← Daftar isi Bagian Kesatu Penyaluran Ilahi dari Trinitas Ilahi dan Hasilnya · bab 17/21

MENANG ATAS MENINGGALKAN KASIH YANG SEMULA

Nembacaan Alkitab:

Wahyu 2:1-7; 12:17b; 20:4,6; I Yohanes 4:8,16; Yohanes 3:16;

I Yohanes 4:9; Roma 5:5; II Korintus 13:13; Efesus 2:4-5;

Yohanes 1:12-13; 3:3-6, 29-30; Wahyu 19:7; 21:2,7;

Efesus 5:25; Wahyu 21:9; Roma 8:35-39; II Korintus 5:14-15;

Roma 14:7-9; Wahyu 2:10; 12:11; 22:17; Yeremia 2:2; 31:3

GARIS BESAR

I. Dalam gereja:

A. Meskipun memiliki bentuk dan teratur -- Wahyu 2:2-3.

B. Tetapi telah meninggalkan kasih yang semula -- ayat 4.

II. Menang atas meninggalkan kasih yang semula — ayat 5a:

A. Kasih yang semula -- kasih yang terbaik:

1.

Kasih yang adalah diri Allah sendiri — I Yohanes 4:8,16:

a. Memberikan Anak tunggalNya kepada kita sebagai bagian kita - Yohanes 3:16.

b. Mengutus AnakNya ke dalam dunia agar kita dapat memiliki hayat dan hidup melaluiNya - I Yohanes 4:9.

c. Dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus — Roma 5:5.

d. Menjadi sumber bagi kenikmatan kita atas pembagian Allah Tritunggal — II Korintus 13:13.

2.

Sebagai kasih Bapa dalam hayat untuk melahirkan kita kembali, sehingga kita dapat menjadi anak-anakNya — Efesus 2:4-5; Yohanes 1:12-13.

3.

Anak-anak yang dilahirkan ulang oleh Allah menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus untuk membentuk Tubuh Kristus, mempelai perempuan Kristus, sebagai perluasanNya yang dikasihiNya — Yohanes 3:34,29-30; Wahyu 19:7; 21:2,7.

4.

Kristus sebagai Suami mengasihi gereja sebagai istriNya dengan kasih Bapa sebagai kasih sayang — Efesus 5:25; Wahyu 21:9; Roma 8:35,39:

a. Kasih sayang Kristus menguasai/mendesak kami untuk hidup dan mati bagi Dia — II Kor. 5:14-15; Roma 14:7-9.

b. Kasih Kristus membuat kaum imani menjadi martir bagiNya — Wahyu 2:10; 12:11; Roma 8:35-37.

B. Memulihkan kasih yang semula berarti memulihkan kasih pengantin, kasih kekal, bagi Tuhan -- Wahyu 22:17; bd. Yeremia 2:2; 31:3.

C. Bertobat dan melakukan pekerjaan yang semula dilakukan.

III. Mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat —Wahyu 2:7:

A. Terus-menerus menikmati suplai hayat Kristus.

B. Dalam hidup gereja hari ini dari Taman Firdaus Allah.

IV. Memancarkan terang ilahi sebagai kaki dian -- bd. Why. 2:5b:

A. Secara korporat dan secara individual.

B. Dalam kegelapan malam jaman gereja.

V. Memelihara kesaksian Yesus sebagai penyinaran kaki dian

di tempat masing-masing — Why. 12:17b:

A. Mempersaksikan persona Kristus sebagai Allah dan sebagai manusia.

B. Mempersaksikan penghidupan insani Kristus, penyaliban Kristus, kebangkitan Kristus, kenaikan Kristus, turunnya Kristus, dan penampakan Kristus untuk kali kedua.

C. Dalani hidup kita sehari-hari.

VI. Diberi pahala -- Wahyu 2:7:

A. Sepenuhnya berbagian dalam kenikmatan atas suplai hayat yang kaya dari Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang terproses dan tergenap.

B. Dalam kesegaran Yerusalem Baru sebagai Taman Firdaus Allah selama seribu tahun -- Wahyu 20:4, 6.

Dalam bab satu kita nampak ekonomi Allah dan kegagalan manusia. Dalam bab ini kita akan mulai bersekutu tentang segala hal yang perlu kita atasi.

MENANG ATAS AGAMA YAHUDIISME, KATHOLIKISME

DAN PROTESTANISME

Dalam ketujuh surat kiriman kepada gereja-gereja dalam Wahyu pasal 2 dan 3, tidak banyak disinggung tentang mengalahkan dosa, ego, dan dunia. Sebaliknya, Tuhan menekankan, bahwa kita perlu menang atas tiga hal, yang saya sebut tiga "isme". Setiap "isme" mengacu kepada satu agama. Di sepanjang sejarah manusia, bahkan sampai hari ini, ada tiga agama utama, tiga "isme" -- Yahudiisme, Katholikisme, dan Protestanisme.

