← Daftar isi Bagian Kesatu Penyaluran Ilahi dari Trinitas Ilahi dan Hasilnya · bab 3/21

ALLAH TRITUNGGAL YANG TELAH MELALUI PROSES RAMPUNG SEMPURNA MENJADI HUKUM ROH HAYAT

Garis Besar dan Pembacaan Alkitab

I. Roh hayat sebagai Roh yang majemuk:

A. Sebagai perbauran keilahian, keinsanian, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Kristus dengan Roh Allah menjadi minyak urapan kudus

— Kel. 30:23-25.

B. Unsur yang menyuplai dari Roh majemuk ini limpah lengkap dan unggul — Flp. 1:19b.

II. Hukum Roh hayat ini adalah Allah Tritunggal yang rampung sempurna — Why. 22:17a:

A. Menjadi hukum hayat dengan kapasitas hayat yang alami dan kekuatan hayat yang spontan — Rm. 8:2a.

B. Memerdekakan kaum beriman dari hukum dosa dan hukum maut, menyelesaikan masalah dosa dan maut bagi mereka — Rm. 8:2b.

EKONOMI KEKAL ALLAH TRITUNGGAL

Dalam Surat-surat Kiriman Paulus, dan khususnya dalam Kitab Roma, 1 dan 2 Korintus, dan Efesus, kita nampak bahwa sebelum permulaan zaman, yaitu dalam kekekalan yang lampau, Allah memiliki satu hasrat dan kesenangan. Hasrat dan kesenangan-Nya menjadi motivasi-Nya, yang membuat-Nya memiliki satu tujuan, rencana, dan pengaturan dalam kekekalan. Paulus menyebut tujuan ini, rencana ini, pengaturan ini, sebagai ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah hendak mendapatkan sekelompok orang dan menggarapkan diri-Nya ke dalam mereka sehingga Ia dapat menjadi hayat mereka dan segala sesuatu mereka, dan dapat membaurkan diri-Nya menjadi satu dengan mereka dalam hidup mereka. Dengan demikian, Ia hidup di dalam mereka, dan mereka memperhidupkan kemuliaan-Nya. Karena itu, Ia pun terekspresi.

Di satu pihak, ekspresi ini bersifat individual, dan di pihak lain, bersifat korporat. Secara individual, masing-masing orang beriman memiliki hayat Allah untuk menempuh kehidupan Allah yang mulia, yaitu kehidupan yang memperhidupkan Allah. Secara korporat, ketika orang-orang kudus berkumpul, mereka menempuh suatu kehidupan yang memuliakan Allah, yaitu hidup gereja. Ekspresi korporat ini adalah apa yang sesungguhnya didambakan oleh Allah.

Untuk merampungkan ekonomi ini, Allah harus beraspek tritunggal. Ia bukan hanya Allah, tetapi juga Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh. Kita menyebutnya Trinitas Ilahi. Bapa adalah sumber; Putra adalah ekspresi, yang ternyata di antara kita; dan Roh adalah yang menjangkau kita dan jalan masuk Allah Tritunggal ke dalam kita. Bapa ada di dalam Putra, Putra menjadi Roh itu, dan Roh itu masuk ke dalam kita menjadi realitas Allah Tritunggal. Ketika Roh itu datang, Putra juga datang, dan Bapa pun datang. Sebab itu, Roh adalah totalitas Trinitas Ilahi dan juga perampungan sempurna Trinitas Ilahi. Bapa diekspresikan di dalam Putra. Putra direalisasikan sebagai Roh. Roh adalah realitas Allah Tritunggal yang datang kepada kita dan masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Ia berbaur dengan kita dan menempuh hidup yang sama dengan kita.

PENYALURAN ILAHI DARI TRINITAS ILAHI

Dalam Perjanjian Baru, kitab pertama yang khusus membicarakan hal ini adalah Injil Yohanes. Pada permulaannya, Injil Yohanes mengatakan bahwa pada mulanya ada Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Suatu hari, Firman ini menjadi daging, membawakan anugerah dan realitas sepenuh-penuhnya (Yoh. 1:14). Selain itu, Firman ini adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Ia juga adalah ular tembaga yang ditinggikan dan menghancurkan Iblis (Yoh. 3:14). Bahkan Ia adalah biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, hayat ilahi dibebaskan dari dalam diri-Nya, dan masuk ke dalam kita, kaum beriman, menghasilkan banyak butir (Yoh. 12:24) yang digiling menjadi tepung dan dibuat menjadi roti. Roti ini adalah Tubuh Kristus.

Selanjutnya, ketika Ia masuk ke dalam kebangkitan, Ia berubah rupa dari daging menjadi Roh. Satu Korintus 15:45 mengatakan bahwa Kristus ini telah menjadi Roh pemberi-hayat. Roh ini juga adalah Roh hayat yang disinggung dalam Roma 8:2. Ini berarti Ia adalah Roh, dan Ia juga adalah hayat. Pada malam kebangkitan, Tuhan Yesus datang ke tengah-tengah murid-murid-Nya dan menampakkan diri kepada mereka. Ia memberi salam kepada mereka dan menghembuskan nafas kudus kepada mereka, agar mereka menerima Roh Kudus (Yoh. 20:19-22). Firman yang pada mulanya adalah Allah telah menjadi daging, melewati kematian, masuk ke dalam kebangkitan, dan akhirnya menjadi nafas kudus ini, yaitu Roh Kudus. Hari ini, Ia adalah Persona yang demikian di alam semesta. Ia adalah nafas kudus, Roh Kudus, Allah yang masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Jika kita menerima Dia, kita akan dilahirkan kembali; yaitu akan mendapatkan hayat Allah selain hayat kita sendiri di dalam daging. Ia adalah nafas kudus kita yang dapat kita hirup. Ia juga adalah air hidup yang dapat kita minum. Ia adalah makanan rohani dalam firman Allah yang dapat kita makan. Selain itu, kita dapat tinggal di dalam-Nya dan dapat membiarkan Dia tinggal di dalam kita. Dengan demikian, kita dapat bertumbuh, dapat menghasilkan buah hayat, dan dari diri kita akan mengalir sungai air hidup.

