KAKI PELITA (2)
Pembacaan Alkitab: Kel. 25:31-40; 40:4, 24-25
Sebelum membahas lebih rinci butir-butir tentang kaki pelita, akan lebih menolong lagi bila kita memiliki pandangan umum terhadap kaki pelita. Keluaran 25:31, “Haruslah engkau membuat kandil (kaki pelita) dari emas murni; dari emas tempaan harus kandil itu dibuat, baik kakinya baik batangnya; kelopaknya dengan tombolnya dan kembangnya haruslah seiras dengan kandil itu. Enam cabang harus timbul dari sisinya: tiga cabang kandil itu dari sisi yang satu dan tiga cabang dari sisi yang lain.” Kaki pelita terdiri atas kaki, batang, dan tiga pasang cabang. Pada tiap sisi kaki pelita terdapat tiga cabang. Di bawah tiap pasang cabang terdapat tombol yang menahan kedua cabang tersebut pada batang. Kemudian pada tiap cabang terdapat tiga cawan yang berbentuk seperti bunga badam, berikut tombol dan kembangnya. Kita telah melihat bahwa masing-masing cawan terdiri atas dua lapisan: lapisan bawah, disebut tombol atau kelopak, yaitu bagian bawah bunga yang berwarna hijau daun, dan lapisan atas yaitu daun mahkota bunga, yang sebenarnya adalah bunga itu sendiri. Lapisan bawah disebut tombol, sedangkan lapisan atas disebut kuntum. Keseluruhan bunga, termasuk kelopak dan kuntum, ialah cawan yang berbentuk seperti bunga badam.
Bila kita memperhatikan keseluruhan kaki pelita, kita akan melihat bahwa pada kaki pelita terdapat dua puluh lima tombol. Tiga tombol pada masing-masing cabang, tiga tombol yang menahan tiap pasang cabang, dan empat tombol pada batang kaki pelita. Jadi, semuanya dua puluh lima buah. Karena tiga tombol yang masing-masing menopang sepasang cabang tidak memiliki kuntum, maka kaki pelita hanya memiliki dua puluh dua kuntum. Pemikiran ilahi di sini adalah kaki pelita sebenarnya adalah sebatang pohon dengan kelopak dan kuntumnya.
Jika kita memiliki pandangan umum mengenai keseluruhan kaki pelita, kita tentu menyadari bahwa kaki pelita itu sebenarnya terlihat berbentuk seperti pohon. Selain itu, kaki pelita digambarkan sedemikian rupa sehingga memberikan konsepsi pertumbuhan. Ayat-ayat tersebut membicarakan cabang, kuntum, dan bunga badam. Mekar menyatakan pertumbuhan. Kita harus memiliki kesan bahwa kaki pelita adalah pohon yang bertumbuh.
Sebagaimana sebuah pohon, kaki pelita pun memiliki ciri-ciri khusus. Pertama, kaki pelita adalah pohon emas. Emas menandakan sifat Allah. Sebagaimana telah ditunjukkan dalam berita sebelumnya, kaki pelita emas merupakan ekspresi Allah Tritunggal. Allah Tritunggal itu “pohon yang hidup”, senantiasa bertumbuh, bersemi, dan mekar.
Kita telah melihat bahwa pohon emas ini memiliki banyak bunga badam. Dalam perlambangan, pohon badam menandakan hayat kebangkitan. Tongkat Harun yang bertunas dan berbuahkan badam menandakan hayat kebangkitan. Karena itu, bunga badam yang ada pada kaki pelita menyatakan bahwa kaki pelita itu adalah pohon dalam kebangkitan. Kebangkitan adalah hayat yang mengalahkan maut. Maut tak berdaya melakukan sesuatu terhadap hayat kebangkitan. Maut dapat merusak jenis hayat lain, yaitu hayat tumbuh-tumbuhan, hayat hewani, dan hayat manusia. Hanya satu hayat saja yang tidak dapat dilukai oleh maut, yakni hayat kebangkitan. Kebangkitan ialah hayat yang telah melewati maut dan tidak dapat ditahan oleh maut. Menurut wahyu yang sempurna dari Alkitab, Allah sendiri adalah hayat kebangkitan itu.
