← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 4/23

DILEPASKAN DARI KUASA KEGELAPAN DAN DIPINDAHKAN KE DALAM KERAJAAN ANAK-NYA YANG TERKASIH

Dalam 1:13 Paulus berkata, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.” Perkataan Paulus di sini cocok dengan perkataan yang Tuhan katakan kepadanya di jalan menuju Damsyik. Menurut Kisah Para Rasul 26:18, Tuhan menyuruh Paulus, “membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat ba-gian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” Baik dalam ayat ini maupun dalam Kolose 1:12-13, Paulus membicarakan tentang kegelapan, terang, kuasa, orang yang dikuduskan, dan bagian atau warisan. Tidak diragukan, perkataan Paulus kepada orang-orang Kolose ini mencerminkan perkataan Tuhan kepadanya pada waktu ia bertobat.

Di tahun-tahun yang lalu, saya mengira kuasa kegelapan ini hanya mengacu kepada hal-hal yang jahat, seperti berjudi, mencuri, dan berzina. Kemudian saya baru memahami bahwa kuasa kegelapan di sini mencakup ba-nyak hal yang melebihi semua itu. Dalam Kitab Kolose kuasa kegelapan tidak mengacu kepada hal-hal yang jahat, tetapi mengacu kepada tata cara agama, peraturan kafir, dan filsafat Gnostik. Dalam pasal 2 Paulus menghubungkan penyembahan berhala, pemujaan terhadap malaikat dengan filsafat, ajaran mistik (kebatinan), ajaran Gnostik, dan ajaran pertapaan. Pertapaan berarti praktek penyiksaan tu-buh secara kejam untuk mengekang hawa nafsu daging. Praktek yang demikian terdapat dalam beberapa agama. Seperti yang akan kita lihat, pertapaan untuk melawan ha-wa nafsu daging sama sekali tidak ada nilainya. (2:23). Tata cara agama, pertapaan, dan filsafat bukan hal jahat. Beberapa tata cara agama bahkan berdasar perintah Allah dalam Perjanjian Lama; misalnya peraturan tentang ma-kanan. Namun demikian, ketika Paulus mengatakan Bapa telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, yang dimaksud-nya ialah kegelapan tata cara agama, peraturan, filsafat, dan praktek pertapaan itu. Kita semua menganggap kasino (rumah judi) berada di bawah kuasa kegelapan. Tetapi ti-dak banyak yang menganggap bahwa filsafat atau ajaran-ajaran etis juga merupakan bagian dari kuasa kegelapan tersebut. Sebab itu, betapa pentingnya kita memahami isti-lah yang Paulus pakai dalam Kitab Kolose.

I. DILEPASKAN DARI KUASA KEGELAPAN

A. Kuasa Kegelapan Ialah Kuasa Iblis,

Kuasa Jahat yang di Udara

Kuasa kegelapan menandakan kuasa Iblis. Allah adalah terang dan Iblis adalah kegelapan. Kuasa kegelapan Iblis adalah kuasa jahat yang di udara (Ef. 6:12). Kejahatan ini mengacu kepada sesuatu yang memberontak melawan Allah. Kuasa kejahatan, pemberontakan di udara adalah kerajaan Iblis, kuasa kegelapan (Mat. 12:26).

B. Berhubungan dengan Maut

Kegelapan berhubungan dengan maut. Di mana ada ke-gelapan, di situ juga ada maut. Kegelapan bertentangan de-ngan terang, yang berhubungan dengan hayat. Iblis, kegelap-an, dan maut berlawanan dengan Allah, terang, dan hayat. Menurut 1 Petrus 2:9, kita telah dipanggil dari kegelapan ke dalam terang Allah yang ajaib. Kegelapan adalah Iblis sebagai maut, tetapi terang adalah Allah sendiri sebagai hayat.