Ada satu kidung yang mengatakan, “Oleh Roh, dengan roh, lahir dan menyembah; Roh pun firman, bawa hayat limpah, alirkan air hayat.” (Kidung No. 450). Inilah Injil Yohanes. Ekonomi Allah sangat dalam dan tinggi, tetapi Yohanes menggunakan perkataan yang sangat sederhana untuk menjelaskan hal-hal yang dalam ini. Namun, ia tidak menjamah batas atau puncaknya. Sebab itu, sebagai tambahan bagi dia, ada Paulus. Keempat belas Surat Kiriman Paulus, yang ditempatkan setelah Injil Yohanes, membicarakan ekonomi Allah. Paulus mengatakan dengan cara yang kaya dan mendalam bagaimana Trinitas Ilahi, Bapa, Putra, dan Roh melalui banyak proses untuk datang kepada kita, beserta dengan kita, dan bahkan masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Ia hidup di dalam kita sehingga kita dapat menjadi sarana bagi-Nya untuk diperhidupkan. Ketika kita berkumpul, kita adalah gereja, menempuh kehidupan yang memuliakan Allah dan mengekspresikan Allah.

EMPAT HUKUM

Kita dapat mengatakan bahwa hal utama yang dibahas dalam Surat Kiriman Paulus adalah rahasia penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi. Pada awal Kitab Roma, Paulus berbicara dengan sederhana mengenai penciptaan langit dan bumi oleh Allah. Setelah Ia menciptakan manusia, manusia jatuh di hadapan Allah dan memiliki sejarah dosa. Kemudian Allah memberikan hukum Taurat untuk menyingkapkan keadaan manusia yang berdosa di hadapan-Nya. Di bawah penghukuman Allah, manusia tampak bobrok dan kasihan. Syukur kepada Allah, Kristus datang dan merampungkan penebusan untuk kita. Ia bangkit dalam kemuliaan Bapa, dan Ia menyelamatkan kita dari dosa dan maut, sehingga kita dapat hidup dalam kebaruan hayat Allah. Inilah yang dibahas dalam Roma 1-6. Dari pasal 7 dan seterusnya, Paulus mulai membicarakan rahasia ini dengan mendalam.

Hukum Kebaikan di Dalam Pikiran

Ia memberi tahu kita bahwa pada Allah Tritunggal — Bapa, Putra, dan Roh — Bapa ada di dalam Putra, Putra telah menjadi Roh, yang adalah Roh hayat, dan Roh hayat ini memiliki hukum. Kita tahu bahwa bila kita melemparkan satu benda ke udara, benda itu akan jatuh ke bawah dengan sendirinya. Ini karena gaya tarik bumi, yang merupakan satu hukum. Berdasarkan pengalaman rohaninya, Paulus menemukan bahwa di alam semesta ini ada satu hukum, yaitu hukum Roh hayat. Roma 7 dan 8 menyajikan penjelasan yang benar-benar jelas tentang hukum ini. Dalam kedua pasal ini disebutkan empat hukum. Yang pertama adalah hukum kebaikan di dalam pikiran manusia. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya, yaitu menurut apa adanya Dia: kasih, terang, kudus, dan benar. Karena itu, manusia yang diciptakan-Nya serupa dengan Dia, memiliki kasih, terang, kudus, dan benar di batinnya. Satu-satunya perbedaan adalah kasih-Nya, terang-Nya, kudus-Nya, dan benar-Nya bersifat ilahi, sedangkan kasih kita, terang kita, kudus kita, dan benar kita bersifat insani. Manusia diciptakan Allah secara demikian, memiliki hayat insani dan hukum hayat insani ini.

Setiap makhluk hidup memiliki hukum hayatnya. Misalnya, bila pohon persik berbuah, tentu pohon itu akan menghasilkan buah persik. Ini adalah hukum pohon persik. Pohon persik menghasilkan buah persik, pohon apel menghasilkan buah apel. Kucing melahirkan kucing, dan anjing melahirkan anjing. Setiap hayat memiliki hukumnya sendiri. Hayat manusia diciptakan oleh Allah, merupakan hayat tertinggi di antara semua makhluk ciptaan. Tentu saja hayat ini juga memiliki hukumnya. Meskipun nenek moyang kita berdosa dan telah membuat manusia jatuh ke dalam dosa, di lubuk batin kita masih ada kasih, terang, kudus, dan benar. Kita tidak ingin salah, dan kita tidak ingin berada dalam kegelapan. Kita ingin berbuat baik, dan kita ingin bertindak dalam terang. Ini menunjukkan bahwa manusia memang ingin berbuat baik. Di satu pihak, kita bobrok. Di pihak lain, kita masih ingin berbuat baik. Jauh di lubuk batin kita masing-masing ada hati untuk berbuat baik. Inilah yang dimaksud Paulus dengan hukum kebaikan di dalam pikiran kita.

