PENYALURAN ILAHI DARI TRINITAS ILAHI MENGHASILKAN GEREJA SEBAGAI TUBUH KRISTUS
Garis Besar dan Pembacaan Alkitab
I. Penyaluran ilahi Allah Bapa:
A. Dalam memilih kaum beriman dalam Kristus, agar kaum beriman pilihan-Nya dapat memiliki sifat ilahi-Nya dan dengan demikian dapat dikuduskan — Ef. 1:4.
B. Dalam menentukan kaum beriman melalui Kristus, agar kaum beriman yang sudah ditentukan-Nya mendapatkan hayat ilahi-Nya dan dengan demikian bisa menjadi anak-anak-Nya — Ef. 1:5.
II. Penyaluran ilahi Allah Putra dalam menebus kaum beriman, agar kaum beriman tebusan-Nya:
A. Ditaruh di dalam Kristus.
B. Mendapatkan Kristus sebagai unsur dan ruang lingkup mereka, dan menjadi warisan Allah menurut ekonomi Allah oleh penyaluran unsur ilahi-Nya — Ef. 1:7, 10-11.
III. Penyaluran ilahi Allah Roh sebagai pemeteraian dan penjaminan dalam kaum beriman, agar kaum beriman:
A. Dimeteraikan menjadi gambar Allah, menjadi tanda mereka adalah warisan Allah — Ef. 1:13.
B. Mencicipi Allah sebagai berkat warisan kaum beriman — Ef. 1:14.
IV. Penyaluran ilahi Allah Tritunggal dalam transmisi kepada kaum beriman oleh kuat kuasa yang besar dan melampaui segala sesuatu yang bekerja di dalam Kristus, dengan penyaluran ilahi tiga langkah dari Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh, menghasilkan gereja:
A. Sebagai Tubuh Kristus.
B. Sebagai kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu — Ef. 1:19-23.
Serangkaian berita yang kita sampaikan saat ini semua menekankan tentang penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi. Mulai dari berita ini dan selanjutnya, kita akan membahas penyaluran ilahi dari Trinitas Ilahi dari Kitab Efesus. Saya harap kita semua mau banyak-banyak berdoa agar Tuhan tidak hanya mengizinkan kita mendengar hal ini, tetapi juga nampak hal ini. Karena, perkataan dalam Alkitab, secara permukaan tampaknya mengatakan sesuatu, tetapi bila kita menyelami perkataan itu dan mengalaminya, itu adalah perkara lain lagi. Ini khususnya berlaku bagi kitab yang sedalam Kitab Efesus. Di permukaan, kitab ini tidak terlalu sulit untuk dipahami, tetapi bila seseorang menyelam ke dalamnya, ia akan menyadari bahwa kitab ini tidaklah mudah dipahami. Efesus 1:4-5 mengatakan bahwa Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan agar kita menjadi kudus di hadapan-Nya, dan bahwa Ia telah menentukan kita beroleh hak keputraan melalui Yesus Kristus. Secara permukaan, ungkapan “supaya kita kudus” dan “untuk menjadi anak-anak-Nya” tidaklah terlalu sulit dipahami. Tetapi jika seseorang bertanya bagaimana kita, orang biasa, bisa menjadi kudus, dan bagaimana kita, anak dari manusia yang lahir dari manusia, dapat menerima hak keputraan Allah, kita akan sulit menjelaskannya. Jika kita berusaha memahami lebih jauh bagaimana dalam pengalaman kita dapat menjadi kudus dan menerima hak keputraan, kita akan menemukan bahwa hal ini lebih sulit lagi untuk dimengerti. Kita dapat mengatakan, di permukaan, seluruh Kitab Efesus tidak menyebutkan istilah penyaluran ilahi. Sebenarnya, setiap butir menyinggung penyaluran ilahi.
