← Daftar isi Keluaran (6) · bab 7/17

TABUT KESAKSIAN (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:17-22; Im. 16:14-15

Dalam dua berita sebelumnya kita telah memperhatikan bahan tabut perjanjian, ukuran tabut perjanjian, dan bingkai emas di sekeliling tabut perjanjian bagian atas. Kita juga telah memperhatikan keempat gelang emas dan kedua tongkat pengusung yang dipergunakan untuk memindah-mindahkan tabut perjanjian. Dalam berita ini kita akan membahas Keluaran 25:17-22, yaitu mengenai tutup pendamaian yang diletakkan di atas tabut perjanjian.

X. TUTUP PENDAMAIAN

Keluaran 25:17 mengatakan, “Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya.” Tutup pendamaian ini adalah tutup tabut perjanjian. Dalam Septuagin (terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang dibuat sebelum Kristus), kata “hilasterion” digunakan untuk menerjemahkan kata Ibrani “tutup pendamaian”. Kata Yunani ini merupakan bentuk kata benda dari kata kerja Yunani “hilaskomai”. “Hilaskomai” artinya: menenangkan, meredakan kedua pihak dengan jalan memenuhi permintaan seorang akan yang lain, yaitu mendamaikan. Menurut Ibrani 2:17, Tuhan Yesus mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa kita untuk mendamaikan kita dengan Allah dengan jalan memenuhi tuntutan-tuntutan Allah yang adil atas kita.

Misalnya, satu pihak berhutang kepada pihak yang lain. Tetapi pihak pertama tidak dapat memenuhi permintaan pihak kedua. Sepertinya tidak ada jalan untuk menyelesaikan problem ini. Kemudian datanglah pihak ketiga, dan atas nama pihak pertama, ia memenuhi tuntutan pihak kedua, jadi ia menenangkan pihak kedua. Dalam cara yang demikian ini pihak pertama didamaikan dengan pihak kedua, karena tuntutan pihak kedua telah dipenuhi. Kata Yunani “hilaskomai” menunjukkan transaksi demikian, yaitu transaksi yang menimbulkan perdamaian melalui menenangkan pihak tertentu dan memenuhi tuntutannya. Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah dengan jalan memenuhi tuntutan Allah atas kita.

Kata Yunani mengenai pendamaian, yaitu “hilasterion”, berbeda dengan “hilasmos” dalam 1Yohanes 2:2 dan 4:10. “Hilasmos” menyatakan perdamaian, yaitu kurban pendamaian. Berdasarkan 1Yohanes 2:2 dan 4:10, Tuhan Yesus ialah kurban pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kristus bukan hanya Sang Pendamai yang mendamaikan kita dengan Allah dengan jalan memenuhi tuntutan-tuntutan Allah dan menenangkan-Nya, tetapi juga adalah kurban pendamaian itu sendiri. Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri agar kita dapat berdamai dengan Allah.

Kita telah melihat bahwa Kristus adalah Pendamai yang mengadakan pendamaian dengan Allah bagi kita, dan Ia juga adalah kurban pendamaian itu sendiri. Dalam Roma 3:25, Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah tutup pendamaian kita. Allah telah menentukan Kristus sebagai “hilasterion” kita, yaitu tutup pendamaian kita. Ini berarti bahwa sebagai “hilasterion”, Kristus juga merupakan tempat Allah dapat bertemu dengan kita sebagai umat tebusan-Nya, dan berbicara kepada kita. Jadi, Kristus adalah Pendamai, kurban pendamaian, dan tutup pendamaian, yakni tempat Allah dan umat tebusan-Nya bertemu.

Sebagai kurban pendamaian dan Pendamai yang telah membuat perdamaian dengan Allah atas nama kita, Kristus juga adalah tempat yang dalam Roma 3:25 disebut sebagai “tutup pendamaian”, di mana kita dapat bertemu dengan Allah. Septuagin menggunakan kata “hilasterion” untuk tutup tabut perjanjian. Paulus menggunakan kata ini untuk menunjukkan Kristus sebagai tutup pendamaian. Tentu saja, ketika Paulus menulis Roma 3:25, ia memiliki gambaran mengenai tutup pendamaian yang diletakkan di atas tabut kesaksian (kuninglihatlah catatan 25 dalam Roma 3, terjemahan baru Versi Pemulihan).

