HASIL DARI PENYALURAN TRINITAS ILAHI SEBAGAI HUKUM ROH HAYAT DALAM KAUM BERIMAN (2)
Garis Besar dan Pembacaan Alkitab
II. Setiap bagian kaum beriman dikuduskan — Rm. 6:19, 22.
III. Pikiran kaum beriman diperbarui — Rm. 12:2b.
IV. Setiap bagian jiwa kaum beriman ditransformasi — Rm. 12:2b.
V. Kaum beriman diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah — Rm. 8:29a.
VI. Kaum beriman dijenuhi dengan kemuliaan ilahi — penebusan tubuh — Rm. 8:30b, 23.
Doa: Tuhan, dari dalam lubuk kami, kami menyembah-Mu. Engkau telah mengumpulkan kami ke dalam nama-Mu lagi. Di sini kami menikmati Roh-Mu dan firman-Mu. Kami sepenuhnya percaya kepada-Mu bahwa Engkau akan membukakan lebih banyak rahasia dalam firman-Mu kepada kami, sehingga kami dapat masuk ke dalamnya, menikmatinya, dan mengalaminya. Tuhan, sertailah kami. Kami memerlukan-Mu. Amin.
HASIL DARI PENYALURAN TRINITAS ILAHI DALAM KAUM BERIMAN
Setelah melewati beberapa sidang, saya percaya bahwa kita telah melihat satu rahasia yang mulia, yaitu Allah Tritunggal sedang menggarapkan diri-Nya ke dalam kita menjadi hayat kita. Hayat ini tidak lain adalah Allah sendiri menjadi satu hukum di batin kita dengan kekuatannya yang spontan. Sering kali kita tidak mengetahui hukum ini dan tidak merasakan hukum ini. Namun demikian, hukum ini bekerja di dalam kita. Meskipun kita memiliki banyak kelemahan, kekeliruan, dan bahkan kegagalan, kita telah terjaga dan terpelihara sampai hari ini karena ada satu hukum yang memelihara dan menjaga dalam batin kita, yang menjaga kita di sini sampai hari ini.
Di Pihak Negatifnya
Ketika kita membaca Kitab Roma, kita mudah menemukan bahwa catatannya berpola dari tepi ke inti. Intinya adalah Roh hayat. Roh ini memiliki hukum yang setiap hari beroperasi di dalam roh kita. Fungsi utamanya adalah memerdekakan kita dalam banyak hal. Setelah manusia jatuh, seluruh dirinya berada dalam keadaan jatuh. Ia seperti narapidana yang terikat dalam belenggu daging. Kemudian Kristus datang. Ia adalah perwujudan Allah Tritunggal. Ia menjadi Roh hayat dan masuk ke dalam kita menjadi satu hukum, yang mengatur kita setiap hari dari dalam kita. Hukum ini memerdekakan kita dalam Kristus Yesus dari segala perkara negatif dan menyelamatkan kita terlepas dari hukum dosa dan maut milik Iblis yang ada dalam sifat kita yang telah jatuh dan dari tubuh maut ini.
Ketika Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Karena itu, tubuh yang diciptakan-Nya semula merupakan sebuah bejana yang murni. Namun demikian, manusia jatuh dan membawa sumber maut, Iblis, masuk ke dalam dirinya. Ketika Iblis masuk ke dalam manusia, Iblis menjadi hukum dosa dan maut di dalam daging manusia. Hukum dosa dan maut ini tidak hanya membuat daging kita memiliki kekuatan yang spontan untuk berdosa sehingga kita kehilangan kemerdekaan dan menjadi terbelenggu oleh dosa, tetapi juga membawa masuk kematian, yang menyebabkan kita menjadi tidak berdaya berbuat baik dan tidak berperasaan dalam berbuat jahat. Akibatnya, apa saja yang dilakukan oleh daging kita menjadi maut dan menghasilkan kematian. Demikianlah tubuh kita menjadi tubuh maut ini. Tetapi pada saat kita beroleh selamat, hukum Roh hayat dalam Kristus Yesus memerdekakan kita dari hukum dosa dan maut dan dari tubuh maut ini.
Selanjutnya, ketika manusia jatuh, Iblis menyuntikkan dirinya ke dalam tubuh manusia. Akibatnya, tubuh manusia menjadi rusak, berubah mutu dan menjadi daging; mendatangkan kefanaan, ketuaan, dan berangsur-angsur mati. Sebab itu, berkenaan dengan tubuh kita yang telah jatuh, kita bukan hidup dari hari ke hari, melainkan mati dari hari ke hari. Ketika seseorang masih muda, ia senang orang lain merayakan ulang tahun baginya. Tetapi setelah ia menjadi tua dan sudah berumur tujuh puluhan atau delapan puluhan, ia mungkin tidak suka lagi kalau ulang tahunnya dirayakan. Ini seperti memiliki simpanan atau tabungan seratus dolar. Jika saya memakai satu dolar setiap tahun, berarti setiap tahun simpanan saya berkurang satu dolar. Tubuh kita sangat fana. Itulah nasibnya dan takdirnya.
