MENANG ATAS PENGANIAYAAN, KEDUNIAWIAN DAN KEMATIAN ROHANI
Pembacaaa Aikitab:
Wahyu 2:8-13,17b; 3:1-5
GARIS BESAR
I. Menang atas penganiayaan, termasuk kesusahan, kemiskinan, pencobaan, pemenjaraan,
dan fitnahan dari agama Iblis yang menyimpang (rusak) -- Wahyu 2:9-108:
A. Dengan setia sampai mati, tidak mengasihi hayat jiwa --2:10 ; 12:11b.
B. Pahalanya:
1. Menerima mahkota hayat -- 2:10c.
2. Tidak akan mengalami kematian yang kedua -- 2:11.
II. Menang atas keduniawian:
A. Dalam gereja yang bergabung dengan dunia, tempat Iblis menjalankan pemerintahan di takhtanya, dan tinggal di antaranya untuk memilikinya – 2:13.
B. Menang atas keduniawian semacam ini adalah memegang teguh nama Tuhan dan tidak menyangkal iman tentang Tuhan -- 2:13
C. Pahalanya -- 2:17b:
1. Diberi makan dari manna yang tersembunyi (Kristus sebagai perawatan).
2. Diberi batu putih (untuk pembangunan dalam Tubuh Kristus), yang ditulisi nama baru, yang tidak diketahui siapapun kecuali orang yang menerimanya.
III. Menang atas kematian rohani:
A. Dalam sebuah gereja yang dikatakan hidup tetapi sebenarnya mati, yang tidak sempurna di hadapan Allah --3:1-2.
B. Menang atas kematian rohani adalah berjaga-jaga, menjaga perkara-perkara hayat yang hampir mati, dan tidak tercemar oleh noda kematian rohani -- 3:2,4.
C. Pahalanya:
1. Tidak akan diabaikan dalam kedatangan Tuhan secara rahasia yang seperti pencuri -- 3:3b.
2. Memakai pakaian putih (yang melambangkan keadaan sudah dibenarkan dan diakui oleh Tuhan dalam kemurnian hayat) dan berjalan bersama Tuhan -- 3:4-5a.
3. Namanya tidak akan dihapus dari kitab kehidupan tetapi diakui oleh Tuhan di hadapan BapaNya dan malaikat BapaNya -- 3:5b.
Dalam bab yang lalu kita nampak, bahwa kita perlu menjadi orang-orang yang menang atas kehilangan kasih yang semula dengan memberi Kristus tempat yang pertama, mengutamakan Kristus, dalam segala hal. Hilangnya kasih yang semula terlihat dalam gereja di Efesus. Ada empat butir besar dalam surat kiriman Tuhan kepada gereja di Efesus -- kasih, hayat, terang, dan kaki dian (Wahyu 2:4-5,7). Kasih, hayat, dan terang sebenarnya adalah diri Allah sendiri. Allah itu kasih (I Yohanes 4:8,16), Allah itu hayat (Yohanes 5:26; 14:6a), dan Allah itu terang (I Yohanes 1:5).
Sebenarnya, Trinitas Ilahi adalah kasih, hayat dan terang. Bapa itu kasih, Putra itu hayat, dan Roh itu terang. Bapa adalah sumber sebagai kasih, Putra adalah sungai sebagai hayat, dan Roh adalah aliran sebagai terang. Injil Yohanes dengan jelas mengatakan, "Di dalam Dia ada hidup (hayat) dan hidup itu adalah terang manusia" (1:4). Kemudian Tuhan berkata dalam Yohanes 8:12, bahwa Dia adalah terang dunia dan barangsiapa mengikuti Dia akan memiliki terang hayat. Akhirnya Alkitab mewahyukan, bahwa Bapa adalah Putra (Yesaya 9:5) dan Putra adalah Roh (II Korintus 3:17). Ini berarti kasih adalah hayat, dan hayat adalah terang. Kasih adalah sumbernya, hayat adalah sungainya, dan terang adalah aliran atau pancaran yang mencapai kita. Ini adalah tiga aspek dari satu Persona. Bapa, Putra dan Roh adalah satu, demikian pula kasih, hayat dan terang adalah satu. Kita menikmati Putra sebagai hayat ilahi, hayat kekal, hayat yang bukan ciptaan, melalui Roh sebagai terang, dan kita menjamah Bapa sebagai kasih demi Putra yang sebagai hayat. Allah Tritunggal adalah kasih sebagai sumber, hayat sebagai sungai dan terang sebagai aliran untuk mencapai kita. Setiap hari dan bahkan setiap saat kita ada di bawah sorotan terang, yang berarti kita ada di bawah pencapaian dan perawatan Allah Tritunggal untuk kenikmatan kita. Bila kita menang, kembali kepada Kristus sebagai kasih kita yang semula, kita akan menikmati Dia sebagai hayat, dan akan memancarkan terang ilahi sebagai kaki dian untuk memelihara kesaksian Yesus (Wahyu 1:9; 12:17) di tempat kita.
