VISI TENTANG KEMAH SUCI DAN PERABOTANNYA BERKENAAN DENGAN BAHAN DAN MODELNYA (1)
Pembacaan Alkitab: Kel. 25:1-9
Selama satu setengah abad terakhir ini, telah banyak ditulis buku mengenai perlambangan Kemah Suci. Guru-guru Alkitab Kaum Saudara khususnya menyediakan banyak waktu untuk mempelajari Kemah Suci. Hari ini kita berdiri di atas bahu guru-guru Alkitab tersebut. Meskipun banyak di antara buku-buku mengenai Kemah Suci tersebut sangat baik, tetapi terdapat banyak sekali kekurangan dalam buku-buku tersebut. Sebagian besar dari buku-buku itu ditulis dari aspek yang doktrinal. Dalam buku-buku itu tidak banyak ditekankan mengenai pengalaman orang Kristen.
Dalam tulisan-tulisannya, Yohanes dua kali menyebutkan Kemah. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman, yang adalah Allah telah menjadi daging dan diam (berkemah) di antara kita. Ketika Kristus berada di dalam daging, Ia adalah Kemah Allah, yaitu tempat kediaman Allah di bumi. Sebelum inkarnasi Kristus, Allah tinggal dalam Kemah Suci yang didirikan di Gunung Sinai. Kemudian Allah bergerak bersama Kemah Suci, dan akhirnya menggabungkannya dengan Bait Suci. Jadi, Kemah Suci dan Bait Suci harus dianggap sebagai satu tempat kediaman, bukan dua.
Berabad-abad sebelum Kristus dilahirkan, Allah meninggalkan Bait Suci dan kembali ke surga. Dalam Yehezkiel 10, kita melihat bahwa kemuliaan Tuhan meninggalkan Kemah Suci dan tidak pernah kembali. Oleh karena itu, ada beberapa ratus tahun Allah tidak diam di bumi. Meskipun demikian, Allah tidak seluruhnya membuang Kemah Suci sampai ketika Tuhan Yesus ditolak oleh umat Allah. Menurut Matius 23:38 Tuhan Yesus berkata, “Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Sejak saat itu Bait Suci tidak lagi menjadi rumah Allah, Bait Suci menjadi rumah orang-orang Israel yang telah merosot. Rumah itu pernah menjadi rumah Allah, tetapi sekarang disebut “rumahmu”. Nubuat yang mengatakan bahwa rumah mereka akan ditinggalkan dan menjadi sunyi sesuai dengan apa yang ada dalam Matius 24:2, yang tergenap pada saat Titus meruntuhkan Yerusalem pada tahun 70.
Masa Tuhan Yesus berada di bumi adalah masa transisi atau peralihan. Sebelum Bait Suci yang dibuat dengan tangan itu diruntuhkan, Kristus telah berinkarnasi dan menjadi Kemah Allah yang sejati. Ketika Kristus datang untuk melayani, Allah tinggal di dalam Dia, bukan tinggal di dalam Bait Suci yang dibuat oleh tangan manusia. Suatu hari Tuhan Yesus berkata, “Runtuhkan Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Yohanes 2:21 mengatakan, “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Suci ialah tubuh-Nya sendiri.” Baik Bait Suci yang dibuat oleh tangan manusia maupun Tubuh Kristus sebagai Bait Suci Allah, keduanya diruntuhkan. Inilah masa peralihan, yaitu masa peralihan dari Bait Allah yang material kepada Kristus sebagai Bait Suci Allah. Tuhan tahu bahwa melalui kematian-Nya di atas salib, Bait Suci yang adalah tubuh-Nya akan diruntuhkan. Tetapi pada hari ketiga, dalam kebangkitan-Nya, Ia akan mendirikannya kembali. Pada saat itu Kemah Suci, Bait Allah, akan diperluas menjadi gereja. Oleh karena itu, gereja hari ini ialah Kemah Suci. Akhirnya Kemah Suci ini disempurnakan dalam Yerusalem Baru sebagai tempat kediaman kekal Allah. Mengenai Yerusalem Baru, Wahyu 21:3 mengatakan, “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan tinggal bersama-sama dengan mereka.” Yerusalem Baru akan menjadi perluasan gereja, dan gereja adalah perluasan Kristus. Kristus adalah Kemah Suci, gereja adalah Kemah Suci yang diperluas, dan Yerusalem Baru akan menjadi Kemah Suci yang rampung sempurna. Kemah Suci tidak hanya melambangkan Kristus sebagai persona yang individual, bahkan melambangkan gereja sebagai tempat kediaman Allah yang korporat.