Ketika kita mempelajari penjelasan mengenai tutup pendamaian dalam Keluaran 25:17-22, dan berusaha memahami maknanya bagi pengalaman rohani kita, kita perlu menerima terang melalui firman, dan bukan hanya pengetahuan saja. Tujuan kita dalam membaca Alkitab ialah untuk menerima terang, bukan pengetahuan yang obyektif. Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, dan pikiran-pikiran yang mengganggu bersinarnya terang melalui firman. Di satu pihak kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti mengenai apa yang kita baca dalam Alkitab. Di pihak lain, kita harus menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak berguna, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Bila kita membaca catatan mengenai tutup pendamaian dalam Kitab Keluaran, mungkin kita akan terperangkap oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak berguna. Sebagai contoh, ada orang mungkin bertanya apakah kerub yang ada di atas tabut perjanjian itu adalah malaikat atau bukan? Ada orang ingin mengetahui berat dari kerub, atau berapa muka yang dimiliki oleh kerub-kerub itu. Ada orang yang mungkin berusaha mengukur tebalnya tutup pendamaian, karena yang disebutkan hanya lebar dan panjangnya. Mungkin beberapa pembaca bertanya apakah kerub-kerub dan tutup pendamaian itu merupakan satu lempengan emas. Boleh jadi pembaca-pembaca lainnya merasa heran, bagaimana mungkin muka kedua kerub tersebut berhadapan satu dengan yang lain dan juga menghadap kepada tutup pendamaian. Dalam berita ini kita tidak memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang demikian. Sebaliknya, tujuan kita ialah memperhatikan perkara-perkara yang penting bagi pengertian dan pengalaman rohani kita. Jadi, kita datang kepada ayat-ayat ini bukan untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, melainkan untuk memperoleh terang dari Tuhan.

A. MENANDAKAN KRISTUS

Tutup pendamaian menandakan Kristus sebagai tutup hukum Allah yang adil, juga melambangkan Kristus sebagai tempat Allah berbicara kepada umat tebusan-Nya dalam anugerah. Karena itu, tutup pendamaian sama dengan takhta anugerah Allah (Ibr. 4:16).

B. DIBUAT DARI EMAS MURNI

Ayat 17 mengatakan bahwa tutup pendamaian dibuat dari emas murni. Emas di sini menandakan sifat ilahi Kristus yang murni.

C. UKURANNYA

Ukuran tutup pendamaian ialah “dua setengah hasta panjangnya, dan satu setengah hasta lebarnya.” Ukuran tutup pendamaian menandakan suatu kesaksian.

D. ADA DUA KERUB

Keluaran 25:18 mengatakan, “Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan pada kedua ujung tutup pendamaian itu.” Kerub menandakan kemuliaan Allah (Yeh. 10:18; Ibr. 9:5). Kita tidak tahu apakah kerub itu malaikat atau bukan, tetapi kita tahu bahwa kerub itu berhubungan dengan kemuliaan Allah. Ibrani 9:5 mengatakan tentang kerub kemuliaan, dan Yehezkiel 10:18 mengatakan bahwa kemuliaan Allah pergi dari ambang pintu Bait Suci serta hinggap di atas kerub-kerub. Jadi, kerub berhubungan dengan kemuliaan Allah dan menandakan kemuliaan-Nya. Kerub di atas tutup pendamaian menunjukkan Kristus mengekspresikan kemuliaan Allah, yaitu kemuliaan Allah terpancar dari dalam Dia. Kerub berada di atas tutup pendamaian, dan tutup pendamaian itu ialah Kristus. Ini berarti kemuliaan Allah terpancar dari dalam Kristus dan di atas Kristus. Kerub dibuat dari emas sifat ilahi Kristus, dan kerub dibuat dari emas tempaan, menunjukkan penderitaan Kristus.