Kita memiliki beberapa ciri-ciri tentang para pemenang dalam tulisan Paulus, tetapi hanya rasul Yohanes dalam kitab Wahyu yang berbicara langsung tentang para pemenang. Kita telah nampak bahwa kitab Wahyu membahas dua perkara besar -- para pemenang dan Yerusalem Baru. Para pemenang berakhir pada Yerusalem Baru, dan Yerusalem Baru adalah perwujudan akhir para pemenang. Para pemenang adalah batu-batu permata, barang-barang yang berharga, yang dibangun menjadi sebuah bangunan, dan bangunan ini adalah perwujudan akhir dari semua batu permata, barang-barang yang berharga. Bangunan itu adalah perwujudan akhir, pembangunan dari semua batu permata.
Dalam permulaan kitab Wahyu, Tuhan memanggil bahan-bahan yang berharga, memanggil para pemenang. Panggilan Tuhan dalam kitab Wahyu bukanlah untuk beroleh selamat, melainkan untuk menjadi pemenang, menjadi batu permata bagi pembangunan Allah. Para pemenang adalah kaum imani Kristus yang diubah menjadi batu permata bagi pembangunan Allah. Menurut Wahyu 2:17, setiap orang imani yang telah diubah adalah batu putih, yang memiliki satu nama baru. Nama baru ini adalah nama yang diubah dari orang yang sudah diubah. Dalam Wahyu pasal 2 dan 3, para pemenang belum tampil, karena Tuhan sedang memanggil mereka. Selama berabad-abad dalam tenggang waktu antara Wahyu pasal 4-20, Tuhan telah memperoleh dan terus memperoleh sejumlah pemenang.
Dalam jaman ini, kaum imani pemenang harus membayar harga untuk terbangun bersama menjadi satu. Di antara kaum saleh dan di antara semua sekerja harus ada keesaan. Alkitab menunjukkan, bahwa akhirnya tidak ada pembangunan di antara Paulus dengan Barnabas. Mereka bersama-sama sejangka waktu, tetapi setelah sidang di Yerusalem, dalam Kisah Para Rasul 15, terjadi perpecahan antara Barnabas dengan Paulus (ayat 35-39). Apolos adalah persoalan yang lain lagi. Paulus memberitahu orang-orang Korintus, bahwa dia sudah berkali-kali menganjuri Apolos untuk datang kepada mereka. Tidak perlu diragukan, orang-orang Korintus benar-benar sedang membutuhkan bantuan, maka dia menganjuri Apolos mengunjungi mereka, tetapi Paulus berkata, "Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang." (I Korintus 16: 12). Dari sini kita dapat melihat, bahwa Apolos tidak bersatu dengan Paulus. Tetapi Paulus, Timotius dan Titus adalah satu. Ketika Paulus menyuruh Timotius dan Titus pergi, mereka segera pergi. Ketika dia meminta mereka tetap tinggal di satu tempat, mereka tinggal di tempat itu. Tetapi antara Paulus dengan Apolos tidak ada keesaan yang demikian menyenangkan, di antara mereka sedikit sekali pembangunan.
Jadi, kita dapat melihat bahwa di antara Paulus dengan Barnabas ada kekurangan pembangunan dan di antara Paulus dengan Apolos juga terdapat kekurangan pembangunan. Jika kita memperhatikan keadaan di antara orang Kristen hari ini, kita dapat nampak, bahwa tidak ada seorang pun yang terbangun bersama orang lain. Setiap orang berdiri sendiri. Para pengkhotbah ternama dalam kekristenan membangun sesuatu untuk diri mereka sendiri, tetapi siapa yang terbangun bersama orang lain? Menerima Kristus sebagai hayat untuk kelahiran ulang kita adalah awal hidup kita sebagai orang Kristen. Bertumbuh dalam hayat ini adalah langkah kedua. Kemudian, melalui pertumbuhan itu, kita diubah. Setelah diubah, kita harus terbangun bersama. Pembangunan ini adalah kesimpulannya, kesudahannya.
Dalam bab ini kita hendak membahas tiga butir penting tentang para pemenang dalam surat kiriman kepada gereja di Smirna, gereja di Pergamus, dan gereja di Sardis. Surat kiriman kepada gereja di Efesus membahas soal mengatasi perkara hilangnya kasih yang semula. Dalam bab yang lalu, kita nampak penafsiran rohani atas kehilangan kasih yang semula. Memiliki Tuhan sebagai kasih kita yang semula sebenamya berarti kita menganggap Tuhan kita sebagai yang pertama. Kita harus memberi Dia keutamaan dalam segala hal. Dalam segala hal, Dia adalah yang pertama. Jika kita tidak menjadikan Dia sebagai yang pertama dalam segala hal, kita tidak memiliki kasih yang semula.