Hukum Dosa di Dalam Daging Manusia

Kedua, dalam daging manusia ada hukum dosa. Setelah manusia jatuh karena makan pohon pengetahuan baik dan jahat, ada hukum lain dalam dagingnya. Hukum ini juga hayat, tetapi bukan hayat Allah, bukan pula hayat manusia, melainkan hayat jahat si Iblis. Ketika hayat ini masuk ke dalam manusia, hayat ini memiliki sifat Iblis, dan membawa hukum lain, yaitu hukum kejahatan dan dosa. Dalam Roma 7:19-21 Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini. Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.” Selanjutnya, hukum ini terusmenerus berperang dengan hukum kebaikan yang ada di dalam pikiran Paulus, membuatnya menjadi tawanan dan membuatnya melakukan kejahatan (Rm. 7:23).

Hukum Allah

Ditinjau dari penciptaan Allah, kita semua baik. Tetapi ditinjau dari kejatuhan manusia, kita semua jahat. Di antara filsuf China kuno ada yang berkata, sifat manusia itu baik, dan yang lain berkata bahwa sifat manusia itu jahat. Sebenarnya keduanya benar. Dalam manusia yang jatuh, ada dua hukum yang saling bertentangan ini, yang satu memaksanya berbuat baik, dan yang lain memaksanya berbuat jahat. Namun, manusia belum tentu mengenali dirinya secara demikian. Sebab itu, Allah memberikan hukum Taurat, yaitu Sepuluh Perintah, yang menyingkapkan keadaan manusia yang sebenarnya. Hukum dari Sepuluh Perintah itu adalah hukum jenis ketiga. Ringkasan atau kesimpulan dari hukum ini adalah Allah itu Allah yang kasih, terang, kudus, dan benar. Ia melarang manusia menyembah berhala, dan Ia menyuruh manusia menghormati orang tuanya, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzina, atau jangan mengingini barang sesamanya. Dengan kata lain, Ia menginginkan manusia memiliki kasih, terang, kudus, dan benar. Allah memakai hukum ini untuk menyingkapkan manusia dari luar. Setelah manusia disingkapkan, ia menjadi rela berjalan oleh hukum Allah. Namun, bila ia memutuskan memelihara hukum Taurat, ia menemukan bahwa hal itu tidak tergantung pada dirinya. Ia gagal, dan ia menjadi tawanan Iblis, melakukan apa yang tidak dia kehendaki. Ia ingin mengasihi, tetapi malah membenci. Ia ingin di dalam terang, tetapi malah berada di dalam gelap. Ia ingin menjadi kudus, tetapi malah tercemar dengan keduniawian. Ia ingin menjadi benar, tetapi malah menjadi tidak adil dan tidak benar. Sebab itu, Paulus menarik kesimpulan: “Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak” (Rm. 7:18b). Ia juga berkata, “Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Rm. 7:24).

Hukum Roh Hayat

Paulus akhirnya mengenali dirinya sendiri. Tetapi ia tidak mau berhenti sampai di situ. Ia menemukan bahwa di dalam dirinya masih ada hukum yang keempat. Yang pertama adalah hukum kebaikan di dalam pikiran manusia. Yang kedua adalah hukum kejahatan (dosa) di dalam daging manusia. Yang ketiga adalah hukum Allah yang diberikan oleh Allah yang di luar. Yang keempat hanya ada di dalam orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu hukum Roh hayat. Karena kita adalah makhluk ciptaan, kita memiliki hukum kebaikan yang insani. Karena kita sudah jatuh, kita memiliki hukum kejahatan dari Iblis. Karena kita ada di hadapan Allah, kita juga memiliki hukum Allah. Sebelum percaya kepada Tuhan, di dalam kita hanya ada tiga hukum ini: satu di dalam pikiran, yang ingin berbuat baik; satu di dalam daging, yang memaksa kita berbuat jahat; dan satu di luar kita, yang menuntut kita. Allah menuntut kita memiliki kasih, terang, kudus, dan benar, tetapi kita tidak dapat memilikinya. Karena itu, kita bertobat, mengaku dosa-dosa kita, dan percaya kepada Tuhan Yesus. Begitu kita percaya kepada-Nya, Allah masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Hayat ini memiliki hukum. Hukum ini bukan hukum kebaikan, juga bukan hukum kejahatan, juga bukan hukum Allah yang di luar manusia, melainkan hukum Roh hayat. Hukum Roh hayat ini adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Persona yang hidup dari Allah Tritunggal adalah hayat kita di batin kita. Hayat ini memiliki hukum, yang disebut hukum Roh hayat. Hayat, Roh, dan hukum — ketiganya adalah satu hal. Hukum ini adalah Roh, dan Roh ini adalah hayat.

