VISI TENTANG ALLAH DALAM LANGIT YANG JERNIH DAN CERAH SERTA TINGGAL BERSAMA ALLAH DI BAWAH KEMULIAAN-NYA
Pembacaan Alkitab: Kel. 24:1-2, 9-18
Kitab Keluaran dapat dibagi menjadi dua bagian: pasal 1—24 sebagai bagian pertama, dan pasal 25—40 sebagai bagian kedua. Bagian kedua, yang terdiri dari 16 pasal, terutama merupakan catatan mengenai visi tentang Kemah Suci. Pasal-pasal ini berisi sedikit sekali tentang sejarah. Di sini kita melihat penjelasan yang rinci mengenai rancangan, bahan, dan konstruksi Kemah Suci sebagai tempat kediaman Allah di bumi.
Banyak orang Kristen membaca Kitab Keluaran tanpa terkesan oleh fakta bahwa tujuan penyelamatan Allah ialah membawa umat tebusan-Nya ke dalam tempat kediaman-Nya di bumi. Sasaran Allah dalam penyelamatan-Nya ialah menjadikan kita sebagai tempat kediaman-Nya. Perkara penting ini harus berkali-kali ditekankan, sehingga menjadi suatu kesan yang mendalam bagi kita. Karena itu, kita memerlukan banyak sekali berita untuk mempersekutukan secara rinci visi yang ajaib dan surgawi, yang dijelaskan dalam Keluaran 25—40.
Selama satu setengah abad terakhir ini, guru-guru Alkitab “Kaum Saudara” (the Brethren) telah menulis sejumlah buku mengenai Kemah Suci (tabernakel) dan perabotnya, yang meliputi tabut perjanjian, mezbah pembakaran ukupan, meja roti sajian, kaki pelita, bejana pembasuhan, dan mezbah tembaga. Tetapi ketika dulu saya bersama mereka, saya tidak pernah diberi tahu bahwa gereja hari ini ialah Kemah (tabernakel) Allah.
Dalam Alkitab kata “Kemah” (tabernakel) digunakan dalam tiga cara. Pertama, mengacu kepada Kemah Suci yang didirikan di kaki Gunung Sinai. Kedua, mengacu kepada Tuhan Yesus adalah Kemah yang beserta dengan manusia. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman, yang adalah Allah, “telah menjadi manusia, dan tinggal (mendirikan Kemah) di antara kita.” Melalui inkarnasi, Kristus menjadi Kemah Allah di bumi. Karena itu, Kemah Suci dalam Kitab Keluaran merupakan lambang Kristus sebagai Kemah Allah. Ketiga, Kemah Suci mengacu kepada Yerusalem Baru, yaitu Kemah Allah yang paling ultima (akhir), sempurna, dan diperluas. Kemah Allah ini meliputi umat tebusan Allah baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Tujuan penyelamatan Allah yang diwahyukan dalam Kitab Keluaran, ialah membawa umat-Nya ke dalam Kemah Suci sebagai tempat kediaman-Nya.
Dalam berita ini kita akan memperhatikan Keluaran 24:1-2, 9-18. Ketika kita sampai pada bagian ini, berarti kita telah berada di ambang pintu visi-visi surgawi yang terkandung dalam pasal-pasal berikutnya. Jika kita belum sampai ke ambang pintu ini, kita tidak akan dapat melihat visi-visi surgawi tersebut.
Untuk mencapai ambang pintu dalam Keluaran 24, umat Allah harus mengalami semua peristiwa yang tercatat dalam pasal-pasal sebelumnya. Bangsa itu dijadikan budak-budak di Mesir yang berada di bawah tirani Firaun, tetapi Allah menyediakan Musa dan mengutusnya sebagai seorang utusan untuk menolong mereka. Dalam Keluaran 12 ada Paskah; dalam Keluaran 14 ada penyeberangan Laut Merah; dalam Keluaran 15 ada air di Mara dan 12 mata air serta 70 pohon korma di Elim; dalam Keluaran 16 ada manna surgawi; dalam Keluaran 17 ada air hidup dari batu karang serta peperangan dengan orang Amalek; dan dalam Keluaran 19—23 ada penitahan hukum Taurat dan peraturan-peraturan di Gunung Sinai. Umat Allah harus melalui semua pengalaman ini, sebelum mereka dapat berdiri di ambang pintu dalam Keluaran 24.
