HASIL DARI PENYALURAN TRINITAS ILAHI SEBAGAI HUKUM ROH HAYAT DALAM KAUM BERIMAN (1)
Garis Besar dan Pembacaan Alkitab
I. Kaum beriman diselamatkan dalam hayat Kristus agar mereka dapat memerintah dalam hayat ini — Rm. 5:10, 17b.
A. Kaum beriman telah diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Putra-Nya, lebih-lebih akan diselamatkan di dalam hayat-Nya — Rm. 5:10b.
1. Dimerdekakan (terlepas) dari hukum dosa dan maut — Rm. 8:2.
2. Terlepas dari tubuh maut ini — Rm. 7:24 (bandingkan dengan Rm. 7:9-13, 21-23).
3. Terlepas dari kefanaan tubuh — Rm. 8:11, 13.
4. Terlepas dari keadaan yang umum, biasa — Rm. 6:19, 22; 12:2a.
5. Terlepas dari cara hidup yang rendah — Rm. 12:9-21.
6. Terlepas dari perpecahan — Rm. 16:17.
B. Kaum beriman memerintah dalam hayat Kristus — Rm. 5:17b.
1. Menaklukkan semua orang, perkara, dan benda yang bertentangan dengan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah — Rm. 1:17, 7; 3:23.
2. Menaklukkan musuh Allah, Iblis — Rm. 16:20.
3. Mendatangkan Kerajaan Allah — Rm. 14:17.
DUA HAYAT MENJADI SATU HAYAT
Dalam tiga berita sebelumnya kita telah nampak bahwa Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — telah melalui berbagai macam proses dan telah menggarapkan diri-Nya ke dalam diri kita, makhluk tripartit yang tersusun dari roh, jiwa, dan tubuh. Dalam menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, yang terutama adalah Ia menjadi hayat kita. Konsepsi kita biasanya mengira kita memerlukan penebusan Tuhan dan penyelamatan Tuhan. Kita tidak berpikir bahwa kita memerlukan hayat Allah, yaitu memiliki hayat Allah di samping hayat manusia kita. Ini bukan berarti kita akan menjadi Allah dan tidak lagi menjadi manusia, melainkan berarti Allah akan menambahkan diri-Nya ke dalam kita.
Bahkan jika hayat manusia kita tidak menjadi bobrok, Allah tetap tidak menghendakinya. Yang Allah kehendaki bukan hanya hayat-Nya sendiri, melainkan hayat-Nya ditambahkan ke dalam hayat manusia kita. Dengan kata lain, yang Allah inginkan adalah dua hayat menjadi satu hayat.
Dalam dunia jasmani, okulasi ranting adalah hal sederhana yang dengan sempurna melambangkan bersatunya dua hayat menjadi satu hayat. Misalnya, di sini ada pohon persik yang buahnya kecil dan pahit. Pohon persik yang lain mungkin menghasilkan buah yang besar dan manis. Jika kita mengokulasi pohon persik yang bagus dengan pohon persik yang jelek, bersatunya kedua pohon itu akan menghasilkan buah yang besar dan manis. Inilah makna okulasi. Ini bukan perkara membiarkan buah yang besar dan manis dan memangkas atau membuang buah yang kecil dan pahit, melainkan perkara mengokulasi yang besar dan manis dengan yang kecil dan pahit. Ini bukan pertukaran atau penggantian, melainkan penyatuan. Yang besar diokulasikan dengan yang kecil, dan yang kecil diokulasikan dengan yang besar. Itulah hayat yang diokulasi.