ALLAH TIDAK MENGHENDAKI MANUSIA
BEKERJA DENGAN DIRINYA SENDIRI
Sebelum kita memasuki berita ini, saya ingin lebih dulu bersekutu tentang satu hal dengan kita semua: Ekonomi Allah, yaitu rencana-Nya, perhitungan-Nya, pengaturan-Nya untuk merampungkan hasrat-Nya, dilaksanakan dengan cara yang sangat berbeda dengan cara kita. Misalnya, Allah menghendaki kita mencari perkenan-Nya. Bila kita membaca perkataan ini, kita segera berpikir, berdoa, bahkan berpuasa, mengatakan, “Ya Allah, karuniailah aku. Aku ingin mencari perkenan-Mu. Tetapi Engkau tahu bahwa aku memiliki banyak kendala, masalah, dan kelemahan. Aku tidak dapat melakukannya. Tolonglah aku.” Setiap orang akan membenarkan doa macam ini dan akan berpikir bahwa doa seperti ini benar. Tetapi walaupun Allah menginginkan kita mencari perkenan-Nya, Ia tidak bermaksud menyuruh kita mencari perkenan-Nya dengan usaha kita sendiri. Sebaliknya, Ia menghendaki kita mencari perkenan-Nya melalui hidup oleh hayat-Nya, bahkan oleh diri-Nya. Kidung No. 378, bait 1 mengatakan, “Hayat dan alangkah teduh! Di batinku Kristus hidup!” Ini adalah pokok bahasan kidung ini. Namun, dalam pengalaman banyak orang, jika Kristus hidup di batinnya, hasilnya bukan damai atau teduh, melainkan penuh gangguan. Kidung itu melanjutkan, “Bersama-Nya tersalibku, fakta mulia, tebusan-Hu!” Apakah fakta yang mulia itu? “Bukan lagi aku hidup, tapi Kristus penggantiku!” Bukan lagi aku yang hidup. Ini benar-benar ajaib! Kini Kristuslah yang hidup. Ini sangat mulia! Namun, benarkah dari pagi sampai malam bukan lagi aku yang hidup, tapi Kristus hidup di dalamku? Saya tahu bahwa kebanyakan di antara kita akan berkata bahwa adakalanya Dia yang hidup, bukan kita. Tetapi kebanyakan kitalah yang hidup, bukan Dia. Ini adalah keadaan kita yang sebenarnya.
Kita semua harus nampak satu hal di sini, dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, Alkitab mengatakan bahwa Allah meminta manusia melakukan banyak hal. Tetapi Ia tidak bermaksud menyuruh manusia melakukan hal-hal itu berdasarkan dirinya sendiri. Allah menghendaki manusia melakukan hal-hal itu, tetapi Ia tidak menyuruh manusia melakukannya berdasarkan diri kita sendiri. Segala hal yang Allah kehendaki kita lakukan adalah sesuatu yang tidak dapat kita lakukan sendiri. Allah mengatakan bahwa kita harus menghormati orang tua kita, tetapi kita tidak bisa melakukannya. Allah mengatakan kita harus rendah hati, tetapi kita tidak bisa rendah hati. Memang Allah menghendaki setiap orang di antara kita menjadi rendah hati, tetapi Ia tidak menyuruh kita bersandar diri sendiri menjadi rendah hati. Sebaliknya, Allah menghendaki kita menjadi rendah hati dengan bersandar kepada-Nya. Itulah sebabnya dalam Perjanjian Baru ada ungkapan “di dalam Kristus” atau “di dalam Tuhan”. Kita harus berjalan atau hidup dalam kasih di dalam Tuhan. Hidup dalam kasih adalah perintah Allah. Tetapi Ia tidak menyuruh kita hidup dalam kasih berdasarkan diri kita sendiri, karena di dalam diri kita tidak ada kasih. Sebaliknya, kita penuh dengan kebencian. Jika dalam diri kita tidak ada kasih, bagaimana kita bisa hidup “berdasarkan” kasih kita? Sebab itu, kita harus ingat baik-baik bahwa Allah telah memilih kita supaya kita kudus. Tetapi Ia tidak meminta kita merampungkan pekerjaan menguduskan ini. Kita tidak bisa merampungkannya atau menggenapkannya. Begitu juga, Allah memang telah menentukan kita mendapatkan hak keputraan, tetapi Ia tidak menyuruh kita mendapatkan hak keputraan berdasarkan diri kita sendiri.
