← Daftar isi Keluaran (6) · bab 16/17

PENUTUP KEMAH SUCI (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 26:1-14; 36:8-13

I. RANGKAPAN PERTAMA PENUTUP TABERNAKEL

Keluaran 26:1 dan 6 menyinggung tentang Kemah Suci (Tabernakel). Ayat 1a, “Kemah Suci itu haruslah kaubuat dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain biru, kain ungu, dan kain kirmizi” (Tl). Bagian belakang ayat 6 mengatakan, “. . . Kemah Suci . . ., sehingga menjadi satu.” Dalam berita ini kita akan mulai memperhatikan keempat lapisan penutup Kemah Suci. Lapisan pertama, yaitu lapisan yang paling dalam, terbuat dari sepuluh tenda lenan halus yang dipintal benangnya.

Sebagian besar penerjemah menggunakan kata “Kemah Suci” dalam 26:1 dan 6. Akan tetapi, ada beberapa versi yang menggunakan kata “Kemah”. Sebenarnya, Kemah Suci adalah sebuah kemah. Kemah adalah tempat tinggal yang sementara, mudah dipindah-pindah, terutama digunakan untuk berkemah. Menurut catatan Alkitab, Kemah Suci atau kemah Allah, tidak berlantai, sebab kemah itu dibuat agar mudah diangkat, hanya dipasang di atas tanah. Selama empat puluh tahun, bani Israel berkemah di padang gurun, dan Allah pun berkemah bersama-sama mereka. Kemah-kemah milik umat Allah didirikan di sekeliling Kemah Suci. Pada pasal-pasal pertama Kitab Bilangan kita melihat bahwa kedua belas suku Israel berkemah di empat penjuru yang mengitari Kemah Suci. Jadi, di padang gurun, Allah dan umat-Nya tinggal di dalam kemah-kemah.

Dari Keluaran 26:1 kita tahu bahwa sepuluh tenda digunakan membuat kemah Allah, yaitu Kemah Suci. Ayat 2 memberikan ukuran-ukuran tenda-tenda itu: “Panjang tiap-tiap tenda haruslah dua puluh delapan hasta dan lebar tiap-tiap tenda empat hasta: segala tenda itu harus sama ukurannya.” Kesepuluh tenda dibagi dua rangkapan, masing-masing terdiri dari lima tanda. Dalam ayat 4 “rangkapan pertama” ditujukan kepada lima tenda yang pertama, sedangkan “rangkapan kedua” ditujukan lima tenda yang kedua. Ayat 4 mengatakan, “Pada rangkapan yang pertama, di tepi satu tenda yang di ujung, haruslah engkau membuat sosok-sosok kain biru dan demikian juga di tepi satu tenda yang paling ujung pada rangkapan yang kedua (Tl.).” Tenda yang di ujung pada masing-masing set ditujukan tepian dari tenda terakhir pada rangkapan tersebut. Ayat 5 dan 6 memperlihatkan bagaimana kedua rangkapan tenda terjalin: “Lima puluh sosok harus kaubuat pada tenda yang satu dan lima puluh sosok pada tenda yang di ujung pada rangkapan yang kedua, sehingga sosok-sosok itu tepat berhadapan satu sama lain. Dan haruslah engkau membuat lima puluh kaitan emas dan menyambung tenda-tenda Kemah Suci yang satu dengan yang lain dengan memakai kaitan itu, sehingga menjadi satu.” Bila kedua rangkapan disatukan, terbentuk lembaran besar yang berukuran empat puluh hasta kali dua puluh delapan hasta. Bila Kemah Suci didirikan, lembaran dari tenda-tenda lenan ini membentanglah di atas papan-papan yang tegak. Kemudian lembaran lenan menjadilah sebuah kemah.

Kemah Suci sendiri berukuran panjang tiga puluh hasta, lebar sepuluh hasta, dan tinggi sepuluh hasta. Kita telah melihat bahwa lembaran lenan berukuran empat puluh hasta kali dua puluh delapan hasta. Ini menunjukkan adanya serambi di bagian belakang dan samping Kemah Suci. (Di depan Kemah Suci tidak ada serambi, sebab bagian itu merupakan pintu masuk Kemah Suci). Karena itu, di bagian belakang Kemah Suci terdapat serambi yang berukuran sepuluh hasta, dan pada masing-masing sisi terdapat serambi yang berukuran sembilan hasta. Dalam Alkitab, angka sembilan bukan terdiri dari empat ditambah lima, melainkan tiga kali tiga. Ini ditujukan kepada Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Bila kita membayangkan lembaran lenan dibentangkan di atas papan-papan yang tegak, pasti tertampak sebuah kemah dengan serambi pada bagian samping dan belakang.

