← Daftar isi Keluaran (6) · bab 6/17

TABUT KESAKSIAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:12-16

Enam belas pasal terakhir Kitab Keluaran merupakan ujian apakah kita benar-benar memiliki hati yang menyukai ekonomi Allah atau tidak. Pada waktu membaca Alkitab, banyak orang Kristen yang melewatkan begitu saja pasal-pasal ini setelah satu atau dua kali mereka membaca Kitab Keluaran. Boleh jadi, mereka lebih menyukai kisah-kisah dalam Kitab Kejadian dan pasal-pasal pertama dalam Kitab Keluaran daripada penjelasan yang rinci mengenai Kemah Pertemuan dan seluruh perabotannya seperti yang dicatat dalam Keluaran 25—40.

Kita telah menunjukkan bahwa menurut Kolose 1:25, ministri Paulus adalah ministri yang melengkapi. Wahyu yang diberikan kepada Paulus merupakan pelengkap firman Allah. Sebenarnya, enam belas pasal terakhir Kitab Keluaran berhubungan erat sekali dengan ministri Paulus.

Keluaran 1—24 terutama membahas sejarah. Akan tetapi, perhatian Allah di sini bukan tertuju pada sejarah perhatian Allah tertuju pada Kemah Suci. Kemah Suci dengan seluruh perabotannya melambangkan Kristus dan gereja, meliputi hal-hal yang rinci mengenai hidup gereja. Karena makna rohani dari lambang-lambang dalam Keluaran 25—40 sangat dalam dan misterius, maka lambang-lambang tersebut diabaikan oleh orang-orang yang berada dalam organisasi agama hari ini. Wahyu dalam pasal-pasal ini membawa kita kepada kedalaman dan rincian tentang Kristus dan gereja. Tulisan-tulisan yang melengkapi jantung wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru Kitab Galatia, Efesus, Filipi, dan Kolose adalah singkat, tetapi mendalam dan tidak terduga. Masalah-masalah yang mendalam mengenai Kristus dan gereja juga terdapat dalam enam belas pasal terakhir Kitab Keluaran ini. Karena alasan inilah, kita memerlukan hati yang menuntut ketika kita sampai pada bagian firman ini. Dalam berita mengenai Keluaran 25:12-16 ini, kita akan memperhatikan gelang dan kayu pengusung tabut kesaksian. Tetapi, sebelum sampai pada hal-hal ini, saya ingin berbicara lebih lanjut mengenai bingkai emas yang mengelilingi tabut perjanjian (ayat 11).

Keluaran 25:11 mengatakan, “Dan di atasnya haruslah kaubuat bingkai emas sekelilingnya.” Sebagai pengganti dari kata “bingkai”, beberapa terjemahan mengatakan “untaian” atau “mahkota”. Dalam berita sebelumnya telah saya tunjukkan bahwa bingkai emas di sekeliling tabut perjanjian menandakan kemuliaan sifat ilahi, sedangkan kemuliaan sifat ilahi sebagai bingkai menandakan kuasa pemeliharaan dan daya pegang ilahi. Sangatlah bermakna bahwa di sini tidak dicantumkan ukuran bingkai. Dalam perlambangan, apa saja yang tidak memiliki ukuran menunjukkan sesuatu yang kekal, tidak terukur, tidak terbatas, dan tidak ada habisnya. Ayat 11 tidak memberi tahu kita berapa tinggi atau lebar bingkai tersebut. Ayat ini hanya membicarakan bingkai emas saja. Kita telah melihat bahwa kayu penaga menandakan keinsanian Kristus dengan karakter dan standarnya, dan emas menandakan keilahian-Nya. Meskipun tabut perjanjian dibuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas, tetapi bingkai di atas tabut itu hanya dibuat dari emas. Jadi, bingkai ini menandakan kemuliaan sifat ilahi.

Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah memiliki kemuliaan. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3). Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, secara luaran Ia adalah orang Nazaret yang hina, yaitu orang yang tidak tampan. Tetapi bahkan orang-orang yang menolak-Nya pun tidak dapat menyangkal fakta bahwa ada ekspresi yang ajaib dan mulia pada diri-Nya. Inilah sifat ilahi yang diperhidupkan oleh Kristus. Melalui kehidupan insani Tuhan, sifat ilahi tersebut diekspresikan sebagai bingkai atau mahkota kemuliaan. Jika Anda memperhatikan catatan mengenai kehidupan Tuhan dalam keempat Injil, Anda akan menyadari bahwa dalam hidup-Nya, Ia mengekspresikan kemuliaan. Kemuliaan ini tidak bersifat insani, yaitu sesuatu yang berasal dari kayu; kemuliaan ini bersifat ilahi, yaitu sesuatu yang berasal dari emas.