C. Dilepaskan dari Iblis yang Berkuasa atas Maut

Dilepaskan dari kuasa kegelapan berarti dilepaskan dari Iblis yang berkuasa atas maut (Ibr. 2:14; Yoh. 17:15). Kita telah dilepaskan dari Iblis, Satan, oleh kematian Kristus (Kol. 2:15) dan oleh hayat Kristus dalam kebangkitan (Yoh. 5:24).

Kita sudah nampak bahwa kuasa kegelapan adalah kerajaan Iblis dan Iblis sendiri adalah kegelapan. Kerajaan Iblis adalah suatu sistem. Tidak setiap perkara dalam sis-tem ini jahat. Sebaliknya, banyak hal yang baik, atau seti-dak-tidaknya dianggap baik oleh masyarakat. Iblis menggu-nakan berbagai macam hal, yang baik maupun yang jahat, untuk mengatur orang dan menahan mereka dalam sistem-nya. Bagi mereka yang gemar berjudi, Iblis mengatur me-reka dengan perjudian. Sebab itu, dalam kerajaannya ada satu “departemen” perjudian. Namun, Iblis menyadari bah-wa orang lain mungkin menghargai pengetahuan. Untuk mengatur mereka, Iblis mempunyai satu “departemen” pe-ngetahuan dalam kerajaannya. Kebanyakan orang mencela judi, tetapi hampir tidak ada yang mencela pengetahuan. Jika kita menganjuri orang untuk meninggalkan aspek-aspek jahat dari sistem Iblis, kita akan dihargai. Iblis mengatur beberapa orang melalui memikat mereka untuk melakukan kejahatan, tetapi ia mengatur yang lain melalui usaha mereka untuk menekan kejahatan.

Departemen lainnya dalam kerajaan Iblis ialah depar-temen filsafat. Setelah menyinggung kuasa kegelapan, Paulus selanjutnya menyinggung peraturan, tata cara, filsafat, dan unsur-unsur dunia, yang merupakan aspek-aspek kuasa Iblis. Hari ini banyak sekali orang yang tertahan di bawah kendali Iblis melalui filsafat. Karena itu, sering kali lebih mudah kita membawa seorang penjudi kepada Tuhan dari-pada seorang yang menuntut filsafat. Di China kita kesu-litan membawa penganut ajaran tertentu kepada pertobat-an. Iblis menggunakan ajaran-ajaran etis dari ajaran itu untuk mengatur dan mengendalikan sejumlah besar orang China. Iblis mengendalikan mereka dan menahan mereka di bawah kuasanya melalui filsafat etis tersebut.

Orang-orang dari agama tertentu sangat keras menentang Injil Kristus. Mereka tidak dikendalikan oleh hal-hal yang jahat, melainkan oleh asas-asas agama mereka. Di satu pihak, asas-asas itu baik; tetapi di pihak lain, asasasas itu mengerikan.

Kaum Mormon, yang terkenal jujur, etis, dan bermoral dalam kehidupan sehari-hari mereka, juga dikendalikan oleh hal-hal yang nampaknya baik. Kaum Mormon tidak saja pantang meminum minuman yang mengandung alkohol, mereka bahkan pantang minum kopi atau teh. Kelihatan-nya mereka sangat ketat dan tulus! Tetapi, aliran Mormon adalah bagian dari kuasa kegelapan, dan kaum Mormon di-tahan dan dikendalikan oleh Iblis dalam kegelapan.

Pada masa Paulus, Yudaisme telah menjadi bagian yang utama dari kuasa kegelapan. Ketika Paulus, selaku tokoh agamawan dalam agama Yahudi, berada di jalan me-nuju Damsyik, ia sepenuhnya berada di bawah kuasa ke-gelapan. Kemudian Tuhan menyatakan diri kepadanya dan menyuruhnya untuk membuka mata orang lain agar me-reka dapat beralih dari kegelapan kepada terang. Akibat pertemuan Paulus dengan Kristus, Paulus buta untuk se-mentara. Kebutaan ini menunjukkan bahwa ia dulu berada di antara orang buta. Kini, setelah dibawa kepada Kristus, ia harus berusaha mengalihkan orang lain dari kegelapan kepada terang, dari kuasa Iblis kepada Allah. Sebelum Paulus beroleh selamat, ia berada di bawah kuasa Iblis. Agama Yahudi merupakan kuasa kegelapan yang melalui-nya Paulus dikendalikan.