Ayat 19 mengatakan, “Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya.” Kerub-kerub di atas kedua ujung tutup pendamaian menandakan kesaksian. Fakta bahwa kerub-kerub itu bersatu dengan tutup pendamaian menunjukkan bahwa kemuliaan Allah keluar dari Kristus sebagai tutup pendamaian untuk menjadi satu kesaksian.

Ayat 20 mengatakan, “Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.” Sayap kerub-kerub itu menudungi tutup pendamaian. Ini berarti kemuliaan Allah terekspresi di dalam Kristus untuk menjadi satu kesaksian yang penuh. Muka kerub-kerub itu saling berhadapan dan juga menghadap tutup pendamaian, ini menandakan kemuliaan Allah menjaga dan mengamati apa yang Kristus genapkan.

E. DILETAKKAN DI ATAS TABUT PERJANJIAN

Ayat 21 mengatakan, “Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum yang akan Kuberikan kepadamu.” Di sini memberi tahu kita bahwa tutup pendamaian diletakkan di atas tabut perjanjian. Ini menandakan Kristus sebagai tutup pendamaian menutupi loh hukum yang ada di dalam tabut perjanjian.

F. DI SINI ALLAH BERTEMU DENGAN UMAT TEBUSAN-NYA

Bagian pertama dari ayat 22 mengatakan, “Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau.” Ini menunjukkan bahwa Allah bertemu dengan umat tebusan-Nya di dalam Kristus Sang Pendamai.

G. ALLAH BERBICARA KEPADA UMAT TEBUSAN-NYA

DARI ANTARA KEDUA KERUB

Dalam ayat 22, Allah juga mengatakan, “. . . dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.” Ini berarti Allah berbicara kepada umat-Nya dari kemuliaan yang terekspresi dalam Kristus Sang Pendamai sebagai kesaksian-Nya.

Kita telah melihat bahwa kerub menandakan kemuliaan Allah terpancar dari Kristus. Jadi, Allah berbicara kepada umat-Nya dari antara kedua kerub, berarti Dia berbicara kepada kita di tengah-tengah kemuliaan-Nya. Allah tidak bertemu dengan umat tebusan-Nya di tempat yang bukan di tengah-tengah kemuliaan-Nya. Allah tidak dapat bertemu dengan kita di tempat lain atau di kondisi lain. Setiap kali Allah bertemu dengan kita, pertemuan itu pasti terjadi di tengah-tengah kemuliaan-Nya. Kita dapat bersaksi mengenai hal ini dari pengalaman kita. Di mana saja kita bertemu dengan Allah, kita merasakan bahwa kita berada di dalam kemuliaan, seperti kemuliaan yang ditunjukkan oleh kerub-kerub yang ada di atas tabut perjanjian. Pada hari kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus, kita dibawa ke dalam wilayah kemuliaan. Allah tidak pernah bertemu dengan kita di dalam kegelapan. Sebaliknya, Ia selalu bertemu dengan kita di dalam kemuliaan, dan berbicara kepada kita dari antara kedua kerub kemuliaan.

Ketika kita mendengarkan seseorang berbicara dalam suatu sidang, asalkan perkataannya adalah firman Tuhan, kita pasti akan memiliki perasaan bahwa kita berada dalam kemuliaan. Setiap kali firman Allah diutarakan dari ministri ini, dalam batin kita akan merasa mulia. Hari ini banyak pendeta yang sangat fasih dalam berbicara. Tetapi bila Anda mendengarkan perkataan mereka, Anda tidak merasakan kemuliaan Allah. Mungkin Anda kagum akan kefasihan mereka dan menghargai pengetahuan mereka, tetapi Anda tidak merasakan kemuliaan Allah. Namun, ketika Anda mendengarkan ministri firman yang sejati, Anda akan tertarik, bukan karena kefasihan dan pengetahuan, melainkan karena perasaan adanya kemuliaan Allah. Setelah Anda pulang ke rumah, boleh jadi kemuliaan itu mengikuti Anda. Bertahun-tahun kemudian, mungkin Anda masih mengingat kemuliaan yang Anda rasakan dalam sidang tersebut. Berdasarkan pengalaman, kita tahu bahwa Allah bertemu dengan kita di tengah-tengah kemuliaan-Nya dan berbicara kepada kita dalam kemuliaan-Nya. Bahkan ketika Allah berbicara dengan orang yang berdosa pun, Allah berbicara dalam kemuliaan-Nya.