Sebagaimana telah kita tunjukkan, Kitab Keluaran dapat dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama terdiri atas pasal 1—24, dan bagian kedua terdiri atas pasal 25—40. Dua puluh empat pasal yang pertama merupakan catatan mengenai persiapan, dan enam belas pasal yang terakhir merupakan catatan mengenai pembangunan Kemah Suci.
Sembilan ayat pertama dari Keluaran 25 sangatlah penting. Bila kita mulai membaca pasal ini, mungkin kita kurang memperhatikan ayat-ayat tersebut. Boleh jadi kita hanya memiliki sedikit perhatian terhadap berbagai bahan yang disebutkan. Yang ditekankan dalam Keluaran 25:1-9 bukanlah perabotan Kemah Suci tabut perjanjian, mezbah pembakaran ukupan, kaki pelita, meja roti sajian, bejana pembasuhan, dan mezbah melainkan Kemah Suci. Dalam ayat 8, Tuhan berkata, “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Tempat kudus di sini ialah Kemah Suci sebagai tempat kediaman Allah. Tempat kudus ini melambangkan gereja. Berdasarkan konteks tersebut, kita dapat melihat bahwa tempat kudus itu bukanlah persona yang individual, sebaliknya, tempat kudus ini adalah orang-orang yang korporat, karena Allah mengatakan akan “diam di tengah-tengah mereka.”
Ayat-ayat ini bukan berhubungan dengan visi mengenai tabut perjanjian, melainkan mengenai Kemah Suci. Memang, tabut perjanjian melambangkan Kristus yang individual. Akan tetapi, Kemah Suci melambangkan Kristus yang individual, yaitu Kepala, juga Kristus yang korporat, yaitu Tubuh. Perjanjian Baru dengan jelas mewahyukan bahwa Kristus yang individual adalah Kepala. Kepala ini pasti memiliki satu Tubuh. Tubuh Kristus ialah gereja. Dalam Efesus 1:22-23, Paulus membicarakan tentang gereja sebagai Tubuh Kristus, yang kepenuhan-Nya memenuhi segala sesuatu. Dalam Kitab Keluaran, kita tidak hanya memiliki tabut perjanjian Kristus, lebih-lebih Kemah Suci. Kristus, bukan hanya bersifat individual lebih-lebih bersifat korporat.
Jika kita menerapkan lambang mengenai Kemah Suci hanya pada Kristus yang individual, maka segala sesuatu mengenai Kemah Suci akan menjadi obyektif dan doktrinal, dan hanya ada sedikit sekali tempat bagi pengalaman rohani. Tetapi jika kita tahu bahwa visi dalam Kitab Keluaran bukan hanya merupakan visi tentang Kristus sebagai tabut perjanjian, lebih-lebih visi tentang Kemah Suci sebagai perluasan Kristus, yaitu gereja, maka kita akan menyadari perlunya pengalaman. Saya ulangi, dalam Kitab Keluaran kita tidak hanya memiliki tabut perjanjian, tetapi juga Kemah Suci. Ini berarti kita tidak hanya memiliki Kristus, tetapi juga gereja. Dalam Keluaran 25:8, Allah tidak mengatakan, “Mereka harus membuat tabut perjanjian bagi-Ku, sehingga Aku dapat diekspresikan.” Ia berkata, “Mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.”
Sangatlah penting bagi kita untuk melihat bahwa bagian kedua dari Kitab Keluaran berhubungan dengan Kemah Suci sebagai lambang gereja yang merupakan perluasan Kristus. Agar Kristus diperluas menjadi gereja, kita harus memiliki banyak pengalaman rohani. Karena alasan inilah, ketika kita membahas Keluaran 25—40, tekanan kita akan lebih banyak pada pengalaman. Ini bukan berarti saya menolak apsek yang doktrinal, melainkan saya hendak menunjukkan bahwa butir di sini lebih terkait dengan peng-alaman orang Kristen daripada doktrin. Beban saya di sini ialah menunjukkan bahwa bagian dari firman ini penuh dengan pengalaman.