Dalam surat kiriman kepada gereja di Smirna, Tuhan menyebut "sinagoge lblis" (Wahyu 2:9, TL.). Sinagoge adalah tanda yang tegas dari Yahudiisme. Sejak orang-orang Yahudi kehilangan bait suci mereka dan terserak ke seluruh dunia, mereka mulai menyembah Allah di tempat-tempat yang bukan bait suci. Menurut Ulangan 12, tidak ada seorang pun yang berhak menyembah Allah di mana saja selain di tempat yang dipilih Allah, tempat bait suciNya dibangun. Bait suci bisa dibangun di bumi ini hanya di atas satu tempat, yang dipilih oleh Allah. Yerusalem adalah tempat bait suci dibangun, tetapi pangeran Roma, Titus, menghancurkan bait suci itu, dan tidak meninggalkan satu. batu di atas batu yang lain (Manus 24:2). Bait suci dan kota Yerusalem benar-benar dihancurkan pada tahun 70 Masehi. Sejak saat itu, semua orang Yahudi yang terserak menyembah Allah dalam sinagoge mereka. Jadi, sinagoge adalah tanda yang kuat dari agama Yahudi. Orang-orang Yahudi malah menganggap sinagoge mereka sebagai bait suci, tetapi sebenarnya sinagoge itu bukanlah bait suci itu. Kelihatannya, orang-orang dalam sinagoge itu menyembah Allah, namun Tuhan Yesus berkata, bahwa sinagoge itu bukan berasal dari Allah, melainkan berasal dari Iblis, milik Iblis. Yahudiisme telah dirampas dan diperalat secara besar-besaran oleh Iblis untuk menghancurkan kepentingan Allah di bumi dan untuk menganiaya dan membunuh orang-orang yang setia (lihat catatan 95 dalam Wahyu 2 -- Versi Pemulihan).

Dalam surat kiriman keempat, kepada Tiatira, kita lihat "isme" yang lain,- Katholikisme. Dalam surat ini Tuhan menyebut seorang perempuan yang bernama Izebel (Wahyu 2:20). Dalam Matius 13 Dia berbicara tentang seorang perempuan yang mencampurkan ragi ke dalam tepung tiga sukat sampai khamir seluruhnya (ayat 33). Perempuan dalam Matius 13 itu adalah Izebel dalam Wahyu 2, yang melambangkan Katholikisme.

Kita bisa nampak Protestanisme dalam surat kiriman yang kelima, kepada gereja di Sardis. Tuhan memberitahu orang-orang di Sardis, bahwa mereka dikatakan hidup, tetapi sebenarnya mereka mati (Wahyu 3:1). Kekristenan Protestan mati dan sekarat. Sebagian orang mungkin menganggap Gereja Protestan yang telah direformasi itu hidup, tetapi Tuhan mengatakan, bahwa dia mati. Jadi, dia memerlukan Roh yang hidup dan bintang yang bersinar (ayat 1).

Kemudian dalam kitab ini kita bisa nampak, bahwa ketiga "isme" ini -- Yahudiisme, Katholikisme, dan Protestanisme -- adalah unsur perusak di bumi ini yang menghambat dan menyingkirkan kepentingan Allah. Dalam ketujuh surat kiriman kepada ketujuh gereja, yang Tuhan ingin kita atasi terutama ketiga "isme" ini. Ketiga agama ini didirikan dan berdasar pada firman kudus Allah, tetapi semuanya telah menyimpang dari firman kudus Allah, menjadi sesuatu yang berbeda sifatnya dengan gereja yang diwahyukan dalam firman kudus. Kita semua harus menanggapi seruan Tuhan untuk mengatasi ketiga agama ini.

Kini kita perlu membahas sejarah di balik pembentukan ketiga agama ini. Dalam Kejadian, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya dan dengan memiliki tiga bagian (salah satunya adalah roh, yang mampu berhubungan dengan Allah, menerima Allah, dan menyimpan Allah (1:26; 2:7)). Kemudian Allah menaruh manusia di depan pohon hayat, dengan maksud agar manusia mau menerima Dia sebagai hayat (2:9). Tetapi saat itu juga Iblis datang, membujuk Adam untuk memakan buah dari pohon yang salah. Pohon itu adalah pohon maut, pohon pengetahuan tentang baik dan jahat. Hal itu merusak manusia yang Allah ciptakan untuk tujuan-Nya.

Demikianlah, manusia ini, manusia yang korporat yang kita sebut umat manusia, sepenuhnya telah menjadi tubuh daging, penuh dengan nafsu. Ini diungkapkan dengan jelas dalam Kejadian 6 (ayat 3, 5- 6). Allah tidak dapat membiarkan dunia jahat semacam itu berlarut-larut, maka Dia memutuskan untuk menghakimi dunia dengan air bah. Dia menyuruh Nuh untuk membuat bahtera bagi keselamatan dia dan keluarganya dari perusakan Iblis (ayat 11-14). Kemudian Nuh menjadi permulaan baru bagi Allah. Tetapi kemudian keturunan Nuh menjadi satu dengan Iblis di Babel yang penuh dengan berhala (Kejadian 11:1-9). Demikianlah, manusia yang Allah ciptakan telah gagal sama sekali dalam menggenapkan tujuan Allah, karena menjadi satu dengan musuh Allah.

Kemudian Allah datang memanggil orang lain yang bernama Abraham. Melalui Abraham, Allah mendapatkan sekelompok orang yang dikeluarkanNya dari Mesir menuju gunung Sinai. Di sana, Allah melalui Musa memberi mereka hukum Taurat, kelima kitab Musa (Pentateukh). Kita boleh mengatakan, bahwa inilah asal usul Yahudiisme, asal usul agama Yahudi. Agama Yahudi didirikan mutlak berdasarkan firman kudus Allah, tetapi perlahan-lahan bani Israel menjadi rusak dan bobrok karena mereka meninggalkan diri Allah sebagai sumber mereka, sumber air hidup. Dalam Yeremia 2:13, TUHAN berkata, "Sebab dua kali umatKu berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air." Semua berhala adalah kolam yang bocor yang tidak dapat menyimpan air. Dua kejahatan itu adalah meninggalkan Allah dan bersatu dengan Iblis dalam menyembah berhala. Itulah dua kejahatan yang menyebabkan kegagalan umat Israel, keturunan duniawi Abraham, yang dilambangkan dengan debu tanah (Kejadian 13:16). Allah mengirim orang Babilon untuk menghancurkan Yerusalem dan bait suci, serta mengangkut orang-orang ke dalam pembuangan pada tahun 606 SM. Memang, tujuh puluh tahun kemudian Allah membawa sisa dari mereka untuk membangun kembali bait suci (Yeremia 29:10), tetapi pemulihan itu tidak bertahan lama.

