← Daftar isi Keluaran (6) · bab 4/17

VISI TENTANG KEMAH SUCI DAN PERABOTANNYA BERKENAAN DENGAN BAHAN DAN MODELNYA (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 25:1-9

Dalam dua berita sebelum ini, kita telah membahas visi tentang Kemah Suci dan perabotannya. Orang-orang Israel dapat melihat visi ini hanya setelah mereka memiliki pengalaman permulaan atas Paskah, penyeberangan Laut Merah, Mara dan Elim, kenikmatan atas manna, kenikmatan atas air hidup yang mengalir dari batu karang yang terbelah, dan peperangan melawan orang-orang Amalek. Kemudian bangsa itu dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah di Gunung Sinai, di mana mereka menerima hukum Taurat Allah. Di satu pihak, hukum Taurat mewahyukan macam apa Allah itu; di pihak lain, hukum Taurat menyingkapkan keadaan bangsa yang telah jatuh, berdosa, dan bobrok itu. Visi tentang Kemah Suci diberikan kepada Musa di puncak gunung ketika ia tinggal bersama Allah di bawah kemuliaan-Nya selama 40 hari 40 malam.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam Keluaran 25:1-9 disebutkan tiga kategori bahan: mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang (hewan). Semua bahan itu menunjukkan kebajikan persona dan pekerjaan Kristus, yang dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan tatangan bagi pembangunan tempat kediaman-Nya. Emas, mineral yang disebutkan lebih dulu, melambangkan sifat ilahi Kristus. Dalam berita ini kita akan melanjutkan melihat mineral-mineral lainnya, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan modelnya (polanya).

2. Perak, Melambangkan Pekerjaan Penebusan Kristus

Perak, mineral kedua, melambangkan pekerjaan penebusan Kristus. Kita tidak seharusnya memahami pekerjaan penebusan ini secara dangkal. Penebusan meliputi pengakhiran dan penggantian. Kita diciptakan dan dipilih oleh Allah bagi diri-Nya sendiri. Namun, karena kita jatuh dan gagal, maka kita memerlukan Kristus untuk menebus kita. Sebagai orang-orang yang telah jatuh, kita juga perlu diakhiri. Jadi, di atas salib, Kristus telah menyalibkan kita, Ia telah mengakhiri kita. Selanjutnya, melalui penebusan-Nya, Kristus menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita untuk menjadi pengganti kita. Semua ini penebusan, pengakhiran, dan penggantian dilambangkan oleh perak. Perak mempersaksikan bahwa kita telah ditebus, diakhiri, dan digantikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus mempersaksikan bahwa kita adalah orang-orang yang telah ditebus, diakhiri, dan digantikan. Bahkan kaum muda yang duduk di bangku SMA pun harus memiliki kesaksian yang demikian, sehingga orang lain dapat berkata, “kaum muda ini adalah manusia biasa, tetapi ada sesuatu yang ajaib mengenai mereka. Agaknya mereka ini istimewa, sehingga aku sukar menjelaskannya.” Semakin kita digantikan oleh Kristus, kita akan semakin menakjubkan. Puji Tuhan, Kristus telah menebus dan mengakhiri kita, sehingga kini Ia berada dalam proses menggantikan kita! Inilah pengalaman atas Kristus sebagai perak kita.

Bila kita mengalami Kristus sebagai perak dan mendapatkan-Nya dalam cara yang sedemikian sebagai harta mustika kita, maka kita harus membawa harta ini ke dalam sidang-sidang gereja. Ketika kita berfungsi dengan membebaskan roh kita, di dalam ibadah kita harus mempersembahkan perak yang telah kita peroleh, kita nikmati, dan kita alami kepada Allah. Ibadah semacam inilah yang Allah kehendaki. Ia bukan menghendaki kita merebahkan diri di hadapan-Nya, dan Ia tidak ingin mendengarkan pertunjukan paduan suara. Ibadah yang dapat diterima oleh Allah ialah ibadah yang di dalamnya kita mempersembahkan Kristus yang telah kita alami dan kita dapatkan kepada Allah sebagai persembahan tatangan. Ibadah yang demikian tidak hanya dapat diterima oleh Allah, tetapi juga dapat membangun kaum beriman. Melalui sidang demi sidang, kita semua harus dibangun secara demikian.