Kemuliaan sifat ilahi sebagai bingkai menandakan kuasa pemeliharaan dan daya pegang ilahi. Pada Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah, terdapat kuasa pemeliharaan dan daya pegang. Petrus, Yakobus, Yohanes, dan lain-lainnya, dipelihara, dipegang, dan dilindungi oleh bingkai kemuliaan yang ada pada Kristus. Karena kelemahannya, Petrus menyangkal Tuhan. Tetapi, akhirnya penyangkalannya membuktikan bahwa ia percaya kepada Tuhan Yesus dan mengasihi-Nya, karena segera setelah penyangkalannya itu ia menangis tersedu-sedu. Petrus telah melihat ekspresi kemuliaan Allah dalam Tuhan Yesus di gunung perubahan. Ekspresi kemuliaan ilahi ini adalah kuasa pemeliharaan dan daya pegang yang melindungi Petrus.

Kita juga dipelihara oleh kuasa pemeliharaan dan daya pegang ini. Kemuliaan yang diekspresikan oleh keilahian Tuhan dapat mencegah kita dari kejatuhan. Jika di rumah dan di tempat kerja kita memperhidupkan Kristus, maka Kristus yang kita perhidupkan ini akan menjadi kemuliaan yang terekspresi melalui kita. Kemuliaan ini, ekspresi ini, bisa menjadi bingkai yang menjaga dan memegang kita.

Dalam Surat Filipi, Paulus berharap baik melalui hidup atau mati, Kristus dengan nyata diperbesar di dalam tubuhnya (Flp. 1:20 Tl.). Karena Paulus memperhidupkan dan memperbesar Kristus, maka tidak ada seorang pun yang berani mengusulkan agar dia ikut mereka kepada kesenangan duniawi. Kemuliaan yang diekspresikan melalui keinsanian Paulus merupakan bingkai yang menjaga dan memegang Paulus.

Meskipun pengalaman kita sangat terbatas jika diban-dingkan dengan pengalaman Paulus, tetapi banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita telah dipegang dan dipelihara oleh bingkai kemuliaan Allah yang terekspresi. Keluarga dan teman-teman kita boleh jadi tidak berani berbicara kepada kita mengenai hal-hal duniawi. Ini menunjukkan bahwa kita memiliki bingkai emas, yaitu bingkai tabut kesaksian Allah. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita harus memiliki bingkai ini pada diri kita.

VII. EMPAT GELANG EMAS,

MENANDAKAN SIFAT ILAHI KRISTUS

SEBAGAI FAKTOR DAN KEKUATAN YANG MENGIKAT

Telah berkali-kali saya tunjukkan bahwa tabut perjanjian melambangkan Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah. Kesaksian ini dapat bergerak, ia tidak seharusnya diam tak bergerak. Kitab Kisah Para Rasul adalah catatan tentang tindakan atau pergerakan Kristus. Kristus yang bergerak dari Yerusalem ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8). Dalam Kitab Kisah Para Rasul, Kristus yang kita lihat bukanlah Kristus yang berinkarnasi, yaitu Kristus yang hidup di bumi dalam tubuh daging. Sebaliknya, kita melihat Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan, dan yang telah naik ke surga lalu turun ke dalam Tubuh-Nya sebagai Roh Pemberi-hayat. Kitab Kisah Para Rasul mencatat pergerakan Kristus ke dalam dan melalui Tubuh-Nya ini. Jika kita mau memiliki pengertian yang memadai mengenai keempat gelang emas dan kayu pengusung tersebut, kita harus mempelajari keseluruhan Kitab Kisah Para Rasul dengan saksama. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita memiliki penjelasan mengenai keempat gelang emas dan dua kayu pengusung tersebut; yaitu penjelasan tentang pergerakan Kristus di bumi sebagai kesaksian Allah.