Allah tidak bermaksud melarang kita menjadi manusia. Ia tidak bermaksud membuat kita menjadi roh-roh. Allah menghendaki kita menjadi manusia-Allah, yang ke dalamnya Allah telah “diokulasikan”. Konsepsi ini tidak ada dalam diri kita. Dalam konsepsi kita, yang ada hanya diri kita, dan kita selalu menganggap diri kita tidak terlalu buruk. Namun, kita tidak cukup baik, masih memiliki cacat cela. Karena itu, kita perlu sedikit perbaikan dan berharap akan berubah menjadi lebih baik. Berubah menjadi lebih baik adalah konsepsi manusia. Sekolah mendidik orang dengan harapan manusia akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Meskipun perbaikan semacam ini dari luar tampak berhasil, pada akhirnya, orang itu akan lebih buruk daripada sebelumnya dan tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki. Allah tidak menghendaki hal ini. Ia tidak mau kita mengembangkan kebajikan kita yang baik, seperti yang dikatakan oleh tokoh tertentu, dan mencapai kebaikan yang tertinggi. Ia menghendaki kita dipenuhi dengan Allah sampai air hidup mengalir keluar dari kita seperti sungai. Itulah yang dimaksud dengan hayat ilahi ditambahkan kepada hayat insani, hayat Allah diokulasikan kepada hayat manusia, dan dua hayat menjadi satu hayat, yang menempuh hidup perbauran manusia-Allah.
MENURUTI HUKUM ROH HAYAT
Allah Tritunggal sebagai hukum Roh hayat telah dipasang atau ditaruh di dalam kita. Persoalannya sekarang adalah apakah kita bersedia menuruti dan bekerja sama dengan Dia. Dalam Perjanjian Lama, sejarah Yakub adalah lambang yang menggambarkan manusia yang penuh dengan kekuatan alamiah. Ia terlahir sebagai seorang perebut. Ketika berada di dalam rahim ibunya, ia telah berebut untuk menjadi yang pertama dengan Esau. Ia memegang tumit saudaranya dan berusaha menahannya agar tidak keluar lebih dulu. Ia adalah orang yang banyak melihat, penuh perhitungan, dan penuh siasat. Ia mengambil alih hak kesulungan dari saudaranya dengan cara menipu, dan mengelabui saudaranya dalam memperoleh berkat dari ayahnya. Kemudian, di bawah tangan pamannya, Laban, ia mengambil banyak kambing domba dengan tipu muslihatnya. Terakhir, ia malah membawa pergi dua anak perempuan pamannya beserta pembantunya. Tetapi Allah memilih dia dan menaruh dia dalam proses transformasi. Allah mendisiplin dia dan menanggulangi dia sedikit demi sedikit. Suatu kali, ketika ia hendak menyeberang Sungai Yabok, Allah datang dalam rupa manusia dan bergulat dengan dia. Pada hari itu, bukan Allah yang tidak membiarkan Yakub pergi, melainkan Yakublah yang tidak membiarkan Allah pergi. Allah menjamah pangkal paha Yakub, dan pangkal pahanya menjadi terpelecok. Allah mengubah namanya menjadi Israel. Sejak hari itu dan seterusnya, Yakub berubah. Di bawah pimpinan dan penggembalaan Allah, akhirnya ia menjadi pangeran Allah yang matang, menyembah Allah dan memberkati orang lain. Yakub perebut telah ditaklukkan sepenuhnya oleh Allah. Ia tidak lagi hidup dengan hayat alamiahnya, melainkan berada di bawah hayat Allah, dengan hayat Allah sebagai hayatnya, dan menempuh hidup bersama Allah. Yang diperhidupkannya bukan lagi Yakub, melainkan Israel. Hayat alamiahnya telah takluk kepada hayat Allah, dan ia telah membiarkan hayat Allah mengatur dia terus-menerus dari dalam. Hasilnya, ia menjadi pangeran Allah, pemenang Allah.