3. Tembaga, Melambangkan Pengujian Penghakiman Allah

Tembaga melambangkan pengujian penghakiman Allah. Kristus sebagai manusia telah berkali-kali diuji. Sepanjang hidup-Nya di bumi Ia diuji; Ia juga diuji ketika menghadapi para imam, Herodes, dan Pilatus, dan dijatuhi hukuman mati. Selain itu, Kristus diuji oleh Allah. Setiap hari dalam hidup-Nya, Kristus berada di bawah pengujian Allah.

Dalam perlambangan, tembaga melambangkan pengujian penghakiman Allah. Itulah sebabnya mezbah di pelataran luar dibuat dari tembaga sebagai pengganti emas. Mezbah adalah sarana dan tempat pengujian. Demikianlah, mezbah melambangkan salib sebagai sarana dan tempat di mana kita diuji oleh Allah.

Ular tembaga yang ditaruh pada sebuah tiang dalam Bilangan 21:9, merupakan lambang Kristus sebagai Dia yang diserupakan dengan daging dosa, dan ditaruh di atas salib untuk dihakimi oleh Allah. Sebagaimana ular tembaga ditaruh di atas tiang, demikian pula Kristus ditaruh di atas salib untuk diuji oleh Allah. Dalam segala hal Ia mampu menghadapi pengujian Allah dan melewatinya.

Sehari-hari kita juga berada di bawah pengujian Allah. Kehidupan yang kita tempuh di rumah, di tempat kerja, dan di sekolah, merupakan sasaran pengujian Allah. Apa yang dikatakan oleh seorang saudara kepada istrinya akan diuji oleh Allah, dan sikap seorang anak muda kepada guru dan teman-temannya pun akan diuji. Allah bahkan akan menguji motivasi, tujuan, dan segala sesuatu yang ada di dalam hati kita. Ketika kita mengalami pengujian Allah, kita tidak hanya memperoleh emas dan perak, tetapi juga tembaga. Ini menyebabkan kita menjadi orang-orang yang berbeda, yaitu orang-orang yang tidak sembarangan dalam bertindak-tanduk, berbicara, dan bersikap. Orang yang mengalami tembaga adalah orang yang berada di bawah salib, yaitu di bawah pengujian Allah.

Di bawah pengujian Allah, seorang anak muda mungkin akan diuji oleh-Nya ketika ia sedang berbicara atau melakukan sesuatu di sekolahnya. Seorang saudara juga akan mengalami pengujian Allah berkaitan dengan istrinya. Mungkin ia bermaksud mengucapkan perkataan yang keras terhadap istrinya. Dalam hal ini Tuhan mungkin mengujinya sehingga ia menyadari bahwa tidak seharusnya ia mengucapkan perkataan yang demikian. Daripada mengucapkan perkataan yang negatif terhadap istrinya, lebih baik saudara itu mengucapkan perkataan yang positif kepada Tuhan, “Tuhan, alangkah baik dan berhikmatnya Engkau! Tuhan, aku mengasihi-Mu, dan aku mengasihi keluargaku.” Melalui pengalaman yang sedemikian ini, saudara itu akan memperoleh beberapa pengalaman atas tembaga.

Mula-mula, kita harus memperoleh tembaga dari pengalaman sehari-hari kita bersama Tuhan. Kemudian kita harus membawanya ke dalam sidang, dan selama kita berfungsi dengan membebaskan roh kita, kita mempersembahkannya kepada Tuhan sebagai persembahan tatangan. Tembaga yang kita alami dan kita dapatkan ini, juga merupakan bahan yang digunakan bagi pembangunan Kemah Allah.

4. Permata Krisopras,

Melambangkan Pekerjaan Penebusan Kristus

sebagai Dasar bagi Pekerjaan Pengubahan Roh Itu

Batu permata krisopras yang disebutkan dalam Keluaran 25:7 berwarna merah. Permata ini melambangkan darah Kristus yang ditumpahkan bagi penebusan, sebagai dasar bagi pekerjaan pengubahan Roh itu. Penebusan Kristus adalah dasar bagi pekerjaan pengubahan Roh Kudus.

