← Daftar isi Bagian Kesatu Penyaluran Ilahi dari Trinitas Ilahi dan Hasilnya · bab 14/21

PENYALURAN ILAHI DARI KRISTUS YANG ALMUHIT DALAM MEMBUAT RUMAH-NYA DI DALAM HATI KAUM BERIMAN MENYUPLAI KAUM BERIMAN

DENGAN KEPENUHAN ALLAH TRITUNGGAL,

AGAR GEREJA DAPAT MENJADI

EKSPRESI SEMPURNA ALLAH TRITUNGGAL

Garis Besar dan Pembacaan Alkitab

I. Penyaluran ilahi dari Allah Bapa menguatkan kaum beriman dengan kekuatan, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, oleh Roh-Nya ke dalam manusia batiniah agar kaum beriman dapat mengalami dan menikmati:

A. Penyaluran kekayaan kemuliaan Allah Bapa.

B. Penyaluran operasi Roh Allah Bapa.

C. Penyaluran penguatan dengan kuasa ilahi — Ef. 3:14-16.

II. Penyaluran ilahi Kristus dalam membuat rumah-Nya di dalam hati kaum beriman melalui iman, agar kaum beriman:

A. Berakar untuk bertumbuh dan berdasar untuk dibangun di dalam kasih.

B. Dikuatkan untuk memahami bersama semua orang kudus kelebaran, dan kepanjangan, dan ketinggian, dan kedalaman alam semesta, yang merupakan dimensi Kristus yang tidak terukur.

C. Mengenal dan mengalami penyaluran ilahi dari kasih Kristus yang melampaui pengetahuan.

D. Agar mereka dapat dipenuhi ke dalam seluruh kepenuhan Allah untuk menjadi ekspresi korporat Allah Tritunggal — Ef. 3:17-19.

EKONOMI ALLAH MENJADI TUGAS PENYELENGGARAAN RASUL

Seperti telah kita lihat, berdasarkan konteksnya, kata “oikonomia” dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan ekonomi, atau pengaturan, atau tugas penyelenggaraan. Dalam Allah, itu adalah suatu rencana, perhitungan, dan ekonomi, tetapi ketika ekonomi Allah sampai kepada rasul-rasul, ekonomi itu menjadi tugas penyelenggaraan.

Ekonomi Allah adalah satu hal besar, yang mencakup pertama, penciptaan langit, bumi, dan semua makhluk hidup untuk menghasilkan ciptaan lama. Pekerjaan menghasilkan ciptaan lama dilakukan oleh Allah sendiri. Tetapi ketika Allah datang untuk menghasilkan ciptaan baru, Ia bekerja melalui prinsip inkarnasi. Dengan kata lain, Ia bekerja sama dengan manusia dan memerlukan kerja sama manusia. Allah memiliki segalanya dalam diri-Nya, tetapi dalam ciptaan baru, Ia harus memiliki kerja sama manusia sebelum Ia dapat menghasilkan sesuatu. Ia memerlukan manusia untuk menjadi satu hayat dan satu roh dengan Dia dan bersatu dan berbaur dengan Dia, barulah ciptaan baru dapat terealisasi. Ekonomi Allah adalah satu hal besar. Untuk melaksanakan ekonomi semacam itu, Allah harus memiliki penyelenggara untuk melayani, melayankan, mengelola, dan melaksanakan ekonomi-Nya. Pertama-tama, tugas penyelenggaraan ini dipercayakan kepada para rasul. Allah mempercayakan ekonomi-Nya kepada para rasul. Ketika para rasul menerima ekonomi Allah, ekonomi itu menjadi suatu ministri, suatu tugas penyelenggaraan di dalam mereka. Kita mungkin mengira hanya para rasul dan orang-orang berkarunia yang lainnya yang layak mengemban tugas penyelenggaraan ekonomi Allah dan kita, “anak bawang”, hanya layak melakukan tugas kebersihan dan penyambutan tamu, tidak layak untuk mengemban tugas penyelenggaraan semacam itu. Namun, dalam terang pengajaran Perjanjian Baru, semua orang beriman adalah imam, entah itu Paulus atau Petrus atau saudara saudari yang lain, baik tua maupun muda (1 Ptr. 2:5, 9; Why. 1:5-6). Jadi, ekonomi Allah telah menjadi tugas penyelenggaraan bagi semua orang beriman. Rasul Paulus dan kita mengemban tugas penyelenggaraan yang sama. Meskipun tugas penyelenggaraannya mungkin lebih besar, ia tetap seorang penyelenggara. Kita juga penyelenggara, yang setingkat dengan dia.

