EKONOMI ALLAH DAN KEGAGALAN MANUSIA
Pembacaan Alkitab:
I Yohanes 3:24; 4:13; Kejadian 1:26-27; 2:7; I Tesalonika 5:23;
II Korintus 5:17; Galatia 6:15; Kejadian 13:16; 15:5;
Wahyu 12:5,11; 14:1-5; Kejadian 6:3a; 11:4-9;
Yeremia 2:13; 11:10; II Korintus 13:13; I Yohanes 3:8;
Matius 16:24; I Yohanes 2:15; Galatia 1:4; 6:14; Wahyu 11:15
GARIS BESAR
I. Ekonomi Allah:
A. Menjadi satu dengan manusia -- I Yohanes 3:24; 4:13:
1.
Menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya Kejadian 1:26-27.
2.
Menjadikan manusia yang terdiri dari tiga bagian tubuh, jiwa dan roh -- Kejadian 2:7; I Tesalonika 5:23.
B. Menjadikan manusia suatu organismeNya:
1.
Menjadi hayat dan isi manusia.
2.
Untuk menyatakan diriNya dalam keinsanian.
C. Memiliki ciptaan baru dari ciptaan lamaNya --II Korintus 5:17; Galatia 6:15:
1. Membagikan diriNya ke dalam ciptaan lamaNya.
2. Merampungkan rencana ini dalam empat jaman dalam ciptaan lama dan melalui empat orang dari ciptaan lama:
a. Dalam jaman sebelum hukum Taurat, melalui ras Adam.
b. Dalam jaman hukum Taurat, melalui keturunan duniawi ras Abraham -- Kejadian 13:16.
c. Dalam jaman kasih karunia, melalui keturunan sorgawi ras Abraham -- Kejadian 15:5.
d. Dalam jaman kerajaan, melalui para pemenang dari ras Adam dan ras Abraham -- Wahyu 12:5,11; 14:1-5.
II. Kegagalan manusia:
A. Kegagalan ras Adam dalam jaman sebelum hukum Taurat:
1.
Menjadi daging pada saat air bah -- Kejadian 6:3a.
2.
Menjadi satu dengan Iblis di Babel -- Kejadian 11:4-9.
B. Kegagalan keturunan duniawi ras Abraham:
1.
Meninggalkan Allah dan perjanjian lamaNya Yeremia 2:13; 11:10b.
2.
Memilih Iblis dan kerajaannya -- Yeremia 11:10a.
C. Kegagalan keturunan sorgawi ras Abraham:
1.
Gagal dalam menikmati Allah Tritunggal yang telah diproses -- bd. II Korintus 13:13.
2.
Dirusak oleh Iblis melalui dosa, ego, dunia dan dunia agamawi -- I Yohanes 3:8; Matius 16:24; I Yohanes 2:15; Galatia 1:4; 6:14.
D. Kristus memanggil para pemenang dari keturunan sorgawi ras Abraham bagi jaman kerajaan:
1.
Untuk merampungkan ekonomi Allah.
2.
Untuk mendatangkan kerajaan Kristus dan Allah --Wahyu 11:15.
Buku yang membahas para pemenang ini adalah lanjutan dari persekutuan kami dalam buku yang berjudul The Satanic Chaos in the Old Creation and the Divine Economy for the New Creation (Pengacauan Satan dalam Ciptaan Lama dan Ekonomi Ilahi bagi Ciptaan Baru). Beban dari berita-berita dalam buku ini dapat diungkapkan dalam keempat kelompok pernyataan tentang para pemenang yang dikutip dari kitab Wahyu di bawah ini:
Kelompok 1:
Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah -- Wahyu 2:7.
Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi -- Wahyu 2:17.
Kelompok 2:
Barangsiapa menang, akan Kukaruniakan batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru -- Wahyu 2:17.
Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam bait suci AllahKu -- Wahyu 3:12
Kelompok 3:
Barangsiapa mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku --Wahyu 3:20.
Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhtaKu, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan BapaKu di atas takhtaNya -- Wahyu 3:21.
Kelompok 4:
Barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa -- Wahyu 2:26.
Dan ia akan menggembala mereka dengan tongkat besi, mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang perluk -- Wahyu 2:27 (TL).