Kemuliaan yang di dalamnya Allah bertemu dan berbicara dengan kita adalah pancaran (cahaya) Kristus. Kerub menandakan bercahayanya Kristus. Kita boleh menggunakan listrik untuk menggambarkan cahaya ini. Balai sidang ini diterangi oleh cahaya lampu, yang sebenarnya adalah cahaya listrik. Karena itu, di dalam balai sidang ini kita bersama-sama berhimpun di bawah pancaran listrik. Demikian pula, kerub adalah Kristus yang bercahaya, atau bercahayanya Kristus.

Kristus yang bercahaya ini adalah Kristus yang bagaimana? Telah saya tunjukkan bahwa tabut perjanjian dibuat dari kayu penaga yang bagian dalam dan luarnya disalut dengan emas. Kayu penaga melambangkan keinsanian Kristus, sedangkan emas menandakan keilahian Kristus. Tutup pendamaian dibuat dari emas murni, tidak berisi kayu penaga. Ini menunjukkan bahwa bercahayanya Kristus ini bersifat ilahi, Dia adalah cahaya kemuliaan Allah. Namun, keilahian Kristus bukanlah dasar bagi cahaya tersebut. Dasar bagi cahaya-Nya ialah kayu penaga yang digunakan untuk membuat tabut perjanjian. Bukan emas yang menopang kayu penaga, melainkan kayu penaga yang menopang emas. Bersama keinsanian-Nya sebagai dasar, Kristus mengekspresikan keilahian. Dalam pengalaman kita hari ini, kita memerlukan keinsanian Yesus untuk mengekpresikan sifat ilahi Kristus.

Keluaran 25:17 memberi tahu kita panjang dan lebar tutup pendamaian, tetapi tidak memberi tahu kita tebal tutup pendamaian. Karena itu kita tidak mengetahui bobot (berat) tutup tabut perjanjian. Fakta bahwa tidak diberitahukannya tebal tutup pendamaian dan tidak diketahuinya berat tutup pendamaian menunjukkan bahwa bobot Kristus tidak terbatas. Tidak seorang pun dapat mengatakan berapa bobot Kristus. Berdasarkan pengalaman, bobotnya tergantung pada kemampuan kita menopang. Jika Anda mampu menopang tutup yang beratnya satu pon, maka bagi Anda Kristus berbobot satu pon. Tetapi bagi orang yang mampu menopang Kristus lebih banyak, boleh jadi Kristus berbobot lima puluh pon. Bagi kita, berat Kristus tergantung pada kemampuan kita menopang-Nya. Saya khawatir beberapa orang beriman hanya mampu menopang Kristus dalam jumlah yang sangat kecil.

Lagi pula, dalam Keluaran 25 tidak dikatakan tentang bentuk, ukuran, maupun berat kerub. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan pancaran Kristus tidak terbatas, dan kemuliaan Kristus tidak terduga. Sebagaimana kita tidak dapat menggambarkan kerub-kerub itu, demikian pula kita tidak dapat menjelaskan tentang kemuliaan cahaya Kristus. Tetapi berdasarkan fakta bahwa kerub memiliki wajah dan sayap, kita tahu bahwa kemuliaan ini bukanlah sesuatu yang tidak bernyawa, melainkan sesuatu yang hidup. Kemuliaan Kristus itu hidup. Kita bahkan boleh mengatakan bahwa kemuliaan ini memiliki wajah, mata, dan sayap. Berdasarkan pengalaman kita tahu bahwa ketika Allah bertemu dan berbicara dengan kita, kita memiliki perasaan bahwa kemuliaan sedang mengamati kita, dan kemuliaan ini hidup. Sebenarnya, kemuliaan ini ialah Kristus sendiri. Jadi, konsepsi umum mengenai tutup pendamaian dalam Keluaran 25 ialah: tutup pendamaian menandakan Kristus adalah cahaya kemuliaan ilahi, dan Allah bertemu serta berbicara kepada kita dalam kemuliaan ini. Selama kita memperhatikan catatan mengenai tutup pendamaian dalam Keluaran 25:17-22, kita perlu memusatkan perhatian kita pada hal yang penting ini, dan tidak dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada jawabannya.