ROH HAYAT SEBAGAI ROH YANG MAJEMUK

Keluaran 30:23-25 membicarakan minyak urapan kudus yang majemuk. Minyak urapan kudus yang majemuk terbuat dari satu hin minyak zaitun dengan empat macam rempah-rempah. Satu hin minyak zaitun melambangkan Allah yang unik. Minyak zaitun melambangkan Roh Allah yang mengalir keluar karena tekanan kematian Kristus. Minyak zaitun itu adalah dasar dari minyak urapan, unsur dasar yang kemudian dicampur dengan rempah-rempah. Keempat macam rempah-rempah melambangkan keinsanian dalam ciptaan Allah dengan kemustikaan kematian Kristus, kemanisan dan khasiat kematian-Nya, kebangkitan Kristus, kuasa dan keharuman kebangkitan-Nya. Karena itu, minyak urapan majemuk itu melambangkan Roh yang dihasilkan dari kematian dan kebangkitan Tuhan. Dalam Roh ini ada keilahian, keinsanian, kematian Tuhan, kebangkitan Tuhan, dan penebusan Tuhan. Unsur penyuplai dari Roh yang majemuk ini sungguh limpah lengkap dan unggul (Flp. 1:19b).

HUKUM ROH HAYAT INI ADALAH

ALLAH TRITUNGGAL YANG RAMPUNG SEMPURNA

Hari ini, kita orang-orang dosa hanya perlu bertobat, percaya kepada Tuhan Yesus, dan menyeru nama-Nya. Roh pemberi-hayat yang majemuk dan almuhit ini akan masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, dan akan terjadi suatu perubahan yang ajaib. Kemudian, kita akan dilahirkan kembali. Kita tidak lagi menjadi diri kita, tetapi kita akan memiliki Tuhan Yesus di batin kita. Sebelum kita beroleh selamat, kita hanyalah diri kita, orang Malaysia, atau orang China. Tetapi setelah kita beroleh selamat, meskipun kita mungkin masih seperti yang dulu, sebenarnya di dalam kita ada satu persona ditambahkan, yaitu Tuhan Yesus. Ditinjau dari susunan alamiah kita, kita semua berbeda satu sama lain. Ada orang Malaysia, orang China, dan orang Amerika. Tetapi setelah kita percaya kepada Tuhan dan beroleh selamat, ditinjau dari manusia batiniah, kita semua sama, kita adalah orang-orang yang memiliki Allah di dalam kita. Allah itu Roh, hayat, juga hukum di dalam kita. Kini, di dalam setiap orang Kristen ada satu hukum, yaitu hukum Roh yang almuhit dan pemberi-hayat yang dihasilkan dari Allah Tritunggal yang melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kematian, dan kebangkitan. Hukum Roh hayat ini adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal (Why. 22:17a).

Kita tahu bahwa sebuah pesawat terbang dapat terbang dengan mulus karena pesawat itu memiliki tenaga yang mengatasi gravitasi bumi. Jika saya berada di dalam pesawat terbang dan duduk dengan benar dengan ikat pinggang pengaman terpasang pada tempatnya, bukankah saya sangat bodoh jika saya memegang erat-erat kursi pesawat itu dan merasa takut jatuh? Demikian pula, setelah kita percaya kepada Tuhan Yesus, tidaklah benar bila kita berusaha melakukan apa saja dengan kekuatan kita sendiri. Percaya kepada Tuhan Yesus dapat dibandingkan dengan naik pesawat. Kita hanya perlu duduk dengan tenang di kursi kita. Kita tidak perlu mencoba terbang, juga tidak perlu memegang apa saja, karena bukan kita yang terbang, melainkan pesawatnya. Begitu pula dengan hal-hal rohani. Begitu kita sudah masuk ke dalam pesawat, yang adalah Kristus, kita tidak seharusnya mencoba terbang lagi. Sebaliknya, kita harus membiarkan Kristus menerbangkan kita. Kita seharusnya meninggalkan semua pergumulan dan perjuangan, membiarkan Kristus menjadi Tuhan dan segala sesuatu kita.

Menjadi Hukum Hayat dengan Kapasitas Hayat

yang Alami dan Kekuatan Hayat yang Spontan

Dalam kehidupan sehari-hari kita, kita sering berdoa kepada Tuhan, minta kemenangan dan kebangunan. Ini seperti mencoba terbang. Kita harus berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau adalah kebangunanku. Engkau adalah kemenanganku. Aku tidak dapat bangun sendiri, juga tidak dapat menang sendiri.” Jangan berdoa minta kemenangan lagi. Sebaliknya, Anda perlu seperti Paulus, memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Dalam 2 Korintus 2:14 Paulus mengatakan, “Tetapi syukur bagi Allah yang dalam Kristus selalu memimpin kami di jalan kemenangan-Nya.” Kita harus selalu mengingat bahwa kita memiliki Kristus, “pesawat terbang” kita. Pesawat terbang ini memiliki hukumnya, dan begitu hukum ini mulai beroperasi, pesawat ini terbang ke angkasa. Saya takut, secara doktrinal, kita membiarkan Kristus terbang bagi kita. Tetapi sebenarnya kita masih mencoba terbang sendiri. Inilah sebabnya kita selalu gagal.

Hukum Roh hayat dalam Roma 8 memiliki kapasitas yang beroperasi di dalam kita setiap hari untuk membangunkan kita dan memungkinkan kita menang. Saya tidak bermaksud menasihati Anda berpenyegaran pagi atau menang setiap hari berdasarkan diri sendiri. Tetapi saya ingin mengingatkan Anda tentang dua kata sederhana dalam Perjanjian Baru: “dalam Kristus”. Hari ini, Kristus sendiri adalah hukum Roh hayat di dalam kita. Kita tidak perlu disegarkan dan menang demi diri kita sendiri, dan kita tidak perlu berusaha berbuat baik demi diri sendiri. Yang perlu kita katakan adalah “Tuhan, aku cinta kepada-Mu.” Hal pertama yang perlu kita katakan setiap pagi adalah “Tuhan, aku cinta kepada-Mu. Aku persembahkan diriku kepada-Mu.” Ini sepadan dengan ajaran dalam Kitab Roma. Roma 6:13 menyuruh kita mempersembahkan diri kita kepada Allah, dan mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran kepada Allah. Jika Anda benar-benar mempersembahkan diri Anda kepada Allah dan bekerja sama dengan Dia, dalam kehidupan sehari-hari Anda, Anda akan menyadari bahwa Anda berada di dalam Kristus, dan ada satu hukum yang beroperasi di dalam Anda. Hukum ini memiliki kapasitas hayat yang alami dan kekuatan hayat yang spontan (Rm. 8:2).