CARA ALLAH DIRAMPUNGKAN MELALUI PENYALURAN
Cara Allah ialah Dia sendiri yang melakukan, menggarapkan kekudusan-Nya ke dalam kita. Inilah penyaluran.
Ia menghendaki kita kudus, tetapi Ia tidak bermaksud menyuruh kita melakukan pekerjaan pengudusan ini. Sebaliknya, Ia menggarapkan unsur-Nya yang kudus dan ilahi, yaitu sifat-Nya, ke dalam kita agar menjadi unsur kita. Hal ini menyebabkan kita menjadi kudus. Allah sedang menambahkan sifat ilahi-Nya ke dalam kita. Inilah yang dimaksud dengan penyaluran. Allah ingin kita memiliki hak keputraan. Tetapi kita tidak bisa mencapai hal ini. Kini Allah memberikan Putra-Nya kepada kita. Paulus bersaksi bahwa pada suatu saat ia sangat bergairah bagi Allah. Tetapi suatu kali Allah menunjukkan kepadanya bahwa perkenan-Nya adalah mewahyukan Putra-Nya di dalam dirinya (Gal. 1:14, 16). Untuk mewahyukan Putra-Nya di dalam Paulus, Allah harus menyalurkan Putra-Nya ke dalam Paulus. Dengan demikian, Paulus menjadi anak Allah dengan hak keputraan, yaitu hayat, kedudukan, dan sifat Putra Allah. Sebagai anak Allah yang demikian, ia dapat menempuh hidup sebagai seorang anak dan menikmati hak keputraan. Inilah yang dimaksud dengan penyaluran. Malam ini, kita akan membahas hal ini secara khusus dari Efesus 1.
PENYALURAN ILAHI DARI TRINITAS ILAHI
Penyaluran yang dibicarakan dalam Kitab Efesus adalah penyaluran Trinitas Ilahi. Allah kita adalah satu, tetapi Ia juga tritunggal. Ia adalah satu Allah, tetapi juga adalah Bapa, Putra, dan Roh. Ini adalah fakta. Allah kita itu unik dan hanya Satu. Namun, Ia juga tiga, Bapa, Putra, dan Roh. Ia adalah Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Ketika Ia menyalurkan diri-Nya, Ia melakukan penyaluran itu melalui Trinitas Ilahi-Nya.
PENYALURAN ILAHI ALLAH BAPA
Efesus 1 dimulai dengan menunjukkan kepada kita penyaluran Allah Bapa (Ef. 1:4-5). Penyaluran Bapa tampak dalam tindakan-Nya memilih kita dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Tujuan pemilihan-Nya adalah agar kita menjadi kudus. Segera setelah memilih kita, Ia menentukan kita. Tujuan-Nya menentukan kita ialah agar kita menerima hak keputraan melalui Putra-Nya. Pemilihan dan penentuan membicarakan penyaluran-Nya. Ia memilih kita supaya kita kudus. Ini menunjukkan bahwa Ia telah memberikan sifat ilahi-Nya kepada kita. Dengan sifat ilahi-Nya, kita bisa menjadi kudus. Ada orang mungkin mengatakan, karena pemilihan Bapa terjadi sebelum dunia dijadikan, jadi belum ada penyaluran pada saat itu. Namun, bagi Allah tidak ada unsur waktu. Jadi, dalam pandangan Allah, pada saat Ia memilih kita, meskipun kita belum diciptakan, dan meskipun langit dan bumi belum ada, dalam pengenalan dini-Nya Ia sudah melihat kita, memilih kita, dan memberi kita sifat-Nya agar kita bisa menjadi kudus. Inilah penyaluran.
