KAKI PELITA (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 25:31-40
Dalam berita ini kita akan melihat kaki pelita. Kaki pelita emas boleh dianggap sebagai perabot yang paling misterius dalam Kemah Suci.
I. EKSPRESI ALLAH TRITUNGGAL
Kaki pelita menandakan ekspresi Allah Tritunggal. Perkara ini saja sudahlah cukup mengesankan kita betapa misteriusnya kaki pelita itu. Dalam alam semesta ini tidak ada sesuatu yang lebih misterius daripada Allah Tritunggal. Lagi pula, unsur yang paling sulit dijelaskan dari wahyu ilahi dalam Alkitab tak lain adalah Allah Tritunggal. Dari abad ke abad para pembaca Alkitab dibingungkan oleh wahyu mengenai Allah Tritunggal dalam Alkitab. Bahkan hari ini pun kita belum memiliki pengertian yang memadai mengenai Allah Tritunggal. Namun demikian, melihat kaki pelita adalah ekspresi Allah Tritunggal sangatlah membantu.
Dalam sejarah orang Yahudi, mereka telah berabad-abad menghargai kaki pelita emas. Tetapi tidak ada seorang pun rabi Yahudi yang pernah mengatakan bahwa kaki pelita menandakan ekspresi Allah Tritunggal. Bahkan saya belum pernah tahu ada orang Kristen yang memiliki pengenalan demikian. Sebenarnya, pengenalan tentang kaki pelita ini merupakan kebenaran yang baru saja dipulihkan oleh Tuhan dalam pemulihan-Nya. Beberapa tahun yang lalu kita tidak pernah membicarakan kaki pelita yang menandakan ekspresi Allah Tritunggal. Tetapi, beberapa tahun belakangan ini, kita sudah mulai melihat bahwa kaki pelita dalam Alkitab merupakan ekspresi Allah Tritunggal.
Dalam membahas kaki pelita emas ini, hendaklah kita ingat bahwa Alkitab adalah sesuatu yang utuh. Karena itu, kita tidak boleh memisahkan Keluaran 25:31-40 dari firman lainnya, atau mengabaikan kitab-kitab lainnya dalam Alkitab. Kaki pelita tidak hanya tercantum dalam Kitab Keluaran, tetapi juga dalam Kitab 1Raja-raja, Kitab Zakharia, dan Kitab Wahyu. Menurut Wahyu 1, kaki pelita itulah gereja. Tambahan pula, ketujuh lampu adalah Roh itu. Alangkah misteriusnya! Akhirnya, pada kesimpulan wahyu ilahi, kaki pelita dalam Keluaran 25 menjadilah gereja, dan ketujuh lampu menjadilah Roh Allah. Dengan ini kita melihat bahwa betapa limpahnya perkara yang tercakup di dalam kaki pelita, karena kaki pelita berhubungan dengan gereja maupun Roh Allah. Kitab Wahyu juga menekankan gereja dan Roh itu. Wahyu 22:17 malah menuliskan kata-kata, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata . .. “ Di sini terlihat bahwa Roh dan gereja menjadi satu dalam berkata-kata.
Pada satu abad yang lalu, beberapa guru menekankan makna lambang-lambang dari Perjanjian Lama. Mengenai kaki pelita, guru-guru tersebut terutama mengatakan bahwa kaki pelita adalah lambang Kristus sebagai terang dunia. Perkataan mereka itu memang benar, tetapi belum cukup. Guru-guru Alkitab ini tidak melihat bahwa kaki pelita adalah ekspresi dari Allah Tritunggal, dan akhirnya kaki pelita itu menjadilah gereja, dan lampu-lampu yang ada pada kaki pelita itu menjadilah ketujuh Roh Allah.