Seluruh Alkitab terdiri dari enam puluh enam kitab yang berakhir dengan dua perkara: para pemenang dan Yerusalem Baru. Keduanya adalah dua hal pokok yang diwahyukan dalam kitab Wahyu, kitab terakhir dari Alkitab. Wahyu pasal 1-20 menyajikan catatan yang lengkap mengenai para pemenang, dan Yerusalem Baru dalam Wahyu pasal 21-22 merupakan hasil, perwujudan dan kesudahan dari para pemenang. Yerusalem Baru akan ternyata dalam dua tahap. Tahap pertama adalah dalam kerajaan milenium (seribu tahun), yang merupakan pendahuluan dari Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru sampai kekal, tahap kedua adalah Yerusalem Baru dalam kekekalan.
Mungkin kita bertanya, "Apa yang dimaksud dengan Yerusalem Baru?" Jika kita membaca kitab Wahyu dengan cermat di bawah terang sorgawi, kita dapat nampak, bahwa Yerusalem Baru adalah totalitas dari para pemenang. Para pemenang akan menjadi Yerusalem Baru dalam jaman yang akan datang, jaman milenium, sebagai pendahuluan dari Yerusalem Baru dalam kekekalan yang akan datang. Yang menjadi pemenang relatif hanya sebagian kecil dari kaum imani. Sebagian besar kaum imani -- kaum imani yang sejati, yang sudah dilahirkan ulang, dan sudah dibasuh dengan darah -- akan gagal. Pada kedatangan Tuhan, la hanya akan mengangkat para pemenang, dan meninggalkan kaum imani selebihnya dalam kategori lain karena mereka tidak matang dalam hayat ilahiNya. Dalam milenium, kaum imani pemenang akan bersama-sama dengan Kristus dalam kemuliaan kerajaan yang cemerlang, sedangkan kaum imani yang gagal akan menerima pendisiplinan dalam kegelapan di luar (Matius 8:12; 22:13; 25:30). Hal itu dimaksudkan agar mereka dapat disempurnakan bagi kematangan mereka.
Agar bisa matang, suatu tanaman perlu melalui proses tertentu. Proses yang akan dilalui oleh kaum imani yang belum matang itu tidak akan menyenangkan, melainkan merupakan saat-saat pendisiplinan dan penghukuman selama seribu tahun. Walaupun tidak menyenangkan, proses itu akan merampungkan ekonomi kekal Allah. Orang-orang yang tersayang itu akan dimatangkan dan disempurnakan. Setelah seribu tahun, Tuhan akan membersihkan alam semesta melalui penghakimanNya di takhta putih besar (Wahyu 20:11-15). Kemudian akan ada langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru. Yerusalem Baru dalam kekekalan akan diperluas besar-besaran, sehingga mencakup seluruh kaum imani. Saat itu, semua orang imani akan menjadi para pemenang (Wahyu 21:7). Yang terakhir akan menjadi pemenang akhir, sedangkan para pemenang dalam jaman ini akan menjadi pemenang awal.
Para pemenang awal akan mendapat pahala. Tuhan akan memberi pahala kepada para pemenang dalam jaman ini berdasarkan apa adanya mereka di dalam Kristus. Mereka akan menikmati kemenangan mereka, tetapi orang-orang yang gagal, yang belum siap, tidak akan mendapat apa-apa untuk dinikmati sebagai pahala mereka. Sebaliknya, Tuhan akan menanggulangi mereka sehingga mereka dapat menjadi matang dan sempurna. Akhirnya, seluruh kaum imani akan menikmati apa adanya mereka dalam Kristus sampai selama-lamanya.
Kita dapat membuktikan hal ini berdasarkan pengalaman kita. Ketika kita menang di dalam Tuhan, kita menikmati kemenangan kita setiap hari, tetapi ketika kita gagal, kenikmatan kita atas diri Tuhan pun lenyap. Ketika kita menang, Tuhan adalah kenikmatan kita dalam apa adanya kita. Apa yang akan kita nikmati, yang dapat kita nikmati, dan yang seharusnya kita nikmati di dalam Tuhan akan menjadi apa adanya kita. Ketika orang-orang lulus dari perguruan tinggi, saat wisuda mereka adalah saat kenikmatan atas apa adanya mereka. Mereka menikmati buah atau hasil jerih payah mereka selama belajar di perguruan tinggi. Orang-orang yang tidak lulus ujian, masih harus kembali ke bangku sekolah dan belajar lagi agar mereka dapat lulus. Inilah cara yang dipakai dalam sistem pendidikan.