Setelah Allah Bapa memilih kita, Ia menandai kita dan menentukan kita untuk mendapat hak keputraan. Sebab itu, untuk membuat kita kudus, Allah memberi kita sifat kudus-Nya, dan untuk menjadikan kita anak-anak-Nya dan memiliki hak keputraan, Ia memberi kita hayat-Nya. Kita bukanlah anak-anak angkat Allah. Sebaliknya, kita adalah anak-anak yang dilahirkan dengan hayat Allah. Yohanes 1:12 mengatakan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Orang-orang ini tidak dilahirkan dari darah, juga bukan karena keinginan daging, juga bukan karena keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Kalau Allah menentukan kita untuk mendapatkan hak keputraan, berarti Ia memperanakkan kita dan menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita. Sebab itu, Allah bukan hanya telah menaruh sifat-Nya ke dalam kita untuk membuat kita kudus, tetapi juga telah memberikan hayat-Nya ke dalam kita untuk membuat kita menjadi anak-anak-Nya. Keduanya melibatkan penyaluran Allah.
Karena Allah telah memilih kita agar menjadi kudus, kita tidak perlu berusaha sendiri untuk menjadi kudus. Yang harus kita nampak ialah Allah telah memilih kita dan menaruh sifat-Nya ke dalam kita pada saat Ia memilih kita. Maka, kita tidak perlu berusaha sendiri atau berjuang sendiri. Kita hanya perlu bersekutu dengan Bapa kita. Setiap pagi, ketika kita bangun, kita harus berkata kepada Bapa, “Abba Bapa, Engkau adalah Bapaku. Engkau telah memberikan hayat dan sifat-Mu kepadaku. Aku memuji-Mu karena aku bisa menjadi anak-Mu dan dapat menjadi kudus.” Jika kita mau berbuat demikian, saya berani menjamin bahwa kita akan kudus sepanjang pagi. Sebelum makan siang, kita harus mengucapkan beberapa kata seperti ini kepada Bapa kita. Setiap kali kita makan, kita harus mengatakan sesuatu kepada Bapa kita. Hal ini akan menjadi perisai untuk melindungi kita dari penyimpangan dan serangan si jahat, dan akan membuat kita kudus. Allah tidak bermaksud menyuruh kita menjadi kudus berdasarkan diri kita sendiri. Sebelum langit dan bumi diciptakan, Ia sudah menaruh hayat dan sifat-Nya di dalam kita. Asal kita menempuh hidup yang menikmati Bapa kita setiap hari, kita pasti akan menjadi kudus. Inilah penyaluran Allah Bapa.
PENYALURAN ILAHI ALLAH PUTRA KEPADA KAUM BERIMAN
Allah Putra juga menyalurkan kekayaan ilahi-Nya ke dalam kita (Ef. 1:7, 10-11). Berdasarkan pemilihan dan penentuan Allah Bapa, kita memiliki penebusan Allah Putra.