Dalam Keluaran 19, bangsa itu dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah di Gunung Sinai. Tetapi mula-mula persekutuan ini agak kabur, karena persekutuan ini terjadi di dalam kegelapan awan yang tebal. Keluaran 19:9 mengatakan, “Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal”, dan 20:21 mengatakan, “Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.”
Meskipun bangsa itu telah dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah di Gunung Sinai, tetapi mereka tidak mengenal macam apa Allah itu, dan mereka tidak memahami bahwa mereka adalah orang yang telah jatuh, penuh dosa, dan bobrok. Mereka tidak memiliki wahyu mengenai Allah maupun diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka memiliki konsepsi alamiah mengenai Allah juga diri mereka di Gunung Sinai, akhirnya melalui persekutuan mereka dengan Allah, mereka diterangi.
Kita telah menunjukkan bahwa ketika hukum Allah ditetapkan, Musa mendirikan mezbah, dan kurban-kurban dipersembahkan dengan penumpahan darah. Darah ini, yaitu darah perjanjian, kemudian digunakan untuk memerciki bangsa itu. Mezbah, kurban, dan darah ini menunjukkan bahwa Allah menganggap umat pilihan-Nya sebagai orang yang telah ditebus, diakhiri, dan digantikan. Kemudian sebagaimana ditunjukkan oleh kedua belas tiang yang didirikan oleh Musa, mereka dapat menjadi tiang-tiang yang berdiri di hadapan Allah untuk mencerminkan Dia sebagai kesaksian-Nya yang hidup.
Saya tidak percaya bahwa umat Allah memiliki pemahaman terhadap diri mereka sendiri. Mereka tidak memahami makna dari mezbah, kurban, tiang, dan darah. Hari ini ketika orang-orang Yahudi atau orang Kristen membaca Keluaran 24, mereka terselubung dan tidak memahami makna benda-benda tersebut. Tetapi Allah memiliki pengertian yang penuh mengenai apa yang tengah terjadi. Ia mengetahui apa yang telah Ia rencanakan, dan apa yang tengah Ia lakukan melalui penetapan perjanjian. Ia tahu bahwa Ia telah memperoleh suatu bangsa yang telah ditebus, diakhiri, dan digantikan untuk menjadi kesaksian-Nya yang hidup.
Dalam 1Korintus 10:5, Paulus menunjukkan bahwa keadaan umat Allah di padang gurun benar-benar sangat buruk, “Sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun.” Namun, ketika Balak meminta Bileam mengutuk orang-orang Israel, Bileam mengatakan, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21). Bileam juga berkata, “Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!” (Bil. 24:5). Bileam disuruh mengutuk umat Allah, tetapi sebaliknya ia bahkan memberkati mereka. Melalui semua ini kita melihat bahwa dalam pandangan Allah, umat tebusan-Nya tidak memiliki kesalahan. Ini juga mengajarkan kepada kita, supaya kita tidak membicarakan kaum beriman secara negatif. Perkataan negatif yang sedemikian ini bisa menyalahi Tuhan. Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa meskipun mungkin keadaan kaum beriman di lokal tertentu tidak baik, tetapi Allah menganggap mereka sebagai orang-orang yang telah ditebus, diakhiri, dan digantikan. Dalam pandangan Allah, seluruh umat tebusan-Nya telah diakhiri oleh salib, telah digantikan oleh Kristus dan dengan Kristus. Dalam Keluaran 24, kita memiliki bangsa yang telah ditebus, diakhiri, dan digantikan sedemikian ini.
I. VISI TENTANG ALLAH DALAM LANGIT YANG JERNIH DAN CERAH
Suasana dalam Keluaran 19 sangat gelap dan menakutkan. Tetapi sampai pasal 24, tiba-tiba awan yang tebal itu hilang, dan langit menjadi jernih dan cerah. Keluaran 24:9 dan 10 mengatakan, “Dan naiklah Musa dengan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel. Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.” Mereka melihat sesuatu di bawah kaki Allah yang rupanya seperti batu yang besar dan jernih. Karena perkataan manusia tidak dapat menjelaskan pemandangan ini, maka ayat 10 mengatakan bahwa mereka melihat “sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.” Kata “seperti” menunjukkan bahwa bahasa manusia tidak mampu menjelaskan penglihatan yang hebat ini. Musa hanya dapat menyamakan apa yang mereka lihat di bawah kaki Allah itu dengan batu nilam yang jernih, yang terangnya seperti langit yang cerah.