Berkali-kali saya ingin menekankan bahwa dalam Keluaran 25—40, kita memiliki visi tentang Kemah Suci tidak hanya sebagai lambang Kristus, tetapi juga gereja, yaitu perluasan Kristus. Agar Kristus memiliki Tubuh, yaitu gereja, perluasan-Nya, kita harus memiliki banyak pengalaman atas Kristus. Jika kita tidak mengalami Kristus, tidak ada jalan bagi Dia untuk diperluas, yaitu untuk memiliki Tubuh, atau memiliki Kemah Suci sebagai perluasan tabut perjanjian.
Baik tabut perjanjian maupun papan Kemah Suci yang berdiri tegak, keduanya dibuat dari kayu penaga yang dilapisi emas. Ini menunjukkan bahwa Kemah Suci adalah perluasan tabut perjanjian. Dalam prinsip yang sama, gereja adalah perluasan Kristus. Proses ini memerlukan pengalaman yang sejati atas Kristus.
I. MELIHAT VISI
Melihat visi tentang Kemah Suci merupakan sesuatu yang sangat berarti. Akan tetapi, banyak pembaca Kitab Keluaran yang hanya memiliki sedikit perhatian terhadap Keluaran 25—40. Mereka tidak memperhatikan bahan-bahan yang digunakan untuk mendirikan Kemah Suci.
Musa menerima visi tentang Kemah Suci ketika ia berada di puncak gunung di bawah kemuliaan Allah. Allah menyingkapkan selubung yang menutupinya, sehingga ia melihat visi tentang perkara-perkara surgawi. Ibrani 8:5 mengatakan, “sama seperti yang diberitahukan kepada Musa, ketika ia hendak mendirikan kemah, ‘Perhatikanlah,’ demikian firman-Nya, ‘bahwa engkau harus membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu.’” Untuk melihat visi ini, Musa harus menempuh perjalanan dari Mesir ke Gunung Sinai.
A. SETELAH PENGALAMAN-PENGALAMAN AWAL
Untuk melihat visi Kemah Suci, kita harus melewati pengalaman-pengalaman awal tertentu: Paskah (Kel. 12), penyeberangan Laut Merah (Kel. 14), Mara dan Elim (Kel. 15), kenikmatan atas manna (Kel. 16), kenikmatan atas air hidup dari batu karang (Kel. 17), dan peperangan melawan orang-orang Amalek (Kel. 17). Penyeberangan Laut Merah melambangkan pembaptisan, yang memisahkan kita dari Mesir, yaitu dunia, dan yang membebaskan kita dari tirani setan. Pengalaman atas Mara dan Elim menunjukkan penanggulangan salib dan kepenuhan kebangkitan. Setelah kita melewati pengalaman atas manna, air hidup yang mengalir dari batu karang yang terbelah, dan peperangan melawan orang-orang Amalek, kita sampai di Gunung Sinai, yaitu gunung Allah, tempat kita menerima visi. Jika kita kekurangan pengalaman-pengalaman permulaan ini, kita tidak akan dapat melihat visi yang tercatat dalam Keluaran 25—40. Puji Tuhan, sebagian besar di antara kita yang berada dalam pemulihan-Nya, telah memiliki pengalaman-pengalaman awal ini.
Semua pengalaman awal ini berhubungan dengan Kristus. Setiap pengalaman ini merupakan pengalaman atas Kristus. Tetapi bagaimanapun baiknya pengalaman-pengalaman di atas, itu masih di tingkat dasar. Sampai pada Keluaran 25, barulah kita memiliki pengalaman yang lebih meningkat di dalam pengalaman rohani kita.