Keempat kitab Injil menunjukkan kepada kita betapa jahatnya orang Yahudi ketika Tuhan Yesus datang. Seluruh tanah suci penuh dengan setan. Ke mana saja Tuhan Yesus pergi, Dia berhadapan dengan setan-setan. Tuhan Yesus menampakkan diri kepada orang Israel sebagai Gembala mereka untuk menggembalakan mereka dan bahkan sebagai Juruselamat untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka menolak Dia mentah-mentah.

Dalam Matius pasal 23 Tuhan Yesus meratapi mereka dan memberitahu mereka, "Sesungguhnya, rumahmu akan ditinggalkan dan menjadi sunyi" (ayat 38). lni menunjukkan bahwa mereka akan ditolak oleh Allah Tritunggal. Tuhan berkata, bahwa sejak saat itu, bait suci yang adalah rumah Allah, tidak akan merupakan rumah Allah lagi, melainkan "rumahmu". Kemudian, ketika murid-murid datang kepadaNya dan menunjukkan bangunan bait suci itu kepadaNya, Dia berkata kepada mereka, "Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain, semuanya akan diruntuhkan" (24:2). Tuhan menubuatkan, bahwa bait suci itu bersama kota Yerusalem akan diruntuhkan, dengan tidak membiarkan satu batu di atas batu yang lain. Ini tergenap pada tahun 70 M, tidak lama setelah Tuhan naik ke sorga, ketika Titus dan tentara Romawi menghancurkan Yerusalem. Penghancuran itu adalah peristiwa yang tidak terduga dalam sejarah. Yosephus, ahli sejarah orang Yahudi, pernah menguraikan kekejaman dan pembantaian atas penduduk Yerusalem oleh tentara Romawi.

Setelah penghancuran yang dilakukan Titus itu, orang-orang Yahudi terserak ke seluruh bumi. Sejak saat itu, Hosea memberitahu kita, bahwa orang-orang Yahudi dalam keadaan "tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berha/a dan tiada efod dan terafim" (3:4). Di tengah-tengah orang Yahudi selama hampir dua puluh abad, tidak ada raja, tidak ada pemimpin, tidak ada nabi, tidak ada imam, dan tidak ada korban, karena tidak ada bait suci dan tidak ada mezbah untuk menerima korban persembahan itu. Hosea menubuatkan, bahwa masa kegersangan ini akan berlangsung selama dua hari, atau dua ribu tahun (6:1-2). Menurut sejarah, masa dua ribu tahun itu tentu dimulai dari penghancuran Yerusalem yang dilakukan oleh Titus pada tahun 70 M. Dari saat itu sampai hari ini, di antara orang Yahudi tidak ada raja, tidak ada pemimpin, tidak ada imam, tidak ada nabi, dan tidak ada korban; juga tidak ada berhala apapun di antara orang Yahudi sejak saat itu. Orang-orang Yahudi mengadakan cara baru menyembah Allah melalui sinagoge, tetapi Tuhan menyebut sinagoge itu sebagai sinagoge (jemaah) lblis.

Kemudian, gereja muncul, tetapi tidak lama kemudian, gereja menjadi duniawi, menikah dengan dunia. Gereja yang duniawi itu akhirnya menjadi gereja Roma Katholik pada akhir abad keenam, ketika sistem ke-paus-an didirikan dan paus dikenal secara luas. Gereja Roma ini dilambangkan dengan perempuan Izebel dalam Wahyu 2:20.

Kini saya ajak Anda membaca Wahyu 17:16, "Dan kesepuluh tanduk yang telah kaulihat itu serta binatang itu akan membenci pelacur itu dan mereka akan membuat dia menjadi sunyi den telanjang, dan mereka akan memakan dagingnya dan membakarnya dengan api." Ayat ini ditulis pada akhir abad pertama, kira-kira tahun 90 M, tetapi kebanyakan orang Kristen tidak tahu, bahwa dalam Alkitab ada ayat semacam ini. Mereka tidak tahu, bahwa Tuhan Yesus meniup sangkakala tujuh kali dalam kttab Wahyu, supaya kita menang; mereka tidak tahu harus menang atas apa. Beban saya adalah, agar kita nampak apa yang perlu kita atasi, dan Wahyu 17:16 akan membantu kita melihat hal itu. Ketujuh tanduk dalam ayat itu adalah sepuluh raja (ayat 12), dan binatang itu adalah Anti-kristus(Wahyu 13:1-10). Pelacur dalam Wahyu 17 adalah Gereja Roma Katholik (ayat 1 -6). Antikristus adalah kepala dan sepuluh raja itu adalah milik Antikristus, maka mereka semua setuju untuk melakukan satu perkara. Mereka akan membenci Gereja Roma Katholik dan membuatnya sunyi dan telanjang dan akan memakan dagingnya dan akan membakarnya dengan api. Itulah kesudahan Gereja Roma Katholik.