Kita sangat mudah menjadi lemah dan kadang-kadang menjadi bingung. Karena itu, kita harus menyeru nama Tuhan Yesus terus-menerus. Kapan saja Anda lemah atau merasa kekurangan, Anda harus berseru, “O Tuhan Yesus.” Asalkan Anda mau berseru dengan lembut dari hati Anda dan bersekutu dengan Dia, batin Anda akan hidup. Ini adalah kehidupan kristiani kita. Dalam berita ini, saya ingin mengesankan Anda, yaitu setiap orang yang telah beroleh selamat haruslah menjadi orang yang mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Karena itu, setiap pagi ketika kita bangun tidur, kita harus memulai lagi latihan mengatakan, “Tuhan, aku cinta kepada-Mu. Aku mau mempersembahkan diriku kepada-Mu.” Anda harus melakukan hal ini setiap pagi dan melanjutkannya sepanjang hari. Bila Anda menghadapi pencobaan atau kesulitan, Anda harus secara khusus belajar berseru dari lubuk batin Anda, “O Tuhan Yesus!” Jika Anda berkontak dengan Tuhan secara demikian, batin Anda akan hidup dan dikuatkan.

MEMERDEKAKAN KAUM BERIMAN

DARI HUKUM DOSA DAN HUKUM MAUT,

MENYELESAIKAN MASALAH DOSA DAN MAUT BAGI MEREKA

Dalam kehidupan sehari-hari kita, kita sulit menghindari gesekan dengan orang lain atau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Bagaimana kita dapat mengatasi keadaan seperti ini? Jalannya adalah tidak mencari penyelesaian sendiri atau bergumul, melainkan menyeru nama Tuhan. Setiap pagi, ketika kita bangun tidur, kita harus berseru, “Tuhan, aku cinta kepada-Mu. Aku serahkan diriku kepada-Mu.” Sesudah itu, kita harus membuka Alkitab, mendoa-bacakan dua ayat. Dengan demikian, walaupun dalam kehidupan kita sehari-hari ada hal-hal yang bisa merangsang amarah kita, kita tidak akan terpengaruh; dan walaupun ada hal-hal yang bisa membuat kita cemas, kita tidak akan cemas. Inilah kehidupan orang Kristen. Jangan mengira ini terlalu mudah, dan jangan mengira ini adalah takhayul. Lebih-lebih, jangan mengira ini adalah ilusi atau khayalan dari pikiran kita. Di alam semesta hanya ada satu nama. Semakin sering Anda menyebut nama ini, Anda akan semakin merasa manis, dan Anda akan semakin sering menang. Nama ini adalah Tuhan Yesus. Jika kita menyeru nama-Nya sebentar, kita akan menjadi pemenang. Kita tidak perlu mengemis atau meminta Tuhan menolong kita. Yang perlu kita lakukan adalah mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan bekerja sama dengan Dia, membiarkan Roh hayat memiliki kesempatan untuk beroperasi di dalam kita.

Kita terlahir dalam dosa dan bertumbuh dalam maut. Hukum dosa dan maut ada di dalam kita. Tetapi kita sudah dilepaskan dari hukum dosa dan hukum maut itu. Syukur kepada Tuhan, “Sebab hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut” (Rm. 8:2 Tl.). Kita telah dilepaskan dari lingkungan Adam, dan telah dipindahkan ke dalam lingkungan Kristus. Dalam Kristus tidak ada hukum dosa dan hukum maut, tetapi hanya ada hukum Roh hayat. Kini, segalanya adalah perkara hukum. Kita tidak perlu bergumul atau meronta. Kita hanya perlu tinggal di dalam Kristus, mempersembahkan diri kita kepada-Nya, memberi-Nya kebebasan, dan menikmati Dia. Dengan demikian, Ia akan mendapatkan kerja sama kita dan akan beroperasi di dalam kita dengan spontan dan lembut. Demikian, kita akan memiliki damai, sukacita, dan kemenangan.

PERKATAAN TAMBAHAN

(1)

PERAMPUNGAN PENYALURAN ILAHI

Trinitas Ilahi telah melalui banyak proses untuk penyaluran ilahi-Nya. Pertama-tama, Ia datang dari surga yang tinggi ke bumi dan dikandung dalam rahim seorang perawan. Di sana Ia tinggal selama sembilan bulan sesuai dengan hukum hidup manusia, dan Ia lahir sebagai seorang manusia-Allah. Karena rasa iri Raja Herodes, Ia melarikan diri ke Mesir dan kemudian kembali untuk menetap di Galilea, tiggal di kota kecil Nazaret. Dengan tersembunyi, Ia hidup di sana selama tiga puluh tahun. Tidak ada yang mendengar tentang Dia atau mengenal-Nya. Ketika Ia berumur tiga puluh tahun, Ia keluar untuk menunaikan ministri-Nya, yaitu mencari dan menyelamatkan orang dosa yang hilang dan menyalurkan Allah ke dalam mereka.