A. SUBSTANSINYA
Bila kita mengamati substansi (bahan), kaki, dan lampu-lampu dari kaki pelita, kita akan menemukan bahwa sebenarnya kaki pelita adalah ekspresi Allah Tritunggal. Menurut Keluaran 25:31, kaki pelita terbuat dari emas murni. Jadi, emas adalah substansi atau unsur dari keseluruhan kaki pelita. Dalam perlambangan, emas menandakan sifat ilahi, yaitu sifat Allah Bapa. Jika kita memperhatikan substansi ini, yakni unsur dari kaki pelita, kita akan melihat bahwa substansi ini menandakan sifat ilahi, maka dengan ini kita dapat melihat Allah Bapa, yang sifat-Nya merupakan substansi dari kaki pelita. Keberadaan kaki pelita emas adalah di dalam sifat Allah Bapa.
B. KAKINYA
Allah Bapa itu tidak kelihatan dan abstrak. Allah Putra adalah perwujudan dari Dia yang tidak kelihatan itu. Kaki pelita merupakan suatu bentuk yang menandakan Allah Putra sebagai perwujudan Allah Bapa. Bentuk padat kaki pelita ini adalah perwujudan dari emas. Menurut Perjanjian Baru, Allah Bapa terwujud dalam Allah Putra. Pada kaki pelita ini terlihatlah substansi yang menandakan Bapa, dan bentuk padat yang menandakan Putra.
C. LAMPUNYA
Keluaran 25:37, “Haruslah kaubuat pada kandil itu tujuh lampu.” Ketujuh lampu ini menandakan bahwa Allah Sang Roh telah menjadi ketujuh Roh Allah untuk ekspresi-Nya (Why. 4:5; 5:6). Sinar lampu-lampu menyatakan ekspresi. Jadi, ketujuh lampu merupakan ekspresi Allah Putra sebagai perwujudan Allah Bapa. Dalam Kitab Wahyu, kita melihat bahwa ketujuh lampu adalah Roh Allah.
Karena pada kaki pelita terdapat unsur emas yang menandakan Allah Bapa, kakinya menandakan Allah Putra, dan tujuh lampu menandakan Allah Sang Roh, maka kita mempunyai dasar untuk mengatakan bahwa kaki pelita sendiri merupakan ekspresi dari Allah Tritunggal.
Kita telah menunjukkan bahwa akhirnya pada Kitab Wahyu, kaki pelita menjadilah gereja. Jika kita menyadari hal ini, pemahaman kita terhadap gereja akan lebih dalam dan limpah. Gereja sebenarnya adalah ekspresi Allah. Dalam ekspresi ini kita melihat sifat Bapa, perwujudan Putra, dan ekspresi Roh. Dalam hidup gereja yang tepat, Allah Bapa itulah subtansinya, Allah Putra itulah perwujudannya, dan Allah Roh itulah ekspresinya. Dalam Keluaran 25, kaki pelita menandakan Kristus, sedangkan dalam Wahyu 1, kaki pelita menandakan gereja-gereja. Ini menunjukkan bahwa Kristus yang unik telah direproduksi, sehingga satu kaki pelita menjadi tujuh kaki pelita. Dalam Keluaran 25, terdapat karya unggul, namun dalam Wahyu 1 terdapat karya unggul yang direproduksi dan diperbanyak. Puji Tuhan atas satu kaki pelita dalam Keluaran 25 dan tujuh kaki pelita dalam Wahyu 1 ini! Pertama-tama ekspresi Allah hanyalah pada Kristus sebagai kaki pelita emas, kini ekspresi ini telah direproduksikan pada gereja-gereja sebagai kaki-kaki pelita emas. Di sini kita melihat bahwa Kristus telah direproduksi. Gereja sesungguhnya adalah reproduksi Kristus. Baik Kristus maupun gereja adalah ekspresi Allah Tritunggal. Dalam hidup gereja terdapat sifat Bapa, perwujudan Putra, dan ekspresi Roh. Alangkah menakjubkan!
