← Daftar isi Keluaran (6) · bab 10/17

TABUT KESAKSIAN (6)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:17-22

TEMPAT PENDAMAIAN

Tak banyak orang Kristen yang melihat Kristus sebagai tempat pendamaian. Mengenai Kristus Yesus, diungkapkan oleh Paulus dalam Roma 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya.” Tutup pendamaian ini istilah Yunaninya ialah “hilasterion”, berarti “tempat pendamaian”. Ibrani 9:5 menggunakan kata ini dengan arti “tudung”, yaitu tutup tabut di tempat maha kudus. Dalam Keluaran 25:17-22 dan Imamat 16:12-16, Septuagin pun menggunakan kata ini dengan arti tutup tabut kesaksian. Versi King James memakai terjemahan “takhta rahmat”. Ini menunjukkan bahwa para penerjemah tersebut menyadari bahwa Kristus sebagai tempat pendamaian adalah takhta untuk Allah memberikan rahmat kepada kita.

Kita perlu melihat bahwa pendamaian itu bukanlah sekadar tindakan, tetapi juga Kristus sendiri sebagai tempat pendamaian. Menurut Roma 3:25, Allah telah menentukan Kristus sendiri, Persona ini, sebagai tutup pendamaian. Atas Persona inilah Allah dapat bertemu dengan kita, dan kita dapat bertemu dengan Allah.

Dalam Kitab Ibrani, Paulus menyinggung tutup pendamaian sebagai takhta anugerah: “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya” (4:16). Ibrani 10:19 dan 20, “Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat (maha) kudus, oleh darah Yesus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri.” Takhta anugerah terletak di dalam tempat maha kudus, karena takhta ini merupakan tutup tabut kesaksian yang terletak di dalam tempat maha kudus. Jadi, tutup tabut kesaksian adalah tempat Allah memberikan anugerah kepada kita. Berdasarkan alasan inilah, maka tempat Allah memberikan anugerah kepada kita disebut takhta anugerah. Sekarang kita sudah melihat bahwa takhta anugerah ini, yakni tempat Allah memberikan anugerah kepada kita, sebenarnya adalah Kristus sendiri.

Dari berita-berita mengenai tabut kesaksian, kita telah melihat bahwa keseluruhan tabut dengan tutupnya melambangkan Kristus. Ini sangatlah bermakna. Kristus itu almuhit. Jangan beranggapan bahwa tutup pendamaian di atas tabut itu sebagai sesuatu yang bukan Kristus, dan pendamaian sebagai tindakan yang dilakukan oleh Kristus belaka. Saya ulangi, Kristus justru keseluruhan tabut, yang meliputi tutupnya.

Berhubung sedikit sekali orang Kristen yang melihat bahwa Kristus itu tempat pendamaian, yakni tutup pendamaian, maka mereka tidak menghargai kemustikaan darah di atas tutup ini. Sebaliknya, kebanyakan orang Kristen menghargai kemustikaan darah yang di kayu salib. Mereka tidak masuk ke dalam tempat maha kudus, melainkan menetap pada kayu salib, yaitu mezbah. Sebagian besar kidung yang menyangkut darah penebusan berpusat pada salib. Dapatkah Anda menemukan kidung yang mengisahkan kemustikaan darah penebusan yang di atas tutup pendamaian? Saya tidak menemukan kidung yang sedemikian ini.

TABUT DALAM MINISTRI PENAMBAL YOHANES

Kita telah melihat bahwa Paulus dan Yohanes membicarakan masalah yang berkenaan dengan Kristus sebagai tutup pendamaian. Baik ministri pelengkapan Paulus maupun ministri penambalan Yohanes, keduanya membahas hal ini. Butir-butir tertentu dari ministri penambalan Yohanes lebih kuat daripada butir-butir dalam ministri pelengkapan Paulus. Sering kali sesuatu yang ditambal, menjadi lebih kuat daripada aslinya. Contohnya, Anda menambal bagian yang robek pada sebuah pakaian, maka bagian yang ditambalkan itu lazimnya lebih kuat daripada kain aslinya. Demikian pula dengan ministri penambalan Yohanes mengenai Kristus sebagai tabut kesaksian.