Selanjutnya ayat 11 mengatakan, “Mereka memandang Allah, lalu makan dan minum.” Ketika mereka memandang Allah, mereka makan dan minum. Karena mereka mengalami penglihatan yang paling ajaib, maka mereka disegarkan dengan makan dan minum. Di atas gunung mereka melihat sesuatu yang tidak seorang pun pernah melihatnya. Umat Allah yang telah ditebus, diakhiri, dan digantikan tersebut telah melihat Allah, bahkan melihat gambaran yang ajaib mengenai kaki-Nya.
Melihat visi tentang Allah sedemikian ini berarti menyembah Dia. Keluaran 24:1 mengatakan bahwa mereka yang naik ke gunung itu bersama-sama Musa harus menyembah dari jauh. Namun dalam ayat-ayat berikutnya tidak lagi dikatakan mengenai penyembahan terhadap Allah. Jika kita membaca pasal ini dengan teliti dan mempelajarinya dengan cermat, kita akan merasa heran melihat cara mereka menyembah Dia. Penyembahan dalam pasal ini ialah memandang Allah, dan makan serta minum. Inilah penyembahan yang benar, yaitu penyembahan yang dikehendaki oleh Allah. Allah tidak menghendaki kita beribadah kepada-Nya dengan bertelut merebahkan diri di hadapan-Nya. Dia menghendaki kita menikmati Dia, dan beribadah kepada-Nya dalam kenik-matan sedemikian ini. Pernahkah Anda berada dalam sebuah kapel (pondok kebaktian) atau katedral yang umatnya menyembah atau beribadah kepada Allah dengan jalan makan, minum, bersukacita, dan menikmati Tuhan? Penyembahan semacam ini sama sekali berlawanan dengan konsepsi kita yang agamawi. Tetapi penyembahan inilah yang dijelaskan dalam ayat 11: “Mereka memandang Allah, lalu makan dan minum.” Inilah cara mereka menyembah atau beribadah kepada-Nya.
Kita tidak seharusnya berusaha menganalisis Alkitab menurut pikiran alamiah kita, dan menyusun doktrin Alkitabiah. Yohanes 1:18 mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Keluaran 24 mengatakan bahwa ketujuh puluh tua-tua Israel dan orang-orang lainnya yang bersama Musa melihat Allah. Mereka bahkan melihat kaki Allah. Musa tidak mengatakan bahwa yang ada di bawah kaki Allah ialah lantai batu nilam yang jernih; ia mengatakan bahwa apa yang ada di bawah kaki Allah adalah sesuatu yang buatannya “seperti” lantai batu nilam yang jernih. Dalam Kolose 1:15, Paulus berbicara tentang Allah yang tidak kelihatan. Bagaimana Allah yang tidak kelihatan ini dapat dilihat? Pertanyaan yang sedemikian ini mengingatkan kita bahwa Alkitab itu ilahi, rohani, misterius, dan tidak dapat disusun atau dianalisis oleh pikiran alamiah.
Kita perlu menerapkan catatan tentang Keluaran 24 pada pengalaman kita. Kita telah ditebus, kita telah mengalami pengakhiran oleh salib, dan setidak-tidaknya pada suatu tingkat, kita telah mengalami penggantian Kristus. Kita dapat bersaksi bahwa kita telah dibawa ke dalam persekutuan dengan Allah. Mula-mula persekutuan ini agak kabur. Tetapi akhirnya, selama persekutuan kita dengan Tuhan, langit tiba-tiba menjadi cerah dan indah. Kemudian seolah-olah ada unsur rohani tertentu yang masuk. Unsur ini dapat disamakan dengan batu nilam yang jernih, yang terangnya seperti langit yang cerah. Ketika kita memiliki persekutuan yang sedemikian ini, sulit bagi kita untuk mengatakan di mana kita berada. Ini sungguh luar biasa. Jika Anda telah mengalami Tuhan secara demikian, berarti persekutuan Anda dengan Dia telah lebih limpah dan lebih tinggi.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Keluaran 19 dan 20, persekutuan antara orang-orang Israel dengan Allah agak kabur, ini dikarenakan adanya awan yang tebal. Tetapi dalam Keluaran 24, setelah darah perjanjian dipercikkan pada bangsa itu, langit segera menjadi cerah. Di sana tidak ada guntur dan rasa takut, ketegangan, maupun perasaan tidak nyaman. Suasananya menjadi tenang dan penuh damai. Pernahkah Anda masuk ke dalam suasana yang sedemikian ini dalam persekutuan Anda dengan Tuhan? Pernahkah Anda mengalami situasi semacam ini ketika berkontak dengan Dia? Saya dapat bersaksi bahwa saya sering menerima visi tentang Tuhan seperti yang dijelaskan dalam Keluaran 24. Langit di atas saya menjadi cerah, dan di depan saya seolah-olah ada sesuatu yang buatannya seperti batu nilam yang indah dan jernih, dan yang terangnya seperti langit cerah. Dalam suasana yang sedemikian inilah saya melihat Allah.