Memiliki kasih yang semula adalah memberikan keutamaan, tempat pertama, kepada Tuhan Yesus dalam segala hal, bahkan dalam segala perkara kecil. Ketika para saudara membeli sebuah dasi, mereka perlu memberikan keutamaan kepada Kristus. Ketika para saudari pergi berbelanja, mereka perlu memberi Kristus tempat yang pertama. Ketika koran hari Sabtu beredar (di Amerika Serikat), beberapa saudari senang membacanya untuk melihat tempat-tempat yang mengadakan obralan. Melakukan hal itu berarti mereka tidak memberi Tuhan keutamaan. Mereka tidak membiarkan Tuhan memiliki tempat yang pertama dalam perbelanjaan mereka. Jika kita memerlukan sesuatu, kita harus pergi ke toko untuk membeli barang itu dan langsung pulang. Para saudari perlu menang atas godaan dari toko serba ada (department stores).
Kepada gereja di Efesus Tuhan mewahyukan, bahwa jika kita hendak menang atas segala keadaan dan menjadi seorang pemenang yang sejati, kita harus memberi Tuhan keutamaan dalam segala hal. Kemudian kita akan menjadi orang-orang yang menikmati Tuhan sebagai pohon hayat. Pertama, kita memiliki kasih, lalu kita memiliki hayat. Kemudian, secara korporat kita akan menjadi kaki dian yang memancarkan terang ilahi. Jadi, kita memiliki keempat hal ini – kasih, hayat, terang, dan kaki dian. Inilah wahyu dalam surat kiriman yang pertama, yang ditujukan kepada gereja di Efesus.
I. MENANG ATAS PENGANIAYAAN,
TERMASUK KESUSAHAN, KEMISKINAN, PENCOBAAN, PEMENJARAAN,
DAN FITNAHAN DARI AGAMA IBLIS YANG MENYIMPANG/RUSAK
Surat kiriman kedua ditulis kepada Smirna. Surat ini mewahyukan, bahwa kita perlu menang atas penganiayaan, termasuk kesusahan, kemiskinan, pencobaan, pemenjaraan dan fitnahan dari agama Iblis yang menyimpang/rusak (Wahyu 2:9-10a). Smirna secara mendasar menunjukkan kepada kita satu hal -- penganiayaan. Apakah kita mengasihi Tuhan? Apakah kita memberiNya keutamaan dalam segala hal? Kalau ya, kita harus bersiap untuk mengalami penganiayaan.
Penganiayaan akan datang kepada kita dari banyak aspek. Penganiayaan yang menimpa seorang saudara mungkin berasal dari istrinya. Ketika dia tidak mengasihi Tuhan dan tidak menaruh Tuhan sebagai yang pertama dalam segala sesuatu, dia tidak ada persoalan dengan istrinya. Tetapi ketika dia mulai mengasihi Tuhan dengan memberiNya keutamaan dalam segala hat, istrinya merasakan dia sudah berbeda. Kini suaminya memberi keutamaan kepada seseorang yang bukan dirinya.
Di kampung halaman saya, Chefoo, ada seorang saudara yang bekerja di pabean Cina dan menerima gaji yang besar. Dia sangat duniawi, dan istrinya sangat senang mendampinginya dalam mencari hiburan duniawi. Namun, suatu hari dia mulai mengasihi Tuhan, memberiNya keutamaan. Dia memberi Tuhan tempat yang pertama dalam segala hal. Dirinya mengalami perubahan besar. Akibatnya, istrinya menjadi sangat tidak senang, karena suaminya tidak lagi menginginkan barang-barang dunia.
Karena saudara ini memiliki perubahan yang positif terhadap Tuhan, dia ingin mengundang beberapa saudara ke rumahnya untuk bersekutu. Dia memberitahu istrinya, bahwa dia akan mengundang beberapa orang saudara ke rumah mereka untuk makan malam. Saya adalah salah seorang yang diundang. Kami semua pergi dengan gembira ke rumah saudara itu untuk bersekutu. Ketika kami duduk makan, istrinya menghidangkan sisa-sisa makanan yang sudah dingin kepada kami. Saudara itu merasa menderita karena hal itu sehingga dia menangis. Namun, kami tidak terpengaruh melihat keadaan itu, dan makan masakan yang dihidangkan di depan kami dengan penuh sukacita untuk menunjang saudara kami. Saudara itu sangat menderita karena istrinya, akibat keputusannya untuk menjadikan Tuhan yang pertama dalam segala hal.
Ada orang tua menganiaya anak-anak mereka karena kasih anak-anak mereka kepada Tuhan, dan ada anak-anak menganiaya orang tua mereka, karena kasih orang tua mereka kepada Tuhan. Mertua mungkin menganiaya menantunya, karena menantunya mengasihi Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan berkata, bahwa orang yang menaruhNya di tempat pertama akan dimusuhi oleh seisi rumahnya (Matius 10:36).