Jika kita ingin memiliki pengertian yang tepat terhadap Kolose 1:13, kita perlu memperhatikan ayat ini dalam konteks keseluruhan Surat Kiriman ini. Dengan memperha-tikan keseluruhan kitab ini, kita nampak bahwa kuasa ke-gelapan itu mencakup agama Yahudi berikut tata caranya, khususnya sunat; juga mencakup peraturan, filsafat, ajaran kebatinan, dan ajaran pertapaan kafir. Manusia di seluruh dunia pada hari ini berada di bawah kegelapan, seperti pada waktu Kitab Kolose ini ditulis. Di dalam kegelapan berarti tanpa terang. Setiap universitas dan kelompok masyarakat berada di bawah kuasa kegelapan. Setiap aspek masyara-kat, termasuk kekristenan, berada dalam kegelapan. Jangan mengira kegelapan hanya terdapat di tempat bercokolnya kejahatan. Paulus memberi tahu orang-orang Kolose bahwa Allah telah melepaskan mereka dari bawah kuasa kegelap-an, yaitu dari hukum, peraturan, praktek, ajaran pertapa-an, ajaran kebatinan, dan filsafat. Walaupun semua itu mengandung produk budaya yang tertinggi, namun semua hal itu adalah kuasa kegelapan yang diperalat Iblis untuk mengendalikan manusia.

Kita harus bertanya kepada diri sendiri berapa banyak kita masih berada di bawah kuasa kegelapan. Mungkin kita banyak berbicara tentang memperhidupkan Kristus, namun berapa banyak kita benar-benar hidup oleh-Nya? Da-lam kehidupan kita sehari-hari banyak di antara kita yang masih berada di bawah beberapa aspek kuasa kegelapan Iblis. Secara tanpa sadar, di bawah sadar, dan dengan spon-tan kita hidup menurut diri sendiri (ego), tidak menurut Kristus. Setiap hari, berapa banyak Anda hidup di dalam roh dan bertindak menurut roh? Berapa banyak Anda ma-sih hidup dan bertindak dalam diri sendiri? Setiap kali kita hidup dalam diri sendiri, kita sudah berada di bawah kendali kuasa kegelapan dan diatur oleh Iblis. Bila kita ber-ada dalam manusia alamiah atau hidup menurut diri sen-diri, kita berada di bawah kendali Iblis. Karena kendali Iblis ini, banyak yang merasa dirinya berada di dalam ke-gelapan, tanpa terang. Mereka berada di bawah kegelapan karena mereka masih dikendalikan dengan cara tertentu oleh kuasa kegelapan. Seluruh umat manusia, baik beragama maupun tidak, sama-sama berada dalam kegelapan. Dalam kegelapan ini kuasa Iblis diterapkan dalam berbagai cara untuk mengatur manusia dan mengendalikan mereka.

Iblis mempunyai banyak cara untuk mengendalikan orang Kristen. Orang-orang yang baru mengunjungi sidang-sidang kita mungkin berada di bawah kuasa kegelapan, khususnya kegelapan doktrin dan pengertian yang doktri-nal. Kebanyakan orang Kristen berada di bawah suatu ben-tuk kendali yang doktrinal. Mereka tidak menyadari bahwa kendali itu merupakan kuasa kegelapan.