Memang, kaki pelita memancarkan terang. Tetapi, makna utama dari kaki pelita bukanlah terang, melainkan hayat. Terang berada di puncak kaki pelita, dan di bawah terang terdapatlah bunga. Kaki pelita adalah sesuatu yang bisa bertumbuh. Kelopak yang ada di bawah tiap pasang cabang menunjukkan pertumbuhan hayat. Cabang-cabang ini dihasilkan oleh pertumbuhan hayat. Jadi, dari kaki pelita kita melihat cabang yang ditumbuhkan hayat, yang dihasilkan di bawah sorotan terang. Hayat menghasilkan terang, hayat juga menumbuhkan terang. Ini berarti, terang sebenarnya adalah mekarnya hayat. Bila kita bertumbuh dan mekar, maka terang terpancar. Pertumbuhan kita adalah pancaran terang kita. Kita bertumbuh dengan hayat, namun memancarkan terang.
Sejauh ini, kita telah melihat bahwa pada kaki pelita ada sifat ilahi, kebangkitan, hayat, dan terang. Ketujuh lampu pada kaki pelita (ayat 37) menandakan Roh itu. Jadi, pada kaki pelita terdapat lima hal yang penting: sifat ilahi, kebangkitan, hayat, Roh itu, dan terang. Wahyu dalam Alkitab, terutama Perjanjian Baru, selalu berpadanan dengan kaki pelita atas lima perkara ini sifat ilahi, kebangkitan, hayat, Roh itu, dan terang.
Sekarang kita harus melihat bahwa sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus, kita merupakan bagian dari pohon yang ajaib ini. Mengetahui bahwa saya adalah bagian dari pohon emas ini, membuat saya hampir “lupa daratan” karena girang. Puji Tuhan, kita adalah bagian dari pohon ini di dalam kebangkitan dan memiliki sifat ilahi, hayat, Roh itu, dan terang yang menyorot!
Kaki pelita dalam Keluaran 25 menandakan Allah Tritunggal yang terwujud di dalam Kristus. Kaki pelita dalam Zakharia 4 menandakan Allah Tritunggal yang terekspresi di dalam Roh itu. Akhirnya, dalam Kitab Wahyu, kita memiliki kaki pelita yang direproduksi dan diperbanyak. Baik dalam Keluaran 25 maupun Zakharia 4 hanya ada satu kaki pelita saja, namun dalam Wahyu 1 ada tujuh kaki pelita. Kaki pelita yang satu ini telah direproduksi menjadi tujuh. Ketujuh kaki pelita ini adalah gereja. Karena kaki pelita telah menjadi gereja dan kita semua adalah bagian-bagiannya, maka kita mempunyai tumpuan untuk mengatakan bahwa kita adalah bagian dari kaki pelita. Saya berani bersaksi bahwa saya adalah bagian dari kaki pelita. Saya harap semua orang beriman dapat mendeklarasikan fakta yang menakjubkan ini. Bukankah Anda mempunyai sifat ilahi? Bukankah Anda mempunyai kebangkitan, hayat, Roh itu, dan terang? Sebagai kaum beriman sejati di dalam Kristus, kita memiliki semua itu.
Kita sudah melihat bahwa kaki pelita merupakan sebuah pohon. Sebuah pohon bukanlah suatu wujud yang tanpa terang atau tanpa hayat, melainkan hidup, organik, dan penuh hayat. Ia adalah barang tegak yang berupa pohon, juga bertumbuh seperti pohon. Pohon yang hidup ini bertumbuh, bercabang, bersemi, berbunga, dan mekar.
Sebagaimana telah kita tunjukkan, mekar berarti pemancaran terang. Terang ialah mekarnya hayat. Sesungguhnya terang itu adalah hayat. Yohanes 1:1 dan 4, “Pada mulanya ada Firman; . . . dan Firman itu adalah Allah . . . Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Inilah pancaran Kristus, yaitu perwujudan Allah Tritunggal, yang telah menjadi terang hayat.
