PENUTUP KEMAH SUCI (2)
Pembacan Alkitab: Kel. 26:7-14; 36:14-19; 40:19
Dalam berita terdahulu kita telah membahas rangkapan (bagian) yang pertama dari penutup Kemah Suci. Sebagaimana telah kita tunjukkan, justru rangkapan (bagian) itulah yang disebut Kemah Suci. Keluaran 26:1 mengungkapkan tentang pembuatan Kemah Suci dengan sepuluh tenda lenan halus. Dalam berita ini, kita akan melihat bagian-bagian yang kedua, ketiga, dan keempat. Ayat 7 dan 8 mengatakan, “Juga haruslah engkau membuat tenda-tenda dari bulu kambing menjadi atap kemah yang menudungi Kemah Suci, sebelas tenda harus kau buat. Panjang tiap-tiap tenda harus tiga puluh hasta dan lebar tiap-tiap tenda empat hasta: yang sebelas tenda itu harus sama ukurannya.” Dalam berita yang lalu telah kita perlihatkan bahwa Kemah Suci adalah sebuah kemah. Kini dari ayat 7 terbaca bahwa bagian kedua dari penutup Kemah Suci adalah sebuah kemah di atas Kemah Suci. Jadi, bagian kedua merupakan kemah yang menutupi bagian pertama, yaitu Kemah Suci. Kemah Suci ini terbuat dari sepuluh tenda, masing-masing berukuran dua puluh delapan kali empat hasta. Bagian kedua terbuat dari sebelas tenda, masing-masing berukuran tiga puluh kali empat hasta. Bagian pertama disebut Kemah Suci, sedangkan bagian kedua disebut kemah.
Sangatlah berarti bahwa pada bagian pertama terdapat sepuluh tenda, sedangkan pada bagian kedua terdapat sebelas tenda. Dalam Alkitab, sepuluh merupakan angka kelengkapan dan kesempurnaan manusia, dan dua belas adalah angka kesempurnaan dalam administrasi ilahi. Lagi pula, sepuluh terdiri dari dua kali lima. Contohnya, sepuluh anak dara dalam Matius 25 terbagi atas dua kelompok, masing-masing lima, dan juga Sepuluh Perintah Allah ditulis pada dua loh batu masing-masing lima perintah. Sebagaimana telah kita lihat, angka lima terdiri atas empat yang menandakan ciptaan, ditambah satu yang menandakan Allah Sang pencipta. Angka sebelas berada di tengah-tengah sepuluh dan dua belas. Ini melebihi kelengkapan manusia, tetapi kurang dari kesempurnaan administrasi ilahi. Jadi, angka sebelas dalam Alkitab mengacu kepada perkara dosa. Di satu aspek, ia mengacu kepada sesuatu yang melebihi kelengkapan manusia; di aspek lainnya, ia mengacu kepada sesuatu yang kurang dari kesempurnaan dalam administrasi ilahi. Karena itu, angka ini mengacu kepada kedosaan.
Sepuluh tenda yang membentuk bagian pertama mengacu kepada Tuhan Yesus sebagai manusia yang lengkap dan sempurna. Di situlah angka sepuluh yang sejati, karena pada-Nya tidak terdapat cacat, cela, kekurangan, maupun kelebihan. Ia pun memiliki warna biru, ungu, dan kirmizi, yang menandakan kesurgawian, kerajaan, dan penebusan. Selain itu, kerub emas yang disulam pada tenda-tenda lenan halus menandakan Kristus sebagai Pencipta yang atas-Nya kemuliaan Allah diekspresikan. Jadi, kesepuluh tenda dari bagian pertama mewahyukan bahwa Kristus adalah manusia yang sempurna, lengkap, dan indah seluruhnya.
