KAKI PELITA (3)
BERTUMBUH, BERCABANG, BERTUNAS,
DAN MEKAR UNTUK MEMANCARKAN TERANG
Pembacaan Alkitab: Kel. 25:31-40; 40:4, 24-25
Ketika kita membahas berbagai lambang yang berhubungan dengan Kemah Suci, kita harus lebih banyak memperhatikan aspek pengalaman daripada aspek doktrin. Dalam buku-buku terbitan sebelum ini telah banyak disinggung tentang perabot Kemah Suci. Buku-buku tersebut kebanyakan berpusat pada doktrin. Membaca penjelasan-penjelasan itu tidaklah banyak membantu terhadap aspek pengalaman. Telah bertahun-tahun saya menyadari bahwa lambang-lambang ini bukan hanya untuk doktrin, lebih-lebih untuk pengalaman kita. Selain itu, pengalaman ini juga bukan pengalaman orang Kristen pada umumnya. Tepatnya, pengalaman ini adalah pengalaman terhadap Kristus.
Judul berita ini ialah “Kaki Pelita Bertumbuh, Bercabang, Bertunas, dan Mekar untuk Memancarkan Terang”. Di sini kita menjumpai enam hal: bertumbuh, bercabang, bertunas, mekar, memancarkan, dan terang. Untuk memancarkan terang, mula-mula kita harus bertumbuh, bercabang, bertunas, dan mekar. Hanya setelah kita mencapai langkah yang terakhir, yaitu mekar, barulah kita bisa memancarkan terang; karena kita telah mekar, maka kita bersinar (memancarkan terang). Kita mekar untuk memancarkan terang. Kemudian terang dengan sendirinya terpancar keluar.
Kaki pelita menggambarkan Kristus. Akan tetapi, Kristus yang digambarkan oleh kaki pelita ini tidak sederhana; Dia adalah Kristus yang almuhit. Bahkan kita boleh mengatakan di dalam arti yang positif, Dia adalah Kristus yang kompleks. Kristus ini digambarkan oleh kaki pelita yang mempunyai satu batang, enam cabang, dan tujuh lampu. Dalam berita yang di depan kita telah menunjukkan bahwa kaki pelita sebenarnya sebuah pohon; karena itu, kaki pelita adalah kaki pelita pohon. Pada pohon emas ini terdapat kelopak-kelopak (tombol-tombol), kuntum-kuntum, dan bunga-bunga. Hanya benda yang organik dan hidup yang dapat bertunas dan mekar. Jadi, ketika kita memperhatikan kaki pelita dengan cabang-cabang, kelopak-kelopak, kuntum-kuntum, dan bunga-bunganya, kita akan memiliki satu kesan yang tegas bahwa kaki pelita emas ini adalah sebatang pohon.
Ayat 35 ditulis dengan cara yang tidak lazim: “Juga harus ada satu tombol di bawah sepasang cabang yang pertama, yang timbul dari kandil itu, dan satu tombol di bawah yang kedua, dan satu tombol di bawah yang ketiga; demikianlah juga kaubuat keenam cabang yang timbul dari kandil (kaki pelita) itu.” Pengulangan dalam ayat ini yang berkaitan dengan tombol-tombol dan cabang-cabang menyatakan pertumbuhan. Jadi, batang inti kaki pelita adalah sesuatu yang hidup dan bertumbuh. Sebagaimana batangnya bertumbuh, demikian pula cabang-cabangnya. Yang pertama, dua cabang bertumbuh dari bagian bawah batang. Kemudian sebagaimana batangnya bertumbuh terus, dua pasang cabang lainnya bertumbuh, masing-masing pada bagian tengah, dan bagian atas. Selanjutnya, tombol-tombol, kuntum-kuntum, dan bunga-bunga muncul pada semua cabang. Ada penunasan, ada pemekaran, untuk menghasilkan bunga-bunga. Kuntum menumbuhkan daun-daun bunga, dan daun-daun bunga merupakan bagian dari bunga. Pertama ada pertumbuhan, kemudian ada penunasan, dan terakhir ada pemekaran. Pemekaran ini menghasilkan pemancaran terang. Karena alasan inilah, dalam berita ini kita membicarakan bertumbuh, bercabang, bertunas, dan mekar untuk memancarkan terang. Bercabang tersirat di dalam pertumbuhan. Pemancaran terang berasal dari empat langkah, yaitu bertumbuh, bercabang, bertunas, dan mekar.