Dalam Yohanes 1:1 dan 14 kita melihat bahwa Firman yang adalah Allah itu telah menjadi manusia. Menurut ayat 14, murid-murid telah memandang kemuliaan Tuhan. Dengan kata lain, mereka melihat kerub, pancaran cahaya keilahian Kristus. Yohanes 1:29, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Unsur penting yang berhubungan dengan Anak Domba Allah ialah darah penebusan. Yohanes 19:34 mengatakan, “Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.” Dalam Yohanes 17 kita membaca lebih banyak tentang kemuliaan, yakni kerub. Dalam ayat 1, Tuhan Yesus berdoa, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu memuliakan Engkau.” Selanjutnya dalam ayat 22, Tuhan berdoa lebih lanjut, “Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.”

Dalam 1Yohanes 1, kita membaca tentang hayat, persekutuan, dan darah. Ayat 1, berkaitan dengan firman hayat, dan ayat 2 mengatakan hayat itu telah dinyatakan. Dalam ayat 3, Yohanes berkata, “Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Mengenai darah, ayat 7 mengatakan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa.” Hayat kekal telah dinyatakan, sehingga kita dapat memiliki persekutuan dengan Bapa dan Putra. Walaupun kita penuh dosa, tetapi darah Yesus menyucikan kita.

Dalam Kitab Wahyu kita melihat Kristus yang bercahaya, yang dimulai dengan wahyu tentang Kristus dalam pasal 1: kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang seputih salju; mata-Nya bagaikan nyala api; kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; dan wajah-Nya “bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik” (ayat 14-16). Wahyu 10:1 juga menggambarkan Kristus yang bercahaya: “Lalu aku melihat seorang malaikat lain yang kuat turun dari surga, berselubungkan awan, dan pelangi ada di atas kepalanya dan mukanya sama seperti matahari, dan kakinya bagaikan tiang api.” Wahyu 18:1 membicarakan pula Kristus sebagai yang bercahaya: “Setelah itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari surga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya.”

Kitab Wahyu juga menekankan darah. Wahyu 1:5 mengatakan, “Bagi Dia, yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya.” Wahyu 5:9, “Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa.” Wahyu 7:14 mencantumkan tentang “orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.” Mengenai pemenang, Wahyu 12:11 menuliskan, “Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba.” Darah yang mencuci kita itu juga membungkam mulut pemfitnah dan gugatan Iblis.

Dari Kitab Wahyu kita dapat melihat Kristus yang dilambangkan oleh tabut yang dibuat dari kayu penaga yang dilapisi emas. Kitab ini juga banyak kali menyinggung tentang emas. Anak Manusia di tengah-tengah kaki pelita emas adalah Dia yang dilambangkan oleh kayu penaga itu.

TABUT DALAM KITAB IBRANI

Pada butir ini kita harus melihat bahwa Kitab Ibrani merupakan definisi mengenai tabut. Jika ingin tahu tentang tabut kesaksian, kita harus mempelajari Kitab Ibrani. Mengenai Kristus, Ibrani 1:3 mengatakan, “Dialah cahaya kemuliaan Allah dan gambar keberadaan Allah.” Kristus sebagai cahaya kemuliaan Allah adalah kerub. Ia itu Allah, dan Ia memiliki sifat emas yang terpancar dari kerub, yaitu kemuliaan. Dalam Ibrani 2, kita memiliki unsur kayu penaga, yaitu sifat insani Kristus. Berdasarkan ayat 14, kita melihat bahwa Kristus menerima sifat insani dari darah dan daging. Ayat 17 mengatakan, “Itulah sebabnya, dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat.”