Bagian kedua dari penutup menandakan aspek Kristus yang sangat berlainan. Pada bagian ini tidak ada sesuatu yang biru, ungu, kirmizi, juga tidak ada sulaman. Sebagai gantinya malah ada sebelas tenda bulu kambing. Segala sesuatunya biasa saja, alamiah, dan tanpa kecantikan. Angka tenda bukan sepuluh, melainkan sebelas, yaitu sesuatu yang lebih dari kesempurnaan manusia, namun di bawah kesempurnaan pemerintahan Allah. Sebelas tenda bulu kambing menandakan Kristus dibuat menjadi dosa karena kita. Selama tiga jam terakhir ketika Ia terpentang di atas salib, yakni dari tengah hari hingga jam tiga siang, Ia telah dihukum sebagai orang dosa di depan mata Allah. Saat itulah Ia berseru nyaring, “Eli, Eli, lema sabakhtani?” (Mat. 27:46). Pada jam-jam itu, Ia ditinggalkan Allah, karena Allah memandang-Nya sebagai orang dosa, yaitu Dia yang dibuat menjadi dosa karena kita (2Kor. 5:21). Demikianlah Tuhan Yesus yang sempurna dan lengkap telah menjadi orang dosa di bawah hukuman Allah. Ia yang benar dihakimi oleh Allah bagi yang tidak benar.
Lenan halus dalam Alkitab menandakan perilaku yang tepat pada manusia yang murni dan sempurna. Namun, kambing-kambing menandakan orang-orang yang jahat, yang dijatuhi hukuman oleh Allah (Mat. 25:33, 41). Jadi, kambing-kambing menandakan orang-orang dosa, dan bulu-bulu kambing menandakan kepada dosa-dosa, perbuatan yang jahat dari orang berdosa. Jadi bagian kedua dari penutup terdiri atas orang-orang berdosa berikut dosa-dosa mereka.
Setelah melihat jumlah tenda pada dua bagian yang pertama, kini kita beralih kepada ukuran tenda-tenda itu. Tiap-tiap tenda pada bagian pertama berukuran lebar empat hasta. Sepuluh tenda kali empat hasta mendapatkan angka empat puluh. Dalam Alkitab, empat puluh bisa merupakan angka positif. Mungkin penggunaan yang paling mengesankan atas angka ini adalah mengenai Musa yang tinggal bersama Allah di Gunung Sinai selama empat puluh hari. Kita telah melihat bahwa angka empat puluh berarti pengujian dan pencobaan. Empat puluh hari Musa di atas gunung merupakan ujian terhadap dirinya maupun umat Israel. Meski selama itu Musa telah diperkenan Allah, namun orang-orang Israel justru tersingkap keadaannya. Selain itu, mereka telah diuji selama empat puluh tahun saat mengembara di padang gurun. Tuhan Yesus pun pernah menempuh empat puluh hari di padang gurun, yang menyatakan bahwa Ia telah diuji dan dicobai, dan akhirnya diperkenan. Menurut keempat kitab Injil, Tuhan diuji dan dicobai sepanjang hidup-Nya. Pada akhir hayat-Nya, Ia telah diuji menurut hukum Allah dan hukum Kerajaan Roma. Tiga kali Ia diuji dan dicobai oleh penguasa Yahudi menurut hukum Allah, serta tiga kali Ia diuji dan dicobai oleh pejabat Kekaisaran Romawi menurut hukum Romawi. Jadi, pada malam terakhir hidup-Nya, Ia telah diuji dan dicobai sebanyak enam kali, namun tidak ada satu pun kesalahan yang dapat ditemukan pada diri-Nya. Ia telah diperkenankan sepenuhnya. Jadi, Ia adalah angka empat puluh yang sempurna. Bila dikaitkan dengan Tuhan Yesus, angka ini sangat positif.
Bila sepuluh tenda pada bagian pertama disambungkan, terbentuklah persegi empat yang berukuran empat puluh kali dua puluh delapan hasta. Dari empat puluh hasta ini, yang dua puluh hasta menutupi tempat kudus, yang sepuluh hasta menutupi tempat maha kudus, sedang yang sepuluh hasta lagi berjuntai menaungi bagian belakang Kemah Suci. Selain itu, sebagaimana telah kita singgung dalam berita terdahulu, pada kedua sisi Kemah Suci terdapat serambi yang berukuran sembilan hasta. Sembilan, terdiri dari tiga kali tiga, menandakan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Kristus, Yang sempurna, memiliki keluapan pada masing-masing sisinya, dan keluapan ini ialah Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Ketika kita memperhatikan Tuhan Yesus yang diwahyukan dalam kitab-kitab Injil, kita akan melihat bahwa Ia benar-benar orang yang sedemikian. Ia adalah manusia yang sempurna yang terus-menerus meluapkan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan.