Sistem pendidikan itu adalah suatu jalan atau cara yang bijaksana, tetapi Allah kita lebih bijaksana. Dia memiliki satu pekerjaan yang besar di alam ini. Dia memilih jutaan orang, yang diselamatkan oleh kasih karunia. Kasih karunia berdasar pada belaskasihan. Keselamatan kita tidak ada hubungannya dengan apa adanya kita atau keadaan kita kelak. Allah menyelamatkan kita dan memberi kita begitu kaya-limpah. Dia memberikan diriNya sendiri, hayat ilahi, Roh Kudus, dan Kristus sebagai perwujudanNya, Sang Almuhit. Karena Dia memberi kita begitu kaya-limpah, seharusnyalah kita menjadi para pemenang. Tapi sayang, banyak orang imani tidak mau mempedulikan Tuhan. Mereka hanya mempedulikan keselamatan kekal mereka. Mereka berkata, "Asalkan aku beroleh selamat kekal dan dapat naik ke sorga, aku sudah puas." Mungkin mereka puas, tetapi Tuhan tidak puas. Sebenarnya, siapa saja yang tidak menang dalam jaman ini akan tidak puas dalam jaman yang akan datang. Mereka tidak akan memiliki apa-apa yang bisa memuaskan mereka. Karena kita adalah orang-orang Kristen, kita harus menanggapi panggilan Tuhan untuk menjadi para pemenang.
Telah kita bahas, bahwa kitab Wahyu, kitab terakhir dari Alkitab, adalah kitab yang membahas para pemenang (lihat The Satanic Chaos in the Old Creation and the Divine Economy for the New Creation, pp. 63-75). Namun, kitab terakhir dari Alkitab ini hampir-hampir merupakan kitab yang tertutup bagi banyak orang Kristen. Seolah-olah tidak ada yang mengerti pokok bahasan kitab ini. Kitab Wahyu membahas tujuh kaki dian emas, ketujuh meterai, ketujuh sangkakala, dan ketujuh cawan. Akhirnya, kitab ini disimpulkan dengan satu kota yang misterius. Menurut Wahyu 21:16, kota itu akan berbentuk kubus, dengan sisi sepanjang 12.000 stadia (2176 km). Kota itu terbuat dari emas murni dan batu permata, dengan pintu mutiara (ayat 18-21). Banyak pembaca dan guru Alkitab tidak nampak makna dari kota yang misterius ini. Karena banyak guru Alkitab tidak mengerti kitab Wahyu, maka mereka menghindarinya mentah-mentah dalam pengajaran mereka.
Demi belaskasihan Tuhan, Dia telah menunjukkan kepada kita, bahwa kitab Wahyu adalah kitab yang sederhana. Kitab ini tidak ditulis oleh seorang sarjana yang besar melainkan oleh rasul Yohanes, yang semula adalah nelayan di Laut Galilea. Nelayan ini tentu tidak memiliki pikiran yang teologis. Tulisannya benar-benar sederhana. Dalam injilnya, Yohanes menuliskan kata-kata yang sederhana sebagai pembukanya, "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah" (Yohanes 1:1).
Kitabnya yang terakhir, kitab Wahyu, juga ditulis dengan sangat sederhana, tetapi sejak remaja, saya merasa kitab itu sangat sulit dipahami. Melalui membacanya, saya sadar, di dalam kitab ini tentu ada sesuatu yang sungguh-sungguh ajaib. Syukur kepada Tuhan, demi belaskasihanNya, lambat laun kitab Wahyu terbuka bagiku. Begitu kita melihat apa yang terwahyu dalam kitab ini, kita nampak, bahwa kitab ini sangat sederhana. Pokok utama dari dua puluh pasal pertama dari kitab Wahyu adalah para pemenang. Wahyu 20 menunjukkan kepada kita, bahwa para martir pemenang akan bangkit menjadi raja bersama Kristus, Sang Raja, untuk memasuki sebuah kota, tempat mereka menikmati apa adanya mereka di dalam Kristus (ayat 4-6).
Pemenang adalah orang yang menang atas segala bidang dalam hidupnya sehari-hari. Tuhan Yesus bergerak di dalam kita untuk hidup melalui kita, termasuk dalam gaya kita menyisir rambut dan memotong rambut. Jika kita tidak mengikutiNya dalam perkara ini, dan memotong rambut menurut model duniawi, kita akan gagal. Ketika Tuhan berkata, "Jangan sisir rambutmu seperti itu", kita seharusnya menanggapinya, "Amin. SemauMu sajalah, Tuhan Yesus." inilah yang dimaksud dengan menang. Ini berarti, kita mengasihi Dia melebihi diri kita , melebihi hayat jiwani kita. Seorang pemenang hanya tahu Kristus, hanya mengasihi Kristus.