Kaum Beriman Ditaruh di Dalam Kristus
Meskipun Bapa memilih kita, menentukan kita, dan memberi kita hayat dan sifat-Nya, tetapi kita telah jatuh di dalam Adam. Karena itu, kita perlu penebusan. Tanpa penebusan Putra, sekalipun Bapa ingin memberi kita hayat dan sifat-Nya, Ia tidak dapat melakukannya. Ini dikarenakan pada pihak kita ada masalah dosa. Sebab itu, Allah Putra datang untuk merampungkan penebusan. Ia mati bagi kita, menanggung dosa-dosa kita, dan menebus kita. Allah juga mengampuni kita dalam Kristus. Begitu seseorang percaya kepada Tuhan, ia ditebus dan ditaruh di dalam Kristus (1 Kor. 1:30). Begitu ia ada di dalam Kristus, dosa-dosanya diampuni, maut berlalu, dan semua masalahnya terbereskan. Inilah penyaluran Putra ke dalam kita. Bagian Kitab Efesus ini memperlihatkan kepada kita beberapa kali bahwa ketika kita percaya kepada Tuhan, kita ditaruh di dalam Kristus. Ini bukan takhayul atau istilah yang kosong. Sebaliknya, ini adalah satu fakta. Ia adalah persona yang riil. Ia adalah Roh, realitas, dan anugerah. Begitu kita ada di dalam Dia, kita ada di dalam realitas dan di dalam anugerah. Sebab itu, Kristus menjadi ruang lingkup kita dan unsur kita. Dalam ruang lingkup ini kita terlindung, dan dalam unsur ini kita menikmati semua manfaat ilahi.
Kaum Beriman Mendapatkan Kristus sebagai Unsur dan Ruang Lingkup,
Dijadikan Warisan Allah Menurut Ekonomi Allah
oleh Penyaluran Unsur Ilahi-Nya
Ada lagu pendek di akhir Pelajaran ke-25 dalam buku Pelajaran-hayat, yang mengatakan: Kini ku dalam Kristus, terlepas dari Adam / yang lama jadi baru, jadi milik surga! / Puji Dia, ku t’lah b’roleh kurnia, dapat hidup sentosa! / Puji Dia, kini ku dalam-Nya!
Jika setiap pagi, sore, malam, dan bahkan sebelum tidur, kita menyanyikan lagu ini, yang membahas perihal kita ada di dalam Kristus, kita akan menang setiap hari. Ketika kita menyanyi, Roh itu akan beroperasi, bekerja di dalam kita dan membawa kita ke dalam realitas. Dengan demikian, kita akan berada di dalam Kristus, dan Kristus akan menjadi ruang lingkup dan unsur kita. Dengan unsur ilahi ini, Allah akan membuat orang-orang yang ada di dalam Kristus menjadi warisan pilihan-Nya. Kita bukan hanya orang-orang yang ditebus Allah dalam Kristus, tetapi juga warisan-Nya yang berharga yang dihasilkan dalam Kristus dan dengan Kristus sebagai ruang lingkup dan unsur kita, sehingga Allah dapat mewarisi kita. Allah telah membeli kita dengan darah Putra-Nya. Kini kita ada di dalam Putra-Nya, dan Putra-Nya telah menjadi ruang lingkup dan unsur kita. Jika kita hidup di dalam Kristus setiap hari, Kristus akan menjadi ruang lingkup dan unsur kita, yaitu bahanbahan yang dengannya Allah membuat kita menjadi warisan-Nya. Inilah penyaluran Allah Putra.
Tidak ada seorang pun dari antara kita yang dapat menebus diri kita sendiri, dan tidak ada seorang pun dari antara kita yang dapat menjadi ruang lingkup yang mengitari dan unsur yang membuat diri kita menjadi warisan yang berharga bagi Allah. Hanya Kristus sendiri, Allah Putra, yang dapat menyalurkan kepada kita berkat yang sedemikian, sehingga Ia menjadi ruang lingkup kita untuk mengitari dan melindungi kita, juga menjadi unsur kita bagi kenikmatan kita sehari-hari, sehingga hari demi hari kita dapat dijadikan semakin berharga dan dapat menjadi warisan Allah yang berharga. Inilah penyaluran Allah Putra.
PENYALURAN ILAHI ALLAH ROH SEBAGAI PEMETERAIAN
DAN PENJAMINAN DALAM KAUM BERIMAN
Setelah membicarakan pemilihan, penentuan Bapa, dan penebusan Putra yang melaluinya Ia telah menjadi ruang lingkup dan unsur kita sehingga kita dapat menjadi warisan Allah yang berharga, Efesus 1 membicarakan penyaluran Allah Roh sebagai pemeteraian dan penjaminan dalam kaum beriman.
