← Daftar isi Keluaran (6) · bab 12/17

MEJA ROTI SAJIAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:23-30; Im. 24:5-9

Berita ini adalah lanjutan dari berita sebelumnya mengenai meja roti sajian.

D. DIBUAT DARI KAYU PENAGA

Meja roti sajian dibuat dari kayu penaga (Kel. 25:23). Kayu penaga di sini menandakan keinsanian Kristus sebagai unsur dasar perjamuan kita. Sungguh bermakna bahwa tabut kesaksian dan meja roti sajian kedua-duanya dibuat dari kayu penaga yang menandakan keinsanian Kristus.

E. DISALUT DENGAN EMAS

Keluaran 25:24 mengatakan, “Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni.” Meja roti sajian disalut dengan emas, fakta ini menandakan ekspresi Allah, keilahian Kristus. Di dalam Kristus, keinsanian-Nya merupakan unsur dasar bagi penikmatan kita, sedangkan pada diri-Nya, keilahian-Nya itu merupakan ekspresi Allah. Jika kita menikmati Kristus, kita akan mengekspresikan Allah. Ini berarti bila kita menikmati Tuhan Yesus sebagai suplai hayat yang dengannya kita melayani Allah, niscaya kita akan mewujudkan emas, yaitu keilahian Kristus sebagai ekspresi Allah. Ini sangat bermakna. Saya yakin bahwa Roh akan mewahyukan lebih banyak mengenai hal ini kepada kaum beriman. Pada pengalaman rohani kita, kita tahu bahwa semakin kita menikmati Kristus sebagai unsur dasar perjamuan kita, kita akan semakin mengekspresikan Allah. Inilah makna dari meja roti sajian yang disalut dengan emas.

F. DIKELILINGI DENGAN BINGKAI EMAS

Ayat 24 juga mengatakan, “Dan membuat bingkai emas sekelilingnya.” Bingkai emas di sekeliling meja roti sajian menandakan kemuliaan keilahian Kristus yang terekspresi menjadilah kekuatan yang menjaga dan tenaga yang menunjang. Kita pernah melihat ini pada bingkai emas yang mengelilingi tabut kesaksian. Baik bagi tabut maupun meja, makna bingkai emas adalah sama.

G. UKURANNYA

1. Dua Hasta Panjangnya dan Satu Hasta Lebarnya

Berdasarkan ayat 23, meja itu berukuran dua hasta panjangnya dan satu hasta lebarnya. Di sini terdapat dua satuan ukuran, yaitu masing-masing sehasta persegi, atau dua hasta persegi. Dalam Alkitab, angka satu menandakan satu satuan yang lengkap, satuan yang unik. Lagi pula, sesuatu yang persegi menyatakan kesempurnaan tanpa penyimpangan atau kekurangan. Jadi, dua hasta persegi menandakan suplai hayat Kristus yang sempurna dan lengkap disalurkan di dalam satu kesaksian.

Persegi mewakili kenikmatan atas Kristus adalah sempurna tanpa penyimpangan atau kekurangan. Akhirnya, kenikmatan semacam ini akan membuat kita menjadi satu kesaksian. Kenikmatan atas dua persegi ini menghasilkan satu kesaksian. Tidak ada kata-kata yang mampu menjelaskan perkara ini. Tetapi, jika kita melihat gambaran tentang meja, kita akan memperoleh pengertian yang tepat mengenai hal ini.

2. Satu Setengah Hasta Tingginya

Dari ayat 23 kita ketahui bahwa tinggi meja roti sajian adalah satu setengah hasta. Ini menandakan bahwa standarnya bisa mencapai standar tabut kesaksian. Perawatan Kristus terhadap kita sebagai imam-imam yang melayani bisa mencapai standar kesaksian Allah. Bila kenikmatan kita atas Kristus tidak mencapai kesaksian Allah seperti yang dimaksud ketinggian tabut, maka kenikmatan kita belumlah sempurna, melainkan masih kurang dan di bawah standar.

Hari ini, orang Kristen di mana-mana membaca Alkitab dan mempelajarinya. Namun, apakah standar kenikmatan mereka telah menjangkau standar kesaksian Allah? Sebagian besar belum mencapai standar Allah. Dalam mengikuti penelaahan Alkitab, ada kelompok kekristenan yang menggunakan musik duniawi. Penggunaan musik semacam itu sangat menurunkan standar. Di satu pihak, orang-orang Kristen ini memiliki Alkitab; di pihak lain, mereka memiliki hal-hal yang menurunkan standar.