Di satu aspek, wahyu tentang para pemenang sederhana saja, tetapi kita mungkin bingung, mengapa pokok yang nampaknya sederhana seperti itu dibahas dalam dua puluh pasal pertama dari kitab Wahyu. Itu dikarenakan ada beberapa kategori (jenis) pemenang. Salah satu jenis pemenang adalah para martir dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sampai kepada masa sebelum kesusahan besar. Wahyu pasal 6 menyingkapkan, bahwa kaum saleh martir itu berseru dengan suara nyaring dari bawah mezbah, "Berapa lamakah lagi, ya Penguasa, yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka
yang diam di bumi?" (ayat 10). Pemenang jenis kedua adalah anak laki-laki yang dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhtaNya dalam Wahyu 1.2:5. Pemenang jenis ketiga adalah 144.000 pemenang yang masih hidup, buah sulung, dalam Wahyu 14:1-5. Mereka akan diangkat ke gunung Sion sorgawi sebelum kesusahan besar. Orang-orang yang berdiri di lautan kaca dalam Wahyu 15:2-4 adalah pemenang jenis keempat. Keempat jenis pemenang ini membentuk pemenang jenis kelima, yaitu mempelai perempuan yang berdandan rapi dalam Wahyu 19:7-9. Syukur kepada Tuhan, Dia sanggup membuat kaum imaniNya yang begitu banyak menjadi para pemenang. Kita memerlukan dua puluh pasal dari kitab Wahyu untuk memperlihatkan bagaimana kaum imani dijadikan para pemenang oleh kasih karunia Tuhan yang berlimpah dan serba cukup itu.
Dua pasal terakhir dari kitab Wahyu menyingkapkan Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru untuk selama-lamanya. Yerusalem Baru itu akan merupakan totalitas dari seluruh kaum imani dari berbagai generasi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saat itu, semua orang yang dipilih dan ditebus Allah akan dijadikan para pemenang. Demikianlah pandangan menyeluruh dari kitab Wahyu.
Secara keseluruhan, Alkitab adalah sejarah Allah. Banyak orang menuliskan sejarah atau riwayat hidupnya. Ketika saya selesai menulis riwayat hidup saudara Watchman Nee (dengan judul Watchman Nee -- Pelihat Wahyu Ilahi pada Jaman ini ), saya pikir, Allah juga memiliki suatu riwayat hidup atau sejarah. Alkitab adalah kitab sejarah Allah yang paling baik. Perjanjian Lama adalah sejarah Allah dengan manusia, dan Perjanjian Baru adalah sejarah Allah selanjutnya di dalam manusia. Dalam Perjanjian Lama, Allah hanya bersama manusia. Dia baru masuk ke dalam manusia ketika Dia sendiri berinkarnasi. Inkarnasi adalah Allah masuk ke dalam manusia. Pasal pertama dari Perjanjian Baru (dalam Injil Matius), memberi kita suatu catatan mengenai bagaimana Allah masuk ke dalam manusia. Sejak saat itu, Allah yang bersama manusia menjadi Allah yang di dalam manusia.
Syukur kepada Allah, karena kita adalah orang Kristen yang sudah beroleh selamat, dilahirkan ulang, dibasuh dengan darah, dipenuhi oleh Roh, bahkan dengan Allah sendiri di dalam kita! Jika seseorang bertanya kepada kita, "Siapakah Anda?" Kita dapat berkata, "Aku adalah orang Kristen." Orang Kristen adalah orang imani di dalam Kristus. Tetapi sebagai orang imani di dalam Kristus, siapakah Anda? Jawaban yang paling tinggi adalah -- "Aku adalah Allah di dalamku." Kita, kaum imani, adalah "Allah di dalam kita". Gereja adalah Allah di dalam sekelompok manusia. lni bukan berarti kita adalah Allah dalam keAllahanNya, melainkan kita memiliki Allah di dalam kita sebagai hayat kita, sifat kita, unsur kita, dan esensi kita. Mengatakan kita adalah "Allah di dalam kita" berarti kita adalah sebagian dari sejarah Allah. Alkitab adalah sejarah Allah bersama manusia dalam Perjanjian Lama dan kemudian sejarah Allah di dalam manusia dalam Perjanjian Baru.