Dimeteraikan Menjadi Gambar Allah, Menjadi Tanda Warisan Allah
Allah Roh menaruh diri-Nya ke dalam kita sebagai meterai. Meterai ini memeteraikan kita menjadi gambar Allah, menjadi tanda warisan Allah. “Tinta” yang dipakai dalam meterai ini tidak pernah kering; tetap basah sampai selamanya. Tinta ini akan menjenuhi dan meresapi seluruh diri kita. Dalam permulaan kehidupan kristiani kita, gambar yang tercetak karena meterai ini belum begitu jelas. Tetapi semakin sering meterai itu memeterai kita, semakin jelas dan tegas gambarnya. Selain itu, meterai ini berkembang sampai ke seluruh diri kita — tubuh, jiwa, dan roh — dijenuhi dengan meterai ini. Berdasarkan diri sendiri, kita kita tidak mungkin melakukan pemeteraian semacam itu, tetapi Allah telah menyalurkan Roh-Nya sebagai meterai ke dalam kita untuk memeterai kita. Begitu meterai ini tertera pada diri kita, kita tidak mungkin menghapusnya.
Mencicipi Allah sebagai Berkat Warisan Kaum Beriman
Roh itu di dalam kita bukan hanya suatu meterai yang mendiris, dan menjenuhi kita, tetapi juga suatu pencicipan di dalam kita untuk kenikmatan kita.
Ketika saya masih muda, saya menerima pengajaran bahwa bila seseorang dipenuhi dengan Roh Kudus, dari dalam dirinya akan mengalir aliran air hidup. Karena perkataan ini, saya mencari pengalaman dipenuhi Roh dengan berdoa dan mengaku dosa. Suatu hari saya diajak ke kebaktian kelompok Pentakosta. Di sana saya melihat ada orang yang melompat-lompat, ada yang berguling-guling di lantai, dan ada pula yang tertawa-tawa. Saya diberi tahu bahwa orang-orang itu dipenuhi Roh Kudus. Tetapi saya tidak dapat menerima keadaan “dipenuhi Roh Kudus” semacam itu. Kemudian, Tuhan membangkitkan gereja di rumah saya. Kami tidak tertawa-tawa, tidak melompat-lompat, juga tidak berteriak-teriak, kami hanya berdoa, bersidang, mencari Tuhan, dan memberitakan Injil dengan tenang. Tidak jauh dari kami ada kelompok Pentakosta. Suatu hari pemimpin dari kelompok Pentakosta itu berusaha meyakinkan saya untuk menerima praktek Pentakosta. Saya menunjukkan kepadanya bahwa ketika gereja mulai bersidang di rumah saya, yang hadir hanya sekitar 10 orang, sedangkan yang hadir dalam kebaktian kelompok itu lebih banyak. Setelah sejangka waktu, jumlah hadirin dalam sidang kita bertambah menjadi lebih dari 800 orang, sedangkan jumlah hadirin dalam kebaktian kelompok itu, setelah mereka melompat-lompat, berteriak-teriak, dan “dipenuhi Roh Kudus”, tetap hanya 40 atau 50 orang.