Ketika kita memperhatikan gambar dari tabut kesaksian dan meja roti sajian, kita melihat bahwa tinggi tabut dan tinggi meja adalah sama satu setengah hasta. Ini menunjukkan bahwa tabut dan meja berada pada tingkatan yang sama. Ini menyatakan bahwa kenikmatan kita atas Kristus harus sesuai dengan standar kesaksian Allah. Kenikmatan kita atas Kristus melalui firman haruslah tinggi. Tidak ada tempat yang boleh diberikan kepada tipu muslihat apa pun untuk menurunkan standar.

H. DIKELILINGI DENGAN JALUR PINGGIR

Keluaran 25:25 mengatakan, “Haruslah engkau membuat sekelilingnya jalur pinggir yang setapak tangan lebarnya dan kaubuatlah bingkai emas sekeliling jalur pinggirnya itu.” Menurut pengertian kita sekarang ini, bahasa Ibrani dari “jalur pinggir” itu benar-benar mengandung arti pinggiran (perbatasan). Namun kata tersebut bukan berarti pinggiran dalam arti umum. Menurut ayat 26 dan 27, empat gelang emas hendaklah dipasang pada keempat penjuru yang berada pada keempat kaki meja. Lagi pula, gelang-gelang itu harus berada “dekat ke jalur pinggirnya sebagai tempat memasukkan kayu pengusung, supaya meja itu dapat diangkut.” Dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan dengan “dekat” berarti “berdampingan”. Jadi, berhubung gelang-gelang itu berada di dekat jalur pinggir, maka berarti gelang-gelang itu berada di samping jalur pinggir. Ini menyatakan bahwa kalau gelang-gelang itu dipasang pada keempat penjuru yang berada pada kaki meja, maka jalur pinggir tentunya berada di bawah permukaan meja.

1. Untuk Menghubungkan

dan Menguatkan Kaki-kaki Meja

Apabila kita memperhatikan meja dan jalur pinggir, atau batas pinggiran, kita akan melihat bahwa jalur pinggir itu adalah untuk menghubungkan serta menguatkan kaki-kaki meja itu. Dengan demikian jalur pinggir itu membantu kestabilan meja.

2. Setapak Tangan

Pinggiran atau perbatasan berukuran setapak tangan berkeliling. Setapak tangan di sini menandakan penuh tenaga penghubung dan penguat. Perhatikanlah, ayat 25 tidak mengatakan kalau jalur pinggir itu setinggi setapak tangan. Ini bisa saja menunjukkan bahwa pinggirannya berukuran setapak tangan persegi, setapak tangan lebar maupun tingginya. Jalur pinggir semacam ini akan benar-benar merupakan penyangga yang kuat bagi meja itu.

3. Dengan Bingkai Emas

Ayat 25 mencantumkan bahwa pada sekeliling jalur pinggir itu dibuatkan bingkai emas. Sebagaimana terdapat bingkai atau mahkota di atas meja (ayat 24), demikian pula bingkai emas di sekeliling jalur pinggir meja tersebut. Seperti yang telah kita tunjukkan, bingkai ini berguna untuk menjaga dan menahan.

Tidaklah cukup hanya berusaha memahami makna jalur pinggir yang terdapat di sekeliling kaki-kaki meja dengan memakai pikiran kita saja, kita harus merenungkan ini dalam terang pengalaman orang Kristen. Berdasarkan pengalaman kita bersama Tuhan, kita tahu bahwa bila kita menerima Kristus sebagai makanan yang merawat kita, Kristus segera menjadi meja dengan kekuatan penghubung dan penguat bagi kita. Ini berarti kenikmatan atas Kristus sebagai perjamuan menguatkan kita, menghubungkan kita, menunjang kita, dan menjaga kita. Setiap aspek dari jalur pinggir berkaitan dengan pengalaman kita. Ukuran, bentuk, dan bahannya semuanya akan berarti bila direnungkan dalam terang pengalaman rohani.

I. EMPAT GELANG EMAS

Ayat 26-27 mengatakan, “Haruslah engkau membuat untuk meja itu empat gelang emas dan kaupasanglah gelang-gelang itu di keempat penjurunya, pada keempat kakinya. Gelang itu haruslah dekat ke jalur pinggirnya sebagai tempat memasukkan kayu pengusung, supaya meja itu dapat diangkut.”

