VISI TENTANG KEMAH SUCI DAN PERABOTANNYA BERKENAAN DENGAN BAHAN DAN MODELNYA (2)
Pembacaan Alkitab: Kel. 25:1-9
Semakin mempelajari Kitab Keluaran, saya semakin menyenanginya. Melalui membaca kitab ini, saya menemukan bahwa kitab ini bukan hanya mengenai keluar dari Mesir, tetapi juga mengenai tempat kediaman Allah. Judul kitab ini Keluaran bukan diberikan oleh Musa. Judul ini diberikan oleh orang lain bertahun-tahun kemudian. Judul ini tidak meliputi semuanya, karena hanya mencakup sebagian dari isi Kitab Keluaran. Pada bagian pertama dari kitab ini dikatakan bagaimana Allah menebus umat-Nya dan memungkinkan mereka keluar dari Mesir, sehingga dengan demikian mereka dapat melepaskan diri dari tirani Firaun dan perhambaan di bawah orang-orang Mesir. Bila bagian pertama dari kitab ini yang kita perhatikan, memang judul Keluaran ini sudah bisa mencakup bagian ini. Tetapi meskipun judul ini baik, judul ini menimbulkan banyak sekali kesulitan bagi banyak pembaca, karena judul ini memberikan kesan bahwa kitab ini hanyalah kitab mengenai terlepasnya bani Israel dari tirani Iblis (Satan). Judul ini tidak mencakup sasaran atau kesempurnaan kitab ini. Kesimpulan kitab kedua dari Perjanjian Lama ini adalah mengenai tempat kediaman Allah di bumi.
Banyak orang Kristen masa kini yang hanya memperhatikan hal keluar dari Mesir, bukan pembangunan Kemah Suci dalam kitab ini. Di mana saja Kitab Suci dipelajari dan dijelaskan secara rinci, pernahkah Anda mendengar berita mengenai pembangunan tempat kediaman Allah di bumi hari ini? Banyak orang beriman yang memiliki konsepsi bahwa pembangunan Allah adalah di dalam surga dan pada masa yang akan datang.
Kitab Keluaran tidak hanya memiliki 14 pasal, tetapi 40 pasal. Jika pembicaraannya berkisar menurut judul buku ini, Kitab Keluaran cukup berakhir pada pasal 14, yaitu setelah bangsa itu keluar dari Mesir dan dengan selamat berada di seberang Laut Merah, menari dan memuji Tuhan. Di dalam pengalaman kebanyakan orang Kristen, Kitab Keluaran berakhir dengan pasal 14. Sebelum Anda masuk ke dalam pemulihan Tuhan, bagi Anda, berapa pasalkah yang ada dalam Kitab Keluaran yang sesuai dengan pengalaman Anda? Banyak orang Kristen yang hanya sejauh pada pasal 12; ada juga yang sejauh pasal 14; dan hanya orang Kristen tertentu yang menuntut sejauh pasal 24. Semakin kaum beriman yang berpengalaman menikmati air di Elim, manna dari surga, dan air hayat yang mengalir dari batu karang, mereka akan ikut serta dalam peperangan melawan orang-orang Amalek, dan dibawa ke dalam persekutuan yang akrab dengan Allah di Gunung Sinai. Ada sebagian orang Kristen yang benar-benar memustikakan Keluaran 15—24, bahkan menulis beberapa kidung untuk mengekspresikan pengalaman mereka.
Dalam Pelajaran-Hayat ini saya telah menyampaikan banyak berita mengenai Keluaran 19—24, yaitu pasal-pasal yang memberikan gambaran lengkap tentang persekutuan antara umat tebusan Allah dengan Allah penebus. Pada permulaan persekutuan dalam pasal 19 ini, terdapat awan gelap yang tebal. Tetapi dalam pasal 24 suasananya berubah, dan langit menjadi cerah. Keluaran 24:10 mengatakan, “Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.” Visi yang sedemikian ini belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah di bawah langit yang jernih dan cerah. Di sini dikatakan bahwa orang-orang yang bersama Musa di atas gunung tidak hanya melihat Allah orang Israel, bahkan melihat kaki Allah.