Selain masalah yang sudah kita bahas tadi, masih ada masalah lain, yaitu kita menjadi umum. Ketika kita hidup di bumi, kita sering tercemar oleh kenajisan dunia, dan tanpa sadar, kita menjadi umum. Dalam Roma 12:2 Paulus meminta agar kita tidak “menjadi serupa dengan dunia ini”. “Dunia ini” atau zaman ini mengacu kepada bagian riil dunia zaman ini. Itu adalah bagian yang kita jamah dan yang di dalamnya kita hidup. Setiap zaman memiliki coraknya, ciri khasnya, gayanya, penampilannya, dan arusnya sendiri. Zaman ini seperti cetakan yang membentuk orang-orang menurut cetakannya. Karena itu, apa yang kita pakai dan apa yang kita miliki seharusnya sesederhana mungkin. Asalkan keperluan kita terpenuhi, cukuplah. Namun, bila hukum Roh hayat mengatur kita barulah kita dapat mengasihi Tuhan dan menjadi sederhana. Karena itu, kita perlu bersekutu dengan Tuhan dan hidup dalam hukum Roh hayat agar hidup kita dapat menjadi sederhana dan dapat terlepas belenggu keadaan yang umum.
Roma 12 juga menunjukkan kepada kita bahwa orang yang hidup di dalam gereja dan di dalam Tubuh Kristus seharusnya memiliki standar hidup yang tinggi. Ia seharusnya hanya mengasihi, dan tidak membenci. Ia seharusnya hanya memberkati, dan tidak mengutuk. Satu-satunya jalan untuk menempuh hidup yang demikian adalah dengan menuruti hukum Roh hayat, membiarkan hukum ini mengatur dan menyingkirkan segala unsur negatif dan cara hidup yang rendah dari diri kita, sehingga kita dapat menempuh hidup dengan standar moralitas yang unggul.
Terakhir, Roma 16:17 menasihati kita, “Mereka yang menimbulkan perpecahan dan batu sandungan . . . Hindarilah mereka!” Sejarah kekristenan selama dua ribu tahun ini adalah sejarah perpecahan. Sifat kita yang telah jatuh suka segala yang berbeda dengan orang lain, berebut menjadi yang pertama, tidak suka taat kepada orang lain. Semua hal itu adalah faktor penyebab perpecahan. Hanya dengan berada di dalam roh dan menuruti hukum Roh hayat, barulah kita dapat menerima orang lain dari lubuk hati kita, dan dengan demikian barulah kita dapat memelihara keesaan Tubuh Kristus. Hanya dengan demikian barulah kita dapat menganggap semua gereja sama dan setiap orang kudus patut dikasihi, tanpa membanding-bandingkan, iri hati, atau persaingan. Untuk itu, kita perlu setiap hari diselamatkan guna menempuh hidup di dalam hukum Roh hayat, menikmati penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi, sehingga seluruh diri kita dapat dimerdekakan, pada sisi negatifnya terlepas dari hukum dosa dan maut, dari tubuh maut, dari kefanaan tubuh, dari keadaan yang umum, dari cara hidup yang rendah, dan dari perpecahan. Dengan demikian kita akan diselamatkan dalam hayat Kristus dan akan memerintah dalam hayat-Nya, dan kita akan dilepaskan dari setiap orang, perkara, atau benda yang bertentangan dengan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah; kita akan menaklukkan musuh Allah, Iblis, dan mendatangkan Kerajaan Allah.
Di Pihak Positifnya —
Menguduskan, Memperbarui, Mengubah, Menyerupakan, dan Menebus
Penyaluran Trinitas Ilahi sebagai hukum Roh hayat dalam kita, kaum beriman, tidak hanya membuat diri kita terlepas dari hal-hal negatif, dan menaklukkan hal-hal negatif itu, tetapi juga menyuplai kita secara positif di dalam roh kita, jiwa kita, dan tubuh kita. Pertama, penyaluran ini menguduskan kita. Pengudusan ini bukan hanya pengudusan dalam aspek kedudukan, tetapi juga pengubahan transformasi dalam aspek watak. Pengudusan ini terjadi melalui penjenuhan seluruh diri kita dengan sifat kudus Allah oleh Trinitas Ilahi sebagai Roh hayat, mengubah unsur alamiah kita menjadi unsur rohani, sehingga setiap bagian dari seluruh diri kita dapat dikuduskan bagi Allah (Rm. 6:19, 22). Kedua, pikiran kita diperbarui (Rm. 12:2b). Pembaruan pikiran adalah dasar pengubahan jiwa. Pembaruan pikiran ini adalah hasil dari meletakkan pikiran kita di atas roh. Ketika hukum Roh hayat menyalurkan di dalam kita, suatu esens baru ditambahkan ke dalam kita, menghasilkan suatu perubahan metabolis yang membuat kita serasi dengan praktek hidup gereja. Ketiga, setiap bagian jiwa kita diubah. Karena pikiran kita adalah bagian utama dari jiwa kita, maka ketika pikiran kita diperbarui, tekad dan emosi, yang adalah bagian lain dari jiwa, dengan spontan juga diperbarui. Karena itu, setiap bagian jiwa kita mengalami pengubahan (Rm. 12:2b).