Kita perlu terkesan pada fakta bahwa tutup pendamaian bersama dengan kerub-kerub menandakan bercahayanya Kristus. Ia juga menandakan kemuliaan Allah sebagai cahaya Kristus adalah hidup. Kerub ialah sesuatu yang memiliki wajah, mata, dan sayap. Untuk memiliki pengertian yang tepat mengenai hal ini, kita memerlukan terang dari Allah dan sejumlah pengalaman rohani. Tanpa terang Tuhan, boleh jadi kita membaca ayat-ayat ini berkali-kali, namun sedikit pun tidak melihat maknanya. Akan tetapi begitu terang bercahaya atas kita, kita akan mengetahui bahwa tutup pendamaian dengan kerub-kerub tidak lain ialah Tuhan Yesus kita yang terkasih. Setiap kali Allah bertemu dan berbicara dengan kita, Kristus yang mustika ini hadir. Sesungguhnya, di dalam Kristus yang bercahaya inilah Allah bertemu dan berbicara dengan kita. Bila kita menyadari hal ini, kita akan berkata, “Tuhan Yesus, Engkau sendirilah tutup pendamaian itu. Tanpa Engkau tidak ada tempat bagi Allah untuk bertemu dengan kami, kami pun tidak dapat bertemu dengan-Nya. Tuhan Yesus, tanpa Engkau sebagai tutup pendamaian, Allah tidak dapat bertemu dan berbicara dengan kami dalam kemuliaan.”

Pada butir ini kita perlu memperhatikan satu persoalan yang penting: Bagaimana kita yang penuh dosa, alamiah, dan penuh pelanggaran ini dapat bertemu dengan Allah di dalam Kristus yang mulia? Kita telah berdosa terhadap Allah, juga telah bersalah kepada orang lain, bagaimana kita dapat bertemu dengan Allah di dalam Kristus yang bercahaya? Dalam Keluaran 25:17-22, yaitu catatan yang menggambarkan tutup pendamaian tabut perjanjian, tidak ada sepatah kata pun yang dapat menjawab persoalan ini. Untuk memperoleh jawabannya kita harus berpaling ke Imamat 16:14-15. Mengenai imam besar pada hari penghapusan dosa ayat-ayat ini mengatakan, “Lalu ia harus mengambil sedikit dari darah lembu jantan itu dan memercikkannya dengan jarinya ke atas tutup pendamaian di bagian muka, dan ke depan tutup pendamaian itu ia harus memercikkan sedikit dari darah itu dengan jarinya tujuh kali. Lalu ia harus menyembelih domba jantan yang akan menjadi kurban penghapus dosa bagi bangsa itu dan membawa darahnya masuk ke belakang tabir, kemudian haruslah diperbuatnya dengan darah itu seperti yang diperbuatnya dengan darah lembu jantan, yakni ia harus memercikkannya ke atas tutup pendamaian dan ke depan tutup pendamaian itu.” Sebagaimana kita lihat, perkara yang paling penting di sini ialah pemercikan darah ke atas tutup pendamaian.

Pada hari penghapusan dosa, kurban dipersembahkan di atas mezbah di pelataran luar. Darah hewan yang ditumpahkan di atas mezbah untuk penghapusan dosa itu merupakan “surat promes” atas penebusan sejati yang digenapkan oleh Kristus. Ketika Kristus datang untuk menggenapkan penebusan dengan menumpahkan darah-Nya di atas salib, maka “surat promes” itu dikesampingkan. Apa yang kita miliki pada zaman Perjanjian Baru hari ini bukanlah penghapusan dosa, melainkan penebusan. Pada zaman Perjanjian Lama, darah ditumpahkan di atas mezbah untuk penghapusan dosa. Ini melambangkan darah Yesus yang ditumpahkan di atas salib bagi penebusan. Dalam Perjanjian Lama kita memiliki mezbah dan penghapusan dosa; sedangkan dalam Perjanjian Baru kita memiliki salib dan penebusan. Darah yang ditumpahkan di atas mezbah bagi penghapusan dosa tersebut dibawa ke dalam tempat maha kudus dan dipercikkan ke atas tutup tabut perjanjian, yaitu tutup pendamaian. Sesungguhnya, darah dipercikkan tujuh kali ke atas tutup tabut perjanjian itu menandakan kesempurnaan. Melalui pemercikan darah ini, tutup emas menjadi berwarna merah. Karena darah yang dipercikkan di atas tutup pendamaian itu, orang-orang berdosa bisa memiliki persekutuan dengan Allah yang adil di dalam kemuliaan Kristus.

