← Daftar isi Keluaran (6) · bab 9/17

TABUT KESAKSIAN (5)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:17-22

Dalam berita ini kita akan memperhatikan lebih lanjut makna tabut kesaksian, terutama tutup pendamaian yang ada di atas tabut bagi pengalaman rohani kita. Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa tabut perjanjian dengan tutup pendamaian yang diperciki darah penebusan merupakan gambaran tentang Kristus yang tinggal di dalam roh kita.

MEMBUKA JALAN YANG MENUJU KE POHON HAYAT

Meskipun catatan dalam Keluaran 25:17-22 sangat singkat, tetapi meliputi latar belakang sejarah yang panjang. Bagi penggenapan tujuan kekal-Nya, Allah menciptakan langit dan bumi dengan manusia sebagai pusat. Menurut Zakharia 12:1, TUHAN membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi serta menciptakan roh dalam diri manusia. Roh manusia merupakan organ untuk menerima Allah dan diisi oleh Allah. Karena maksud Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia, maka manusia memerlukan roh untuk menerima Allah.

Sebelum Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia, Satan (Iblis) telah terlebih dulu menyerobot masuk dengan jalan menginjeksikan dirinya ke dalam manusia yang diciptakan Allah. Begitu manusia makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Iblis pun masuk ke dalam manusia. Dalam Roma 5—7, dosa yang di dalam kita menunjukkan Iblis yang menginjeksikan dirinya ke dalam manusia. Roma 5:12 mengatakan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Pohon hayat dalam Taman Eden menyatakan bahwa maksud Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia untuk menjadi hayat manusia. Namun, Allah tahu bahwa musuh-Nya akan bertindak lebih dulu dengan menggarapkan dirinya ke dalam manusia. Iblis sebagai sumber kejahatan ini ditunjukkan oleh pohon yang satunya, yang disebut pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Ketika manusia makan buah pohon ini, ia telah diracuni oleh Iblis. Sesungguhnya, Iblis telah menjadi sifat dosa dari manusia yang telah jatuh. Dengan memakan buah pohon pengetahuan, manusia telah jatuh, maka Allah menutup jalan yang menuju ke pohon hayat. Kejadian 3:24 mengatakan, “Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.”

Dalam Kitab Wahyu sekali lagi kita membaca tentang pohon hayat. Dalam Wahyu 2:7, Tuhan Yesus membuat pernyataan demikian: “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Wahyu 22:2, 14, dan 19 juga membicarakan pohon hayat. Ayat 14 mengatakan, “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon hayat.” (Tl). Semua ayat ini menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi untuk membuka jalan ke pohon hayat.

Siapakah yang membuka jalan itu? Bagaimana cara membukanya? Kapan dibuka? Dalam Ibrani 10:19 dan 20 kita memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas: “Jadi, saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat (maha) kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri.” Jalan yang hidup, yaitu jalan ke pohon hayat, telah terbuka oleh darah Yesus. Jalan yang terbuka ini sekarang telah menjadi jalan yang baru dan yang hidup bagi kita untuk masuk ke dalam tempat maha kudus. Karena itu, melalui darah penebusan Kristus kita dapat kembali menikmati pohon hayat.

Seorang guru Alkitab terkenal pernah mengatakan bahwa pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat adalah pohon-pohon yang luar biasa. Tetapi, ia tidak dapat berkata banyak tentang pohon-pohon ini, karena pohon-pohon ini telah tidak ada lagi. Menurut guru Alkitab ini, kedua pohon ini telah disingkirkan. Namun berdasarkan Alkitab, pohon hayat tetap ada sampai pada masa kekekalan. Sekitar tahun 90 M, ketika Tuhan menyampaikan surat-surat kepada ketujuh gereja, Ia berjanji bahwa siapa yang menang akan diberi makan dari pohon hayat. Jika pohon ini tidak ada lagi, telah disingkirkan dari pandangan kita, bagaimana mungkin para pemenang akan makan buah dari pohon ini? Bagaimana mungkin semua orang beriman memiliki jalan masuk ke pohon ini dalam Yerusalem Baru?