Suatu hari, Ia kembali dari Yerusalem ke Galilea. Menurut pengenalan dini-Nya dan penentuan-Nya, Ia menyelamatkan orang dosa yang hilang, seorang perempuan Samaria yang amoral. Untuk hal ini, Ia sengaja melintasi daerah Samaria dan menunggu perempuan itu di Sumur Sikhar. Ia tahu bahwa perempuan itu akan mengambil air pada jam itu. Ketika Tuhan Yesus berjumpa dengan dia, Ia minta air dari perempuan itu untuk menunjukkan keperluannya yang riil. Ia berbicara tentang suami perempuan itu. Melalui hal ini Ia menjamah hati nuraninya sehingga perempuan itu mau bertobat karena dosa-dosanya. Selain itu, Tuhan menunjukkan bahwa penyembahan yang benar adalah minum Allah sebagai air hidup dan mengontak Allah, yang adalah Roh, di dalam roh. Orang-orang China menyembah dengan berlutut tiga kali, dengan kepala menyentuh tanah sembilan kali. Orang Arab menyembah dengan merebahkan seluruh tubuhnya. Tetapi Allah tidak ingin kita menyembah dengan kedua cara itu. Ia ingin kita menyembah di dalam roh dan realitas, yaitu minum Dia sebagai air hidup yang meleraikan haus. Jika kita minum air dari sumur Yakub, kita akan haus lagi. Rasa haus kita tidak mungkin bisa dipuaskan oleh air yang bumiah. Hanya karunia Allah, Yesus, sebagai air hidup yang dapat memberi kita kepuasan dalam hayat.

Sebab itu, setiap hari Tuhan, pemecahan roti yang kita adakan untuk mengingat Tuhan bukanlah suatu bentuk penyembahan, melainkan makan, minum, dan kenikmatan terhadap Allah. Tanda-tanda di atas meja itu, roti dan cawan, menandakan tubuh Tuhan yang dipecahkan bagi kita dan perjanjian baru yang ditetapkan oleh darah Tuhan, untuk kita makan, minum, dan nikmati. Kita melakukan hal ini untuk mengingat Tuhan (Mat. 26:26-28; Luk. 22:19). Sebab itu, Tuhan memang ingin kita mengingat Dia. Tetapi Ia tidak ingin kita berlutut dan memikirkan Dia secara diamdiam. Sebaliknya, Ia ingin kita membuka diri dan mengontak Dia dengan roh kita, makan dan minum Dia di dalam roh. Inilah peringatan yang benar terhadap Dia.

Dalam berita-berita yang lalu kita telah nampak bahwa dalam kekekalan lampau Allah memiliki ekonomi. Untuk merampungkan ekonomi ini, Ia melalui banyak proses agar dapat menyalurkan diri-Nya kepada kita. Dari inkarnasi-Nya sampai Ia menjadi Roh pemberi-hayat, setiap langkah yang ditempuh-Nya adalah untuk merampungkan penyaluran-Nya. Ambillah penyaliban sebagai contoh. Manusia menggantung Dia di salib selama enam jam. Dalam tiga jam yang pertama, Ia dianiaya demi melaksanakan kehendak Allah. Dalam tiga jam yang terakhir, Ia dihakimi Allah demi merampungkan penebusan bagi kita. Kematian ini memang suatu proses yang merampungkan banyak pekerjaan. Setelah itu, Ia masuk ke dalam kematian dan alam maut. Pada hari ketiga, Ia bangkit. Ini adalah proses yang lain. Begitu Ia masuk ke dalam kebangkitan, Ia ditransfigurasi menjadi Roh pemberi-hayat. Sejak saat itu, semua proses yang harus ditempuh-Nya sudah lengkap.

Seluruh Injil Yohanes mewahyukan hal ini kepada kita dengan jelas. Pada permulaan kitab ini dikatakan bahwa pada mulanya ada Firman, dan Firman itu adalah Allah. Firman itu menjadi daging. Kemudian dikatakan bagaimana manusia-Allah Yesus yang berinkarnasi hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Pada akhirnya, Ia disalibkan dan masuk ke dalam alam maut; setelah itu, Ia keluar lagi dan masuk ke dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi-hayat, yang adalah nafas kudus yang dihembuskan ke dalam murid-murid. Dengan demikian, mereka semua menerima Roh Kudus.

PENYALURAN TRINITAS ILAHI KEPADA KAUM BERIMAN

Hari ini persona yang kita percayai dan sembah adalah persona yang demikian. Ia telah menjadi Roh itu, perampungan sempurna Allah Tritunggal, dengan tujuan agar kita dapat mengambil bagian dalam penyaluran ilahi-Nya. Inilah ekonomi Allah yang misterius, yaitu menyalurkan dan mendistribusikan seluruh unsur Allah yang kaya ke dalam anak-anak Allah. Kini Allah ini telah mengalami proses dan menjadi nafas kudus, ada di mana-mana memenuhi bumi. Bahkan ketika Anda memberitakan Injil kepada orang lain, Ia ada di dalam mulut Anda dan di dalam hati Anda. Ia akan keluar dari dalam hati Anda dan akan masuk ke dalam mulut orang-orang yang mendengarkan (Rm. 10:8-9). Ia adalah Roh Kudus, Allah Tritunggal, Yesus Kristus, menjadi hayat dan segala sesuatu bagi orang-orang yang percaya dan menerima Dia. Ia begitu ajaib.