Tiap tenda pada bagian kedua berukuran tiga puluh hasta kali empat hasta. Bila semua tenda digabung, terbentuklah persegi panjang yang berukuran empat puluh empat hasta kali tiga puluh hasta. Bagian kedua ini menutup seluruh bagian pertama dan melindunginya. Lenan halus tidak dapat dipakai untuk melindungi sesuatu, sedangkan bulu kambing dapat digunakan sebagai pelindung. Menurut ayat 9, tenda keenam dilipat dua, di sebelah depan kemah; agar berguna bagi perlindungan dan penguatan. Bagian berjuntai pada bagian belakang menutupi seluruh rangkapan yang pertama. Lagi pula, pada penutup bagian kedua terdapat bagian berjuntai pada kedua sisinya yang masing-masing berukuran sepuluh hasta. Berhubung bagian pertama memiliki bagian berjuntai yang hanya berukuran sembilan hasta, maka bagian pertama tertutup oleh bagian yang kedua. Ini berarti tidak ada satu pun bagian dari tenda lenan yang terbuka terhadap matahari, angin, atau hujan.
Angka tiga puluh dalam Alkitab bisa terjadi karena dua cara, yakni lima kali enam, dan tiga kali sepuluh. Lima merupakan angka tanggung jawab, dan enam merupakan angka orang berdosa. Jadi, tiga puluh terdiri dari lima kali enam menandakan pertanggungjawaban terhadap orang berdosa. Ketika Tuhan Yesus dijadikan dosa karena kita, Ia memikul semua tanggung jawab bagi kita yang adalah orang-orang berdosa. Namun bila angka tiga puluh terdiri dari tiga kali sepuluh, itu menandakan hayat kebangkitan di dalam kelengkapan manusia. Sebagai Yang dijadikan dosa karena kita, Tuhan Yesus penuh dengan hayat kebangkitan di dalam kelengkapan insani-Nya. Dalam kelengkapan insani-Nya (yang ditunjukkan oleh angka sepuluh), kita melihat kebangkitan yang sebenarnya adalah Allah Tritunggal sendiri, yang ditunjukkan oleh angka tiga. Dengan Tuhan Yesus sebagai Yang dijadikan dosa karena kita, kita memiliki angka tiga puluh dan empat puluh empat. Empat puluh empat adalah panjang dari bagian kedua ketika semua tenda digandeng. Angka ini menandakan Kristus dihakimi sebagai orang berdosa.
Kita perlu terkesan dengan apa yang digambarkan oleh kedua bagian (rangkapan) pertama pada penutup ini. Bagian pertama menandakan Tuhan Yesus di dalam diri-Nya adalah mulia dan ajaib. Bagian kedua menandakan Sang Ajaib ini dibuat menjadi dosa karena kita. Di dalam apa adanya Dia, Kristus itu ajaib, namun sebagai pengganti kita, Ia menjadi dosa dalam pandangan Allah. Telah kita tunjukkan bahwa bagian kedua melindungi bagian pertama. Karena itu kita melihat bahwa Kristus melindungi kita dengan jalan menjadi pengganti kita, dihakimi karena kita, dan mati bagi kita. Karena itu, penggantian Kristus menjadilah perlindungan kita.
Angka pada masing-masing bagian sangatlah bermakna. Allah itu perancang terbaik, dan semua angka Dialah yang menentukan. Jadi, sangatlah bermakna bahwa ukuran-ukuran bagian pertama yang terdiri dari sepuluh tenda adalah empat puluh kali dua puluh delapan, dan bagian kedua yang terdiri dari sebelas tenda adalah empat puluh empat kali tiga puluh. Bukanlah secara kebetulan bahwa bagian pertama terbuat dari lenan halus, dan bagian kedua terbuat dari bulu kambing. Pendek kata, kedua bagian ini menandakan bahwa manusia yang sempurna, yaitu Tuhan Yesus, telah dijadikan dosa dalam mata Allah bagi penebusan kita. Kini, sebagai pengganti kita, Dia adalah penudung dan pelindung kita. Dalam berita yang akan datang, kita akan melihat bahwa di kedua bagian penudung ini, terdapat papan-papan penegak yang menandakan kita selaku kaum beriman. Kita adalah papan-papan penegak yang di bawah penudungan dan perlindungan Yesus Kristus, manusia yang sempurna, yang telah dibuat menjadi dosa karena kita. Tanpa memiliki lambang ini, kita tidak dapat mengenal Tuhan Yesus serinci ini. Kita tidak dapat melihat sejelas ini, betapa Dia adalah manusia yang sempurna, menjadi pengganti kita, mati di kayu salib karena dosa-dosa kita, dan dihakimi oleh Allah karena kita.
