← Daftar isi Keluaran (6) · bab 11/17

MEJA ROTI SAJIAN (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:23-30; Im. 24:5-9

Dalam berita ini kita sampai pada pembicaraan kedua mengenai perabotan Kemah Suci, meja roti sajian. Urutan pewahyuan Alkitab atas perabotan Kemah Suci sangatlah bermakna. Butir pertama yang diwahyukan bukanlah Kemah Suci itu sendiri, melainkan tabut kesaksian. Tanpa adanya tabut, tak mungkin ada Kemah Suci. Ini menunjukkan bahwa tanpa memiliki Kristus sebagai perwujudan Allah, kita tidak dapat memiliki perluasan Kristus, yakni gereja, Tubuh-Nya. Jadi, ini mengandung makna bahwa dalam Kitab Keluaran, Allah lebih dahulu menyinggung tentang tabut kesaksian sebelum Ia mewahyukan perincian mengenai Kemah Suci.

Di pelataran luar terdapat mezbah tembaga (mezbah kurban bakaran) dan bejana pembasuhan; di dalam tempat kudus terdapat meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah pembakaran ukupan; dan di dalam tempat maha kudus terdapat tabut kesaksian. Meskipun wahyu Allah dimulai dari tabut kesaksian, namun tabut ini bukan merupakan tempat kita memulai pengalaman kita. Sebaliknya, pengalaman kita dimulai dari mezbah kurban bakaran yang ada di pelataran luar. Setelah mengalami mezbah kurban bakaran dan bejana pembasuhan, barulah kita boleh memasuki Kemah Suci dan menghampiri meja roti sajian, kaki pelita, serta mezbah pembakaran ukupan. Hanya dengan demikianlah kita dapat masuk ke dalam tempat maha kudus, dan berdiri di hadapan tabut untuk bertemu dengan Allah berdasarkan darah penebusan yang dipercikkan ke atas tutup pendamaian. Setelah itu kita dapat berbicara dengan Allah, bersekutu dengan-Nya, serta menerima petunjuk-Nya. Jadi, urutan perabotan Kemah Suci dalam pengalaman kita dari mezbah tembaga sampai ke tabut berbeda dengan urutan menurut wahyu Allah.

Menurut wahyu Allah, aspek pertama dari Kemah Suci yang diwahyukan kepada Musa ialah tabut kesaksian, yang melambangkan Kristus sebagai perwujudan Allah. Karena Kristus adalah perwujudan Allah, maka Ia adalah kesaksian Allah. Kristus tidak hanya berbicara bagi Allah, juga mengutarakan Allah; Ia sendiri adalah Allah yang terekspresi. Kristus sebagai perwujudan Allah dilambangkan oleh kesaksian yang di dalam tabut. Pertama-tama, Allah terwujud di dalam Kristus, kemudian Ia diekspresikan dari dalam-Nya. Ia bukanlah Allah yang tersembunyi, atau Allah yang misterius, melainkan Allah yang diekspresikan, yaitu Allah yang diwahyukan. Kristus sendiri adalah Allah yang diwahyukan.

Di dalam gereja, Allah terwujud dan terekspresi. Kapan kala Kristus ini diperluas, gereja pun muncullah. Gereja sebagai Tubuh Kristus yang adalah perluasan-Nya dilambangkan oleh Kemah Suci yang adalah perluasan tabut.

I. MEJA MENANDAKAN KRISTUS ADALAH

MAKANAN BAGI IMAM-IMAM ALLAH

Menurut urutan wahyu Allah, setelah tabut kesaksian kita menjumpai meja roti sajian. Ini menyiratkan bahwa meja roti sajian berkaitan dengan tabut. Tabut ialah untuk kesaksian Allah, sedang meja untuk perawatan kita. Tidak hanya Allah perlu memiliki kesaksian, kita pun perlu menerima perawatan. Tanpa perawatan, kita akan lapar, bahkan bisa mati. Puji Tuhan, kita memiliki tabut untuk kesaksian Allah dan meja untuk perawatan kita!