Antikristus akan dikuatkan (diberi kuasa) untuk menjadi Kaisar terakhir dari Kekaisaran Romawi yang dipulihkan (lihat Wahyu 17:10-11, dan catatan 101 dan 111 -- Versi Pemulihan), dan ia akan mengadakan perjanjian dengan Israel selama tujuh tahun terakhlr dari jaman ini, tetapi setelah tiga setengah tahun, dia akan membatalkan perjanjian itu (Daniel 9:27). Dia akan memberontak terhadap Allah dan menganiaya agama yang manapun (II Tesalonika 2:3-4). Dia tidak akan mengijinkan siapa saja untuk menyembah sesuatu atau seseorang selain dirinya. Kemudian, bersama kesepuluh raja yang ada di bawahnya, dia akan membuat Gereja Roma Katholik menjadi sunyi dan membakarnya. Wahyu 17:16 menjelaskan kepada kita, bahwa pada awal kesusahan besar selama tiga setengah tahun, Gereja Roma Katholik akan menjadi sunyi dan dibakar oleh Antikristus. Ini bukan pembakaran secara rohani, melainkan pembakaran secara jasmani. Tidak banyak yang tahu bahwa dalam kitab Wahyu ada ayat semacam itu.

Belum lama ini, ahli statistik mengatakan, bahwa Gereja Roma Katholik memiliki 55 juta anggota di Amerika Serikat, hampir setengah dari jumlah seluruh orang Kristen. Ini menunjukkan kepada kita, bahwa jutaan orang telah disesatkan oleh Katholikisme. Mereka tidak sadar, bahwa aliran yang mereka anut itu adalah sesuatu yang salah dan bahkan setani dan jahat, milik Iblis. Perkara pokok dalam Wahyu 17 adalah Tuhan telah menetapkan satu hari bagi Antikristus dan kesepuluh rajanya untuk membuat sunyi Gereja Roma Katholik dan membakarnya. Wahyu 2:24 memberitahu kita, bahwa hal-hal yang dalam dari Iblis ada di dalam gereja yang murtad ini. Hal itu bersifat setani, jahat, milik Iblis. Tuhan akan membiarkannya sampai awal kesusahan besar, ketika gereja Roma Katholik diakhiri oleh Antikristus.

Kini kita perlu memperhatikan gereja-gereja Protestan saat ini dalam terang wahyu ilahi. Perkara yang paling berarti dalam gereja-gereja Protestan adalah keadaan mereka yang penuh dengan orang Kristen sebutan, orang Kristen palsu. Dalam Matius 13, Tuhan memakai lalang untuk melambangkan orang Kristen palsu itu. Di antara 55 juta orang Katholik dan 65 juta orang Protestan di Amerika Serikat, berapa banyak yang benar-benar percaya Tuhan, dan berapa banyak yang palsu? Dalam gereja yang benar, semua orangnya adalah orang imani yang telah beroleh selamat, yang telah dibasuh dengan darah dan dilahirkan ulang dengan oleh Roh. Namun, banyak orang dalam gereja-gereja Protestan hari ini bukanlah kaum imani sejati dalam Kristus; sebaliknya, mereka adalah lalang, orang Kristen palsu. Mengenai nasib lalang, Tuhan Yesus berkata, bahwa mereka akan dikumpulkan dan dibuang ke dalam lautan api pada akhir jaman ini (Matius 13:30,40-42).

Dalam dunia kekristenan hari ini, ada gandum, kaum imani sejati; dan ada lalang, kaum imani palsu. Ketika Ialang dan gandum tumbuh bersama-sama, kita sulit membedakannya. Tidak mudah membedakan gandum dari lalang sebelum keduanya berbuah. Gandum menghasilkan buah yang kuning, dan lalang menghasilkan buah yang hitam. Dalam dunia kekristenan hari ini, umumnya sangat sulit membedakan siapa yang benar-benar orang Kristen dan siapa yang palsu. Mengenai gandum dan lalang itu, Tuhan berkata, "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku" (Matius 13:30). Itu akan terjadi ketika Tuhan Yesus datang kembali pada akhir kesusahan besar. Tuhan akan mengirimkan malaikat-malaikat untuk mengikat semua orang Kristen palsu berberkas-berkas, dan mereka akan dibuang ke dalam lautan api (Matius 13:42). Demikianlah Tuhan Yesus memurnikan campuran itu.

Pada awal kesusahan besar, Antikristus bersama kesepuluh raja akan menghancurkan dan membakar Gereja Roma Katholik. Kemudian, setelah tiga setengah tahun, pada akhir kesusahan besar, Tuhan Yesus akan kembali dan mengirimkan malaikat-malaikatNya untuk mengikat semua orang Kristen palsu dan melemparkan mereka ke dalam lautan api. Inilah kedua akhir dari dua "isme", Katholikisme dan Protestanisme. Ini bukan menurut pemikiran atau ajaran saya sendiri, melainkan adalah wahyu ilahi, yang menunjukkan kepada kita, bagaimana kedua "isme" ini, Katholikisme dan Protestanisme, berakhir. Pertama, Katholikisme akan diakhiri oleh Antikristus pada pertengahan tujuh tahun yang terakhir dari jaman ini, pada awal kesusahan besar. Kemudian Protestanisme akan dilenyapkan oleh Tuhan pada saat Dia kembali.