ORANG-ORANG YANG BERKARUNIA

MEMPERLENGKAPI ORANG-ORANG KUDUS

BAGI PEKERJAAN MINISTRI PERJANJIAN BARU

Efesus 4:11 menunjukkan bahwa dalam kenaikan, Kepala memberikan segala macam karunia. Karunia-karunia ini meliputi para rasul, para nabi, para penginjil, para gembala dan para pengajar. Dalam ayat 12 ada gelar keenam — orang-orang kudus. Orang-orang yang berkarunia yang disebutkan belakangan bukanlah untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk memperlengkapi orang-orang kudus. Orang-orang kudus bukanlah untuk para rasul, tetapi para rasul untuk orang-orang kudus. Jika orang-orang kudus untuk para rasul, kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Korintus akan terjadi. Ada orang akan mengatakan bahwa mereka milik Paulus, sedangkan yang lain akan mengatakan mereka milik Apolos, dan akan terjadi perpecahan di antara kita (1 Kor. 1:12). Itulah sebabnya Paulus berkata bahwa orang-orang kudus itu bukan untuk dia, tetapi bahwa ia adalah untuk orang-orang kudus. Mereka bukan milik Paulus, sebaliknya, Paulus adalah milik mereka, karena segala sesuatu adalah milik mereka, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang, semuanya milik mereka (1 Kor. 3:21-22). Orang-orang kudus adalah “pangeran” atau “putra mahkota”, yang akan mewarisi bumi (Rm. 4:13). Para rasul adalah budak orang-orang kudus. Para rasul, nabi, dan penginjil, semuanya adalah untuk memperlengkapi orang-orang kudus dan semuanya adalah budak (2 Kor. 4:5). Selanjutnya, sasaran para rasul dan nabi, sebagai orang-orang yang berkarunia dan melayani orang-orang kudus, adalah membuat setiap orang dapat melakukan pekerjaan ministri Perjanjian Baru, yaitu membangun Tubuh Kristus. Setiap orang kudus dapat melakukan pekerjaan seorang rasul, nabi, penginjil, gembala, dan pengajar. Inilah perbedaan antara jalan yang ditetapkan Allah dalam Alkitab dengan cara kekristenan yang tradisional. Cara kekristenan adalah mengharapkan sekelompok kecil orang, kaum paderi, menjadi makin lama makin mahir, sedangkan orang-orang kudus selebihnya menjadi kaum awam, dipinggirkan, dan hanya untuk pelayanan ibadah. Kasarnya, mereka semua telah dicoret. Inilah sesuatu yang Allah benci (Why. 2:6). Meskipun kita telah keluar dari denominasi dan sekte untuk mempraktekkan pemulihan Tuhan, sayangnya kita belum bebas sepenuhnya dari kuman dan racun denominasi atau sekte. Namun, kita tidak sadar akan hal ini. Kita mungkin masih menganggap bahwa para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar, juga para penatua, adalah orang-orang yang mampu dan lebih tinggi daripada orang-orang kudus yang lain. Namun, firman Tuhan mengatakan bahwa di antara kita, tidak ada perbedaan tinggi rendah, besar kecil. Setiap orang adalah saudara. Jika seseorang ingin menjadi besar, ia harus menjadi hamba setiap orang. Para penatua adalah domba kepala dari kawanan. Mereka bahkan harus memimpin membersihkan kamar kecil. Mereka tidak boleh berdiri saja sambil memerintah orang lain untuk bekerja. Di antara kita tidak boleh ada konsepsi hierarki atau jenjang. Alkitab mengatakan bahwa kita semua adalah anggota-anggota Tubuh Kristus (1 Kor. 12:27; Ef. 5:30). Karena kita adalah anggota-anggota, kita semua mempunyai fungsi. Alkitab juga mengatakan bahwa kita semua adalah imam, dan kita semua dapat mempersembahkan kurban-kurban rohani, menyalakan pelita, dan membakar ukupan. Setiap orang dapat melakukan hal-hal itu. Para rasul, para nabi, para penginjil, para gembala dan para pengajar harus mengajar, melatih, dan memperlengkapi orang-orang kudus agar orang-orang kudus dapat melakukan apa saja yang dapat mereka lakukan, bahkan mungkin dengan lebih baik.

“Jalan baru” Tuhan hari ini menghendaki orang-orang yang berkarunia menyempurnakan orang-orang yang tidak berkarunia, sehingga setelah sejangka waktu, mereka semua akan berkarunia. Dalam tahun pertama di universitas, seorang mahasiswa lebih rendah daripada profesornya. Tetapi setelah melewati empat tahun belajar di universitas, dua tahun pasca sarjana, dan tiga tahun program doktoral, seorang mahasiswa akan menjadi seorang doktor, dan bisa menjadi lebih baik daripada profesornya. Kita perlu nampak bahwa pelayanan dalam gereja, di satu pihak, adalah menyuplaikan Kristus kepada orang lain, dan di pihak lain, memperlengkapi orang lain. Setelah kita memperlengkapi orang lain, orang-orang yang diperlengkapi itu akan dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan yang kita lakukan, bahkan mungkin mereka melakukannya dengan lebih baik. Inilah standar yang Alkitab bentangkan di hadapan kita. Kita perlu menemukan jalan dengan segala cara untuk mewujudkan Efesus 4:11-12. Jika semua saudara dan saudari di tengah-tengah kita diperlengkapi dan dapat melayankan Kristus bagi pembangunan gereja, gereja akan mengalami suatu pertambahan yang besar! Setelah seseorang beroleh selamat dan kita bantu selama empat tahun, ia seharusnya dapat berbagian dalam semua aspek pelayanan, ia tentu dapat memberitakan Injil untuk melayankan Kristus bagi keselamatan orang lain; ia tentu dapat menggembalakan kaum beriman baru sebagai domba-domba dalam gereja; ia tentu dapat mengajar dan memperlengkapi mereka dalam sidang-sidang kelompok, dan ia tentu dapat perlahan-lahan membantu mereka bertutur-sabda dan berbicara bagi Tuhan untuk membangun gereja. Itulah keempat langkah dari jalan baru kita: melahirkan, merawat, mendidik, dan membangun. Akhirnya, ketika kita datang ke dalam sidang, kita tidak perlu mencari pengkhotbah. Setiap orang yang hadir akan dapat berbicara untuk Tuhan. Sidang-sidang akan menjadi sangat segar, hidup, dan kaya.

CONTOH-CONTOH PARA RASUL

YANG DIPERLENGKAPI MENJADI MINISTER

Dalam 2 Korintus 1, 3, dan 4, Paulus menggambarkan bagaimana ia dan rasul-rasul yang lain menjadi penyalurpenyalur Kristus. Ia menggunakan sedikitnya empat ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana para rasul menuntut dan bertumbuh. Pertama, dalam 1:21 Paulus berkata bahwa para rasul telah diurapi oleh Allah. Pengurapan minyak melambangkan perampungan sempurna Allah Tritunggal, yang sebagai minyak urapan dan Roh yang majemuk mengurapi kita. Semakin sering Roh ini mengurapi kita, semakin banyak unsur Allah yang kita dapatkan. Kedua, dalam 1:22 Paulus mengatakan bahwa Roh ini juga memeteraikan para rasul. Ini berarti sesudah mereka dimeteraikan, mereka terus-menerus diresapi, dijenuhi, dan dipenuhi dengan Roh. Kemudian, dalam 3:18, Paulus berkata bahwa rasul-rasul seperti cermin yang dengan wajah yang tidak berselubung memandang dan memantulkan gambar mulia Tuhan, dan bersekutu dengan Tuhan berhadapan wajah. Mereka tidak hanya melihat sekali lalu pergi. Mereka melihat berkali-kali. Dengan demikian, gambar Tuhan yang mulia terpantul pada cermin itu dan perlahan-lahan mereka diubah menjadi serupa dengan gambar yang mulia dari Tuhan Roh. Terakhir, dalam 4:7-16 Paulus mengatakan bahwa para rasul adalah bejana tanah liat dengan Kristus sebagai harta di dalamnya, melalui harta ini mereka menerima keunggulan kuasa Allah yang besar dan dapat mengalami mematikan manusia lahiriah mereka hari demi hari, sehingga harta di dalam mereka dapat memancar hari demi hari dan diperbesar dari dalam mereka. Sebagai orang-orang yang demikian mereka menjadi pelayanpelayan (minister-minister) yang dapat melayankan Kristus, mentransmisikan Dia, dan menyalurkan Dia kepada orang lain. Mereka juga mampu sepenuhnya melaksanakan ekonomi Allah, melalui ministri mereka, yaitu memberitakan dan melayankan kekayaan Kristus yang tidak terduga untuk menghasilkan gereja. Dengan demikian, mereka menggenapkan ekonomi Allah. Jika para rasul sebagai orang-orang yang memperlengkapi adalah orang-orang yang selalu belajar, orang-orang yang mereka perlengkapi dan bantu tentu menjadi sama seperti mereka, selalu belajar juga. Jadi, dalam gereja-gereja pemulihan Tuhan kita perlu menciptakan suatu suasana yang di dalamnya orang-orang yang berkarunia selalu melakukan pekerjaan memperlengkapi orang-orang kudus. Mereka seharusnya mengambil setiap kesempatan untuk memperlengkapi orang lain. Pada saat yang sama, semua orang kudus selalu belajar. Pada akhirnya, setiap orang kudus dalam gereja akan dapat berbicara bagi Tuhan, memberitakan Injil, menggembalakan, dan memperlengkapi orang lain. Setiap orang akan menjadi imam, dan akan dapat melaksanakan tugas penyelenggaraan bagi perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Inilah yang Tuhan kehendaki hari ini.

PENYALURAN ILAHI DARI ALLAH BAPA MENGUATKAN

KAUM BERIMAN DENGAN KEKUATAN,

MENURUT KEKAYAAN KEMULIAAN-NYA,

OLEH ROH-NYA KE DALAM MANUSIA BATINIAH

Rasul Paulus sangat cakap melakukan pekerjaan memperlengkapi kaum saleh. Dalam Efesus 3, ia menunjukkan bagaimana ia mengajar dan memperlengkapi orang lain. Pertama, ia berdoa bagi semua orang kudus yang dia perlengkapi. Ia berlutut kepada Bapa dan berdoa agar Bapa menguatkan orang-orang kudus dengan kekuatan oleh Roh-Nya ke dalam manusia batiniah. Kekuatan yang dengannya Bapa menguatkan orang-orang kudus adalah kekuatan yang membuat Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, dan menjadi Tuhan dan Kristus. Normal atau tidaknya kehidupan rohani kita tergantung pada manusia batiniah kita, yaitu roh kita yang telah dilahirkan kembali. Kidung No 450 mengatakan, “Oleh Roh, dengan roh, lahir dan menyembah, Roh pun firman, bawa hayat limpah, alirkan air hayat.” Kidung ini berisi pemikiran dalam Yohanes 3, 4, 6, dan 7. Yohanes 3:6 mengatakan, roh kita dilahirkan dari Roh itu: “Apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Tl.). Yohanes 4:24 mengatakan, roh kita menyembah Roh itu: “Allah itu Roh, dan siapa saja yang menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh . . .”

Dengan penyembahan yang demikian, kita dipenuhi dengan Roh. Yohanes 6:63 mengatakan bahwa Roh itu menjadi firman atau perkataan: “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Kemudian Yohanes 7:38 mengatakan bahwa pada Roh ini ada hayat yang berlimpah yang mengalir seperti aliran-aliran air hidup. Semakin sering seseorang menyanyikan kidung ini, ia akan semakin hidup, dan manusia batiniahnya semakin dikuatkan.

PENYALURAN ILAHI KRISTUS DALAM MEMBUAT RUMAH-NYA

DI DALAM HATI KAUM BERIMAN MELALUI IMAN

Begitu manusia batiniah kita dikuatkan, dengan spontan kita akan terbuka kepada Tuhan, dan Kristus akan dapat membuat rumah-Nya di dalam hati kita melalui iman. Membuat rumah adalah menetap, bukan menjadi tamu atau tinggal sementara. Tuhan sering seperti tamu di dalam kita; Ia tidak bisa menetap. Meskipun kita mengasihi Tuhan, dalam pikiran kita masih ada sudut-sudut yang tidak dapat disentuh oleh Tuhan, dalam tekad kita masih ada bagian-bagian yang belum diserahkan kepada Tuhan, dan dalam emosi kita masih ada kasih yang lain yang menghalangi Tuhan masuk ke dalamnya. Karena itu, Tuhan tidak dapat melakukan apa-apa. Paulus berdoa agar roh kita dikuatkan, sehingga Tuhan dapat memperoleh setiap bagian dan dapat menetap di dalam hati kita. Hati kita seperti rumah yang memiliki beberapa kamar. Hati memiliki pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani. Bila roh kita kuat, kita akan membiarkan Tuhan menduduki dan memenuhi setiap bagian. Kemudian Tuhan akan dapat membuat rumahnya di dalam seluruh diri kita dengan nyaman dan wajar.