Kita perlu memperhatikan hubungan antara tabut dengan meja dari sudut pengalaman kita. Berdasarkan pengalaman kita tahu, ketika kita bertemu dengan Allah di atas Kristus sebagai tutup pendamaian, menikmati persekutuan dengan Allah dan mendengarkan firman dari mulut-Nya, tabut menjadilah meja tempat kita menikmati perjamuan yang merawat kita. Ketika Anda bertemu dengan Allah di dalam tempat maha kudus di atas Kristus yang sebagai tutup pendamaian, berbicara dengan-Nya, dan menerima firman-Nya, pernahkah Anda tidak memiliki meja bagi perawatan Anda? Berdasarkan pengalaman, tidak perlu dikatakan bahwa meja sudah tersedia, berhubung tabut secara spontan menjadilah meja. Ini berarti Kristus, kesaksian Allah, menjadi perawatan makanan kita. Sebagai perwujudan Allah, Kristus menjadi meja yang penuh dengan suplai hayat yang merawat kita. Ini bukanlah doktrin semata-mata.

Mereka yang kurang pengalaman, tidak dapat memahami apa yang sedang kita bicarakan ini. Karena mereka adalah orang-orang asing terhadap “kebudayaan” yang berhubungan dengan hal-hal rohani, mereka mustahil memahami bahasa tentang tabut kesaksian yang dalam pengalaman kita menjadi meja roti sajian. Namun, adalah fakta pengalaman rohani bahwa bila kita memiliki tutup pendamaian pada tabut, yaitu Kristus sebagai tempat pendamaian kita, tabut akan menjadi meja. Semua ini merupakan pengalaman terhadap Kristus, yakni Kristus yang adalah perwujudan dan ekspresi Allah, yang sebagai kesaksian-Nya yang menjadi meja dan sekaligus makanan di atasnya yang boleh kita nikmati, menjadi perawatan bagi kita.

Meja roti sajian terutama menandakan Kristus sebagai perjamuan bagi imam-iman Allah. Keluaran 25:23-29 tidak menyebut apa pun tentang imam. Akan tetapi, imam sajalah yang memenuhi syarat untuk berada di dalam tempat kudus; yang bukan imam tidak boleh memasuki Kemah Suci. Meja ini tidak diletakkan di pelataran luar, melainkan di dalam Kemah Suci, ini sangat bermakna. Orang yang makan roti yang ada di atas meja tersebut pasti adalah imam. Karena inilah maka meja menandakan Kristus adalah perjamuan bagi imam-imam Allah.

Setiap orang beriman di dalam Kristus adalah imam. Ini adalah fakta rohani. Namun oleh karena situasi yang merosot hari ini, banyak orang Kristen yang tidak hidup sebagai imam. Mereka tidak hidup sebagai imam karena mereka tidak berada dalam Kemah Suci. Banyak di antara mereka yang masih tinggal di pelataran luar, dan ada pula yang masih tertinggal di dalam dunia. Berapa persen orang Kristen dewasa ini yang hidup sebagai imam di dalam tempat kudus? Kita harus mengakui bahwa persentasenya terlampau kecil.

Bila kita memperhatikan gambar Kemah Suci dan pelataran luarnya, kita akan melihat situasi yang riil di antara orang Kristen masa kini. Kita berbicara tentang meja di tempat kudus, ini bukanlah tentang orang-orang Kristen yang ada di pelataran luar, atau orang-orang yang belum masuk ke dalam pelataran luar. Sebaliknya, meja ditujukan kepada orang-orang yang telah masuk ke dalam Kemah Suci dan yang melayani Allah sebagai imam. Kristus sebagai meja perjamuan disediakan oleh Allah untuk orang-orang Kristen kategori ini.