Penganiayaan yang diwahyukan dalam surat kiriman kepada gereja di Smirna termasuk kesusahan, kemiskinan, pencobaan, pemenjaraan, dan fitnahan agama Jblis yang menyimpang/rusak. Agama Iblis ini adalah sinagoge (jemaah) Iblis (Wahyu 2:9). Pada jaman Tuhan dan jaman rasul-rasul pertama, sinagoge orang Yahudi telah menjadi sinagoge Iblis dalam pandangan Allah.
Menurut sejarah, kaum saleh pada jaman gereja di Smirna mengalami kesusahan selama sepuluh hari (ayat 10). Sebagai tanda, sepuluh hari di sini menunjukkan sepuluh masa penganiayaan yang dialami gereja di bawah kaisar-kaisar Romawi, yang sudah dinubuatkan, dimulai dengan Kaisar Nero pada setengah terakhir abad pertama dan berakhir dengan Konstantinus Agung pada awal abad keempat. Sejarah Romawi memberitahu kita, bahwa Kekaisaran Romawi menganiaya orang Kristen dalam sepuluh masa.
Mungkin kita merasa, kita tidak seperti kaum saleh di Smirna. Hari ini kita memiliki pemerintahan yang baik. Tetapi penganiayaan dapat menimpa kita dari arah yang mana saja. Jadi, sebagai pencari Yesus yang penuh kasih, kita harus siap menderita. Para martir Kristus dapat menjadi martir secara jasmani. Paulus menderita sebagai martir (II Timotius 4:6). Namun, banyak orang di antara kita mungkin tidak menderita sebagai martir secara jasmani, melainkan menderita sebagai martir secara psikologis, atau menderita sebagai martir secara rohani. Saudara yang disebutkan di atas, yang dilayani dengan buruk oleh istrinya, benar-benar seorang martir di bawah penganiayaan istrinya. Dia suka menemui kami untuk bersekutu, dan kami berusaha sebisanya menunjangnya serta menghiburnya. Dalam arti yang positif, dia adalah seorang martir bagi kepentingan Tuhan. Dia tidak akan mengubah perasaannya bagi Tuhan dan dia tidak pernah berubah.
Bahkan di antara para penatua dalam gereja, mungkin terdapat pula pengalaman menjadi martir. Salah seorang saudara di antara para penatua mungkin sangat kuat, pandai mengatur orang. Dia mungkin seorang saudara yang baik, yang mengasihi Tuhan dan gereja, tetapi dia mengendalikan penatua yang lain. Penatua yang lain mungkin merasa, bahwa mereka tidak bisa berfungsi di bawah saudara semacam itu, dan mereka ingin mengundurkan diri. Mungkin ada orang bertanya kepada mereka, "Bukankah Anda mengasihi Tuhan? Bukankah Anda mengasihi gereja? Bukankah Ands memiliki perhatian yang penuh kasih bagi semua orang kudus?" Mereka akan berkata, bahwa mereka memang demikian, tetapi mereka tidak tahan melayani di bawah seorang saudara yang terlalu kuat seperti itu. Tetapi jika saudara-saudara itu mengundurkan diri, berarti mereka mengundurkan diri dari perkara menjadi martir. Mereka akan kehilangan kesempatan untuk menjadi martir, kesempatan yang mungkin tidak akan kembali dalam seumur hidup mereka. Alangkah baiknya bila para penatua itu menjadi martir di bawah saudara yang terlalu kuat, yang bagaikan seorang diktator!
Dalam tahun 1935 dan 1936, saya ditugaskan bekerja di Cina Utara. Para penatua dalam gereja di Peking tidak bisa menerima satu sama lain. Mereka sering meminta saya datang dan membantu mereka. Saya meluangkan waktu dua atau tiga hari untuk bersekutu dengan mereka, dan mereka merasa persoalan mereka bisa terpecahkan, tetapi seminggu kemudian, mereka memanggil saya lagi untuk datang dan membantu mereka, karena mereka masih tidak bisa menerima satu sama lain. Para penatua itu memiliki kesempatan untuk menjadi martir yang menang dalam hidup gereja.
Ketika rasul Paulus meminta tiga kali kepada Tuhan, agar menyingkirkan duri dari dirinya, jawaban Tuhan adalah, "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu" (II Korintus 12:9). Tuhan mengijinkan duri itu tetap ada pada diri Paulus supaya Paulus dapat menikmati Tuhan sebagai kasih karunianya yang serba cukup. Penderitaan, pencobaan, dan penganiayaan sering diatur oleh Tuhan bagi kita, sehingga kita dapat mengalami Dia sebagai kasih karunia. Maka, meskipun Paulus memohon dan memohon, Tuhan tidak mau menyingkirkan duri itu dari dirinya.