Saya lihat banyak orang muda duduk di antara kita di sini. Saya ingin menyampaikan beberapa patah kata kepada kalian. Saya sudah mengikuti Tuhan lebih dari lima puluh tahun. Saya mengenal Tuhan saya. Ia tidak suka menanggulangi manusia; tetapi Ia benar-benar ingin memperhidupkan hayat okulasi-Nya dari dalam kita. Ia telah mengokulasikan diri-Nya ke dalam kita; kini Ia berharap kita mau menempuh hidup berdasarkan hayat ini dan mau memperhidupkannya. Hal ini menuntut kita sepenuhnya tunduk kepada hayat Allah. Kalian semua telah diokulasikan; tetapi dalam diri kalian masih ada unsur alamiah. Karena itu, kalian memerlukan Allah menjamah pangkal paha kalian, agar hayat kalian ditanggulangi dan tidak lagi utuh, melainkan diremukkan dan mengalami transformasi atau pengubahan yang sejati. Dengan demikian, kalian akan memperhidupkan hayat okulasi Allah.
Hukum Roh hayat Allah tidak bergerak dengan tergesagesa di dalam kita. Sebaliknya, hukum Roh hayat ini beroperasi dengan spontan dan lembut. Ini dapat dibandingkan dengan cara kita makan. Di dalam kita ada hukum pencernaan. Tidak lama setelah makanan masuk ke dalam kita, pencernaan pun berlangsung, dan makanan itu menjadi gizi kita. Memang benar, kita tidak baik, tetapi kita tidak seharusnya berharap memperbaiki diri dengan cepat. Kita harus melakukan apa yang dikatakan dalam Kidung nomor 381, bait 6, “Hentikan semua daya upaya.” Kita tidak seharusnya meronta, berusaha lagi. Sebaliknya, kita harus dengan sederhana menyerahkan diri kita kepada hukum Allah. Kita harus tahu bahwa hayat alamiah kita juga merupakan satu hukum. Setelah Iblis masuk ke dalam manusia, hukum alamiah di dalam manusia menjadi menyimpang. Kita menjadi tidak mengasihi Tuhan, atau begitu mengasihi Tuhan segera berharap menjadi “santo”. Namun, kita tidak seharusnya berharap terlalu banyak. Sebaliknya, kita harus dengan sederhana membiarkan hayat okulasi itu bertumbuh dengan spontan menurut hukum hayatnya sendiri.
Suatu kali saya menanam pohon persik di kebun. Setiap hari saya menantikannya bertumbuh. Karena itu, saya menyianginya setiap hari. Tetapi pohon itu masih belum berbuah. Suatu hari, ada seorang yang ahli dalam berkebun mengunjungi saya. Saya bertanya kepadanya, mengapa pohon persik saya tidak mau berbuah. Ia berkata, “Karena Anda menyianginya terlalu bersih. Kalau Anda berhenti menyianginya, pohon itu akan berbuah.” Demikian pula hayat Allah di dalam kita. Saya mendorong Anda untuk mengasihi Tuhan, bertumbuh, dan rohani, tetapi saya tidak mendorong Anda untuk tergesa-gesa. Tergesa-gesa tidaklah sesuai dengan hukum hayat. Jika Anda tergesa-gesa, Anda akan gagal karena ketergesaan Anda.
Untuk menjadi hayat di dalam kita, Allah telah menyiapkan segalanya. Ia tidak terbatas oleh waktu. Saya adalah orang yang cepat. Dalam melakukan apa saja, saya ingin cepat. Tetapi perlahan-lahan, saya menemukan bahwa sebagai hayat di dalam saya, Allah tidak begitu. Ia tidak cepat atau tergesa-gesa. Setelah saya beroleh selamat, saya sangat senang membaca Alkitab. Sering kali saya mengikuti sidang-sidang Kaum Saudara. Mereka mengenal kebenaran dengan sangat baik. Suatu hari, salah seorang pemimpin mereka datang kepada saya dan mengatakan bahwa Allah tidak pernah cepat, dan bahwa Ia melakukan apa saja dengan perlahan-lahan. Allah berjanji bahwa Kristus akan datang, dan empat ribu tahun kemudian Kristus baru datang. Ia berkata kepada Abraham bahwa bangsa-bangsa di bumi akan diberkati karena keturunannya. Dua ribu tahun kemudian janji itu baru tergenap. Allah tidak pernah melakukan sesuatu dengan cepat. Hanya ada satu hal yang dilakukan-Nya dengan cepat, yaitu yang terdapat dalam Lukas 15, Ia berlari memeluk anak yang hilang. Dalam menerima orang dosa, Allah sangat cepat. Dalam hal-hal yang lain, Ia tidak cepat.