II. DI DALAM TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Kaki pelita bukan terletak di pelataran luar; melainkan di tempat kudus, yaitu di dalam tempat kediaman Allah. Dalam pengalaman, sebagian besar orang Kristen belum masuk ke dalam tempat kudus. Mereka malah banyak membuang waktu di mezbah, yaitu salib, yang di pelataran luar. Sebetulnya kita harus meninggalkan salib dan masuk ke dalam tempat kudus. Di manakah pengalaman Anda di mezbah atau di tempat kudus? Banyak di antara kita yang mungkin masih berada di salib.
Kita telah melihat bahwa Kemah Pertemuan, tempat kediaman Allah, menandakan kaum beriman yang dibangun sebagai rumah Allah. Kita semua perlu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita betul-betul di dalam tempat kediaman Allah? Ini berarti kita harus bertanya, apakah kita telah dibangun ke dalam gereja sebagai rumah Allah? Di antara kebanyakan orang Kristen dewasa ini, tidak ada pengalaman atas kaki pelita, karena kaum beriman ini masih tinggal di salib dan belum dibangun bersama yang lainnya.
Tanpa adanya tempat kediaman Allah, tanpa adanya pembangunan atas kaum beriman, mana mungkin ada kaki pelita? Itu mustahil. Kaki pelita bukanlah di dekat salib yang di pelataran luar, melainkan di dalam tempat kediaman Allah, yakni di tengah-tengah kaum beriman yang telah dibangun bersama-sama sebagai rumah Allah.
Dalam pandangan Allah, setiap gereja lokal adalah kaki pelita. Allah memandang setiap gereja sebagai rumah yang dibangun untuk menjadi tempat kediaman-Nya. Bila kita ingin melihat kaki pelita, haruslah berada di dalam rumah Allah, yaitu gereja.
III. SETELAH MEJA ROTI SAJIAN
Menurut urutan wahyu, kaki pelita menyusul setelah meja roti sajian. Meja ini menandakan Kristus sebagai suplai hayat; ini merupakan gambaran yang memperlihatkan Kristus, sumber suplai hayat. Kaki pelita menandakan Kristus sebagai terang hayat (Yoh. 8:12). Jadi, meja adalah suplai hayat, sedangkan kaki pelita adalah terang hayat.
Injil Yohanes membicarakan Kristus sebagai terang hayat. Yohanes 1:4, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Menurut Yohanes 8:12, Tuhan Yesus berkata, “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan (hayat).”
Apakah makna ungkapan “terang hayat”? Meskipun ini agak sulit dijelaskan, namun mudah digambarkan. Hayat itu terang, sedangkan kematian itu gelap. Karena kita hidup, maka kita bisa melihat. Tetapi jika kita mati, kita tak lagi bisa melihat apa pun; kematian menghasilkan kegelapan.
Dalam Alkitab, buta sama dengan mati. Semua orang dunia adalah buta dan tinggal di dalam kegelapan. Berhubung mereka mati, maka mereka pun buta. Bila kita menerima suplai hayat ilahi, kita memiliki penglihatan rohani, dan penglihatan itulah terang. Inilah terang hayat. Kristus sebagai terang hayat berasal dari suplai hayat. Inilah alasannya kita harus lebih dulu memiliki meja dan kemudian kaki pelita.
Bahkan dalam hayat jasmani kita pun terdapat hubungan antara suplai hayat dengan penglihatan. Contohnya, orang yang tidak makan dalam jangka waktu yang lama, akan mengalami kemunduran daya lihat. Sebaliknya, jika ia makan dengan gizi cukup, penglihatannya akan makin baik. Ini menunjukkan bahwa kekurangan suplai hayat dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan. Ini pun menunjukkan bahwa suplai hayat mendatangkan penglihatan, yakni terang.
