TABUT KESAKSIAN (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 25:10-11
Keluaran 25:10 mengatakan, “Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga.” Menurut ayat 22, tabut perjanjian ini disebut “tabut kesaksian” (Tl.). Dalam Kitab Keluaran, kesaksian mengacu kepada hukum. Allah menganggap hukum Taurat yang dititahkan melalui Musa di Gunung Sinai sebagai kesaksian-Nya.
Potret seseorang adalah kesaksian dari orang tersebut. Misalnya saya tidak pernah berjumpa dengan seorang saudara. Bila seseorang menunjukkan kepada saya potret dari saudara itu, maka saya pun melihat kesaksian tentang saudara itu. Sebagai penjelasan tentang dirinya, potret saudara itu telah menggambarkan tentang dia, merupakan kesaksiannya.
Dari Kejadian 1 kita tahu bahwa dalam penciptaan-Nya, Allah telah merampungkan banyak perkara. Tetapi, Kejadian 1 tidak mewahyukan seperti apa Allah kita ini. Dari pasal ini kita tidak tahu apakah Allah itu Allah pengasih atau Allah pembenci, Allah kegelapan atau Allah terang. Kita tidak tahu apakah Allah itu kudus atau umum, adil atau tidak adil. Hukum Taurat diberikan agar kita dapat memiliki suatu gambaran, yaitu suatu penjelasan mengenai Allah, sehingga kita dapat mengenal apa adanya Dia. Untuk inilah, Allah menganggap hukum Taurat sebagai kesaksian-Nya. Sebagai kesaksian Allah, hukum Taurat merupakan lambang Kristus. Kristus adalah gambar Allah yang hidup yaitu definisi dan penjelasan-Nya yang hidup. Jadi, Kristus adalah kesaksian Allah yang riil.
Sebagaimana Kristus merupakan kesaksian Allah, demikian pula gereja merupakan kesaksian Kristus. Gereja adalah gambaran, potret mengenai Kristus, karena itu, gereja adalah kesaksian Kristus.
Kita telah melihat bahwa tabut perjanjian disebut “tabut kesaksian” atau “tabut kesaksian itu”. Baik memakai kata sandang atau tidak, artinya tetap sama. Selanjutnya, Kemah Suci disebut Kemah Kesaksian (Kel. 38:21 Tl.), karena loh hukum berada di dalam tabut, dan tabut itu berada di dalam Kemah Suci. Dalam berita mengenai 16 pasal terakhir dari Kitab Keluaran ini, bila kita membicarakan tentang tabut kesaksian atau Kemah Kesaksian, kita harus menyadari bahwa kata “kesaksian” mengacu kepada hukum Taurat. Namun, kata “kesaksian” menyatakan bahwa hukum Taurat adalah definisi akan Allah, bukan sebagai perintah yang harus kita pelihara.
Dalam berita mengenai Keluaran 19 dan 20, saya telah menekankan fakta bahwa berlawanan dengan konsepsi orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen, hukum Taurat diberikan bukan untuk kita pelihara, melainkan untuk mewahyukan Allah kita adalah Allah yang bagaimana. Sebagai kesaksian Allah, hukum Taurat benar-benar menawan (menarik). Roma 7:12 mengatakan, “Jadi, hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar, dan baik.” Dalam Roma 7:14, Paulus mengatakan, “hukum Taurat bersifat rohani.” Hukum Taurat itu kudus, adil (benar), baik, dan rohani, karena hukum Taurat adalah gambar Allah. Kita harus mengasihi hukum Taurat, karena hukum Taurat adalah gambar Allah.
Kesaksian Allah, yaitu hukum Taurat, diletakkan di dalam tabut perjanjian untuk disimpan. Tabut Perjanjian ibarat sebuah lemari besi yang digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting atau barang-barang berharga. Di dalam Kemah Kesaksian terdapat sebuah “lemari besi” untuk menyimpan hukum, yaitu kesaksian Allah. Jadi, tabut kesaksian adalah lemari besi ilahi untuk menyimpan “potret” Allah.
