Daftar isi Kolose (1) · Berita Kelima · bab 5/23

Berita Kelima

KRISTUS — YANG LEBIH UTAMA DAN YANG ALMUHIT, SENTRALITAS DAN UNIVERSALITAS ALLAH

Pembacaan Alkitab: Kol. 1:15, 18; 3:11

LATAR BELAKANG — KUASA KEGELAPAN

Dalam penanggulangan-Nya terhadap agamawan Yahudi, Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka buta (Mat. 15:14; 23:16-17, 19, 24, 26). Dalam Yohanes 12:46 Tuhan Yesus berkata, “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” Tuhan memberi tahu orang-orang bahwa tanpa Dia mereka akan tinggal di dalam kegelapan. Juga dalam Yohanes 8:12 Ia mengumumkan, “Akulah terang dunia; siapa saja yang mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang kehidupan.” Perkataan Tuhan di sini menunjukkan bahwa siapa yang tidak menerima Dia sebagai hayat tidak akan mempunyai terang, tetapi akan berjalan dalam kegelapan.

Kitab-kitab Injil menunjukkan dengan jelas bahwa agama Yahudi yang dibentuk dan disusun menurut firman Allah telah menjadi kegelapan. Pada kegelapan ini ada satu kuasa, yaitu kuasa yang oleh Paulus dalam Kolose 1:13 disebut kuasa kegelapan. Orang-orang Farisi dan para imam berada di bawah kuasa kegelapan ini. Sesungguhnya, kuasa kegelapan Iblis ini mengendalikan seluruh Yudaisme; mengendalikan Bait Suci, keimaman, bahkan pengertian Alkitab. Yudaisme sepenuhnya berada di bawah kendali kuasa kegelapan. Dalam kitab-kitab Injil, kegelapan ini tidak berkaitan dengan dunia orang kafir, melainkan dengan agama Yahudi, yaitu agama yang dibentuk menurut Kitab Suci.

Selain keempat kitab Injil, Kitab Kisah Para Rasul juga mewahyukan bahwa agama Yahudi benar-benar telah menjadi kuasa kegelapan yang mengendalikan orang. Kaum agamawan Yahudi bertanggung jawab atas perbuatan men-jebloskan para rasul ke dalam penjara dan membunuh Stefanus. Saulus dari Tarsus adalah salah satu dari agama-wan-agamawan itu, yang berada di bawah kendali kuasa kegelapan itu. Sewaktu ia melakukan kehendak kuasa kegelapan melalui menganiaya dengan agresif orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus, ia bertemu dengan Tuhan dalam perjalanan menuju Damsyik. Seperti disaksikan Paulus kemudian, ia “melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang daripada cahaya matahari” me-liputinya (Kis. 26:13). Lagi pula, Tuhan berbicara kepada-nya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 26:14). Melalui sorotan terang dan perkataan Tuhan, Saulus dari Tarsus lalu dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam alam lingkungan lain, alam lingkungan terang, yaitu Kerajaan Anak Allah yang terkasih.

Menurut Perjanjian Baru, Anak Allah adalah ekspresi hayat ilahi dan perwujudannya. Ini berarti bahwa Kerajaan Anak adalah alam lingkungan hayat. Fakta bahwa kerajaan yang ke dalamnya kita dipindahkan adalah Kerajaan Anak Allah yang terkasih menunjukkan bahwa alam lingkungan kehidupan ini berada di dalam kasih, bukan di dalam ketakutan. Kerajaan yang di dalamnya kita berada hari ini adalah alam lingkungan yang penuh dengan hayat, terang, dan kasih.

Sebagaimana agama Yahudi telah menjadi bagian dari kuasa kegelapan, begitu pula gereja telah jatuh ke bawah kuasa kegelapan yang kuat itu. Kemerosotan mulai terjadi tidak lama setelah gereja didirikan. Dalam 1 Korintus kita tampak hal-hal yang buruk, seperti perpecahan, perzinaan, dan perselisihan. Sebaliknya, Kitab Kolose tidak menanggulangi hal-hal dosa, melainkan hal-hal agama, tata cara, peraturan, dan filsafat. Walaupun kaum saleh di Kolose tidak jatuh ke dalam kejahatan, tetapi mereka berada di bawah kuasa kegelapan karena membiarkan hasil tertinggi kebudayaan itu menyusup ke dalam gereja.