Bila kita mau memiliki terang hayat, haruslah terlebih dulu datang ke meja, kemudian datang ke hadapan kaki pelita. Alasan kita untuk bermunajad pagi tiap hari tak lain karena kita perlu dirawat oleh suplai hayat yang di atas meja. Setelah itu, dalam pengalaman kita akan muncul kaki pelita. Bila kita memiliki makanan, suplai hayat, niscaya terang kaki pelita akan menyoroti kita. Misalnya, seorang saudara mungkin berpikir bahwa dalam hal tertentu dirinya itu benar, dan istrinya yang salah. Namun setelah ia menikmati Kristus sebagai suplai hayat di atas meja, penglihatannya menjadi terang sehingga mendapat sorotan atas hal tersebut. Ia lalu menyadari bahwa ia sendirilah yang salah. Ini melukiskan fakta bahwa bila kita menerima suplai hayat, kita akan secara otomatis menerima terang hayat.
IV. DARI EMAS MURNI
Dari ayat 31, kita tahu bahwa kaki pelita dibuat dari emas murni. Emas murni menandakan sifat ilahi yang murni. Sebagai perwujudan Bapa untuk ekspresi-Nya, Kristus adalah murni ilahi. Begitu juga gereja sebagai kaki pelita. Dalam Kitab Wahyu, kita melihat bahwa ketujuh gereja ialah ketujuh kaki pelita. Dalam hidup gereja kita memerlukan keinsanian yang kuat dan ditinggikan, memerlukan keinsanian yang tepat. Walaupun demikian, realitas gereja sedikit pun tidak tergantung pada keinsanian. Sebaliknya, tergantung pada keilahian. Berapa banyak sifat ilahi yang tersalur ke dalam kita akan menentukan taraf yang kita capai sebagai gereja di dalam realitas.
Beberapa orang Kristen bertanya kepada kita, “Mengapa kalian menyebut diri kalian gereja? Bukankah kami ini gereja seperti kalian?” Menurut standar ukuran Allah, gereja diukur dari keilahian. Berapa banyakkah Allah yang kita miliki di dalam kita? Berapa banyakkah unsur ilahi yang ada dalam gereja di lokal kita ini? Kalau kita hanya memiliki unsur ilahi yang amat terbatas, yaitu keilahian yang sangat terbatas, gereja di lokal kita akan terbatas, kecil, dan tidak dewasa. Tetapi, kalau kita makin banyak memiliki sifat ilahi, maka realitas gereja akan bertambah.
Ketika Kristus di bumi, Ia memiliki keinsanian juga keilahian. Akan tetapi, bukan karena keinsanian-Nya itu lalu terang terpancar, melainkan karena keilahian-Nya. Itulah sebabnya dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas, tidak disebutkan Kristus sebagai terang hayat. Injil Matius menyebutkan Kristus sebagai terang (4:16), tetapi tidak seperti yang disebutkan Injil Yohanes. Injil Yohanes dengan tegas menyebutkan Kristus adalah terang hayat, karena Injilnya mewahyukan keilahian Kristus. Dimulainya dengan kalimat, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah . . . Dalam Dia ada hayat, dan hayat itu adalah terang manusia” (Yoh. 1:1, 4 Tl.). Kristus sebagai terang hayat erat hubungannya dengan keilahian-Nya. Seandainya Ia tidak ilahi, melainkan hanya seorang manusia yang baik, mustahillah Ia menjadi terang hayat. Saya ulangi, terang hayat berasal dari keilahian Kristus. Inilah makna kaki pelita yang terbuat dari emas murni.
Sebagaimana Kristus bercahaya oleh karena sifat ilahi-Nya, kita pun dapat bersinar dengan unsur ilahi yang telah terinfus ke dalam kita. Tingkat cahaya kita sesuai dengan tingkat unsur ilahi yang ada di dalam kita. Jika Anda ramah, manis, rendah hati, dan penuh dengan kasih sayang alamiah, tanpa kadar keilahian sedikit pun, Anda tidak akan memiliki terang. Orang lain takkan melihat terang di dalam Anda. Namun jika Anda memperhidupkan Kristus karena keilahian-Nya serta mengekspresikan Allah, terang akan termanisfestasikan. Satu Yohanes 1:5, “Allah itu terang.” Terang berasal dari keilahian, bukan dari keinsanian.
