DOA RASUL
Pokok Kitab Kolose ialah Kristus yang almuhit. Dalam pendahuluannya (1:1-8) Paulus menunjukkan Kristus sebagai pengharapan, realitas, dan anugerah kita. Dalam doa dan ucapan syukurnya (1:9-14) ia memberi keterangan lebih lanjut bahwa Kristus adalah Sang almuhit itu. Baiklah kita terlebih dulu membahas doa Paulus (ayat 9-11), kemudian membahas ucapan syukurnya (ayat 12-14).
I. DOA RASUL AGAR KAUM SALEH DIPENUHI
DENGAN PENGETAHUAN YANG PENUH
ATAS KEHENDAK ALLAH
Ayat 9 mengatakan, “Sebab itu, sejak kami mendengarnya, kami tidak henti-hentinya berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu dipenuhi dengan segala hikmat dan pengertian rohani untuk mengetahui kehendak Tuhan.” Kehendak Tuhan di sini adalah kehendak Allah berkenaan dengan tujuan kekal-Nya mengenai ekonomi-Nya yang berhubungan dengan Kristus (Ef. 1:5, 9, 11), bukan kehendak-Nya dalam hal-hal yang kecil.
A. Mengenai Kristus yang Almuhit sebagai Bagian Kita
Di tahun-tahun yang lalu, bila kaum saleh muda menanyakan masalah-masalah seperti pernikahan atau pekerjaan, saya mengarahkan mereka kepada Kolose 1:9 ini. Saya memberi tahu mereka bahwa mereka harus mencari pengetahuan rohani guna mengenal kehendak Allah. Akan tetapi kehendak Allah di sini bukan terpusat pada hal-hal seperti pernikahan, pekerjaan, atau tempat tinggal, melainkan berkenaan dengan Kristus yang almuhit sebagai bagian kita. Kehendak Allah bagi kita ialah agar kita mengenal Kristus yang almuhit, mengalami Dia, dan memperhidupkan Dia sebagai hayat kita. Mengenal Kristus secara demikian berarti memiliki pengetahuan yang penuh terhadap kehendak Allah.
B. Dalam Segala Hikmat Rohani
Mengenal dan mengalami Kristus yang almuhit memerlukan segala hikmat dan pengertian rohani. Kata “segala” dan “rohani” menjelaskan hikmat dan pengertian. Hikmat dan pengertian rohani berasal dari Roh Allah dalam roh kita yang berlawanan dengan filsafat Gnostik, yang hanya ada dalam pikiran manusia yang gelap. Hikmat ada di dalam roh kita dan membuat kita mengerti kehendak kekal Allah; pengertian rohani ada di dalam pikiran kita yang diperbarui oleh Roh itu dan membuat kita dapat memahami dan menerjemahkan apa yang kita sadari di dalam roh kita.
Hikmat merupakan intuisi dalam roh kita, sedangkan pengertian merupakan pemahaman atau kesadaran dalam pikiran kita. Melalui intuisi dalam roh kita, kita merasakan sesuatu tentang Kristus. Bersama dengan ini, kita perlu pikiran kita untuk menerjemahkan apa yang kita rasakan dalam roh kita guna memiliki pengertian. Demikian, kita akan memiliki ungkapan untuk menuturkan apa yang kita rasakan dan yang kita mengerti. Hal ini perlu menggunakan segala hikmat dan pengertian rohani.
Kehendak Allah yang berhubungan dengan pengenalan, pengalaman, dan memperhidupkan Kristus yang almuhit itu sangat dalam. Dalam ayat 9 Paulus tidak berdoa agar orang-orang Kolose mengerti harus menikah dengan siapa, tinggal di mana, atau harus memiliki pekerjaan apa. Hatinya tidak diduduki oleh hal-hal yang sepele itu. Dalam ayat ini kehendak Allah ditujukan kepada Kristus. Mengikuti tata cara agama Yahudi, peraturan kafir, atau filsafat manusia bukanlah kehendak Allah terhadap orang-orang kudus di Kolose. Lagi pula, mempraktekkan pertapaan, menyiksa tubuh dengan kejam untuk mengekang hawa nafsu daging juga bukan kehendak Allah terhadap mereka. Kehendak Allah terhadap orang-orang Kolose ialah agar mereka mengenal Kristus, mengalami Kristus, menikmati Kristus, memperhidupkan Kristus, dan memiliki Kristus sebagai hayat dan persona mereka. Kehendak Allah hari ini terhadap kita pun sama. Paulus seolah-olah berkata, “Hai orang-orang Kolose, kalian telah diselewengkan, disesatkan, dan ditipu oleh ajaran Gnostik, aliran mistik, pertapaan, tata cara agama, dan peraturan-peraturan. Kalian perlu dipenuhi dengan pengetahuan yang penuh tentang kehendak Allah. Kehendak Allah ialah supaya Kristus yang almuhit menjadi bagian kalian.”