Banyak orang beriman hari ini yang memiliki agama, etika, dan moralitas. Tetapi dalam pengalaman mereka, mereka tidak memiliki pohon hayat. Menurut pendapat mereka, pohon hayat telah tidak ada lagi. Haleluya! Kita memiliki pohon hayat, dan kita makan serta menikmati buah pohon ini! Kita bersyukur kepada Tuhan atas jalan baru dan hidup yang menuju ke pohon hayat melalui darah penebusan Kristus. Jika kita mau dengan memadai mengapresiasi Kristus yang ada di dalam kita, kita perlu memahami latar belakang sejarah ini.

MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI

TABUT PERJANJIAN DALAM TEMPAT MAHA KUDUS

Andaikata pada suatu hari ada seorang berdosa yang mendengarkan Injil, bertobat, mengakui perbuatannya yang penuh dosa, dan percaya kepada Tuhan Yesus. Setelah ia bertobat, mengaku dosa, dan percaya, Allah akan bertemu dengannya, dan ia pun bertemu dengan Allah. Lagi pula, Kristus akan masuk ke dalamnya sebagai Dia yang dilambangkan dengan tabut beserta seluruh aspeknya. Ketika Kristus mati di kayu salib, Ia merupakan Anak Domba bagi penebusan. Tetapi ketika Ia masuk ke dalam roh kaum beriman, Ia tidak hanya sebagai Anak Domba, tetapi juga sebagai tabut perjanjian. Hari ini, oleh karena pengertian yang terbatas dan kurangnya pemberitaan Injil, maka banyak orang Kristen yang hanya mengetahui bahwa Kristus adalah Anak Domba. Sedikit sekali yang mengetahui bahwa di dalam mereka Anak Domba ini telah menjadi tabut perjanjian dengan segala aspek yang ajaib.

Saya dapat bersaksi bahwa saya telah menikmati Kristus sebagai tabut perjanjian dengan sangat limpah. Bagi saya, Kristus sebagai kesaksian Allah merupakan suatu wadah yang amat berharga dengan gambaran Allah di dalamnya. Ia juga memiliki tutup sebuah mahkota. Mahkota ini merupakan bagian yang tertinggi dari Kristus. Pada bagian yang tertinggi inilah darah penebusan telah dipercikkan. Tidak peduli berapa banyaknya kegagalan dan kekalahan yang saya alami, dan tidak peduli berapa banyaknya kesalahan yang saya lakukan, saya tetap dapat menikmati Kristus, karena saya sedang berdiri di atas darah adi.

Jika kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai, mungkin kita akan mengatakan bahwa kita berada di bawah darah. Sesungguhnya, Alkitab tidak mengatakan orang beriman berada di bawah darah. Kita memiliki darah sebagai tumpuan dan tempat berpijak. Demikian pula, berdasarkan lambang tabut kesaksian dengan tutup pendamaian, kita melihat bahwa Allah tidak berada di bawah darah, melainkan berdiri di atas darah. Jika kita memiliki Kristus sebagai tabut perjanjian, kita juga memiliki darah penebusan.

Tidak ada kata-kata yang dapat menjelaskan tentang kemuliaan yang kita alami bila kita bertemu dengan Allah di atas Kristus sebagai tutup pendamaian. Meskipun mungkin kita tidak memiliki kata-kata maupun pengertian, tetapi dalam lubuk batin kita ada perasaan damai sejahtera, tahu bahwa kita sedang mengalami sesuatu yang mulia. Sering kali ketika kita bertemu dengan Tuhan, kita bertobat dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, ampunilah aku. Betapa jahatnya aku. Telah bertahun-tahun aku menjadi orang Kristen, tetapi aku masih penuh dengan dosa.” Bahkan pada saat kita bertobat dan memohon ampunan Tuhan pun, dalam batin kita merasakan sesuatu yang mulia. Di satu pihak kita mengakui bahwa kita ini jahat, menyedihkan, penuh dengan kegagalan dan kekalahan. Di pihak lain, dalam batin kita merasa damai dan sukacita. Secara lahiriah mungkin kita mengucurkan air mata, namun dalam batin kita merasakan sukacita yang dalam. Perasaan dalam batin ini berasal dari darah penebusan dan kemuliaan yang di tengah-tengahnya Allah bertemu dengan kita.