Ketika menulis Surat Kiriman kepada orang-orang Kolose, Paulus seolah-olah berkata, “Kaum saleh di Kolose yang terkasih, sebelum aku percaya kepada Kristus, aku telah bertahun-tahun berada di bawah kuasa kegelapan dalam Yudaisme. Tetapi pada suatu hari aku dilepaskan dari kuasa itu dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih. Melalui pemberitaan Injil, kalian juga telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam alam yang ajaib tempat aku berada. Mengapa kalian kembali lagi ke hal-hal yang darinya kalian telah dilepaskan? Kalian telah kembali ke agama Yahudi dan filsafat Yunani. Kalian telah berada di bawah konsepsi-konsepsi yang dahulu mengendalikan pikiran dan kehidupan kalian. Ini berarti kalian sekarang berada di bawah kuasa kegelapan yang darinya kalian sudah dilepaskan. Kalian telah ditawan sebagai barang rampasan, tawanan. Mengapa kalian masih memperhatikan bulan baru, Sabat, dan peraturan-peraturan tentang makanan dan minuman? Tidak tahukah kalian bahwa semua itu adalah kuasa kegelapan?” Paulus tahu bahwa kaum saleh di Kolose telah jatuh kembali ke bawah kuasa kegelapan Iblis itu.

Seprinsip dengan itu, berbagai aliran kekristenan, denominasi-denominasi, dan berbagai kelompok independen hari ini, juga berada di bawah kuasa kegelapan pada tingkat tertentu. Mereka berada dalam kegelapan sebab sebagian besar dari mereka hanya memiliki nama Kristus, namun tidak memiliki realitasnya. Kristus adalah satu-satunya terang itu. Di luar Dia tidak ada terang. Begitu banyak orang Kristen berada dalam kegelapan karena mereka tidak memiliki Kristus dalam pengalaman. Mereka yang berada dalam seminari (Sekolah Alkitab) mungkin mempelajari teologi dan kristologi, namun mereka mungkin tidak memiliki pengalaman yang sejati atas Allah dan Kristus. Sebab itu, mereka tidak mempunyai terang.

Banyak orang beriman sangat percaya bahwa Alkitab penuh dengan terang. Sudah tentu ini benar. Tetapi jika kita tidak membaca firman dalam kehadiran Tuhan, maka pembacaan Alkitab kita akan berada dalam kegelapan. Kita akan mirip dengan orang-orang Farisi yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 5:39-40: “Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.” Mungkin saja kita memiliki Alkitab di tangan kita, namun tetap buta dan berada dalam kegelapan. Kaum agamawan merasa tersinggung ketika Kristus mengatakan bahwa mereka buta (Yoh. 9:39-41). Mereka mengira mereka berada dalam terang karena mereka memiliki Kitab Suci secara lahiriah. Tetapi sebenarnya mereka buta karena mereka tidak memiliki Kristus, yang adalah terang dunia. Tempat mana pun yang tidak memiliki kehadiran Tuhan Yesus, berada di bawah kuasa kegelapan.

Kita perlu menerapkan prinsip ini ke atas diri kita sendiri. Bagian mana pun dari diri kita atau kehidupan sehari-hari kita yang tanpa Kristus, itu berada dalam kegelapan. Jika kita dalam pemulihan Tuhan tidak memiliki Kristus dalam pengalaman dan secara riil dalam kehidupan sehari-hari kita, kita berada dalam kegelapan. Jangan mengira karena Anda mendengar banyak berita dan ajaran berarti Anda berada dalam terang. Anda mungkin sekali masih berada dalam kegelapan.