Pada kaki pelita seluruhnya terdapat dua puluh lima tombol atau kelopak. Tiga tombol di bawah pasangan-pasangan cabang, yaitu satu tombol pada tiap pasang cabang; tiga tombol pada tiap cabang yang semuanya enam; dan empat tombol di bagian atas batang. Seluruhnya berjumlah dua puluh lima. Bilangan dua puluh lima terdiri dari lima kali lima. Dalam Alkitab, lima merupakan angka tanggung jawab. Ini dapat digambarkan dengan tangan kita berikut empat jari dan satu ibu jarinya. Angka lima dalam Alkitab bukan terdiri dari dua ditambah tiga, melainkan dari empat ditambah satu. Angka empat mengacu kepada makhluk ciptaan, dan angka satu mengacu kepada Allah Pencipta. Lagi pula, fakta bahwa lima merupakan angka tanggung jawab terlihat pada pemisahan sepuluh anak dara ke dalam dua kelompok yang terdiri dari lima yang bijaksana dan lima yang bodoh, serta pemisahan sepuluh perintah Allah ke dalam dua kelompok, masing-masing lima terukir pada dua buah batu loh. Dua puluh lima tombol berarti lima kali angka tanggung jawab.
Meski tombolnya sebanyak dua puluh lima, namun bunganya hanya dua puluh dua buah, dikarenakan tiga tombol yang menyangga tiga pasang cabang tidak memiliki bunga. Dua puluh lima tombol menunjukkan pertanggungan jawab, dan dua puluh dua bunga untuk pemekaran dan penyorotan memperlihatkan bahwa terhadap kaki pelita, masalah tanggung jawab atas pertumbuhan lebih penting daripada masalah penunasan, pemekaran, dan penyorotan terang. Berarti pertumbuhan itulah dasarnya. Ini menyatakan bahwa kita memerlukan pertumbuhan yang lebih banyak, bahkan yang berlipat ganda dua puluh lima kali.
I. KRISTUS SEBAGAI HAYAT KEBANGKITAN, BERTUMBUH, BERCABANG, BERTUNAS,
DAN MEKAR UNTUK MEMANCARKAN TERANG
Sebagai lambang Kristus, kaki pelita menggambarkan Kristus sebagai hayat kebangkitan yang bertumbuh, bercabang, bertunas, dan mekar untuk memancarkan terang. Kita telah melihat bahwa kaki pelita adalah “wujud konkret” yang bertumbuh. Berhubung kaki pelita melambangkan Kristus, maka kaki pelita menunjukkan bahwa Kristus ialah Dia yang bertumbuh. Ingatlah, kaki pelita bukan hanya terdiri atas satu cabang dan satu lampu. Sebaliknya, ketika batang inti bertumbuh, ia pun menumbuhkan tiga pasang cabang. Selain itu, semua cabang bertumbuh dan terdapat tombol-tombol, kuntum-kuntum, dan bunga-bunga. Pada saat batang kaki pelita mulai bertumbuh, ia menumbuhkan pasangan cabang yang pertama. Kemudian ketika bertumbuh terus, tumbuhlah pasangan yang kedua, dan akhirnya tumbuhlah pasangan yang ketiga. Terakhir, batang sendiri bertumbuh sampai pada ukuran sepenuhnya. Semua ini menyatakan Kristus terus bertumbuh.
Kristus terlebih dulu bertumbuh di dalam diri-Nya sendiri, kemudian bertumbuh di dalam kita yang adalah cabangnya. Kelihatannya cabanglah yang bertumbuh. Padahal, kaki pelitalah yang bertumbuh melalui dan di dalam cabang-cabang itu. Ini menunjukkan pertumbuhan Kristus di dalam kita. Kita tidak bertumbuh Kristuslah yang bertumbuh di dalam kita. Sebagai batang inti, Kristus bertumbuh di dalam diri-Nya, oleh (melalui) diri-Nya, dan dengan diri-Nya. Namun di dalam keenam cabang, Ia bertumbuh di dalam kita, oleh kita, dan dengan kita.