Bila kita mengeluarkan waktu bersama Tuhan dalam tempat maha kudus, kita akan diinfus oleh-Nya dengan segala apa adanya Dia. Kita boleh melukiskan hal ini dengan peristiwa seorang pemuda yang menghabiskan waktu selama satu jam untuk bercakap-cakap dengan seorang profesor perguruan tinggi yang terkenal. Setelah percakapan itu, banyak hal dari profesor itu yang akan terinfus ke dalam pemuda itu. Bahkan secara tidak sadar ia akan meniru cara berbicara profesor itu. Betapa akan lebih banyaknya Tuhan menginfuskan diri-Nya sendiri jika kita menghabiskan waktu selama satu jam untuk bersekutu dengan Dia!

Kita perlu menikmati Kristus sebagai tabut kesaksian dalam roh kita, yang dalam pengalaman kita merupakan tempat maha kudus. Setiap kali kita datang kepada Kristus, yaitu tabut kesaksian dalam tempat maha kudus, dua benda akan ada di hadapan mata kita: darah penebusan dan kerub kemuliaan. Karena kita memiliki darah sebagai dasar dan tumpuan, maka kita dapat bertemu dengan Allah di dalam kemuliaan. Mustahil kita datang kepada tabut kesaksian dengan darah dan kerub tanpa bertemu dengan Allah. Dari pengalaman kita paham bahwa setiap kali kita datang kepada Kristus dengan pengenalan akan nilai darah dan kemuliaan, kita akan merasakan penyertaan Allah. Meskipun mungkin kita tidak memiliki banyak perkataan di hadapan Tuhan, tetapi kita diinfus oleh-Nya.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

Akhir-akhir ini saya sering membicarakan tentang memperhidupkan Kristus. Tetapi jika kita tidak mengalami Dia sebagai tabut di dalam kita, dan jika kita tidak diinfus oleh-Nya, kita tidak akan dapat memperhidupkan Dia. Memperhidupkan Kristus adalah hasil yang spontan dari terinfusnya kita oleh-Nya. Menurut Keluaran 25:22, Allah tidak hanya bertemu dengan manusia di atas tutup pendamaian, tetapi juga berbicara kepada manusia, “dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu.” Setiap kali Allah bertemu dengan kita, Ia pun berbicara kepada kita. Karena itu, kita tidak hanya diinfus oleh-Nya, kita juga diterangi. Kita diberi tahu tentang apa yang harus kita lakukan dan ke mana kita harus pergi. Alhasil, kehidupan dan aktivitas kita sesuai dengan wahyu Allah, dan kita tidak hidup hanya di dalam moralitas, etika, agama, ibadah. Mereka yang hanya memiliki kebiasaan beragama dan aktivitas ibadah, tidak mengalami Kristus sebagai tabut yang hidup. Inilah sebabnya kita mengatakan bahwa Kristus berbeda dengan agama, moralitas, etika, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kristus, dan hanya Kristus satu-satunya tabut perjanjian yang hidup.

Saya tidak tahu seberapa jauh Anda telah melihat Kristus sebagai tabut yang di dalam kita, dan sampai sedalam mana kesan Anda mengenai hal ini. Dalam kehidupan rohani, kita harus belajar membicarakan Kristus secara demikian. Namun karena pengaruh kebudayaan, tradisi, latar belakang, dan terminologi kita, mudah sekali kita mengabaikan fakta ini. Boleh jadi kita memiliki sedikit kenik-matan atas Kristus sebagai tabut, namun kemudian secara otomatis kita akan kembali hidup berdasarkan etika, moralitas, agama, dan ibadah. Mungkin kita juga berusaha untuk hidup sesuai dengan Kitab Suci, tetapi tidak sesuai dengan Kristus yang telah terinfus ke dalam kita. Betapa menyedihkan situasi ini! Etika, agama, moralitas, kegairahan adalah satu hal, sedangkan masuk ke dalam tempat maha kudus dan menikmati Kristus sebagai tabut kesaksian yang hidup adalah satu hal lain yang mutlak berbeda.