Kita tidak perlu mengelilingi dunia untuk mengalami penderitaan dan penganiayaan. Dalam gereja lokal kita juga ada penganiayaan untuk kita alami. Di depan hidup gereja ada pintu yang sempit, tetapi begitu kita menetapkan untuk masuk ke dalam hidup gereja, tidak ada "pintu belakang" dan tidak ada "pintu darurat". Pada satu aspek, semua orang kudus dalam hidup gereja menjadi para "penganiaya" kita. Ketika kita baru masuk ke dalam hidup gereja, setiap orang menyenangkan bagi kita. Itu adalah bulan madu hidup gereja kita, tetapi bulan madu itu tidak tahan lama. Setelah kita tinggal dalam hidup gereja selama beberapa tahun, kita sadar, bahwa Tuhan memakai hampir setiap orang kudus untuk menanggulangi kita.
Sebagian orang kudus memberitahu saya, bahwa mereka tidak tahan tinggal di tempat mereka, dan mereka menghendaki saya membantu mereka memilih tempat yang lebih baik. Saya selalu mengatakan, bahwa tempat yang terbaik adalah tempat yang sekarang. Tidak ada tempat yang lebih baik daripada tempat yang sekarang. Banyak orang kudus akhirnya sadar dan yakin. Mereka sadar, bahwa mereka tidak seharusnya pindah ke tempat lain berdasarkan kesenangan pribadi mereka. Jika mereka pindah ke tempat lain menurut pilihan mereka, tempat mereka yang baru itu akhirnya akan lebih buruk bagi mereka daripada tempat mereka sebelumnya. Dalam hidup gereja, kita tidak bisa menghindari "penganiayaan".
Kita perlu menang atas segala macam penganiayaan dengan setia sampai mati, tidak mengasihi hayat jiwa kita (Wahyu 2:10b; 12:11 b). Kemudian, kita akan diberi pahala mahkota kehidupan (2:10C), dan kita tidak akan mengalami kematian yang kedua (2:11).
II. MENANG ATAS KEDUNIAWIAN
Kini kita sampai kepada gereja di Pergamus (Wahyu 2:12). Sejarah memberitahu kita, bahwa gereja pada jaman Pergamus menjadi duniawi sama sekali. Kata "pergamus" dalam bahasa Yunani berarti "menikah" (menyiratkan persatuan). Ini menunjukkan, bahwa gereja di Pergamus menjadi satu dengan dunia, seperti halnya persatuan dalam pernikahan. Gereja di Pergamus menikah dengan dunia. Pernikahan ini terjadi ketika Konstantinus menyambut kekristenan sebagai agama negara pada awal abad keempat. Tuhan menyuruh kaum saleh menang atas keadaan yang duniawi itu. Jika mereka menang, Dia akan memberi mereka makan manna yang tersembunyi (Wahyu 2:17).
Ketika bani Israel mengembara di padang belantara, selama empat puluh tahun, setiap pagi, Allah memberi mereka makan dengan manna secara umum. Tetapi Musa juga menyuruh mereka mengambil sedikit manna, menaruhnya dalam sebuah buli-buli emas dan meletakkan buli-buli emas itu dalam tabut perjanjian di dalam tempat mahakudus, sebagai peringatan di hadapan Allah (Keluaran 16:32- 34). Dalam kitab Wahyu, Tuhan berjanji kepada kaum saleh yang setia di Pergamus, bahwa jika mereka tetap setia, Dia akan memberi mereka makan manna yang tersembunyi, yang melambangkan Kristus sebagai bagian khusus yang sudah diundikan kepada kaum saleh, menjadi bagian yang tersembunyi dari orang-orang yang setia.
Ketika kita dianiaya, entah oleh orang tua kita, sanak saudara kita, oleh penatua, oleh sekerja, atau oleh kaum saleh yang kekasih, dan kita tidak mau menolak atau mengundurkan diri, bahkan tetap bersama dan di dalam Tuhan dalam keadaan itu, Tuhan Yesus akan menjadi manna yang tersembunyi bagi kita. Bagian khusus atas Kristus, bagian yang istimewa, akan menjadi manna kita yang tersembunyi. Bagian khusus ini akan menjadi penunjang kita dan kekuatan kita. Bagaimana kita dapat menahan derita dan hidup dalam keadaan yang tidak memungkinkan orang lain hidup? Kita bisa menahannya karena setiap hari kita menikmati Tuhan Yesus sebagai bagian yang istimewa, manna yang tersembunyi.