Keempat, hukum Roh hayat ini menjadi cetakan di dalam kita, menyerupakan kita dengan gambar Putra sulung Allah (Rm. 8:29a). Setiap hayat memiliki strukturnya, ukurannya, dan bentuknya sendiri. Sebagai hukum Roh hayat, Allah Tritunggal juga memiliki gambar-Nya, yaitu gambar Putra sulung Allah. Jika kita berjalan menurut hukum Roh hayat, Ia akan terus-menerus beroperasi di dalam kita sampai kita dikuduskan, diperbarui, diubah, dan diserupakan dengan gambar Kristus. Kristus adalah Putra sulung Allah, dan pada akhirnya, kita akan menjadi anak-anak-Nya, yang benar-benar sama seperti Putra sulung-Nya, Kristus (Rm. 8:29b).
DALAM PROSES PENGUDUSAN, PEMBARUAN, PENGUBAHAN, PENYERUPAAN, DAN PEMULIAAN
Akhirnya, seluruh diri kita akan dijenuhi dengan kemuliaan ilahi, yang berarti tubuh kita akan ditebus (Rm. 8:30b, 23). Bila Kristus datang lagi, kita akan menerima keputraan sepenuhnya, yaitu transfigurasi tubuh kita, menjadi sama seperti tubuh-Nya yang mulia. Karena kejatuhan, tubuh manusia telah merosot; dapat berdosa, dapat berbuat jahat, dapat menjadi lemah dan sakit. Langkah terakhir dari pekerjaan Allah Tritunggal sebagai hukum Roh hayat di dalam kita adalah menebus tubuh kita. Menurut prinsip yang dengannya Allah melahirkan kita kembali dalam roh kita melalui Roh-Nya, tubuh dosa kita, yang juga tubuh maut dan tubuh yang fana, akan sepenuhnya dijenuhi oleh kemuliaan hayat dan sifat-Nya. Hasilnya adalah tubuh ini akan ditransfigurasi dan akan menjadi serupa dengan tubuh Putra-Nya yang bangkit dan mulia. Inilah langkah terakhir dari keselamatan-Nya yang penuh.
Dari hal ini kita dapat melihat bahwa keselamatan Tuhan tidak lain adalah Tuhan sendiri. Ia telah melalui proses, melewati inkarnasi, kehidupan manusia, penyaliban, dan kebangkitan, menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit dan majemuk, masuk ke dalam kita menjadi suatu hukum. Ini adalah perkara yang luar biasa. Ketika saya masih muda, saya membaca tentang hukum Roh hayat dalam Roma 8, tetapi saya tidak mengerti apa itu. Sebab itu, saya tidak dapat mengatakan apa-apa tentang hal itu. Bertahuntahun kemudian, bukan hanya saya mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam, saya pun memiliki pengalaman yang lebih riil. Kini, selain dengan apa yang saya baca dari biografi orang lain dan penegasan pengalaman mereka, saya dapat berbicara tentang hal ini.
Ketika hukum Roh hayat mengatur kita dari dalam, hukum ini mengurapi kita dengan unsur ilahi Allah. Ini dapat dibandingkan dengan pekerjaan pengecatan. Kita harus mengoleskan cat selapis demi selapis. Semakin banyak kita mengecat, semakin tebal lapisan cat itu. Allah Tritunggal mengurapi kita dengan tidak henti-hentinya secara demikian, membawakan unsur Allah ke dalam kita sehingga kita dapat bertumbuh dan diubah. Inilah yang dimaksud Paulus ketika ia berkata bahwa kita bertumbuh “dengan pertumbuhan Allah” (Kol. 2:19).
Selain itu, unsur ilahi yang diurapkan ke dalam kita ini memiliki kemampuan menguduskan, yakni menguduskan kita. Kidung nomor 381 mengatakan: “Tuhan, Kau hayatku, hidup dalamku, bawa limpah Allah, penuhi aku, sifat-Mu yang kudus, menakdiskanku, oleh kuasa bangkit, jaya kutempuh.” Hanya sifat kudus di dalam unsur hayat Allah yang dapat menguduskan kita. Ini berbeda dengan pengalaman penganut kepercayaan tertentu, yang adalah hasil dari usaha atau tirakat manusia. Namun, pengudusan kita adalah hasil pekerjaan pengudusan hayat Allah.