A. MELAMBANGKAN KEINSANIAN KRISTUS

Lapisan pertama dari penutup, yaitu kesepuluh tenda dari kain lenan halus, melambangkan keinsanian Kristus yang halus. Boleh juga dikatakan melambangkan Kristus sebagai manusia yang halus dan sempurna.

B. SEPULUH TENDA

Angka sepuluh dalam Alkitab menandakan kelengkapan dan kesempurnaan manusia, yaitu kesempurnaan yang lengkap. Sepuluh jari tangan kita menyatakan kelengkapan dan kesempurnaan manusia ini. Jika tangan kita yang satu berjari empat, dan yang satunya berjari lima, itu bukan kelengkapan, melainkan cacat. Lagi pula, Allah memberi manusia Sepuluh Perintah. Perintah-perintah ini diberikan bagi kelengkapan dan kesempurnaan manusia. Alangkah bermakna bahwa Allah tidak memberikan sembilan atau sebelas perintah, melainkan Sepuluh Perintah untuk menandakan kesempurnaan manusia.

Selain itu, angka sepuluh terdiri dari lima kali dua. Lima merupakan angka pertanggungjawaban, dan dua merupakan angka kesaksian. Jadi, lima kali dua melambangkan dua kali tanggung jawab terhadap satu kesaksian. Sebagaimana telah kita tunjukkan, angka lima terdiri dari empat ditambah satu. Angka empat mengacu kepada makhluk ciptaan, sedang angka satu mengacu kepada Allah satu-satunya Sang pencipta. Jadi, Allah ditambah manusia sama dengan lima, yaitu angka pertanggungjawaban. Sepuluh tenda melambangkan Kristus sebagai manusia yang sempurna dan lengkap. Pada-Nya tidak ada cacat ataupun cela. Sebagaimana yang dilambangkan oleh sepuluh tenda, Kristus adalah manusia yang sempurna dan lengkap.

Kita telah melihat bahwa atas Kemah Suci terdapat kelebihan tenda pada masing-masing sisinya. Tentu saja, kelebihan ini seimbang; yaitu sama pada masing-masing sisinya. Kelebihan yang seimbang ini dapat diilustrasikan dengan tubuh kita yang terbagi dua demi dua. Kita memiliki dua mata, dua telinga, dua bahu, dua lengan, dua tangan, dan dua kaki. Dalam setiap tindakan kita, baik melihat, mendengar, duduk, berdiri, maupun berjalan, pasti memerlukan keduanya. Sebagai contoh, jika kaki kita hanya satu, kita takkan dapat berjalan dengan baik. Kita tak dapat berjalan selangkah demi selangkah, melainkan melompat-lompat dengan kaki yang satu itu. Sama halnya jika telinga kita hanya satu, niscaya pendengaran kita akan sulit. Sebagai manusia yang sempurna dan lengkap, Kristus memiliki keluapan yang seimbang, yaitu keluapan yang sama pada masing-masing sisinya.

Telah kita tunjukkan bahwa kain lenan yang terbentang lebih pada masing-masing sisi berukuran sembilan hasta. Kita pun telah melihat bahwa angka sembilan menandakan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Tuhan Yesus adalah manusia yang sejati, namun keluapan-Nya adalah Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Lagi pula, keluapan ini bukannya tidak seimbang atau pincang; sebaliknya, seimbang dalam segalanya.

Kita harus ingat bahwa kesepuluh tenda lenan menan-dakan keinsanian Kristus, dan keluapannya menandakan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Ini memperlihatkan bahwa dalam keinsanian-Nya, Kristus mengekspresikan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Keempat kitab Injil mencatat bahwa selama hidup-Nya di bumi, Tuhan Yesus adalah manusia yang sempurna dan lengkap dengan keluapan yang seimbang. Bahkan keluapan-Nya juga mewahyukan bahwa Ia adalah manusia, namun mengekspresikan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Sebagai manusia, Tuhan adalah angka sepuluh, tetapi keluapan-Nya adalah angka sembilan ini. Ini berarti Ia adalah manusia yang meluap dengan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan.