Sebagai contoh, mungkin kita masih berada di bawah kuasa kegelapan dalam kehidupan pernikahan kita. Ketika seorang saudara bertengkar dengan istrinya, mereka berada dalam kegelapan. Karena mereka berada dalam kegelapan, mereka saling menuduh dan menyalahkan satu sama lain. Begitu pula ketika terjadi perselisihan antar saudara atau antar saudari. Pengalaman kita menunjukkan bahwa kapan saja kita hidup, bertindak, dan berjalan dalam diri sendiri, kita berada dalam kegelapan. Untuk berada dalam kegelapan, tidak perlu melakukan dosa yang kotor. Asalkan hidup menurut diri sendiri, kita sudah berada dalam kegelapan, sebab hal itu menyebabkan kita terpisah dari Kristus.

Jangan mengira kegelapan itu hanya berlaku pada Yudaisme, pada aliran kekristenan tertentu, denominasi-denominasi, atau perpecahan-perpecahan, dan tidak berlaku pada diri kita. Kita sendiri mungkin masih berada di bawah kuasa kegelapan. Setiap kali kita berada dalam manusia alamiah, tidak mengambil Kristus sebagai persona kita dan hidup oleh-Nya, kita ada di dalam kegelapan. Kita harus ingat hanya Dialah terang. Dia harus menjenuhi dan berkuasa dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari kita. Jika tidak, sedikitnya ada bagian-bagian tertentu dalam kehidupan kita sehari-hari yang tidak dijenuhi oleh Kristus, dan bagian-bagian itu akan berada dalam kegelapan.

Rumah kita memiliki banyak kamar. Beberapa kamar mungkin terang, sedang kamar-kamar yang lain mungkin gelap. Demikian pula keadaan manusia batiniah kita dan kehidupan sehari-hari kita. Pada aspek-aspek tertentu, kehidupan dan tindak-tanduk kita boleh jadi terang benderang, sebab Kristus menduduki posisi yang kuat di sana. Tetapi dalam bagian lain diri kita atau dalam aspek lain kehidupan kita, mungkin kita tertutup kepada Tuhan dan tidak mengizinkan-Nya menyentuh kita. Bagian-bagian yang tertutup kepada Kristus itu dengan spontan berada dalam kegelapan, karena Kristus Sang terang ini tidak memiliki kedudukan. Bila Kristus menduduki setiap bagian kita dan setiap aspek tindak-tanduk kita sehari-hari, barulah kita dapat sepenuhnya berada dalam terang dan dilepaskan sepenuhnya dari kendali kuasa kegelapan.

Kesalahan orang-orang Kolose ialah menerima dan mengikuti sesuatu yang bukan Kristus. Menerima sesuatu sebagai pengganti Kristus bukan saja berada dalam kegelapan, juga berada di bawah kuasa yang mengendalikan kegelapan. Apa saja yang menggantikan Kristus — filsafat, agama, karakter, budi pekerti, konsepsi, opini — akan menjadi kuasa kegelapan yang mengendalikan kita. Di Kolose, kuasa kegelapannya adalah tata cara agama Yahudi, peraturan-peraturan kafir, filsafat, ajaran kebatinan, dan ajaran pertapaan. Meskipun hal-hal itu kelihatannya baik, sebenarnya hal-hal itu adalah kuasa kegelapan, karena semua hal itu telah menggantikan Kristus. Semua itu menyebabkan Kristus, terang itu, dikesampingkan. Sebab itu, kegelapan berkuasa lagi dan mengendalikan kaum saleh dalam gereja. Itulah situasi di Kolose, dan mungkin merupakan situasi hari ini.