I. BAGIAN UTAMA DARI PERABOTAN KEMAH SUCI
Tabut kesaksian merupakan bagian yang utama dari perabotan Kemah Suci. Kemah Suci memiliki sejumlah perabotan penting: mezbah dan bejana pembasuhan di pelataran luar; meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah pembakaran ukupan di tempat kudus; serta tabut perjanjian di tempat maha kudus, yaitu ruang yang terdalam dari Kemah Suci. Yang utama dari perabotan-perabotan ini ialah tabut perjanjian. Sebagai bagian yang utama, tabut perjanjian menempati ruang yang terbaik. Dari Keluaran 40:2-3 kita tahu bahwa tabut perjanjian berada dalam Kemah Suci, sedangkan Keluaran 40:20-21 mengatakan bahwa tabut perjanjian berada dalam tempat maha kudus.
Untuk memiliki pengertian yang tepat mengenai Kemah Suci dengan segala perabotannya, kita harus tahu dengan jelas akan denah Kemah Suci yang meliputi mezbah dan bejana pembasuhan di pelataran luar, meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah pembakaran ukupan di tempat kudus, serta tabut perjanjian di tempat maha kudus. Kita harus memiliki pengertian yang jelas mengenai letak masing-masing bagian yang berkenaan dengan Kemah Suci.
II. MELAMBANGKAN KRISTUS
A. SEBAGAI PERWUJUDAN KESAKSIAN ALLAH
Tabut perjanjian, mezbah pembakaran ukupan, meja roti sajian, dan kaki pelita, semuanya melambangkan Kristus. Kristus memiliki banyak sekali aspek, dan keempat benda ini menunjukkan berbagai aspek mengenai diri-Nya. Sebagai lambang Kristus, tabut perjanjian melambangkan Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah. Kristus adalah perwujudan Allah. Tabut perjanjian sebagai perwujudan kesaksian Allah melambangkan Kristus sebagai perwujudan Allah. Semua apa adanya Allah diwujudkan di dalam Kristus. Kolose 2:9 mengatakan bahwa seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus. Penggunaan istilah “perwujudan” ini berdasarkan ayat di atas. Karena Allah diwujudkan di dalam Kristus, maka Ia digambarkan, didefinisikan, dan dijelaskan oleh Kristus. Kristus adalah definisi Allah, penjelasan Allah. Sebagai kesaksian Allah, Kristus dilambangkan dengan tabut kesaksian.
Dalam Kolose 2:9, kita memiliki pernyataan yang jelas yang mengatakan bahwa seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam secara jasmaniah di dalam Kristus. Pada tabut kesaksian kita memiliki gambaran, lambang, yang sesuai dengan pernyataan di atas. Dalam mengajar anak-anak kecil untuk dapat membaca, seorang guru sering menunjukkan sebuah gambar atau benda dengan kata-kata yang dituliskan di bawahnya. Sebagai contoh, gambar pesawat terbang dengan tulisan “pesawat terbang” di bawahnya. Dalam Alkitab, kita memiliki gambar juga memiliki kata-kata yang jelas. Mengenai Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah, kita memiliki kata-kata yang jelas dalam Kolose 2:9, dan gambar tabut perjanjian dalam Kitab Keluaran.
B. UNTUK UMAT TEBUSAN ALLAH BERKONTAK DENGAN DIA DAN MENIKMATI-NYA
Allah ada di dalam Kristus. Terpisah dari Kristus kita tidak dapat berjumpa dengan Allah. Tidak hanya Allah ada di dalam Kristus, sesungguhnya, Kristus sendiri adalah Allah. Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman yang adalah Kristus, bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah. Dalam Roma 9:5, Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah Allah yang dipuji sampai selama-lamanya. Yesus, seorang tukang kayu dari Nazaret, benar-benar adalah Allah atas segala sesuatu dan dipuji sampai selama-lamanya. Satu-satunya jalan bagi kita untuk berkontak dengan Allah dan menikmati-Nya ialah melalui Kristus dan di dalam Kristus.
Karena orang-orang Yahudi tidak berkontak dengan Allah di dalam Kristus, mereka tidak memiliki hubungan yang sejati dengan Allah dan tidak menikmati Allah meskipun mungkin mereka beribadah kepada Allah. Belum tentu orang-orang Yahudi hari ini memiliki pengertian tentang menikmati Allah. Sebaliknya, mereka menekankan takut akan Allah, menyembah Allah, mengagungkan Allah, dan memuja Allah. Mungkin mereka merasa heran melihat kita membicarakan tentang berkontak dengan Allah dan menikmati-Nya. Tetapi Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Allah telah datang di dalam Kristus, sehingga kita dapat berkontak dengan Dia, menerima Dia, dan menikmati Dia. Sebagai tabut kesaksian, Kristus adalah untuk kita, agar kita dapat berkontak dengan Allah dan menikmati-Nya.