C. LENAN HALUS

Sepuluh tenda itu terbuat dari lenan halus. Menurut Wahyu 19:8, lenan halus menandakan perbuatan yang benar. Keluaran 26:1 mengatakan bahwa lenan ini tidak hanya halus, tetapi juga dipintal. Halus menandakan kelembutan, dan dipintal menunjukkan bahwa lenan ini sedikit pun tidak kendur. Perilaku Kristus tidak pernah kasar; sebaliknya selalu halus dan lembut. Berbeda dengan perilaku kita yang sering kasar, buruk, dan keras. Perilaku Kristus juga terpintal; itu berarti, tidak pernah kendur. Namun, perilaku kita sering kendur, belum ditanggulangi secara wajar agar menjadi terpintal.

Semakin memperhatikan persona Kristus yang diwahyukan dalam keempat kitab Injil, yaitu persona yang halus dan sempurna dalam segala hal, semakinlah kita menyadari bahwa kitab-kitab Injil benar-benar ditulis berdasarkan ilham ilahi. Akan tetapi, orang-orang yang tidak percaya mem-bantah bahwa persona seperti yang dijelaskan dalam kitab-kitab Injil itu tidak mungkin ada. Dalam menanggapi serangan ini, seorang filsuf Perancis pernah mengatakan bahwa seandainya kitab-kitab Injil tidak benar dan tidak dapat dipercaya, yaitu seandainya kitab-kitab itu tidak mengisahkan persona yang benar-benar ada, maka penulis kitab-kitab itu sendiri bisa memenuhi syarat sebagai persona ini. Pikiran manusia tidaklah mampu mengarang tulisan-tulisan seperti kitab-kitab Injil, karena dalam tulisan-tulisan ini kita melihat gambar seorang manusia yang halus, sempurna, dan lengkap. Pikiran manusia tidak pernah mampu membayangkan persona yang sedemikian ini. Selain itu, pikiran manusia tidak memiliki hikmat untuk mengarang kitab-kitab Injil.

Kitab-kitab Injil mewahyukan bahwa Tuhan Yesus sangat halus serta melakukan segala sesuatu dengan penuh arti. Dia tidak pernah kehilangan keseimbangan, sebaliknya selalu terkendali dan terbatasi. Tidak mungkin didapati perbuatan yang kasar pada diri-Nya. Tidak ada seorang pun yang bisa dibandingkan dengan Tuhan Yesus di dalam kehalusan-Nya. Paulus sangat baik, namun adakalanya ia bersikap kasar. Seperti dalam 1Korintus 4:21 ia berkata, “Apa yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan lemah lembut?” Ungkapan Paulus di sini agak kasar. Saya sangsi apakah Tuhan Yesus pernah mengatakan kata-kata sedemikian. Perkataan para rasul halus, tetapi kadang-kadang juga ada kasarnya. Hanya perkataan Tuhan Yesus yang selalu halus. Apabila Anda membandingkan perkataan Tuhan yang tercantum dalam kitab-kitab Injil dengan perkataan Paulus yang tercantum dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kirimannya, Anda akan menemukan bahwa Tuhan Yesus selalu kelihatan halus, sedangkan Paulus, pada saat-saat tertentu, kelihatan agak kasar.

D. BIRU

Keluaran 26:1 menyebutkan warna biru, ungu, dan kirmizi (Tl.). Biru menandakan sifat dan penampilan yang surgawi. Seperti yang diwahyukan dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus dalam keinsanian dan kehidupan insani-Nya sepenuhnya surgawi. Ia bukan menempuh hidup sebagai manusia duniawi, melainkan sebagai manusia surgawi, baik dalam sifat maupun penampilan. Karena alasan inilah, Ia dapat mengatakan bahwa Ia turun dari surga, dan Ia adalah roti surgawi, yakni roti hayat (Yoh. 6:32, 35).

E. UNGU

Ungu adalah warna rajani. Warna ini menyatakan kedudukan dan perilaku rajani. Meskipun Tuhan Yesus itu orang Nazaret, tetapi Dia berperilaku sebagai seorang raja. Injil Matius melukiskan Tuhan Yesus sebagai Orang yang bertindak dan bersikap seperti seorang raja.

F. KIRMIZI

Kirmizi ialah warna merah tua. Warna ini menandakan dosa, juga menandakan darah yang teralir bagi penebusan. Yesaya 1:18 menyebut dosa-dosa manusia seperti kirmizi. Ini memperlihatkan bahwa kirmizi menandakan dosa. Akan tetapi, yang digambarkan oleh Injil Lukas, kirmizi juga melambangkan darah yang teralir untuk menebus orang-orang yang berdosa. Jadi, kirmizi pada rangkapan (bagian) pertama penutup Kemah Suci menandakan penumpahan darah Yesus untuk penebusan.

