← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 2/23

PENDAHULUAN

Kolose 1:1-8 merupakan pendahuluan Surat Kiriman ini. Sebagai pendahuluan, ayat-ayat ini mengungkapkan tujuan dan pokok kitab ini. Tujuan dan pokok kitab ini tidak Paulus nyatakan secara tegas, melainkan secara tidak langsung, yaitu melalui berbagai petunjuk yang tercantum dalam ayat-ayat ini.

TIGA PETUNJUK

Yang pertama dari petunjuk-petunjuk itu ialah frase “pengharapan yang disediakan bagi kamu di surga” (ayat 5). Petunjuk lainnya tercantum dalam perkataan “firman kebenaran Injil” (ayat 5 Tl.). Perhatikan, di sini Paulus mengatakan firman kebenaran Injil, tidak hanya firman Injil. Petunjuk ketiga terlihat dalam perkataan “mengenal anugerah Allah dalam kebenaran” (ayat 6 Tl.). Frase “dalam kebenaran” di sini menjelaskan apa? Menurut banyak terjemahan, frase ini menjelaskan kata “anugerah”. Lainnya menganggapnya sebagai satu kata keterangan yang menjelaskan predikat “mengenal”. Kalau kita memahami kebenaran di sini sebagai realitas, tidak sekadar “kesungguhan”, maka benarlah kalau kita menganggap frase “dalam kebenaran” ini menjelaskan predikat “mengenal”. Menurut pemahaman ini, Paulus berkata bahwa kita harus mengenal anugerah Allah dalam realitas.

PENGHARAPAN YANG DISIMPAN BAGI KITA

Baiklah sekarang kita membahas pengharapan yang disebut dalam ayat 5. Pengharapan, iman, dan kasih, yang disebutkan dalam ayat 4 dan 5 adalah tiga hal yang ditekankan rasul dalam 1Korintus 13:13. Yang ditekankan di 1Korintus adalah kasih, itu karena situasi orang-orang Korintus. Yang ditekankan di sini adalah pengharapan, yang sebenarnya adalah Kristus sendiri (ayat 27), supaya Kristus dapat diwahyukan sebagai segala sesuatu bagi kita.

Ada beberapa orang mengira bahwa pengharapan yang disediakan atau disimpan bagi kita di surga ditujukan kepada berkat khusus atau beberapa jenis kenikmatan yang mulia. Sewaktu saya muda, saya diberi tahu bahwa menurut Yohanes 14, Tuhan Yesus telah menyediakan sebuah rumah besar yang indah bagi kita di surga dan itulah pengharapan yang disediakan untuk kita. Ini benar-benar keliru! Pengharapan kita adalah Kristus sendiri. Menurut ayat 27, Kristus di dalam kita adalah pengharapan kemuliaan. Di satu pihak, Ia berada di surga, tetapi di pihak lain, Ia berada di dalam kita menjadi pengharapan kita.

IMAN DAN KASIH

Jika kita ingin memahami hal ini sepenuhnya, kita harus membahas iman dan kasih yang tercantum dalam ayat 4. Paulus berkata, “Karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus.” Beriman adalah mensubstansiasi (mewujudkan) dan menerima apa yang ada di dalam Kristus, mengasihi adalah mengalami dan menikmati apa yang telah kita terima dari Kristus, dan berharap berarti mengharapkan dan menantikan pemuliaan di dalam Kristus. Setiap orang Kristen yang sejati memiliki iman dalam Tuhan Yesus dan kasih terhadap semua orang kudus. Kedua hal ini membuktikan bahwa kita adalah orang Kristen yang sejati. Misalkan, saya berkontak dengan seseorang dan mengatakan kepadanya bahwa saya adalah orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Jika ia tidak menjawab saya dalam kasih, mungkin ia sendiri bukan orang beriman sejati dalam Tuhan. Kasih terhadap kaum saleh harus selalu mengikuti iman dalam Tuhan Yesus. Keduanya tidak dapat diceraikan.