V. DARI TEMPAAN
Keluaran 25:31, “Dari emas tempaan harus kandil (kaki pelita) itu dibuat.” Ayat 36, “Tombol dan cabang itu harus timbul dari kandil (kaki pelita) itu, dan semuanya itu haruslah dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni.” “Dari tempaan” berarti penderitaan; ditempa berarti menderita. Ketika Kristus, perwujudan Allah, berada di bumi, Ia mengalami banyak penderitaan, yakni banyak tempaan.
Pada tabut, emas ditempa untuk mengekspresikan kemuliaan Allah. Kedua kerub dibuat dari emas yang ditempa. Kerub-kerub kemuliaan ini menandakan bahwa kemuliaan Allah muncul dari tempaan; kemuliaan Allah yang diekpresikan di dalam Kristus berasal dari penderitaan-Nya.
Pada kaki pelita, emas ditempa untuk memancarkan terang Allah. Terang ini sama dengan kemuliaan Allah. Ini berarti, terang pada kaki pelita sama dengan kemuliaan di atas tabut. Keduanya muncul pada emas yang ditempa. Ini menunjukkan bahwa melalui penderitaan, Kristus mengekspresikan kemuliaan Allah.
Kurangnya kita mengalami penderitaan, membuat terang kita kurang cerah. Meskipun kita tidak seharusnya mencari penderitaan, tetapi kita tidak boleh meremehkan penderitaan, karena penderitaan itu sangat berguna. Jika kita tidak pernah mengalami penderitaan, penempaan emas, kita takkan mampu bercahaya. Misalnya, suami, atau istri, atau anak-anak Anda, selalu baik-baik terhadap Anda, kemungkinan ini akan menghalang-halangi Anda bercahaya. Namun jika Anda menghadapi kesulitan-kesulitan dalam keluarga Anda, maka kesulitan-kesulitan itu akan membantu Anda bercahaya. Anak-anak bisa diibaratkan palu kecil, yang menempa emas di dalam orang tua mereka sambil membantu mereka bercahaya.
VI. TANPA UKURAN
Kita tidak tahu ukuran kaki pelita. Ukuran kerub maupun ukuran kaki pelita tidak tercantum dalam Alkitab. Tak seorang pun tahu berapa tinggi kaki pelita. Meski kita tahu bahwa berat kaki pelita berikut perlengkapannya adalah satu talenta, tetapi kita tidak tahu persis berat kaki pelita itu sendiri.
Apa yang tidak diutarakan oleh Alkitab adakalanya sama pentingnya seperti apa yang diutarakan. Makna dari kaki pelita tanpa ukuran ialah bahwa keilahian Kristus dan terang yang Ia pancarkan itu tidaklah terbatas (Yoh. 3:34). Sinar lampu yang kita gunakan hari ini dapat diukur, lain dengan cahaya Kristus yang tidak terukur. Baik keilahian maupun terang-Nya melebihi segala ukuran.
VII. ALAS DAN BATANGNYA
Ayat 31 membicarakan alas (LAI: kaki) dan batang kaki pelita. Alas adalah untuk stabilitas, sedangkan batangnya adalah untuk kekuatan. Keempat kitab Injil mewahyukan bahwa Tuhan Yesus selalu stabil dan kuat. Ia selalu memiliki alas stabil, dan tak peduli situasi apa pun yang Ia hadapi, Ia berdiri seperti batang yang tangguh.
VIII. KELOPAK, TOMBOL, DAN KEMBANGNYA
Sekarang kita sampai pada aspek dari kaki pelita yang sulit dipahami. Ayat 31, “Kelopaknya dengan tombolnya dan kembangnya (kuntumnya) haruslah seiras dengan kandil itu.” Apakah kelopak-kelopak ini, dan mengapa mereka berada pada cabang dan batang kaki pelita? Istilah “kembang” (kuntum) di sini sebenarnya berarti bunga. Apakah makna dari bunga ini? Ketika saya masih muda, saya menemui kesulitan yang besar dalam memahami masalah ini. Saya mengira pada setiap cabang terdapat sebuah tombol di atas kelopak dan sebuah kuntum di atas tombol. Padahal kelopak, tombol, dan kuntum, merupakan bagian dari sebuah bunga.
