TUJUAN PENYALURAN TRINITAS ILAHI DALAM KAUM BERIMAN
Garis Besar dan Pembacaan Alkitab
I. Membangun para anggota menjadi Tubuh Kristus.
A. Berkoordinasi bersama dan berfungsi menurut kadar tiap bagian — Rm. 12:3-8.
B. Menempuh kehidupan dengan standar kebajikan yang tertinggi — Rm. 12:9-21.
II. Agar Tubuh Kristus yang unik dapat diekspresikan
di gereja-gereja lokal di setiap tempat:
A. Semua gereja perlu:
1. Menerima semua orang beriman sejati tanpa syarat, sesuai dengan penerimaan Allah dan Kristus — Rm. 14:1-3; 15:7.
2. Memperlakukan semua orang beriman menurut Kristus — Rm. 15:5.
3. Hidup menurut kasih — Rm. 14:15.
4. Hidup di bawah terang takhta pengadilan Allah — Rm. 14:10b.
5. Memperhidupkan kehidupan Kerajaan Allah — Rm. 14:17.
6. Semua gereja dan semua orang kudus di seluruh bumi hidup di dalam satu persekutuan universal — Rm. 16:1-27.
7. Menghindari orang-orang yang menyebabkan perpecahan — Rm. 16:17.
B. Hasilnya:
1. Meremukkan Iblis di bawah kaki kita — Rm. 16:20a.
2. Menikmati anugerah Kristus dan damai sejahtera Allah — Rm. 16:20.
3. Kemuliaan bagi Allah yang unik dan berhikmat — Rm. 16:25-27.
STRUKTUR KITAB ROMA
Untuk memahami Kitab Roma, kita harus tahu lebih dulu struktur kitab ini. Kita tahu bahwa bagian terpenting dari wajah manusia adalah matanya. Banyak pakar Alkitab mengakui Kitab Roma sebagai mata dari Perjanjian Baru. Sebagai mata Perjanjian Baru, kitab ini ditulis oleh Paulus di Korintus. Kitab ini membicarakan ekonomi Allah yang misterius, penyaluran-Nya, dan hasilnya.
Tidak lama setelah Paulus menulis Kitab 1 dan 2 Korintus di Efesus, ia pergi ke gereja di Korintus yang penuh dengan masalah. Saya yakin, ketika ia berada di sana menghadapi semua situasi yang sesungguhnya, ia mengadakan pengamatan dan menemukan gagasan baru. Hal itu menjadi struktur yang kemudian ditulisnya menjadi Kitab Roma. Maksudnya adalah menunjukkan ekonomi Allah yang rahasia kepada umat Allah; bagaimana penyaluran-Nya menghasilkan penebusan, bagaimana dari penebusan ini, melalui penyaluran-Nya yang terus-menerus, manusia tripartit yang terpilih akan dijenuhi sepenuhnya dengan unsur ilahi-Nya. Orang-orang itu bukan hanya akan memiliki hayat Allah melalui kelahiran kembali, tetapi juga dikuduskan, diperbarui, diubah, dan bahkan diserupakan di dalam seluruh diri mereka dari dalam ke luar, dari roh mereka melalui jiwa mereka ke tubuh mereka, sampai menjadi serupa dengan gambar Putra sulung Allah, menempuh hidup yang mati dan bangkit. Selain itu, mereka akan dikoordinasikan dan terbangun bersama menjadi bejana yang korporat untuk menjadi Tubuh Kristus, pasangan-Nya yang akan terekspresi di bumi, di berbagai lokal. Meskipun mereka akan tinggal di berbagai tempat, mereka tidak akan terpisah-pisah, tetapi akan tersusun menjadi Tubuh Kristus yang unik, memiliki satu persekutuan yang universal dan menjadi ekspresi penuh Kristus. Inilah struktur Kitab Roma.
Rasul Paulus melihat bahwa sasaran akhir dari tujuan Allah adalah membangun bersama manusia tripartit yang telah ditebus dan yang memiliki hayat-Nya untuk menjadi anak-anak-Nya ke dalam satu Tubuh untuk ekspresi korporat-Nya di bumi. Dengan kata lain, Allah ingin mendapatkan anak-anak dari antara orang-orang dosa, sehingga mereka dapat disusun menjadi Tubuh Kristus bagi ekspresi Kristus. Ekspresi ini tampak di bumi dalam kota demi kota, yang ditentukan oleh batas administratif. Meskipun mereka tampak di tempat-tempat yang berbeda, mereka tidak terpisah-pisah, dan meskipun mereka bersifat lokal, mereka masih merupakan bagian dari Tubuh Kristus unik yang universal. Ketika Paulus menulis kitab ini, pikiran ini benarbenar tertanam di dalam hatinya dan di dalam rohnya. Sebab itu, dengan pikiran ini sebagai dasarnya, Paulus menulis kitab ini dan mengirimkannya kepada gereja di Roma.