Sejak kali pertama kita percaya Kristus, dengan spontan kita memiliki kasih terhadap kaum beriman lainnya, tidak peduli mereka itu bangsa apa. Menurut sifat dan latar belakang saya, saya benar-benar tidak dapat mengasihi orang Jepang. Ketika saya masih muda, saya benar-benar membenci mereka karena kerusakan yang ditimbulkan Jepang terhadap China. Tetapi setelah saya beroleh selamat dan melayani Tuhan, saya diundang untuk mengunjungi beberapa saudara warga Jepang di Mancuria. Saya mengikuti perhimpunan kecil yang diadakan di rumah seorang beriman warga Jepang. Segera setelah saya masuk ke rumah mereka, dengan spontan suatu kasih terhadap saudara-saudara itu meluap dari dalam batin saya. Kebencian saya terhadap orang Jepang itu lenyap. Saudara-saudara itu percaya kepada Tuhan Yesus, saya juga percaya kepada Tuhan Yesus. Sebab itu, kita dapat mengasihi satu sama lain sebagai kawan seiman dalam Kristus. Kasih ini bukan kasih alamiah, melainkan kasih yang timbul dari iman kita di dalam Tuhan Yesus. Kita harus mengasihi semua orang kudus, seperti orang-orang Kolose mengasihi semua orang kudus, tidak peduli apa kebangsaan mereka dan entah mereka orang Yahudi atau orang kafir.

Dalam pemulihan Tuhan terdapat banyak bangsa. Ditinjau dari sudut manusia, kita tidak mungkin menjadi satu. Namun, kita memuji Tuhan, tidak peduli kita bangsa apa, kita mengasihi satu sama lain, sebab kita semua beriman di dalam Tuhan Yesus. Ketika saya berkontak dengan saudara-saudara dari Jepang itu, saya tidak mempunyai perasaan bahwa mereka adalah saudara-saudara warga Jepang dan saya adalah warga China. Sebaliknya, saya merasa kita semua adalah saudara-saudara yang kudus di dalam Kristus.

MEMPERHIDUPKAN KRISTUS

DAN MENYIMPAN PENGHARAPAN

Alasan dapatnya kita mengasihi mereka yang tidak dapat kita kasihi secara alamiah ialah karena bagi kita telah tersedia (tersimpan) pengharapan di surga. Kalau saya yang menulis Kitab Kolose, saya akan berkata, “karena pengharapan di dalam surga.” Tetapi Paulus menyisipkan kata-kata “pengharapan yang disimpan bagi kamu”. Jadi masalah pengharapan yang telah tersimpan bagi kita di dalam surga ini sesungguhnya sangat subyektif. Hal ini erat sekali sangkut-pautnya dengan kehidupan kita sehari-hari. Menurut konteksnya, tersimpannya pengharapan di surga erat sekali hubungannya dengan bagaimana kehidupan kita hari ini. Semakin kita mengasihi kaum saleh, semakin banyak pula pengharapan yang tersimpan bagi kita di surga. Akan tetapi, jika kita tidak mengasihi kaum saleh, pengharapan yang tersimpan bagi kita pun akan menjadi sedikit sekali.

Misalkan, seorang saudara mengasihi semua orang ber-iman, tidak peduli apa kebangsaan atau latar belakang kebudayaan mereka. Sebaliknya, ada saudara lainnya yang mengasihi kaum saleh secara pilih-pilih, yakni menurut selera dan kesenangannya. Yang satu mengasihi semua orang kudus yang beriman dalam Kristus, sedang yang lain hanya mengasihi sejumlah orang kudus tertentu. Ketika Tuhan Yesus datang, saudara yang manakah yang akan memiliki pengharapan yang lebih besar? Sudah tentu saudara yang mengasihi semua orang beriman. Hal ini menunjukkan berapa banyaknya Kristus sebagai pengharapan kita tergantung pada berapa banyaknya kita memperhidupkan Kristus pada hari ini.