Fakta bahwa kaki pelita itu emas menandakan, sebagai perwujudan Allah, Kristus sepenuhnya ilahi. Namun ada dua aspek dari kaki pelita yang mengacu kepada keinsanian Kristus. Pertama, batang inti kaki pelita memiliki empat bunga, sedangkan masing-masing cabang memiliki tiga bunga. Dalam Alkitab, angka empat bukan terdiri dari dua ditambah dua, melainkan tiga ditambah satu atau satu ditambah tiga. Angka tiga menandakan Allah Tritunggal dan kebangkitan. Sebagaimana telah kita singgung, Allah Tri-tunggal adalah kebangkitan. Jadi, menurut Alkitab, angka tiga menandakan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Angka empat dalam Alkitab menandakan makhluk ciptaan. Contoh, empat makhluk ciptaan dan empat penjuru angin. Jadi, angka empat menandakan penciptaan.
Sebagai Allah, Kristus adalah Pencipta. Namun sebagai manusia, Ia adalah makhluk ciptaan. Banyak orang Kristen yang menentang bila mereka diberi tahu bahwa Kristus itu Pencipta juga ciptaan. Namun Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Kristus mengenakan sifat insani, Ia memiliki tubuh yang berdaging, darah, dan tulang. Bukankah semua ini unsur dari makhluk ciptaan? Selain itu, Kolose 1:15 mengatakan bahwa Kristus adalah yang sulung dari segala ciptaan. Pada kaki pelita kita tak hanya memiliki Allah Tritunggal, tetapi juga makhluk ciptaan, seperti yang ditunjukkan oleh angka empat. Inilah aspek pertama dari kaki pelita yang mengacu kepada keinsanian Kristus.
Aspek kedua dari kaki pelita yang berhubungan dengan keinsanian Kristus ialah sumbunya. Sumbu dibuat dari serat, terutama kapas. Ketika kaki pelita dinyalakan, sumbunya menyala dikarenakan ada minyak. Setiap pagi para imam harus membereskan kaki pelita, yaitu membersihkan sumbu yang hangus terbakar, memotong bagian sumbu yang hangus terbakar. Keluaran 25:38 membicarakan sepit dan penadah. Sepit tersebut digunakan untuk memotong sumbu, sedang penadah digunakan sebagai tempat menadah sumbu yang hangus. Ketika imam membersihkan kaki pelita setiap pagi, ia memotong sumbu yang hangus serta menambahkan minyak yang baru. Inilah pekerjaan imam dalam memelihara kaki pelita.
Sumbu adalah satu-satunya bagian kaki pelita yang tidak terbuat dari emas. Jadi, sumbu bukan menandakan keilahian, melainkan menandakan keinsanian. Di samping itu, fakta bahwa sumbu dapat hangus menunjukkan bahwa kaki pelita tidak hanya menandakan Kristus sendiri, tetapi juga menandakan kita. Keinsanian Kristus tidak pernah menghasilkan sumbu hangus. Hanya keinsanian kita yang dapat terbakar hangus. Tentu saja Kristus tidak memerlukan sepit untuk membersihkan Dia, atau menanggulangi Dia. Bila kita membaca keempat kitab Injil dalam Alkitab, kita akan tahu bahwa Kristus tidak perlu dipotong, karena dalam kehidupan insani-Nya tidak terdapat sumbu yang hangus. Kitalah yang mudah sekali terbakar hangus dan perlu dipotong setiap hari.
Munajad pagi merupakan waktu terbaik untuk mengalami pembenahan, pemotongan dari Tuhan. Saya dapat bersaksi bahwa pemotongan ini terjadi sewaktu saya mengaku dosa di hadapan Tuhan dan memohon Dia mengampuni saya atas kekurangan, kegagalan, kelemahan, dan kesalahan saya. Jika kita memperhatikan keadaan kita setiap hari, kita akan melihat bahwa selalu ada sumbu yang hangus yang perlu dipotong. Keinsanian kita jauh lebih rendah dibanding keinsanian Kristus. Keinsanian-Nya tak pernah mengandung bagian yang hangus, keinsanian kita setiap hari menghasilkan bagian yang hangus, yang memerlukan pembersihan setiap hari. Maka, dalam pengalaman kita diperlukan sepit dan penadah.