Ada orang yang mendengarkan kita bersaksi tentang melihat Allah dalam cara yang sedemikian ini, mungkin mereka akan mencari-cari kesalahan kita dan berkata, “Hal ini tidak masuk akal dan bahkan bidah. Alkitab memberi tahu kita bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah. Allah itu tidak kelihatan. Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa Anda pernah melihat Dia?” Tuhan Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Tentu saja Ia tidak keliru dalam mengatakan hal ini, dan Ia tidak menyangkal Alkitab. Dalam persekutuan saya dengan Tuhan, saya senang memiliki langit yang cerah dan melihat sesuatu yang buatannya seperti lantai batu nilam di bawah-Nya. Saya merasa senang bila tidak ada sesuatu apa pun di antara saya dengan Tuhan, tidak ada awan, bayangan, atau kekaburan. Mereka yang telah memiliki sejumlah pengalaman bersama Tuhan, dapat memberi kesaksian tentang apa yang saya katakan mengenai visi tentang Allah dalam langit yang jernih dan cerah ini.
Dalam suasana yang sedemikian ini, barulah kita dapat menerima visi surgawi mengenai pembangunan tempat kediaman Allah. Kita perlu melihat visi tentang Kemah Pertemuan dalam Perjanjian Lama, juga visi tentang gereja hari ini. Tetapi sebagian besar dari bangsa itu berada di kaki gunung, dan tidak melihat penglihatan tersebut. Mungkin mereka telah melihat sesuatu, tetapi apa yang mereka lihat tidaklah sempurna seperti yang dilihat oleh orang-orang yang bersama Musa di atas gunung.
Orang-orang yang melihat sesuai dengan keadaan yang dijelaskan dalam Keluaran 24, adalah “orang-orang mulia” di antara umat manusia. Mereka adalah orang-orang istimewa yang pernah masuk ke dalam suasana istimewa. Mereka telah melihat Allah dalam langit yang jernih dan cerah. Pengalaman ini sendiri sangat mulia. Pernahkah Anda memiliki saat-saat yang mulia sedemikian ini bersama Tuhan? Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa mereka telah memiliki pengalaman yang mulia semacam ini. Mereka yang memiliki pengalaman melihat Tuhan di bawah langit yang jernih dan cerah ini, tidak akan mau menukarnya dengan apa pun yang ada di dunia ini. Tidak ada suatu benda pun yang dapat menandingi penglihatan tersebut.
Jika Anda tidak memiliki visi rohani seperti yang dijelaskan di sini, berarti Anda belum sampai ke Gunung Sinai dalam pengalaman Anda bersama Tuhan. Anda harus sampai ke Gunung Sinai dan tinggal di sana dengan mezbah, kurban, dan darah. Dengan demikian, dalam persekutuan Anda dengan Tuhan, langit akan menjadi cerah dan jernih. Di depan mata Anda seolah-olah ada pemandangan yang mirip dengan langit yang cerah. Kemudian dalam suasana yang sedemikian ini, Anda melihat Allah dan visi surgawi mengenai kehendak hati-Nya untuk memiliki tempat kediaman di bumi. Alasan mengapa tempat kediaman Allah tidak pernah disebut-sebut di antara orang Kristen hari ini, tidak lain karena banyak orang beriman yang tidak pernah sampai ke Gunung Sinai untuk menerima visi tentang tempat kediaman Allah. Banyak orang Kristen yang telah benar-benar beroleh selamat, tetapi belum naik ke atas gunung untuk memandang Tuhan dalam langit yang jernih dan cerah.