Semakin kita memperhidupkan Kristus pada hari ini, semakin banyaklah pengharapan yang akan tersedia (tersimpan) bagi kita di surga bagi kemuliaan kita. Akan tetapi, jika kita dari hari ke hari tidak memperhidupkan Kristus, Kristus akan ada di surga, namun Dia tidak tersimpan sebagai kemuliaan kita. Sebagai contoh, jika Anda menyimpan sejumlah uang di bank, maka ada sejumlah deposito yang tersimpan bagi Anda dalam rekening bank Anda. Tetapi jika Anda tidak ada uang dan tidak ada yang Anda simpan di dalam bank, tidak ada pula deposito yang tersimpan bagi Anda. Seprinsip dengan ini, jumlah pengharapan yang tersimpan bagi kita di surga tergantung pada berapa banyaknya kita memperhidupkan Kristus. Kita perlu menjadi orang-orang yang mengasihi kaum saleh tanpa pilih kasih dikarenakan Dia adalah pengharapan kita. Kehidupan yang sedemikian adalah menyimpan pengharapan di surga bagi diri kita sendiri.

Dalam surat ini seolah-olah Paulus berkata, “Orang-orang Kolose yang terkasih, jika kalian mengikuti tata cara orang Yahudi atau peraturan orang kafir, kalian tidak akan menyimpan apa-apa bagi kalian di surga sebagai pengharapan kalian. Karenanya kalian perlu hidup oleh Kristus. Pada suatu hari, Kristus yang adalah hayat kita akan menyatakan diri dalam kemuliaan. Hari ini, baik kalian maupun Kristus tersembunyi di dalam Allah. Dia adalah hayat batini kalian. Tetapi Dia akan tampil dalam kemuliaan, kalian pun akan dinyatakan bersama Dia. Namun, aku harus memperingatkan kalian tentang pentingnya kalian hidup oleh Kristus pada hari ini.”

Memang, dalam 3:4 Paulus berkata bahwa Kristus adalah hayat kita, dan ketika Kristus dinyatakan, kita akan dinyatakan bersama Dia dalam kemuliaan. Tetapi boleh jadi kita tidak hidup oleh Dia, malahan kita hidup oleh diri sendiri dan oleh pilihan-pilihan kita, hanya mengasihi kaum saleh yang cocok dengan selera kita. Mengasihi kaum saleh secara pilih kasih berarti hidup oleh diri sendiri, bukan oleh Kristus. Jika kita memiliki kehidupan semacam ini, kita tidak akan gembira ketika Tuhan Yesus tampil dalam kemuliaan. Sekali lagi saya katakan bahwa berapa banyak Kristus yang akan kita nikmati sebagai pengharapan kemuliaan kita tergantung pada berapa banyak kita memperhidupkan Dia pada hari ini. Sebab itu, tersimpannya pengharapan di surga tergantung pada kehidupan kita.

Jika kita memperhidupkan Kristus dan bersatu dengan-Nya, kita tentu dapat berkata, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu, dan aku menerima-Mu sebagai hayat dan personaku. Tuhan, aku mau beserta-Mu dalam kemuliaan-Mu dan melihat Engkau berhadapan muka. Aku mau menikmati kehadiran-Mu, bahkan kehadiran-Mu secara jasmaniah, secara riil. Tuhan, aku menantikan hal ini dan aku mengharapkan hal ini.” Jika Anda dari hari ke hari berkontak dengan Tuhan secara demikian, Anda akan sangat gembira pada waktu Dia datang.

Namun, boleh jadi Anda tidak menghiraukan Tuhan atau berkontak dengan Tuhan. Anda mungkin tidak berbuat dosa atau berkecimpung dalam dunia, tetapi Anda terus-menerus hidup oleh diri sendiri. Anda menghormati Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan sebagai Tuhan. Te-tapi, walau Anda menghormati Dia, Dia tidak menarik atau mustika bagi Anda, dan Anda tidak memiliki persekutuan yang intim dengan-Nya. Anda tidak memperhidupkan Dia, juga tidak menerima Dia sebagai persona Anda. Kalau kehidupan sehari-hari Anda terhadap Tuhan Yesus demikian, dapatkah Anda bergembira dan menyorakkan puji-pujian Anda pada kedatangan-Nya kelak? Pasti tidak! Sebaliknya, Anda akan menyembunyikan diri dari Dia dengan rasa malu. Entah kembalinya Kristus itu menjadi kemuliaan bagi Anda atau tidak tergantung pada berapa banyak pengharapan yang telah Anda simpan di surga melalui memperhidupkan Kristus hari ini.