I. EKONOMI ALLAH
Allah kita memiliki sebuah ekonomi kekal (Efesus 1:10; 3:9; I Timotius 1:4). Ekonomi berarti rencana. Allah memiliki sebuah rencana kekal. Dalam kekekalan yang lampau, Dia berencana akan melakukan sesuatu, dan rencana ini dibuat-Nya sendiri menurut keinginan hatiNya, menurut kesenangan-Nya yang baik, untuk merampungkan tujuanNya. Allah memiliki keinginan hati, dan Dia harus melakukan sesuatu untuk mewujudkan keinginanNya itu. Allah memiliki rencana yang kekal, ekonomi yang kekal, dengan satu tujuan untuk melakukan sesuatu.
A. Menjadi Satu dengan Manusia
Allah yang sangat agung, aktif dan hidup ini, mempunyal satu tujuan, yaitu ingin menjadi satu dengan manusia. Nampaknya hal ini sangat sederhana, tetapi hal yang sangat sederhana ini adalah hal yang sangat misterius. Para dokter medis telah mempelajari tubuh manusia selama bertahun-tahun, tetapi mereka masih belum dapat memahami sepenuhnya segala rahasianya. Seorang dokter memberitahu saya, bahwa setelah mempelajari tubuh manusia, tidak ada yang dapat menyangkal, bahwa di alam semesta ini pasti ada Sesuatu yang Mahakuasa. Kalau tidak, tubuh manusia yang ajaib itu tidak mungkin ada. Tubuh manusia nampaknya sederhana, tetapi barang yang sederhana ini benar-benar ajaib. Ekonomi Allah untuk bersatu dengan manusia mungkin juga nampaknya sederhana, tetapi hal yang sederhana ini adalah hal yang sangat ajaib.
Karena kita sudah percaya ke dalam Kristus, Allah bersatu dengan kita. Jangan lupa, bahwa Allah itu sendiri bersatu dengan kita! Allah berada di dalam roh kita dalam wujud Roh (II Timotius 4:22; II Korintus 3:17). Alkitab mengatakan, Allah tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia (I Yohanes 3:24; 4:13). Itu berarti Allah ada di dalam kita dan kita ada di dalam Dia. Kita dan Allah tinggal di dalam satu sama lain. Para teolog memakai istilah "koinherensi” untuk menggambarkan peristiwa saling menghuni ini. Allah yang kekal sebagai hayat kekal ada di dalam kita dan kita ada di dalam Allah yang kekal. Siapa yang dapat menerangkan fakta, bahwa Allah dan manusia saling menghuni? Ini benar-benar ajaib!
1. Menciptakan Manusia Menurut Gambar dan RupaNya
Karena Allah ingin tinggal di dalam manusia, maka Dia menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26-27). Hal ini membuat manusia identik dengan Allah secara luaran. Dilihat dari luar, kita mirip Allah. Darwin mengatakan, kita adalah keturunan monyet, tetapi hal itu tidak masuk akal. Kita bukan keturunan monyet, melainkan manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Di antara jutaan benda yang diciptakan Allah, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan manusia. Semua makhluk hidup lain diciptakan menurut jenisnya, tetapi manusia diciptakan menurut jenis Allah. Hal ini dikarenakan manusia memiliki rupa Allah; manusia menyerupai Allah.
2. Menjadikan Manusia yang Terdiri dari Tiga Bagian --Tubuh, Jiwa dan Roh
Manusia memiliki rupa Allah, karena itu manusia bisa menjadi wadah untuk menampung Allah, yaitu wadah untuk dipenuhi Allah. Inilah sebabnya Allah menjadikan manusia dengan tiga bagian -- tubuh, jiwa dan roh (Kejadian 2:7; I Tesalonika 5:23). Manusia dijadikan seperti sebuah wadah untuk menerima Allah, dan wadah itu harus sepadan dengan isinya. Allah menjadikan kita dengan satu roh untuk menerimaNya, dengan satu pikiran untuk memahamiNya, dengan satu hati untuk mengasihiNya, dan dengan satu tubuh untuk menyatakanNya. Jadi, kita memiliki satu organ untuk menerima Allah, satu organ untuk memahami Dia, satu organ untuk mengasihi Dia dan satu organ, wadah luaran, untuk menyatakan Dia. Demikianlah Allah dapat menjadi satu dengan kita dan kita dapat bersatu dengan Dia.
B. Menjadikan Manusia Suatu OrganismeNya
Allah ingin bersatu dengan manusia untuk menjadikan manusia suatu organismeNya. Allah yang rohani, abstrak dan misterius ingin memiliki suatu organisme. Tubuh jasmani kita adalah suatu organisme. Allah ingin memiliki satu Tubuh, yaitu Tubuh Kristus, sebagai organismeNya.