Mungkin Anda tidak tahu siapa yang melakukan pembenahan atau pemotongan ini. Sering terjadi Kristus sendiri yang memotong kita pada saat kita bersekutu dengan-Nya di pagi hari. Di waktu-waktu lain, mungkin Ia melaksanakannya melalui penatua, atau salah seorang beriman. Selain itu, minister firman juga membersihkan dan membenahi kaum beriman. Jika Anda adalah orang Kristen yang bertumbuh dan dewasa di dalam Tuhan, tanpa Anda sadari ketika Anda bersekutu dengan orang lain, Anda membersihkan dan membenahi mereka. Beberapa orang pernah memberi tahu saya bahwa saat persekutuan tengah berlangsung, mereka sudah mengalami pemotongan dari saya. Padahal saya sama sekali tidak bermaksud memotong siapa pun; tetapi tanpa disadari, tanpa disengaja orang lain telah terbenahi. Contohnya, seorang saudara memberi tahu saya bahwa apa yang saya utarakan dalam persekutuan saya telah membantunya menanggulangi masalah yang ia hadapi dengan istrinya. Ia berkata bahwa pemotongan dan pembersihan ini sangat bermanfaat baginya.
Hari ini banyak orang Kristen yang tidak bercahaya dikarenakan sumbu hangus yang ada pada mereka sangat panjang. Sumbu hangus mereka sedang berasap, tidak menyala. Dalam beberapa hal, sumbu-sumbunya mungkin melebihi dua belas inci! Agar dapat bersinar dengan baik dan cukup, kita memerlukan pemotongan.
XI. EMPAT CAWAN KELOPAK YANG SERUPA
BUNGA BADAM PADA KAKI PELITA DENGAN TOMBOL DAN KEMBANGNYA
Keluaran 25:34, “Pada kandil itu sendiri harus ada empat kelopak berupa bunga badam dengan tombolnya dan kembangnya.” Keempat cawan kelopak yang serupa bunga badam pada batang inti kaki pelita dengan tombol dan kembangnya menandakan keinsanian Kristus yang memancar terang karena hayat kebangkitan.
XII. SEBUAH TOMBOL
DI BAWAH TIAP PASANG CABANG
Ayat 35, “Juga harus ada satu tombol di bawah sepasang cabang yang pertama, yang timbul dari kandil itu, dan satu tombol di bawah yang kedua, dan satu tombol di bawah yang ketiga; demikianlah juga kaubuat keenam cabang yang timbul dari kandil itu.” Ketiga tombol-tombol ini bukan menopang bunga, melainkan menopang cabang. Ini menunjukkan bahwa cabang bertumbuh supaya mengembang. Tombol atau kelopak, menopang cabang-cabang menandakan pertumbuhan hayat. Cabang-cabang mengembang melalui pertumbuhan hayat. Jadi, di sini ada hayat, pertumbuhan, dan pengembangan. Menandakan bahwa hayat kebangkitan berkembang untuk memancarkan terang. Hayat bertumbuh dan berkembang untuk menghasilkan pancaran terang.
Walaupun di sini sering disebut tentang bunga (kembang), namun tidak pernah disebut tentang buah. Sesungguhnya, buah tidak lain adalah pancaran terang. Ini dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari kita dengan Tuhan. Bila kita bertumbuh dalam hayat kebangkitan, kita akan bertunas, berbunga, dan berbuah. Jika kita bandingkan Galatia 5 dengan Efesus 5, kita akan melihat bahwa buah ini adalah terang. Terang sebenarnya adalah buah. Hasil dari bertumbuh, bertunas, dan berbunga adalah berbuah. Buah ini merupakan pemancaran terang. Bagaimanakah keluarga, teman, tetangga, kolega, dan teman sekolah kita dapat melihat terang terpancar dari kita? Mereka hanya dapat melihat terang bila kehidupan Kristen kita berbuah. Sebab buah ini adalah terang.
Mari kita melihat contoh kasus dari dua orang saudari. Yang satu bernama Maria, dan yang lain bernama Marta. Maria bertumbuh di dalam Tuhan dan bertunas, berbunga, serta berbuah. Sedangkan Marta tidak bertumbuh, bahkan masih tetap daging. Ketika Marta datang berkontak dengan Maria, ia melihat buah pada kehidupan Maria. Buah ini adalah terang. Terhadap diri Maria, ini adalah buah; namun terhadap Marta buah ini adalah pancaran terang. Marta melihat terang ini dan dicelikkan olehnya. Lalu ia sadar bahwa ia bersifat daging, duniawi, dan jauh dari Tuhan. Demikianlah ia diterangi oleh buah terang yang bertumbuh, bertunas, dan berbunga di dalam Maria.