Perihal Kristus yang bertumbuh di dalam diri-Nya maupun di dalam kita ini bukan sekadar doktrin, melainkan visi yang berlaku terhadap kita dalam pengalaman kita bersama Tuhan. Kita telah menunjukkan bahwa pada kaki pelita terdapat enam cabang. Manusia diciptakan pada hari keenam; jadi, enam merupakan angka manusia. Angka ini bukan terdiri dari dua ditambah empat; melainkan tiga ditambah tiga. Angka tiga dalam Alkitab menyatakan Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Walaupun sebagai yang diciptakan pada hari keenam kita adalah angka enam, namun kita memiliki Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Artinya kita adalah manusia ciptaan yang kini berada di dalam Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Inilah makna dari angka enam yang terdiri dari tiga ditambah tiga.
Sebagai batang, Kristus bertumbuh di dalam diri-Nya dan dengan diri-Nya; namun Ia pun bertumbuh di dalam kita sebagai keenam cabang. Itulah alasannya kita mengatakan bahwa kaki pelita bukan menggambarkan Kristus yang sederhana, melainkan Kristus yang kompleks, yaitu Kristus yang almuhit.
Kaki pelita juga menyiratkan dua hal lain sumbu dan minyak. Jika kaki pelita tidak bersumbu dan tidak diisi minyak, mustahillah ia menyala dan memancarkan terang. Sumbu dibuat dari bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, itu menandakan keinsanian. Minyak menandakan Roh itu, yang mewakili keilahian. Saat keinsanian dinyalakan dalam keilahian, terbitlah pancaran terang. Tetapi, bila sumbu kita terlalu panjang, yang dihasilkan adalah asap bukannya terang. Bila sumbu terlalu banyak dan minyak terlalu sedikit, asap akan menggantikan terang.
Keluaran 25 tidak menyebutkan sumbu atau minyak. Namun jika kita memperhatikan gambar kaki pelita yang ditampilkan dalam pasal ini, kita akan menyadari bahwa baik sumbu maupun minyak tersirat di dalamnya. Mana mungkin kaki pelita bercahaya tanpa sumbu dan minyak? Dengan demikian sudahlah tersirat sumbu dan minyak. Lagi pula, sumbu harus memiliki ukuran panjang yang tepat, yang sepadan dengan kaki pelita, dan harus diisi minyak yang cukup. Kemudian, sumbu dan minyak akan bekerja sama untuk menimbulkan pembakaran, pembakaran menimbulkan pancaran, dan pancaran memberikan terang. Akan tetapi pembakaran dan pancaran ini berasal dari pertumbuhan, pencabangan, penunasan, dan pemekaran.
II. BERCAHAYA DI DALAM TEMPAT KUDUS
Kaki pelita bercahaya di dalam tempat kudus; yaitu bercahaya di dalam gereja. Orang-orang Kristen hari ini membantah kita dan bertanya, “Mengapa kalian mengatakan bahwa kalian adalah gereja? Bukankah kami juga gereja seperti kalian?” Kita tidak perlu berdebat siapa yang gereja. Jika mereka benar gereja, tentulah mereka gereja. Namun bila mereka bukan gereja, tentulah bukan gereja. Sebagai contoh, saya ini manusia. Fakta ini tidak perlu menghiraukan apa kata orang lain. Fakta bahwa saya ini manusia tak perlu repot-repot dipasangkan iklan. Sama halnya, jika kita ini gereja, tak perlulah memperdebatkan fakta ini. Asal kita ini gereja, tentu pancaran kaki pelita akan ada di tengah-tengah kita.
Pada berita yang terdahulu telah kita tunjukkan bahwa terang yang ada di pelataran luar, di tempat kudus, dan di tempat maha kudus, adalah tiga terang yang berbeda. Di pelataran luar ada terang alamiah, yaitu terang matahari, bulan, dan bintang-bintang. Berhubung pelataran luar letaknya di tempat terbuka, maka ada terang semacam ini. Tetapi tempat kudus dan tempat maha kudus tertutup sama sekali. Keadaan tertutup itu tidak memungkinkan sinar matahari, bulan, dan bintang-bintang menembusnya ke dalam. Tanpa terang khusus disediakan dalam tempat kudus, pastilah akan gelap seperti ruang bawah tanah. Akan tetapi, tempat kudus ternyata penuh dengan terang, karena ruang ini diterangi oleh cahaya kaki pelita dengan ketujuh lampunya.