5. Batu-batu Permata Lainnya, Melambangkan Pengubahan Roh Itu

Batu-batu permata lainnya, melambangkan berbagai aspek dari pekerjaan pengubahan Roh Kudus berdasarkan penebusan Kristus. Pengalaman atas permata krisopras merupakan dasar bagi pengalaman atas batu-batu permata lainnya. Sebagaimana telah kita tunjukkan, hal ini berarti penebusan Kristus merupakan dasar bagi pekerjaan Roh itu.

Kita semua perlu mengalami pengubahan oleh Roh itu. Sebagai contoh, kita perlu mengasihi orang tua kita, keluarga kita, tetangga kita, dan khususnya saudara saudari di dalam gereja. Tetapi, Allah tidak mau menerima kasih alamiah kita. Dalam pandangan-Nya, kasih alamiah kita itu adalah tanah liat, bukan permata yang berharga. Mungkin kita merasa sangat positif dengan kasih alamiah kita, tetapi bagi Allah kasih alamiah kita itu memuakkan dan tidak elok. Kasih kita perlu diubah. Kita memerlukan kasih yang diubah oleh Roh itu dengan penebusan, pengakhiran, dan penggantian Kristus sebagai dasar. Kemudian kita akan mengasihi orang lain dengan kasih yang murni, yaitu kasih hasil pekerjaan pengubahan yang berharga oleh Roh Kudus. Mengasihi orang lain dalam cara yang sedemikian ini sangat berbeda dengan mengasihi mereka secara alamiah.

Kita tidak seharusnya merasa puas dengan moralitas, etika, tingkah laku atau kelakuan kita yang alamiah. Semua perkara ini harus diubah. Mula-mula kita harus ditebus, diakhiri, dan digantikan, kemudian secara metabolis kita akan diubah oleh Roh Kudus. Inilah pengalaman atas batu-batu permata yang berharga.

Jika kita membawa bahan-bahan berharga ini ke dalam sidang-sidang gereja dan mempersembahkannya kepada Allah sebagai persembahan tatangan, kita akan membantu membangun gereja sebagai tempat kediaman Allah. Kemudian sidang-sidang kita akan penuh dengan persembahan bahan-bahan berharga yang sedemikian ini, dan pekerjaan pembangunan yang menakjubkan akan terjadi di antara kita.

D. DARI TUMBUH-TUMBUHAN

Kita telah melihat bahwa hayat tumbuh-tumbuhan adalah untuk melahirkan, yaitu untuk berproduksi. Kristus merupakan faktor yang mendasar dari hayat yang melahirkan dan yang berproduksi. Hayat-Nya sangat produktif, dan Ia menyalurkan hayat-Nya kepada kita. Menurut Yohanes 12:24, Ia adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati, untuk menghasilkan kita sebagai banyak biji. Inilah Kritus sebagai hayat tumbuh-tumbuhan yang melahirkan dan berproduksi.

1. Kain Lenan, Melambangkan Tingkah Laku Kristus

Ungkapan pertama dari hayat perbiakan ini ialah kain lenan, yang melambangkan tingkah laku Kristus.

a. Biru Melambangkan Surgawi

Keluaran 25:4 mengatakan tentang, “kain biru, ungu, kirmizi, lenan halus” (Tl). Lenan warna biru menunjukkan bahwa hayat Kristus yang melahirkan tidak hanya menyalurkan hayat kepada kita, juga menghasilkan karakter dan kelakuan yang surgawi, sebagaimana yang dilambangkan oleh warna biru. Bila orang lain melihat kita, mereka pasti akan memiliki perasaan bahwa kita bukan bumiah, sebaliknya kita memiliki sifat surgawi. Kita memiliki penampilan surgawi, yaitu penampilan langit yang biru.

b. Ungu Melambangkan Jabatan Raja

Lenan warna ungu melambangkan jabatan raja. Dalam kelakuan kita haruslah menunjukkan karakter seorang raja. Bahkan para pelajar SMA pun harus bersifat sebagai raja dan agung dalam kelakuan mereka. Di dalam apa yang mereka katakan dan lakukan, harus terdapat keagungan dan jabatan raja.