B. DALAM PERSEKUTUAN YANG AKRAB DENGAN ALLAH
1. Menerima Wahyu tentang Apa Adanya Allah
Setelah umat Allah melewati pengalaman-pengalaman awal, kemudian mereka masuk ke dalam persekutuan yang akrab dengan Allah di Gunung Sinai. Selama bersekutu dengan Allah, mereka menerima wahyu tentang apa adanya Allah. Wahyu ini digambarkan oleh hukum Taurat Allah. Hukum Taurat merupakan lukisan yang menunjukkan apa adanya Allah. Misalnya, Anda memberi tahu saya tentang seorang saudara yang belum saya kenal, seraya menunjukkan fotonya, melalui foto itu saya dapat memperoleh gambaran tentang bagaimana saudara tersebut. Sedikit banyak, foto saudara itu merupakan pengungkapan mengenai dirinya. Dalam prinsip yang sama, hukum Taurat merupakan wahyu tentang apa adanya Allah. Hukum Taurat mewahyukan bahwa Allah itu kudus dan adil, dan bahwa Ia adalah Allah terang dan kasih.
Meskipun Sepuluh Perintah dengan semua peraturan tambahannya memberikan gambaran yang jelas kepada kita tentang apa adanya Allah, tetapi banyak orang Kristen yang tidak memiliki pengertian ini ketika mereka membaca Keluaran 20—23. Sebaliknya, mereka memperhatikan peraturan-peraturan itu sebagai tuntutan-tuntutan yang harus mereka pelihara. Hari ini, sedikit sekali orang Kristen yang mengenal bahwa hukum Taurat adalah wahyu Allah.
Hukum Taurat juga menyingkapkan keadaan umat Allah. Allah itu kudus, sedangkan umat itu duniawi, sekuler. Allah itu benar, adil, sedangkan umat itu penuh dengan ketidakbenaran. Allah adalah Allah Sang terang, Allah Sang kasih, sedangkan umat itu penuh kegelapan dan kebencian. Karena umat itu tersingkapkan, maka mereka mendesak Musa untuk pergi ke hadapan Allah bagi mereka. Mereka tahu Allah itu kudus dan adil, karena itu mereka memerlukan seorang pengantara.
Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa ketika kita memiliki persekutuan yang akrab dengan Allah dan menerima wahyu-Nya, kita akan tersingkap. Kita akan merasa bahwa kita ini telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok, serta benar-benar memerlukan darah. Sungguh suatu hal yang baik untuk menerima wahyu tentang apa adanya Allah dan disingkapkan.
2. Di Gunung Allah
Musa melihat visi ketika ia berada di gunung Allah. Jika kita ingin melihat visi tentang Kemah Pertemuan, kita juga harus berada di puncak gunung bersama Tuhan.
3. Melalui Tinggal Bersama Allah
Ketika Musa berada di gunung Allah, ia tinggal bersama Allah di bawah kemuliaan-Nya selama 40 hari 40 malam. Dalam Alkitab, angka 40 menunjukkan pengujian. Sukar bagi kita untuk bertahan terhadap pengujian Allah. Kita lebih senang melihat visi secara cepat, yaitu dalam waktu beberapa menit saja. Tetapi untuk melihat wahyu dari Allah, memerlukan waktu yang lama. Musa memerlukan waktu selama 40 hari 40 malam untuk melihat visi ini. Berdasarkan pengalaman saya, saya dapat bersaksi bahwa saya memerlukan waktu selama 40 tahun untuk melihat visi ini. Sedikit demi sedikit, Tuhan menunjukkan wahyu-Nya. Kita tidak seharusnya mengira bahwa kita dapat melihat wahyu ilahi dalam waktu yang cepat.