III. PUSAT KEMAH KESAKSIAN
A. MENYATAKAN PUSAT TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Jika kita melihat denah Kemah Suci, kita akan merasa heran mengapa tabut kesaksian dikatakan sebagai pusat Kemah Kesaksian (Kel. 38:21 Tl.). Tetapi dalam Alkitab, bagian yang paling dalamlah yang dianggap sebagai pusat. Sebagai contoh, meskipun jantung kita tidak terletak tepat di tengah-tengah tubuh kita, kita menganggapnya sebagai pusat. Demikian pula, karena tempat maha kudus adalah bagian yang paling dalam dari Kemah Suci, maka tempat maha kudus merupakan pusat Kemah Suci. Tempat maha kudus adalah fokus Kemah Suci, dan menyatakan pusat tempat kediaman Allah. Allah tinggal di dalam Kemah Suci, bukan di pelataran luar maupun di tempat kudus. Ia tinggal di dalam tempat maha kudus. Tabut perjanjian di dalam tempat maha kudus menyatakan pusat tempat kediaman Allah, yaitu gereja (Ef. 2:21-22).
Tutup tabut perjanjian sama dengan takhta anugerah (kasih karunia) dalam Ibrani 4:16. Di atas tutup tabut perjanjian inilah Allah tinggal, yaitu di atas takhta anugerah. Inilah tempat Allah berada. Dalam Perjanjian Lama, tempat ini berada dalam Kemah Kesaksian. Tetapi dalam Perjanjian Baru, tempat ini berada di dalam gereja. Gereja hari ini adalah kemah Allah, yaitu tempat kediaman-Nya.
B. MENYATAKAN ISI RUMAH ALLAH
Tabut perjanjian juga menyatakan isi gereja sebagai rumah Allah (1Tim. 3:15-16). Sebagaimana tabut perjanjian yang adalah perwujudan kesaksian Allah adalah isi Kemah Suci, demikian pula Kristus sebagai perwujudan Allah adalah isi gereja. Banyak orang Kristen yang berdebat mengenai siapa gereja hari ini. Beberapa orang di antara mereka bertanya, “Mengapa kalian mengatakan bahwa kalian adalah gereja? Bukankah kami juga gereja?” Ketika pertanyaan ini timbul, mungkin dalam batin kita berkata, “Kalian menuntut untuk menjadi gereja. Tetapi apa isi kalian? Apakah kalian memiliki Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah?”
Di bagian dalam, gereja harus memiliki Kristus sebagai isi secara realitas, dan bukan hanya sebagai sebutan saja. Di bagian luar, gereja harus berada pada tumpuan yang tepat, yaitu tumpuan keesaan. Tumpuan ini juga adalah tumpuan lokal. Setiap tumpuan selain tumpuan lokal bukanlah tumpuan keesaan. Gereja di Yerusalem didirikan di atas tumpuan lokal Yerusalem. Karena itu, gereja di Yerusalem didirikan di atas tumpuan keesaan. Di antara orang-orang Kristen hari ini terdapat apa yang disebut gereja-gereja yang didirikan di atas tumpuan yang berbeda-beda, misalnya tumpuan presbiterian, baptisan, dan ajaran-ajaran tertentu. Semua tumpuan ini merupakan dasar berpecah belah. Tumpuan-tumpuan ini bukan tumpuan keesaan yang unik dan sejati.
Jika kita mau menjadi gereja, kita harus memenuhi persyaratan yang di luar dan yang di dalam tersebut. Persyaratan yang di luar ialah tumpuan keesaan, sedangkan persyaratan yang di dalam ialah Kristus sebagai isi, yaitu sebagai perwujudan kesaksian Allah. Jika kita berkata bahwa kita adalah gereja, kita harus memiliki Kristus bukan hanya sebagai sebutan, melainkan secara realitas memiliki Dia sebagai perwujudan kesaksian Allah yang hidup. Kelompok orang Kristen tertentu sebenarnya adalah lembaga kemasyarakatan, bukan gereja, karena isi mereka adalah sesuatu yang bukan Kristus. Gereja adalah Tubuh Kristus dengan Kristus sebagai hayat dan segala sesuatu. Isi gereja ialah Kristus sebagai perwujudan kesaksian Allah.