Kitab Ibrani banyak menyinggung tentang darah penebusan. Ibrani 9:22 mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Ayat 12 mengatakan bahwa Kristus “telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat maha kudus . . . dengan membawa darah-Nya sendiri. Dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal” (Tl.). Selanjutnya ayat 14 mengatakan, “Terlebih lagi darah Kristus, yang melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”

Dalam Ibrani 9:5, Paulus menegaskan tutup pendamaian di atas tabut. Ayat ini mengungkapkan, “Dan di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian.” Betapa kaya dan almuhitnya Kristus yang dilambangkan oleh tabut ini! Kita takkan bisa menggali habis definisi tentang tabut kesaksian ini. Sebagaimana tabut kesaksian berada di tempat maha kudus, demikian pula sekarang Kristus yang dilambangkan oleh tabut itu tinggal di roh kita.

TAKHTA ANUGERAH DI DALAM ROH KITA

Pengertian sebagian besar orang Kristen terhadap tabut ini sangatlah dangkal. Kebanyakan guru Alkitab hanya menjelaskannya secara doktrinal. Mereka tidak menekankan tempat tabut kesaksian dalam pengalaman orang Kristen. Adakah guru Alkitab yang mengatakan bahwa tabut kesaksian adalah Kristus yang tinggal di dalam roh kita? Bahkan banyak orang beriman yang tidak mengenal roh manusia; mereka menganggap roh dan jiwa itu sinonim. Bahkan banyak guru Alkitab yang percaya pada dikotomi doktrin yang mengatakan bahwa manusia hanya terdiri atas dua bagian, yakni tubuh dan jiwa; bukannya trikotomi kebenaran yang mengatakan bahwa manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu roh, jiwa, dan tubuh. Orang-orang Kristen tertentu yang menitikberatkan hayat batiniah, dengan tegas menekankan bahwa manusia terdiri atas tiga bagian, dan roh tidaklah sama dengan jiwa. Jika kita tidak memahami bahwa kita memiliki roh insani, maka kita tidak akan dapat melihat bahwa tabut yang di dalam tempat maha kudus itu melambangkan Kristus yang tinggal di dalam roh kita.

Kita harus memperhatikan perkara ini dengan riil dari sudut pandang pengalaman kita. Di manakah Anda dapat bersekutu dengan Allah? Apakah Anda harus pergi ke surga untuk itu? Tentu tidak. Ibrani 4:16 menganjuri kita agar kita menghampiri takhta anugerah. Namun begitu Anda sesuai dengan ayat ini datang ke depan takhta anugerah, ke mana Anda pergi? Bukankah Anda harus pergi ke roh insani Anda yang telah dilahirkan kembali? Sebenarnya, takhta anugerah itu justru sekarang berada di dalam roh kita. Tanpa kita mengenal Kristus sebagai tabut di dalam roh kita, kita tidak akan mengetahui cara untuk menghampiri takhta anugerah.

Mengatakan takhta anugerah berada di dalam roh kita bukanlah semata-mata perkara doktrinal, melainkan perkara yang riil dan sesuai dengan pengalaman. Kapan saja kita berdoa dengan berpaling ke dalam roh, kita akan menjamah takhta anugerah. Apakah takhta anugerah? Takhta anugerah adalah Kristus yang almuhit, yang dilambangkan oleh tabut kesaksian, khususnya yang dilambangkan oleh bagian yang teratas dari Kristus yang almuhit, tutup pendamaian.

DARAH DAN KERUB

Dua tanda penting yang berhubungan dengan tutup tabut adalah: darah dan kerub. Darah menandakan penebusan yang dirampungkan oleh Kristus dalam keinsanian-Nya, sedangkan kerub menandakan kemuliaan keilahian Kristus. Di atas tutup inilah, yaitu tutup pendamaian beserta kerub kemuliaan yang diperciki darah penebusan, Allah dapat bertemu dengan kita. Di atas tutup inilah kita dan Allah dapat bersekutu. Lagi pula, ini merupakan tempat kita mendengarkan firman dari Allah serta menerima visi, wahyu, dan pengajaran yang mengendalikan kehidupan sehari-hari kita.