Tutup pendamaian tabut perjanjian menutupi loh hukum, yaitu Sepuluh Perintah Allah, yang diletakkan di dalam tabut. Pada hari penghapusan dosa, tutup pendamaian ini diperciki dengan darah, ini menunjukkan bahwa ketika Allah berbicara kepada orang berdosa dalam kemuliaan Kristus, Ia tidak melihat hukum Taurat yang adil Ia hanya melihat darah yang ada di atas tutup pendamaian. Tanpa tutup pendamaian dengan darah yang dipercikkan di atasnya, Allah akan melihat Sepuluh Perintah Allah. Akibatnya, kita akan dihukum, karena kita semua telah melanggar hukum Allah. Allah tidak akan mempunyai jalan untuk bertemu dan berbicara dengan kita. Sebaliknya, sesuai dengan keadilan-Nya, Ia akan menghukum mati kita. Tetapi ketika Allah datang kepada kita dalam kemuliaan Kristus, Ia tidak melihat tuntutan-tuntutan dari hukum-Nya yang adil, dan Ia tidak melihat dosa-dosa kita. Sebaliknya, Ia melihat darah penebusan yang ada di atas tutup pendamaian.

Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa perkara darah di atas tutup pendamaian ini bukanlah sekadar doktrin; perkara ini sangat riil di dalam pengalaman kita bersama Tuhan. Ketika kita bertobat, Allah pun menjumpai kita dan berbicara dengan kita. Pada saat itu kita akan memiliki perasaan yang dalam bahwa kita telah dibasuh oleh darah Tuhan Yesus. Kini setiap kali kita berjumpa dengan Allah dalam kemuliaan, dalam batin kita merasakan bahwa kita telah dibasuh oleh darah. Inilah tutup pendamaian dalam pengalaman kita.

Kita telah menunjukkan bahwa tutup pendamaian dibuat dari emas murni. Tutup pendamaian tidak mengandung kayu penaga yang melambangkan keinsanian Tuhan Yesus. Namun, darah Tuhan benar-benar berasal dari sifat insani-Nya. Keinsanian Kristus adalah untuk menebus kita, sedangkan keilahian-Nya adalah untuk memancarkan kemuliaan. Kerub-kerub di atas tutup pendamaian menandakan pancaran Kristus dengan keilahian-Nya, sedangkan darah yang dipercikkan di atas tutup pendamaian menandakan keinsanian-Nya bagi penebusan. Karena itu, di sini kita memiliki gambaran mengenai Kristus bukan hanya sebagai Allah, tetapi juga sebagai manusia, bahkan Allah-manusia. Sebagai Allah, Kristus bercahaya dalam keilahian-Nya, tetapi sebagai manusia, Ia menggenapkan penebusan dalam keinsanian-Nya, yaitu yang ditunjukkan oleh darah. Sekarang oleh keilahian dan keinsanian Kristus, kita dan Allah dapat bertemu dan bersekutu dalam Kristus Sang penebus dan yang bercahaya. Inilah yang dimaksud dengan Kristus sebagai tutup pendamaian, yaitu tempat Allah dan kita dapat berjumpa.