Sering kali kaum beriman diterangi dalam sidang-sidang gereja. Malahan tanpa berita apa pun, kita dapat mengalami sorotan terang ini. Sebagai contoh, beberapa pemudi menghadiri sidang dengan berpakaian agak sembarangan atau kurang pantas. Dengan spontan mereka memiliki perasaan bahwa cara mereka berpakaian tidak pantas, sehingga berusaha menutupinya. Kesadaran ini datang dari sorotan terang dalam gereja. Pemudi-pemudi ini takkan memiliki perasaan yang demikian bila mereka duduk di tempat hiburan duniawi. Ini membuktikan bahwa ada terang dalam sidang-sidang gereja. Kita diterangi dalam sidang-sidang karena di sini kita melihat buah, yaitu sorotan terang. Maka, pada kaki pelita kita melihat penunasan, pemekaran bunga, dan sorotan-sorotan terang sebagai buah.
XIII. KAKI PELITA BERIKUT TOMBOL
DAN CABANGNYA TERBUAT DARI
SEPOTONG EMAS TEMPAAN YANG MURNI
Ayat 36, “Tombol dan cabang itu harus timbul dari kandil itu, dan semuanya itu haruslah dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni.” Fakta bahwa kaki pelita dan tombol-tombol serta cabang-cabangnya dibuat dari sepotong emas tempaan yang murni, menandakan bahwa seluruh wujudnya murni dari keilahian Kristus tanpa sesuatu pun yang ditambahkan. Tombol-tombol dan cabang-cabang bukanlah ditambahkan pada kaki pelita, melainkan bagian dari kaki pelita, bagian dari sepotong emas tempaan yang murni. Ini menunjukkan bahwa pada kaki pelita tidak terdapat campuran. Campuran dalam kehidupan kristiani kita selalu mendatangkan kegelapan. Tetapi ketika kehidupan kristiani kita dimurnikan oleh sifat ilahi, kita memiliki terang.
XIV. TUJUH LAMPU
Keluaran 25:37 mengatakan, “Haruslah kaubuat pada kandil itu tujuh lampu.” Ketujuh lampu menandakan ketujuh Roh Allah dan ketujuh mata Anak Domba (Zak 4:2, 10; Wahyu 4:5; 5:6) sebagai ekspresi penuh Allah Tritunggal.
XV. KAKI PELITA SALING MENERANGI
DENGAN LAMPU PADA KEDUA SISINYA
MASING-MASING SEBANYAK TIGA BUAH
Bagian selanjutnya dari ayat 37 mengatakan, “Dan lampu-lampu itu haruslah dipasang di atas kandil itu, sehingga diterangi yang di depannya.” Kaki pelita saling menerangi yang di depannya dengan lampu yang ada pada kedua sisinya masing-masing sebanyak tiga buah. Kedua sisi kaki pelita saling menerangi. Penyinaran ini adalah di depan kaki pelita. Dalam bahasa Ibrani, kata “di depan” di sini memiliki arti “terhadap”. Melalui cabang-cabang pada masing-masing sisi, kaki pelita bersinar terhadap dirinya sendiri. Ketiga lampu pada masing-masing sisi kaki pelita menghadap batang inti dan saling berhadapan juga. Ini menandakan penyorotan Kristus dalam hayat kebangkitan-Nya, memberikan kesaksian dan penegasan pada dirinya sendiri. Terang ilahi yang berpancar di dalam kita memberikan kesaksian dan penegasan atas dirinya sendiri. Dari ketujuh lampu yang ada pada kaki pelita, hanya satu yang bersinar menghadap ke atas. Keenam lampu lainnya bersinar menghadap batang inti. Akhirnya, ketujuh lampu bersinar serempak menjadi satu. Mereka bukan memberikan tujuh terang, melainkan satu terang saja.
XVI. PENYOROTAN KEENAM LAMPU YANG TERDIRI ATAS TIGA PASANG MENJADIKAN
BATANG INTI KAKI PELITA SEBAGAI SASARANNYA
Cahaya dari keenam lampu yang terdiri atas tiga pasang, menjadikan batang inti kaki pelita sebagai sasaran, menandakan Kristus adalah sasaran inti dari cahaya semua gereja, orang beriman, melalui Roh itu bersama dengan hayat kebangkitan. Gereja-gereja dan kaum beriman menjadikan Kristus sebagai sasaran cahaya mereka.