KEUTAMAAN DAN KEALMUHITAN KRISTUS

Dengan latar belakang ini, kita perlu melihat bahwa Kristus adalah Sang utama dan Sang almuhit, sentralitas dan universalitas Allah. Kitab Kolose mewahyukan bahwa Kristus adalah yang utama, Ia memiliki tempat pertama dalam segala sesuatu, baik dalam ciptaan lama maupun dalam ciptaan baru. Dalam 1:15 dikatakan bahwa Kristus adalah “yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan”, dan dalam 1:18, Dia adalah “yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati”. Ciptaan baru Allah terjadi melalui kebangkitan. Bagi Kristus, menjadi yang utama dalam ciptaan baru berarti Ia adalah yang pertama dalam kebangkitan. Dia adalah yang pertama dalam ciptaan dan dalam kebangkitan. Ini berarti Dia adalah yang pertama dalam ciptaan lama, alam semesta, dan dalam ciptaan baru, gereja. Alam semesta adalah lingkungan yang di dalamnya gereja ada sebagai Tubuh Kristus untuk mengekspresikan Kristus secara penuh. Kristus bukan hanya yang pertama dalam gereja, Tubuh, tetapi juga yang pertama dalam lingkungan, alam semesta. Ini berarti Dia adalah yang pertama dalam segala sesuatu.

Kolose 1:19 menerangkan, “Karena seluruh kepenuhan berkenan tinggal di dalam Dia” (Tl.). Apakah kepenuhan yang dikatakan dalam ayat ini? Banyak orang akan menjawab bahwa itu adalah kepenuhan ke-Allahan. Walau ini benar, tetapi di sini Paulus tidak menjelaskan kata kepenuhan dengan satu frase seperti “dari ke-Allahan” atau “dari Allah”. Ia hanya mengatakan bahwa segala kepenuhan berkenan, senang, tinggal di dalam Kristus. Dalam alam semesta ini ada sesuatu yang dikenal sebagai kepenuhan, dan kepenuhan ini berkenan tinggal dalam Kristus yang utama dan yang almuhit.

Banyak orang Kristen sukar membedakan kepenuhan dengan kekayaan. Ketika mereka membicarakan kepenuhan Roh, yang mereka maksudkan adalah kekayaan Roh. Dalam 1:19 kepenuhan tidak menyatakan kekayaan apa adanya Allah, tetapi ekspresi kekayaan itu. Ekspresi penuh dari kekayaan apa adanya Allah, baik di dalam ciptaan maupun di dalam gereja, tinggal di dalam Kristus. Semua ciptaan dan seluruh gereja dipenuhi dengan Kristus sebagai ekspresi kekayaan Allah. Kepenuhan yang sedemikian berkenan dengan hal ini. Inilah yang berkenan kepada Kristus.

Kepenuhan di dalam ayat ini berarti ekspresi. Jika suatu benda tidak memiliki kepenuhan, benda itu tidak dapat diekspresikan. Tetapi jika suatu benda memiliki kepenuhan, ia dapat diekspresikan. Sebagai contoh, jika kasih saya sangat sedikit, maka kasih saya tidak dapat diekspresikan. Tetapi jika kasih saya penuh, maka kepenuhan kasih saya akan menjadi ekspresinya. Seprinsip dengan itu, kepenuhan adalah ekspresi segala apa adanya Allah.

Dalam 1:19 Paulus membicarakan kepenuhan hanya sebagai kepenuhan, tanpa memakai kata apa-apa untuk menerangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa kepenuhan ini adalah kepenuhan satu-satunya. Jika kata “kepenuhan” ditambah dengan keterangan apa pun, itu akan menyiratkan bahwa kepenuhan itu tidak unik. Untuk mempertahankan keunikan kepenuhan itu, Paulus tidak memakai kata lain untuk menerangkannya. Jadi, kepenuhan di sini hanyalah kepenuhan itu.

Kepenuhan itu, ekspresi Allah, adalah satu persona. Banyak kata ganti orang dalam ayat-ayat setelah 1:19 mengacu kepada kepenuhan sebagai satu persona. Ini menunjukkan bahwa kepenuhan adalah ekspresi Allah, bahkan Allah itu sendiri. Dalam kepenuhan ini Sang Anak adalah yang utama, sebab segala kepenuhan berkenan tinggal di dalam Dia. Sebab itu, Ia harus memiliki tempat pertama dalam lingkungan dan dalam gereja. Dia adalah Sang utama.