Roma 1 dimulai dengan jelas dan tegas dengan Injil Allah. Injil Allah adalah pokok bahasan Kitab Roma, dimulai dari penciptaan oleh Allah dan membuktikan eksistensi Allah dengan langit dan bumi. Namun, manusia yang diciptakan itu tidak menyembah Allah menurut kuasa-Nya yang kekal dan keilahian-Nya yang ternyata dalam alam semesta. Sebaliknya, manusia berdosa dan menyakiti Allah, sehingga ia dipersalahkan oleh hukum Allah yang adil. Karena itu, Allah merampungkan penebusan dalam Kristus bagi orang-orang berdosa yang jatuh, dan melalui iman di pihak orang-orang berdosa, menebus mereka satu demi satu. Melalui inkarnasi, kehidupan insani, dan penyaliban, Allah mati bagi manusia dan menebus manusia, mengalahkan Iblis, dan dalam kebangkitan menjadi Roh pemberi-hayat, masuk ke dalam orang-orang yang percaya kepada-Nya dan menyeru nama-Nya, menjadi hayat dan segala sesuatu mereka. Inilah Injil keselamatan Allah.
Injil ini telah diberitakan ke ujung bumi. Semua orang yang mendengar hal ini, yang percaya dan menyeru nama Tuhan Yesus, akan memiliki Kristus yang pneumatik masuk ke dalam mereka, melahirkan kembali roh mereka. Sejak saat itu dan seterusnya, orang-orang yang dilahirkan kembali ini dapat menghirup Allah dan menerima Dia; mereka dapat menerima Allah, dan Kristus, yang juga adalah Roh pemberi-hayat, sebagai nafas hidup; mereka juga dapat menerima Roh hayat sebagai air hidup, meminum-Nya untuk meleraikan dahaga mereka. Selain itu, mereka dapat makan Tuhan sebagai makanan rohani yang surgawi melalui firman Alkitab. Melalui menghirup, minum, dan makan Tuhan seperti ini, Roh pemberi-hayat dapat melanjutkan pekerjaan penyaluran di dalam kaum beriman. Penyaluran ini seperti pengurapan; mengurapi berulang-ulang, selapis demi selapis unsur ilahi Allah dan esens hayat-Nya yang menguduskan dan memuliakan ke dalam orang-orang yang percaya kepada Dia dan menikmati Dia. Dengan demikian, orang-orang ini akan tinggal di dalam Dia, dan Tuhan akan tinggal di dalam mereka. Tidak akan ada penghalang antara mereka dengan Tuhan. Mereka akan menerima lebih banyak kelimpahan Tuhan dan menikmati unsur ilahi-Nya, dan mereka akan bertumbuh dengan pertambahan Allah di dalam mereka. Pada akhirnya, mereka bukan hanya akan dilahirkan kembali, tetapi juga akan dikuduskan, diperbarui, dan diubah. Melalui proses ini, mereka akan mengalami kematian dan kebangkitan Kristus dan akan diserupakan dengan gambar Kristus, Putra sulung Allah. Akhirnya, semua orang yang percaya kepada Tuhan dan menikmati Dia menjadi satu bejana korporat di alam semesta, disusun menjadi Tubuh Kristus untuk menjadi ekspresi Kristus di setiap tempat bagi penggenapan hasrat hati Allah. Inilah yang diwahyukan dalam Roma 1-16.
Dalam lima berita yang lalu, kita sudah membahas butir-butir besar sebelum pasal 12. Dalam berita ini, kita akan membahas isi empat pasal: pasal 12, 14, 15, dan 16. Roma 12 menunjukkan kepada kita bahwa kita yang telah menerima Kristus dan menikmati Dia adalah anggota-anggota Kristus, berkoordinasi dan dibangun bersama, disusun menjadi Tubuh Kristus. Tiga pasal yang lain menunjukkan kepada kita bahwa di satu pihak, Tubuh Kristus yang unik ini terekspresi di kota-kota di berbagai negara di bumi sebagai gereja-gereja lokal; di pihak lain, karena persekutuan Tubuh ini universal, gereja-gereja lokal itu tetap satu. Dengan demikian, mereka akan memuliakan Allah yang unik dan berhikmat ini.