Menurut Perjanjian Baru, pekerjaan pengudusan Roh hayat terjadi dalam tiga tahap. Pertama, pada saat kita bertobat dan percaya. Ia telah mencari kita dan telah memisahkan kita dari orang dosa yang lain, menginsafkan kita akan dosa (1 Ptr. 1:2; Yoh. 16:8). Kedua, pada waktu kita beroleh selamat, Ia menguduskan kita dalam aspek kedudukan (1 Kor. 6:11). Ketiga, ketika kita menuntut pertumbuhan dalam hayat, Ia menguduskan kita dalam aspek sifat (watak) (Rm. 6:19, 22). Pengudusan ini bukan hanya dalam aspek kedudukan, memisahkan kita dari kedudukan yang umum dan duniawi kepada kedudukan yang dari Allah dan untuk Allah, tetapi juga berupa pengubahan watak yang menjenuhi seluruh diri kita dengan sifat kudus Allah, melalui Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, yang mengubah sifat alamiah kita menjadi sifat rohani.
Kini kita perlu melihat rincian tentang bagaimana hukum Roh hayat ini menguduskan kita. Pertama, hukum ini memperbarui pikiran kita. Makna pembaruan adalah memiliki esens baru ditambahkan ke dalam kita, agar kita mengalami perubahan metabolis. Setelah Roh hayat mengurapi kita dengan unsur baru Allah, unsur baru ini menggantikan dan menyingkirkan unsur lama dan alamiah di dalam diri kita. Sejak muda, sejak kita mulai memahami perkara-perkara, dan dari tahun ke tahun kita bekerja di masyarakat, konsepsi dan pandangan tertentu telah berkembang di dalam kita. Setelah kita beroleh selamat, hukum Roh hayat mulai mengurapi kita. Pengurapan ini menghasilkan satu dampak, yaitu menggantikan esens lama kita, sehingga kita dapat mengambil konsepsi dan pemikiran Allah, dan pandangan kita terhadap kehidupan manusia, terhadap dunia, keinsanian, dan nasib kita kelak, berubah sama sekali dari tradisi manusia kepada wahyu Allah. Inilah yang dimaksud dengan pembaruan pikiran.
Selain itu, Roma 12:2 mengatakan bahwa kita harus diubah melalui pembaruan pikiran. Bukan pikiran kita saja yang perlu diperbarui, tetapi jiwa kita juga harus diubah. Pikiran adalah bagian utama dari jiwa. Bila pikiran diperbarui, jiwa kita dengan spontan mengalami pengubahan. Pengubahan itu adalah proses pekerjaan Allah yang bersifat metabolis dan batiniah. Proses ini menyebarkan hayat dan sifat Allah ke dalam seluruh diri kita, khususnya ke dalam jiwa kita, meliputi emosi, tekad, keputusan, juga meliputi sukacita, amarah, dukacita, dan kegembiraan. Hayat dan sifat Allah kemudian menjadi unsur kita yang baru dan ilahi, yang berangsur-angsur menggantikan unsur kita yang lama dan alamiah. Hasilnya, kita berangsur-angsur diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya.
Pembaruan dan pengubahan adalah hasil dari operasi Allah Tritunggal sebagai hukum Roh hayat di dalam kita. Jika kita menunggu di hadapan Tuhan setiap saat, bersekutu dengan Dia, bekerja sama dengan Dia, tunduk kepada-Nya dalam segala hal, dan memberi-Nya kedudukan mutlak dalam diri kita, Ia akan mengurapi kita dan beroperasi di dalam kita setiap hari, menambahkan unsur ilahi-Nya ke dalam kita sedikit demi sedikit. Dengan demikian, kita akan dikuduskan, pikiran kita diperbarui, dan jiwa kita akan diubah. Tambahan pula, Ia akan terus-menerus mengubah kita sampai kita melihat Tuhan dan diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus, yaitu diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah.
Apa yang dimaksud dengan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah? Diserupakan adalah melalui kematian dan kebangkitan dan memperhidupkan Kristus. Kidung nomor 378 mengatakan, “Hayat dan alangkah teduh! Di batinku Kristus hidup! Bersama-Nya tersalibku, fakta mulia tebusan Hu! Bukan lagi aku hidup, tapi Kristus penggantiku!” Inilah yang dimaksud dengan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Jika kita hidup di bawah hukum Roh hayat, dengan spontan kita akan menempuh hidup yang “bukan aku lagi, melainkan Kristus”, hidup yang melalui kematian dan kebangkitan dan berangsur-angsur akan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah.