Perusakan yang paling besar terhadap kekristenan berasal dari lalang. Itulah sebabnya banyak orang di dunia mengecam kekristenan. Ketika Anda mencoba berbicara tentang Kristus kepada mereka, mereka mengira Anda berusaha membuat mereka menerima kekristenan. Mereka telah melihat kejahatan dan kemunafikan dalam kekristenan. Tetapi dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita tidak memberitakan kekristenan. Kita memberitakan Kristus. Kita hanya mau Kristus, bukan "agama" atau "aliran" apapun. Kita tidak memberitakan agama apapun. Kita hanya memberitakan persona yang hidup, dan persona yang hidup ini adalah Kristus sebagai diri Allah yang menjadi manusia dan mati di kayu salib bagi kita. Kita memberitakan Persona ini, agar orang percaya ke dalamNya demi keselamatan mereka. Kita tidak meyakinkan orang untuk percaya dan menerima kekristenan. Kita memberitahu orang, bahwa mereka memerlukan Kristus, Persona itu.

Kita perlu jelas mengenai ketiga "isme" di bumi hari ini -- Yahudiisme, Katholikisme, dan Protestanisme. Yahudiisme belakangan ini memiliki kurang lebih lima juta anggota di Amerika Serikat. Amerika Serikat berpenduduk kira-kira 230 juta, dan lebih dari setengahnya adalah orang-orang yang mengaku Kristen dalam Katholikisme dan Protestanisme. Kita perlu sadar, bahwa Katholikisme dan Protestanisme disalahkan oleh Allah. Yang satu akan dibakar dengan api di bumi ini, dan "lalang" dari yang lain akan dibakar dengan api dalam lautan api. Sebab itu, kita harus menang atas agama Yahudi, gereja Katholik, dan gereja-gereja Protestan.

Tentu saja, ada cukup banyak orang yang beroleh selamat, kaum imani sejati dalam Gereja Katholik dan gereja-gereja Protestan. Tetapi orang yang beroleh selamat bercampur dengan orang yang tidak beroleh selamat. Hari ini, dalam Gereja Katholik dan gereja-gereja Protestan, banyak orang imani yang sejati. ltulah sebabnya Tuhan menyerukan panggilan kepada umatNya untuk keluar dari Babilon (Wahyu 18:4). Panggilan ini memberitahu kita bahwa Tuhan tidak berkenan, bila umatNya tetap tinggal di Katholikisme dan Protestanisme. Ini juga memperlihatkan kepada kita, bahwa Tuhan Yesus sendiri mengakui, bahwa dalam Gereja Katholik dan gereja-gereja Protestan ada orang-orang Kristen yang sejati. Kalau tidak, Dia tidak akan memanggil umatNya keluar dari Babilon.

Hari ini umat Allah perlu mengatasi ketiga "isme" itu dan kembali kepada Persona yang unik, hidup dan bersifat ilahi pun insani. Dia adalah Juruselamat kita, Allah kita, Penebus kita, Tuhan kita, Tuan kita, dan Dia tidak ada hubungannya dengan "aliran" atau "agama" apapun. Dia tidak ada hubungannya dengan agama apapun.

MENANG ATAS MENINGGALKAN KASIH YANG SEMULA

Tuhan menyuruh kita menang atas segala macam agama, dan dalam ketujuh surat kiriman itu Dia juga menyuruh kita menang atas beberapa perkara lain. Perkara pertama yang harus kita atasi adalah meninggalkan, kehilangan, dan melupakan kasih yang semula (Wahyu 2:4-5a). Banyak orang di Katholikisme mutlak bagi Gereja Katholik tetapi tidak mengasihi Tuhan atau firman kudusNya. Mereka tidak berkata, "Alkitab mengatakan, . . ." Sebaliknya, mereka mengatakan, "Paus berkata, . . ." atau "Gereja berkata, . . ." Ketika mereka berkata, "Gereja", yang mereka maksudkan adalah Gereja Katholik. Itulah sebabnya Tuhan Yesus dalam Wahyu pasal 2 mengatakan, bahwa Izebel menyebut dirinya nabiah dan mengajar serta menyesatkan hamba-hambaNya (ayat 20). Itu menunjukkan, bahwa Gereja Roma Katholik adalah yang melantik dirinya sendiri sebagai nabiah, dan yang menganggap dirinya berwewenang dari Allah untuk berbicara bagi Allah. Orang-orang yang benar-benar loyal terhadap Katholik, hanya menghargai apa yang dikatakan Paus, apa yang dikatakan Gereja. Mereka tidak menghiraukan apa yang dikatakan Alkitab. ltu menunjukkan, bahwa mereka tidak memiliki kasih terhadap Tuhan.

Jika kita mengasihi seseorang, kita pasti ingin mendengarkan suaranya, perkataannya. Sebaliknya, jika kita tidak mengasihi seseorang, kita tidak akan mau mendengarkan suaranya, perkataannya. Sejumlah orang Katholik bersikap demikian terhadap Tuhan. Mereka memiliki nama Kristus, tetapi mereka tidak memiliki kasih sayang pribadi atau unsur mengasihi dalam batin mereka terhadap Kristus. Demikian pula halnya dengan lalang dalam Protestanisme, yang tidak beroleh selamat. Mereka tidak memiliki unsur kasih terhadap Tuhan secara pribadi.