Beberapa pengalaman yang kita peroleh dalam pemulihan Tuhan bertahun-tahun yang lalu menunjukkan bahwa kita memerlukan waktu yang lama untuk melihat wahyu Allah. Pada tahun 1964, beberapa saudara memutuskan bahwa mereka akan pindah ke kota lain di Amerika Serikat untuk menyebarkan hidup gereja. Mula-mula saya setuju bahwa perpindahan yang sedemikian ini akan baik bagi pemulihan Tuhan. Namun, beberapa minggu kemudian, saya menganjuri saudara-saudara untuk menunggu sejangka waktu lagi, mungkin harus menunggu tiga tahun. Tetapi ada beberapa saudara yang tetap pindah ke tempat lain dan berusaha menempuh hidup gereja. Hasilnya, masing-masing dari mereka gagal, dan kembali ke kota mereka serta mengakui bahwa mereka harus menunggu sejangka waktu lagi sebelum berusaha menyebarkan hidup gereja. Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1967, saya menganjuri kaum beriman tersebut agar menunggu selama 3 tahun lagi. Tetapi ada beberapa saudara yang tidak dapat melewati pengujian waktu ini. Mereka tidak sabar menunggu lebih lama lagi, dan kemudian keluar menurut kemauan mereka sendiri. Sejarah telah membuktikan bahwa semua orang yang keluar menurut cara yang demikian tidak pernah berhasil. Ini menunjukkan bahwa perkara-perkara rohani memerlukan waktu yang lama. Untuk melihat visi, Musa harus menghabiskan waktu selama 40 hari 40 malam di bawah kemuliaan Allah di puncak gunung.
Waktu selama 40 hari Musa bersama Tuhan di puncak gunung, merupakan ujian bagi orang-orang Israel. Mereka tidak dapat menunggu sampai Musa turun dari gunung. Mereka menyuruh Harun membuat “Allah” bagi mereka. Bangsa itu menanggalkan anting-anting emas mereka dan membawa anting-anting tersebut kepada Harun, dan dengan pahat Harun membuat anak lembu tuangan (Kel. 32:3-4). Kemudian bangsa itu berkata, “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari Mesir” (ayat 4). Sebagai pengganti dari melihat visi, bangsa itu bahkan tidak dapat bertahan terhadap pengujian waktu, dan membuat allah bagi mereka sendiri. Mereka dapat melihat anak lembu emas itu, dan menyatakan bahwa anak lembu emas itu ialah Allah yang membebaskan mereka dari Mesir. Sebenarnya anak lembu emas itu adalah berhala. Situasi ini sama dengan keadaan di antara kebanyakan orang Kristen hari ini. Mungkin mereka membual bahwa mereka telah melihat visi, tetapi sebenarnya apa yang mereka miliki tak lain ialah anak lembu emas, yaitu berhala buatan sendiri. Karena tidak sabar menunggu waktu yang diperlukan untuk melihat wahyu Allah, mereka membuat berhala bagi diri mereka sendiri.
II. MENGENAI BAHAN-BAHANNYA
Dalam Keluaran 25:1-7, Allah mewahyukan kepada Musa mengenai bahan-bahan, yaitu unsur dasar, yang digunakan untuk mendirikan Kemah Suci. Semua bahan tersebut menunjukkan unsur dasar yang harus kita gunakan dalam mendirikan Kemah Suci. Tetapi orang-orang Kristen hari ini kekurangan setiap unsur tersebut. Sebagai pengganti dari memperhatikan bahan-bahan yang sesuai dengan wahyu Allah, orang-orang Kristen hari ini bahkan diajar bagaimana cara berorganisasi dan menggunakan psikologi. Dalam pemulihan Tuhan kita tidak mengajarkan psikologi atau organisasi. Kita perlu mengetahui sepenuhnya semua bahan surgawi tersebut.
A. MENUNJUKKAN KEBAJIKAN PERSONA DAN PEKERJAAN KRISTUS
Semua bahan yang disebutkan dalam Keluaran 25:1-7 menunjukkan kebajikan persona dan pekerjaan Kristus. Ini berarti bahan-bahan tersebut melambangkan berbagai aspek Kristus. Bahan-bahan tersebut menyatakan kebajikan Kristus dalam persona-Nya, dan apa yang telah dan yang akan Dia lakukan dalam pekerjaan-Nya.