G. KERUB BUATAN AHLI SULAM

Ayat 1 juga mengatakan, “Kerubnya, buatan ahli tenun.” Kerub menandakan kemuliaan Allah yang terekspresi di dalam Yesus, seperti yang dinyatakan oleh Injil Markus. Kerub menyatakan kemuliaan Allah yang terekspresi di dalam makhluk ciptaan. Fakta tidak diberitahunya berapa banyak kerub yang disulam pada tenda lenan halus tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan Allah yang terekspresi di dalam makhluk ciptaan-Nya tidak dapat diukur. Fakta bahwa ukuran kerub pada tutup pendamaian tabut tidak diberitahukan, juga menunjukkan bahwa kemuliaan Allah tidaklah terukur. Kita tidak diberi tahu ukuran kerub yang terdapat pada tabut, dan jumlah kerub yang terdapat pada tenda, ini menyatakan bahwa ekspresi kemuliaan Allah tidak terukur.

Dari Kitab Yehezkiel kita ketahui bahwa kerub merupakan makhluk yang darinya kita melihat kemuliaan Allah. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi ini, Ia adalah manusia, satu makhluk ciptaan yang mengekspresikan kemuliaan ilahi. Alkitab mewahyukan bahwa Kristus adalah Sang pencipta juga ciptaan. Menurut Kolose 1:15, Kristus adalah Yang sulung di antara ciptaan. Sebagai manusia sejati, Tuhan Yesus memiliki tubuh yang terdiri dari darah, daging, dan tulang. Bukankah semua ini merupakan unsur-unsur makhluk ciptaan? Karena itu, dalam keinsanian-Nya Kristus adalah makhluk ciptaan, namun dalam diri-Nya, kemuliaan Allah terekspresikan. Inilah makna dari kerub yang disulam pada tenda-tenda lenan.

Dalam Injil Markus kita melihat Tuhan Yesus adalah seorang hamba (budak). Namun pada diri hamba ini kemuliaan Allah ternyatakan. Alangkah ajaibnya bahwa keempat kitab Injil mencakup aspek-aspek keinsanian Kristus seperti yang dilambangkan oleh warna-warna biru, ungu, kirmizi, dan oleh kerub!

Kerub pada tenda-tenda lenan merupakan buatan seorang ahli tenun atau ahli sulam. Ahli tenun (sulam) di sini ditujukan kepada orang yang pandai dalam seni sulam. Buatan seorang penyulam menandakan pekerjaan penyusunan oleh Roh Kudus di dalam Tuhan Yesus. Jadi, Roh Kuduslah yang dimaksud dengan ahli sulam di sini. Hari ini Roh Kudus terus melakukan pekerjaan penyulaman atas diri kita. Ia menggunakan banyak “jarum”, yang besar maupun yang kecil, untuk merampungkan pekerjaan ini.

H. UKURANNYA

Ayat 2 menyebutkan tenda-tenda itu berukuran panjang dua puluh delapan hasta, dan lebar empat hasta. Angka dua puluh delapan terdiri dari empat kali tujuh, dengan empat sebagai angka ciptaan dan tujuh sebagai angka kesempurnaan. Jadi, panjang masing-masing tenda juga menandakan arti kesempurnaan Tuhan Yesus sebagai manusia.

Telah kita tunjukkan bahwa angka empat menandakan makhluk ciptaan. Karena ada sepuluh tenda, masing-masing lebarnya empat hasta, maka di sini juga terdapat angka empat puluh. Angka empat puluh dalam Alkitab merupakan angka pengujian atau pencobaan. Ini menyatakan bahwa sebagai manusia, Tuhan Yesus telah diuji. Setelah kelengkapan dan kesempurnaan-Nya telah melewati pengujian, maka Ia adalah manusia yang telah dibuktikan dan diakui oleh Allah maupun oleh manusia.