Saya harus bersaksi, bahwa saya mengasihi Tuhan. Saya menerima Tuhan pada tahun 1925. Sejak saat Itu, dalam tahun-tahun selanjutnya, saya merasakan Tuhan begitu mesra bagiku dan bahwa saya begitu dekat denganNya. Saya tidak mempedulikan agama apapun. Saya hanya memperhatikan Yang kekasih, ini, Yang hidup ini. Setiap kali saya menyebut namaNya, saya merasa gembira. Ketika kita bangun pagi, perkara pertama yang seharusnya kita lakukan adalah mengatakan, "O, Tuhan Yesus. O, Tuhan Yesus." Lebih baik lagi jika kita tambahkan, "Aku cinta kepadaMu." Kita seharusnya berkata, "O, Tuhan Yesus, aku cinta kepadaMu. O, Tuhan Yesus, aku cinta kepadaMu." Betapa mesranya, betapa manisnya dan betapa penuh kasihnya hal ini!

Allah kita, Kristus kita, Tuhan kita, bukan hanya patut dikasihi, tetapi juga sangat patut disayangi. Dia penuh dengan kasih sayang. Allah telah "jatuh cinta" kepada kita, umat pilihan dan tebusanNya. Jika Anda berkata, "O Tuhan Yesus, aku cinta kepadaMu," Anda akan segera jatuh cinta kepadaNya. Cukup sering saya tidak mau melakukan suatu perkara, bukan hanya karena perkara itu tidak benar, atau karena saya takut kepada Allah, melainkan karena saya mengasihiNya. Saya berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepadaMu, maka aku tidak bisa melakukan hal ini." Saya benar-benar tidak bisa melakukan hal-hal tertentu, karena saya mengasihiNya.

Kita perlu mengatasi kehilangan kasih yang semula. Gereja di Efesus adalah gereja yang baik. Gereja di Efesus adalah gereja yang menurut aturan (teratur) dan memiliki bentuk luaran (Wahyu 2:2-3). Tentu saja, kita akan menyukai gereja semacam itu, tetapi gereja yang teratur semacam itu telah meninggalkan kasih yang semula (ayat 4). Kata Yunani yang diterjemahkan "semula" sama dengan kata yang diterjemahkan "terbaik" dalam Lukas 15:22. Kasih kita yang semula terhadap Tuhan haruslah kasih yang terbaik bagiNya. Ketika anak yang hilang dalam Lukas 15 kembali ke rumah, sang ayah menyuruh pelayan membawakan jubah yang terbaik. Yang terbaik adalah yang semula.

Kini saya ingin mengajak Anda memikirkan kasih yang semula. Banyak orang Kristen mengira, bahwa kasih yang semula adalah kasih yang kita tujukan kepada Tuhan Yesus ketika kita beroleh selamat. Saya tidak mengatakan itu salah, tetapi itu tidak memadai. Kasih yang semula, yang juga merupakan kasih yang terbaik, jauh melebihi kasih ketika kita beroleh selamat.

Kasih yang semula adalah kasih yang merupakan diri Allah sendiri. Dalam Alkitab, kita diberitahu bahwa Allah adalah kasih (I Yohanes 4:8,16). Di alam semesta, hanya Allah yang adalah kasih. Tuhan menyuruh suami mengasihi istrinya. Tetapi mustahii para suami bisa mengasihi istri mereka dalam diri mereka sendiri, karena mereka bukanlah kasih. Hanya ada satu Persona yang adalah kasih -- Allah.

Allah bukan hanya yang terbaik, tetapi juga yang pertama. Di alam semesta, Allahlah yang pertama. Kejadian 1:1 mengatakan, "Pada mulanya Allah . . ." ltulah pembukaan Alkitab. Allah adalah permulaan. Allah adalah yang pertama. Surat Kolose memberitahu kita, bahwa Kristus kita harus mendapatkan tempat pertama. Dia harus memiliki keutamaan (1:18b). Kristus harus menjadi yang pertama. Apa yang dimaksud dengan memulihkan kasih yang semula? Memulihkan kasih yang semula adalah menaruh Tuhan Yesus sebagai yang pertama dalam segala sesuatu. Jika kita membuat Kristus menjadi yang utama dalam hidup kita, itu berarti kita telah mengatasi kehilangan kasih yang semula.

Kita perlu memperhatikan keadaan kita. Apakah Kristus adalah yang utama dalam segala sesuatu kita? Hal pertama yang harus kita atasi adalah kehilangan Kristus sebagai kasih yang pertama, kasih yang terbaik dan kasih yang sejati. Kegagalan orang Israel adalah mereka meninggalkan Allah, sumber air hidup, dan kemerosotan gereja adalah karena meninggalkan Kristus, tidak menjadikan Dia sebagai yang pertama dalam segala hal.

Kristus harus menjadi yang pertama, tidak hanya dalam perkara besar, tetapi juga dalam perkara kecil. Ketika saudara-saudara membeli dasi, mereka seharusnya mengutamakan Kristus. Jika saya memakai sebuah dasi yang bergaya duniawi, saya tidak akan bisa berbicara bagi Tuhan dalam pelayanan saya. Bahkan karena hati nuraniku, saya tidak bisa memakai beberapa macam dasi. Para saudari seharusnya mengutamakan Kristus dalam hal memotong rambut mereka. Jika para saudari mengutamakan Kristus dalam hal memotong rambut mereka, berarti mereka menganggap Dia sebagai kasih mereka yang semula. Para saudari yang memotong rambutnya secara duniawi, tidak memiliki Kristus sebagai kasih mereka yang semula. Mereka tidak mengutamakan Dia. Kita seharusnya mengutamakan Kristus dalam hal berpakaian, dan dalam hal kita memotong rambut. Ketika kita mengutamakan Kristus dalam segala hal, itu berarti kita memulihkan kasih semula yang telah hilang.