1. Menandakan Roh Kristus

sebagai Faktor dan Kekuatan Pengikat

Di sini kita cukup hanya mengulang apa yang telah kita bahas mengenai empat gelang emas yang dipasang pada tabut kesaksian. Gelang-gelang ini bukan menandakan keilahian Kristus, melainkan menandakan Roh Kristus sebagai faktor dan kekuatan pengikat. Dalam perlambangan, gelang emas menandakan Roh itu. Ketika Ribka bertunangan dengan Ishak, ia menerima gelang-gelang emas. Gelang-gelang ini menandakan Roh itu yang disebut dalam Efesus 1:13. Lagi pula, ketika anak yang hilang pulang ke rumah, ayahnya tidak hanya mengaruniainya jubah yang menandakan Kristus sebagai kebenaran yang menutupinya, tetapi juga sebentuk cincin emas, yang menandakan karunia awal, Roh meterai (Luk. 15:22). Gelang emas yang menandakan Roh itu, merupakan ikatan penyatu. Efesus 4:3 mengutarakan tentang memelihara kesatuan Roh. Kesatuan Roh ini ialah gelang, ikatan dengan kekuatannya yang mengikat.

Jika Kristus hanya sebagai Tuhan yang obyektif di surga, dan bukan sebagai Roh pemberi-hayat yang subyektif dan tinggal di dalam kita, maka tidak mungkin kita, kaum beriman, bersatu, karena kita tidak memiliki gelang emas. Untuk memiliki dan memelihara kesatuan, kita harus memiliki gelang emas dalam pengalaman kita, yaitu Roh yang sebagai faktor dan kekuatan pengikat.

2. Dipasang pada Keempat Kaki Meja Berguna untuk Pergerakan

Pada keempat kaki meja dipasang empat gelang emas, sehingga meja dapat digerakkan. Tanpa gelang-gelang itu, meja tidak dapat diusung. Meja yang menandakan Kristus sebagai perjamuan kita ini bukannya terpaku diam, melainkan dapat bergerak dan mengikuti kita setiap saat. Menurut 1Korintus 10:4, bani Israel “minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” Sebagaimana Kristus, batu karang rohani mengikuti bani Israel, begitu pula Kristus sebagai meja untuk perjamuan kita selalu mengikuti kita. Tabut kesaksian dapat dipindahkan, dan meja roti sajian pun dapat dipindahkan.

3. Dekat ke Jalur Pinggirnya sebagai Tempat

Memasukkan Kayu Pengusung,

supaya Meja Dapat Diangkut

Dari ayat 27 kita tahu bahwa gelang-gelang emas itu haruslah dekat ke jalur pinggirnya sebagai tempat memasukkan kayu pengusung, supaya meja itu dapat diangkut. Ini menandakan bahwa baik ikatan maupun tindakan mereka tergantung pada penghubung dan penguat. Kita telah melihat bahwa jalur pinggir adalah untuk menghubungkan dan menguatkan, sedangkan gelang-gelang emas adalah untuk mengikat dan menggerakkan. Fakta bahwa gelang emas berada di dekat jalur pinggir menunjukkan bahwa ikatan dan gerakan tergantung pada penghubungan dan penguatan. Jika di antara kita tidak ada penghubungan dan penguatan, niscaya tidak ada ikatan maupun pergerakan. Jika kita tidak saling berhubungan satu sama lain, kita tidak akan memiliki penguatan, sehingga kita tidak mungkin memiliki ikatan dan pergerakan. Tetapi karena kita memiliki penghubungan dan penguatan, maka kita memiliki ikatan dan pergerakan. Alangkah bermaknanya bahwa gelang-gelang emas dipasang di dekat jalur pinggir yang menghubungkan dan menguatkan!

J. DUA TONGKAT PENGUSUNG DARI KAYU PENAGA

Ayat 28, “Haruslah engkau membuat kayu pengusung itu dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas, dan dengan itulah meja harus diangkut.” Sekali lagi, kayu penaga menandakan keinsanian Kristus. Tongkat-tongkat pengusung itu dibuat dari kayu penaga menandakan bahwa keinsanian Kristus merupakan kekuatan untuk bergerak.