Saya berkata demikian untuk menunjukkan kepada kalian melalui pengalaman saya bertahun-tahun bahwa Allah tidak menyuruh kita melompat-lompat dan berteriak-teriak; nyatanya, semua perkara hayat yang telah Allah berikan kepada kita bersifat tenang dan perlahan. Kami tidur pada waktunya, tidur dengan tenang, bangun juga dengan tenang, mandi, doa-baca, sarapan, bekerja, dan belajar dengan tenang. Selain olah raga, segalanya kami lakukan dengan tenang. Hidup seperti ini sangat sehat. Sama dengan hayat tumbuh-tumbuhan. Dalam menanam bunga, tidaklah baik bila kita memberi pupuk atau menyiram terlalu banyak. Kita tidak boleh mengganggu tanaman itu. Sebaliknya, kita harus membiarkan tanaman itu hidup dengan tenang. Bahkan jika kita tidak menyiram tanaman itu, kadang-kadang langit akan menyiramnya dan membuatnya bertumbuh. Kadang-kadang kita “dingin” terhadap Tuhan; bahkan mungkin kita tidak bersidang lagi. Kali lain kita mungkin sangat mengasihi Tuhan sehingga kita menjadi sangat bergairah.
Sebelumnya, sulit sekali untuk membaca setengah pasal Alkitab. Sekarang, kita dengan mudah membaca habis lima pasal dalam sehari. Tetapi karena “kedinginan” dan “kepanasan” kita berasal dari diri kita sendiri, keadaan itu tidak tahan lama. Hanya orang-orang yang tidak tergesa-gesa, yang tenang dan mantap, akan bertahan dan teguh.
Karena kita memiliki Roh di dalam kita sebagai meterai, jaminan, dan pencicipan, maka setiap pagi ketika kita bangun, kita harus meluangkan sepuluh sampai lima belas menit untuk membuka firman Tuhan dan membaca dua atau tiga ayat secara berurutan. Kita tidak perlu berteriak atau menjerit. Tentu saja, kita perlu menyeru nama Tuhan. Ini seperti bernafas. Tetapi kita tidak perlu mencari-cari perasaan. Berdoalah saja dan doa-bacakan beberapa ayat dengan tenang dan biasa. Kita harus melakukan hal ini setiap hari, bersekutu dengan Tuhan sepanjang waktu. Kita harus menarik diri dari apa saja yang membuat kita gelisah dan harus melakukan hal-hal yang membuat kita merasa damai dan membuat Tuhan senang. Bila ada sidang, kita seharusnya selalu hadir. Dalam sidang-sidang, kita tidak perlu terlalu terangsang, tidak perlu berdiri berteriak atau menjerit. Jika ada sesuatu yang perlu kita katakan, katakan saja dengan tenang. Jika ada kesaksian yang hendak disampaikan, sampaikanlah dengan tenang. Jika kita senantiasa menempuh hidup yang mantap sedemikian, kita pasti akan menjadi orang Kristen yang sehat. Kita akan menikmati transfusi Bapa yang terus-menerus dan penyaluran hayat Anak-Nya dan sifat ilahi-Nya ke dalam kita.
Kita harus tahu bahwa hal-hal rohani jarang ada yang rampung sekali untuk selamanya. Seperti hayat jasmani kita, kebanyakan hal rohani harus diulang berkali-kali. Misalnya, kita perlu makan, minum, dan bernafas untuk hayat jasmani kita setiap hari; kita tidak dapat lulus dari hal-hal itu. Namun, kita tidak perlu melakukan hal-hal itu secara berlebihan; kita hanya perlu melakukannya dalam jumlah kecil dalam jangka panjang. Demikian pula, semakin ajek (konstan) kehidupan kristiani kita, akan semakin baik. Setiap hari kita harus membiarkan Bapa menyalurkan hayat-Nya dan sifat-Nya ke dalam kita. Hal ini dapat dibandingkan dengan listrik yang terus-menerus (berangsur-angsur) mengalir ke dalam rumah. Jika terlalu banyak listrik yang masuk dalam satu kesempatan, itu sangat berbahaya. Pertama-tama kita harus nampak bahwa apa saja yang Allah kehendaki kita lakukan, Ia tidak mau kita melakukannya berdasarkan usaha kita sendiri, melainkan melakukannya berdasarkan Dia. Kedua, apa saja yang Allah berikan kepada kita tidak diberikan sekaligus sehingga kita tidak dapat menanggungnya. Sebaliknya, Allah memberikannya berangsur-angsur. Karena itu, kita harus menempuh kehidupan kristiani yang normal, yang konstan, yang mantap. Semakin kita sederhana dan normal, akan semakin baik jadinya.