Setiap kali seorang imam dari pelataran luar memasuki tempat kudus, ia akan melihat pancaran lampu-lampu pada kaki pelita. Pancaran kaki pelita membuktikan bahwa tempat ini benar-benar tempat kudus. Tanpa pancaran kaki pelita, tempat itu akan segelap ruang bawah tanah. Namun pancaran kaki pelita membuktikan bahwa inilah tempat kudus. Prinsip ini sama dengan gereja hari ini. Dari mana kita dapat membedakan yang mana gereja dan yang mana bukan? Kita dapat menentukan ini dengan membedakan terang kaki pelita ataukah kegelapan yang ada di dalam sidang (perhimpunan). Sekelompok orang beriman merupakan gereja atau bukan, tergantung pada ada atau tidaknya pancaran kaki pelita di tengah-tengah mereka.
Sebelum kita memasuki hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, banyak di antara kita yang menghadiri perhimpunan atau kebaktian Kristen yang lain. Namun kita tidak menjumpai pancaran kaki pelita, kecuali setelah kita memasuki hidup gereja yang sejati. Dalam perhimpunan gereja kita menjumpai sesuatu yang memancarkan terang. Saya dapat bersaksi bahwa saya mulanya berhimpun dalam golongan Kristen fundamental, kemudian beralih pada kebaktian-kebaktian Kaum Saudara. Dalam denominasi terdapat kegelapan, sedangkan dalam perhimpunan Kaum Saudara hanya terdapat sedikit terang. Tetapi, ketika saya datang ke gereja dalam pemulihan Tuhan, saya tak hanya di dalam terang, bahkan dipenuhi terang. Bukan terang alamiah, bukan terang matahari, bulan, dan bintang-bintang; melainkan terang kaki pelita.
Mazmur 73:16-17 mengatakan, “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.” Pemazmur ini diresahkan, dibingungkan oleh suatu situasi yang khusus. Jikalau itu ia pikirkan, hatinya merasa menderita. Memikirkan masalah itu, membuatnya tak tahan. Namun ketika ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, ia beroleh pengertian. Berarti ia telah diterangi oleh terang yang di dalam tempat kudus Allah. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita telah terbentur kesulitan dan dipusingkan oleh perkara-perkara tertentu. Tetapi ketika kita menghadiri pertemuan gereja, kita lalu diterangi, dan perkara-perkara itu menjadi jelas bagi kita.
Banyaknya terang dalam perhimpunan-perhimpunan kita tergantung pada banyaknya pertumbuhan Kristus yang kita miliki. Semakin banyak pertumbuhan Kristus, semakin banyak pula terang. Seandainya kaki pelita di dalam tempat kudus tidak bertumbuh sepenuhnya atau bertumbuh tidak seimbang, kaki pelita akan tetap memancarkan sinar, namun tidak cukup atau kurang wajar. Kalau kaki pelita tidak berkesempatan bertumbuh sepenuhnya, terang di dalam tempat kudus juga tidak bisa penuh. Inilah sebabnya kadang-kadang kita merasa terang dalam pertemuan gereja tertentu kurang cemerlang. Ya, memang ada terang, tetapi tidak penuh atau lengkap. Berapa banyaknya terang di dalam gereja, tergantung sejauh mana pertumbuhan Kristus di dalam dan melalui kita. Asalkan kita semua membiarkan Tuhan bertumbuh dengan leluasa di dalam kita hari demi hari, niscayalah setiap kali kita datang bersidang, akan timbul pemancaran terang yang cukup. Bila ada pertumbuhan Kristus yang penuh di dalam kita, barulah akan ada pemancaran terang yang penuh.
Sangatlah penting bagi cabang-cabang ini untuk memberi kebebasan agar kaki pelita dapat bertumbuh di dalam mereka dan melalui mereka. Semakin bertumbuhnya kaki pelita di dalam cabang-cabang, maka ia akan semakin mekar dan semakin terang. Kemudian ketika kita datang ke dalam perhimpunan-perhimpunan gereja, terangnya akan semakin bertambah. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita telah diterangi di dalam perhimpunan gereja. Hal-hal tertentu yang berkenaan dengan kita, yang tertutup dan tersembunyi, akan tersingkap oleh terang. Terang ini berasal dari Kristus yang bukan hanya bertumbuh di dalam dirinya sebagai batang inti, melainkan juga bertumbuh di dalam kita yang merupakan cabang-cabang kaki pelita.