DISELAMATKAN DALAM HAYAT KRISTUS
Trinitas Ilahi sebagai hukum Roh hayat mengatur kita dengan cara yang lembut, menyalurkan Allah Tritunggal ke dalam kita. Hasilnya, kita akan diselamatkan dalam hayat Kristus (Rm. 5:10). Menurut Kitab Roma, sedikitnya kita terlepas dari enam hal negatif.
Dimerdekakan (Terlepas) dari Hukum Dosa dan Maut
Pertama, hukum ini menyelamatkan kita sedikit demi sedikit terlepas dari hukum dosa dan maut (Rm. 8:2). Dalam daging kita ada hukum dosa dan maut yang negatif. Hukum itu membuat kita menjadi lemah, tidak berdaya, dan sakit, bahkan mati. Hukum itu juga membuat kita menjadi lemah secara moral dan membuat kita berbuat dosa. Akibatnya, kita menjadi tidak berdaya berbuat baik, dan menjadi tidak berperasaan dalam berbuat jahat. Kini, operasi yang spontan dari hukum Roh hayat di dalam roh saya telah memerdekakan saya dalam segala sesuatu sehingga saya dapat terlepas dari hukum dosa dan maut milik Iblis yang tinggal di dalam sifat saya yang telah jatuh.
Terlepas dari Tubuh Maut Ini
Kedua, hukum Roh hayat menyelamatkan kita terlepas dari tubuh maut ini (Rm. 7:24). Tubuh kita yang jatuh disebut tubuh dosa, juga disebut tubuh maut ini. Tubuh dosa kuat dalam hal berdosa dan melanggar perintah Allah, tetapi tubuh maut ini lemah dalam hal berbuat hal-hal yang berkenan kepada Allah. Dosa memberikan kekuatan kepada tubuh yang telah jatuh untuk berbuat dosa, tetapi maut membuat tubuh yang bobrok ini benar-benar lemah dan tidak berdaya. Sebab itu, apa saja yang kita lakukan menjadi mati. Bahkan Paulus sampai menjerit, “Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Jawabannya adalah dalam hukum Roh hayat. Hukum Roh hayat ini tidak hanya dapat menyelamatkan kita terlepas dari hukum dosa dan maut, tetapi juga dapat menyelamatkan kita terlepas dari tubuh maut ini.
Terlepas dari Kefanaan Tubuh
Ketiga, hukum Roh hayat ini akan menyelamatkan kita terlepas dari kefanaan tubuh (Rm. 8:11, 13). Karena kejatuhan manusia, dosa dan maut masuk ke dalam tubuh manusia. Akibatnya, tubuh kita menjadi tubuh yang fana. Apa saja yang kita lakukan dan bagaimanapun kita melakukannya, tubuh yang fana selalu membawakan kematian kepada kita. Tetapi jika kita menuruti hukum Roh hayat, dengan spontan kita akan diselamatkan terlepas dari kefanaan tubuh.
Terlepas dari Keadaan yang Umum
Keempat, hukum Roh hayat menyelamatkan kita terlepas dari keadaan yang umum (Rm. 6:19, 22; 12:2a). Dalam diri setiap orang yang jatuh, ada rasa kasih yang alamiah terhadap keduniawian dan terhadap keadaan yang umum. Kita tidak mungkin dapat mengalahkan hal ini dengan pergumulan kita sendiri. Hanya dengan hidup menurut hukum Roh hayat barulah kita dapat diselamatkan secara bertahap terlepas dari segala sesuatu yang umum dan dari pikiran yang duniawi. Saya yakin sedikit banyak kita memiliki pengalaman ini. Semakin sering Anda bersekutu dengan Tuhan, pandangan Anda, selera Anda, dan perhatian Anda terhadap hal-hal yang umum akan sirna.