Allah menjadikan manusia suatu organismeNya dengan menjadi hayat manusia dan isi manusia untuk menyatakan diriNya dalam sifat insani. Yesus adalah Allah dalam sifat insani. Dia adalah manusia yang sejati, dan Allah hidup di dalamNya, melaluiNya dan tertampil dari diriNya. Dia adalah manusia yang menyatakan Allah dalam semua pekerti Allah dalam keinsanianNya. Yesus begitu patut dikasihi dan begitu indah, karena Dia adalah manusia, tetapi Allah hidup di dalamNya. Allah hidup di dalamNya dengan semua pekerti Allah bagi penyataan diri Allah melalui keinsanian.
Kita, kaum imani, sebagai para pengikut Yesus juga merupakan orang-orang yang menyatakan Allah, mengekspresikan Allah dan membiarkan Allah hidup melalui diri kita dalam keinsanian kita. Kita, orang-orang Kristen, tidak hidup menurut hikmat atau kepandaian kita. Kita hidup menampilkan Allah. Orang-orang yang tidak percaya Tuhan mungkin mengira kita bodoh, tetapi sebenarnya kita adalah orang-orang yang paling bijaksana. Di pihak lain, rasul Paulus berkata, bahwa kita "menjadi bodoh karena Kristus" (I Korintus 4:10). Kita bodoh dalam pandangan orang lain, karena kita meninggalkan hikmat insani kita, demi Kristus. Kita adalah manusia, tetapi kita hidup menampilkan Allah. Kita menyatakan pekerti Allah melalui kebajikan insani kita.
C. Memiliki Ciptaan Baru dari Ciptaan LamaNya
Allah menciptakan alam semesta dan manusia. Itu adalah ciptaan lamaNya. Namun, tujuanNya bukanlah ingin memiliki ciptaan lama. Dia ingin memiliki ciptaan baru (II Korintus 5:17; Galatia 6:15).
1. Membagikan diriNya ke dalam Ciptaan LamaNya
Untuk memiliki ciptaan baru, Allah membagikan diriNya ke dalam ciptaan lamaNya. Ciptaan lama tidak memiliki Allah di dalamnya. Ciptaan lama tidak memiliki hayat Allah atau sifat Allah, tetapi ciptaan baru, yang terdiri dari kaum imani, yang dilahirkan ulang dari Allah, memiliki keduanya (Yohanes 1:13; 3:15; II Petrus 1:4). Maka, kaum imani adalah ciptaan baru (Galatia 6:15), bukan menurut sifat usang tubuh daging, melainkan menurut sifat baru hayat ilahi.
Sebelum kita dilahirkan ulang, kita adalah ciptaan lama tanpa Allah di dalam kita, tetapi hari ini kita bersukacita, karena kita memiliki Allah di dalam kita. Dialah sukacita kita. Alkitab mengatakan, kita seharusnya bersukacita senantiasa (I Tesalonika 5:16; Filipi 4:4). Namun hidup manusia penuh dengan penderitaan dan kekuatiran. Setelah menempuh begitu banyak penderitaan, Ayub mengungkapkan perasaannya, bahwa dia lebih suka tidak dilahirkan (Ayub 3:1-13). Bagaimana kita dapat tidak merasa kuatir akan segala sesuatu? Dalam diri kita sendiri, itu sama sekali tidak mungkin. Kita bisa bebas dari kekuatiran hanya bila kita hidup di dalam Allah. Allah adalah tempat kediaman kita. Musa berkata, "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan (tempat kediaman) kami turun-temurun" (Mazmur 90:1). Allah adalah rumah kekal kita untuk kita tinggali. Dia adalah tempat kediaman kita, dan kita adalah tempat kediamanNya (I Korintus 3:16; Efesus 2:22). Kita tinggal di dalam Dia dan Dia tinggal di dalam kita. Saling tinggal ini adalah ciptaan baru, dan ciptaan baru ini adalah maksud hati Allah.
2. Merampungkan Rencana ini dalam Empat Jaman dalam Ciptaan Lama
dan melalui Empat Orang dari Ciptaan Lama
Ekonomi kekal Allah adalah Dia bersatu dengan manusia, menjadikan manusia suatu organismeNya, sehingga Dia dapat memiliki ciptaan baru dari ciptaan lama. Ini bukan rencana yang sederhana. Allah merampungkan rencana ini dalam empat jaman dalam ciptaan lama, dan melalui empat orang dari ciptaan lama.