Sebuah bunga, misalnya bunga badam, memiliki beberapa lapisan. Lapisan yang bawah mungkin berwarna hijau, seperti daun yang hijau. Kata yang tepat untuk menjelaskan lapisan yang bawah adalah kelopak. Istilah “tombol” dalam ayat 31 mengacu kepada kelopak sebuah bunga, yaitu lapisan luar yang hijau seperti daun. Kelopak meliputi kuntum. Pucuk bunga ialah kuntum, sebenarnya adalah bunga itu sendiri. Dalam ayat 31 kata “kelopak” digunakan untuk menjelaskan keseluruhan bunga, termasuk kelopak dan kuntumnya. Jadi, kelopak di sini sama dengan bunga yang lengkap. Kelopak ini meliputi kelopak yang di bawah dan kuntum yang di atas. Ketika kuntum itu mekar, muncullah sebuah bunga.
Pada kaki pelita, kelopak ini berbentuk seperti bunga badam. Bunga badam di sini disebut sebagai “kelopak”. (Alkitab versi Pemulihan dalam bahasa Inggris memakai istilah “cup” (cawan). Red.). Pohon badam berbunga lebih awal daripada pohon-pohon lainnya pada musim semi. Setiap bunga badam yang kecil merupakan sebuah cawan. Pada bagian bawah cawan terdapat bagian hijau daun yang disebut kelopak, yang berbentuk wadah yang menadah kuntum. Akhirnya, kuntum-kuntum ini menjadi bunga.
A. CAWAN BERBENTUK SEPERTI BUNGA BADAM YANG MEKAR
Cawan berbentuk seperti bunga badam, hayat kebangkitan yang mekar. Menurut Bilangan 17:8, tongkat Harun bertunas dan berbuahkan buah badam. Ini menggambarkan hayat kebangkitan yang keluar dari kematian. Tongkat Harun yang berupa tongkat yang mati, telah berbuahkan buah badam melalui kebangkitan. Jadi, bunga badam menandakan mekarnya hayat kebangkitan. Kita telah menunjukkan bahwa pohon badam berbunga awal sekali pada musim semi. Bunga badam menandakan buah sulung dari kebangkitan.
Yeremia 1:11-12 mengatakan, “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: ‘Apakah yang kauli-hat, hai Yeremia?’ Jawabku: ‘Aku melihat sebatang dahan pohon badam.’ Lalu firman TUHAN kepadaku: ‘Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku.’” Dalam bahasa Ibrani, kata “badam” dan “siap sedia” berasal dari akar kata yang sama. Akar kata ini berarti “berjaga-jaga atas” atau “berwaspada”. Makna rohani dari kata ini sangat mendalam. Kebangkitan mengandung arti berjaga-jaga, berwaspada, mempercepat. Menurut Yeremia 1:12, Tuhan bersiap sedia untuk melaksanakan firman-Nya, Ia ingin mempercepat terwujudnya Firman-Nya.
Telah kita tunjukkan bahwa Kristus adalah terang hayat, ini sepenuhnya adalah masalah keilahian. Kini kita melihat bahwa ini juga merupakan masalah yang sepenuhnya di dalam kebangkitan. Tanpa hayat kebangkitan, tidak ada terang. Kristus dapat menjadi terang hayat hanya di dalam keilahian dan kebangkitan. Jadi, keilahian dan kebangkitan adalah syarat yang harus dipenuhi agar Kristus dapat menjadi terang hayat. Pada prinsipnya, pengalaman kita pun demikian. Kita tidak dapat bercahaya berdasarkan hayat alamiah kita, berdasarkan keinsanian kita. Jika kita ingin memancarkan terang hayat, kita harus memiliki keilahian dan di dalam kebangkitan. Kebangkitan adalah dasar bagi penyorotan terang ilahi.