III. MENGARAHKAN KITA UNTUK MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI SUPLAI HAYAT KITA
Pancaran terang kaki pelita mengarahkan kita untuk menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita. Begitu kita masuk ke dalam tempat kudus, terang segera menyinari kita. Karena kita tidak di dalam kegelapan, kita tahu apa yang ada di dalam tempat kudus, dan kita pun mendapat pengarahan. Terang mengarahkan kita kepada meja yang di atasnya ada roti di hadirat Allah bagi suplai hayat kita. Itulah sebabnya di dalam perhimpunan-perhimpunan gereja, tatkala kita berada di bawah pancaran terang, kita menerima suplai hayat.
Hanya para imamlah yang diperkenankan memasuki tempat kudus. Makanan bergizi yang tersedia di atas meja hanya untuk mereka. Setelah mereka dirawat di meja, mereka lalu pergi ke kaki pelita sambil menunaikan tugas mereka dalam membenahi sumbu yang hangus dan menuangkan minyak yang baru. Sewaktu kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita di atas meja, serta memperoleh perawatan-Nya, kita pun datang kepada terang dan memotong, membersihkan sumbu yang lama dan hangus. Berdasarkan pengalaman, kita tahu bahwa dalam hidup gereja, terang selalu menyoroti kita dan menggiring kita kepada perawatan Kristus. Setelah kita dirawat dengan makanan bergizi oleh-Nya, kita lalu memotong dan merapikan sumbu. Bukan memotong sumbu orang lain, melainkan memotong sumbu kita sendiri. Ketika kita hanya memiliki terang alamiah, terang yang di pelataran luar, kita akan mudah mengkritik orang lain. Namun ketika kita masuk ke dalam tempat kudus, menerima perawatan dan penerangan, kita akan memotong sumbu kita sendiri. Kita tidak akan mengkritik orang lain, melainkan akan memotong sumbu kita sendiri. Saya bisa bersaksi bahwa sering kali setelah menikmati Kristus sebagai rawatan gizi saya, saya lalu memotong sumbu saya sendiri.
IV. SUPLAI HAYAT MENJADI
TERANG HAYAT TERHADAP KITA
Hasil dari pemotongan ialah pancaran terang yang lebih cemerlang. Dalam pengalaman, ini berarti suplai hayat yang diterima pada meja menjadi terang hayat terhadap kita. Semakin banyak hayat yang kita nikmati, semakin banyak pula terang yang terpancar.
V. MEMBIMBING KITA MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI BAU HARUM
KEBANGKITAN DI DALAM DOA YANG BERSEKUTU DENGAN ALLAH
Cahaya kaki pelita tidak hanya membimbing kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, tetapi juga membimbing kita menikmati Kristus sebagai bau harum kebangkitan di dalam doa yang bersekutu dengan Allah. Terlebih dulu kita menikmati Kristus sebagai makanan bergizi kita yang di atas meja, kemudian kita menikmati Dia sebagai bau harum kebangkitan di mezbah pembakaran ukupan. Hayat kebangkitan adalah bau harum yang dipersembahkan kepada Allah di dalam doa.
Apa yang sulit dipahami dari segi doktrinal, dapat dipahami di dalam terang pengalaman rohani. Selama kita berada di pelataran luar, kita akan bersifat alamiah, pikiran dan konsepsi kita bersifat alamiah, berhubung terang di pelataran luar adalah yang alamiah. Namun setelah kita masuk ke dalam tempat kudus, kita tidak lagi bersifat alamiah, karena kita telah berada di ambang pintu roh. Di dalam tempat kudus, Kristus sebagai suplai hayat kita menanggulangi hayat alamiah kita dan memotongnya. Memotong sumbu ialah memenggal hayat alamiah kita yang usang. Dengan demikian terang menyala dengan lebih cemerlang dan kita diantar menuju hayat kebangkitan di mezbah pembakaran ukupan. Jadi, kita tidak hanya menikmati Kristus di atas meja, melainkan juga di mezbah pembakaran ukupan dengan hayat kebangkitan sebagai bau-bauan yang harum yang dipersembahkan kepada Allah. Bila kita telah mencapai titik ini, kita sulit memastikan apakah kita ini di tempat kudus, ataukah di tempat maha kudus. Alkitab tidak menerangkan dengan pasti letak atau kedudukan mezbah kurban bakaran. Dari pembacaan Alkitab kita tidak dapat memastikan mezbah kurban bakaran itu di dalam atau di luar tirai. Kadang-kadang seolah di tempat kudus, namun adakalanya seolah di tempat maha kudus. Ini menunjukkan fakta bahwa dalam pengalaman, mungkin kita mutlak di dalam roh, atau kadang-kadang berada pada ambang pintu yaitu perbatasan roh.