Yang lain berada di bawah kuasa kegelapan karena mereka hidup menurut beberapa kebajikan (budi pekerti) alamiah. Mereka mungkin baik hati atau rendah hati se-cara alamiah. Namun, bahkan melalui kebajikan-kebajikan yang sedemikian, Iblis dapat mengendalikan kita dan mena-han kita di bawah kuasa kegelapan. Beberapa orang tidak dapat menerima terang sebab mereka berada di bawah kege-lapan kebajikan alamiah mereka. Setiap kebajikan alamiah meru-pakan satu aspek dari kuasa kegelapan.

Banyak orang kudus dikendalikan oleh watak mereka, baik oleh watak cepat maupun oleh watak lambat. Bagai-manapun watak kita, Iblis dapat menggunakannya untuk mengendalikan kita.

Ketika Anda membaca kata-kata tentang cakupan kua-sa kegelapan ini dan cara-cara yang Iblis pakai untuk me-nahan kita dalam kegelapan serta mengendalikan kita, Anda mungkin bingung, kalau demikian, bagaimana kita bisa hidup. Seolah-olah kita tidak mempunyai jalan untuk maju ke depan. Apa adanya kita, apa saja yang kita lakukan, apa saja yang kita pikirkan, dan apa saja yang kita ka-takan — semua berada di bawah kuasa kegelapan. Ini ada-lah situasi kita yang sebenarnya. Satu-satunya hal yang da-pat kita lakukan ialah pergi ke salib dan mengizinkan salib menanggulangi setiap aspek kuasa kegelapan Iblis. Salib adalah satu-satunya cara kita. Kita pun harus percaya per-kataan Paulus dalam 1:13. Kita telah dilepaskan dari kuasa kegelapan.

II. DIPINDAHKAN KE DALAM KERAJAAN

ANAK-NYA YANG TERKASIH

A. Kerajaan Anak Ialah Kuasa Kristus

Kita tidak saja telah dilepaskan dari kuasa kegelapan, juga telah dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak Allah yang terkasih. Kerajaan Anak ialah kuasa Kristus (Why. 11:15; 12:10).

B. Anak Bapa Adalah Ekspresi

Bapa sebagai Sumber Hayat

Anak Bapa adalah ekspresi Bapa sebagai sumber hayat (Yoh. 1:18, 4; 1 Yoh. 1:2). Bapa sebagai sumber hayat diekspresikan di dalam Anak.

Anak Allah yang terkasih sebagai sasaran kasih Allah menjadi perwujudan hayat dalam kasih ilahi bagi kita de-ngan kuasa dalam kebangkitan. Anak, sebagai perwujudan hayat ilahi, adalah sasaran kasih Bapa. Hayat ilahi yang terwujud dalam Anak telah diberikan kepada kita dalam kasih ilahi. Sebab itu, sasaran kasih ilahi menjadi perwu-judan hayat dalam kasih ilahi dengan kuasa dalam kebang-kitan bagi kita. Inilah Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.

Menggambarkan Kerajaan Anak-Nya yang terkasih le-bih mudah daripada memberikan definisi yang memadai tentang kerajaan tersebut. Perhatikanlah pengalaman Anda. Karena memahami Tuhan Yesus begitu pengasih dan ma-nis, kita mulai mengasihi Dia. Ketika kita mengasihi Tuhan Yesus, kita menyadari adanya suatu perasaan kasih yang manis. Perasaan kasih ini tidak saja mencakup Tuhan Yesus, juga mencakup kita. Kita tahu bahwa kita juga adalah obyek kasih ilahi. Sebagai obyek kasih ilahi ini, kita dengan sendirinya berada di bawah kendali atau pengaturan tertentu. Sebelum kita mulai mengasihi Tuhan Yesus, kita bebas melakukan apa saja yang kita kehendaki. Tetapi se-makin kita berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu,” makin berkuranglah kebebasan yang kita miliki. Sebelum kita mengasihi Tuhan Yesus, kita tidak merasakan peme-rintahan atau pembatasan ini. Kita bisa dengan tidak baik memperlakukan orang atau berkecimpung dalam hiburan duniawi tanpa suatu perasaan pengekangan di dalam batin. Tetapi sebagai orang yang mengasihi Tuhan Yesus, kita telah berada di bawah pengaturan-Nya. Pengaturan ini ti-dak kasar, melainkan manis dan menyenangkan. Oh, kita telah dibatasi dan diatur dengan manis! Karena pengaturan Tuhan dalam kita ini begitu menyenangkan, kita bahkan tidak ingin mengucapkan perkataan yang sia-sia atau me-miliki pikiran yang tidak menyenangkan-Nya. Kita telah diatur dan dibatasi sepenuhnya dalam kemanisan kasih. Inilah Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.