Tabut perjanjian dibuat di Gunung Sinai, tetapi tidak tinggal di sana. Tabut perjanjian dibuat dalam suatu cara yang memungkinkannya dapat dipindah-pindahkan. Menurut Kitab Bilangan, orang-orang Israel mengusung tabut perjanjian dan berbaris seperti pasukan perang. Untuk memindahkan tabut perjanjian, mereka harus memiliki empat gelang emas dan dua kayu pengusung.

Keluaran 25:12 mengatakan, “Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua.” Dalam perlambangan, gelang emas menandakan Roh yang kekal. Empat gelang emas menandakan bahwa sifat ilahi Kristus merupakan faktor dan kekuatan yang mengikat. Di tempat lain telah ditunjukkan bahwa gelang emas menandakan Roh yang telah memeteraikan kita. Gelang tidak memiliki pangkal dan ujung, karena itu menandakan Roh yang kekal. Gelang-gelang ini dibuat dari emas sifat ilahi Kristus, menandakan faktor dan kekuatan yang mengikat. Tanpa gelang-gelang itu, tidak ada cara untuk memegang tabut perjanjian, karena tidak mempunyai kait, tidak ada sambungan. Roh pemberi-hayat yang kekal yang dilambangkan oleh gelang-gelang tersebut adalah faktor dan kekuatan yang mengikat.

A. DITUANG

Ayat 12 mengatakan bahwa gelang-gelang tersebut dituang, bukan ditempa. Penuangan gelang-gelang tersebut menunjukkan bahwa melalui pengalaman atas salib, Roh pemberi-hayat yang kekal menjadi kekuatan yang mengikat. Dituang melambangkan ujian yang datang melalui penderitaan. Semakin kita mengalami salib, Roh pemberi-hayat yang kekal akan semakin dituang menjadi gelang emas. Kemudian kita akan memiliki gelang-gelang yang kuat bagi pergerakan kesaksian Allah.

Pengertian mengenai makna rohani dari keempat gelang emas ini sesuai dengan Perjanjian Baru dan pengalaman kristiani kita. Salib selalu merupakan ujian bagi kita. Setiap hari kita perlu mengalami salib dengan pengujiannya. Inilah pengalaman atas gelang tuangan. Emas yang digunakan untuk membuat gelang-gelang tersebut haruslah emas yang dituang. Hanya setelah dituanglah emas tersebut dapat menjadi gelang. Ya, gelang emas melambangkan Roh pemberi-hayat. Tetapi dalam pengalaman kita, Roh ini harus melewati pengujian salib, yaitu penuangan, sebelum dapat menjadi gelang emas dengan kekuatannya yang mengikat di dalam kita.

Bisa saja seorang Kristen yang sangat baik tidak memikul tabut kesaksian. Itu berarti orang tersebut menjadi orang Kristen yang hidup dalam hayat alamiah. Orang-orang Kristen yang hidup dalam cara demikian ini tidak memikul kesaksian Yesus. Baru-baru ini telah kita tunjukkan bahwa dalam pemulihan Tuhan kita harus memberitakan Injil, mengajarkan Alkitab, dan bersidang bersama-sama sesuai dengan Alkitab. Tetapi perkara-perkara itu sendiri bukanlah kesaksian Yesus. Boleh jadi kita memberitakan Injil dengan rajin, mengajarkan Alkitab dengan benar, dan bersidang bersama-sama dengan layak, tetapi kita masih tidak memikul kesaksian Tuhan. Ini berarti kita tidak memiliki tabut perjanjian; yaitu kita tidak memperhidupkan Kristus. Oh, kita harus melihat visi utama ini, bahwa memikul tabut kesaksian ialah memperhidupkan Kristus! Kita harus memberitakan Injil, mengajarkan Alkitab, dan bersidang bersama-sama sesuai dengan Alkitab. Tetapi bersamaan dengan semua ini, kita harus memikul tabut kesaksian, yaitu kesaksian Yesus.

Dalam Injil Matius dikatakan agar kita mengajar bangsa-bangsa; dalam Injil Markus dikatakan agar kita memberitakan Injil kepada semua makhluk; dalam Injil Lukas dikatakan agar kita memberitakan Injil pertobatan bagi pengampunan dosa; dan dalam Injil Yohanes dikatakan agar kita berbuah. Tetapi Kisah Para Rasul 1:8 mengatakan, “Kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Di sini Tuhan tidak membicarakan tentang pemberitaan Injil, melainkan membicarakan tentang menjadi saksi-saksi-Nya. Seorang saksi memberikan kesaksian. Saksi menunjukkan orangnya, sedangkan kesaksian menunjukkan apa yang di persaksikan oleh saksi tersebut. Memikul kesaksian Tuhan ialah menjadi saksi-Nya.