Jika kita mengetahui bahwa kehendak Allah ialah agar kita dijenuhi oleh Kristus, barulah kita memiliki pengetahuan yang tepat tentang kehendak Allah. Apa saja yang kita lakukan seharusnya dilakukan di dalam kehendak Allah ini. Kita harus menikah dalam Kristus, bekerja dalam Kristus, dan bergerak dalam Kristus. Kristus harus menjadi hayat dan persona kita. Inilah kehendak Allah.
C. Hidup Layak di Hadapan Tuhan
Dalam ayat 10 Paulus berkata, “sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Allah.” Hidup layak di hadapan Tuhan berasal dari adanya pengetahuan yang penuh tentang kehendak Allah. Jika kita mengetahui bahwa kehendak Allah ialah menjenuhi kita dengan Kristus, agar kita menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita, dan agar kita memperhidupkan Kristus, maka dengan spontan hidup kita akan layak di hadapan Tuhan. Ada orang mengira bahwa hidup layak di hadapan Tuhan berarti menjadi orang yang rendah hati, baik, dan dermawan atau pemurah. Namun, hidup yang layak adalah hidup yang di dalamnya kita memperhidupkan Kristus. Kita dapat menjadi orang yang rendah hati, baik, dan pemurah tanpa hidup berdasarkan Kristus. Hanya dengan memperhidupkan Kristus baru kita dapat hidup layak di hadapan Tuhan. Kristus adalah kehendak Allah, dan Ia seharusnya menjadi hidup kita.
1. Berkenan dalam Segala Hal
Suatu hidup yang layak di hadapan Tuhan berarti “berkenan kepada-Nya dalam segala hal”, yaitu diperkenan Tuhan dalam segala hal. Allah Bapa berkenan kepada Anak (Mat. 3:17; 17:5). Dalam Galatia 1:15-16 Paulus berkata bahwa Allah berkenan mewahyukan Kristus, Anak-Nya, di dalamnya. Tidak ada hal yang lebih diperkenan Allah Bapa dari\pada kita memperhidupkan Kristus. Di luar Kristus tidak ada hal yang dapat berkenan kepada Bapa.
Satu-satunya waktu kita yang penuh sukacita ialah ketika kita memperhidupkan Kristus. Jika kita rendah hati atau lemah lembut secara alamiah, kita tidak merasa sukacita. Tetapi jika kita menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita, dan memperhidupkan Dia, kita akan menjadi orang yang paling bersukacita di bumi. Memperhidupkan Kristus tidak saja menyenangkan Bapa, juga menyenangkan kita. Hal yang paling menyenangkan ialah memperhidupkan Kristus, menikmati Kristus, dan mengalami Kristus.
2. Berbuah dalam Segala Pekerjaan yang Baik
Jika hidup kita layak di hadapan Tuhan, kita akan berbuah dalam segala pekerjaan yang baik. Janganlah menanggapi hal ini menurut konsepsi alamiah. Berbuah di sini mengacu kepada memperhidupkan Kristus, mempertumbuhkan Kristus, mengekspresikan Kristus, dan mengembangbiakkan Kristus dalam setiap hal. Inilah pekerjaan baik yang tersirat dalam pikiran Paulus.
3. Bertumbuh dalam Pengetahuan yang Penuh tentang Allah
Pekerjaan ini berkaitan dengan “bertumbuh dalam pengetahuan yang penuh tentang Allah”. Pengetahuan ini bukan pengetahuan secara harfiah di dalam pikiran, melainkan pengetahuan yang hidup mengenai Allah di dalam roh, yang dengannya kita bertumbuh. Kita perlu pengetahuan yang demikian agar dapat memperhidupkan, mempertumbuhkan, dan mengembangbiakkan Kristus.