Hal-hal rinci tentang dua bagian penutup ini lenan halus, bulu kambing, dan semua angka berhubungan dengan Kristus. Misalnya, kita telah melihat bahwa enam merupakan angka orang berdosa. Ini mengacu kepada tindakan yang melampaui batas. Tentu saja kebencian dan pencurian adalah perbuatan-perbuatan yang melampaui batas. Jadi, angka enam adalah angka kedosaan. Berdasarkan Perjanjian Baru, angka Antikristus, yaitu anak kebinasaan, adalah angka enam ratus enam puluh enam. Ini menyatakan bahwa ia sepenuhnya terdiri dari dosa. Sebaliknya, Tuhan Yesus adalah delapan ratus delapan puluh delapan, karena Ia adalah Persona yang terdiri atas kebangkitan. Ia dibangkitkan pada hari kedelapan. Hari pertama dari minggu yang baru. Tanpa kita menerima pemahaman yang rinci atas penutup-penutup, bagaimana kita akan memahami itu semua? Cara yang tepat untuk memahaminya ialah menjelaskannya sebagai lambang Kristus.
Banyak orang Kristen mengikuti ajaran yang mengatakan bahwa kita tidak boleh memandang barang apa pun yang di dalam Perjanjian Lama sebagai lambang, kecuali hal itu dengan tegas dinyatakan sebagai lambang dalam Perjanjian Baru. Menurut pandangan ini, kita hanya boleh menerima sebagai lambang barang-barang yang oleh Perjanjian Baru dinyatakan jelas-jelas sebagai lambang. Contoh, berhubung Yohanes 1:29 membicarakan Kristus sebagai Anak Domba Allah, barulah kita boleh memandang domba dalam Keluaran 12 sebagai lambang Kristus. Tetapi, ketika Paulus menafsirkan lambang Kemah Suci pada Ibrani 9, ia memberi tahu kita bahwa masih banyak yang akan diungkapkan, namun waktu tidak mengizinkan. Ini menunjukkan bahwa hal-hal yang belum sempat Paulus singgung sebagai lambang, mungkin saja juga adalah lambang. Maka banyak orang, perkara, dan benda dalam Perjanjian Lama yang juga merupakan lambang yang sejati, walaupun tidak dinyatakan demikian dalam Perjanjian Baru. Yusuf misalnya, banyak orang Kristen mengakui bahwa Yusuf merupakan lambang Kristus. Padahal Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa Yusuf merupakan lambang Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen mengabaikan lambang-lambang penting dalam Perjanjian Lama, karena mempertahankan pandangan bahwa hanya apa yang dinyatakan sebagai lambang oleh Perjanjian Baru, baru boleh dianggap sebagai lambang.
Banyak pembaca Alkitab yang memandang Kemah Suci sebagai lambang gereja. Tetapi, di manakah dalam Perjanjian Baru yang pernah secara langsung mengatakan bahwa Kemah Suci melambangkan gereja? Walaupun hal ini tidak diungkapkan secara langsung, namun petunjuknya dapat kita temukan. Jika kita memandang bahwa Kemah Suci melambangkan gereja, lalu bagaimana mungkin memahami kedua bagian (rangkapan) yang pertama dari Kemah Suci? Tentu saja pemahaman terhadap kedua bagian ini serta penafsirannya sebagai lambang Kristus itu harus secara tepat.