Dengan demikian, di bawah pengurapan Roh hayat, kita dapat menanti hari penebusan tubuh kita. Meskipun kita memiliki hayat ilahi di dalam roh kita, dan diperbarui serta diubah di dalam jiwa kita, tubuh kita belum sepenuhnya dijenuhi oleh hayat Allah. Tubuh kita masih tubuh daging. Tubuh kita masih terkait dengan ciptaan lama dan masih merupakan tubuh dosa dan tubuh maut. Sebab itu, kita harus menunggu dengan tekun sampai Kristus, Putra Allah, turun dari surga. Saat itu, tubuh kita yang hina ini akan ditransfigurasi dan akan diserupakan dengan tubuh mulia-Nya (Flp. 3:21). Semakin kita mengasihi Tuhan dan hidup di bawah hukum Roh hayat, kita akan semakin ditebus. Bukan hanya pikiran kita diperbarui, jiwa kita diubah, tetapi kita juga akan diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Akhirnya, seluruh diri kita akan dijenuhi dengan kemuliaan ilahi. Maut akan ditelan oleh hayat, kebobrokan akan ditelan dengan kebaikan, dan tubuh kita akan sepenuhnya ditebus. Ketika Kristus menyatakan diri, kita akan menyatakan diri bersama Dia dalam kemuliaan (Kol. 3:4). Inilah puncak keselamatan sempurna Allah, juga hasil tertinggi dari penyaluran hukum Roh hayat di batin kita. Hari ini, kita berada di dalam proses pengudusan, pembaruan, pengubahan, penyerupaan, dan pemuliaan.
PERKATAAN TAMBAHAN
(2)
Kitab Roma memang menduduki tempat istimewa. Khususnya Roma 8 dapat dianggap sebagai inti rahasia dalam Perjanjian Baru. Seluruh Perjanjian Baru membicarakan rahasia Allah. Hari ini adalah zaman gereja, zaman anugerah. Sesungguhnya, ini adalah zaman rahasia. Menjelang Wahyu 10:7, ketika sangkakala ketujuh ditiup, rahasia Allah akan tergenap. Dalam Perjanjian Lama, sebelum Yohanes Pembaptis datang dan sebelum Yesus Kristus lahir, segalanya tersingkap dan bukan merupakan rahasia. Hukum Taurat Musa, peraturan, ketetapan, dan lambanglambang, semuanya terbuka dan tersingkap. Tidak ada rahasia sama sekali. Sampai saat Tuhan Yesus dikandung oleh seorang dara, yaitu Firman menjadi daging, barulah kita memiliki permulaan rahasia Perjanjian Baru.
Kelahiran Kristus memang suatu rahasia. Bagaimana Ia dilahirkan? Siapa yang melahirkan Dia? Siapakah Dia yang dilahirkan itu? Semua ini adalah rahasia. Selain itu, kita yang percaya kepada Kristus pun adalah rahasia. Hari ini kita semua duduk di sini tanpa alasan yang khusus, dan kita begitu akrab seorang terhadap yang lain, menyanyi, berseru, berdoa, dan bersyafaat. Mengapa kita melakukan hal ini? Kita hanya dapat mengatakan bahwa ini adalah suatu rahasia. Anda berkata bahwa Anda mengasihi Kristus, namun Anda belum pernah melihat Dia. Bagaimana Anda dapat mengasihi Dia, jika Anda tidak pernah melihat Dia? Ini juga suatu rahasia. Jika Anda mengatakan bahwa Kristus adalah persona yang ajaib yang tinggal di dalam Anda, apa yang Anda maksudkan? Semuanya ini adalah rahasia! Sebab itu, seluruh zaman gereja, yaitu zaman anugerah, adalah zaman rahasia.
HAYAT ADALAH SUATU HUKUM
Roma 8:2 membicarakan hukum Roh hayat. Hayat ini bukanlah hayat manusia; juga bukan hayat binatang atau hayat tumbuh-tumbuhan. Ini adalah hayat Allah yang unggul. Di alam semesta, bentuk hayat yang paling rendah adalah hayat tumbuh-tumbuhan. Yang lebih tinggi dari hayat tumbuh-tumbuhan adalah hayat binatang. Yang lebih tinggi lagi adalah hayat manusia, yaitu hayat ciptaan yang tertinggi. Tetapi di atas hayat ciptaan yang tertinggi itu masih ada hayat Allah yang bukan ciptaan. Hayat ini adalah Roh hayat, dan Roh ini adalah suatu hukum, yaitu hukum Roh hayat.