Dalam Kolose 1:25, Paulus mengatakan tentang melengkapi firman Allah, yaitu wahyu ilahi. Sebenarnya, ministri pelengkapan Paulus mewahyukan Kristus kepada kita sebagai tabut perjanjian dengan seluruh aspek-Nya di dalam kita.

TABUT PERJANJIAN DALAM MINISTRI PENAMBALAN YOHANES

Dalam hal ini, ministri pelengkapan Paulus pun tak dapat membicarakan hal ini sejelas ministri penambalan Yohanes. Ministri penambalan ini diperlukan karena adanya kerusakan dalam hidup gereja pada beberapa puluh tahun terakhir abad pertama. Injil Yohanes dimulai dengan perkataan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Yohanes 1:14 berkata, “Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, . . . penuh anugerah dan kebenaran.” Kemudian Yohanes 1:29 berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Sebagai Anak Domba Allah, Kristus mengalirkan darah-Nya untuk menebus kita. Dalam Yohanes 17, kita memiliki kemuliaan, yaitu kerub. Yohanes 17:1 mengatakan, “Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata, ‘Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.’” Menurut ayat 22, Tuhan berdoa, “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.” Selanjutnya dalam ayat 24, Tuhan mengatakan bahwa di mana pun Ia berada, kita juga berada bersama-Nya dalam kemuliaan: “Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku.” Dalam suratnya yang pertama, Yohanes mengatakan tentang firman hayat serta persekutuan dengan Bapa dan Putra (1Yoh. 1:1-3). Selanjutnya ia berkata, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa” (ayat 7). Dalam ayat-ayat ini kita memiliki hayat, darah, persekutuan, dan kemuliaan.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, Kitab Wahyu membicarakan pohon hayat. Lagi pula, dengan membaca buku ini kita dapat melihat darah penebusan serta Kristus dengan kerub. Sebagai contoh, Wahyu 1:5 mengatakan bahwa Kristus telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, dan Wahyu 5:9 mengatakan bahwa Ia telah membeli kita bagi Allah oleh darah-Nya. Menurut Wahyu 12:11, oleh darah Kristus sebagai Anak Domba, kita dapat mengalahkan musuh, yaitu pendakwa para saudara. Mengenai Kristus dengan kemuliaan-Nya, kita harus memperhatikan visi tentang Kristus dalam Wahyu 1. Di sini kita tidak melihat Kristus dengan mahkota duri, melainkan Kristus dengan cahaya kemuliaan-Nya.

Kita perlu membaca Injil Yohanes, Surat Yohanes yang pertama, dan Kitab Wahyu, agar kita melihat bagaimana buku-buku ini membicarakan setiap aspek Kristus sebagai tabut kesaksian. Daripada memusatkan perhatian kita pada pembasuhan kaki dalam Yohanes 13 dan tanduk-tanduk dalam Wahyu 13, lebih baik kita memperhatikan hayat, darah, persekutuan, dan kemuliaan. Tentu, saya tidak menyangkal bahwa Alkitab menyinggung tentang pembasuhan kaki dan binatang yang bertanduk sepuluh serta berkepala tujuh. Tetapi, saya lebih banyak memperhatikan Kristus daripada hal-hal itu. Ketika kita berada di Yerusalem Baru, kita akan mutlak diduduki oleh Kristus, bukan oleh pembasuhan kaki, ajaran-ajaran, maupun nubuat. Sayang sekali banyak orang Kristen yang lebih memperhatikan hal-hal itu daripada memperhatikan Kristus sebagai tabut Allah yang hidup!

Wahyu 22:1 dan 2 mengatakan, “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon kehidupan.” (Tl). Wahyu 21:11 mengatakan tentang kemuliaan Yerusalem Baru: “Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal.” Dari Wahyu 21:21 kita tahu bahwa “Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening”, dan dari Wahyu 21:23 kita tahu bahwa “kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.” Dalam Yerusalem Baru Anak Domba Allah duduk di atas takhta, dan dari takhta itu mengalir sungai air hayat. Di seberang-menyeberang sungai itu terdapat pohon hayat, dan kota tembus pandang (bening) tersebut bersinar dengan kemuliaan Allah. Jika kita memperhatikan gambaran ini dengan pengertian rohani, kita akan melihat bahwa Yerusalem Baru akan menjadi hasil terakhir dan sempurna dari pengalaman kita atas Kristus sebagai tabut. Tabut ini bahkan memiliki mahkota, Kristus yang bersinar dengan kemuliaan Allah.