Tuhan juga berjanji kepada orang-orang yang setia di Pergamus, bahwa Dia akan memberi mereka batu putih yang ditulisi nama baru (Wahyu 2:17). Jika kita tidak mengikuti gereja yang duniawi, tetapi menikmati Tuhan dalam hidup gereja yang normal, kita akan diubah menjadi batu bagi pembangunan Allah. Hari ini ada jutaan orang Kristen, tetapi sulit sekali melihat satu dari antara mereka terbangun bersama orang lain. Kita tidak terbangun bersama orang lain karena kita semua memiliki ciri-ciri yang aneh. Itulah sebabnya terjadi banyak perpecahan dan pemisahan di antara suami dengan istri. Suami dan istri tidak bisa terbangun bersama karena sifat-sifat mereka yang aneh.
Demikian pula, kita tidak dapat terbangun bersama dalam hidup gereja karena keanehan kita masing-masing. Kita semua memiliki tabiat yang khas, yang aneh. Itulah sebabnya kita perlu diubah. Kita akan terbantu bila menyanyikan lagu berikut ini (Kidung No. 347) yang menguraikan pengubahan hati dan roh kita.
Allah menghendaki kita agar s'rupa PutraNya;
karenanya Roh tiasa atas ku 'ngubah, garap.
Koor
Mohonlah tiap p'losok sukma, dengan Kau berserupa;
demilah Roh ku teresap, hingga mirip tak beda.
Oleh hayat kudus Allah, dalam roh lahir ulang,
perlu pula pada sukrna, mengubah dan menggarap.
Dari dalam rohku meluas, sukma ubah semua;
Perbarui tiap bagian, taatlah seluruhnya.
Demi kuasa Roh HayatNya, ubah sesuai petaNya;
dikit, dikit kian mulia, pri Dia baru pun segar.
Ubah, kudus, sampai rata, dewasa serupa Dia;
ubah meny'luruh di sukma, tertebus tubuh fana.
Kita memerlukan pengubahan semacam itu. Kemudian kita tidak akan alamiah lagi, dan kita akan mampu terbangun bersama. Allah menghendaki sebuah rumah, bukan potongan bahan-bahan bangunan. Allah ingin semua bahan yang individual terbangun bersama menjadi rumahNya, menjadi Tubuh-Nya. Maka hari ini keperluan kita yang mendesak adalah diubah.
Tuhan berjanji kepada para pemenang di Pergamus, akan memberi dua hal: pertama, manna yang tersembunyi untuk menunjang dan menyuplai mereka; dan kedua, batu putih, yang menunjukkan, bahwa mereka akan menjadi bahan-bahan bagi pembangunan Allah. Dalam alamiah kita, kita bukanlah batu, melainkan tanah liat. Karena kita telah menerima hayat ilahi dengan sifat ilahinya demi kelahiran ulang, maka kita dapat melalui menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita (II Korintus 3:18), diubah menjadi batu-batu, bahkan batu-batu permata (I Korintus 3:12).
Ketika Simon datang kepada Tuhan, Tuhan segera mengubah namanya menjadi Petrus, yang berarti batu (Yohanes 1:42). Dalam keempat kitab Injil, Petrus merupakan orang yang paling "sulit" di antara semua murid. Dia sangat khusus, tetapi Tuhan menanggulangi dia untuk mengubahnya. Pada masa tuanya, dia berkata dalam suratnya yang pertama, bahwa kita dipanggil menjadi batu-batu hidup untuk dibangun ke dalam imamat yang korporat, yaitu bangunan korporat sebagai rumah rohani Allah (I Petrus 2:5). Inilah yang Allah inginkan.
Hari ini Tuhan sudah menaruh kita dalam lingkungan tertentu, sehingga kita dapat belajar pelajaran pengubahan. Dalam hidup gereja, kita tidak seharusnya memiliki pilihan, juga tidak seharusnya mencoba mengadakan suatu perubahan. Kita harus tetap tinggal di tempat kita berada untuk menderita dengan penuh sukacita, sehingga kita dapat diubah. Kemudian, kita tidak akan menjadi manusia tanah liat lagi, melainkan batu, bahkan batu putih. Menjadi putih menunjukkan kita dibenarkan oleh Tuhan dan diakui olehNya, sehingga Dia berkenan terhadap kita. Ketika kita diubah, kita dapat terbangun dengan wajar dan memadai bersama orang lain. Itulah yang diperlihatkan surat kiriman untuk gereja di Smirna kepada kita.
Perkataan Tuhan kepada Pergamus menunjukkan, bahwa kita perlu mengatasi keduniawian dalam sebuah gereja yang menikah dengan dunia, tempat Iblis mengatur di takhtanya dan tinggal untuk memilikinya (Wahyu 2:13). Mengatasi keduniawian semacam itu berarti memegang teguh nama Tuhan dan tidak menyangkal iman tentang Tuhan (ayat 13). Jika kita setia untuk menang, Tuhan akan memberi kita makan manna yang tersembunyi (Kristus sebagai rawatan kita yang khusus), dan Dia akan memberi kita batu putih (untuk pembangunan dalam tubuh Kristus), yang ditulisi nama baru (menurut pengalaman baru kita atas Kristus yang khusus), yang tidak diketahui seorangpun kecuali orang yang menerimanya (ayat 17). Pekerjaan Allah membangun gereja tergantung pada pengubahan kita, dan pengubahan kita berasal dari kenikmatan kita atas Kristus sebagai manna yang tersembunyi, suplai hayat kita.