IV. BAHAN TABUT
A. KAYU PENAGA
1. Menyatakan Keinsanian Kristus
Keluaran 25:10 mengatakan, “Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga.” Tabut perjanjian bukan dibuat dari emas. Tabut perjanjian dibuat dari kayu penaga, yang menyatakan keinsanian Kristus yang berkarakter kuat dan berstandar tinggi. Keinsanian Kristus adalah unsur dasar, yaitu substansi dasar bagi Dia untuk menjadi kesaksian Allah. Kristus menjadi perwujudan kesaksian Allah di dalam keinsanian-Nya.
Kayu penaga adalah lambang keinsanian Kristus. Kristus adalah manusia sejati. Ia dilahirkan oleh seorang ibu insani, berbagian dengan darah dan daging manusia, memiliki nama manusia Yesus, dan hidup di bumi sebagai manusia. Keinsanian-Nya adalah substansi dasar bagi Dia untuk menjadi kesaksian Allah.
Keinsanian Kristus bersifat kuat dan berstandar tinggi. Tidak ada seorang pun dalam sejarah yang memiliki keinsanian yang bersifat kuat dan berstandar tinggi seperti Tuhan Yesus. Kaum terpelajar China sangat menghargai Konghucu. Ya, memang Konghucu memiliki sifat yang kuat dan berstandar tinggi, tetapi tidak ada persamaan antara dia dengan Tuhan Yesus. Dalam Injil Markus dan Lukas kita melihat karakter dan standar keinsanian Kristus. Injil Matius menekankan kerajaan, dan Injil Yohanes menekankan hayat, sedangkan Injil Markus dan Lukas menekankan keinsanian Tuhan dengan karakter dan standar-Nya. Kitab-kitab ini mencatat hayat dari satu Persona yang memiliki karakter yang kuat dan standar yang tinggi berkenaan dengan keinsanian-Nya.
2. Menyatakan Keinsanian Kristus Adalah Substansi Dasar untuk Mengekspresikan Allah
Kayu penaga yang digunakan untuk membuat tabut perjanjian juga menyatakan keinsanian Kristus adalah substansi dasar untuk mengekspresikan Allah. Untuk menjadi kesaksian Allah, yaitu ekspresi-Nya, Kristus memerlukan keinsanian dengan karakter yang kuat dan berstandar tinggi.
B. EMAS MURNI
1. Menyatakan Keilahian Kristus
Keluaran 25:11 mengatakan, “Haruslah mereka menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya.” Emas murni ini menyatakan keilahian Kristus. Logam lain dapat berkarat atau lapuk, tetapi substansi emas tidak dapat berubah. Karena itu, emas menyatakan Allah yang selamanya tidak berubah. Kristus adalah Persona yang memiliki sifat insani dan sifat ilahi. Karena Ia adalah manusia juga Allah, maka Ia dapat disebut Manusia-Allah.
Hari ini ada beberapa orang menentang istilah Manusia-Allah untuk menerangkan Kristus. Beberapa orang bahkan menuduh kita bidah berkenaan dengan Persona Kristus. Orang-orang yang menyalahkan kita ini tidak memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai kebenaran. Teologi mereka dangkal, tradisional, alamiah, agamawi, picik, bahkan takhayul. Mereka belum menjamah kedalaman wahyu Allah mengenai Kristus.
Ada guru-guru Alkitab menyatakan bahwa meskipun Kristus adalah Allah juga manusia dalam kehidupan insani-Nya, tetapi setelah kebangkitan-Nya, Ia bukan lagi manusia. Mereka sangat yakin bahwa kini Kristus bukan lagi manusia, sebagai Dia yang bangkit, Dia tidak lagi memiliki sifat insani. Beberapa guru terkemuka di antara Kaum Saudara berperang bagi kebenaran tentang keinsanian Kristus setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya. Pengalaman Stefanus pada waktu mati martir membuktikan bahwa Tuhan Yesus tetap seorang manusia. Menurut Kisah Para Rasul 7:55, “Stefanus, . . . menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” Kemudian ia berkata, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (ayat 56). Ini membuktikan bahwa setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya, Kristus tetap seorang manusia. Pada hari kebangkitan-Nya, Tuhan menunjukkan kepada murid-murid-Nya tangan dan lambung-Nya yang pernah tertusuk. Ini juga membuktikan bahwa Ia masih memiliki sifat insani.