Wahyu 1 membicarakan tentang kesaksian Yesus. Kesaksian dalam Kitab Wahyu ini ialah kaki pelita emas. Boleh jadi kita memberitakan Injil, mengajarkan Alkitab, dan memiliki sidang-sidang yang sangat baik sesuai dengan Alkitab, tetapi kita masih belum memiliki kaki pelita emas sebagai kesaksian Yesus.

Pada masa Perjanjian Lama mungkin saja seseorang memiliki Kemah Suci dengan bejana pembasuhan dan mezbahnya, tetapi ia belum memiliki tabut perjanjian. Pada suatu saat, karena kejatuhan bani Israel, tabut perjanjian terpisah dari Kemah Suci. Ketika Salomo memegang tampuk pemerintahan, sesuai dengan peraturan agama, ia mengunjungi tempat Kemah Suci berada. Tetapi, tabut perjanjian tidak ada di sana. Pada malam hari dalam sebuah mimpi, ia tahu bahwa Tuhan tidak berada dalam Kemah Suci, melainkan berada bersama tabut perjanjian. Karena itu, Salomo pergi beribadah kepada Tuhan di tempat tabut perjanjian berada (1Raj. 3:4-15).

Prinsip ini sama dengan pengalaman kita hari ini. Boleh jadi kita juga memiliki Kemah Suci tanpa tabut perjanjian. Mungkin kita memiliki pemberitaan Injil yang baik, ajaran Alkitab, dan sidang-sidang, tetapi kita kekurangan kesaksian Yesus. Lagi pula, dalam kehidupan kita, mungkin kita adalah orang Kristen yang baik, tetapi kita tidak memiliki tabut perjanjian, yaitu kesaksian Yesus, karena kita hanya sedikit atau sama sekali tidak memiliki pengalaman atas salib yang menuang sifat ilahi menjadi gelang emas. Setiap hari kita memerlukan pengalaman atas salib, yaitu pengalaman atas gelang tuangan.

Salib Kristus sebenarnya ada di dalam Roh itu, dan kita mengalami salib melalui Roh itu. Penyaliban ini adalah penuangan. Ketika kita mengalami salib, kita tidak hanya memiliki emas, melainkan emas yang telah melewati proses dituang menjadi gelang. Kemudian kita akan memiliki Roh pemberi-hayat yang adalah gelang yang memegang tabut perjanjian, sebagai faktor dan kekuatan yang mengikat yang diperlukan untuk memikul tabut perjanjian, yaitu kesaksian Yesus. Inilah penjelasan rinci yang penting, yang berhubungan dengan mengalami Kristus dan memperhidupkan Kristus.

B. EMPAT, MELAMBANGKAN KEEMPAT PENJURU

BUMI UNTUK MENCAPAI SEMUA MANUSIA

Angka empat menurut Alkitab melambangkan keempat penjuru bumi untuk mencapai semua orang (Why. 7:1). Menurut Wahyu 5:6, ketujuh Roh Allah “diutus ke seluruh bumi”. Kristus sebagai kesaksian Allah harus mencapai semua orang.

Ketika saya meninggalkan China daratan pada tahun 1949, saya sangat sedih karena kehilangan tanah China yang sangat luas. Tetapi sekarang saya merasa gembira, karena pemulihan Tuhan telah dibebaskan dari pembatasan bahasa Mandarin dan tersebar ke empat penjuru bumi untuk mencapai semua orang. Saya berharap, tahun-tahun yang akan datang banyak orang yang akan keluar, bukan saja untuk memberitakan Injil, mengajarkan Alkitab, dan memiliki sidang-sidang gereja yang layak, tetapi juga mengemban kesaksian Yesus.

Ke mana saja kita pergi, tabut perjanjian dengan keempat gelang emas tersebut harus beserta kita. Orang-orang Israel di padang gurun tidak bergerak tanpa tabut perjanjian. Mereka selalu menempuh perjalanan bersama tabut perjanjian. Demikian pula, kita harus bergerak dengan Tuhan sebagai perwujudan kesaksian Allah. Ini ditunjukkan oleh fakta bahwa tabut perjanjian memiliki empat gelang, yang menunjukkan bahwa kesaksian Yesus harus mencapai semua orang.