Menurut Alkitab, ada empat jaman dalam ciptaan lama -- jaman sebelum hukum Taurat, jaman hukum Taurat, jaman kasih karunia, dan jaman kerajaan. Allah bekerja dalam jaman pertama, jaman sebelum hukum Taurat, dari Adam sampai Musa, melalui ras Adam. Selanjutnya, Dia bekerja dalam jaman kedua, jaman hukum Taurat, dari Musa sampai kedatangan pertama Kristus, melalui keturunan duniawi ras Abraham (Kejadian 13:16). Dia masih bekerja dalam jaman ketiga, jaman kasih karunia, yaitu jaman gereja, dari kedatangan pertama Kristus sampai kedatangan kedua Kristus, melalui keturunan sorgawi ras Abraham (Kejadian 15:5). Kemudian Dia akan bekerja untuk merampungkan rencanaNya untuk memiliki ciptaan baru dalam jaman keempat, jaman terakhir, jaman kerajaan seribu tahun, melalui para pemenang dari ras Adam dan ras Abraham (Wahyu 12:5,11; 14:1-5). Allah memakai keempat jaman ini untuk merampungkan ekonomiNya.
Untuk rencana ilahi ini, Allah memerlukan ribuan tahun untuk merampungkannya. Dari Adam sampai Abraham ada dua ribu tahun, dari Abraham sampai Kristus ada dua ribu tahun, dan dari Kristus sampai hari ini hampir dua ribu tahun, Jadi, hampir enam ribu tahun berlalu sejak jaman Adam. Akhirnya, akan ada kerajaan milenium, kerajaan seribu tahun. Dari hal ini kita bisa nampak, Allah memerlukan ribuan tahun untuk merampungkan proyek ekonomiNya agar bersatu dengan manusia, menjadikan manusia suatu organismeNya, sehingga manusia dapat menjadi ciptaan baruNya dengan diri-Nya sendiri sebagai hayat dan isinya.
Hari ini kita berada dalam jaman kasih karunia di bawah proses rencana Allah untuk memiliki ciptaan baru. Setiap orang yang berpikiran jauh, pasti ingin tahu apakah makna hidup manusia. Dalam kitab Pengkhotbah, Salomo mengatakan, bahwa segala sesuatu di bawah matahari adalah kesia-siaan di atas segala kesia-siaan (1:2-3). Tetapi syukur kepada Tuhan, karena kita berada dalam tujuanNya dan kita tahu makna hidup manusia. Allah sudah memilih kita sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4) dan memanggil kita pada waktunya untuk melaksanakan ekonomi kekalNya, untuk memiliki ciptaan baru. Allah memiliki satu kehendak, satu rencana, dan kita ada di dalam proses rencanaNya hari demi hari. Saya harap, akhirnya saya dapat dipandang sebagai salah seorang pemenang olehNya. Sasaran saya adalah menjadi pemenang.
II. KEGAGALAN MANUSIA
Allah sedikitnya akan menghabiskan waktu tujuh ribu tahun untuk menyelesaikan rencanaNya demi mendapatkan ciptaan baru dari ciptaan lama. Dia menghabiskan empat jaman untuk melakukan hal ini, karena umat manusia telah gagal di hadapan Allah.
A. Kegagalan Ras Adam dalam Jaman
Sebelum Hukum Taurat
Allah menciptakan Adam. Ini berarti Allah memilih Adam dengan keturunannya sebagai saranaNya untuk melahirkan ciptaan baru. Namun, akhirnya ras Adam menjadi tubuh daging pada waktu air bah (Kejadian 6:3a). Pada waktu air bah datang, manusia telah penuh dosa dan buruk sama sekali di pandangan Allah. Kemudian, ras Adam menjadi satu dengan Iblis di Babel (Kejadian 11:4-9). Manusia menjadi bersifat setani. Kemudian Allah memilih Abraham, sehingga Dia bisa memiliki ras baru, ras terpanggil.
B. Kegagalan Keturunan Duniawi Ras Abraham
Tetapi, ras yang baru, ras terpanggil, keturunan duniawi ras Abraham, juga gagal. Mereka meninggalkan Allah dengan perjanjian lamaNya (Yeremia 2:13; 11:10b), memilih Iblis dan kerajaannya (11:10a).