B. TOMBOL, KELOPAK, BAGIAN LUAR YANG SEPERTI DAUN DARI BUNGA, MELIPUTI KUNTUM
Tombol, kelopak, bagian luar yang seperti daun dari bunga, meliputi kuntum, menandakan kekuatan hayat kebangkitan yang menopang dan menunjang. Ini hanya bisa dipahami melalui pengalaman kita terhadap Tuhan. Memancarkan terang ilahi berarti mekar. Namun pemekaran ini memerlukan wadah penopang dan penunjangnya. Dari pengalaman kita tahu bahwa memancarkan terang ilahi memerlukan hayat kebangkitan yang berupa tombol, kelopak, sebagai wadah untuk menopang dan menunjang penyorotan kita. Tanpa memiliki hayat kebangkitan sebagai wadah yang demikian, pemekaran kita akan gagal. Artinya, pemancaran terang ilahi di dalam kita akan berhenti. Tanpa tombol, kelopak, kuncup, bunga akan gugur. Sama halnya, tanpa hayat kebangkitan, kita tidak memiliki sesuatu yang menahan, menopang, dan menunjang penyorotan terang ilahi kita.
Andaikata dalam kehidupan sehari-hari Anda bersama keluarga, Anda menyorotkan terang ilahi. Akan tetapi, tiba-tiba Anda kembali pada hayat alamiah Anda, berbicara dan bertindak-tanduk dalam cara yang alamiah, terutama dalam hubungan Anda dengan anggota keluarga Anda. Segera, pemekaran bunga Anda gugur, Anda berhenti bercahaya. Karena Anda telah kehilangan kelopak-kelopak yang menopang kuntum bunga, maka tidak ada lagi pancaran cahaya. Bila Anda tetap tinggal dalam kebangkitan, Anda akan mekar atau bercahaya. Namun bila Anda meninggalkan kebangkitan dan kembali kepada hayat alamiah, Anda segera berhenti bercahaya. Boleh saja beberapa menit yang lalu Anda sedang bercahaya, tetapi sekarang, berhubung Anda telah kehilangan topangan dari hayat kebangkitan, Anda tidak lagi bercahaya. Bila kelopak, penopang kuntum disingkirkan, bunganya tentu akan gugur. Jadi, tidak ada pemekaran berarti tidak ada penyorotan. Penyorotan terang ilahi ditopang oleh hayat kebangkitan.
C. KUNTUM
Kuntum, yaitu daun bunga, menandakan ekspresi hayat kebangkitan Kristus. Hayat kebangkitan adalah wadah, juga bunga; adalah penunjang, juga ekspresi.
IX. KEDUA SISI MASING-MASING BERCABANG TIGA
Keluaran 25:32, “Enam cabang harus timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain.” Pada tiap sisi kaki pelita terdapat tiga cabang yang tersusun secara berlapis-lapis. Angka tiga di sini menyatakan kebangkitan dan Allah Tritunggal. Menurut 1Korintus 15, Roh pemberi-hayat adalah ekspresi paling akhir Allah Tritunggal, dan juga jangkauan paling akhir Allah Tritunggal pada manusia. Jadi, Roh pemberi-hayat merupakan perampungan Allah Tritunggal. Melalui kebangkitan, dalam kebangkitan, dan dengan kebangkitan, Kristus, Adam yang terakhir, menjadi Roh pemberi-hayat. Roh pemberi-hayat ini ialah Allah yang telah melalui berbagai proses. Kebangkitan tak lain adalah Allah Tritunggal sendiri yang telah melalui berbagai proses. Kebangkitan itulah Roh Kristus, dan Roh Kristus itulah Kristus sendiri. Pengertian tentang kebangkitan yang sesuai dengan firman Tuhan adalah: “Akulah kebangkitan” (Yoh. 11:25).