Pengalaman makan roti sajian berbeda dengan pengalaman makan manna. Roti sajian terletak di dalam tempat kudus, sedangkan manna dikumpulkan di luar pelataran Kemah Suci. Setelah mendengar bahwa meja menandakan Kristus sebagai perjamuan bagi imam-imam Allah, mungkin ada orang yang mendebat bahwa setiap hari mereka pun menikmati Tuhan sebagai manna mereka. Memang betul, banyak orang beriman yang menikmati manna. Akan tetapi kenikmatan ini terjadi di padang gurun, bukan di pelataran Kemah Suci. Dalam berita ini kita tidak membicarakan manna kita membicarakan meja roti sajian. Penting sekali kita melihat perbedaan ini.

Perbedaan lain antara roti sajian di atas meja dalam tempat kudus dengan manna di padang gurun ialah: manna melambangkan Kristus sebagai suplai hayat harian, sedang meja roti sajian menandakan Kristus sebagai suplai hayat mingguan kita. Menurut Imamat 24:5-9, roti yang baru harus diletakkan di atas meja sekali seminggu. Jadi, meja menandakan suplai hayat mingguan. Manna, sebagai suplai harian memungkinkan kita hidup; suplai mingguan dari meja memungkinkan kita bukan hanya hidup, bahkan memungkinkan kita melayani Tuhan. Ia menyuplai kita supaya kita memiliki kehidupan pelayanan. Manna menyuplai kita sehingga bisa memiliki suplai hayat bagi kehidupan sehari-hari kita; dan meja membuat kita memiliki suplai hayat bagi pelayanan. Jadi, kita memiliki suplai hayat bagi kehidupan sehari-hari, juga memiliki suplai hayat mingguan bagi pelayanan. Orang-orang Kristen yang hanya memakan manna hendaklah menyadari bahwa ini berbeda dengan menikmati Kristus sebagai suplai hayat mingguan bagi imam-imam yang melayani Allah di dalam Kemah-Nya. Kristus bukan sekadar manna yang umum bagi umat Allah; Ia pun meja yang khusus bagi imam-imam Allah.

A. DI HADAPAN ALLAH

Meja roti sajian ditaruh di depan Allah. Inilah sebabnya roti di atas meja disebut roti sajian dibentangkan di hadapan Allah. Ini menunjukkan bahwa para imam menikmati Kristus sebagai makanan di hadapan Allah, sebaliknya, banyak orang yang memakan manna tidak memakannya di hadapan Allah. Mereka bisa memakan manna dimana saja, di hadapan Allah atau tidak. Tetapi, meja justru terletak di hadapan Allah, tidak jauh dari tabut kesaksian di dalam tempat maha kudus.

B. DI DALAM KEMAH PERTEMUAN

Meja roti sajian berada di dalam Kemah Suci. Ini menandakan bahwa meja tersebut berada di dalam, atau di antara kaum beriman yang dibangun. Meskipun terasa agak janggal untuk mengungkapkan dengan demikian, namun saya ingin bertanya: Siapakah Kemah Suci hari ini? Saya tidak bertanya, apakah Kemah Suci? Melainkan, siapakah Kemah Suci? Jawabannya ialah orang-orang yang percaya yang telah dibangun bersama secara sungguh-sungguh, secara riil, itulah Kemah Allah zaman sekarang, sebagai tempat kediaman-Nya. Di dalam Kemah Suci ini, kaum beriman yang telah dibangun bersama ini, terdapat sebuah meja. Kemah Suci adalah sebuah bangunan. Ini berarti Kemah Suci terdiri atas banyak bagian. Atas dasar inilah, kita dapat mengatakan bahwa meja berada di dalam suatu bangunan.