VI. MEMBIMBING KITA KE DALAM TEMPAT MAHA KUDUS
AGAR KITA MENIKMATI KRISTUS SEBAGAI KESAKSIAN ALLAH
DENGAN TAKHTA ANUGERAH
Terang dari kaki pelita juga membimbing kita ke dalam tempat maha kudus agar kita menikmati Kristus sebagai kesaksian Allah dengan takhta anugerah. Takhta anugerah (Ibr. 4:16) adalah tutup pendamaian di atas tabut. Tabut adalah kesaksian Allah, dan tutup pendamaian adalah takhta Allah. Baik tabut secara keseluruhan maupun tutup pendamaian secara khusus, adalah Kristus.
Dalam tempat maha kudus, kita menikmati Kristus sampai pada puncaknya. Setelah kita menikmati Dia sebagai suplai hayat di atas meja dan sebagai hayat kebangkitan di mezbah pembakaran ukupan, kita menikmati Dia sebagai kesaksian Allah dan sebagai takhta anugerah di dalam tempat maha kudus. Inilah pengalaman yang terdalam dan tertinggi terhadap Kristus. Jika kita menikmati Kristus sebagai kesaksian Allah dan sebagai takhta anugerah di mana Allah bertemu dengan kita, kita akan bersekutu dengan Allah, dan Allah bisa menginfus kita dengan diri-Nya sendiri.
VII. PANCARAN TERANG MENJADI
KEMULIAAN PENYERTAAN ILAHI UNTUK
PERSEKUTUAN YANG PALING AKRAB ANTARA KITA DENGAN ALLAH
Setelah kita mengalami Kristus di dalam tempat maha kudus serta menikmati Dia sampai pada puncaknya, kita tidak lagi memerlukan penerangan cahaya kaki pelita. Pancaran terang kini menjadilah kemuliaan penyertaan ilahi untuk persekutuan yang paling akrab antara kita dengan Allah. Kemuliaan penyertaan ilahi di dalam tempat maha kudus berpadanan dengan terang dari kaki pelita di dalam tempat kudus. Ini berarti terang dari kaki pelita dan kemuliaan penyertaan ilahi merupakan kata-kata sinonim yang kedua-duanya ditujukan kepada Allah sendiri.
Meskipun terang dan kemuliaan adalah Allah sendiri, namun di antaranya masih terdapat perbedaan. Pada kaki pelita, Allah memancarkan cahaya, sedangkan pada takhta anugerah, Allah tertampil. Tertampilnya Allah berbeda dengan bersinarnya Allah. Tertampilnya Allah selalu di dalam kemuliaan. Di dalam sidang kita sering merasakan Allah bersinar sehingga sidang tersebut panuh dengan terang; tetapi, ada kemungkinan dalam suatu pertemuan kemuliaan Allah tidak banyak. Namun demikian, adakalanya kita merasakan bukan hanya terang menyorot, bahkan juga kemuliaan tertampilkan.
Perbedaan antara terang dan kemuliaan boleh digambarkan dengan perbedaan antara listrik dengan kilat. Melalui listrik terang akan terpancar. Tetapi, pancaran ini bukan penampilan listrik. Penampilan listrik adalah kilat. Bisa saja kita duduk dengan tenang di bawah sorotan lampu yang dibangkitkan oleh listrik, namun bila kilat muncul, kita akan ketakutan.
Karena tertampilnya kemuliaan penyertaan Allah itu menggentarkan, menakutkan, maka kita memerlukan darah penebusan dipercikkan di atas tutup pendamaian, yaitu takhta anugerah. Tanpa percikan darah penebusan Kristus, tidak seorang pun sanggup bertahan terhadap tampilnya kemuliaan penyertaan Allah. Kapan saja kemuliaan Allah tertampak pada kita, segera terasa perlu akan darah. Pengalaman ini, dan juga pengalaman lainnya yang digambarkan dalam berita ini, dihasilkan oleh Kristus sebagai kaki pelita yang bercahaya melalui kita, dengan kita, dan di dalam kita dalam hidup gereja.