XVII. IMAM MENYALAKAN LAMPU
Telah kita tunjukkan bahwa imamlah yang bertanggung jawab menyalakan lampu. Imam menyalakan lampu menandakan bahwa Kristus atau orang yang dengan Kristus melayani sebagai imam, selalu memelihara kebangkitan agar menyala terus (Why. 1:20; Flp 2:15).
XVIII. SEPIT DAN PENADAH UNTUK
MEMBERSIHKAN DAN MEMOTONG SUMBU YANG HANGUS
Ayat 38 mengatakan, “Sepitnya dan penadahnya haruslah dari emas murni.” Sepit-sepit dan penadah-penadah untuk memotong dan membersihkan sumbu-sumbu yang sudah hangus, menandakan penanggulangan terhadap sifat alamiah yang usang dan hangus, agar sinar hayat kebangkitan cerah dan murni bersih. Dalam pengalaman kita, sepit-sepit tersebut bukan melulu benda-benda dan masalah-masalah, tetapi juga mencakup orang-orang yang memotong. Hayat alamiah kita yang hangus perlu dipotong dan dibersihkan, agar sinar hayat kebangkitan di dalam kita cerah dan murni bersih.
XIX. SEPIT DAN PENADAH TERBUAT DARI EMAS MURNI
Menurut ayat 38, baik sepit maupun penadahnya terbuat dari emas murni. Ini menandakan bahwa pembersihan, pemurnian, seluruhnya harus dari sifat ilahi. Misalkan, seorang saudari bernama Carol menjenguk saudari yang bernama Catherine. Mengetahui bahwa sumbu Catherine ada yang hangus panjang, Carol menjadi tidak tahan dan menegur Catherine. Teguran itu bukannya membersihkan sumbu Catherine yang hangus, malahan membuatnya bertambah panjang; karena pembersihan yang ia lakukan bukan berdasarkan sifat ilahi. Namun, jikalau Carol menggunakan rohnya sambil menengadah kepada pimpinan Tuhan pada saat ia bersekutu dengan Catherine, maka dengan sendirinya dan tanpa disengaja sumbu Catherine yang hangus akan terpotong. Dalam kejadian ini Carol harus hidup sesuai dengan sifat ilahi, dan sifat ilahilah yang melaksanakan pemotongan, pembersihan, dan pemurnian. Inilah makna dari sepit dan penadah yang dibuat dari emas murni.
XX. KAKI PELITA DENGAN PERKAKASNYA
TERBUAT DARI SATU TALENTA EMAS MURNI
Ayat 39 mengatakan, “Dari satu talenta emas murni haruslah dibuat kandil itu dengan segala perkakasnya.” Kaki pelita dengan segala perkakasnya terbuat dari satu talenta emas murni. “Talenta” ialah ukuran paling berat yang digunakan oleh orang-orang Ibrani. Satu talenta hampir sama dengan seratus pon. Satuan berat yang utuh dan sempurna ini menandakan bahwa Kristus sebagai kaki pelita yang memancarkan terang ilahi dalam kebangkitan adalah sempurna dan berbobot.
XXI. DI DALAM TEMPAT KUDUS,
KAKI PELITA BERHADAPAN DENGAN MEJA ROTI SAJIAN,
DAN DEKAT DENGAN TABUT
Kaki pelita berada di dalam tempat kudus, berhadapan dengan meja roti sajian, dan dekat dengan tabut. Pada meja kita memiliki suplai hayat, sedangkan pada kaki pelita kita memiliki sorotan terang hayat. Penempatan kaki pelita terhadap meja dan tabut ini menunjukkan bahwa di dalam gereja, cahaya kebenaran dan suplai hayat harus sesuai dan seimbang satu sama lain dalam menyampaikan Kristus sebagai kesaksian Allah.