Pada butir ini saya ingin mengatakan bahwa kita harus mengikuti firman yang murni dari Alkitab, bukan ajaran yang tradisional dan sistematis mengenai Trinitas. Dari Kejadian 18, kita tahu bahwa Abraham memiliki pengalaman yang ajaib bersama Allah. Allah datang kepada Abraham dalam rupa manusia. Abraham menyajikan makanan kepada-Nya, bahkan membasuh kaki-Nya. Bagaimana Allah dapat makan, dan bagaimana mungkin seorang manusia membasuh kaki Allah? Allah itu bersifat ragawi, atau rohani? Jika Anda mengatakan bahwa Ia hanya bersifat rohani, bagaimana Ia dapat menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa manusia sehingga Abraham dapat membasuh kaki-Nya? Ada orang Kristen yang terlalu yakin kepada pengetahuan teologia mereka. Biarlah mereka menjelaskan bagaimana secara fisik Allah dapat berjalan di atas tanah dalam Kejadian 18. Banyak orang Kristen mengetahui bahwa kali pertama Allah mengambil rupa manusia adalah saat kelahiran Tuhan Yesus. Tetapi bagaimana kita harus memahami Kejadian 18? Bukankah Allah menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa manusia? Apa yang Abraham lihat bukanlah hantu atau setan. Ia berbicara dengan manusia sejati, bahkan membasuh kaki-Nya serta menyajikan makanan kepada-Nya.
Semakin kita memperhatikan masalah yang demikian, kita akan semakin menyadari bahwa kita tidak dapat memahami sepenuhnya wahyu dalam Alkitab mengenai Allah Tritunggal. Ia itu misterius dan ajaib. Ia melebihi imajinasi kita, dan tidak dapat dijelaskan dengan ajaran tradisional mengenai Trinitas. Daripada berusaha mensistematiskan wahyu Allah yang Alkitabiah, lebih baik kita percaya saja kepada apa yang Alkitab katakan. Kejadian 18 mengatakan bahwa Allah datang kepada Abraham dalam rupa manusia, dan dalam Lukas 2 kita melihat bahwa Putra Allah lahir dalam malaf di Betlehem. Kita hanya mempercayai Alkitab dan apa yang Allah wahyukan di dalamnya.
Dalam Keluaran 24:10 dengan tegas dikatakan bahwa Musa dan orang-orang yang bersama dia di atas gunung melihat Allah Israel. Penglihatan ini sangat ajaib, dan kita tidak mampu menjelaskannya. Mereka melihat Allah di bawah langit yang jernih dan cerah.
Saya telah menunjukkan bahwa umat Allah mengalami tingkat persekutuan yang berbeda-beda dengan Tuhan di Gunung Sinai. Musa berada di puncak gunung di bawah kemuliaan Allah; para tua-tua Israel berada di atas gunung di mana mereka memandang Allah orang Israel; dan sebagian besar dari bangsa itu berada di kaki gunung. Karena ketidakmatangan mereka, maka mereka tidak diizinkan naik ke gunung itu. Tetapi, Allah tidak menolak mereka. Ia membawa mereka ke dalam persekutuan-Nya, namun Ia menghendaki supaya mereka mengambil jarak. Hanya Musalah yang masuk ke dalam kemuliaan, dan tinggal bersama Allah di bawah kemuliaan ini selama 40 hari 40 malam. Alangkah ajaibnya persekutuan yang dinikmati Musa bersama Allah!
Situasi orang-orang Israel di Gunung Sinai sama dengan situasi kita sebagai kaum beriman hari ini. Kita telah ditebus melalui Paskah, kita telah keluar dari Mesir, dan kita telah menyeberangi Laut Merah. Kita juga telah memiliki pengalaman di Mara dan Elim. Di padang gurun kita menikmati manna dan minum air hayat dari batu karang yang terbelah. Selanjutnya, kita ikut serta dalam peperangan melawan orang Amalek. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa kita telah dibawa ke gunung Allah dan masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan. Kita tidak lagi berada dalam Keluaran 19 atau Keluaran 20—23, yaitu bersama Sepuluh Perintah dan peraturan-peraturan yang mewahyukan ekonomi Allah. Sekarang kita sedang menikmati persekutuan dengan Allah seperti yang dijelaskan dalam Keluaran 24. Tetapi, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, di mana kita berada dalam persekutuan ini. Kita ada bersama sebagian besar dari bangsa itu di kaki gunung, atau bersama para tua-tua Israel di atas gunung dan memandang Tuhan di bawah langit yang cerah, atau bersama Musa di puncak gunung di bawah kemuliaan Allah?