I. DUA RANGKAPAN MASING-MASING

TERDIRI ATAS LIMA TENDA

Ayat 3 mengatakan, “Lima dari tenda itu haruslah dirangkap menjadi satu, dan yang lima lagi juga harus dirangkap menjadi satu.” Jadi, ada dua rangkapan masing-masing terdiri atas lima tenda. Angka lima adalah angka tanggung jawab. Lima tenda dirangkap menjadi satu menandakan hayat yang berkesinambungan. Rangkapan-rangkapan ini menandakan tanggung jawab yang timbul dalam hayat yang berkesinambungan. Tiap rangkapan bukan terdiri dari satu tenda, melainkan lima tenda yang bersambungan satu dengan yang lain. Ini menggambarkan bahwa hayat Tuhan Yesus yang diwahyukan dalam keempat kitab Injil adalah hayat yang berkesinambungan. Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, semuanya mengakui bahwa di dalam hayat Tuhan tidak terdapat celah. Dua rangkapan yang masing-masing terdiri dari lima tenda juga menunjukkan kesaksian atas hayat yang berkesinambungan, yang memberikan kesaksian bahwa Tuhan Yesus adalah manusia yang lengkap dan sempurna.

J. SOSOK-SOSOK BIRU

Ayat 4 dan 5 memberi tahu kita bahwa tepian tenda yang paling luar pada tiap rangkapan terdapat lima puluh sosok-sosok biru. Sosok menandakan kesediaan untuk disambung, dan warna biru menunjukkan surgawi. Fakta bahwa sosok-sosok ini terletak di tepian tenda yang paling luar pada rangkapan, menunjukkan bahwa itu adalah hasil dari hayat yang bertanggung jawab untuk suatu kesaksian.

Sosok-sosok ini boleh diterapkan pada pengalaman rohani kita. Sebagai contoh, saudara tertentu mungkin memiliki sifat berani dan stabil. Tetapi, boleh jadi ini merupakan celah di antara sifat-sifat tersebut, yang menyebabkan sulitnya dihubungkan. Namun pada Tuhan Yesus, keberanian berkaitan dengan kerendahan hati, kerendahan hati berkaitan dengan kesabaran, dan kesabaran berkaitan dengan kemurahan. Semua sifat Tuhan Yesus ini saling berkaitan; tidak ada celah di antara sifat-sifat tersebut. Namun, berhubung adanya celah di antara sifat-sifat kita, kita sulit terjalin dengan orang lain. Jika keberanian dan kestabilan seorang saudara tidak saling berkaitan, sukarlah baginya untuk terjalin dengan orang lain.

Pada ujung-ujung tenda masing-masing rangkapan terdapat lima puluh sosok. Lima puluh terdiri atas sepuluh kali lima, ini menyatakan pertanggungjawaban yang lengkap. Sepuluh adalah angka kelengkapan manusia, sedangkan lima adalah angka pertanggungjawaban. Lima puluh yang terdiri atas sepuluh kali lima berarti pertanggungjawaban yang lengkap. Lagi pula, pada masing-masing rangkapan tenda terdapat lima puluh sosok, maka jumlah seluruhnya adalah seratus, menyatakan kesaksian penuh dari pertanggungjawaban yang lengkap. Ini mewahyukan bahwa hayat Yesus telah memenuhi tuntutan Sepuluh Perintah Allah sepuluh kali lipat.

Menurut ayat 5, sosok-sosok pada masing-masing rangkapan terletak berhadapan satu sama lain. Ini menandakan konfirmasi (penegasan) atas kesaksian. Dalam keinsanian Tuhan Yesus terdapat banyak penegasan. Semua sifat-Nya kemurahan-Nya, kebenaran-Nya, kesabaran-Nya telah ditegaskan. Penegasan ini untuk kesaksian.

K. LIMA PULUH KAITAN

Keluaran 26:6, “Dan haruslah engkau membuat lima puluh kaitan emas dan menyambung tenda-tenda Kemah Suci yang satu dengan yang lain dengan memakai kaitan itu, sehingga menjadi satu.” Kaitan-kaitan emas menandakan kekuatan pengait pada sifat ilahi. Angka lima puluh di sini menandakan pertanggungjawaban yang penuh. Disambungnya tenda yang satu dengan yang lain membuat Kemah Suci menjadi satu, menandakan membuat kesaksian menjadi satu. Kekuatan penyambung atau pengait pada keinsanian Yesus berasal dari sifat ilahi-Nya. Begitu pula dalam hidup gereja hari ini, kita hanya mempunyai kekuatan penyambung di dalam sifat ilahi; menurut hayat insani, kita tidak memiliki kekuatan penyambung. Keempat Injil dalam Alkitab mewahyukan bahwa semua budi pekerti Tuhan Yesus membentuk satu kesaksian. Inilah makna dari disambungnya tenda-tenda yang membuat Kemah Suci menjadi satu. Sebagai hasil dari penyambungan ini timbullah satu kesaksian yang sempurna, lengkap, dan utuh.