C. DUA GELANG PADA TIAP SISI, MENANDAKAN KESAKSIAN DALAM SETIAP ASPEK

Menurut Keluaran 25:12, ada dua gelang pada sisi tabut yang satu dan dua gelang pada sisi lainnya. Dua gelang pada tiap sisi menandakan kesaksian dalam setiap aspek (Why. 11:3). Dua gelang pada tiap sisi menyiratkan makna koordinasi. Untuk memikul tabut perjanjian, harus ada dua orang pada tiap ujung sisi.

Perhatikan bagaimana angka dua begitu ditekankan. Dua sisi, dua gelang pada masing-masing sisi, dan dua kayu pengusung. Untuk memikul tabut perjanjian harus ada dua orang di depan dan dua orang di belakang. Angka dua menunjukkan bahwa pergerakan Kristus sebagai perwujudan kesaksian adalah melalui koordinasi yang baik, bukan melalui perseorangan. Secara individu, orang tidak dapat menjadi kaki pelita. Kaki pelita adalah keesaan yang korporat. Kita harus bersatu dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan dan menuntut Tuhan jika ingin menjadi kaki pelita di lokal kita.

Ketika Tuhan Yesus berada di bumi ini, Ia mengutus murid-murid-Nya secara berpasangan. Murid-murid yang diutus secara demikian harus memikul kesaksian-Nya bagi pergerakan-Nya di bumi. Prinsip ini sama dengan tabut perjanjian dan pergerakannya. Untuk ini harus ada gelang, dua sisi, dua kayu pengusung, dan dua orang di depan serta di belakang. Ini menandakan kesaksian dan koordinasi.

Saya harap banyak orang yang berdoa dan bersekutu mengenai keempat gelang emas tuangan bagi tabut perjanjian ini. Melalui doa dan persekutuan, realitas perkara ini akan diasimilasi oleh kita, bahkan tersusun di dalam kita.

Saya yakin, melalui pelajaran-hayat mengenai keenam belas pasal terakhir dari Kitab Keluaran, banyak orang beriman yang akan dibangun dengan wahyu yang rinci tentang Kristus.

VIII. DUA KAYU PENGUSUNG

A. UNTUK MENGUSUNG —

TABUT PERJANJIAN BAGI PERGERAKANNYA

Keluaran 25:13-14 mengatakan, “Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut.” Kedua kayu pengusung untuk mengusung tabut menandakan pergerakan Kristus sebagai kesaksian Allah.

B. DIBUAT DARI KAYU PENAGA

Kayu pengusung, sama dengan tabut perjanjian itu, dibuat dari kayu penaga. Kita telah melihat bahwa kayu penaga menandakan keinsanian Kristus. Keinsanian Kristus adalah kekuatan untuk menyatakan kesaksian-Nya. Fakta bahwa kayu-kayu pengusung tersebut dibuat dari kayu penaga, menandakan bahwa sifat insani Kristus merupakan kekuatan bagi pergerakan-Nya sebagai kesaksian Allah.

Hari ini banyak orang dalam pergerakan Pentakosta dan Kharismatik yang menekankan karunia, keajaiban, dan kekuatan. Tetapi Paulus tidak menekankan hal-hal yang demikian. Ia dan teman-teman sekerjanya memberitakan Kerajaan Allah dan memikul kesaksian Yesus dengan jalan memiliki keinsanian yang bersifat dan berstandar tinggi. Mereka memikul kesaksian pada kayu pengusung yang terbuat dari emas, dengan keinsanian yang telah diubah dan dipertinggi. Paulus menyebarkan kesaksian Yesus melalui keinsaniannya yang kuat. Sebagai contoh, Paulus menulis kepada orang-orang Tesalonika, “Sebab kamu masih ingat, Saudara-saudara, akan usaha dan jerih payah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu” (1Tes. 2:9). Inilah kayu penaga.

Ketika misionaris-misionaris pertama datang ke negeri China, tidak mudah bagi mereka untuk menjangkau orang-orang China yang etis dan filosofis tersebut dengan Injil. Orang-orang China ini sangat kolot dan membanggakan kebudayaan mereka. Tetapi ada sejumlah misionaris di China yang benar-benar memiliki kayu penaga, yaitu keinsanian yang telah dipertinggi. Misionaris-misionaris ini benar-benar memiliki keinsanian yang dapat mencapai orang-orang China dan membuka pintu bagi Injil.