III. MENANG ATAS KEMATIAN ROHANI
Kini kita akan melihat gereja di Sardis. Gereja di Sardis melambangkan gereja-gereja Protestan hari ini. Tuhan berkata, bahwa orang-orang yang di Sardis dikatakan hidup, tetapi sebenarnya tidak hidup; mereka mati dan sekarat (Wahyu 3:1-2). Ini menunjukkan, bahwa di satu pihak, mereka sudah mati, tetapi di pihak lain, kematian mereka belum sempurna. Itulah keadaan dalam gereja-gereja Protestan hari ini.
Kira-kira dua tahun yang lalu, beberapa pemuka dalam denominasi-denominasi di Amerika Serikat membahas suatu rencana untuk menginjili seluruh dunia. Namun, mereka sampai pada satu kesimpulan, bahwa mereka tidak memiliki sumber daya manusia, yakni orang-orang yang melaksanakan hal itu. Menurut statistik baru-baru ini, saat ini ada kurang lebih 65 juta orang Protestan di Amerika Serikat, yang melebihi seperempat dari jumlah penduduk Amerika Serikat. Walaupun gereja-gereja Protestan memiliki 65 juta orang Kristen, mereka mengatakan, bahwa mereka tidak memiliki sumber daya manusia yang cukup. Itu disebabkan dalam kekristenan hari ini tidak ada kesempatan untuk mengembangkan karunia hayat kaum saleh, tetapi yang ada adalah kematian yang melenyapkan, membunuh anggota-anggota Tubuh Kristus yang berfungsi.
Dalam suatu denominasi yang besar, hanya pendeta dan beberapa asistennya atau beberapa pembantunya yang aktif. Semua anggota lainnya dianggap orang awam. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka sepanjang pekan, maka pada akhir pekan mereka menghadiri kebaktian Minggu pagi untuk beristirahat. Mereka semua biasa datang pada hari Minggu untuk mendengar pengkhotbah yang pintar (luas pengetahuannya), fasih, dan menarik. Mereka mengira hal itu sudah cukup. Namun praktik semacam itu membunuh fungsi rohani dari semua hadirin. ltulah sebabnya Tuhan memimpin kita dalam tahun-tahun terakhir ini untuk mendorong kaum saleh bernubuat (I Korintus 14:3), berbicara bagi Tuhan.
Menurut ketetapan Allah, praktik hidup gereja bukanlah satu orang berbicara dan yang lain mendengar. Praktik gereja adalah apa yang diajarkan Paulus dalam I Korintus 14. Dalam pasal itu dia berkata, bahwa kita semua dapat bernubuat seorang demi seorang (ayat 31). Kita harus berdoa agar Tuhan mengembangkan kapasitas dan kemampuan kita untuk berbicara bagiNya. Kita semua harus menjadi anggota-anggota Kristus yang hidup yang selalu berusaha berbicara bagi Tuhan dan mengutarakan Tuhan dalam sidang-sidang gereja demi pembangunan gereja sebagai Tubuh Kristus (ayat 4b) secara hidup. Kita tidak seharusnya mati atau sekarat. Kita mungkin tidak bisa menyampaikan khotbah yang panjang, tetapi sekurang-kurangnya kita dapat berbicara bagi Tuhan selama tiga menit. Kita harus menuntut untuk menjadi trampil membangun gereja (ayat 12).
Praktik hari ini dengan satu orang bicara dan yang lain mendengar, membuat gereja tidak hanya kaku, tetapi juga mati dan sekarat. Hanya sebagian kecil yang bekerja dalam kekristenan hari ini; sisanya mati dan sekarat. Kita perlu mempraktikkan sidang-sidang gereja menurut apa yang diwahyukan dalam I Korintus 14. Ayat 1 mengatakan, "Kejarlah kasih itu, dan usahakan/ah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat." Beberapa penentang mengatakan, I Korintus 14 tidak ditulis untuk semua orang kudus, melainkan untuk sekelompok nabi. Tetapi ayat 1 menunjukkan kepada kita, bahwa pasal ini ditulis untuk semua orang kudus. Kita semua harus mengejar kasih; kita semua harus mendambakan karunia rohani; dan kita semua lebih-lebih harus mendambakan karunia bernubuat (berbicara bagi Tuhan).