Dalam berita sebelumnya telah kita tunjukkan bahwa situasi umat Allah di Gunung Sinai dapat diibaratkan dengan Kemah Suci beserta pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Bangsa itu mungkin berada di pelataran luar, tetapi hanya para imamlah yang boleh masuk ke dalam tempat kudus. Selanjutnya, hanya imam besarlah yang boleh masuk ke dalam tempat maha kudus dan berada dalam kemuliaan Allah serta menerima perkataan-Nya, yaitu wahyu-Nya. Prinsip ini sama dengan Keluaran 24. Sebagian besar dari bangsa itu berada di kaki gunung; ini dapat diibaratkan dengan pelataran luar Kemah Suci. Para tua-tua Israel berada di atas gunung; ini dapat diibaratkan dengan tempat kudus. Musa, yang benar-benar berfungsi sebagai imam besar, berada di puncak gunung; ini dapat diibaratkan dengan tempat maha kudus. Selama 40 hari 40 malam tinggal di bawah kemuliaan Allah, Musa menerima wahyu Allah.
Pengertian kita terhadap perlambangan Kemah Suci bersandar pada tulisan-tulisan mereka yang mendahului kita. Kita banyak menerima dari mereka dan sangat berterima kasih kepada mereka. Tetapi karena kita berada di atas bahu mereka, maka kita dapat melihat lebih banyak daripada yang mereka lihat, terutama mengenai aspek Kemah Suci.
Sebelum orang-orang Israel dapat menerima wahyu Allah, mereka harus meninggalkan Mesir, menyeberangi Laut Merah, dan memiliki pengalaman di Mara dan Elim, manna, air hayat yang berasal dari batu karang yang terbelah, dan peperangan melawan orang Amalek. Hasil dari pengalamanpengalaman ini, mereka dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah. Mereka memiliki kedudukan dengan pandangan yang benar untuk menerima wahyu mengenai tempat kediaman Allah. Kita harus memperhatikan lambang mengenai Kemah Suci dan perabotannya tidak hanya dari pandangan yang doktrinal, tetapi juga dari pandangan pengalaman rohani. Dalam semua berita mengenai Kemah Suci ini, kita akan khusus menekankan makna Kemah Suci bagi pengalaman kristiani kita. Ya, memang kita memperhatikan butir-butir yang doktrinal, tetapi kita harus lebih memperhatikan pengalaman.
Dalam berita sebelumnya, kita telah mulai membahas bahan-bahan yang digunakan untuk pembangunan tempat kediaman Allah. Kita melihat bahwa semua bahan itu menunjukkan kebajikan persona dan pekerjaan Kristus, dan semuanya itu dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan tatangan. Bahan-bahan itu tidak hanya diciptakan dan disediakan oleh Allah, tetapi juga diperoleh, dimiliki, dinikmati, dialami oleh umat pilihan Allah. Mula-mula Allah harus menciptakan dan menyediakan bahan-bahan itu. Kemudian orang-orang harus memperoleh, mengalami, dan mempersembahkan bahan-bahan itu sebagai persembahan tatangan.
Meskipun sebagian besar terjemahan tidak memakai istilah “persembahan tatangan” dalam Keluaran 25:2, tetapi kata Ibrani secara pasti menunjukkan persembahan tatangan. Kita telah melihat bahwa persembahan tatangan menunjukkan Kristus di dalam kenaikan, yaitu Kristus yang dinaikkan, dan kenaikan ini selalu diiringi dengan persembahan unjukan (timangan), yang melambangkan Kristus di dalam kebangkitan, yaitu Kristus yang dibangkitkan. Persembahan unjukan (timangan) di depan, kemudian barulah persebahan tatangan. Dalam kebangkitan, Kristus dapat bergerak, yaitu “bergoyang”. Kristus telah dikuburkan, tetapi kubur tidak dapat menahan-Nya. Dalam kebangkitan, Ia menjadi Sang “bergoyang” yang bangkit dari kubur. Ketika kita mempersembahkan Kristus yang dibangkitkan, yaitu Sang “bergoyang” kepada Allah, mempersembahkan-Nya sebagai persembahan unjukan. Dari Kitab Imamat kita tahu bahwa bagian tertentu dari binatang, dada atau paha, sering diunjukkan (digoyangkan) kepada Allah sebagai persembahan unjukan; bagian-bagian lainnya dikhususkan bagi Dia sebagai persembahan tatangan. Kristus tidak hanya sebagai persembahan unjukan, melainkan juga sebagai persembahan tatangan, Ia tidak hanya sebagai Dia yang dibangkitkan, tetapi juga sebagai Dia yang dinaikkan, yaitu Dia yang dinaikkan ke surga, jauh di atas segala sesuatu. Kita perlu memiliki, memperoleh, menikmati, dan mengalami Kristus sebagai Dia yang dibangkitkan dan dinaikkan. Di satu pihak, kita harus mengenal Kristus di dalam kebangkitan. Seperti Paulus, kita harus mempunyai keinginan untuk mengenal Kristus dan “kuasa kebangkitan-Nya” (Flp. 3:10). Di pihak lain, kita harus mengalami Kristus di dalam kenaikan. Paulus membicarakan tentang Kristus yang dinaikkan dalam Efesus 1:20-21, di mana ia mengatakan bahwa Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati “dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut.” Semakin kita mengalami Kristus yang dinaikkan, yaitu Kristus yang di surga, Ia akan semakin menjadi milik kita. Ia menjadi harta kita yang khusus, yang kemudian kita persembahkan kepada Allah sebagai bahan bagi pembangunan tempat kediaman-Nya. Inilah mempersembahkan bahan-bahan sebagai persembahan tatangan.