Kristus bukan hanya kehendak Allah dan perilaku hidup kita, Ia pun adalah setiap pekerjaan baik bahkan pengetahuan yang penuh tentang Allah. Sekali lagi kita nampak bahwa Kristus itu almuhit. Semakin kita memasuki Kitab Kolose, kita akan semakin nampak Kristus adalah pengharapan, kebenaran, anugerah, kehendak Allah, dan segala sesuatu bagi kita.
4. Dikuatkan dengan Segala Kekuatan
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan selanjutnya, “dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar dengan sukacita” (Tl.). Kekuatan atau kuat kuasa ini bukan hanya kuat kuasa kebangkitan Kristus (Flp. 3:10), tetapi juga Kristus sendiri yang menguatkan kita dalam segala hal (Flp. 4:13). Di dalam kita terdapat Kristus sebagai satu dinamo yang terus-menerus menguatkan kita “oleh kuasa kemuliaan-Nya”. Inilah kuasa yang mengekspresikan kemuliaan Allah, yang memuliakan Allah dalam kuasa-Nya. Dengan kuasa inilah kita dikuatkan.
Oleh Kristus kita dikuatkan “untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar dengan sukacita” (Tl.). Karena kekuatan yang ajaib ini, kita dapat bersukacita sekalipun dalam penderitaan. Dengan kekuatan ini kita dapat menerima dengan sukacita apa saja yang terjadi pada kita. Kita mempunyai alasan untuk bersukacita sebab kita memiliki Kristus yang telah bangkit sebagai kekuatan di dalam kita. Jika kita bersukacita selama dalam kesukaran, kita tidak akan cepat tua, sebaliknya kita akan nampak lebih muda daripada usia kita.
Rasul Paulus tidak berdoa agar orang-orang Kolose mempunyai suami atau istri yang terbaik, rumah yang terbaik, dan pekerjaan yang terbaik. Tidak hanya demikian, ia juga tidak berdoa agar mereka terhindar dari penderitaan. Sebaliknya, ia berdoa agar mereka dikuatkan untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar; ia berdoa agar mereka mempunyai kapasitas untuk bersabar dengan sukacita. Bersabar dalam sukacita berarti menahan penderitaan di dalam Kristus. Penderitaan bisa benar-benar membantu kita menambal kenikmatan atas Kristus. Kristus adalah sukacita, ketekunan, dan kesabaran. Sebab itu, doa Paulus sepenuhnya merupakan doa bagi pengalaman atas Kristus.
II. UCAPAN SYUKUR RASUL
A. Kepada Bapa
Dalam 1:2-14 kita tiba pada ucapan syukur Paulus. Dalam doanya Paulus bersyukur kepada Bapa, asal usul dan sumber segala berkat. Dengan ucapan syukurnya kepada Bapa, ia membawa kita kepada pokoknya — Kristus yang almuhit.
B. Karena Melayakkan Kita untuk Mendapat
Bagian dalam Apa yang Ditentukan untuk
Orang-orang Kudus di dalam Terang
Berbeda sekali dengan kebanyakan orang Kristen hari ini, Paulus tidak bersyukur untuk hal-hal seperti kesembuhan, kesehatan, tempat tinggal, kehidupan keluarga, atau pekerjaan. Sebaliknya, ia bersyukur kepada Bapa karena melayakkan kita “untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang”. Kitab Kolose memperhatikan Kristus, Kepala Tubuh. Karena itu, bagian kaum saleh di sini adalah Kristus yang almuhit menjadi kenikmatan mereka. Bapa telah melayakkan kita bukan untuk mewarisi rumah besar di surga, melainkan untuk mengambil bagian di dalam Kristus sebagai bagian yang almuhit dari kaum saleh. Kita dapat mengumumkan dengan berani bahwa Kristus adalah bagian kita yang almuhit.