Dalam berita-berita yang lalu, kita telah melihat penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi, dan kita telah melihat hasil dari penyaluran ilahi ini. Kini kita ingin membahas tujuan penyaluran ini. Tujuan penyaluran Trinitas Ilahi di dalam kaum beriman tidak lain supaya Tubuh terekspresi sebagai banyak gereja lokal. Meskipun banyak gereja, namun hanya ada satu Tubuh. Di satu pihak, kita memiliki Tubuh Kristus yang bersifat universal. Di pihak lain, Tubuh itu terekspresi di berbagai tempat sebagai gereja-gereja lokal. Secara universal, hanya ada satu Tubuh. Secara lokal, ada banyak gereja lokal.
MEMBANGUN PARA ANGGOTA MENJADI TUBUH KRISTUS
Berkoordinasi Bersama dan Berfungsi Menurut Kadar Tiap Bagian
Pertama, tujuan penyaluran Allah adalah membangun para anggota menjadi Tubuh Kristus. Dalam Tubuh Kristus, semua anggota berkoordinasi bersama dan berfungsi menurut kadar tiap bagian (Rm. 12:3-8). Dalam Roma 12:3 Paulus berkata, “Berdasarkan anugerah yang diberikan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir sedemikian rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Menguasai diri atau berpikiran jernih di sini berarti tidak ceroboh atau bodoh, memandang suatu perkara dengan tepat, tidak berlebihan, juga tidak meremehkan. Dalam koordinasi Tubuh, kita harus memandang diri kita dengan benar. Kita tidak seharusnya hanya memandang diri kita dari sudut pandang kita sendiri, tetapi kita harus tahu bagaimana kedudukan diri kita di dalam Tubuh Kristus. Jika Allah telah mengatur Anda di dalam Tubuh Kristus sebagai jari yang kecil (kelingking), dan jika Anda memiliki pandangan Tubuh, Anda akan menerimanya dengan senang. Inilah yang dimaksud dengan menguasai diri atau berpikiran jernih.
Selanjutnya, ayat 4-5 mengatakan, “Sebab sama seperti pada satu tubuh, kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” Jadi kita semua harus tahu, kita adalah bagian Tubuh yang mana dan apa fungsi kita (ayat 6-8). Kita juga harus berpikiran jernih, sehingga kita dapat berkoordinasi bersama orang lain dalam gereja dan dapat dibangun bersama. Sering kali, banyak masalah timbul dalam gereja karena kaum beriman menilai orang lain dan memandang orang lain berdasarkan pandangan yang alamiah. Karena itu, kita harus dilepaskan dari diri kita dan dari manusia alamiah, sehingga pikiran kita dapat menjadi jernih dan dapat menilai dengan tepat. Dengan demikian kita dapat berdiri di atas kedudukan yang tepat dan dapat dengan senang hati berkoordinasi untuk dibangun bersama orang lain. Kita akan berfungsi menurut ukuran kita sendiri dan tidak akan melangkahi orang lain atau meremehkan diri sendiri. Jika demikian, Tubuh akan terbangun.
Menempuh Kehidupan dengan Standar Kebajikan yang Tertinggi
Roma 12:9-11 menunjukkan kepada kita suatu kehidupan dengan standar kebajikan yang tertinggi di dalam Tubuh. Bagian ini memperlihatkan bahwa kehidupan dengan standar kebajikan yang tertinggi melampaui syarat etika manusia dan moralitas manusia. Inilah kehidupan yang harus kita tempuh sebagai orang Kristen di dalam gereja di hadapan manusia. Hanya dengan demikianlah kita dapat berkoordinasi dan terbangun dengan benar dan serasi bersama orang lain menjadi satu.
Saya percaya banyak di antara kalian yang sudah menikah. Dapatkah kalian menunjukkan kepada saya satu pasangan yang tidak pernah bertengkar? Jika suami istri saja tidak bisa terhindar dari pertengkaran, bagaimana mungkin saudara saudari dalam gereja bisa terhindar dari pertengkaran? Dalam Filipi 2:14 Paulus berkata, “Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Bersungut-sungut berasal dari emosi dan terutama dilakukan oleh saudari. Berbantah-bantahan berasal dari pikiran dan terutama dilakukan oleh saudara. Kedua perbuatan itu sangat menghambat kita, membuat kita tidak dapat sepenuhnya mengalami dan menikmati Kristus. Entah itu bersungut-sungut dari saudari, atau berbantah-bantahan dari saudara, keduanya berasal dari daging yang belum ditanggulangi dan belum melalui salib. Jika kita adalah orang-orang yang sudah melewati salib, maka yang hidup bukan kita lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita. Bila kita mati dan hidup bersama Kristus sedemikian, kita akan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah dan akan menjadi orang-orang yang telah melewati kematian dan kebangkitan. Dengan demikian, hidup gereja akan penuh dengan damai sejahtera dan sukacita.