Kita perlu terkesan oleh fakta bahwa persembahan tatangan dalam Keluaran 25:2 secara tidak langsung menunjukkan pengalaman rohani kita. Kita tidak seharusnya mempersembahkan bahan-bahan itu kepada Allah dalam cara yang obyektif, yaitu tanpa pengalaman. Saya ulangi, mula-mula bahan-bahan itu harus menjadi milik dan kenikmatan kita. Begitu bahan-bahan itu menjadi milik kita, kita boleh memelihara bahan-bahan itu, atau mempersembahkan bahan-bahan itu kepada Allah. Kita harus berkata, “Tuhan, karena kami mengasihi Engkau, kami mau mempersembahkan harta dan milik kami yang paling berharga sebagai persembahan tatangan bagi tempat kediaman-Mu.”
Bahan-bahan yang terdapat dalam Keluaran 25:1-9 berjumlah dua belas dan terdiri dari tiga kategori: mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang (hewan). Kita telah melihat bahwa tumbuh-tumbuhan menunjukkan hayat kelahiran, binatang menunjukkan hayat penebusan, dan mineral menunjukkan hayat pembangunan.
C. DARI MINERAL
Mengenai mineral, kita membaca tentang emas, perak, tembaga, krisopras, dan “permata tatahan untuk baju efod dan tutup dada”. Bahan-bahan ini bukan digunakan untuk deko-rasi atau perhiasan, melainkan semuanya untuk pembangunan. Permata krisopras dan permata-permata berharga lainnya digunakan untuk tutup bahu dan tutup dada yang dipakai oleh imam besar. Ketika imam besar memasuki tempat maha kudus untuk melayani Tuhan, ia mengenakan baju efod dengan tutup bahu dan tutup dada. Dengan mengenakan Urim dan Tumim di sepanjang tutup dada, imam besar dapat menerima pesan dari Allah. Tutup dada yang dikenakan oleh imam besar bukanlah perhiasan. Dalam beberapa hal, tutup dada ini boleh dianggap sebagai “mesin ketik” ilahi yang digunakan untuk mengeja pesan-pesan dari Tuhan. Yang penting di sini ialah, tutup dada ini dibuat dari mineral, yaitu batu permata yang diikat dengan emas dalam tatahannya.