Terlepas dari Cara Hidup yang Rendah
Kelima, hukum Roh hayat menyelamatkan kita terlepas dari cara hidup yang rendah. Roma 12:9-21 menunjukkan standar hidup yang tinggi. Tidak ada kebencian, hanya ada kasih. Tidak ada keluhan, hanya ada memberi. Bahkan ada mengasihi musuh. Cara hidup yang rendah adalah iri terhadap orang lain, tidak ada kasih, hanya mengingat kekurangan orang lain, dan tidak mengampuni. Hukum dosa dan maut mendorong kita berdosa, mengasihi dunia, menjadi umum, tercemar, dan tidak berdaya berbuat baik. Akibatnya adalah kita menempuh hidup dengan cara yang rendah. Namun, hukum Roh hayat di dalam kita menghapuskan hukum dosa dan maut, menguduskan kita, dan menyelamatkan kita terlepas dari cara hidup yang rendah dan membawa kita kepada standar hidup yang tinggi.
Terlepas dari Perpecahan
Terakhir, hukum Roh hayat menyelamatkan kita terlepas dari segala macam perpecahan (Rm. 16:17). Dalam kekristenan, perselisihan karena opini manusia selalu menghasilkan kelompok-kelompok yang berbeda dan berdirinya sekte-sekte. Itu adalah perpecahan. Tetapi jika kita mau mengizinkan hukum Roh hayat mengatur kita, hukum ini, melalui peraturannya, akan menyingkirkan unsur negatif pergumulan dan perpecahan. Terlepas dari hukum dosa dan maut, dari tubuh maut ini, dari kefanaan tubuh, dari keadaan yang umum, dari cara hidup yang rendah, dan dari perpecahan adalah hasil dari kenikmatan atas penyaluran hukum Roh hayat di batin kita.
MEMERINTAH DALAM HAYAT KRISTUS
Di satu pihak, hukum Roh hayat menyelamatkan kita dalam hayat dan melepaskan kita dari segala hal yang negatif. Di pihak lain, hukum Roh hayat memungkinkan kita memerintah dalam hayat (Rm. 5:17b) dan menaklukkan segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah. Apa saja yang bertentangan dengan kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah akan ditaklukkan oleh hukum Roh hayat bila kita hidup menurut hukum ini. Dengan kata lain, hukum Roh hayat ini, oleh hayat, memungkinkan kita menjadi benar, tepat, kudus, dan terpisah dalam segala hal, dan untuk memuliakan serta mengekspresikan Allah. Itulah yang dimaksud dengan memerintah dalam hayat.
Selain itu, hukum Roh hayat ini akan memungkinkan kita menaklukkan musuh Allah, Iblis, menginjaknya di bawah kaki kita (Rm. 16:20), dan mendatangkan Kerajaan Allah, yang adalah kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus (Rm. 14:17). Jika kita hidup dalam hukum Roh hayat, kita akan menjadi benar dan tepat terhadap orang lain, terhadap perkara apa saja, dan terhadap Allah; dan hubungan kita dengan orang lain dan dengan Allah akan penuh damai sejahtera. Dengan demikian, kita akan memiliki sukacita dalam Roh Kudus, yaitu kita akan memiliki sukacita di hadapan Allah. Inilah realitas Kerajaan Allah. Semuanya ini adalah hasil dari penyaluran yang terus-menerus dan pengaturan yang tanpa henti dari Trinitas Ilahi sebagai hukum Roh hayat di dalam kita.