Karakter rajani dan surgawi dalam kelakuan kita bukanlah berasal dari usaha kita dalam memperbaiki diri. Kita harus berpaling dari ajaran yang agamawi, filosofis, dan alamiah mengenai perbaikan diri sendiri. Kita perlu mengalami Kristus sebagai kesurgawian kita, jabatan raja kita, dan keagungan kita. Kita juga perlu bertumbuh, hingga menjadi orang yang memiliki pengalaman atas lenan biru dan ungu dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana seorang pangeran dalam sebuah keluarga raja merupakan orang yang agung, demikian pula kita harus menjadi orang-orang yang agung, bukan dengan jalan memperbaiki diri sendiri, melainkan dengan jalan mengalami Kristus dan bertumbuh di dalam Dia. Kita semua memerlukan pengalaman atas lenan biru dan ungu ini.

c. Kirmizi Melambangkan Penebusan

Lenan berwarna kirmizi (merah tua) juga diperlukan di dalam Kemah Suci. Kirmizi melambangkan darah Kristus yang ditumpahkan bagi penebusan kita. Kita harus selalu menyandang kesaksian dengan menyadari bahwa kita adalah orang yang berdosa dan memerlukan pencucian darah adi Kristus. Kita perlu sering berpaling kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, cucilah aku. Meskipun aku tidak menyadari dosa-dosaku, tetapi aku tahu bahwa diriku masih cemar. Tuhan, aku masih bersifat alamiah, berada dalam ciptaan lama, dan bersifat daging. Betapa aku perlu pencucian-Mu!” Orang lain mungkin mengagumi penampilan kita yang surgawi dan rajani, tetapi kita harus menyadari bahwa kita ini berdosa, dan setiap saat memerlukan pencucian darah adi Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan memiliki pengalaman atas lenan kirmizi.

Mungkin seorang anak muda mengira bahwa sikapnya terhadap orang tuanya selalu benar, dan orang lain salah. Boleh jadi ia berkata, “Ayah, aku tidak pernah bersalah kepadamu. Aku mengasihi seisi keluarga, dan aku mau melakukan perkara apa pun untuk orang lain.” Memiliki sikap semacam ini berarti kekurangan lenan berwarna kirmizi. Setiap orang dengan sifat sedemikian ini boleh jadi diwakili oleh pakaian berwarna gelap, bukan kirmizi.

Orang lain dapat memberikan kesaksian bahwa ketika saya berdoa, saya selalu mohon pencucian Tuhan. Meskipun mungkin saya tidak merasa cemar, tetapi saya tahu bahwa saya masih berada dalam ciptaan lama. Secara tidak sadar, dalam banyak hal mungkin saya masih berada dalam hayat alamiah. Karena keadaan kita semua demikian, kita memerlukan kain kirmizi. Kita memerlukan pencucian Tuhan.

d. Halus Melambangkan Seimbang, Sempurna, dan Elok

Ayat 4 menunjukkan bahwa kain lenan yang digunakan bagi Kemah Suci bukan hanya kain lenan biru, ungu, dan kirmizi, tetapi juga kain lenan halus. Halus dalam kelakuan dan tindakan berarti seimbang dalam berbagai aspek. Sebagai contoh, kita harus seimbang bila tertawa atau menangis. Kita tidak seharusnya tertawa atau menangis secara berlebihan dan tanpa batas. Tetapi ada beberapa orang yang tertawa atau menangis seenaknya; tanpa keseimbangan dalam emosi. Demikian pula, ada orang yang terlalu mengasihi orang lain. Mengasihi tanpa batas yang layak, menandakan bahwa kasih itu kasar dan tidak seimbang.

Kelakuan kita tidak hanya harus seimbang, tetapi juga harus sempurna, dan bahkan elok. Seseorang mungkin sangat rendah hati, tetapi kerendahan hatinya itu mungkin tidak elok. Kita memerlukan kerendahan hati yang elok. Seluruh kebajikan dan atribut kita harus seperti lenan yang halus seimbang, sempurna, dan elok.