Perjanjian Lama ialah sebuah kitab lukisan, sedangkan Perjanjian Baru kitab penafsiran (penjelasan). Pada prinsipnya, apa yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru berkaitan dengan apa yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Baru tidak perlu selalu menegaskan bahwa hal tertentu dalam Perjanjian Lama itu adalah sebuah lambang. Cukup dan tepatlah bagi kita untuk menemukan di dalam Perjanjian Baru makna semua aspek lambang-lambang dari Perjanjian Lama. Semua hal yang berhubungan dengan Kemah Suci harus dipahami sesuai prinsip Perjanjian Baru. Dengan memahami Perjanjian Lama berdasarkan Perjanjian Baru, kita akan melihat gambar yang rinci tentang Kristus maupun gereja.
Saya dapat bersaksi bahwa setelah saya mengetahui lebih rinci tentang Tuhan melalui mempelajari lambang-lambang dalam Perjanjian Lama, saya menjadi lebih mengasihi Tuhan. Bahkan, pengertian tentang Alkitab ini makin menebalkan keyakinan saya bahwa Alkitab benar-benar diilhamkan oleh Allah. Selain Allah, mustahil ada orang yang dapat merancang struktur kemah yang sehebat Kemah Suci, serta memberi cantuman tentangnya seperti ini.
II. BAGIAN KEDUA DARI PENUTUP KEMAH SUCI
A. MENANDAKAN KRISTUS DIJADIKAN DOSA KARENA KITA
Kita telah melihat bahwa bagian kedua dari penutup Kemah Suci, yakni kemah bulu kambing, menandakan Kristus dijadikan dosa karena kita (2Kor. 5:21).
B. BULU KAMBING
— PERBUATAN DOSA ORANG BERDOSA
Menurut Matius 25:33 dan 41, kambing menandakan orang berdosa. Bulu kambing menandakan perbuatan dosa orang-orang berdosa.
C. SEBELAS TENDA
Telah kita tunjukkan bahwa sebelas lebih banyak daripada sepuluh, angka kelengkapan insani, dan kurang dari dua belas, angka kesempurnaan dalam pemerintahan ilahi. Kita pun telah melihat bahwa sebelas terdiri dari lima di tambah enam, dengan lima sebagai angka pertanggungjawaban dan enam mengacu kepada kelebihan. Enam tenda yang melewati batas menandakan Kristus dibuat menjadi dosa karena kita. Walaupun Ia sendiri tidak berlebihan, namun Ia menanggung dosa-dosa kita. Ia dibuat menjadi dosa untuk menanggung dosa-dosa kita. Itulah kelebihan Kristus.
D. UKURANNYA
Panjang tiap-tiap tenda bulu kambing ialah tiga puluh hasta. Di satu aspek, tiga puluh terdiri dari lima kali enam, berarti pertanggungjawaban bagi orang-orang dosa. Di aspek lain, tiga puluh terdiri dari tiga kali sepuluh, berarti Allah Tritunggal sebagai hayat kebangkitan di dalam kelengkapan insani.
Tiap tenda lebarnya empat hasta. Angka empat menunjukkan makhluk ciptaan. Sebelas tenda, lebar masing-masing empat hasta, memberikan jumlah angka sebesar empat puluh empat. Ini menunjukkan Kristus dicobai sebagai orang dosa; Ia dicobai sebagai manusia melampaui batas.
E. DUA RANGKAPAN TENDA
Keluaran 26:9, “Lima dari tenda itu haruslah kausambung dengan tersendiri, dan enam dari tenda itu tersendiri.” Rangkapan pertama yang terdiri dari lima tenda menandakan pertanggungjawaban, sedangkan rangkapan yang kedua yang terdiri dari enam tenda menandakan orang berdosa. Karena Kristus memikul tanggung jawab atas orang berdosa, Ia menjadilah angka sebelas.
F. LIMA PULUH SOSOK
Ayat 10, “Haruslah engkau membuat lima puluh sosok pada rangkapan yang pertama di tepi satu tenda yang di ujung dan lima puluh sosok di tepi satu tenda pada rangkapan yang kedua.” Kelima puluh sosok ini sama dengan sosok-sosok pada penutup lapisan pertama, kecuali warnanya, bukan biru. Sebagai manusia yang sempurna, Kristus bersifat surgawi. Namun ketika Ia menjadi dosa karena kita, Ia bukanlah surgawi. Itulah alasannya sosok-sosok pada lapisan kedua bukan biru.