Persona yang ajaib ini ada di dalam kita terutama sebagai hayat kita, beroperasi dan bekerja dengan tenang dan lembut di dalam kita. Ini dapat dibandingkan dengan hayat jasmani kita. Setiap hari, selama dua puluh empat jam, ada sesuatu yang beroperasi dengan tenang dan lembut di dalam kita. Sementara kita duduk di sini, ada sesuatu yang beroperasi di dalam kita, yaitu pencernaan kita. Namun, kita tidak merasakannya. Bila kita merasakannya, hal itu membuktikan pada diri kita pasti ada yang tidak beres. Dalam tubuh kita bukan hanya ada pencernaan, juga ada asimilasi, yang membuat unsur makanan yang sudah dicerna itu menjadi bagian dari darah kita dan menyusun unsur-unsur itu sebagai sel dan jaringan tubuh kita.

Ketika Roh Allah bekerja di dalam kita, Ia beroperasi dengan cara yang seperti itu. Ia datang kepada kita bukan hanya menjadi hayat kita, tetapi juga menjadi segala sesuatu kita, yaitu menjadi persona kita. Ia ingin tinggal di dalam kita, berumah dan menetap di dalam seluruh diri kita sehingga Ia dapat menjadi segala sesuatu kita. Sepanjang hari Ia di dalam kita menunggu kita berpaling kepada-Nya dan menerima suplai-Nya. Ada orang yang selalu membicarakan penanggulangan Tuhan atas diri mereka dan bagaimana Tuhan menegur mereka. Tetapi dalam pengalaman saya selama lebih dari enam puluh tahun mengikuti Tuhan, tampaknya Tuhan tidak pernah menegur saya dengan begitu keras. Saya memang sering bersalah kepada-Nya. Tetapi Ia selalu bersedia menyuplai saya dan menyalurkan diri-Nya ke dalam saya. Hari ini, Tuhan benar-benar tinggal di dalam saya. Ia adalah hayat kita, segala sesuatu kita. Ia adalah persona kita, Kepala kita, Suami kita, dan Juruselamat kita. Ia ingin membuat rumah-Nya di dalam kita dan membuat seluruh diri kita menjadi tempat perhentian-Nya.

Saya merasa perlu bertanya kepada orang-orang muda yang duduk di sini di antara kita, hari ini Tuhan itu tamu atau tuan rumah di dalam Anda? Apakah Anda adalah rumah-Nya? Konsepsi alamiah kita adalah memperbaiki atau membenahi hal-hal yang negatif atau yang buruk. Setelah kita percaya kepada Tuhan, kita mengira Tuhan ada di sini untuk memperbaiki kita dan membuat kita menjadi manusia yang terhormat. Sebenarnya, bukan demikian. Sebelum beroleh selamat, kita berdosa dan berbuat kesalahan dengan mudah. Setelah seseorang memberitakan Injil kepada kita, kita sadar bahwa kita adalah orang dosa dan bahwa kita memerlukan Juruselamat. Hasilnya, kita menerima Tuhan Yesus. Ia telah mati di atas salib untuk kita dan memikul dosa-dosa kita, merampungkan penebusan dan Ia menjadi Penebus kita. Ia bahkan Juruselamat kita dari hari ke hari. Meskipun kita beroleh selamat, kita masih memiliki banyak kelemahan, hawa nafsu, dan keinginan. Pada saat yang sama, kita terus-menerus menghadapi banyak pencobaan dan penderitaan. Karena itu, kita memerlukan keselamatan-Nya setiap hari agar kita dapat menjadi orang yang hidup bersama Allah dan dapat menempuh kehidupan yang melampaui kehidupan manusia biasa.

PENYALURAN ILAHI “MENG-ALLAHKAN” KAUM BERIMAN

Lebih dari dua puluh abad yang lalu, kali pertama saya tiba di Amerika Serikat, saya berkata kepada saudara-saudara, sekalipun seandainya nenek moyang kita Adam tidak jatuh dan kita tidak berdosa, kita masih perlu dilahirkan kembali. Alasannya adalah Allah ingin memiliki banyak anak yang mempunyai hayat-Nya dan yang akan menjadi ekspresi-Nya. Meskipun Ia menciptakan manusia dengan sempurna tanpa cacat, Ia sendiri belum masuk ke dalam manusia dan belum bersatu dengan manusia. Jika manusia hanya sempurna tetapi tidak memiliki Allah di dalamnya, ia tetap belum sesuai dengan apa yang Allah inginkan. Ketika Allah menciptakan manusia, manusia berupa sebuah wadah atau bejana. Namun, manusia masih bejana yang kosong. Tujuan Allah adalah mengisi bejana ini dengan diri-Nya. Namun, sebelum Allah masuk ke dalam manusia, manusia telah tercemar dan bobrok. Karena itu, Allah datang untuk menebus dan membasuh manusia. Tetapi ini hanya prosedur, bukan tujuan Allah. Kehendak Allah yang utama adalah masuk ke dalam manusia ciptaan menjadi hayatnya agar manusia dapat memperoleh Dia, bersatu, dan berbaur dengan Dia untuk menempuh kehidupan Allah. Untuk tujuan ini, mula-mula Ia datang sebagai manusia, untuk “memanusiakan” diri-Nya. Kemudian, Ia membuat kita mengambil bagian dalam hayat-Nya, “meng-Allahkan” kita. Dengan demikian, Ia dan kita menjadi satu dan menempuh kehidupan yang sama.