Semakin kita memperhatikan makna dari lenan halus berwarna biru, ungu, dan kirmizi melalui doa dan persekutuan, kita akan semakin mengetahui wahyu apa yang dibentangkan, dan pengalaman apa yang diterapkan di sini.

2. Kayu Penaga Melambangkan Sifat Insani Kristus

Kayu penaga yang digunakan untuk mendirikan Kemah Suci melambangkan sifat insani Kristus, yaitu karakter yang kuat dan standar yang tinggi. Keinsanian Kristus bukan seperti kapas, melainkan seperti kayu penaga. Dalam keinsanian-Nya, Tuhan Yesus berkarakter kuat dan berstandar tinggi. Tetapi keinsanian dari kebanyakan orang beriman lebih banyak yang seperti kapas daripada kayu penaga.

3. Minyak Melambangkan Roh Kristus

“Minyak untuk lampu” (ayat 6) melambangkan Roh Kristus. Kita harus terus-menerus berada di bawah pengurapan Tuhan. Kita harus menjadi tepung halus yang dicampur dengan minyak, dan yang sepenuhnya diresapi dengan minyak. Apa adanya kita dan apa yang kita lakukan harus diresapi dengan Roh Kristus.

Roh Kristus berbeda dengan Roh Allah. Tetapi ini bukan berarti ada dua Roh ilahi. Roh Kudus bukan hanya Roh Allah, tetapi juga Roh Kristus, yang meliputi semua kebajikan dari Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, bangkit, dan terangkat. Kita harus mengalami pengurapan Roh ini secara terus-menerus. Kemudian barulah kita dapat memiliki minyak untuk dipersembahkan kepada Allah bagi pembangunan gereja.

4. Rempah-rempah Melambangkan Khasiat dan Kemanisan Kematian dan Kebangkitan Kristus

Keluaran 25:6 mengatakan tentang “rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian.” Rempah-rempah ini melambangkan khasiat dan kemanisan kematian dan kebangkitan Kristus. Rempah-rempah ini dipakai untuk membuat minyak urapan dan ukupan yang dibakar di hadapan Allah.

Kita harus mengalami rempah-rempah ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama-tama, kematian Kristus sangat berkhasiat dalam menanggulangi hal-hal negatif. Kematian Kristus akan mencegah dan menghalau semua “kutu busuk”. Rempah-rempah tertentu berfungsi sebagai antibiotik untuk membunuh kuman-kuman rohani. Bila kita mengalami khasiat rempah-rempah tersebut, maka dalam kehidupan kita akan terdapat bau harum dari kematian dan kebangkitan Kristus. Orang lain akan merasakan bahwa kematian dan kebangkitan Kristus sangat berkhasiat di dalam kita, bahkan dapat menghasilkan bau yang harum.

E. BINATANG (HEWAN)

Hayat Kristus juga dilambangkan dengan hayat hewan. Sebagaimana telah kita tunjukkan, hayat hewan adalah untuk penebusan. Sebelum manusia jatuh, Allah tidak menentukan agar manusia makan daging hewan. Manusia dapat hidup dari buah-buahan, sayuran, dan buah berbiji yang disediakan Allah dalam penciptaan-Nya. Tetapi, karena manusia telah jatuh dan menjadi berdosa dan bobrok, maka manusia memerlukan penumpahan darah bagi penebusan, dan daging hewan untuk makanan. Ini menunjukkan bahwa manusia yang berdosa memerlukan penebusan Kristus, yaitu Kristus yang menumpahkan darah-Nya di atas salib, dan yang mengorbankan hidup-Nya untuk menebus kita. Melalui hayat penebusan Kristus, kita telah dirawat, sehingga kita dapat hidup.

1. Bulu Kambing Melambangkan Kristus yang Dibuat Menjadi Dosa Karena Kita

Keluaran 25:4 dan 5 menunjukkan tiga aspek hayat hewan: Bulu kambing, kulit domba jantan, dan kulit lumba-lumba. Menurut Matius 25:33 dan 41, kambing melambangkan orang berdosa. Oleh karena itu, bulu kambing melambangkan Kristus yang dibuat menjadi berdosa karena kita dalam pekerjaan penebusan-Nya (2Kor. 5:21). Allah membuat Kristus menjadi dosa untuk kepentingan kita. Meskipun Ia tidak berdosa dan tidak memiliki sifat dosa, tetapi dalam penampilan-Nya, seolah-olah Ia adalah kambing.