XXII. DALAM PEMBUATAN DAN PELETAKAN
PERABOT KEMAH PERTEMUAN,
KAKI PELITA SELALU DISUSUL DENGAN
MEZBAH PEMBAKARAN UKUPAN
Dalam pembuatan dan peletakan perabot Kemah Pertemuan, kaki pelita selalu disusul dengan mezbah pembakaran ukupan (Kel. 37:23-25; 40:24-27). Menurut Keluaran 37, mezbah pembakaran ukupan dibuat setelah kaki pelita. Menurut pasal 40, mezbah pembakaran ukupan diletakkan setelah kaki pelita. Ini menandakan bahwa cahaya Kristus dalam kebangkitan sebagai terang ilahi memimpin kita ke dalam persekutuan dengan Allah di dalam keharuman doa. Pengalaman kita adalah maju dari meja ke kaki pelita, dan dari kaki pelita ke mezbah pembakaran ukupan. Dengan sendirinya, cahaya Kristus sebagai terang ilahi dalam kebangkitan memimpin kita untuk berdoa. Kapan saja kita diterangi oleh Kristus, kita akan dengan sendirinya terbawa ke dalam doa, berkontak dengan Allah.
XXIII. TIGA LAPISAN DENGAN TERANG YANG BERBEDA PADA KEMAH PERTEMUAN
A. TERANG DI PELATARAN LUAR
Pada Kemah Suci terdapat tiga lapisan dengan terang yang berbeda. Pertama, terang alamiah di pelataran luar. Pelataran luar tak punya penutup apa-apa. Terang di sana berasal dari matahari di siang hari dan bulan serta bintang-bintang di malam hari. Karena itu, terang ini terang alamiah. Banyak orang Kristen dewasa ini berada di pelataran luar, maka terang yang mereka miliki bersifat alamiah.
B. DI DALAM TEMPAT KUDUS
Terang di dalam tempat kudus berasal dari terang kaki pelita. Terang ini menandakan cahaya Kristus dalam kebangkitan dan di dalam Roh itu. Terang itu mengesampingkan semua pikiran, konsepsi, dan pandangan manusia. Kita tidak seharusnya melakukan perkara-perkara seturut terang alamiah. Banyak orang Kristen yang masih memandang masalah-masalah berdasarkan filsafat, kebudayaan, latar belakang, pendidikan, dan pandangan alamiah. Kita yang berada di dalam pemulihan Tuhan harus memandang segala perkara secara berbeda. Kita perlu mengalami sorotan dari kaki pelita di dalam tempat kudus. Begitu kita diterangi oleh Kristus, barulah kita dapat menanggalkan pikiran, konsepsi, dan pandangan alamiah kita.
C. TERANG DI DALAM TEMPAT MAHA KUDUS
Terang di dalam tempat maha kudus adalah terang kemuliaan Allah. Jadi, terang di dalam tempat maha kudus adalah terang yang paling dalam. Terang alamiah di pelataran luar adalah terang yang di luar, terang kaki pelita di dalam tempat kudus merupakan terang yang di dalam, dan kemuliaan Allah di dalam tempat maha kudus adalah terang yang paling dalam, yaitu kemuliaan Allah yang ternyata atas Kristus sebagai tutup pendamaian. Jadi, kemuliaan Allah adalah terang kita yang paling dalam.
XXIV. KAKI PELITA MENJADI GEREJA,
MEMIKUL KESAKSIAN YESUS; KETUJUH
LAMPU MENJADI KETUJUH ROH ALLAH,
MENGEKSPRESIKAN ALLAH TRITUNGGAL
Menurut Wahyu 1:20; 4;5; dan 5:6, akhirnya kaki pelita menjadi gereja yang memikul kesaksian Yesus, dan ketujuh lampunya menjadi ketujuh Roh Allah yang mengekspresikan Allah Tritunggal. Satu kaki pelita dalam Keluaran 25 telah direproduksi menjadi tujuh kaki pelita dalam Wahyu 1. Gereja-gereja hari ini adalah kaki pelita kaki pelita yang memikul kesaksian Yesus, dan ketujuh Roh Allah adalah ketujuh lampu yang mengekspresikan Allah Tritunggal. Dalam pemulihan Tuhan, kita harapkan setiap orang beriman hidup memancarkan sinar hayat, dan setiap gereja lokal adalah kaki pelita yang memikul kesaksian Yesus. Kemudian kita memiliki Roh Kristus sebagai ketujuh Roh, yaitu Roh yang telah diperkuat tujuh kali, mengekspresikan Allah Tritunggal di tengah-tengah gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan.