PENYALURAN ILAHI DARI TRINITAS ILAHI MEMBUAT KAUM BERIMAN MENJADI KARYA AGUNG ALLAH, MANUSIA BARU, KERAJAAN ALLAH UNTUK ADMINISTRASI-NYA,
RUMAH ALLAH UNTUK MENYALURKAN KASIHNYA,
DAN TEMPAT KEDIAMAN ALLAH UNTUK PERHENTIAN-NYA
Garis Besar dan Pembacaan Alkitab
I. Penyaluran Allah Bapa dalam hayat dalam Allah Putra menghidupkan kaum beriman (yang semula mati), membangkitkan mereka, dan mendudukkan mereka bersama Kristus di surga, dan dengan demikian menciptakan mereka menjadi karya agung-Nya:
A. Menjadi gereja-Nya.
B. Agar Ia dapat memamerkan pada zaman yang akan datang kekayaan anugerah hayat-Nya (Allah Tritunggal) — Ef. 2:1-10.
II. Penyaluran ilahi Allah Putra menciptakan kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir menjadi satu manusia baru, oleh kematian-Nya di atas salib dan dengan unsur ilahi-Nya, agar Allah dapat merampungkan ekonomi ilahi-Nya, dan dengan demikian membuat dua kelompok orang beriman itu:
A. Diperdamaikan dalam satu Tubuh kepada Allah.
B. Menikmati Kristus sebagai damai sejahtera di antara keduanya dan di antara mereka dengan Allah — Ef. 2:11-17.
III. Penyaluran ilahi Allah Roh memungkinkan kedua kelompok yang menyusun manusia baru memiliki jalan masuk dalam Dia kepada Allah Bapa, dengan demikian membuat Tubuh sebagai manusia baru menjadi:
A. Kerajaan Allah Tritunggal untuk administrasi-Nya.
B. Rumah Allah untuk menyalurkan kasih-Nya.
C. Tempat kediaman Allah dalam roh kaum beriman untuk perhentian-Nya
— Ef. 2:18-22.
Dalam berita yang lalu, kita nampak penyaluran ilahi dari trinitas ilahi dalam Efesus 1 dan bagaimana penyaluran itu telah menghasilkan gereja. Pemilihan Bapa menyalurkan sifat Bapa ke dalam kita sehingga kita dapat menjadi kudus, dan penentuan-Nya menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita sehingga kita dapat menjadi anak-anak-Nya. Selanjutnya, Putra datang untuk menebus kita. Dalam penebusan Putra, melalui unsur Kristus, Allah menyusun kita menjadi warisan-Nya yang berharga. Kemudian Allah Roh memeteraikan kita dan menjamin kita sehingga di satu pihak, Ia menjenuhi dan meresapi kita, dan di pihak lain, Ia menjadi kenikmatan kita sebagai pencicipan atas diri Allah menjadi berkat warisan kita. Terakhir, kuat kuasa yang sangat besar yang dikerjakan Allah Tritunggal di dalam Kristus ditransmisikan ke dalam kita untuk menghasilkan gereja.
PENYALURAN ALLAH BAPA DALAM HAYAT DALAM ALLAH PUTRA
MENGHIDUPKAN KAUM BERIMAN (YANG SEMULA MATI),
MEMBANGKITKAN MEREKA,
DAN MENDUDUKKAN MEREKA BERSAMA KRISTUS DI SURGA,
DAN DENGAN DEMIKIAN MENCIPTAKAN MEREKA
MENJADI KARYA AGUNG-NYA
Dalam Efesus 2 Paulus melanjutkan dengan lebih dulu memperlihatkan kepada kita bahwa penyaluran Allah Bapa dalam hayat dalam Allah Putra telah menghidupkan kaum beriman (yang semula mati dalam dosa-dosa), membangkitkan mereka, dan mendudukkan mereka bersama Kristus di surga, dan dengan demikian menciptakan kaum beriman menjadi karya agung-Nya, menjadi gereja-Nya, agar Ia dapat memamerkan kekayaan anugerah hayat Allah Tritunggal yang melampaui segala sesuatu dalam zaman-zaman yang akan datang (Ef. 2:1-10).
Pertama-tama, Paulus menampakkan kepada kita (orangorang yang telah menjadi gereja) orang macam apakah kita di masa lalu, dan bagaimana Allah bekerja di atas diri kita untuk membuat kita menjadi karya agung-Nya. Dalam ayat 1-3 ia menunjukkan kepada kita bahwa kita yang telah diciptakan untuk menjadi Tubuh Kristus melalui penyaluran Allah, dulu kita bukan hanya orang dosa tetapi orang-orang yang mati, mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa kita. Di alam semesta kita bukanlah apa-apa. Namun, melalui rahmat Allah yang besar, Ia datang kepada kita dalam anugerah-Nya, yaitu hayat ilahi Allah dalam Anak-Nya. Allah datang kepada kita dalam anugerah-Nya berarti Ia datang kepada kita dalam hayat ilahi Anak-Nya. Melalui hayat ilahi ini, Allah menghidupkan kita, orang-orang yang mati, bersama Kristus. Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dan pada hari ketiga Allah membangkitkan Kristus. Ia menggunakan hayat yang menghidupkan ini untuk menghasilkan karya utama-Nya, sehingga kita, orang-orang yang mati, dapat hidup kembali.
Setelah dihidupkan, kita dibangkitkan bersama Kristus (ayat 6). Dihidupkan adalah dibangunkan, dan dibangkitkan adalah berdiri dan mampu bergerak. Tidak hanya demikian, setelah kebangkitan, Allah mengangkat (menaikkan) kita dan mendudukkan kita di surga. Kita bukan lagi sekelompok orang yang berada di bumi, melainkan sekelompok orang yang berada di surga. Dengan demikian, kita telah masuk ke dalam hayat dari kematian dan telah dipindahkan dari bumi ke surga. Dalam kedudukan kebangkitan dan kenaikan, kita tidak lagi hidup di dalam dosa, melainkan berjalan atau hidup dalam pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah untuk kita lakukan (ayat 10). Dengan demikian, Allah telah bekerja di atas diri kita dalam anugerah-Nya sedemikian rupa sehingga kita menjadi karya agung Allah.
Kata karya agung dalam bahasa Yunaninya berarti sesuatu yang baik, buatan tangan, atau sesuatu yang telah ditulis atau disusun seperti sebuah syair, puisi. Bukan hanya tulisan puitis yang bisa disebut syair, tetapi juga karya seni apa saja yang menyatakan hikmat dan rancangan pembuatnya. Allah telah membuat kita yang semula adalah orang-orang yang tidak berguna, orang-orang dosa yang mati dalam dosa-dosa, menjadi sesuatu yang mengekspresikan keindahan hikmat Allah di alam semesta. Di hadapan malaikat, dan bahkan di depan mata musuh, kita adalah syair yang manis, indah, dan bijak yang ditulis oleh Allah. Dengan kata lain, kita yang semula orang-orang yang tidak berguna dan yang mati dalam dosa telah menjadi, oleh anugerah hayat Allah, sebuah lagu yang dapat dinyanyikan dan dinikmati.
Semula kita adalah orang-orang yang tidak ada harapan. Tetapi Allah telah menyalurkan hayat-Nya kepada kita. Ketika hayat ini datang, anugerah juga datang. Kedatangan anugerah Allah adalah nafas hidup yang dihembuskan ke dalam hati kita yang mati, dan kita dihidupkan dalam batin. Kita menjadi hidup bersama Kristus. Kita juga berdiri bersama Kristus dan dapat bergerak dan bekerja. Tidak hanya demikian, Allah telah mengangkat kita ke surga dan telah mendudukkan kita di surga. Ketika kita duduk di surga, Allah dan malaikat memandang kita sebagai syair yang indah. Ini menunjukkan kepada kita tingkat penyaluran Allah yang telah dikerjakan-Nya atas diri kita.
Dalam diri kita sendiri, kita tidak bisa membuat diri kita sendiri berdiri, dan naik ke surga. Alamiah kita tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi kekuatan gravitasi (gaya tarik bumi). Namun, nafas hayat Allah, anugerah hayat-Nya, telah dihembuskan ke dalam kita. Anugerah hayat ini memiliki kemampuan yang memungkinkan kita naik ke surga, tempat Allah berada. Anugerah ini juga telah mendudukkan kita di sana sehingga Allah dapat memamerkan dalam zaman-zaman yang akan datang, yaitu dalam Kerajaan Seribu Tahun dan dalam langit baru dan bumi baru, kekayaan anugerah hayat-Nya. Saat itu kita akan seperti kidung yang indah untuk dinyanyikan semua makhluk ciptaan, kidung tentang kemanisan Allah, hikmat Allah, dan kemuliaan Allah. Kidung nomor 154 adalah kidung yang sangat manis. Ketika kita menyanyikan kidung itu, kita merasakan kemanisannya dan keindahannya. Saya yakin, suatu hari, dalam kerajaan, semua malaikat akan memimpin makhluk ciptaan menyanyikan kidung pujian semacam itu kepada Allah tentang kita sebagai syair Allah, karya agung Allah.
PENYALURAN ILAHI ALLAH PUTRA MENCIPTAKAN KAUM BERIMAN YAHUDI
DAN KAUM BERIMAN KAFIR MENJADI SATU MANUSIA BARU,
OLEH KEMATIAN-NYA DI ATAS SALIB
DAN DENGAN UNSUR ILAHI-NYA,
AGAR ALLAH DAPAT MERAMPUNGKAN EKONOMI ILAHI-NYA
Selanjutnya Paulus menunjukkan kepada kita bahwa sebelum kita beroleh selamat, kita bukan hanya mati, tetapi juga tidak bersunat. Dalam pandangan orang Yahudi yang bersunat, kita, orang kafir yang tidak bersunat, adalah orang yang cemar dan najis, seperti babi dan anjing. Kita terpisah dari umat pilihan Allah dan dari perjanjian Allah, kita tanpa Kristus, dan kita tidak ada harapan dan tanpa Allah (Ef. 2:11-12). Namun, Kristus datang dan membawa kita semua, orang-orang yang kasihan ini, ke atas salib, sehingga dalam kematian-Nya yang almuhit, orang Yahudi pilihan dan orang kafir pilihan semuanya mati di atas salib. Orang Yahudi yang bersunat dan orang kafir yang tidak bersunat semuanya tersalib di atas salib. Setelah penyaliban yang almuhit sedemikian, perbedaan antara orang Yahudi dengan orang kafir tersingkirkan.
Setelah itu, Kristus bangkit dari kematian. Ini dapat diilustrasikan dengan sebutir biji gandum. Ketika biji gandum ditanam ke dalam tanah, di satu pihak, biji itu mati. Tetapi di pihak lain, biji itu terus bekerja dalam kematian. Ketika Kristus disalibkan di atas salib, dari luar, Ia mati. Tetapi sebenarnya Ia bekerja untuk membebaskan hayat ilahi. Ketika hayat ilahi sepenuhnya diekspresikan, itulah kebangkitan. Jadi, kebangkitan adalah suatu proses. Dalam proses ini, Kristus melalui kematian, dan melalui pekerjaan kematian-Nya, hayat ilahi yang terkurung dalam kulit biji manusia-Nya terbebaskan. Ketika Tuhan berada di atas salib, di satu pihak, Ia mati di sana, tetapi di pihak lain, kematian-Nya adalah pekerjaan-Nya. Pada akhir pekerjaan-Nya di atas salib, Tuhan berkata, “Sudah selesai!” (Yoh. 19:30). Ini berarti dalam enam jam sebelumnya, Tuhan terus melakukan sesuatu.
Bahkan setelah meninggal, dalam alam maut pun Tuhan masih bekerja. Setelah pekerjaan-Nya di alam maut selesai, Ia berjalan keluar dari alam maut dan mengucapkan selamat tinggal kepada maut dan alam maut. Ia tidak melarikan diri dari maut dan alam maut, melainkan berjalan keluar dari maut dan alam maut dan masuk ke dalam kebangkitan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan merampungkan satu pekerjaan, yaitu menciptakan orang Yahudi pilihan dengan orang kafir pilihan, menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya (Ef. 2:15). Sebab itu, pekerjaan kematian dan kebangkitan ini adalah satu pekerjaan penciptaan. Di satu pihak, kedatangan Allah kepada kita dalam hayat Putra-Nya menghembuskan nafas ke dalam kita, menghidupkan kita, orang-orang yang mati ini, membangkitkan kita bersama Kristus, dan mendudukkan kita bersama di surga, menjadikan kita satu syair universal dan karya agung Allah untuk dinyanyikan oleh malaikat-malaikat sebagai pujian bagi Allah. Di pihak lain, karya agung Allah juga menjadi satu manusia baru yang diciptakan melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Di atas salib Kristus menanggulangi orang Yahudi pilihan dan orang kafir pilihan. Ia juga menggunakan maut sebagai proses yang melaluinya, dengan unsur-Nya sendiri, Ia menciptakan kita semua menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, sehingga kita dapat menghasilkan buah yang tetap dan Tubuh Kristus dapat berkembang biak terus-menerus menjadi gereja yang meluas dan Tubuh yang meluas untuk merampungkan ekonomi kekal Allah di bumi. Dalam manusia baru ini tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dengan orang kafir (Kol. 3:10-11). Manusia baru ini membuat kita semua, kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir, sepenuhnya diperdamaikan dengan Allah dalam satu Tubuh, dan menikmati Kristus sebagai damai sejahtera di antara kita, dan di antara kita dengan Allah (Ef. 2:16-17). Kini kita, kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir, tidak ada masalah satu dengan yang lain, dan kita tidak ada masalah dengan Allah. Kita bersama di dalam gereja, Tubuh Kristus, merampungkan ekonomi kekal Allah.
DALAM ALLAH ROH
KEDUA KELOMPOK YANG MENYUSUN MANUSIA BARU
DIBAWA MASUK KE HADAPAN ALLAH BAPA
Pada akhir Efesus 2 Paulus melanjutkan dengan menunjukkan kepada kita bahwa penyaluran ilahi Allah Roh memungkinkan kedua kelompok yang menyusun manusia baru memiliki jalan masuk kepada Allah Bapa di dalam diri-Nya. Hal ini menyebabkan Tubuh sebagai manusia baru menjadi kerajaan Allah Tritunggal untuk administrasi-Nya, rumah Allah untuk penyaluran kasih-Nya, dan tempat kediaman Allah dalam roh kaum beriman untuk perhentian-Nya (ayat 18-22).
Dalam bagian sebelumnya, Allah Bapa dan Allah Putra datang kepada kita. Mulai dari 2:18, kita memiliki Allah Roh yang membawa kita masuk ke hadapan Allah Bapa untuk menerima penyaluran ilahi secara terus-menerus.
Allah telah menyalurkan diri-Nya kepada kita sehingga kita yang tadinya mati dalam dosa dapat menjadi karya agung Allah, dan sehingga kita, orang-orang yang terpisah yang seperti babi dan anjing, dapat menjadi manusia baru. Kini, dalam Roh itu kita telah datang kepada Bapa sehingga setiap hari, dari saat ke saat, kita bisa menerima dari Bapa (yang adalah sumber) penyaluran yang terus-menerus. Ketika kita masuk ke dalam Dia, bersekutu dengan Dia, hidup di hadapan-Nya, dan menantikan Dia, Ia memberikan diri-Nya kepada kita sedikit demi sedikit sebagai anugerah kita. Pemberian diri-Nya sedikit demi sedikit kepada kita sebagai anugerah adalah satu penyaluran yang terus-menerus dan kekal.
Hari ini kita berada di hadapan Allah. Kita sudah dijadikan satu syair oleh Allah Bapa, diciptakan menjadi satu manusia baru oleh Allah Putra, dan dibawa oleh Allah Roh kepada Bapa. Tidak ada lagi pemisahan antara kita dengan Bapa. Ini seperti sebuah rumah yang sudah dipasangi listrik. Listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik kini dapat terus-menerus dan dengan mantap mengalir ke dalam rumah itu. Ketika kita tetap tinggal di hadapan Bapa, membiarkan Dia terus-menerus memberi kita anugerah, maka kita akan menikmati penyaluran secara terus-menerus dan kekal. Dalam penyaluran yang terus-menerus inilah kita semua, orang Jepang, orang China, orang Korea, orang Eropa, orang Amerika, dan sebagainya berkoordinasi bersama dan terbangun bersama. Dalam keadaan semacam ini, pertamatama kita menjadi Kerajaan Allah, di mana Allah melaksanakan administrasi-Nya. Kedua, kita menjadi rumah, keluarga mesra yang di dalamnya Allah menyalurkan kasih-Nya. Ketiga, kerajaan dan rumah ini adalah tempat tinggal Allah bagi perhentian-Nya. Inilah gereja, dan ini semua dirampungkan melalui penyaluran Allah.
Saudara saudari yang terkasih, saya yakin dalam tahun-tahun ini Allah akan merampungkan pekerjaan-Nya. Dalam pemulihan-Nya, Allah menghendaki kita mencapai standar ini. Anda dan saya, tidak peduli apa ras dan warna kulit kita, tidak hanya akan menjadi sama dan mengasihi satu sama lain, tetapi juga di hadapan Bapa dan dalam penyaluran yang terus-menerus, kekal, stabil, dan mantap, akan disatukan dan berkoordinasi bersama. Hari ini, dalam pemulihan Tuhan kita dapat melihat sedikit keadaan ini. Kita menerima anugerah setiap hari dalam penyaluran yang terus-menerus ini. Semakin banyak kita menerima anugerah, kita akan semakin disatukan, berkoordinasi, dan bahkan terbangun bersama. Jadi, kita menjadi satu Kerajaan Allah di bumi untuk melaksanakan administrasi-Nya, satu keluarga yang di dalamnya Ia dapat menyalurkan kasih-Nya, dan tempat kediaman Allah untuk perhentian-Nya. Inilah Efesus 2: Bapa menyalurkan hayat untuk menghasilkan karya agung, Putra menyalurkan melalui proses kematian dan kebangkitan untuk menghasilkan manusia baru, dan Roh membawa orang-orang yang telah menerima anugerah itu datang kepada Bapa dalam satu Tubuh, hidup dalam penyaluran kekal Allah. Hasilnya adalah gereja terbangun di bumi, dan ekonomi kekal Allah tergenap. Inilah yang kita harapkan akan terwujud.