Versi King James memakai istilah “takhta rahmat” sebagai pengganti tutup pendamaian. Kata takhta menunjukkan bahwa tutup tabut perjanjian itu merupakan tempat duduk bagi Allah saat Ia berbicara dengan kita. Kata rahmat (belas kasihan) menunjukkan bahwa Allah berbelaska-sihan kepada umat manusia. Sesungguhnya, tutup tabut perjanjian bukanlah takhta rahmat, melainkan tutup pen-damaian dengan pancaran keilahian-Nya dan penebusan keinsanian Kristus sebagai tempat di mana kita dapat berjumpa dan berbicara dengan Allah kita yang adil, kudus, dan mulia. Tempat ini tak lain ialah Kristus sendiri, yakni Sang Allah yang juga adalah manusia. Dalam keinsanian-Nya, Kristus menumpahkan darah-Nya untuk menebus kita, sedangkan dalam keilahian-Nya, Ia memancarkan kemuliaan Allah. Bagi kita, hari ini Dia adalah Kristus yang menebus dan bercahaya sebagai tempat di mana Allah yang adil, kudus, dan mulia dapat bertemu dengan orang-orang dosa yang telah jatuh.

Tutup pendamaian dalam Keluaran 25 yang disebutkan oleh Paulus dalam Roma 3:25, harus dianggap sebagai bagian dari visi inti ministri Paulus yang melengkapi. Paulus adalah orang yang berbicara tentang tutup pendamaian, kerub kemuliaan, dan Kristus yang mengadakan pendamaian bagi dosa-dosa manusia (Ibr. 2:17). Paulus menyajikan Kristus sebagai “hilasterion”, yaitu tutup pendamaian dengan pancaran keilahian-Nya, di mana Allah dapat bertemu dan berbicara dengan kita. Inilah tempat di mana kita dapat mendengarkan suara-Nya dan mengetahui kehendak hati-Nya. Tidak diragukan lagi, tempat ini ialah tempat Paulus menerima wahyu tentang ministri yang melengkapi. Dalam pengalaman kita hari demi hari, kita juga perlu bertemu dengan Allah di tutup pendamaian dan di dalam kemuliaan-Nya.

Tanpa tutup pendamaian, kita tidak bisa menikmati tabut perjanjian. Tabut perjanjian dapat menjadi kenikmat-an kita hanya karena tutup yang menutupi tabut tersebut. Jika tabut perjanjian tidak memiliki tutup pendamaian sebagai tutup, kita tidak akan mampu datang kepada Allah. Tabut perjanjian tetap ada di sana, tetapi kita tidak memiliki jalan untuk berkontak dengannya. Tutup pendamaian diperlukan baik oleh Allah maupun kita, agar tabut perjanjian dapat menjadi kenikmatan kita. Sekarang, melalui tutup pendamaian, kita memiliki jalan untuk bertemu dan berbicara dengan Allah.

Tutup pendamaian juga berhubungan dengan kesaksian. Semakin Allah bertemu dan berbicara dengan kita, kita pun semakin bertemu dan mendengarkan perkataan-Nya, maka kesaksian Allah semakin ada di dalam pengalaman kita. Fungsi tabut kesaksian tergantung pada tutup pendamaian. Manfaat tabut kesaksian sepenuhnya tergantung pada tutup pendamaian. Karena tutup pendamaian yang ada di atas tabut perjanjian, maka tabut perjanjian menjadi kenikmatan kita dan kesaksian Allah.

Semoga kita semua menengadah kepada Tuhan dan berdoa, supaya Ia mau memberi kita terang yang berkenaan dengan tutup pendamaian dan maknanya bagi pengalaman rohani kita. Kita tidak seharusnya merasa puas hanya karena telah memahami lambang-lambang dalam Kitab Keluaran secara doktrinal. Oleh belas kasihan Tuhan, kita perlu melihat makna lambang-lambang ini bagi pengalaman kita. Di satu pihak, terang tersebut menguatkan pengalaman kita atas Tuhan; di pihak lain, terang tersebut menyebabkan pengalaman kita atas Kristus bertambah. Puji Tuhan atas Kristus yang mulia dan menakjubkan sebagai tutup pendamaian! Kita tidak memiliki ungkapan yang cukup untuk menjelaskan Kristus yang sedemikian ini, tetapi kita dapat melihat-Nya, mengalami-Nya, dan menikmati-Nya.