AGAR TUBUH KRISTUS YANG UNIK DAPAT DIEKSPRESIKAN
DI GEREJA-GEREJA LOKAL DI SETIAP TEMPAT
Menerima Semua Orang Beriman Sejati Tanpa Syarat,
Sesuai dengan Penerimaan Allah dan Kristus
Bila kita menempuh kehidupan dengan kebajikan yang tertinggi, gereja akan menjadi Tubuh yang terkoordinasi dan terbangun yang terekspresi di berbagai tempat. Sebab itu, pasal 14 menunjukkan kepada kita Tubuh Kristus yang unik terekspresi di berbagai gereja lokal. Karena itu, semua gereja harus menerima semua orang beriman yang sejati tanpa syarat, sesuai dengan penerimaan Allah dan Kristus (Rm. 14:1-3; 15:7), untuk mempraktekkan kehidupan Tubuh. Kita harus belajar pelajaran riil menerima kaum beriman. Di sini Paulus memakai soal makan dan memelihara hari Sabat sebagai contoh. Ia berkata bahwa ada orang masih memelihara hari Sabat dan yang lain masih makan menurut peraturan pembasuhan. Tetapi asalkan mereka semua telah percaya kepada Tuhan, kita harus menerima mereka. Meskipun orang-orang yang memelihara hari Sabat itu salah, Allah masih menerima mereka. Meskipun kaum beriman Yahudi masih memelihara peraturan dalam Perjanjian Lama, Allah juga menerima mereka. Penerimaan Allah tidak berdasar pada soal hari Sabat atau peraturan tentang makan, melainkan berdasar pada kepercayaan seseorang kepada Yesus Kristus, Putra Allah. Penerimaan kita terhadap kaum beriman berdasar pada penerimaan Allah terhadap mereka. Sebab itu, semua gereja juga harus menerima. Bila kita menerima kaum beriman secara demikian, berdasarkan Allah dan bukan berdasarkan doktrin atau metode, kita akan memelihara keesaan Tubuh Kristus.
Memperlakukan Semua Orang Beriman Menurut Kristus
Setelah menerima mereka, kita masih harus memperlakukan semua orang beriman menurut Kristus. Roma 15:5 mengatakan, “Semoga Allah, sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus.” Allah memiliki Kristus Yesus sebagai standar dalam hidup gereja. Dalam hidup gereja, segala sesuatu harus menurut Dia, bukan menurut doktrin dan pengetahuan. Tidak peduli bagaimana orang lain berbeda dengan kita dalam pandangan doktrinal atau dalam praktek agama, kita harus belajar memperlakukan mereka menurut Kristus. Kita harus memperlakukan mereka bukan hanya menurut pikiran Kristus, tetapi menurut Kristus itu sendiri. Dengan demikian, kita akan dapat memikirkan hal yang sama.
Hidup Menurut Kasih
Dalam 14:15 Paulus berkata, “Sebab jika engkau menyakiti hati saudara seimanmu karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih.” Tidak peduli bagaimana berbedanya orang lain dengan kita dalam konsepsi atau praktek, kita tidak seharusnya mengkritik atau menghakimi mereka. Kalau tidak, kita tidak hidup lagi menurut kasih, dan kita akan menaruh batu sandungan di depan orang lain, menyebabkan orang lain tersandung, dan merusak kehidupan Tubuh.
Hidup di Bawah Terang Takhta Pengadilan Allah
Roma 14:10 juga memberi tahu kita bahwa kita tidak seharusnya menghakimi orang lain dalam hal apa pun, karena “kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah”. Suatu hari, takhta pengadilan Allah akan menyingkapkan semua perbuatan kita dan tindakan kita. Sebab itu, hari ini kita harus hidup dan bekerja di bawah terang takhta pengadilan Allah dalam segala sesuatu.