Kita harus berpaling dari teologi yang dangkal kepada wahyu yang sempurna dalam Alkitab. Menurut Alkitab, sampai selama-lamanya Kristus adalah Allah dan juga manusia. Ia dilambangkan oleh tabut perjanjian yang dibuat dari kayu penaga yang disalut dengan emas murni.
2. Melapisi Kayu Penaga
pada Bagian Dalam dan Luarnya
Kayu penaga disalut dengan emas pada bagian dalam dan luarnya. Ini menyatakan sifat ilahi yang berbaur dengan sifat insani Allah dan manusia menjadi satu. Ini juga menyatakan sifat ilahi meresap dan tinggal pada sifat insani, sehingga sifat ilahi ini dapat diekspresikan melalui sifat insani. Jika hanya bagian luar dari tabut perjanjian saja yang disalut dengan emas, ini akan menyatakan persatuan, bukan perbauran. Perbauran dinyatakan dengan fakta bahwa kayu penaga disalut dengan emas pada bagian luar dan dalamnya. Kayu penaga berada di antara dua lapisan emas. Inilah perbauran.
Gambaran lain mengenai perbauran ialah dalam kurban sajian yang dijelaskan dalam Imamat 2. Unsur dasar dari kurban sajian ialah tepung yang terbaik dan minyak. Minyak dibaurkan dan juga dituangkan di atas tepung. Tepung yang terbaik ada di dalam minyak, dan minyak ada di dalam tepung yang terbaik itu. Demikian pula hubungan kita dengan Tuhan, kita ada di dalam Allah, dan Allah ada di dalam kita. Perbauran ini dilambangkan oleh kurban sajian dengan minyak yang dibaurkan dengan tepung, serta tabut kesaksian dengan kayu penaga yang disalut dengan emas pada bagian dalam dan luarnya. Kedua lambang ini tidak hanya menunjukkan persatuan, tetapi juga perbauran.
Hari ini ada beberapa orang yang menentang ajaran yang mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita berbaur dengan Dia. Mereka mengatakan jika kita mengajarkan kaum beriman itu berbaur dengan Allah, berarti kita mengajarkan bahwa sebenarnya kita menjadikan diri kita sendiri sebagai Allah. Tidak perlu disangsikan, seba-gai umat tebusan Allah, yaitu orang-orang yang dilahirkan oleh-Nya, kita benar-benar memiliki hayat dan sifat Allah. Bagaimana mungkin seorang anak tidak memiliki hayat dan sifat ayahnya? Dalam prinsip yang sama, bagaimana mungkin sebagai anak-anak Allah yang sejati, yaitu yang dilahirkan oleh Allah, kita tidak memiliki hayat dan sifat yang sama dengan Dia? Saya ulangi, sebagai anak-anak Allah, kita benar-benar memiliki hayat dan sifat Allah. Tetapi meskipun kita ikut mengambil bagian dalam sifat ilahi Allah, kita tidak akan pernah mencapai ke-Allahan atau disembah sebagai Allah. Mengatakan bahwa kita akan mencapai ke-Allahan dan disembah sebagai Allah adalah suatu penghujatan terhadap Tuhan. Sebaliknya, juga merupakan suatu kekeliruan yang serius jika kita menolak fakta bahwa kaum beriman di dalam Kristus memiliki hayat dan sifat ilahi.
Yesus Kristus adalah Manusia-Allah, yaitu perbauran antara Allah dan manusia. Ia adalah Allah sejati dan juga manusia sejati. Orang-orang yang menentang ajaran kita mengenai perbauran antara Allah dengan manusia menyatakan bahwa perbauran tersebut akan mengakibatkan adanya sifat ketiga, yaitu sifat yang bukan ilahi maupun insani. Hal ini tidak mungkin, dan kita menentangnya. Apabila kayu penaga dari tabut perjanjian dilapisi dengan emas murni, tidak akan timbul sifat ketiga. Demikian pula, apabila minyak dibaurkan dengan tepung yang terbaik, tidak akan timbul sifat ketiga, yaitu sesuatu yang bukan minyak juga bukan tepung. Kristus adalah satu Persona dengan dua sifat, yaitu sifat ilahi dan insani. Meskipun keilahian berbaur dengan keisanian, tetapi perbauran ini tidak menimbulkan sifat ketiga. Kita benar-benar tidak mengajarkan bahwa Kristus itu bukan Allah juga bukan manusia. Berdasarkan Alkitab, kita mengajarkan bahwa Ia adalah Allah dan juga manusia, oleh karena itu, Ia adalah Manusia-Allah.