Di dalam terang semua butir yang dibahas dalam berita ini, saya ingin menyampaikan sepatah kata tentang keperluan kita untuk mengenal Tuhan Yesus di dalam keinsanian-Nya. Banyak di antara kita yang sejak muda telah mendengar tentang Tuhan Yesus. Tetapi jangan karena kita sudah terbiasa mendengar kisah Alkitab mengenai Kristus, lalu menyangka sudah memiliki pengenalan yang tepat dan cukup terhadap Dia. Bila Anda meneliti semua perkara yang dinyatakan dalam Keluaran 26:1-6, Anda akan menyadari bahwa sebenarnya Anda hanya memiliki sedikit pengenalan terhadap Tuhan Yesus. Dalam ayat-ayat ini kita melihat gambar yang jelas tentang keinsanian Tuhan yang lengkap dan sempurna. Karena banyak aspek keinsanian Kristus yang tidak tertulis, maka kita memerlukan gambar yang disuguhkan oleh ayat-ayat ini. Kita perlu melihat gambar keinsanian Tuhan yang dilukiskan oleh penutup Kemah Suci lapisan yang pertama. Meskipun kita tidak memiliki kalimat yang memerinci keinsanian Kristus, namun kita bisa memperoleh beberapa pengertian tentang itu dengan mendoakan ayat-ayat ini. Semakin kita merenungkan makna rincian di sini, kita akan semakin menyadari, alangkah mengagumkan persona Tuhan dalam keinsanian-Nya. Kita melihat-Nya di dalam lenan halus yang dipintal, dalam warna biru, ungu, dan kirmizi, dalam kerub, dan dalam semua sosok serta kaitan. Kita semua perlu mengenal Tuhan Yesus dalam rincian yang sedemikian ini.

Bila kita memperhatikan bagian yang pertama dari penutup Kemah Suci, kita akan menemukan bahwa tenda-tenda yang dikaitkan menjadi satu bukan saja merupakan penutup, melainkan juga penutup yang melindungi. Penutup ini melindungi segala sesuatu yang di bawahnya. Kemah Suci bukan sekadar tempat kediaman, tetapi juga sebuah wadah yang menampung tabut, meja, kaki pelita, mezbah pembakar ukupan, dan pula semua papan tegak. Karena kita ini dilambangkan oleh papan-papan tegak, dan papan-papan tegak ini ditudungi oleh tenda-tenda, maka kita dapat mengatakan bahwa rangkapan (bagian) pertama dari penutup berfungsi menutupi dan melindungi kita. Tutup ini pun mengitari kita. Maka keinsanian Tuhan Yesus menutupi kita, melindungi kita, dan mengitari kita. Hari demi hari saya berada di bawah penutupan kemah Allah serta dilindungi olehnya. Tambahan pula, saya dikelilingi oleh penutup ini, bahkan tercakup di dalamnya. Di bawah penutupan, perlindungan, dan pengitaran Tuhan Yesus, saya menikmati Kristus sebagai tabut, meja berikut roti sajian, dan kaki pelita.

Kita takkan memperoleh pengenalan yang memadai tentang Kristus hanya dengan membaca kitab-kitab Injil dan Surat-surat Kiriman dalam Perjanjian Baru. Kita juga memerlukan lambang-lambang, gambar-gambar dalam Perjanjian Lama, khususnya yang ada hubungannya dengan Kemah Suci. Saya harap kiranya semua orang beriman menghargai butir-butir yang indah pada keinsanian Tuhan yang dinyatakan oleh lambang-lambang ini. Ketika kita memasuki Kemah Suci, kita melihat bahwa langit-langit, yaitu penutup yang pertama, merupakan ekspresi batiniah Tuhan Yesus dalam keinsanian-Nya. Kain lenan, warna biru, ungu, kirmizi, dan kerub, sosok-sosok, kaitan-kaitan, semuanya merupakan bagian-bagian dari ekspresi ini. Mereka yang tidak masuk ke dalam Kristus, tidak mungkin melihat Dia dalam keindahan dan kemuliaan seperti ini. Dalam berita yang selanjutnya kita akan melihat bahwa secara lahir Kristus memiliki penampilan kulit ikan lumba-lumba yang kasar, yaitu yang tahan terhadap segala badai dan cuaca. Namun bila kita melihat Kristus dari dalam, kita tahu bahwa Ia itu surgawi, rajani, penebus, dan mulia. Puji Tuhan atas gambar Kristus dalam rangkapan penutup yang pertama pada Kemah Suci!