B. PERSEMBAHAN TATANGAN
Keluaran 25:2 mengatakan, “Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka memungut bagi-Ku persembahan khusus (tatangan); dari setiap orang yang terdorong hatinya, haruslah kamu pungut persembahan khusus (tatangan) kepada-Ku itu.” Menurut Perjanjian Lama, persembahan di sini ialah sesuatu yang diciptakan oleh Allah, yang disediakan oleh Allah, tetapi yang telah kita peroleh, kita miliki, dan kita nikmati. Persembahan menunjukkan sesuatu yang diciptakan oleh Allah dan yang telah menjadi pengalaman kita. Sebagai contoh, seorang Israel mempersembahkan seekor domba kepada Allah. Meskipun domba itu diciptakan dan disediakan oleh Allah, tetapi orang yang mempersembahkannya harus memperolehnya dalam cara yang sah. Ia tidak boleh mencuri seekor domba dan kemudian mempersembahkan domba curian itu kepada Allah. Setelah memperoleh domba dalam cara yang layak, ia harus menikmati dan mengalaminya. Kemudian ia dapat mempersembahkan domba ini kepada Allah. Mempersembahkan persembahan kepada Allah merupakan masalah pengalaman. Semua bahan yang disediakan Allah harus menjadi milik, kenikmatan, dan pengalaman kita. Kemudian melalui pengalaman, kita akan memiliki hak dan kedudukan untuk mempersembahkan bahan-bahan ini sebagai persembahan tatangan.
Dalam Perjanjian Lama, persembahan tatangan menunjukkan persembahan yang ditinggikan di hadapan Allah. Lagi pula, persembahan tatangan dan persembahan unjukan adalah seiring. Sebenarnya, kedua persembahan ini merupakan pasangan. Persembahan tatangan menunjukkan Kristus yang ditinggikan di surga, yaitu Kristus dalam kenaikan. Jika kita ingin memiliki persembahan tatangan, kita harus mengalami Kristus yang surgawi. Persembahan unjukan melambangkan Kristus di dalam kebangkitan. Sebagai Dia yang dibangkitkan, Kristus dapat bergerak, Ia aktif dan penuh kekuatan. Ia dikuburkan dalam kuburan, tetapi Ia mendobrak perhambaan maut dan keluar dari kubur. Kematian tidak dapat menahan Dia.
Dalam Keluaran 25:2, disebutkan persembahan tatangan, bukan persembahan unjukan. Fakta bahwa bahan-bahan itu harus dipersembahkan sebagai persembahan tatangan, berarti bahan-bahan itu mengacu kepada apa yang telah kita alami di dalam kebangkitan. Semua persona dan pekerjaan Kristus dipersembahkan kepada Allah sebagai persembahan tatangan di dalam karakter kebangkitan, di dalam kedudukan surgawi, dan untuk pembangunan tempat kediaman Allah di bumi. Bahan yang kita persembahkan harus memiliki karakter kebangkitan dan kedudukan surgawi. Ini menunjukkan bahwa gereja didirikan dengan bahan-bahan yang penuh dengan karakter kebangkitan dan sepenuhnya berada dalam kedudukan surgawi.
Kita telah menunjukkan bahwa bahan yang digunakan dalam mendirikan gereja harus memiliki karakter kebangkitan dan berada dalam kedudukan surgawi. Jika kita melihat hal ini, kita tidak akan menggunakan cara organisasi. Berorganisasi itu alamiah dan tidak berhubungan dengan kebangkitan. Bahan untuk pembangunan gereja harus penuh dengan karakter kebangkitan. Bahkan kasih kita pun tidak seharusnya merupakan kasih yang alamiah, tetapi kasih di dalam kebangkitan. Bila Anda mau mengekspresikan kasih terhadap orang beriman, terlebih dulu Anda harus membedakan kasih ini bersifat alamiah atau berada dalam kebangkitan. Anda harus bertanya kepada diri Anda sendiri, kasih Anda itu berdasarkan perasaan, kecenderungan, dan tujuan Anda yang alamiah, atau berada dalam karakter kebangkitan. Jika kasih ini berada di dalam kebangkitan, berarti hayat alamiah telah disalibkan dan dikuburkan. Kasih yang berada dalam kebangkitan secara otomatis berada dalam kedudukan surgawi. Jika kita memiliki persembahan unjukan, maka persembahan ini juga merupakan persembahan tatangan. Persembahan ini adalah sesuatu yang berada di dalam kebangkitan dan di dalam surga. Semua bahan harus memiliki kebajikan persona dan pekerjaan Kristus yang telah kita peroleh, kita nikmati, dan kita alami serta kita persembahkan kepada Allah di dalam kebangkitan sebagai suatu persembahan tatangan. Jadi, pengalaman-pengalaman kita harus berada di dalam kebangkitan dan kedudukan surgawi.