Fakta bahwa tongkat-tongkat ini disalut dengan emas menandakan bahwa keilahian Kristus merupakan ekspresi pergerakan meja. Kayu penaga merupakan kekuatan, sedangkan emas merupakan ekspresi Allah dalam pergerakan-Nya. Tambahan pula, tongkat pengusung dari kayu penaga yang disalut dengan emas menandakan bahwa pergerakan Kristus sebagai suplai hayat kita terjadi melalui kedua sifat-Nya yang berbaur menjadi satu.

K. PINGGAN, CAWAN, KENDI, DAN PIALA KURBAN

Ayat 29, “Haruslah engkau membuat pinggannya, cawannya, kendinya dan pialanya, yang dipakai untuk persembahan curahan; haruslah engkau membuat semuanya itu dari emas murni.” Pinggan ini untuk menyajikan roti, seperti halnya dalam menghidangkan makanan, Anda menaruhnya ke dalam pinggan.

Cawan berisi kemenyan. Kemenyan menandakan kebangkitan Kristus yang dicurahkan ke atas roti sajian yang disajikan di meja. Cawan dipakai untuk mewadahi cairan kemenyan ini. Kendi dan piala kurban dipakai untuk mencurahkan kurban curahan.

Semua perabot ini dibuat dari emas murni. Ini menandakan bahwa sifat ilahi Kristus adalah sarana untuk berbagian atas Dia sebagai suplai hayat kita, juga sarana kurban kita kepada Allah.

Jika kita merenungkan pengalaman kita sebagai orang Kristen, kita akan menemukan bahwa penafsiran sedemikian mengenai hal-hal rinci yang menyangkut meja roti adalah tepat. Puji Tuhan, Dia adalah tabut Allah dan meja kita! Dia adalah perwujudan kesaksian Allah, juga perjamuan bagi kenikmatan kita. Sebagai tabut, loh hukum ada di dalam-Nya, dan kerub ada di atas-Nya. Sebagai meja, roti sajian diletakkan di atasnya. Bila kita tinggal di dalam Kemah Suci sambil melayani Allah, kita akan menikmati Kristus sebagai bagian yang sedemikian.

II. ROTI SAJIAN MENANDAKAN KRISTUS

SEBAGAI MAKANAN BAGI IMAM-IMAM ALLAH

A. ROTI SAJIAN, ROTI WAJAH

Keluaran 25:30 mengatakan, “Dan haruslah engkau tetap meletakkan roti sajian di atas meja itu di hadapan-Ku.” Versi King James dan versi-versi lainnya menggunakan terjemahan “roti sajian” sebagai pengganti dari “roti wajah”. Dalam Perjanjian Lama, roti di atas meja dalam tempat kudus ini mempunyai dua nama: yang pertama, terdapat di sini dalam Kitab Keluaran, yang disebut “roti wajah”; yang kedua, terdapat dalam 1Tawarikh 9:32, yang disebut “roti pameran” (Tl.). Dalam kedua ayat ini Versi King James menggunakan istilah “roti sajian”. Pengungkapan ini mengandung arti yang amat dekat dengan “roti pameran”. Setelah roti ini disiapkan dalam cara tertentu, terjadilah suatu pameran roti. Akan tetapi, dengan istilah roti sajian saja, kita tidak memiliki perasaan bahwa roti ini ada hubungannya dengan hadirat (wajah) Allah. Roti ini bukan hanya untuk suatu tontonan, pameran atau penataan; tetapi juga roti wajah.

Roti wajah, benar-benar merupakan satu istilah yang tidak lazim. Dalam bahasa yang umum, kita tak punya istilah semacam ini, dan ini pun bukan bagian dari kebudayaan kita. Orang-orang takkan terbiasa dengan sebutan makanan di hadapan Allah. Namun, itulah justru makna dari sebutan roti wajah, yang menyatakan makanan di hadapan Allah. Bahasa Ibraninya betul-betul mengandung arti wajah. Itulah sebabnya ayat 30 menyebutnya roti sajian atau roti wajah. Bila Anda memiliki roti ini, Anda memiliki penyertaan Allah, memiliki wajah Allah. Lagi pula, bila Anda memakan roti ini, Anda pun memakan penyertaan Allah, memakan wajah Allah. Karena itu, roti ini bukan hanya untuk dipamerkan atau dibentangkan. Telah kita tunjukkan bahwa letak meja roti sajian tidaklah jauh dari tabut kesaksian. Karena itu, roti ini berada di hadapan Allah, di dalam penyertaan-Nya.