Konsepsi ini tidak terdapat dalam kekristenan. Meskipun Alkitab benar-benar mengandung kebenaran ini, namun orang-orang dalam kekristenan belum dapat melihatnya. Hal ini dapat dibandingkan dengan membaca buku. Kalau dalam sebuah buku ada kata-kata yang tidak kita pahami, tidak peduli berapa banyak kita membaca buku itu, kita tidak akan dapat mengerti maknanya yang sesungguhnya, dan kita juga akan mengabaikannya. Tujuan akhir Allah adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita agar Ia dapat menjadi hayat kita dan segala sesuatu kita, sehingga pada suatu hari, kita dapat menjadi Dia. Tetapi ini tidak berarti kita dapat menjadi bagian dari ke-Allahan, dan sama dengan Allah yang unik. Kita harus tahu bahwa meskipun kita lahir dari Allah dan memiliki hayat Allah sehingga menjadi anak-anak Allah, rumah-Nya, dan keluarga-Nya, kita tidak ada bagian dalam status-Nya yang berdaulat atas segala sesuatu dan disembah sebagai Allah.

Dalam sejarah gereja, sejak abad kedua, beberapa bapa gereja yang menguraikan Alkitab memakai istilah “deifikasi”, yang berarti membuat manusia menjadi Allah. Kemudian mereka ditentang oleh orang lain dan dianggap bidah. Tetapi Yohanes 1:12-13 mengatakan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anakanak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Kita kaum beriman dilahirkan dari Allah. Yang dilahirkan dari manusia adalah manusia, dan yang dilahirkan dari Allah tentu adalah Allah. Kita dilahirkan dari Allah; karena itu, di satu aspek, kita adalah Allah. Namun, kita harus tahu bahwa kita tidak memiliki status Allah dan tidak bisa disembah oleh orang. Hanya Allah sendiri yang memiliki status Allah dan dapat disembah oleh manusia.

PENYALURAN ILAHI MEMBUAT ORANG BERIMAN

MENJADI MANUSIA-ALLAH

Konsepsi tradisional dalam kekristenan adalah Allah menghendaki kita, orang-orang yang beroleh selamat, menjadi orang-orang yang baik, rohani, dan kudus, tetapi tidak ada konsepsi yang mengatakan bahwa Allah menghendaki kita menjadi manusia-Allah. Ketika Allah menjadi daging dan datang ke bumi, Ia adalah Allah, juga manusia, manusia-Allah yang ajaib, yang memiliki keilahian dan keinsanian. Mengenai kita, kita bukan hanya diciptakan oleh Dia, tetapi kita memiliki Dia terlahir ke dalam kita, sehingga kita masing-masing memiliki hayat dan sifat Allah, dan sekarang kita adalah anak-anak Allah (2 Ptr. 1:4). Sebab itu, sebagai orang-orang yang lahir dari Allah, kita adalah manusia-manusia-Allah.

Beban saya adalah menunjukkan dengan jelas bahwa ekonomi Allah dan rencana Allah adalah membuat diri-Nya menjadi manusia dan membuat kita, makhluk ciptaan-Nya, menjadi “Allah”, sehingga Ia “dimanusiakan”, dan kita “di-Allahkan”. Akhirnya, Ia dan kita, kita dan Dia, menjadi manusia-Allah. Sebab itu, kita tidak cukup hanya menjadi orang yang baik, orang yang rohani, atau orang yang kudus. Allah tidak mencari orang-orang yang demikian. Yang Allah kehendaki hari ini adalah manusia-manusia-Allah. Allah tidak mengharapkan kita memperbaiki diri kita, karena Allah tidak menghendaki kita menjadi orang-orang yang baik. Ia menghendaki kita menjadi manusia-Allah. Ia adalah hayat kita dan segala sesuatu kita dengan tujuan agar kita dapat menyatakan Dia dan memperhidupkan Dia.

Ketika Allah menciptakan kita, Ia menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya. Kita seperti sebuah foto dari diri-Nya, yang memiliki gambar-Nya, tetapi tidak memiliki hayat-Nya. Setelah kita dilahirkan kembali, foto ini menjadilah “manusia yang sejati”, memiliki hayat dan sifat-Nya, dan menjadi sama seperti Dia. Ia adalah Allah “yang dimanusiakan”, dan kita adalah manusia yang “di-Allah-kan”. Akhirnya, keduanya menjadi satu, menjadi manusia-Allah. Inilah wahyu ilahi dari Alkitab.

Sebab itu, kita harus melatih diri kita menjadi manusia-Allah. Memperbaiki diri kita tidaklah begitu berharga. Allah bukan ingin memperbaiki manusia, melainkan melahirkan manusia. Allah melahirkan kita sehingga kita dapat menerima hayat-Nya dan sifat-Nya dan dapat bertumbuh dalam hayat-Nya. Ketika Allah bertambah di dalam kita, kita pun bertumbuh (Kol. 2:19). Agar Allah bertambah di dalam kita, kita harus melatih roh kita, karena segala perkara yang normal antara Allah dengan manusia tergantung pada roh. Semakin sering kita melatih roh kita, Allah semakin banyak beroperasi dan bertambah di dalam kita. Hasilnya, kita bertumbuh menjadi manusia-Allah yang sejati. Inilah yang didambakan oleh Allah.