Setelah Alkitab ditulis, Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di bumi, dan setiap orang dapat membacanya. Saya telah membaca Alkitab sejak muda dan sampai kini sudah berlangsung tujuh puluhan tahun. Dalam empat puluh tahun yang pertama, saya tidak mengerti hukum Roh hayat. Tidak peduli berapa banyak saya membacanya, saya tidak dapat memahaminya. Saya percaya banyak orang yang seperti saya. Saya hanya dapat mengatakan dalam Alkitab ada hal semacam itu, tetapi dalam pikiran saya tidak ada hal semacam itu. Selain itu, pikiran kita yang tercipta ini bahkan tidak memiliki kapasitas untuk memahami hal ini. Kita membaca Alkitab, dan kita tahu ada frase “hukum Roh hayat”, tetapi kita tidak tahu apa itu hukum Roh hayat. Namun, kita tidak dapat mengatakan bahwa hukum Roh hayat itu tidak ada hanya karena kita tidak mengerti tentang itu. Coba perhatikan tubuh Anda. Tubuh kita juga merupakan satu rahasia yang besar bagi kita. Suatu kali saya tinggal di rumah seorang saleh di Peking. Saat itu, ia adalah kepala bagian perawat di Rumah Sakit Peking, rumah sakit yang paling terkenal pada saat itu. Ia mengajak saya makan malam, dan semua yang ikut makan malam saat itu adalah dokter-dokter senior. Selama berbincangbincang, seorang dokter berkata, “Kita tidak dapat menyangkal bahwa secara struktural tubuh manusia terlalu misterius. Begitu misteriusnya sehingga kita tidak dapat menerangkannya. Tampaknya dalam alam semesta pasti ada satu Tuhan yang berdaulat.”
Ilmu pengetahuan hanyalah penemuan aksioma dan hukum dari gejala alam melalui metode ilmiah. Melalui mengamati fakta bahwa sebuah apel selalu jatuh ke bawah, dan tidak pernah jatuh ke atas, Newton menemukan hukum gravitasi. Saya tidak dapat percaya bahwa pada masa Paulus, ilmuwan Yunani begitu pesat berkembang sehingga manusia mengetahui apa itu hukum. Tetapi Paulus menemukan hukum yang ada secara spontan dan alami, yang disebutnya hukum Roh hayat. Setiap kali Anda berkata, “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu; aku cinta kepadaMu; aku menerima-Mu.” Mungkin Anda tidak memperhatikan apa-apa, tetapi ada sesuatu terjadi di dalam Anda. Sesuatu ditambahkan ke dalam diri Anda. Itulah Yesus, itulah Kristus, itulah Roh Kudus, itu juga Allah. Paulus berkata bahwa itu adalah suatu hayat, juga adalah suatu hukum. Hukum ini telah dicatat dalam Alkitab cukup lama, dan orang-orang Kristen yang menuntut telah membacanya berkali-kali. Tetapi jarang sekali orang membicarakan hal ini. Karena terang kebenaran Tuhan di antara kita makin lama makin kuat, kita makin lama makin jelas terhadap hal ini. Kira-kira lima belas tahun yang lalu, saya mulai berbicara tentang hukum Roh hayat kepada orang-orang.
HUKUM-HUKUM MANUSIA
Hari ini adalah zaman ilmu pengetahuan, dan setiap orang di antara kita tahu apa itu hukum. Hukum adalah suatu kekuatan yang alami, berkaitan dengan insting atau naluri, dan spontan. Hukum Roh hayat seperti yang digambarkan oleh Paulus pada prinsipnya juga demikian. Hukum Roh hayat ini ada dengan sendirinya, dan beroperasi di dalam kita secara spontan dan berfungsi secara naluriah. Dalam Roma 6 Paulus berkata bahwa Allah memberikan hukum Taurat untuk menyingkapkan keadaan yang sebenarnya dari manusia. Begitu manusia ditaruh di bawah hukum Allah, segera mengalami penghukuman hukum itu. Namun, setiap orang yang takwa kepada Allah dan ingin bebas dari dosa, berusaha memelihara hukum Allah, dan menyenangkan Allah. Paulus sendiri tidak terkecuali. Ketika ia sedang berusaha sebisanya memelihara hukum Allah dan menghindari dosa dan kejahatan, ia menemukan bahwa dalam anggota-anggota tubuhnya ada hukum lain yang berperang melawan hukumnya yang ingin berbuat baik. Akhirnya, ia melakukan apa yang tidak ingin ia lakukan, dan ia tidak bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ia berkata, “Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku” (Rm. 7:20). Sepertinya Paulus melepaskan tanggung jawabnya ketika ia berkata demikian. Ia berkata bahwa dalam anggota-anggota tubuhnya, yakni di dalam dagingnya, ada satu hukum lain, hukum dosa dan maut, yang selalu berperang dengan hukum kebaikan yang ada di dalam pikirannya, dan yang menawannya, membuatnya melakukan apa yang tidak dikehendakinya. Setiap saat dia dikalahkan oleh hukum ini, dan ia memang manusia yang celaka.
Para filsuf China juga telah menemukan bahwa dalam diri manusia ada peperangan antara rasio dengan nafsu. Dengan kata lain, dalam diri manusia ada satu bagian yang beralasan, tetapi ada bagian lain yang memiliki nafsu jahat; bagian itu selalu berperang dengan bagian rasio yang beralasan. Rasio selalu dikalahkan oleh nafsu. Ambillah permainan mahyong sebagai contoh. Orang yang sudah kecanduan dapat berjudi selama tiga hari tiga malam. Semakin lama mereka bermain, semakin kecanduanlah mereka. Mereka bahkan bisa bermain terus tanpa makan atau tidur, dan tidak ada yang bisa mengendalikan dirinya. Itu seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 7, dalam daging kita berdiam hawa nafsu atau kejahatan yang tidak dapat kita taklukkan atau kita pahami. Karena itu, kita dapat nampak bahwa yang dikatakan filsuf China sangat mirip dengan perkataan Paulus.