KRISTUS HAYAT KITA

Menyimpan pengharapan di surga berarti memperhidupkan Kristus dan menerima-Nya sebagai persona kita. Kolose 3:4 adalah satu-satunya ayat dalam Alkitab yang mengatakan Kristus adalah hayat kita. Dalam Yohanes 14:6 Tuhan Yesus berkata, “Akulah hayat.” Tetapi dalam 3:4 Paulus berkata bahwa Kristus adalah hayat kita, suatu ungkapan yang subyektif. Karena Kristus adalah hayat kita, maka kita harus hidup oleh-Nya dan karenanya tersimpanlah pengharapan bagi kita di surga. Inilah yang dimaksud mengasihi semua orang beriman karena pengharapan yang tersimpan bagi kita di surga.

KEBENARAN INJIL

Dalam 1:5 Paulus berkata, “Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil.” Kebenaran Injil adalah realitas Injil, fakta yang nyata dari Injil, bukan doktrin Injil. “Firman” dapat dianggap doktrin Injil tetapi “kebenaran” pasti mengacu kepada realitas. Dalam pemberitaan Injil kita tidak boleh hanya ada firman Injil saja, tetapi juga harus ada kebenaran Injil, yakni Kristus sendiri. Kristus, realitas Injil harus menjadi realitas pemberitaan kita.

Namun, dalam kebanyakan pemberitaan Injil hanya ada perkataan, mungkin kata-kata yang fasih atau katakata yang meyakinkan, tetapi tidak ada realitas. Ini berarti Kristus tidak disuplaikan sebagai realitas kepada para pendengar. Pemberitaan Injil kita harus berbeda. Walaupun mungkin bicara kita tidak fasih, tetapi para pendengar harus dapat merasakan ada realitas Kristus yang terinfus ke dalam mereka. Orang-orang yang berada dalam pemberitaan Injil akan terjenuhi dalam Kristus sebagai realitas mereka.

Kita perlu mengatakan kepada Tuhan dalam doa bah-wa apa yang kita dambakan bukanlah pengetahuan harfiah, melainkan kehadiran-Nya serta diri-Nya sendiri terinfus ke dalam kita dan diri kita dijenuhi oleh-Nya. Kita ingin berada di bawah sorotan surgawi-Nya. Lebih lama kita tinggal di bawah sorotan-Nya, kita akan lebih banyak dijenuhi dan dipenuhi oleh realitas. Inilah kebenaran yang adalah Kristus sendiri.

Karena orang-orang Kolose telah mendengar firman kebenaran Injil, yakni firman realitas Injil, maka mereka dapat menyimpan bagi diri mereka sendiri suatu pengharapan di surga melalui memperhidupkan Kristus dalam hal mengasihi kaum saleh. Melalui menerima Kristus sebagai hayat, mereka dapat mengasihi orang-orang yang tidak mungkin mereka kasihi secara manusiawi. Mereka dapat menikmati Kristus sebagai hayat melalui menyerap-Nya sebagai kebenaran Injil. Dengan demikian, mereka dapat mengalami Kristus sebagai pengharapan mereka. Sebab itu, dalam ayat-ayat ini baik pengharapan maupun kebenaran adalah Kristus yang kita alami secara subyektif.

BUAH INJIL

Dilanjutkan dalam ayat 6, “yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal anugerah Allah dalam kebenaran” (Tl.). Kasih terhadap kaum saleh merupakan buah yang dihasilkan dari Injil. Ketika Injil diberitakan dalam realitas, ia akan berbuah. Dalam orang-orang yang menerimanya, Injil ini menghasilkan kasih terhadap semua orang beriman.