2. Kulit Domba Jantan yang Diwarnai Merah

Melambangkan Penebusan Kristus Melalui Penumpahan Darah-Nya

Kulit domba jantan yang diwarnai merah melambangkan penebusan Kristus yang dilakukan melalui penumpahan darah-Nya. Kristus adalah Domba jantan yang mati di atas salib karena dosa-dosa kita. Ia dipersembahkan kepada Allah di atas mezbah, dan menumpahkan darah-Nya untuk mencuci kita dari dosa-dosa kita.

3. Kulit Lumba-lumba Melambangkan Kekuatan Kristus dalam Menanggung Penderitaan

Kulit lumba-lumba itu keras, ulet, dan tahan lama. Semua ini melambangkan kekuatan Kristus dalam menanggung penderitaan. Kulit tersebut digunakan sebagai penutup Kemah Pertemuan, untuk melindungi Kemah Suci. Hari ini kita memiliki Kristus sebagai kulit lumba-lumba untuk menutupi dan melindungi kita. Ia menanggung segala penderitaan, hinaan, dan kesukaran. Di dalam hayat yang dilambangkan oleh hayat hewan tersebut pertama-tama Kristus menebus kita, kemudian menjadi penutup serta pelindung yang dapat melawan cobaan, serangan, kesukaran, dan penderitaan.

Kita harus mengalami Kristus dalam aspek hayat hewan ini, dan kemudian membawa-Nya sebagaimana dilambangkan oleh bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, dan kulit lumba-lumba ke dalam sidang, serta mempersembahkan-Nya kepada Allah untuk membangun gereja dan seluruh kaum saleh.

Jika kita membandingkan bahan yang digunakan untuk membangun Kemah Suci dengan bahan yang digunakan oleh orang-orang Kristen, kita akan melihat bahwa sebagian besar orang Kristen hari ini telah jauh tersesat dari wahyu Allah. Dalam Keluaran 25:1-9, kita memiliki wahyu Allah, bukan agama buatan manusia. Dengan menyesal saya katakan bahwa di antara orang Kristen terdapat lebih banyak agama manusia daripada wahyu Allah.

III. MENGENAI MODEL

Keluaran 25:8-9 mengatakan, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.” Model Kemah Suci dan segala perabotannya, melambangkan gereja dan segala sesuatu yang rinci mengenai hidup gereja (church life). Model ini ditunjukkan oleh Allah kepada Musa ketika Musa berada di puncak gunung di bawah kemuliaan-Nya.

Akhir-akhir ini saya telah menekankan perlunya kita melihat visi mengenai Kristus dan gereja dalam ekonomi Allah. Akan tetapi, ini bukan berarti kita hanya memperhatikan visi tersebut dan mengabaikan aspek-aspek pelaksanaan dari hidup gereja. Tidak peduli bagaimana jelasnya kita mengenai visi tentang ekonomi Allah, kita masih harus membersihkan ruang sidang, mencuci gelas, dan memperhatikan aspek-aspek lain dari hidup gereja.

Sebagaimana telah ditunjukkan melalui Kemah Suci dan perabotannya, hidup gereja tidaklah sederhana. Kita harus memperhatikan banyak perkara rinci yang ditunjukkan oleh contoh-contoh tersebut, sehingga kita dapat memiliki hidup gereja dan persekutuan yang layak dengan seluruh kaum saleh, termasuk mereka yang lemah dan yang hanya sekali-sekali saja bersidang. Kemah Suci dengan perabotannya melambangkan hidup gereja dengan segala perkaranya yang rinci.

Contoh yang diwahyukan kepada Musa sesuai dengan benda-benda surgawi, yaitu benda-benda yang ada di dalam surga (Ibr. 9:23). Rancangan mengenai Kemah Suci dan seluruh perabotannya adalah sesuai dengan benda-benda surgawi. Model Kemah Suci dan perabotannya merupakan lambang yang lengkap dan sempurna dari hidup gereja.