II. TINGGAL BERSAMA ALLAH DI BAWAH
KEMULIAAN-NYA
Dalam Keluaran 24:12, kita melihat bahwa Allah memanggil Musa dan berkata, “Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung.” Di sini seolah-olah Tuhan berkata, “Musa, orang lain boleh memandang Aku, tetapi mereka harus sujud menyembah dari jauh. Mereka tidak boleh berada di dekat-Ku. Aku hanya mau engkau datang kepada-Ku dan tinggal bersama-Ku.” Di sini kita memiliki sesuatu yang melebihi masalah memandang Allah di bawah langit yang jernih dan cerah. Dalam pengalaman rohani kita, mula-mula langit di atas kita menjadi cerah. Kemudian di dalam suasana yang cerah ini, kita menerima panggilan Allah untuk datang kepada-Nya. Meskipun pengalaman ini sangat riil, tetapi pengalaman ini tidak dapat didefinisikan atau dilukiskan dengan kata-kata. Tetapi jika Anda telah memiliki pengalaman ini, maka Anda akan memahami apa yang saya bicarakan ini.
Keluaran 24:13 mengatakan, “Lalu bangunlah Musa dengan Yosua, abdinya, maka naiklah Musa ke atas gunung Allah itu.” Yosua adalah orang yang membantu dan mengabdi kepada Musa. Saya telah berkali-kali mempelajari pasal ini, tetapi saya belum dapat menemukan di mana Yosua berada selama Musa tinggal bersama Tuhan untuk menerima “loh batu, yakni hukum dan perintah” (ayat 12). Dalam ayat 14 Musa berkata kepada para tua-tua Israel, “Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu.” Kata “kami” menunjukkan bahwa Yosua tidak tinggal bersama para tua-tua tersebut. Tetapi apa yang ia lakukan, dan ke mana ia pergi? Ayat 15 mengatakan, “Maka Musa mendaki gunung dan awan itu menutupinya.” Tidak ada sepatah kata pun yang menceritakan tentang Yosua. Fakta bahwa kita tidak dapat menemukan di mana Yosua berada memiliki makna rohani yang penting. Dalam pengalaman kita, mungkin kita sampai pada tingkat melihat Allah di bawah langit yang cerah, tetapi kita belum mencapai tingkat tinggal bersama Allah di bawah kemuliaan-Nya. Pada saat-saat yang sedemikian ini, seolah-olah tidak dapat ditentukan di mana kita berada. Orang lain tidak tahu di mana kita berada, begitu juga kita sendiri. Mungkin kita ingin berbalik kepada pengalaman atas langit yang cerah, tetapi kita tidak dapat melakukannya. Di satu pihak, kita tidak dapat kembali kepada pengalaman atas langit yang cerah, kita tidak dapat kembali kepada pengalaman melihat Allah di bawah langit yang jernih; di pihak lain, kita belum masuk ke dalam kemuliaan. Alasannya ialah karena di dalam persekutuan kita dengan Allah, kita masih sebagai Yosua; belum sebagai Musa. Sebagaimana kita tidak dapat menentukan di mana Yosua berada, demikian pula kita sendiri dan orang lain tidak dapat menentukan di mana kita berada. Ini merupakan aspek dari pengalaman atas persekutuan kita dengan Allah.
Dalam Keluaran 24, sebagian besar dari bangsa itu berada di kaki Gunung Sinai, beberapa orang lainnya berada di atas gunung itu jauh dari Tuhan, dan Musa berada di puncak gunung itu di bawah kemuliaan Allah. Perbedaan jarak ini dapat digambarkan dengan Kemah Suci yang terdiri atas pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Orang-orang yang berada di kaki gunung itu berada di pelataran luar, mengelilingi mezbah. Para tua-tua Israel dengan Harun, Nadab, Abihu, dan Hur, berada di gunung itu, di dalam tempat kudus. Musa yang berada di puncak gunung berada di tempat maha kudus, di mana kemuliaan Allah berada. Selanjutnya setelah Kemah Suci didirikan, imam besar dapat masuk ke dalam kemuliaan Allah di dalam tempat maha kudus, di mana ia dapat menerima wahyu dan visi dari Allah mengenai umat-Nya. Prinsip ini sama dengan Keluaran 24, yang mengatakan bahwa Musa yang berada di puncak gunung di bawah kemuliaan Allah menerima perintah-perintah dari Allah untuk diajarkan kepada bangsa itu.
Dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita semua adalah imam-imam, dan kita tidak memiliki kaum pendeta maupun kaum awam. Tetapi berdasarkan pengalaman, di antara kita terdapat perbedaan yang berkenaan dengan persekutuan kita dengan Tuhan. Banyak orang beriman yang berada di pelataran luar dengan mezbah dan darah yang ditumpahkan, ada pula yang telah masuk ke dalam tempat kudus untuk menikmati persekutuan dengan Allah pada tingkat tertentu, dan hanya beberapa orang saja yang berada dalam tempat maha kudus, yaitu di bawah kemuliaan Allah.
Hanya Musalah satu-satunya orang yang secara lang-sung menerima visi tentang Kemah Suci. Para tua-tua Israel yang menyembah dari jauh, tidak melihat visi ini secara langsung. Selama Musa bersama dengan Tuhan di puncak gunung empat puluh hari lamanya, para tua-tua Israel ter-sebut menunggu. Ketika Allah memberikan visi mengenai rancangan Kemah Suci kepada Musa, mereka menikmati langit yang jernih, dan makan serta minum selama empat puluh hari. Untuk menerima visi yang rinci mengenai tem-pat kediaman Allah ini, Musa menghabiskan waktu selama empat puluh hari.
Jika pada saat itu Anda berada di sana, Anda lebih senang menerima visi tentang Kemah Suci, ataukah Anda lebih senang berada bersama mereka yang sedang menunggu Musa? Menunggu benar-benar menghabiskan kesabaran seseorang. Orang-orang mulia di atas gunung itu menunggu Musa, tetapi orang-orang yang berada di kaki gunung itu menjadi tidak sabar dan menyuruh Harun membuat suatu benda untuk mereka sembah. Jadi, selama Musa berada di puncak gunung, bangsa itu melakukan penyembahan berhala. Ketika bangsa itu melakukan penyembahan berhala di kaki gunung, Musa sedang berada di puncak gunung bersama Allah di bawah kemuliaan-Nya, dan menerima visi tentang tempat kediaman-Nya. Puji Tuhan, melalui visi ini kita mengetahui kehendak hati Allah. Kehendak Allah ialah memiliki suatu tempat kediaman di bumi, yang tersusun dari Kristus dan berdasarkan Kristus.
Kita perlu memperhatikan gambaran yang dilukiskan dalam Keluaran 24, dan bertanya kepada diri kita sendiri di mana kita berada ketika kita bersekutu dengan Tuhan. Kita bersama mereka yang berada di kaki gunung, atau bersama mereka yang berada di atas gunung, atau kita adalah Musa yang berada di puncak gunung? Mungkin beberapa orang di antara kita adalah Yosua yang tidak diketahui tempatnya, karena di dalam pengalaman kita, kita berada di antara langit yang jernih dan kemuliaan Allah di puncak gunung. Di antara kaum beriman hari ini, terdapat perbedaan tingkat persekutuan dan jarak. Sebagian besar berada di pelataran luar, yaitu di kaki gunung. Lain-lainnya berada di atas gunung, yaitu tempat kudus. Sedikit sekali yang telah sampai ke puncak gunung, yaitu tempat maha kudus, tinggal bersama Allah di bawah kemuliaan-Nya.
Sangat sukar bagi saya untuk menjelaskan penampilan kemuliaan Allah. Dalam Keluaran 24:16-17, kemuliaan itu seperti awan dan api yang menghanguskan. Sebenarnya kemuliaan Allah bukanlah awan maupun api. Saya tidak dapat menjelaskan sepenuhnya apa kemuliaan Allah itu. Semua ini mengingatkan kita bahwa sebagai manusia, kita hanya dapat memahami perkara-perkara rohani pada tingkat yang terbatas. Kita tidak mungkin dapat memahami perkara-perkara ini secara penuh. Meskipun apa yang kita bahas dalam berita ini tidak dapat dijelaskan dengan perkataan manusia, tetapi setidak-tidaknya kita dapat memahami bahwa dalam Keluaran 24, kita memiliki visi tentang Allah dalam langit yang jernih dan cerah, serta beradanya kita bersama Allah di bawah kemuliaan-Nya. Di sini kita menerima wahyu bahwa kehendak hati Allah ialah memiliki tempat kediaman bersama manusia di bumi.