C. Kegagalan Keturunan Sorgawi Ras Abraham
Abraham memiliki dua macam keturunan. Yang satu dilambangkan dengan debu. Kejadian 13:16 memberitahu kita, bahwa keturunan Abraham digambarkan seperti debu tanah. Itu adalah keturunannya yang duniawi, orang-orang Yahudi menurut daging. Yang kedua dari keturunan Abraham, menurut Kejadian 15:5 adalah seperti bintang-bintang di langit. Itu adalah kaum imani Perjanjian Baru, keturunan Abraham yang rohani dan sorgawi. Galatia 6:16 mengatakan, bahwa kita, kaum imani Perjanjian Baru, adalah Israel Allah yang rohani.
Keturunan sorgawi Abraham juga gagal. Mereka gagal dalam menikmati Allah Tritunggal yang terproses (baca II Korintus 13:13) dan dirusak oleh lblis melalui dosa, ego, dunia dan dunia agamawi (I Yohanes 3:8; Matius 16:24; I Yohanes 2:15; Galatia 1:4; 6:14). Surat-surat terakhir Paulus dan surat-surat kepada ketujuh gereja dalam Wahyu pasal 2 dan 3 menunjukkan, bahwa menjelang akhir abad pertama, gereja telah merosot. Jadi, ras ciptaan telah gagal, ras pilihan sebagai keturunan duniawi Abraham telah gagal, dan keturunan sorgawi Abraham juga telah gagal. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus datang dan memanggil para pemenang dalam kitab Wahyu. Dia memanggil para pemenang sebanyak tujuh kali dalam surat kirimanNya kepada ketujuh gereja dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3 (2:7,11,17,26-28; 3:5,12,20-21). Dia sedang memanggil kita, kaum imani, bintang sorgawi dan keturunan sorgawi Abraham, untuk menjadi para pemenang.
Pada ras Adam, Allah menderita kerugian. Pada keturunan Abraham yang bagaikan debu, Allah juga dirugikan. Pada keturunan sorgawi Abraham, Allah kembali dirugikan. Tetapi pada kelompok orang yang terakhir, para pemenang, Allah mendapatkan kemenangan. Dalam kitab terakhir dari Alkitab, kitab Wahyu, kita nampak, bahwa Kristus telah mendapatkan sekelompok pemenang, dan kelompok ini akhirnya menjadi suatu keberhasilan yang besar bagi Allah.
D. Kristus Memanggil Para Pemenang dari Keturunan Sorgawi Ras Abraham
bagi Jaman Kerajaan
Kristus memanggil para. pemenang dari keturunan sorgawi ras Abraham bagi jaman kerajaan, untuk merampungkan ekonomi Allah dan mendatangkan kerajaan Kristus dan Allah (Wahyu 11:15). Hari ini beberapa orang Kristen mengeluh dan meratapi keadaan gereja yang kasihan dan gagal. Kelihatannya itu benar, tetapi secara tersembunyi dari abad ke abad, telah ada banyak kelompok pemenang. Saya percaya, di antara kita ada beberapa pemenang. Dari dalam batin saya, saya dapat bersaksi, bahwa beberapa orang kudus yang pernah melayani bersama saya selama bertahun-tahun adalah pemenang. Kita tidak seharusnya mengira gereja sudah gagal sama sekali. Kelihatannya memang demikian, sebenarnya, tidak demikian. Ada sekelompok orang kudus yang berdiri di pihak Pemanggil, Kristus, untuk menjadi para pemenangNya.
Para pemenang akan merampungkan ekonomi Allah dan akhirnya mendatangkan kerajaan Allah. Sebagai para pemenang, kita tidak menampilkan diri kita sendiri. Kita menampilkan Allah. Ketika kita menampilkan Allah, kita menaklukkan segala macam situasi. Dalam I Korintus, Paulus menasihati kaum saleh untuk menjadi manusia yang dewasa dan kuat (16:13). Perkataan Paulus tidak hanya diberikan kepada saudara-saudara, tetapi juga kepada saudari-saudari yang ada di Korintus. Kita semua perlu menjadi manusia dewasa yang kuat semacam itu. Kita seharusnya melupakan diri kita, karena Allah ada di dalam kita. Kita harus mengatasi, menaklukkan semua situasi. Kemudian kita harus menundukkan lingkungan kita. lni berarti mendatangkan dan meluaskan wilayah pemerintahan Allah, yaitu mendatangkan kerajaan Allah. Menunggu dengan pasif kedatangan kerajaan Allah itu keliru. Allah membutuhkan sejumlah pemenang untuk menaklukkan situasi dan menundukkan lingkungan, sehingga wilayah pemerintahanNya didatangkan dan diperluas untuk mendatangkan kerajaanNya.