Ada orang mengira, kasih yang semula adalah kasih kita kepada Tuhan ketika kita baru beroleh selamat dan baru menempuh penghidupan Kristen kita. Tetapi ketika saya beroleh selamat, walaupun saya sangat berterima kasih kepada Tuhan, saya tidak memiliki hati yang begitu menggebu-gebu untuk mengasihi Kristus seperti yang saya lakukan hari ini. Enam puluh tahun lebih yang lalu saya beroleh selamat dan saya mengasihi Tuhan Yesus, tetapi tidak seperti kasih saya hari ini. Jadi, kasih yang semula seharusnya adalah memiliki Allah, Kristus, Tuhan, Tuan kita, sebagai Yang pertama dalam segala hal.

Sering kali ketika saya sedang mengenakan pakaian, saya berbicara kepada Tuhan, 'Tuhan, sukakah Engkau akan kemeja ini? Sukakah Engkau akan sepatu ini?" Percakapan itu sangat mesra terhadap Tuhan, sebagai kasih yang semula. Memulihkan kasih yang semula adalah mengutamakan Dia dalam perkara yang besar, juga dalam perkara yang kecil. Para suami seharusnya mengutamakan Kristus dalam pembicaraan mereka kepada istri-istri mereka. Kita perlu mohon Tuhan mengampuni kita atas segala hal yang di dalamnya kita tidak mengutamakan Dia.

Jika kita mengasihi Tuhan Yesus sedemikian rupa dan sampai tingkat yang demikian, kita tidak akan tinggal dalam ketiga "isme" itu. Kita tidak mungkin tetap tinggal dalam agama apapun. Kita akan mengasihi semua orang Kristen, tetapi kita akan membenci "agama" apapun. Kita harus mengasihi semua orang Kristen, tetapi kita harus membenci agama-agama tempat mereka berada. Karena Tuhan membenci "isme"-"isme" itu, kita juga seharusnya membenci mereka. Kita harus membenci apa yang dibenci Tuhan (bd. Wahyu 2:6).

Tuhan menyuruh membiarkan gandum dan lalang bertumbuh bersama sampai musim menuai. Kemudian, ketika Dia kembali, hal pertama yang akan dilakukanNya adalah mengutus malaikat-malaikat untuk mengikat lalang berberkas-berkas, dan melemparkannya ke lautan api. Anak-anak kerajaan, gandum itu, membentuk kerajaan; sedangkan anak-anak si jahat, lalang itu, membentuk penampilan luaran kerajaan, yaitu kekristenan hari ini. Tuhan membenci penampilan luaran itu, karena itu kita harus menang atasnya.

Kita juga perlu menang dalam hal memakai dasi, dalam hal memotong rambut, dan dalam segala perkara kecil. Dalam segala perkara, kita harus mengutamakan Kristus. Jika kita berbuat demikian, penghidupan orang Kristen kita akan berbeda dan perasaan kita pun akan berbeda. Sepanjang hari kita akan bersukacita di dalam Tuhan. Ketika kita bersukacita di dalam dan bersama Tuhan, segalanya akan menyenangkan. Sebaliknya, ketika kita tidak bersukacita di dalam Tuhan dan bersama Tuhan, segalanya tidak menyenangkan. Kenikmatan atas Tuhan sebagai kasih karunia, menyertai mereka yang mengasihiNya (Efesus 6:24). Jadi, perkara pertama yang harus kita atasi adalah meninggalkan kasih yang semula. Meninggalkan kasih yang semula adalah sumber dan penyebab utama dari kegagalan gereja di sepanjang jaman.

MEMPERTAHANKAN MAKAN KRISTUS SEBAGAI POHON HAYAT

Dalam gereja yang begitu baik, teratur, dan memiliki bentuk seperti gereja di Efesus, pertama-tama kita perlu menang atas perkara kehilangan kasih yang semula. Perkara kedua yang kita perlukan adalah mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat. Dalam surat kiriman kepada orang Efesus, Tuhan berkata, "Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah" (Wahyu 2:7).

Tuhan Yesus menyuruh kita menang atas perkara meninggalkan kasih yang semula dan mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat. Jika kita mengutamakan Kristus dalam segala hal dan menikmati Dia sebagai pohon hayat setiap hari, kita akan menjadi orang Kristen yang hebat dan menang. Bila kita menikmati Kristus sebagai pohon hayat, kita memiliki Taman Firdaus Allah. Pohon hayat mula-mula terlihat dalam kitab Kejadian, di taman Eden. Taman Eden itu adalah taman firdaus Allah pada saat itu. Hari ini, taman firdaus kita adalah hidup gereja.

Sejak tahun 1932 sampai kini, saya sudah menempuh hidup gereja selama enam puluh tahun lebih, maka saya memiliki banyak pengalaman mengenal hidup gereja. Jika Anda tidak mengutamakan Tuhan atau menikmati Tuhan selama satu bulan saja, maka hidup gereja akan menjadi tempat yang tidak menyenangkan bagi Anda. Mungkin, Anda tidak sampai mengatakan demikian, tetapi di dalam batin Anda, Anda akan menganggap hidup gereja tidak begitu baik. Jika demikian, gereja tidak lagi merupakan taman firdaus bagi Anda. Tetapi bila Anda menang atas perkara hilangnya kasih yang semula dan Anda mempertahankan makan Kristus, yaitu mempertahankan kenikmatan Anda atas diri Tuhan, maka hidup gereja segera menjadi taman firdaus bagi Anda. Jadi, perasaan dan sikap kita terhadap gereja tergantung pada keadaan kita. Jika kita mengutamakan Tuhan dalam segala hal, dan menikmati Dia sebagai pohon hayat sepanjang hari, saat itu juga gereja, bagaimanapun keadaannya, akan menjadi taman firdaus bagi kita. Itulah sebabnya Tuhan berkata, bahwa kita harus makan pohon hayat dalam Taman Firdaus Allah.