Sebab itu, kita dapat melihat bahwa ada hukum Allah di luar diri kita yang menyingkapkan keadaan kita yang sebenarnya. Ada pula hukum kebaikan yang diciptakan oleh Allah di dalam diri kita sebagai manusia, yang menuntut kita agar menyenangkan Allah. Selain itu, dalam daging kita yang jatuh, ada hukum dosa dan maut, yang berperang dengan hukum kebaikan di dalam pikiran kita dan yang menawan kita. Hukum Allah yang di luar kita bersifat obyektif, dan hukum kebaikan seperti halnya hukum dosa dan maut yang di dalam kita bersifat subyektif. Kedua hukum ini di dalam kita selalu berperang satu sama lain. Itulah sebabnya Paulus menjerit, “Aku manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Akhirnya, ia menemukan sesuatu yang lebih besar dan lebih ajaib. Ia berkata, “Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita,” ia mendapatkan kelepasan.
PENEMUAN HUKUM ROH HAYAT
Paulus menemukan bahwa setelah manusia beroleh selamat, Allah Tritunggal masuk ke dalam manusia. Ketika Allah Tritunggal masuk, Ia masuk menjadi hayat manusia. Hayat ini adalah satu hukum, yaitu hukum Roh hayat. Hukum ini tidak ada di dalam pikiran manusia atau di dalam daging manusia, melainkan di dalam roh manusia. Pada mulanya ketika Allah menciptakan manusia, Allah memberi manusia bukan hanya jiwa dan tubuh, tetapi juga menciptakan roh di dalam bagiannya yang paling dalam. Roh adalah bagian manusia yang paling tinggi dan paling unggul. Paulus menemukan bahwa ketika ia percaya kepada Tuhan Yesus, Allah Tritunggal masuk ke dalam rohnya untuk menjadi hayatnya. Hayat ini dalam rohnya adalah suatu hukum. Bila ia mengasihi Tuhan, berdoa kepada-Nya, dan mendekati Dia, hukum ini beroperasi secara otomatis. Kita yang memiliki pengalaman yang sama dapat bersaksi tentang fakta ini. Kapan saja dan di mana saja, asalkan kita mendekati Allah dan berseru kepada-Nya, dalam bagian kita yang terdalam akan bangkit satu hasrat untuk menyenangkan Allah dan menjadi satu dengan Dia.
Setiap orang beriman yang sejati akan menemukan bahwa setiap kali ia mendekati Allah, dalam lubuknya ada tenaga yang spontan yang memungkinkan dia menghormati orang tuanya, rendah hati, dan tenggang rasa. Ia tidak perlu mengertakkan gigi untuk melakukan hal itu. Sebaliknya, itu adalah suatu ekspresi yang spontan. Dulu, kita suka bertengkar untuk menang. Kini kebanggaan dan kesombongan itu lenyap; kita tidak berselisih dengan orang lain lagi. Ini bukanlah sesuatu yang berasal dari kita. Sebaliknya, ini berasal dari hukum yang spontan di dalam kita yang menyuplai kita dengan hayat, hikmat, dan kuasa. Sebab itu, kita tidak perlu bertekad untuk menjadi orang baik dan menyenangkan Allah. Kita hanya perlu mendekati Allah dan bersekutu dengan Dia. Dengan spontan di dalam kita akan ada kuasa hayat yang membuat kita dapat menempuh hidup yang menyenangkan Allah. Ini dapat dibandingkan dengan pencernaan dalam tubuh manusia. Begitu makanan masuk ke dalam kita, kita tidak perlu bergumul dan berjuang. Dengan spontan ada satu hukum yang melakukan pekerjaan pencernaan dengan lembut dan perlahan, membuat makanan itu menjadi gizi dan unsur penyusun diri kita.
OPERASI HUKUM ROH HAYAT
Roma 8:1-13 adalah satu bagian yang membicarakan hukum Roh hayat. Ayat 14-30 adalah bagian yang lain yang membicarakan keperluan anak-anak Allah untuk mengalami penderitaan sebelum mereka dapat dimuliakan dan dapat menjadi ahli waris yang sah. Itulah sebabnya kita sulit menghindar dari penderitaan dan keluhan. Bukan hanya kita sendiri mengeluh, tetapi seluruh ciptaan mengeluh juga. Seluruh ciptaan dan kita semuanya menderita sakit bersalin dan mengharapkan penyataan anak-anak Allah. Alam semesta adalah perempuan yang sakit bersalin, bekerja untuk menghasilkan anak yang korporat. Anak yang korporat ini adalah Yesus Kristus dan saudara-saudara-Nya. Ia adalah yang sulung, dan saudara-saudara-Nya adalah anak-anak yang banyak itu. Suatu hari anak-anak Allah akan dinyatakan. Kemudian seluruh ciptaan dari alam semesta akan menikmati kemerdekaan yang sempurna. Ketika anakanak Allah dimuliakan, mereka akan menjadi ahli waris Allah untuk mewarisi warisan Allah. Itu akan menjadi waktu pemulihan segala sesuatu.