G. LIMA PULUH KAITAN
Keluaran 26:11, “Haruslah engkau membuat lima pu-luh kaitan tembaga dan memasukkan kaitan itu ke dalam sosok-sosok dan menyambung tenda-tenda kemah itu, supaya menjadi satu.” Kaitan-kaitan ini menandakan kekuatan pemersatu. Tembaga atau perunggu, menandakan penghakiman Allah (Kel. 27:2; Bil. 16:39; 21:8-9). Mezbah kurban bakaran dibuat dari tembaga. Orang dosa dan semua kejahatannya dihakimi pada mezbah ini. Mezbah tembaga milik dua ratus lima puluh pemberontak dipakai sebagai bagian mezbah ini. Ini menguatkan pemikiran bahwa tembaga menandakan penghakiman ilahi, dan mezbah merupakan tempat penghakiman. Di atas mezbah, kurban dihakimi untuk menggantikan orang yang mempersembahkannya. Selain itu, ular tembaga di atas tiang juga menandakan penghakiman; melambangkan Kristus yang dihakimi oleh Allah karena kita. Sebagai tanda penghakiman, kaitan-kaitan pada lapisan kedua terbuat dari tembaga, sedangkan kaitankaitan pada lapisan pertama terbuat dari emas.
Ayat 11 mengatakan bahwa kaitan-kaitan menyambung tenda menjadi satu. Ini menandakan di bawah penghakiman Allah, Kristus tetap merupakan potongan yang utuh. Seandainya kita yang dihakimi, pastilah akan tercabik-cabik. Tetapi, penghakiman Allah yang adil, menjaga keutuhan Kristus yang dihakimi dan dicobai sebagai Persona yang lengkap. Dengan kata lain, setelah dihakimi oleh Allah sesuai dengan hukum-Nya yang adil, Tuhan Yesus tetap masih utuh. Akhirnya, angka lima puluh menandakan pertanggungjawaban yang penuh, yaitu tanggung jawab menyatukan kemah dan memeliharanya di bawah penghakiman Allah. Sebenarnya, semakin Tuhan Yesus diuji dan dihakimi, semakin nyata bahwa Ia adalah persona yang utuh.
H. MELIPAT DUA TENDA KEENAM DI SEBELAH DEPAN
KEMAH, DAN MENJUNTAIKAN SETENGAH BAGIAN
TENDA DI SEBELAH BELAKANG KEMAH
Ayat 9 mengatakan, “Dan tenda yang keenam haruslah kaulipat dua, di sebelah depan kemah itu.” Dan ayat 12 mengatakan, “Mengenai bagian yang berjuntai itu, yang berlebih pada tenda kemah itu, haruslah setengah dari tenda yang berlebih itu berjuntai di sebelah belakang Kemah Suci.” Ini menunjukkan bahwa setelah Kristus menjadi dosa dan dihakimi oleh Allah karena kita, Ia menjadi penutup dan pelindung kaum beriman yang adalah unsur penyusun dari tempat kediaman Allah.
I. SEHASTA BERJUNTAI MENUDUNGI
TIAP-TIAP SISI KEMAH LENAN HALUS
Ayat 13 mengatakan, “Sehasta di sebelah sini dan sehasta di sebelah sana pada bagian yang berlebih pada panjang tenda-tenda kemah itu haruslah berjuntai pada sisi-sisi Kemah Suci, di sebelah sini dan di sebelah sana untuk menudunginya.” Sehasta berjuntai menudungi tiap-tiap sisi Kemah Suci lenan halus menandakan Kristus Sang penebus menjadi pelindung Kemah Suci pada kedua sisinya, yaitu utara dan selatan, di bawah situasi apa pun. Utara menyiratkan penderitaan, sedangkan selatan menyiratkan kenyamanan. Jadi, di bawah situasi yang mana pun, baik susah maupun senang, Kristus Sang penebus adalah penudung kita. Tak peduli apa pun situasinya, Kristus adalah pelindung kita.