Istilah Yunani yang diterjemahkan “bagian” dalam ayat ini dapat disamakan dengan pembagian tanah permai dalam istilah Ibrani. Setelah bani Israel memasuki Tanah Kanaan, setiap suku diberikan bagian tanah. Sudah tentu bagian kita hari ini bukan sebidang tanah secara fisik di Palestina, melainkan Kristus yang almuhit. Betapa kita harus bersyukur kepada Bapa yang mengaruniakan Kristus kepada kita sebagai bagian warisan ilahi kita. Setiap suku memiliki bagian tanah permai, dan setiap anggota dari tiap suku itu memiliki satu bagian dari bagian tersebut. Seprinsip dengan ini, kita pun memiliki satu bagian dalam bagian orang-orang kudus itu. Hal ini berarti bahwa kita semua memiliki satu bagian dalam Kristus.
Dalam ayat 12 Paulus menunjukkan bahwa bagian kita dari bagian orang-orang kudus itu berada di dalam terang. Terang di sini bertentangan dengan kegelapan pada ayat berikutnya. Ketika kita berada di bawah kuasa Iblis, kita berada di dalam kegelapan. Tetapi sekarang kita ada di dalam Kerajaan Anak Allah yang terkasih, sambil menikmati Dia di dalam terang.
C. Karena Melepaskan Kita dari Kuasa Kegelapan
dan Memindahkan Kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang Terkasih
Ayat 13 merupakan penjelasan dan definisi dari bagaimana Bapa telah melayakkan kita untuk mengambil bagian dalam bagian orang-orang kudus itu. Ayat ini mengatakan bahwa Bapa “telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih”. Agar Kristus menjadi Kepala Tubuh, dan agar kita, orang-orang beriman, menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya, Allah perlu melepaskan kita dari kuasa kegelapan, kerajaan Iblis (Mat. 12:26), dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih. Ini adalah untuk melayakkan kita mengambil bagian dalam Kristus yang almuhit sebagai bagian yang sudah ditetapkan bagi kita.
Jika kita masih tetap di bawah kuasa kegelapan, tidak mungkin kita layak mengambil bagian dalam Kristus. Tetapi Bapa telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan. Puji Allah, kita tidak lagi berada dalam kerajaan Iblis! Terlepas dari kuasa kegelapan adalah langkah pertama untuk layak mengambil bagian dalam Kristus.
Langkah kedua ialah dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak Allah yang terkasih. Kita telah mengalami kelepasan maupun pemindahan. Karena Iblis adalah kegelapan dan Kristus, Anak Allah, adalah terang, maka kerajaan Iblis adalah kuasa kegelapan, sedang Kerajaan Anak Allah adalah kerajaan terang. Melalui dilepaskan dari kerajaan Iblis dan dipindahkan ke dalam Kerajaan Kristus, kita telah dilayakkan untuk mengambil bagian dalam bagian orang-orang kudus itu.
D. Bagi Penebusan, Pengampunan Dosa
Dalam ayat 14 Paulus meneruskan, “Di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” Kelepasan dalam ayat 13 menanggulangi kuasa Iblis atas kita dengan menghancurkan kuasa jahatnya, sedangkan penebusan yang disinggung dalam ayat ini menanggulangi dosa-dosa kita dengan jalan memenuhi tuntutan keadilan Allah. Pengampunan dosa-dosa adalah penebusan yang kita dapatkan di dalam Kristus. Kematian Kristus telah menggenapkan penebusan untuk pengampunan dosa-dosa kita.
Dalam Kristus, Anak Allah yang terkasih, kita memiliki penebusan dan pengampunan. Ketika kita percaya Kristus sebagai Penebus kita, Allah segera melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan terang. Di dalam terang ini kita dilayakkan untuk mengambil bagian dalam bagian orang-orang kudus. Ini berarti kita dilayakkan untuk menikmati Kristus. Karena kelayakan ini merupakan suatu fakta yang telah rampung, maka tidak perlu kita berdoa untuknya. Sebaliknya kita harus bersama Paulus bersyukur saja kepada Bapa. Namun, kita perlu berdoa untuk mengenal kehendak Allah dan hidup layak di hadapan Tuhan sehingga berkenan kepada-Nya dalam segala hal. Sekarang, karena kita berada dalam Kerajaan Anak Allah yang terkasih, menikmati-Nya dalam terang, kita harus maju terus untuk mengenal Dia dengan penuh dan hidup layak di hadapan-Nya.
Pokok Kitab Kolose adalah Kristus yang almuhit, Kristus yang adalah segala sesuatu bagi kita. Dari hari ke hari kita boleh menikmati Dia sebagai bagian kita.