Atau boleh kita gambarkan tentang makna roti sajian dengan perasaan senang dari seorang ibu yang menyediakan makanan kesukaan putranya. Walaupun usia ibunya mungkin sudah mencapai tujuh puluhan dan putranya lima puluhan, tapi ia masih tetap senang menyiapkan masakan bagi putranya. Misalnya, putranya datang berkunjung setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Sang ibu yang sudah berumur itu akan menyiapkan hidangan, karena ia merasa senang melakukan hal itu, dan putranya pun semasa muda sangat suka memakannya. Sang ibu ingat bahwa putra kesayangannya itu sangat menyukai masakan tertentu. Demikianlah ia menyiapkan makanan itu dan menyajikan kepada putranya. Sementara putranya menikmati apa yang sang ibu sediakan, mata si ibu memandangi putranya. Ia menikmati makanan tersebut di depan mata ibunya. Jadi, makanan ini merupakan makanan di dalam penyertaan ibunya, makanan di hadapan ibunya. Dikatakan dari sudut tertentu, makanan ini sama dengan wajah ibunya. Melalui memakan makanan ini, sang anak memakan wajah ibunya. Ia memakan makanan ini di hadapan ibunya, makanan ini menjadilah makanan dalam penyertaan ibunya. Sama halnya, roti di atas meja di tempat kudus adalah roti di hadapan Allah.

Roti ini berbeda sekali dengan manna. Manna bisa saja dikumpulkan serta dimakan jauh dari wajah Allah. Telah kita singgung bahwa di mana saja orang Kristen bisa memakan manna tanpa wajah Allah. Jika kita mengamati pengalaman lampau kita sebagai orang beriman, kita pasti dapat mengkonfirmasi hal ini. Bukankah sebelum Anda memasuki hidup gereja dalam pemulihan Tuhan beberapa tahun yang lalu, Anda telah mengalami manna? Namun, apakah Anda menikmati terang wajah Allah pada saat itu? Kini, di tengah-tengah kaum beriman yang terbangun, kita berbagian atas Kristus beserta terang wajah Allah. Kendati bahasa manusia tidak cukup untuk menerangkan hal ini, namun asalkan kita telah mengalaminya, kita pasti akan memahaminya. Puji Tuhan atas roti sajian ilahi ini, roti di depan wajah Allah! Dalam hidup gereja kita sedang menikmati wajah Allah.

Roti sajian, roti wajah, menandakan Kristus sebagai makanan imam-imam Allah. Makanan ini harus mereka nikmati di hadapan Allah, dan makanan ini akan membawa mereka ke depan terang wajah-Nya. Dari pengalaman kita tahu bahwa bila kita menikmati Kristus sebagai bagian yang seperti ini, niscaya kenikmatan ini membawa kita ke dalam penyertaan Allah. Sesungguhnya, kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita di hadirat Allah.

B. BAGIAN MAHA KUDUS DARI KURBAN API-APIAN

DARI UMAT-NYA KEPADA TUHAN

Menurut Imamat 24:9, roti sajian adalah bagian maha kudus dari segala kurban api-apian TUHAN. Ini mengacu kepada kelebihan pengalaman dan kenikmatan kaum beriman atas Kristus yang dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Ini berarti, roti sajian adalah makanan Allah, yang dipersembahkan oleh umat-Nya kepada Allah agar menjadi makanan-Nya. Namun, Allah menyuruh menyisihkan bagian tertentu dan dibawa ke dalam tempat kudus, serta ditata sambil dipamerkan di atas meja. Akhirnya, imam-imam yang melayani di dalam tempat kudus memakan roti ini.

Makna dari perkara ini adalah kaum beriman haruslah tiap hari mengalami Kristus, tiap hari menikmati Kristus. Kemudian Kristus yang telah mereka alami dan nikmati itu harus dibawa dan dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Allah akan menahan sebagian dari makanan ini untuk para imam. Seandainya tidak ada seorang pun yang memiliki pengalaman ini, dan tidak ada seorang pun melakukan persembahan yang demikian kepada Allah, maka Allah tidaklah memiliki makanan, Ia tidak akan dipuaskan. Lebih-lebih tidak ada sesuatu yang disisihkan sebagai suplai mingguan kepada imam-imam yang melayani. Jika di dalam gereja di tempat Anda tidak ada yang mengalami dan menikmati Kristus sampai taraf ini, maka tidak ada sesuatu dari Kristus yang akan dipersembahkan kepada Allah. Akibatnya, tidak ada roti sajian, dan orang-orang yang melayani takkan beroleh suplai mingguan.