Dia juga adalah yang almuhit. Kristus adalah realitas segala hal positif dalam alam semesta. Jika kita mengenal Alkitab dan ekonomi Allah, kita akan menyadari bahwa Kristus adalah langit, bumi, matahari, hayat, terang, bintang, pohon-pohon, bunga-bunga, air, udara, dan makanan. Benda-benda materi merupakan lukisan dari apa adanya Dia bagi kita. Lagi pula, Kristus adalah segala atribut ilahi, seperti kekuatan, kekudusan, keadilan, murah hati, dan kasih. Dia juga kebajikan insani, seperti rendah hati, sabar. Selain itu, Dia adalah gereja dan setiap anggota gereja, bangunan Allah dan setiap batu dalam bangunan itu. Ini berarti Kristus adalah Anda dan saya.

Ada orang memutarbalikkan perkataan kita dan dengan licik menuduh kita mengajarkan panteisme. Panteisme adalah kepercayaan Iblis yang menyamakan Allah dengan jagat raya. Ini bersifat iblis, dan kita menolaknya tanpa syarat. Namun menurut wahyu Alkitab, kita harus bersaksi bahwa Kristus, yang almuhit, adalah realitas segala hal yang positif. Ketika kita mengatakan Kristus adalah Anda dan saya, maksud kita bukan kita adalah Allah, atau kita akan menjadi Allah. Demikian pula, ketika kita mengatakan Kristus adalah makanan sejati (lihat Yoh. 6:55), maksud kita bukanlah makanan jasmani itulah Allah. Konsepsi sedemikian tidak saja menggelikan bahkan setani. Mereka yang menuduh kita mengajarkan panteisme belum pernah tampak kealmuhitan Kristus.

Sebagai Sang almuhit, Kristus adalah sentralitas dan universalitas Allah. Ungkapan ini kali pertama dipakai oleh Saudara Watchman Nee pada tahun 1934, dalam konferensi pemenang ketiga yang diadakan di Shanghai. Dia menunjukkan dari Kitab Kolose bahwa Kristus yang almuhit adalah pusat dan lingkaran kehendak Allah. Jadi Kristus adalah sentralitas dan universalitas kehendak Allah. Dia adalah pusat juga lingkaran. Dengan perkataan lain, Kristus adalah segala-galanya. Saya katakan sekali lagi bahwa ini bukanlah panteisme, melainkan satu penjelasan atas fakta bahwa Kristus adalah pusat dan lingkaran ekonomi Allah.

Kali pertama saya mendengar Saudara Watchman Nee mengatakan sentralitas dan universalitas Kristus, saya sangat terkejut, sebab saya tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya. Dari pengalaman saya sejak tahun 1934 saya dapat bersaksi bahwa Kristus benar-benar adalah pusat dan lingkaran, sentralitas dan universalitas ekonomi Allah. Dalam ekonomi Allah, Kristus adalah segala sesuatu.

Kaum saleh di Kolose telah keliru karena beralih kepada agama dan filsafat. Kedua hal itu berlawanan dengan ekonomi Allah. Dalam ekonomi Allah hanya ada tempat bagi Kristus, yang adalah segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu.

I. KRISTUS DALAM KITAB-KITAB INJIL

A. Berinkarnasi untuk Mengenakan Ciptaan Lama

Baiklah kita sekarang secara keseluruhan melihat Kristus dalam keempat kitab Injil, dalam Kisah Para Rasul, dalam Surat-surat Kiriman, dan dalam Kitab Wahyu, kemudian melihat Kristus dalam Kitab Kolose. Dalam keempat kitab Injil kita tampak Kristus berinkarnasi untuk mengenakan ciptaan lama. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman telah menjadi daging. Daging di sini menunjukkan manusia ciptaan lama. Sebenarnya Allah tidak menciptakan daging, Ia menciptakan satu tubuh bagi manusia. Tetapi karena kejatuhan, dosa telah masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan tubuh menjadi daging. Jadi, daging dalam Yohanes 1:14 mengacu kepada manusia sebagai bagian dari ciptaan lama. Manusia, kepala ciptaan, telah menjadi daging. Melalui inkarnasi Kristus menjadi manusia dan karenanya Ia mengenakan ciptaan lama.