Memang, Taman Firdaus Allah dalam Wahyu 2:7 sebenarnya mengacu kepada Yerusalem Baru dalam kerajaan seribu tahun. Jika kita menikmati Tuhan dalam jaman ini, kita akan diberi pahala berupa makan pohon hayat, diri Kristus sendiri, dalam Yerusalem Baru, sebagai Taman Firdaus Allah dalam kerajaan seribu tahun. Kita perlu senantiasa menikmati suplai hayat Kristus dalam hidup gereja saat ini, sehingga kita dapat diberi pahala berupa kenikmatan atas Kristus sebagai pohon hayat dalam Taman Firdaus Allah, Yerusalem Baru, dalam kerajaan seribu tahun. Dalam Yerusalem Baru, dalam kesegarannya sebagai Taman Firdaus Allah, kita akan berbagian sepenuhnya dalam kenikmatan atas suplai hayat yang kaya dari Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang terproses dan genap.

MEMANCARKAN TERANG ILAHI SEBAGAI KAKI DIAN

Kita perlu menang atas perkara meninggalkan kasih yang semula, mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat, dan memancarkan terang ilahi sebagai kaki dian (Wahyu 2:5b). Kasih berhubungan dengan hayat dan hayat berhubungan dengan terang. Kasih, hayat, dan terang adalah tiga hal yang saling berhubungan (trinitas). Jika Anda menjadikan Kristus yang pertama dalam segala hal, Anda memiliki kasih. Jika Anda memiliki kasih ini, Anda memiliki hayat, dan Anda akan menikmati Tuhan. Jika Anda memiliki hayat ini, hayat ini menjadi terang bagi Anda. Dalam kegelapan malam jaman gereja, terang kaki dian, gereja, memancar secara korporat, bukan secara individual.

MEMELIHARA KESAKSIAN YESUS

SEBAGAI PENYINARAN KAKI DIAN DI TEMPAT MEREKA

Jika kita menikmati Kristus sebagai kasih kita, hayat kita dan terang kita, kita akan memelihara kesaksian Yesus sebagai penyinaran kaki dian di tempat kita (Wahyu 12:17b). Kita akan bersaksi tentang persona Kristus sebagai Allah dan sebagai manusia, tentang penghidupan insani Kristus, penyaliban Kristus, kebangkitan Kristus, kenaikan Kristus, turunnya Kristus, dan penampakan Kristus yang kedua. Penyinaran terang adalah suatu kesaksian. Dalam setiap aspek hidup kita sehari-hari, kita harus memancarkan Kristus. Penyinaran ini adalah penyinaran kaki dian.

Kita perlu ingat keempat kata ini, yaitu kasih, hayat, terang dan kaki dian. Keempatnya harus dimulai dengan kasih. Kita harus mengutamakan Tuhan Yesus dalam segala hal dan dalam segala cara untuk memulihkan kasih yang semula. Kemudian kita akan menikmati Dia sebagai pohon hayat, dan hayat ini akan langsung menjadi terang hayat (Yohanes 8:12). Lalu, kita akan bersinar dalam hidup sehari-hari kita dan bahkan bersinar secara korporat sebagai kaki dian. Kalau tidak, kaki dian akan diambil dari kita secara individual dan dari gereja secara korporat. Tuhan mengingatkan gereja di Efesus agar bertobat dan memulihkan kasih yang semula untuk kenikmatan atas diriNya. Kalau tidak, kaki dian itu akan diambil dari mereka. Kita memerlukan kasih, hayat, terang, dan kaki dian. Kemudian, kita akan diberi pahala oleh Tuhan dengan apa adanya kita dan hidup di dalamNya.

Dalam Alkitab, prinsipnya adalah pahala kita selalu merupakan apa adanya kita. Apa adanya kita akan menjadi pahala kita. Jika kita mengasihi orang lain, kasih kita kepada orang lain itu akan menjadi pahala bagi kita. Jika kita menghormati orang tua kita, penghormatan kita terhadap mereka itu akan menjadi pahala kita. Jika kita tidak hidup menampilkan Kristus dan berperi laku di dalam Kristus, dalam hidup gereja, tidak akan ada pahala bagi kita dalam hidup gereja. Sebaliknya, karena kita tidak hidup menampilkan Kristus, kita mungkin merasa pahit terhadap para penatua dan terhadap semua orang kudus. Jika kita hidup menampilkan Kristus, dan berperilaku di dalam Kristus, penghidupan dan perilaku itu akan menjadi pahala kita. Kemudian kita akan gembira dalam hidup gereja. Jika hari ini kita mengutamakan Kristus dalam segala hal, kita akan memiliki kasih, kita akan menikmati Dia sebagai hayat, kita akan memancarkan Dia sebagai terang, dan kita akan menjadi kaki dian yang bersinar sebagai kesaksian Yesus. Hal itu akhirnya akan menjadi pahala kita, bukan hanya dalam jaman ini, tetapi juga dalam jaman yang akan datang. Dalam kerajaan seribu tahun, kita akan menikmati Kristus sebagai pahala kita dalam Taman Firdaus Allah.