Berakar untuk Bertumbuh dan Berdasar untuk Dibangun di Dalam Kasih

Ketika Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita, dalam kasih-Nya kita dapat berakar untuk bertumbuh dan berdasar untuk dibangun (Ef. 3:17). Bila kita berakar dan berdasar di dalam kasih Tuhan sedemikian, kita akan dapat menerima penyaluran batiniah Tuhan berulang-ulang. Ketika Tuhan membuat rumah-Nya di dalam kita, Ia akan meluas di dalam kita, dan perluasan-Nya akan menjadi penyaluran-Nya. Semakin sering Ia memperluas diri-Nya, semakin banyak Ia menyalurkan diri-Nya kepada kita. Ketika Ia meluas ke dalam pikiran, emosi, tekad, dan bahkan ke dalam hati nurani kita, semua bagian batiniah kita akan menerima penyaluran-Nya lebih banyak. Makin lama kita akan makin mengenal Tuhan sebagai Yang patut dikasihi, dan akan berakar dan berdasar di dalam kasih-Nya. Dengan demikian, kita dapat menjadi rasul seperti Paulus. Doa Paulus dapat dianggap doa agar kaum saleh dapat menjadi rasul. Dari zaman ke zaman, tidak terhitung banyaknya orang kudus yang telah diperlengkapi oleh doanya.

Dikuatkan untuk Memahami Bersama Semua Orang Kudus Kelebaran,

dan Kepanjangan, dan Ketinggian, dan Kedalaman Alam Semesta,

yang Merupakan Dimensi Kristus yang tidak Terukur

Begitu kita berakar dan berdasar di dalam kasih Kristus, kita akan penuh dengan kuasa dan kekuatan untuk memahami bersama semua orang kudus kelebaran dan kepanjangan dan ketinggian dan kedalaman alam semesta, yang merupakan dimensi Kristus yang tidak terukur. Dalam alam semesta ada keempat dimensi ini: kelebaran, kepanjangan, ketinggian, dan kedalaman. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan berapa lebar kelebaran itu, berapa panjang kepanjangan itu, berapa tinggi ketinggian itu, atau berapa dalam kedalaman itu. Dimensi yang tidak terukur ini adalah dimensi Kristus. Semakin kita berakar dan berdasar di dalam kasih-Nya, mengalami dan menikmati kasih-Nya, kita akan semakin memahami bersama semua orang kudus ketidakterukuran-Nya. Ini membuktikan bukan hanya kita telah menerima penyaluran-Nya, tetapi juga membuktikan kita telah menerima Dia secara tidak terukur. Semakin kita menerima Dia, semakin tidak terukur dan tidak terbataslah Ia, dan kita semakin menyadari bahwa Ia tidak terukur dan kekayaan-Nya tidak terduga.

Mengenal dan Mengalami Penyaluran Ilahi dari Kasih Kristus

yang Melampaui Pengetahuan, Dipenuhi ke Dalam Seluruh Kepenuhan Allah

untuk Menjadi Ekspresi Korporat Allah Tritunggal

Setelah kita berakar dan berdasar, dan telah menjadi kuat untuk memahami dimensi Kristus yang tidak terukur dan menikmati serta mengalami penyaluran ilahi dari kasih Kristus yang melampaui pengetahuan, seluruh diri kita akan dipenuhi ke dalam seluruh kepenuhan Allah, dan kita akan menjadi ekspresi korporat Allah Tritunggal. Jika kita semua seperti ini, tentu saja kita akan diperlengkapi menjadi rasul dan nabi.

Dalam ayat-ayat ini Paulus menunjukkan bagaimana ia memperlengkapi orang-orang kudus sampai setiap orang dari mereka menjadi sama seperti dia. Ia adalah orang yang mengalami Kristus; ia kuat dalam roh, dan Tuhan dapat membuat rumah-Nya di dalam setiap bagian dari hatinya. Ia penuh dengan kemanisan Kristus, penuh dengan kasih-Nya, dan mengalami semua dimensi-Nya. Karena ia adalah rasul yang demikian, perlengkapannya akan membuat kita menjadi sama seperti dia. Dengan demikian, jiwa-jiwa akan diselamatkan, domba-domba akan dibawa kembali kepada kawanan, dan semua orang kudus akan diperlengkapi menjadi orang-orang yang berkarunia untuk melakukan pekerjaan ministri Perjanjian Baru, yaitu pembangunan Tubuh Kristus untuk penggenapan ekonomi kekal Allah.