DIKENDALIKAN OLEH VISI

Kehidupan dan perilaku sehari-hari kita sebagai orang Kristen tidak seharusnya dikendalikan oleh etika, moralitas, kegairahan, ketakwaan, maupun agama. Kehidupan sehari-hari kita juga tidak seharusnya hanya dikendalikan oleh Kitab Suci. Lalu, oleh apa seharusnya kehidupan sehari-hari kita dikendalikan? Kehidupan sehari-hari kita harus dikendalikan oleh visi yang kita lihat pada saat kita bertemu dengan Kristus di atas tutup tabut. Amsal 29:18 mengatakan bahwa bila tidak ada visi (wahyu), orang akan menjadi liar. Ini menunjukkan bahwa visilah yang mengendalikan kita. Bila tidak ada visi, orang akan menjadi liar. Kita bisa melihat visi ketika kita bertemu dengan Allah pada bagian yang teratas dari Kristus, yaitu tutup pendamaian. Alangkah dalam makna yang terkandung di sini!

Melalui jalan yang baru dan yang hidup yang dibuka oleh darah Yesus yang teralir dalam keinsanian-Nya, kita dapat memasuki tempat maha kudus. Di saat memasuki tempat maha kudus, kita bertemu dengan Kristus yang almuhit. Dengan berdiri di atas darah penebusan, kita dapat berhadapan dengan Allah dan bersekutu dengan-Nya di tengah-tengah cahaya kemuliaan Kristus, sehingga kita akan diinfus oleh Allah serta menerima wahyu, visi, pengajaran, dan petunjuk. Inilah orang Kristen yang sejati, bukan sekadar orang Kristen yang bergairah, bertakwa, beretika, bermoral, atau beragama.

Jadi, orang Kristen yang menerima infus Allah dalam tempat maha kudus dan berjalan berdasarkan infus itu adalah orang Kristen yang paling bermakna. Untuk menjadi orang Kristen yang sedemikian ini, kita harus berpaling dari kegairahan, ketakwaan, agama, moralitas, dan etika, kepada Kristus. Karena kurangnya pengertian, mungkin ada beberapa orang yang membantah apa yang kita bicarakan tentang hal ini. Penentangan mereka malah membongkar keadaan mereka yang menyedihkan, serta menunjukkan bahwa mereka tidak mampu mendalami firman Allah. Demi belas kasihan-Nya, Allah telah membukakan banyak perkara kepada kita, dan kita percaya bahwa Ia akan membukakan lebih banyak lagi.

Kita pun yakin bahwa kita ini berada pada pemulihan yang terakhir, yakni pergerakan Allah yang terakhir di bumi. Situasi dunia kini menjelang titik terakhir. Pemulihan Tuhan yang terakhir ialah Kristus dan gereja, yaitu pemulihan Kristus yang almuhit, yang dilambangkan oleh tabut. Namun, kita harus ingat bahwa ukuran tabut merupakan separuh dari unit yang lengkap. Seperti halnya seorang istri merupakan separuh dari suaminya, demikian pula Kristus yang dilambangkan oleh tabut memiliki bagian separuh-Nya gereja. Kristus sebagai mempelai laki-laki, dan gereja akan menjadi mempelai perempuan-Nya. Mempelai laki-laki ditambah mempelai perempuan, itulah kesaksian yang penuh. Berdasarkan alasan inilah, maka dalam pemulihan-Nya hari ini, Tuhan tidak hanya menekankan Kristus, juga menekankan Kristus dan gereja, rahasia yang besar ini. Puji Tuhan, kita di dalam pemulihan-Nya! Melalui pemulihan-Nya yang terakhir, Tuhan akan mengakhiri zaman ini serta mendatangkan zaman kerajaan.