PENYALURAN ILAHI ALLAH TRITUNGGAL DALAM TRANSMISI
KEPADA KAUM BERIMAN DENGAN KUAT KUASA YANG BESAR
DAN MELAMPAUI SEGALA SESUATU YANG BEKERJA
DI DALAM KRISTUS, DENGAN PENYALURAN ILAHI
ALLAH BAPA, ALLAH PUTRA, DAN ALLAH ROH
Penyaluran Allah Bapa terjadi dalam pemilihan-Nya terhadap kita supaya kita kudus dan penentuan-Nya supaya kita memiliki hak keputraan-Nya. Penyaluran Allah Putra terjadi dalam penebusan-Nya terhadap kita sehingga kita dapat diselamatkan ke dalam diri-Nya, dijadikan warisan-Nya yang berharga. Penyaluran Allah Roh terjadi dalam hal memeterai kita dan Ia menjadi kenikmatan dan pencicipan kita. Dengan demikian, setiap hari kita menerima penyaluran dari Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Akibatnya, Bapa, Putra, dan Roh sebagai Trinitas Ilahi menjadi penyaluran ilahi kita, dan kita menikmati Dia setiap hari.
Terakhir, Efesus 1 menunjukkan kepada kita bahwa kuat kuasa Allah yang besar yang melampaui segala sesuatu bekerja di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari alam maut, kubur, dan kematian. Kuat kuasa yang besar ini juga membuat Dia naik ke surga, mendudukkan Dia di takhta, dan membuat Dia menjadi Kepala atas segala sesuatu. Semua hal ini dirampungkan dengan kuat kuasa yang sangat besar yang dikerjakan Allah dalam Kristus. Meskipun kuasa ini bekerja di dalam Kristus, pekerjaannya ditujukan kepada kita, bagi kepentingan kita. Istilah “bagi kita” mengandung makna transmisi. Allah telah membangkitkan Kristus dari antara orang mati, mendudukkan Dia di sebelah kanan Allah di surga, menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan membuat Dia menjadi Kepala atas segala sesuatu. Semua hal yang dirampungkan ini adalah “bagi gereja”. Semua hal yang telah Allah rampungkan dalam Kristus telah ditransmisikan kepada gereja hari ini. Transmisi ini adalah semacam penyaluran yang terusmenerus. Transmisi ini dapat dibandingkan dengan transmisi listrik ke dalam sebuah bangunan. Dengan transmisi semacam itu, bangunan dan seluruh sistem listrik di dalam bangunan itu “menikmati” penyaluran listrik itu.
Menghasilkan Gereja sebagai Tubuh Kristus
dan sebagai Kepenuhan Dia yang Memenuhi Semua
di Dalam Segala Sesuatu
Kristus di dalam kita sepertilah listrik. Setiap hari Ia mentransmisikan, dan transmisi ini adalah suatu penyaluran. Hasil dari transmisi ini, penyaluran ini, adalah gereja. Gereja ini adalah Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Karena Kristus begitu besar, almuhit, alwasi, dan memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu, Ia memerlukan satu Tubuh yang universal, yaitu gereja. Dengan penyaluran Bapa, penyaluran Putra, penyaluran Roh, ditambah dengan transmisi Kristus yang melampaui segala sesuatu, Allah telah mentransmisikan diri-Nya ke dalam kita. Hasilnya adalah gereja terlahir. Gereja bukanlah satu organisasi, juga bukan sekadar perkumpulan kaum beriman. Ketika kita menikmati penyaluran Trinitas Ilahi, dan berkumpul bersama untuk mentransmisikan penyaluran ini kepada orang lain, membuatnya menjadi kenikmatan orang lain, itulah gereja.