Gereja tidak didirikan dengan bahan-bahan alamiah, dan bahkan tidak secara langsung didirikan dengan Kristus. Sebaliknya, gereja didirikan dengan Kristus yang telah menjadi pengalaman kita. Gereja tidak hanya didirikan dengan Kristus yang telah disediakan oleh Allah, lebih-lebih dengan Kristus yang kita miliki, kita nikmati, dan kita alami di dalam kebangkitan dan kedudukan surgawi. Kita memerlukan pengalaman yang limpah atas kebangkitan dan kenaikan Kristus. Kita tidak seharusnya bersifat alamiah, bumiah; Sebaliknya, kita harus berada di dalam kebangkitan dan kedudukan surgawi.
Sebagaimana kita lihat, ada 12 macam bahan yang digunakan dalam mendirikan Kemah Suci. Bahan-bahan ini terdiri atas tiga kategori: mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang (hewan). Dalam Alkitab, hayat hewan melambangkan penebusan. Sebelum kejatuhan manusia, Allah tidak menentukan manusia untuk makan daging hewan. Karena manusia belum berdosa, maka tidak diperlukan penebusan seperti yang dilambangkan dengan makan daging hewan. Penerimaan hayat hewan dengan penumpahan darah melambangkan penebusan.
Hayat tumbuh-tumbuhan dalam Alkitab melambangkan hayat yang melahirkan (menghasilkan), hayat yang berproduksi. Sebelum kejatuhan manusia, yang diperlukan hanyalah hayat yang melahirkan ini. Inilah alasannya mengapa sebelum kejatuhan, manusia hanya perlu makan dari hayat tumbuh-tumbuhan. Manusia memerlukan hayat yang melahirkan, hayat yang berproduksi. Tetapi setelah kejatuhan, manusia juga memerlukan hayat hewan untuk penebusan.
Dalam Alkitab, mineral digunakan untuk membangun dan berperang. Tentu saja, berperang juga berhubungan dengan membangun. Pertama, hayat Kristus adalah untuk penebusan; kedua, untuk melahirkan (berproduksi); dan ketiga, untuk membangun. Hayat Kristus adalah hayat penebusan, hayat yang berproduksi, dan hayat pembangunan. Sasaran terakhir Allah bukanlah penebusan maupun kelahiran kembali. Sasaran terakhir Allah ialah pembangunan. Karena kita mau dibangun bersama-sama menjadi tempat kediaman Allah, maka kita memerlukan hayat penebusan dan hayat yang melahirkan. Jika kita mau dibangun, kita memerlukan hayat yang melahirkan, dan jika kita hendak dilahirkan kembali, kita memerlukan hayat penebusan.
Alasan mengapa mineral disebutkan lebih dulu dalam Keluaran 25:1-7, ialah karena sasaran terakhir Allah adalah pembangunan. Dari Keluaran 8 kita melihat bahwa kehendak Allah ialah agar umat-Nya membuat suatu tempat kudus bagi Dia. Tempat kudus, yakni bangunan ini memerlukan mineral-mineral tertentu. Dalam pembangunan Yerusalem Baru, yaitu perampungan akhir pembangunan Allah, tidak diperlukan hayat tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Di sana hanya ada mineral: pintu gerbang mutiara, jalan emas, dan dinding serta fondasi dari batu-batu berharga. Tetapi untuk mencapai sasaran Allah, kita memerlukan hayat penebusan dan hayat yang melahirkan. Bila kita memiliki penebusan dan kelahiran Kristus, barulah kita dapat memiliki pembangunan Allah. Oleh karena itu, ketiga kategori bahan-bahan, yaitu mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hayat hewan, menunjukkan bahwa hayat penebusan adalah untuk hayat yang melahirkan dan hayat yang melahirkan adalah untuk pembangunan.