Semakin kita bersedia untuk dibatasi dan diatur oleh Tuhan Yesus karena kasih kita kepada-Nya, kita akan se-makin bertumbuh dalam hayat, bahkan dalam kelimpahan hayat. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Anak-Nya yang terkasih adalah untuk kenikmatan kita atas Kristus seba-gai hayat. Di sini kita dibebaskan dari setiap hal yang bukan Kristus, bukan hanya dari hal-hal yang jahat, tetapi juga dari hal-hal seperti filsafat, peraturan, tata cara, dan ajaran pertapaan. Ketika kita berpegang pada filsafat, eti-ka, ajaran pertapaan, dan peraturan kita, kita berada di ba-wah kuasa kegelapan. Tetapi Allah telah melepaskan kita dari kuasa itu dan memindahkan kita ke dalam kerajaan kasih yang penuh dengan hayat dan terang. Di sini kita tidak ada tata cara, ritual, peraturan, praktek, filsafat, ajaran kebatinan, Gnostik, atau ajaran pertapaan. Hanya ada Kristus, Anak-Nya yang terkasih. Di sini ada kasih, terang, dan hayat. Inilah artinya hidup oleh Kristus.

Hidup oleh Kristus berarti kita tidak hidup oleh apa pun yang bukan Kristus. Jika kita nampak apakah artinya hidup oleh Kristus, kita akan memahami bahwa banyak di antara kita yang masih berada di bawah beberapa bentuk pengendalian yang dibangun oleh diri sendiri, yakni suatu pengendalian yang didirikan dan dilakukan oleh diri sen-diri. Pengendalian semacam ini adalah kuasa kegelapan. Jika kita berada di bawah kuasa ini, kita tidak akan menerima terang ketika membaca Alkitab, dan tidak ada perkataan dalam berdoa. Meskipun Bapa telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dari pikiran, emosi, pilihan, dan kelakuan alamiah kita, kita mungkin tetap tinggal dalam beberapa aspek manusia alamiah kita. Hal ini menyebabkan kita tertahan di bawah kuasa kegelapan. Sebab, sebenarnya kita berada di bawah kuasa dan kendali kegelapan dan tidak ada dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih secara riil, kita memiliki hanya sedikit kenikmatan atas Kristus sebagai bagian kaum saleh.

Saya dapat bersaksi, oleh belas kasihan Tuhan saya tidak dikendalikan oleh kegelapan. Orang lain mungkin kadang-kadang ingin tahu, mengapa pada aspek-aspek tertentu, saya nampaknya tidak konsisten. Itu disebabkan saya tidak berada di bawah kontrol aspek kegelapan yang mana pun. Mengenai hal-hal yang bukan dosa, saya mungkin luwes dan memberikan jawaban begini pada satu waktu dan mem-berikan jawaban begitu pada waktu lainnya. Ingatlah, Ki-tab Kolose tidak menanggulangi masalah dosa, melainkan masalah peraturan, praktek, dan filsafat. Misalkan, seorang saudara bertanya kepada saya tentang memakan sejenis makanan, saya mungkin berkata kepadanya bahwa ia be-bas untuk makan apa saja yang ia sukai. Tetapi kepada saudara lainnya, mungkin saya memberikan jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang serupa, yakni suatu jawaban yang cocok dengan situasinya. Nampaknya saya tidak kon-sisten. Sebenarnya itu bukan masalah bersikap konsisten, melainkan masalah menolak untuk berada di bawah kendali kuasa kegelapan melalui peraturan dan tata cara.