Biarlah saya memberikan gambaran kepada kalian tentang bagaimana misionaris-misionaris ini menyatakan kayu penaga dalam memberitakan Injil kepada orang-orang China yang kolot. Saat itu, semua desa tertutup bagi orang asing. Siapa saja yang melihat orang asing akan membunyikan gong dan memperingatkan orang-orang desa agar masuk ke dalam rumah mereka dan mengunci pintu. Tidak ada seorang pun yang mau berhubungan dengan “setan-setan asing”. Tetapi, seorang misionaris bersembunyi di samping kanan pintu sebuah rumah. Akhirnya, ketika seseorang membuka pintu, misionaris itu segera menyodorkan sebuah tongkat ke cela pintu yang terbuka itu, sehingga pintu tidak dapat ditutup. Kemudian ia menyelipkan kakinya pada pintu itu, dan begitu ada kesempatan, ia masuk ke dalam halaman rumah tersebut. Sampai di dalam, ia segera memegang batu penggilingan dan mulai menggiling gandum atau jagung. Boleh jadi pemilik rumah mengatakan, “Jika setan asing ini mau melakukan pekerjaan yang berat bagi kita, biar saja.” Akhirnya, pemilik rumah tersebut tidak sampai hati, sesuai dengan sifat etis mereka, mereka memberinya makanan atau minuman. Dengan demikian misionaris tersebut memiliki kesempatan untuk berbicara dengan mereka mengenai Tuhan. Sedikit demi sedikit, melalui kesaksian yang dipikul dengan kayu penaga sedemikian ini, berbagai belahan negara China yang kolot terbuka bagi Injil. Saya bersujud kepada Tuhan karena hal ini, dan bersyukur kepada-Nya karena Ia telah mengutus misionaris-misionaris yang terbaik dan orang-orang yang paling rohani untuk bekerja bagi-Nya di China.

Hari ini bagi kesaksian Kristus kita juga memerlukan kayu pengusung yang dibuat dari kayu penaga. Tetapi, beberapa orang Kristen menggunakan musik “rock” dan pertunjukan sendirian untuk memberitakan Injil. Namun kesaksian Tuhan tidak dipikul dengan cara-cara yang demikian. Sebaliknya, kesaksian Tuhan dipikul oleh keinsanian kita yang telah diubah dan yang bersifat serta berstandar tinggi. Keinsanian ini merupakan kekuatan bagi pergerakan Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah.

C. DISALUT DENGAN EMAS

Keluaran 25:13 mengatakan, “Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas.” Kayu penaga yang disalut dengan emas di sini menandakan bahwa sifat ilahi Kristus merupakan ekspresi pergerakan-Nya. Jika kita memiliki kayu penaga dalam hidup kita, maka emas, yaitu sifat ilahi Kristus, akan terekspresi.

D. PERGERAKAN KRISTUS SEBAGAI KESAKSIAN ALLAH

ADALAH OLEH KEDUA SIFAT-NYA YANG BERBAUR MENJADI SATU

Pergerakan Kristus sebagai kesaksian Allah adalah selalu oleh kedua sifat-Nya, yaitu sifat insani dan ilahi yang berbaur menjadi satu. Ketika para rasul dan misionaris terbaik sedang memikul kesaksian Yesus, mereka tidak hanya menempuh hidup insani yang dipertinggi, tetapi juga memiliki sifat ilahi yang terekspresi melalui keinsanian mereka. Hal ini dengan jelas ditunjukkan dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman.

E. DUA KAYU PENGUSUNG

Fakta bahwa terdapat dua kayu pengusung menandakan pergerakan Kristus bukanlah secara individu, melainkan oleh kesaksian yang korporat.

F. KAYU PENGUSUNG DIMASUKKAN KE DALAM

GELANG EMAS UNTUK MENGUSUNG TABUT PERJANJIAN

Ayat 15 mengatakan, “Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya.” Kayu pengusung itu dimasukkan ke dalam gelang emas untuk mengusung tabut perjanjian. Ini menandakan bahwa pergerakan Kristus adalah oleh orang-orang yang memikul kesaksian Allah dalam tubuh mereka di dalam kekuatan kesatuan sifat ilahi Kristus. Pergerakan ini bukan oleh orang-orang yang menarik tabut perjanjian, karena dengan demikian akan terdapat jarak antara tabut perjanjian dengan orang-orang yang menariknya. Cara Allah dalam mengangkut tabut perjanjian adalah dengan memikulnya di bahu orang-orang yang telah ditunjuk untuk memikulnya. Ini menunjukkan bahwa para saksi, yaitu orang-orang yang memikul tabut kesaksian, harus bersatu dengan tabut tersebut.