Pada aspek yang satu, dalam Alkitab, angka tiga ditujukan kepada Allah Tritunggal; pada aspek yang lain, angka tiga ditujukan kepada kebangkitan. Kebangkitan itu justru Allah Tritunggal. Pada kaki pelita, kebangkitan bukan sekadar yang ditunjukkan oleh bunga badam saja, tetapi juga oleh tiga cabang yang terdapat pada masing-masing sisi kaki pelita.
Tambahan pula, cabang-cabang menandakan kepada menjulur keluarnya hayat kebangkitan Kristus. Keenam cabang yang terbagi dalam dua kelompok, masing-masing tiga, menandakan kesaksian terang hayat. Dua merupakan angka kesaksian. Karena alasan inilah Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya berdua-dua. Berdasarkan prinsip yang sama, kedua kelompok cabang pada dua sisi dari kaki pelita mengibaratkan kesaksian terang hayat.
X. TIGA CAWAN KELOPAK YANG SERUPA BUNGA BADAM
PADA TIAP CABANG BERIKUT TOMBOL DAN KEMBANGNYA
Tiga cawan kelopak yang bentuknya seperti bunga badam pada masing-masing cabang berikut tombol dan kembangnya (kuntumnya) menandakan hayat kebangkitan yang mekar di dalam dan bersama hayat kebangkitan. Telah kita tunjukkan bahwa pada masing-masing cabang terdapat tiga bunga. Ini menyatakan kebangkitan bersama dengan kebangkitan, dan kebangkitan di dalam kebangkitan. Kaki pelita penuh dengan bunga-bunga badam. Ini mewahyukan bahwa pemikiran ilahi di sini berfokus pada kebangkitan.
Kita sungguh memerlukan Roh hikmat dan wahyu (Ef. 1:17) untuk memahami makna kaki pelita. Dalam kaki pelita emas kita memiliki keilahian, kebangkitan, dan terang hayat. Pancaran cahaya adalah ekspresi dari hayat ilahi dalam kebangkitan. Walaupun kita ini insani dan alami, namun melalui kelahiran kembali, kita telah menerima hayat ilahi dengan sifat ilahi (2Ptr. 1:4). Ini berarti sebagai kaum beriman di dalam Kristus, kita memiliki substansi ilahi, unsur ilahi, yaitu keilahian. Sekarang kita perlu memperhidupkan Kristus, memperhidupkan keilahian, melalui berlatih menjadi satu roh dengan Tuhan. Kebanyakan orang Kristen telah mengabaikan hal ini. Sebagai gantinya, mereka hanya mengajar orang lain agar memperbaiki keinsanian alamiah mereka. Tetapi di dalam keinsanian alamiah kita tidak ada keilahian, kebangkitan, dan terang. Janganlah menetap di dalam hayat alamiah kita, melainkan masuklah ke dalam kebangkitan. Untuk ini, kita harus melewati salib. Kemudian berada di dalam kebangkitan, dan dengan unsur ilahi dalam kebangkitan akan timbul pemekaran, yakni pancaran terang.
Sekali lagi, saya hendak menekankan fakta bahwa mekar adalah pemancaran cahaya. Bila kita mekar, berarti kita memancarkan cahaya. Pada kaki pelita kita memiliki keilahian dan kebangkitan. Kini kebangkitan ini perlu mekar. Kapan saja kebangkitan ini mekar, pastilah cahaya terpancar; yaitu mengekspresikan hayat Allah. Ekspresi ini, pemekaran ini, adalah pemancaran terang. Saya menganjuri semua orang beriman memperhatikan lukisan mengenai kaki pelita emas serta mendoakannya. Ini akan membantu kita melihat hari ini bagaimana Kristus menyinari kita, dan bagaimana kita dapat menjadi anggota Kristus yang bercahaya melalui sifat ilahi dan melalui mekar dalam kebangkitan. Inilah yang memancarkan terang ilahi. Semakin kita memancar sedemikian, kita semakin menjadi gereja dengan ketujuh Roh Allah.