Oh, kita semua harus memiliki visi surgawi ini! Saya harap kita semua memiliki visi yang tidak terlukiskan ini. Kita semua perlu melihat sesuatu yang tidak mampu kita jelaskan. Jika ini adalah pengalaman kita, itu berarti apa yang kita lihat adalah yang sejati.

KRISTUS SEBAGAI TUTUP PENDAMAIAN

Ministri pelengkapan Paulus dan ministri penambalan Yohanes membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Kristus sebagai tabut beserta tutup pendamaiannya. Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa dalam Roma 3:25, Paulus membicarakan tentang Kristus “telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya.” Allah telah menentukan Kristus Yesus sebagai tutup pendamaian. Sebagai tutup pendamaian, Kristus mengalirkan darah-Nya dan memancarkan kemuliaan Allah.

Kata Yunani yang diterjemahkan “tutup pendamaian” dalam Keluaran 3:25 ialah “hilasterion”, kata ini menunjukkan tempat pendamaian. Karena alasan ini, dalam Ibrani 9:15, kata ini digunakan untuk arti tudung, yaitu tutup tabut. Versi Septuagin dalam Keluaran 25:17-22 dan Imamat 16:12-16, juga menggunakan kata ini untuk arti tutup tabut. Dalam Ibrani 2:17, Paulus menggunakan kata “hilaskomai”, yang berarti “mendamaikan”. Menurut Ibrani 2:17, Tuhan Yesus mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa kita untuk mendamaikan kita dengan Allah, dengan jalan memenuhi tuntutan-tuntutan Allah yang adil atas kita. Satu Yohanes 2:2 dan 4:10 menggunakan kata “hilasmos”. Kata ini menunjukkan sesuatu yang mendamaikan, yaitu kurban pendamaian. Dalam 1Yohanes 2:2 dan 4:10, Tuhan Yesus adalah kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita. Jadi, kedua rasul, yaitu rasul pelengkapan dan rasul penambalan, menggunakan kata-kata Yunani yang berhubungan dengan pendamaian. Semua ini berkenaan dengan masalah yang berhubungan dengan Kristus sebagai tabut yang hidup.

Kadang-kadang para penerjemah menemui kesulitan mengenai masalah kata “hilasterion”, “hilasmos”, dan “hilas komai”. “Hilasterion” menunjukkan tempat pendamaian; “hilasmos” menunjukkan kurban pendamaian; sedangkan “hilaskomai” berarti mengadakan pendamaian. Pendamaian diperlukan bila pihak yang satu berhutang kepada pihak yang lain, dan tidak dapat memenuhi permintaan serta tuntutan pihak yang lain tersebut. Dalam hal ini haruslah muncul pihak ketiga, yaitu pihak yang dapat menyelesaikan masalah di antara kedua pihak itu, dengan membayar apa yang dipinjam oleh pihak pertama, dan membuat pihak kedua puas dengan pembayaran itu. Inilah yang Tuhan Yesus lakukan dalam mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban pendamaian untuk menyelesaikan masalah kita dengan Allah.

Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Kristus bukan hanya sebagai Sang pendamai dan kurban pendamaian, tetapi juga tempat pendamaian, yaitu tutup pendamaian. Di sini Allah dipuaskan, kita pun bersukacita. Di atas tutup pendamaian ini Allah dapat bertemu dan berbicara dengan kita. Jadi, dengan Kristus sebagai tutup pendamaian tabut, Allah dan manusia dapat bertemu dan memiliki persekutuan di dalam situasi yang saling memuaskan.

Dua kerub kemuliaan dengan wajah yang menghadap kepada tutup pendamaian, menunjukkan bahwa kemuliaan Allah telah dipenuhi dengan apa yang Kristus lakukan. Darah pendamaian yang dipercikkan ke atas tutup pendamaian (Im. 16:14-15), memenuhi tuntutan hukum Allah yang ada di bawah tutup dan tuntutan kemuliaan Allah yang ada di atas tutup, sehingga memberikan kedamaian pada hati nurani manusia.