III. LAPISAN KETIGA PADA PENUTUP
— TUDUNG DARI KULIT DOMBA
Ayat 14 mengatakan, “Juga haruslah engkau membuat untuk kemah itu tudung dari kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan tudung dari kulit lumba-lumba di atasnya lagi.” Domba jantan menandakan Kristus sebagai manusia yang kuat. Tudung kulit domba diwarnai merah menandakan kematian Kristus dan pengaliran darah-Nya. Sebelum menjadi kulit domba jantan pada lapisan ketiga, domba-domba ini harus dimatikan lebih dulu. Lebih jauh, kulitnya diwarnai merah, ini menandakan pengaliran darah bagi penebusan.
Meski lapisan pertama pada penudung berwarna kirmizi, tetapi lapisan pertama maupun kedua tidaklah diwarnai merah. Namun, lapisan ketiga seluruhnya merah. Ini menunjukkan karena manusia yang sempurna, Yesus Kristus, telah dijadikan dosa karena kita, maka penebusan sudahlah genap. Jadi, lapisan pertama menandakan manusia yang sempurna, yakni Yesus; lapisan kedua menandakan Kristus sebagai pengganti kita; dan lapisan ketiga menandakan penebusan. Manusia yang sempurna, Yesus, adalah pengganti kita yang menanggung dosa-dosa kita, inilah yang memungkinkan penebusan digenapkan. Kini, penebusan Kristus menudungi umat pilihan dan tebusan Allah. Puji Tuhan, hari ini kita berada di bawah kulit domba yang diwarnai merah! Kita ditudungi oleh penebusan Kristus yang penuh dan lengkap. Kristus sendiri itulah penebusan kita; Dia itulah penudung dari kulit domba.
Tenda bulu kambing lebih kuat daripada tenda lenan halus, dan tudung kulit domba lebih kuat daripada tenda bulu kambing. Mula-mula, Kristus adalah manusia yang sempurna. Kemudian Ia menjadi pengganti kita di kayu salib. Setelah itu, Ia menjadi penebusan kita yang menudungi kita di hadapan Allah.
IV. LAPISAN KEEMPAT PADA PENUTUP
— TUDUNG DARI KULIT LUMBA-LUMBA
Menurut ayat 14, lapisan keempat, yaitu bagian yang paling luar, adalah tudung dari kulit lumba-lumba. Kulit lumba-lumba ini menandakan Kristus sebagai Dia yang mampu melawan segala tantangan dan serangan, juga menandakan bahwa terhadap Iblis (Satan), para penguasa, dan roh-roh jahat, Kristus itu keras dan ulet. Sebagai kulit domba, Kristus memungkinkan kita berdiri di hadapan Allah, namun sebagai kulit lumba-lumba, Kristus memungkinkan kita menghadapi Iblis dan segala serangannya. Ia pun melindungi tempat kediaman Allah dari badai, hujan, dan salju. Air dapat merembesi kulit domba jantan, tetapi tidak dapat merembesi kulit lumba-lumba. Fungsi kulit lumba-lumba bukan untuk melindungi kita dari penghakiman Allah, melainkan dari serangan musuh. Sebagai kulit lumba-lumba, Kristus tidaklah elok atau tampan (Yes. 53:2). Dalam menghadapi serangan Iblis, Ia benar-benar keras dan ulet.
V. SATU LAPISAN DARI HAYAT TUMBUH-TUMBUHAN
DAN TIGA LAPISAN DARI HAYAT BINATANG
Lapisan pertama penutup berasal dari hayat tumbuh-tumbuhan, sedangkan ketiga lapisan lainnya berasal dari hayat binatang. Lenan halus berasal dari tumbuh-tumbuhan, sedangkan kambing, domba, dan lumba-lumba semuanya binatang. Ini berarti hayat Kristus terdiri dari hayat tumbuh-tumbuhan untuk hidup dan berproduksi, dan hayat binatang untuk penebusan. Selain itu, hayat binatang dari laut adalah untuk perlindungan.
Kita bersyukur kepada Tuhan atas rincian tentang Kristus yang diwahyukan dalam keempat lapisan penutup Kemah Suci. Ketika kita melihat rincian ini, apresiasi kita terhadap Tuhan makinlah bertambah-tambah.
?