Hari ini kita adalah kaum beriman, juga orang-orang yang melayani, sebagai umat Allah juga imam-imam-Nya.

Inilah alasan kita menganjuri semua orang beriman untuk mengalami dan menikmati Kristus setiap hari, kemudian kita akan memiliki bagian dari Kristus yang telah kita alami untuk dibawa ke dalam sidang, dan dipersembahkan kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Persembahan ini sesungguhnya adalah makanan Allah. Allah akan menyisihkan sebagian dari makanan ini untuk imam-imam yang melayani-Nya. Kemudian mereka akan membentangkan bagian ini di hadapan Allah serta mengambil bagian atasnya sebagai suplai mingguan.

C. DI ATAS MEJA YANG DI TEMPAT KUDUS

DALAM KEMAH PERTEMUAN

Roti sajian ditaruh di atas meja yang di tempat kudus dalam Kemah Suci. Ini menandakan bahwa Kristus sebagai makanan imam-imam Allah adalah untuk dimakan secara korporat di dalam tempat kediaman Allah.

Dalam sidang-sidang gereja, kita mengalami kenikmatan yang khas atas Kristus. Mereka yang tidak menghadiri sidang-sidang gereja mustahil memperoleh kenikmatan ini, meskipun mereka bisa saja menikmati Kristus dalam aspek yang lain. Bila kita berada dalam Kemah Pertemuan, di tengah-tengah kaum beriman yang terbangun, kita akan menikmati Kristus di atas meja di tempat kediaman Allah.

Roti sajian di atas meja menandakan makan secara korporat. Dalam Alkitab, meja selalu menandakan makan secara korporat, bukan individu. Dalam hidup gereja, kita berpesta secara korporat. Tentu, kita bisa saja menikmati Kristus sendirian, namun kenikmatan itu tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh dari berpesta atas Kristus secara korporat di dalam tempat kediaman Allah. Betapa limpahnya kenikmatan yang kita peroleh dari roti yang di atas meja di dalam Kemah Suci!

D. HARUS DIMAKAN DI TEMPAT KUDUS

Roti sajian harus dimakan di dalam tempat kudus. Artinya, roti ini harus dinikmati dalam tempat kediaman Allah, yaitu gereja. Jelas tidak mungkin meja ini didapati di luar hidup gereja. Meja ini hanya ada di dalam Kemah Suci, tempat kediaman Allah.

E. PENYAJIAN ROTI

Roti yang terbentang di atas meja menandakan suplai hayat. Tabut dengan kerub menandakan kemuliaan Allah, sedangkan meja dengan roti sajian menandakan makanan untuk perawatan. Dalam hidup gereja, kita harus memiliki kesaksian maupun makanan untuk perawatan. Kita harus memiliki tabut Allah yang sebagai kesaksian Allah, dan juga harus memiliki meja dengan roti sajian yang sebagai makanan untuk perawatan para imam.

Kita telah melihat bahwa tabut maupun meja terbuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas, berketinggian yang setara, sama-sama memiliki gelang-gelang emas pada kaki-kakinya, dan keduanya diusung dengan tongkat penaga yang disalut dengan emas. Kesamaan-kesamaan ini membuktikan bahwa meja berasal dari pengalaman terhadap tabut. Tabut selalu lebih dulu menghasilkan meja, bukan meja yang menghasilkan tabut. Namun akhirnya, pada pengalaman kita, sukar juga dikatakan yang mana yang duluan. Tabut menghasilkan meja. Tetapi semakin kita mengalami meja, semakinlah kita memiliki tabut, karena meja selalu membawa kita kembali kepada tabut. Tabut menghasilkan meja, dan meja membawa kita kembali kepada tabut. Ini berarti Kristus sebagai wujud kesaksian Allah membawa kita ke dalam kenikmatan akan Dia, dan kenikmatan ini selalu membawa kita kembali kepada Dia yang sebagai kesaksian Allah.