Hari ini, kita ada di dalam proses bersalin ini. Bukan hanya seluruh makhluk ciptaan mengeluh, bahkan kita yang sudah memiliki Roh di dalam kita sebagai buah sulung Roh juga mengeluh. Ini karena kita belum masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Tubuh kita belum ditebus, dan kita belum sepenuhnya menerima keputraan. Kita menunggu kedatangan Tuhan kembali yang akan mengubah dan menebus tubuh kita. Pada saat itu, seluruh diri kita akan masuk ke dalam kemuliaan dan akan dilepaskan dari perbudakan kebinasaan untuk menikmati kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
Dalam ayat 26 Paulus berkata, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhankeluhan yang tidak terucapkan.” Dari ayat itu kita nampak bahwa cara Roh itu membantu kita dalam kelemahan kita tidaklah kasar, melainkan halus. Bahkan dengan cara mengeluh. Hari ini, meskipun kita memiliki Roh itu di dalam kita sebagai buah sulung sebagai pencicipan kita, fakta bahwa kita masih dalam proses memasuki kemuliaan dan kemerdekaan yang sempurna membuat kita tidak bisa terhindar dari sering mengeluh. Bila kita lemah, tidak ada pertolongan dan tidak berdaya, kita hanya dapat mengeluh. Ketika kita mengeluh, Allah juga mengeluh. Ketika kita mengeluh, Roh yang adalah hukum di dalam kita dengan spontan membantu kita dan mengeluh bersama kita.
Dalam ayat 23 ada keluhan kita. Dalam ayat 26 ada keluhan Roh itu. Roh itu lebih tinggi daripada semua makhluk ciptaan. Ia Mahaada dan Mahakuasa, dan Ia sangat kaya. Tetapi ketika kita mengeluh, Ia mengeluh bersama kita. Dalam kelemahan kita, Ia datang membantu kita. Ia adalah mitra dalam kelemahan kita dan karena kita Ia menjadi sama seperti kita. Ini membuktikan persona yang datang sebagai hukum Roh hayat mengatur kita dengan cara yang sangat halus. Ia mengeluh ketika kita mengeluh. Kadangkadang, Anda memiliki beban tertentu dan masalah yang Anda bawa kepada Tuhan. Anda ingin berdoa, tetapi Anda tidak dapat berdoa sedikit pun. Anda tidak tahu apa yang harus Anda katakan, dan Anda hanya bisa mengeluh. Pada saat itu, Roh itu mengeluh juga di dalam Anda. Ketika kita lemah, Ia membantu kita dalam kelemahan kita. Sebenarnya, Ia bukanlah persona yang lemah. Tetapi karena kita, Ia membantu kita dan mau membantu memikul beban kita.
MENAATI HUKUM ROH HAYAT
Selain itu, pergerakan dan operasi hukum Roh hayat di dalam kita berlangsung sedemikian rupa sehingga sulit dikatakan apakah itu gerakan kita sendiri atau gerakan-Nya di dalam kita. Sebenarnya, operasi hukum Roh hayat di dalam kita sama dengan gerakan kita sendiri. Bila kita merasa lemah, depresi atau tertekan, dan mundur, kita dapat berdoa dan menghampiri Tuhan, dan dengan spontan akan terjadi suatu operasi yang membangkitkan kita lagi. Itulah operasi hukum Roh hayat yang berhuni di dalam kita dengan lembut. Mungkin kita merasa operasi itu berasal dari diri kita dan sulit membedakan satu operasi dengan operasi yang lain. Tetapi kita harus tahu bahwa apa saja yang berasal dari Roh itu, berasal dari hukum.
Hal yang paling mustika untuk dimiliki orang Kristen adalah hukum Roh ini. Sebab itu, kita harus memperhatikan hukum ini, memupuk perasaan batin dari hukum ini, dan hidup menurut operasi yang spontan dari hukum ini di batin kita. Dengan demikian, kita pasti memiliki hasil yang ajaib. Saya harap kalian semua mau belajar mengenal hukum ini dan mengalami hukum ini. Jangan menyalahpahaminya sebagai gerakan kalian sendiri hanya karena Ia beroperasi dengan lembut dan halus. Gerakan ini bukan sesuatu yang dari diri kita, melainkan operasi Allah Tritunggal. Kita perlu bekerja sama dengan hukum ini dan menuruti operasinya di dalam kita sehingga unsur Allah dapat bertambah di dalam kita dan kita dapat bertumbuh secara terus-menerus dalam hayat-Nya.