Dalam Perjanjian Lama, terdapat dua contoh yang menunjukkan bahwa tabut kesaksian diangkut dengan cara yang tidak tepat. Pertama, dalam 1Samuel 6:7-8, orang-orang Filistin yang merampas tabut itu memindahkannya dengan cara meletakkannya di atas sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor lembu. Karena orang-orang Filistin adalah orang kafir, maka Allah “memaafkan” kesalahan ini. Kedua, setelah Daud menjadi raja, ia menggunakan sebuah kereta yang ditarik oleh lembu untuk mengangkut tabut perjanjian (2Sam. 6:3-7).

Ketika “. . . Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu” (ayat 6-7). Allah tidak memperkenankan tabut perjanjian diangkut secara demikian, dan Ia menghukum orang yang menjamahnya.

Kita harus berhati-hati dan menggunakan cara yang tepat untuk memikul kesaksian Tuhan hari ini. Jika Anda memperhatikan publikasi tertentu dari orang-orang Kristen, Anda akan melihat bahwa “kereta” yang ditarik oleh “binatang” itu masih digunakan untuk membawa kesaksian Tuhan. Pada dasarnya, bahkan cara-cara yang lebih buruk pun digunakan. Apakah pemulihan Tuhan dipikul di atas benda-benda yang sedemikian ini? Tentu tidak! Cara yang tepat ialah memiliki hubungan langsung dengan Tuhan Yesus. Kita harus memikul Kristus di bahu kita. Ini berarti tidak seharusnya terdapat jarak antara kita dengan Dia. Jika kita hendak memikul-Nya sebagai kesaksian Allah, kita harus bersatu dengan Dia.

Paulus memberitakan kesaksian Yesus dengan jalan berbicara dan menulis. Ia tidak menggunakan tipu muslihat apa pun. Ia memikul kesaksian itu dengan kehidupannya. Demikian pula, kesaksian Tuhan harus menjadi satu dengan kita hari ini. Ini berarti kehidupan kita harus memikul kesaksian. Selama kita memperhidupkan Kristus, kita memikul-Nya ke mana saja kita pergi.

G. KEDUA KAYU PENGUSUNG ITU TETAP TINGGAL

DALAM GELANG TABUT PERJANJIAN

Menurut Keluaran 25:15, kayu-kayu pengusung itu harus tetap tinggal dalam gelang tabut perjanjian. Ini menandakan kesediaan kita bagi pergerakan Kristus sebagai kesaksian Allah. Kita harus selalu siap bergerak bagi kesaksian Allah. Kita harus memiliki gelang dan kayu pengusung, dan kayu pengusung ini harus berada di dalam gelang. Untuk sejangka waktu lamanya, mungkin kita tinggal di tempat kita berada. Tetapi pada suatu saat mungkin Tuhan akan memindahkan kita ke kota lain, bahkan ke negara lain. Kita harus selalu siap untuk maju, bergerak bersama kesaksian Tuhan.

IX. LOH HUKUM (KESAKSIAN) DITARUH

DALAM TABUT PERJANJIAN

Keluaran 25:16 mengatakan, “Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh kesaksian yang akan Kuberikan kepadamu” (Tl.). Karena kesaksian, yaitu hukum Taurat, ditaruh dalam tabut perjanjian, maka tabut perjanjian menjadi tabut kesaksian (ayat 22 Tl.). Kita telah melihat bahwa kesaksian di sini, yaitu hukum Taurat, bukan mengacu kepada peraturan-peraturan yang harus dilaksanakan oleh umat Allah, melainkan menyatakan suatu gambaran, lukisan, dan potret dari Allah yang hidup. Karena hukum Taurat adalah gambaran Allah, maka hukum Taurat merupakan kesaksian-Nya. Hari ini hukum Allah, yaitu hukum yang hidup, adalah kesaksian Allah yang tinggal di dalam Kristus secara jasmaniah (Kol. 2:2), membuat-Nya menjadi kesaksian Allah. Haleluya, Kristus adalah kesaksian Allah, dan kita adalah orang-orang yang memikul-Nya!