Jika kita tidak berbicara bagi Tuhan, kita sendiri rugi, gereja rugi, dan kepentingan Tuhan di bumi juga rugi. Semakin sering kita berbicara, semakin banyak perkataan yang dapat kita utarakan, dan kita akan menerima lebih banyak lagi untuk disampaikan. Bila kita berbicara dalam sebuah sidang, sidang itu akan sangat baik bagi kita. Tetapi jika kita tidak berbicara dalam sidang, sidang itu akan menjadi sidang yang miskin bagi kita. Bila kita bernubuat, kita membangun diri kita, kita menyempurnakan orang lain, dan kita membangun Tubuh Kristus. Jika seratus orang kudus bersidang pada hari Minggu, dan tiga puluh orang di antara melatih roh mereka untuk berbicara bagi Tuhan, sidang itu akan sangat segar dan hidup. Bernubuat semacam itu akan membuat gereja hidup dalam segala hal melalui setiap anggota.
Lebih dari tujuh tahun yang lalu, kita sudah menekankan, bahwa kita perlu menempuh jalan yang ditetapkan oleh Allah. Kita perlu bangkit untuk mempraktikkan imamat Injil Perjanjian Baru, yaitu memberitakan Injil dengan mengunjungi orang secara teratur, untuk membawa orang beroleh selamat. Kemudian sepanjang waktu kita akan membaptiskan orangorang baru ke dalam hidup gereja. Jika kita mempraktikkan imamat Injil, seluruh gereja akan menjadi aktif dan hidup.
Lalu kita semua harus mengemban beban untuk memberi makan orang-orang yang masih muda, merawat bayi-bayi yang baru lahir dalam Kristus. Jika kita berjerih lelah di dalam Tuhan menurut jalan yang ditetapkanNya, kita tidak akan ada waktu untuk bergosip. Kita tidak seharusnya menjadi "seksi penerangan" dari hidup gereja. Sebaliknya, kita seharusnya berbicara bagi Tuhan dengan membicarakan Injil kepada orang dosa, dengan menyampaikan perkataan yang merawat orang-orang muda, dengan menyampaikan perkataan untuk menyempurnakan kaum saleh, dan dengan berbicara untuk membangun Tubuh Kristus.
Kita benar-benar tidak ingin berada dalam keadaan gereja di Sardis. Kita ingin menjadi hidup dan aktif dalam pemberitaan Injil, dalam merawat orang-orang baru, dalam menyempurnakan kaum saleh dan dalam bernubuat untuk membangun Tubuh Kristus. Kita memerlukan orang-orang baru dalam hidup gereja. Kita perlu merawat orang-orang yang baru itu sampai mereka menjadi buah yang tetap tinggal dalam hidup gereja. Kemudian kita perlu berbicara dalam sidang-sidang, untuk membentangkan pola teladan bagi orang-orang yang lebih muda. Anak-anak belajar berbicara dari orang tua mereka. Gereja harus seperti itu. Lalu dari satu generasi ke generasi berikutnya, semua orang muda akan bertumbuh dan disempurnakan untuk melakukan pekerjaan rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar (Efesus 4:11-12). Itu akan membuat gereja menjadi sangat hidup, aktif, berfungsi, dan bekerja menurut keinginan Tuhan.
Dengan demikian, kita telah nampak, bahwa kita perlu menang atas penganiayaan, menang atas keduniawian dengan mengalami pengubahan, dan menang atas kematian rohani dengan menjadi hidup. Kita harus siap untuk menderita penganiayaan yang bagaimanapun. Kita juga sudah ditentukan untuk bertumbuh supaya kita bisa diubah, agar bisa terbangun. Selanjutnya, kita harus hidup. Ketika kita menyanyi, kita harus menyanyi dengan hidup. Ketika kita berdoa, kita harus berdoa dengan hidup. Ketika kita memberitakan Injil, kita harus memberitakan Injil dengan hidup. Segala hal yang kita lakukan dalam hidup gereja harus hidup.
Saya ingin melihat pemandangan yang demikian dalam hidup gereja. Ketika kita datang ke sidang gereja, kita tidak perlu menunggu penatua untuk memulai sidang. Siapa saja dapat memulai sidang. Kita dapat memulai sidang dengan menyanyikan kidung atau dengan berdoa. Itu membuktikan, bahwa gereja itu hidup. Jika kita menunggu saudara pemuka untuk memulai sidang, hal itu menunjukkan bahwa gereja itu mati dan sekarat. Sebenarnya, sidang harus dimulai dari rumah. Ketika kita makan malam, kita dapat menyanyikan kidung bersama, berdoa dan bersekutu satu sama lain. Kemudian, ketika kita mengemudikan kendaraan menuju balai sidang, kita harus tetap melatih roh kita untuk menyanyi kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan memujiNya. Kalau kita sampai di balai sidang dalam keadaan demikian, itu adalah tanda yang kuat bahwa gereja itu hidup. Kita tidak mati, tetapi berada dalam kebangkitan, berbicara bagi Tuhan dengan cara yang hidup untuk membangun TubuhNya yang organik.