B. Mengalami Kehidupan Insani untuk Mengekspresikan Allah

Dalam seluruh kehidupan insani-Nya, Kristus mengekspresikan Allah. Yohanes 1:18 mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak telah menyatakan Dia. Selama tiga puluh tiga setengah tahun hidup-Nya di bumi, Kristus menyatakan Allah dan mengekspresikan Dia.

C. Disalibkan untuk Mengakhiri Ciptaan Lama

Ketika Kristus disalibkan, Ia mengakhiri ciptaan lama. Jika seorang Yahudi ditanya apakah yang terjadi ketika Yesus disalibkan, ia mungkin menjawab seorang yang bernama Yesus dari Nazaret telah mati di atas salib. Seorang Kristen yang baru mungkin mengatakan Juruselamatnya-lah yang disalibkan. Seorang Kristen yang lebih maju mungkin menjawab bahwa tidak saja Kristus tersalib sebagai Juruselamatnya, tetapi ia sendiri juga tersalib bersama Kristus. Seorang Kristen yang lebih maju lagi mungkin menjawab bahwa Kristus, dirinya sendiri, Iblis, dan dunia semuanya telah ditanggulangi di atas salib. Namun, jawaban itu juga tidak cukup. Di atas salib, Kristus telah menyalibkan dosa, Iblis, dunia, manusia lama, dan segenap ciptaan. Tambahan pula, hukum-hukum, peraturan-peraturan pun telah disalib di situ. Jadi, kematian Kristus telah mengakhiri segenap ciptaan lama.

D. Dibangkitkan untuk Menghasilkan Gereja, Ciptaan Baru

Menurut keempat kitab Injil, Kristus telah dibangkitkan untuk menghasilkan gereja, ciptaan baru. Dia adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan menghasilkan banyak biji gandum dalam kebangkitan untuk membentuk gereja (Yoh. 12:24).

II. KRISTUS DALAM KITAB KISAH PARA RASUL

Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita tampak Kristus telah ditinggikan untuk menjadi Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Kitab Kisah Para Rasul juga mewahyukan bahwa setelah ditinggikan, Kristus turun sebagai Roh itu untuk melaksanakan kehendak Allah. Selain itu, Kitab Kisah Para Rasul mewahyukan bahwa Kristus telah berkembang biak guna menghasilkan gereja.

III. KRISTUS DALAM SURAT-SURAT KIRIMAN

Dalam Surat-surat Kiriman kita tampak Kristus adalah kebenaran kita (1 Kor. 1:30), hayat kita (1 Yoh. 5:12), suplai hayat kita (Flp. 1:19), kekudusan kita (1 Kor. 1:30), penebusan kita (1 Kor. 1:30), dan kemuliaan kita (1 Tim 1:1). Semua aspek Kristus ini menunjukkan bahwa kita akan mengalami satu transformasi penuh yang menghasilkan pemuliaan.

IV. KRISTUS DALAM KITAB WAHYU

Dalam Kitab Wahyu kita tampak Kristus adalah kesaksian gereja-gereja. Dalam gereja-gereja kita hanya mempersaksikan Kristus. Tidak hanya demikian, dalam Kitab Wahyu kita tampak Kristus adalah Raja dalam kerajaan yang akan datang; terakhir, Kristus adalah inti Yerusalem Baru dalam kekekalan.

V. KRISTUS DALAM KITAB KOLOSE

Kita telah tampak bahwa dalam Kitab Kolose Kristus adalah Sang utama (1:15, 18) dan Sang almuhit (3:11). Dia adalah sentralitas dan universalitas ekonomi Allah. Dalam Kitab Kolose Paulus memakai sejumlah ungkapan yang unik untuk melukiskan Kristus, ungkapan yang tidak terdapat di mana pun dalam Kitab Suci. Hal ini menunjukkan bahwa dalam Kitab Kolose kita memiliki wahyu yang tertinggi dari Kristus yang terdapat dalam Alkitab. Kitab ini laksana Gunung Sion, puncak tertinggi di antara semua gunung. Kita mengapresiasi kitab ini karena secara unik, kitab ini menampilkan Kristus sebagai Sang utama dan Sang almuhit, sentralitas dan universalitas Allah.