Gereja di Kolose tersusun dari orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir. Ditinjau dari sudut manusia, orang Yahudi dan orang kafir saling merendahkan dan saling membenci. Tetapi setelah orang-orang Kolose percaya Tuhan Yesus, kaum beriman Yahudi dan kafir dapat saling mengasihi satu sama lain. Walaupun kasih yang demikian adalah mustahil bagi manusia, tetapi kasih itu merupakan buah Injil. Injil yang bertumbuh dan berbuah ini juga adalah Kristus sendiri. Inilah Kristus yang bertumbuh dalam orang-orang Kolose sejak hari pertama mereka mendengar firman kebenaran Injil.

MENGENAL SEPENUHNYA ANUGERAH

ALLAH DALAM KEBENARAN

Dalam ayat ini Paulus berkata bahwa orang-orang Kolose, “Mengenal anugerah Allah dalam kebenaran” (Tl.). Mengenal anugerah Allah di sini, berarti mengenal secara penuh, bukan mengenal sebagian. Anugerah Allah adalah apa adanya Allah bagi kita dan apa yang Allah berikan kepada kita di dalam Kristus (Yoh. 1:17; 1Kor. 15:10). Anugerah sebenarnya adalah Kristus sendiri. Dalam Injil Yohanes 1 kita nampak bahwa Firman yang bersama-sama dengan Allah dan yang adalah Allah telah menjadi daging dan berkemah di tengah-tengah kita, penuh dengan anugerah dan kebenaran (ayat 1, 14). Selain itu, dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah (ayat 16). Kebenaran di sini berarti realitas. Jadi mengenal anugerah Allah dalam kebenaran berarti secara riil mengenalnya dalam pengalaman, bukan sekadar dalam perkataan atau doktrin dalam pikiran. Kebenaran ialah Kristus sebagai realitas, dan anugerah ialah Kristus sebagai kenikmatan kita. Ketika kita mengalami Kristus dan menikmati Dia, Kristus yang sebagai kebenaran akan menjadi anugerah kita. Cara bertumbuhnya Injil di dalam kita dan berbuah adalah melalui kita menikmati Kristus dan mengalami Dia sebagai anugerah kita.

Dalam beberapa ayat ini kita nampak Kristus begitu kaya bagi kita: pengharapan kita, kebenaran kita, realitas kita, dan anugerah kita. Hanya ketika Kristus menjadi anugerah kita barulah kita dapat menikmati dan mengalami Dia. Semakin kita menikmati dan mengalami Kristus, kita akan semakin bertumbuh, berbuah, hidup oleh-Nya, dan menyimpan pengharapan bagi kita sendiri di surga.

Frase “dalam kebenaran” dapat dianggap sebagai keterangan yang menjelaskan predikat “mengenal” atau kata sifat yang menjelaskan kata benda “anugerah”. Anugerah Allah berada dalam kebenaran, dalam realitas, tidak hanya dalam doktrin atau pengetahuan. Ketika kita mendengar berita-berita yang disampaikan dalam pemulihan Tuhan, kita sering menikmati anugerah dalam realitas. Melalui ministri (pelayanan) firman yang demikian, anugerah dalam realitas ini terinfus ke dalam kita. Karena anugerah ini solid dan konkret, maka kita dapat mengecapnya, menikmatinya, dan hidup olehnya.

Jika kita menerima firman-firman “dalam kebenaran” sebagai satu kata keterangan yang menjelaskan kata “mengenal”, kita nampak bahwa pengenalan kita terhadap anugerah tidak seharusnya dalam doktrin, tetapi dalam realitas. Hal ini berarti pengenalan kita terhadap Kristus sebagai anugerah harus ada dalam realitas. Dalam Injil, Kristus disampaikan kepada kita dan diinfuskan ke dalam kita sebagai kebenaran dan anugerah. Kita memiliki Kristus sebagai realitas, dan realitas ini adalah kenikmatan kita. Ketika kita hidup oleh Kristus yang kita alami sebagai kebenaran dan anugerah, kita menyimpan pengharapan bagi kita sendiri di surga.

PELAYAN (MINISTER) KRISTUS

Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia.” Di sini Paulus menunjukkan bahwa Epafras adalah seorang pelayan (minister) Kristus. Seorang minister Kristus bukan hanya seorang hamba Kristus, yang melayani Kristus, tetapi juga melayani orang lain dengan Kristus, menyuplaikan Kristus kepada orang lain.