Kita yang telah sejangka waktu menempuh hidup gereja dapat bersaksi bahwa kenikmatan atas Kristus sebagai meja untuk perawatan kita tak dapat ditemukan di tempat lain. Di luar hidup gereja, kita tak dapat menikmati Kristus secara demikian. Memang, orang-orang Kristen dapat mengalami manna di mana saja. Bila mereka yang menikmati Kristus sebagai manna, melakukan sesuatu yang duniawi, Kristus akan menyuplai mereka agar berpaling dari aktivitas itu. Contohnya, orang-orang yang masih sering menonton bioskop mungkin saja berkontak dengan Kristus sebagai manna harian mereka. Akibat dari kontak dengan Dia, mereka lalu menyadari bahwa mereka harus berhenti menonton bioskop. Seorang suami atau istri mungkin saja menjamah Tuhan sebagai manna ketika mereka sedang bertengkar. Kemudian salah satu di antara mereka menghentikan silat lidah itu, sambil masuk ke ruang lain, dan berdoa kepada Tuhan, sehingga tersuplai oleh-Nya. Ini hanya pengalaman atas manna, bukan pengalaman atas meja.

Guru-guru agama Kristen tertentu mengatakan bahwa meja ini melambangkan Kristus sebagai perawatan bagi umat Allah. Namun dalam penerapannya, mereka membuatnya terlalu biasa. Padahal meja ini bukanlah meja biasa, melainkan luar biasa. Berbeda dengan meja yang dikatakan dalam Mazmur 23, hidangan yang disediakan di depan lawan, meja ini justru berdekatan dengan tabut di dalam Kemah Suci. Puji Tuhan atas meja yang luar biasa dan mustika ini! Saya ulangi, menurut perlambangan, meja ini menandakan kenikmatan atas Kristus sebagai perawatan kita untuk pelayanan. Lagi pula, meja ini terletak di dekat samping perwujudan Allah di tengah-tengah kaum beriman yang dibangun.

Andaikata beberapa orang beriman bersidang bersama-sama minggu demi minggu, namun di antara mereka tidak ada pembangunan. Selama mereka belum dibangun bersama secara riil, mustahillah mereka mengalami meja, karena meja itu berada di dalam Kemah Suci, tempat kediaman Allah. Karena kaum beriman ini tidak memiliki Kemah Suci, maka mereka juga tidak memiliki meja. Saya ingin menekankan fakta bahwa menikmati meja memerlukan Kemah Suci pembangunan gereja. Kemudian di dalam Kemah Suci, kita dapat menikmati meja. Ini berarti kita wajib menjadi kaum beriman yang dibangun bersama sebagai tempat kediaman Allah hari ini secara sungguh-sungguh dan riil. Kemudian di dalam bangunan inilah akan terdapat meja roti sajian. Pengalaman kita dalam hidup gereja benar-benar membuktikan hal ini.

Dari pengalaman atas Kristus dan gereja, saya mengetahui bahwa meja ini hanya ada di dalam Kemah Suci, di tengah-tengah kaum beriman yang telah dibangun. Bertahun-tahun berselang, saya mempelajari perlambangan Kemah Suci ini tanpa memahami bahwa meja berada di antara kaum beriman yang telah dibangun. Waktu itu saya tak punya pengalaman apa-apa. Kini saya dapat bersaksi dengan tegas bahwa saya menikmati Kristus sebagai bagian yang khusus, yaitu meja di dalam Kemah Suci dan berdekatan dengan tabut yang sebagai perwujudan Allah. Oh, alangkah limpahnya kenikmatan atas Kristus ini!

C. MENJADI SUPLAI HAYAT HARIAN MEREKA

Meja roti sajian juga menjadi suplai hayat imam-imam Allah dari hari ke hari. Melalui suplai ini, mereka dapat hidup dan melayani di dalam tempat kediaman Allah. Hidup dan melayani Tuhan tidak boleh di tempat yang duniawi, atau hanya terbatas pada rumah kita saja. Hidup kita dan pelayanan kita haruslah di tempat kediaman Allah. Untuk inilah, kita mempelajari suplai harian dari meja roti sajian.