Di dalam tabut, di bawah tutup pendamaian terdapat hukum Taurat dengan tuntutan-tuntutannya yang menyingkapkan dan menghakimi kita. Lagi pula, di atas tutup pendamaian terdapat kemuliaan Allah yang mengawasi dan mengamati segala sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, melalui Kristus, tuntutan hukum Allah dan tuntutan kemuliaan Allah telah terpenuhi. Sekarang kita dapat bertemu dengan Allah dalam kemuliaan yang ada di atas tutup pendamaian yang diperciki dengan darah. Melalui tutup tabut dengan darah penebusan yang dipercikkan ke atasnya, semua situasi di pihak orang berdosa telah tertangani sepenuhnya. Jadi, di atas tutup pendamaian Allah dapat bertemu dengan orang-orang yang telah melanggar hukum-Nya yang adil tanpa sedikit pun bertentangan dengan pemerintahan keadilan-Nya, bahkan di bawah pengamatan kerub dengan kemuliaan-Nya yang menaungi tutup tabut kesaksian. Karena hukum Taurat dengan tuntutan-tuntutannya dan kemuliaan Allah telah terpenuhi, maka Allah dapat berbicara kepada orang berdosa dan orang berdosa dapat berdamai dengan Allah serta menerima anugerah dari Dia. Jadi, tutup pendamaian ini sama dengan takhta anugerah (Ibr. 4:16).

Bila kita memandang darah penebusan yang ada di atas tutup pendamaian, hati nurani kita merasa damai. Kita tahu bahwa Kristus telah mati bagi kita, dan darah, yakni tanda kematian-Nya telah dipercikkan di atas tutup pendamaian untuk memenuhi tuntutan keadilan Allah. Pada saat-saat yang demikian mungkin Allah akan bertanya, “Anak-anak-Ku, apakah kalian merasa senang?” dan boleh jadi kita menjawab, “Ya Bapa, kami merasa sangat senang.” Kemudian Bapa berkata, “Aku jauh lebih senang daripada kalian. Marilah kita berpelukan dan menikmati persekutuan yang mesra.” Inilah pengalaman dan kenikmatan atas Kristus sebagai tutup pendamaian di atas tabut kesaksian.

Visi tentang Kristus sebagai tabut dan tutup pendamaian ini sangat menakjubkan dan tidak mungkin tuntas kita bahas. Saya harap setelah Anda mendengar tentang Kristus yang sedemikian ini, Kristus yang hidup di dalam Anda akan menjadi jauh lebih berharga bagi Anda daripada sebelumnya. Kristus yang tinggal di dalam kita bukan hanya sebagai Anak Domba; tetapi juga sebagai tabut yang memiliki mahkota, memiliki bagian yang puncak. Dia adalah Kristus yang almuhit, yang tinggal di dalam kita bagi kenikmatan dan pengalaman kita secara berkesinambungan. Karena kita memiliki Kristus yang sedemikian ini, maka jangan dikacaukan oleh perkara apa pun. Keadilan Allah tidak akan menghakimi kita. Sebaliknya, kemuliaan-Nya membenarkan kita, dan Allah sendiri merasa senang karena mengetahui bahwa segala sesuatu di antara kita dengan Dia sangat harmonis, dan kita dapat dengan bebas menikmati persekutuan yang saling memuaskan.

Hasil dari persekutuan yang akrab dengan Allah pada Kristus sebagai tabut di dalam tempat maha kudus ini, kita diinfus oleh-Nya. Ketika kita berkontak dengan Allah dalam cara yang demikian dan diinfus oleh-Nya, kita akan berbeda dengan apa adanya kita sebelumnya. Akhirnya, bila kita masuk ke dalam tempat maha kudus untuk diinfus sekali demi sekali oleh-Nya, kita akan diubah hingga menjadi tembus pandang (bening). Hasil yang terakhir ialah Yerusalem Baru. Inilah pengalaman atas Kristus sebagai tabut kesaksian.