Memperhidupkan Kehidupan Kerajaan Allah
Hari ini dalam pemulihan Tuhan, hal yang paling penting adalah memelihara keesaan Tubuh Kristus. Keesaan (kesatuan) ini berbeda dengan persatuan. Persatuan berarti sejumlah orang bergabung bersama. Tetapi keesaan adalah hanya memiliki satu persona, yaitu Kristus yang pneumatik hidup di dalam kita, sehingga kita dapat melakukan segala sesuatu menurut Allah dan Kristus dan dapat terbangun di dalam Tubuh untuk memperhidupkan kehidupan Kerajaan Allah. Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Kerajaan Allah adalah ruang lingkup Allah melaksanakan wewenang-Nya, agar Ia dapat mengekspresikan kemuliaan-Nya guna merampungkan kehendak-Nya. Kerajaan ini bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus. Kita yang hidup dalam Kerajaan Allah seharusnya benar dan tepat terhadap manusia, terhadap segala hal, dan terhadap Allah. Kita seharusnya tidak melakukan kesalahan, berprasangka, atau melakukan penyimpangan. Dengan demikian, kita akan memiliki damai sejahtera sebagai hubungan yang tepat antara kita dengan orang lain dan antara kita dengan Allah. Tidak akan ada kritik dan perselisihan. Jika kita benar terhadap manusia dan terhadap Allah, dan kita berdamai dengan semua orang, kita akan memiliki sukacita di dalam Roh Kudus. Karena itu, kita akan memiliki realitas kehidupan kerajaan.
Semua Gereja dan Semua Orang Kudus di Seluruh Bumi
Hidup di Dalam Satu Persekutuan Universal
Dari seluruh pasal 16 Kitab Roma, kita dapat nampak bahwa semua gereja dan semua orang kudus di seluruh bumi hidup di dalam satu persekutuan universal (ayat 1-27). Ketika Paulus menulis Kitab Roma, Korintus dan Roma terpisah satu sama lain secara geografis. Sarana komunikasi belum maju. Namun dalam salam Paulus dalam ayat 127, ia menyebutkan banyak nama. Meskipun ia belum pernah ke Roma, banyak orang di Roma yang mengenal dia. Ini menunjukkan, meskipun gereja-gereja tersebar di berbagai tempat, dan ada banyak orang kudus di seluruh bumi, mereka hidup di dalam satu persekutuan Tubuh. Dalam bangsa apa pun atau negeri apa pun, gereja-gereja merupakan satu Tubuh. Semua orang kudus adalah anggota-anggota Tubuh ini, dan mereka hidup dalam keesaan Tubuh Kristus ini.
Menghindari Orang-orang yang Menimbulkan Perpecahan
Dalam 16:17 Paulus berkata, “Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan batu sandungan, bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima. Hindarilah mereka!” Dalam pasal 14, dalam hal menerima orang-orang yang memiliki doktrin dan praktek yang berbeda, Paulus sangat lapang dan luwes. Tetapi di sini, ia dengan tegas meminta kita menghindari orang-orang yang memegang opini yang menyimpang dan yang menimbulkan perpecahan dan batu sandungan. Aspek-aspek itu adalah untuk memelihara keesaan Tubuh Kristus, sehingga kita dapat menempuh hidup gereja yang normal.
HASILNYA
Bila kita hidup dalam keesaan Tubuh Kristus dan mengekspresikan Tubuh ini di berbagai gereja lokal, hasilnya adalah: (1) Allah meremukkan Iblis di bawah kaki kita (Rm. 16:20a); (2) Kita menikmati anugerah Kristus dan damai sejahtera Allah (Rm. 16:20b); dan (3) Kemuliaan bagi Allah yang unik dan berhikmat (Rm. 16:25-27). Inilah puncak hidup gereja kita. Tidak peduli berapa banyak orang kudus atau gereja lokal yang ada di bumi, di berbagai tempat kita memberikan kemuliaan kepada Allah yang unik dan berhikmat. Allah ini adalah persona yang telah memberikan Yesus Kristus kepada kita menurut wahyu tentang rahasia yang telah tersimpan dalam kekekalan, yang juga adalah persona yang menyelamatkan kita, melahirkan kita kembali, dan melalui penyaluran ilahi-Nya terus-menerus menguduskan kita, memperbarui kita, dan mengubah kita, dan yang akhirnya akan memuliakan kita dan menyerupakan kita dengan gambar Putra sulung Allah, membawa kita masuk ke dalam kemuliaan. Kini kita semua ada di dalam Tubuh Kristus ini, memuliakan Allah kita sampai kekal.