Fakta bahwa mineral disebutkan sebagai kategori per-tama menunjukkan bahwa apa adanya Kristus dan apa yang telah dan sedang Kristus lakukan mutlak adalah untuk pembangunan. Pembangunan adalah sasaran Allah. Perwu-judan wahyu ilahi ialah Yerusalem Baru yang didirikan dengan emas, batu-batu permata, dan mutiara. Alkitab sepenuhnya berkenaan dengan hal ini. Mineral-mineral dalam Keluaran 25:1-9 adalah untuk pembangunan Allah. Dalam 1Korintus 3:10 dan 11, Paulus mengatakan bahwa sebagai ahli bangunan yang cakap ia telah meletakkan dasar, dan dasar ini ialah Yesus Kristus. Selanjutnya ia berkata, “dan orang lain membangun terus di atasnya” (ayat 10). Kemudian dalam ayat 12, Paulus berkata, “Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami.” Perhatikan, dalam ayat ini Paulus membicarakan tentang mineral: emas, perak, dan batu-batu permata yang berharga. Banyak orang Kristen tidak membangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata yang berharga, sebaliknya malah menggunakan kayu, rumput kering, dan jerami, yaitu bahan-bahan yang tidak berharga dan mudah terbakar. Selain itu, dalam 2Timotius 2:20, Paulus mengatakan bahwa dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, yaitu perabot untuk maksud yang mulia, tetapi juga terdapat perabot dari kayu dan tanah, yaitu perabot untuk maksud yang kurang mulia. Dalam Pelajaran-Hayat 2Timotius telah saya tunjukkan bahwa rumah yang besar ini bukan melambangkan gereja sebagai rumah Allah, tetapi melambangkan dunia kekristenan. Dalam kekristenan hari ini, sedikit sekali orang yang menggunakan mineral yang berharga untuk membangun rumah Allah. Sebagian besar dari apa yang disebut pekerja Kristen menggunakan kayu, rumput kering, dan jerami. Yang terbaik dari pekerja-pekerja ini menggunakan kayu, sedang yang lainnya menggunakan jerami atau rumput kering.
Mineral dalam Keluaran 25:1-9 melambangkan Kristus sebagai bahan bangunan yang disediakan oleh Allah. Meskipun Kristus merupakan bahan bangunan ini, tetapi Allah tidak secara langsung menggunakannya untuk membangun tempat kediaman-Nya. Sebaliknya, Allah memberikan Kristus kepada kita, sehingga kita dapat memperoleh, menikmati, dan mengalami Dia. Seperti yang dikatakan Paulus dalam Filipi 3, kita harus menuntut Kristus, mendapatkan Kristus, dan memiliki Kristus. Akhirnya, Kristus menjadi harta warisan kita baik dalam kebangkitan maupun kenaikan. Dalam sidang-sidang gereja, Kristus yang telah kita alami dan yang telah menjadi harta kita yang istimewa ini harus kita persembahkan kepada Allah sebagai persembahan tatangan.
Bila kita membebaskan roh kita dengan berfungsi di dalam sidang (perhimpunan), kita harus memiliki Kristus sebagai kepuasan kita. Jika kita hanya berseru memuji Tuhan tanpa adanya Kristus sebagai kepuasan kita, kita tidak akan mempersembahkan kelimpahan Kristus kepada Allah. Saya menganjurkan semua orang beriman agar berfungsi di dalam sidang serta membebaskan roh. Tetapi fungsi dan pembebasan roh ini harus dipenuhi dengan Kristus. Kristus ini tidak bersifat obyektif; Ia adalah Kristus yang subyektif, yang kita alami dan kita peroleh sebagai mustika kita. Di dalam sidang, kita harus mempersembahkan Kristus yang mustika ini kepada Bapa sebagai bahan bagi pembangunan gereja.
Jika kita melihat bahwa Kristus adalah bahan bagi pembangunan Allah yang dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan tatangan, kita pasti akan merasa prihatin melihat situasi di antara orang-orang Kristen hari ini. Banyak orang yang membanggakan diri karena pendidikan atau pengetahuan teologia mereka. Beberapa tahun yang lalu, ada seseorang yang membanggakan diri di hadapan saya bahwa sebagian besar dari orang-orang yang berada dalam organisasinya memiliki gelar doktoral. Tetapi Musa bukanlah seorang ahli agama, dan Tuhan Yesus tidak memiliki gelar doktoral. Sebaliknya, dalam penampilan-Nya, Ia adalah seorang Nazaret yang tidak terpelajar. Orang-orang Yahudi merasa heran dan berkata, “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” (Yoh. 7:15). Tuhan Yesus bahkan menegur orang-orang yang terpelajar dengan menyebut mereka “keturunan ular berbisa” (Mat. 23:33). Pemimpin-pemimpin agama ini telah meracuni umat Allah, tetapi Tuhan Yesus datang untuk menyembuhkan mereka. Orang-orang yang membanggakan gelar dan pengetahuan teologi mereka sebenarnya hanya memiliki pengetahuan yang dangkal mengenai Alkitab. Sudahkah mereka nampak bahwa Kristus adalah bahan bagi pembangunan Allah? Puji Tuhan, Krisus adalah bahan yang mustika bagi pembangunan tempat kediaman Allah!
