris dan menjenuhi kita, mengurapi dan memeteraikan kita di dalam dan di luar dengan unsur ilahi Allah, tetapi juga mengubah kita dalam sifat kita secara metabolis dengan unsur ilahi Allah, sehingga seluruh diri kita mengalami suatu pengubahan ilahi.
KRISTUS YANG ALMUHIT ADALAH
PENYALURAN ILAHI DI DALAM KAUM BERIMAN
SEBAGAI TULISAN TINTA, YANG ADALAH ROH PEMBERI-HAYAT,
DAN DI LUAR KAUM BERIMAN SEBAGAI “SALINAN”
ATAU “KOPI” ROH YANG MENGUBAH MEREKA
Terakhir, pasangan keempat terdapat dalam 2 Korintus 3:3 dan 18. Di sini kita memiliki tulisan batiniah olehKristus ke dalam kaum beriman dengan Roh pemberi-hayat sebagai tinta dan “salinan” atau “kopi” lahiriah oleh Kristus kepada kaum beriman sebagai cermin dengan Roh-Nya yang mengubah. Sebagai orang-orang yang menikmati Kristus, kita adalah surat-surat Kristus, di mana Roh Allah yang hidup, yaitu Allah yang hidup itu sendiri sebagai unsur tinta yang menulis, menyuplai kita dengan Kristus sebagai isi, agar Ia terekspresi di dalam kita dan Ia dikenal dan dibaca oleh semua orang. Inilah aspek batiniah. Tetapi ada juga aspek lahiriah, yaitu kita, kaum beriman, seperti cermin. Dengan muka yang tidak berselubung kita memandang Kristus. Kristus terpantul dari wajah kita dan kita perlahan-lahan diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus.
Melalui kedua aspek penyaluran ilahi ini, Kristus akan menyusun kita menjadi minister-minister Perjanjian Baru, dan kita akan memantulkan gambar-Nya yang mulia, dengan demikian menggenapkan ministri Perjanjian Baru.
Hasilnya, kita tidak hanya akan menjadi susunan hayat Kristus dalam batin, tetapi juga menjadi ekspresi mulia Kristus di lahir.
Inilah ekonomi kekal Allah yang rampung melalui berbagai aspek penyaluran dari Kristus yang almuhit. Sebagai kesimpulan, setelah Allah Tritunggal melalui berbagai proses, kematian dan kebangkitan, menjadi Roh itu, dan masuk ke dalam kita, Ia mulai melakukan penyaluran-Nya. Ia menyalurkan Kristus yang almuhit kepada kita sebagai kekuatan, hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Selain itu, Ia juga menyalurkan Kristus kepada kita sebagai Anak Domba Paskah dan roti yang tidak beragi, sebagai batu karang rohani yang mengalirkan air hidup, sebagai makanan rohani dari surga, sebagai pengurapan dan pemeteraian, sebagai penulisan tinta batiniah, dan sebagai salinan dalam pantulan lahiriah. Dengan demikian, kita menerima Kristus yang sedemikian menjadi suplai, penunjang, perawatan, pendirisan, dan pengubahan kita.