V. UKURANNYA
Keluaran 25:10 memberi tahu kita tentang ukuran tabut perjanjian: “Dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya.” Perhatikan bahwa semua ukuran ini merupakan setengah bagian dari satuan yang utuh. Dua setengah hasta panjangnya, merupakan setengah bagian dari lima hasta; dan satu setengah hasta lebar dan tingginya, merupakan setengah bagian dari tiga hasta. Angka 5 dan 3 adalah angka dari pembangunan Allah (Kej. 6:15-16). Bahtera yang didirikan oleh Nuh merupakan pembangunan Allah yang pertama dalam Alkitab. Ukuran bahtera itu memakai angka 3 dan 5. Jika dengan teliti kita membaca penjelasan mengenai ukuran Kemah Suci dalam Kitab Keluaran, maka kita akan menemukan bahwa angka 5 dan 3 disebutkan berkali-kali. Tetapi, ukuran tabut kesaksian adalah setengahnya. Ini menyatakan bahwa tabut perjanjian adalah suatu kesaksian, menyiratkan bahwa setengah bagian lainnya diperlukan bagi kesaksian yang sempurna. Sebagai contoh, setengah bagian dari sebuah semangka membuat kita tahu bahwa setengah bagian lainnya diperlukan untuk kebulatan semangka itu. Lagi pula, dalam hidup pernikahan kadang-kadang kita mengatakan bahwa seorang istri adalah separuh bagian dari suaminya. Jadi, suami dan istri bersama-sama membuat satu satuan yang utuh. Fakta bahwa dua setengah hasta adalah setengah bagian dari lima, dan satu setengah hasta adalah setengah bagian dari tiga, menunjukkan bahwa tabut perjanjian adalah satu kesaksian. Setengah bagian menunjukkan adanya bagian yang lain, dan kedua bagian tersebut ditaruh bersama-sama untuk membentuk kesaksian.
Setiap penjelasan yang rinci dalam Alkitab, termasuk ukuran tabut diberikan dalam ukuran setengah bagian dari satuan yang utuh. Ini sangat bermakna.
VI. BINGKAI EMAS SEKELILING TABUT
Ayat 11 mengatakan, “Dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya.” Bingkai tersebut merupakan batas dalam bentuk untaian emas sebagai mahkota; versi King James bahkan menggunakan kata “mahkota”. Sebagai perwujudan kesaksian Allah, Kristus memiliki bingkai, yaitu untaian emas sebagai mahkota. Bingkai emas ini menandakan kemuliaan sifat ilahi. Kristus sebagai perwujudan Allah mengekspresikan Allah dengan jalan menyatakan kemuliaan-Nya. Kemuliaan Allah berada pada diri Kristus sebagai batas, yaitu bingkai. Bingkai yang berada pada diri Kristus ini adalah kemuliaan Allah, cahaya kemuliaan-Nya, yang mengekspresikan Allah. Lagi pula, kemuliaan sifat ilahi sebagai bingkai ini menandakan kuasa pemelihara dan daya pegang ilahi.
Bila sebagai kesaksian Kristus yang hidup kita memperhidupkan Dia, akan terdapatlah bingkai kemuliaan pada diri kita. Orang lain akan merasakan adanya sesuatu yang ajaib dan mulia menyertai kita. Bingkai kemuliaan ini akan memelihara dan memegang kita. Tetapi, jika kita tidak memperhidupkan Kristus secara demikian, kita tidak akan memiliki bingkai dengan kuasa pemelihara dan daya pegang ini. Sebenarnya, apa yang memelihara dan memegang kita adalah Kristus yang kita perhidupkan hari demi hari. Puji Tuhan atas bingkai emas yang bagi kita merupakan kuasa pemelihara dan daya pegang itu.