Kita telah menunjukkan bahwa imam besar mengenakan tutup dada yang dibuat dari bahan yang berharga ketika masuk ke dalam hadirat Allah. Jika kita mengalami Kristus sebagai bahan pembangunan dan mengenakan-Nya sebagai tutup dada ketika kita datang ke dalam hadirat Allah, kita akan menerima wahyu Allah. Wahyu itu datang melalui Kristus yang telah kita alami dan yang menjadi bahan pembangunan yang kita kenakan.
Pemulihan Tuhan sama sekali berbeda dengan agama hari ini. Kita mengenal Alkitab tidak hanya secara harfiah. Di sini kita melaksanakan ekonomi Allah dalam pemulihan-Nya. Jadi, tidak mungkin terdapat perdamaian (kompromi) antara pemulihan dengan kekristenan. Dalam pemulihan kita tidak mau kayu, rumput kering, maupun jerami. Namun demikian, bahan-bahan yang bermutu rendah ini tidak hanya diterima dengan baik oleh kebanyakan orang Kristen, bahkan dihargai, dipuji, diagungkan, dan dipamerkan. Banyak publikasi Kristen yang bahkan memamerkan kayu, rumput kering, dan jerami. Dalam pemulihan Tuhan, kita lebih menyukai sedikit emas, perak, dan batu-batu permata yang berharga daripada sejumlah besar tumpukan kayu, rumput kering, dan jerami. Kita sangat menyesalkan adanya kebutaan pandangan rohani di kalangan pemimpin agama dan guru Alkitab. Boleh jadi mereka mempelajari firman secara harfiah, tetapi mereka tidak mengetahui realitas rahasia dari ayat-ayat seperti Keluaran 25:1-9. Jangan memperhatikan ajaran-ajaran tradisional, tetapi perhatikanlah wahyu Allah dalam firman-Nya.
1. Emas, Melambangkan Sifat Ilahi Kristus
Mineral yang lebih dulu disebutkan dalam Keluaran 25:1-9 ialah emas. Emas melambangkan sifat ilahi Kristus; sifat ini murni dan abadi. Di dalam Yesus, orang Nazaret, terdapat sifat ilahi ini, meskipun “emas” ini tersembunyi di dalam-Nya.
Kita harus mengalami sifat ilahi Kristus yang tersem-bunyi ini. Sebagai contoh, seorang saudara yang menjadi suami, ayah, atau pegawai, harus memiliki sifat-sifat ilahi Kristus yang tersembunyi di dalamnya. Orang lain mungkin akan merasa heran melihatnya, dan merasa ada sesuatu yang berharga di dalamnya. Para ahli agama dibingungkan oleh Tuhan Yesus. Mereka mengetahui bahwa Ia adalah seorang tukang kayu, dan beberapa orang di antara mereka bahkan mengenal ayah-Nya. Meskipun demikian, mereka merasa heran, bagaimana Ia dapat melakukan dan mengatakan hal-hal tertentu. Yang menyebabkan mereka merasa heran ialah sifat ilahi yang tersembunyi di dalam orang Nazaret ini.
Bahkan para muda mudi di antara kita pun harus mengalami Kristus dalam sifat ilahi-Nya yang murni dan abadi. Kemudian mereka akan memberikan kesan kepada orang lain di sekolah atau di lingkungan mereka bahwa mereka memiliki sesuatu yang berbobot dan berharga. Dalam pembicaraan dan tingkah laku mereka, mereka akan memberikan kesan bahwa mereka memiliki sesuatu yang mengagumkan di dalam mereka. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa banyak di antara kaum muda kita yang memiliki kesaksian yang demikian. Apa yang kita alami dan kita peroleh dari sifat ilahi Kristus, harus kita bawa ke dalam sidang dan kita persembahkan kepada Allah. Mereka yang masih duduk di bangku SMA, jangan menganggap diri sendiri masih terlalu muda untuk mempersembahkan persembahan tatangan yang demikian kepada Allah bagi pembangunan-Nya. Saya dapat bersaksi, ketika kaum muda berfungsi secara demikian, saya terbina dan terbangun. Kita semua memerlukan pengalaman dari emas, yaitu sifat ilahi Kristus. Kemudian kita harus mempersembahkan unsur Kristus yang telah kita alami ini kepada Allah sebagai persembahan tatangan. Kita harus mengalami Dia, mendapatkan Dia, dan kemudian mempersembahkan Dia kepada Allah bagi pembangunan tempat kediaman-Nya.