Memaksakan suatu peraturan atau praktek berarti berada di bawah kuasa kegelapan. Bapa kita telah melepas-kan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih. Di sini kita diba-tasi oleh kasih ilahi dalam hayat ilahi. Kita tidak memiliki peraturan, tata cara, agama, atau ajaran, melainkan Kristus dan Kristus semata. Jika kita nampak hal ini, tidak akan terjadi perselisihan atau perpecahan dalam kehidupan gereja.

Bila di antara kita terdapat perpecahan, itu menunjuk-kan bahwa pada kita masih ada beberapa unsur kuasa ke-gelapan. Perpecahan dan kekacauan di kalangan orang Kris-ten hari ini adalah akibat dari pengaruh kuasa kegelapan. Jika kita telah nampak apa artinya hidup oleh Kristus, kita akan bebas dari tata cara atau peraturan. Ini tidak berarti kita tidak menghormati firman kudus. Kita percaya dan menghormati Alkitab, tetapi kita tidak menerima Alki-tab sebagai buku tata cara dan peraturan, melainkan me-nerimanya sebagai wahyu dari Kristus yang hidup.

Dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak Bapa yang ter-kasih berarti dipindahkan ke dalam Anak yang adalah ha-yat bagi kita (1 Yoh. 5:12). Anak dalam kebangkitan (1 Ptr. 1:3; Rm. 6:4-5) kini adalah Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45b). Dia mengatur kita dengan kasih dalam hayat ke-bangkitan-Nya. Inilah Kerajaan Anak Bapa yang terkasih. Bila kita hidup oleh Anak sebagai hayat kita dalam ke-bangkitan, kita akan hidup dalam Kerajaan-Nya, menik-mati Dia dalam kasih Bapa.

Kita telah dipindahkan ke dalam alam di mana kita diatur dalam kasih dengan hayat. Di sini, di bawah peng-aturan dan pembatasan surgawi, kita memiliki kebebasan sejati, kemerdekaan yang tepat dalam kasih, dengan hayat, dan di bawah terang. Inilah artinya dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih. Di sini, dalam kerajaan ini, kita menikmati Kristus dan menempuh hidup gereja. Di sini tidak ada opini atau perpecahan. Di sini kita memiliki satu hal: hidup gereja dengan Kristus sebagai segala sesuatu kita. Inilah wahyu Kitab Kolose.

Dalam Kitab Kolose kuasa kegelapan ditujukan kepada aspek-aspek yang baik dari kebudayaan, dan karakter, wa-tak, serta alamiah kita. Kuasa kegelapan mencakup keba-jikan, agama, filsafat, tata cara, peraturan, prinsip, dan standar etika. Allah telah melepaskan kita dari semuanya itu dan telah memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih, di mana kita hidup di bawah peng-aturan dan pembatasan surgawi. Dalam kerajaan ini kita tidak berada di bawah pengaturan yang kasar, melainkan di bawah pengaturan kasih Sang Anak. Di sini kita tidak merasa kita berada di bawah keadilan, kekuatan, atau kua-sa, melainkan di bawah Tuhan Yesus yang manis dan yang patut dikasihi. Semakin kita berkata kepada Tuhan Yesus bahwa kita mengasihi Dia, kita akan semakin dibebaskan di satu pihak, dan semakin dibatasi dan diatur di pihak lain. Karena kita mengasihi Dia, kita damba menerima-Nya sebagai persona dan hayat kita. Inilah kehidupan orang Kristen yang wajar bagi hidup gereja.