← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 6/23

KRISTUS — BAGIAN ORANG-ORANG KUDUS

Pembacaan Alkitab:

Kol. 1:12-14; Kej. 12:2b, 3b, 7; Gal. 3:14

Dalam berita ini kita akan membahas Kristus sebagai bagian orang-orang kudus. Dalam 1:12 Paulus berkata, “Dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang.” Se-perti akan kita lihat, bagian orang-orang kudus adalah Kristus yang almuhit untuk kenikmatan kita.

JANJI TENTANG TANAH ITU

Menurut Kitab Kejadian, tidak ada janji yang menca-kup berkat atau kenikmatan yang diberikan sebelum ter-panggilnya Abraham. Tentu saja, dalam Kejadian 3:15 terda-pat janji tentang benih perempuan yang akan meremukkan kepala ular. Tetapi janji ini tidak mengandung janji berkat atau kenikmatan. Dalam Kejadian 4—11 tidak terdapat ca-tatan tentang janji yang sedemikian. Janji berkat kali pertama disebut dalam Kejadian 12, ketika Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya dan dari rumah bapaknya. Di sini Tuhan khusus menyebut tanah itu (Kej. 12:1).

Kita mungkin hafal dengan kisah Abraham dan me-ngira kita mengerti setiap hal yang berkaitan dengannya. Ketika kita membaca panggilan Allah atas Abraham dan janji-janji yang ditujukan kepadanya, kita mungkin mengi-ra memang semestinya begitu. Jadi, ketika kita membaca tentang tanah itu, kita mungkin tidak mempunyai kesan terhadap maknanya. Tetapi, jika kita membaca firman Allah dengan saksama, kita pasti akan memahami bahwa janji Allah kepada Abraham tentang tanah itu adalah suatu hal yang sangat menonjol dan penting sekali. Janji yang dibuat dalam Kitab Kejadian ini merupakan benih yang bertum-buh dan berkembang dalam seluruh Perjanjian Lama. Pada hakikatnya, selain kesebelas pasal pertama dari Kitab Kejadian, seluruh Perjanjian Lama merupakan kisah tanah Kanaan. Subyek Perjanjian Lama adalah tanah permai, ta-nah yang mengalirkan susu dan madu. Namun demikian, sangat sedikit orang Kristen yang menaruh cukup perha-tian terhadap hal ini.

Sewaktu saya berkumpul dengan Kaum Saudara, saya terdorong untuk mempelajari perlambangan dan nubuat. Tetapi ada tiga masalah penting yang luput dari perhatian saya, dan saya tidak menerima bantuan atas hal-hal ter-sebut. Ketiga hal itu ialah: Allah menciptakan manusia me-nurut rupa dan gambar-Nya, dan memberi manusia kekuasa-an untuk mengatur; pohon hayat, sungai yang mengandung benda-benda berharga, dan mempelai perempuan yang dija-dikan dari tulang rusuk Adam; dan janji tentang tanah permai. Setelah saya menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun, barulah saya mulai memusatkan perhatian pada ketiga hal ini. Mereka yang mengetahui berita-berita saya memahami bahwa semuanya tertuju kepada ketiga hal ini.

Janji Allah kepada Abraham yang berkenaan dengan tanah permai itu besar sekali maknanya. Ketika Paulus menulis Surat Kiriman Kolose dan membicarakan bagian kaum saleh, dalam pikirannya pasti tersirat lukisan ten-tang pembagian tanah permai untuk bani Israel dalam Per-janjian Lama. Kata Yunani yang diterjemahkan “bagian” dalam 1:12 dapat juga diterjemahkan “undian”. Paulus me-makai istilah ini dengan catatan Perjanjian Lama atas ta-nah itu sebagai latar belakangnya. Allah memberi umat pilihan-Nya — bani Israel, tanah permai sebagai warisan dan kenikmatan mereka. Tanah itu berarti sekali bagi me-reka. Pada faktanya, persoalan tanah merupakan persoalan yang serius di Timur Tengah, bahkan pada hari ini. Masa-lah yang berhubungan dengan Israel dan negara-negara se-kitarnya di Timur Tengah adalah masalah tanah.

KETURUNAN DAN TANAH ITU

Janji yang ditujukan kepada Adam dan Hawa dalam Kejadian 3 adalah janji tentang keturunan perempuan itu. Tetapi janji yang Allah tujukan kepada Abraham tidak saja tentang keturunan, tetapi juga tentang tanah itu. Keturun-an yang dijanjikan dalam Kejadian 3:15 menjadi tanah dalam Kejadian 12. Ketika bani Israel masuk ke dalam ta-nah Kanaan, mereka tidak saja mewarisi keturunan, juga mewarisi tanah itu. Kita boleh menerjemahkan keturunan sebagai satu orang, juga sebagai satu benih yang ditaburkan dalam tanah (kata “keturunan” atau “benih” dalam bahasa Inggrisnya adalah “seed”). Hal ini berarti Kristus bukan hanya satu keturunan, juga satu benih yang ditaburkan dalam tanah. Kristus adalah keturunan itu juga tanah itu.

Dalam Kitab Kolose, Kristus yang kita miliki adalah keturunan atau tanah? Dalam kitab ini Kristus adalah ke-turunan juga tanah. Kolose 2:7 mengatakan bahwa kita te-lah berakar di dalam Kristus. Ini menunjukkan bahwa Dia adalah tanah itu. Tetapi dalam 3:4 dikatakan bahwa Kristus adalah hayat kita. Ini menunjukkan bahwa Dia juga ketu-runan. Namun, dalam Kitab Kolose Kristus lebih banyak diwahyukan sebagai tanah daripada sebagai keturunan. Kristus adalah bagian kita, undian kita, segala sesuatu ki-ta, seperti halnya tanah itu adalah segala sesuatu bagi bani Israel. Tanah itu menyediakan segala keperluan bani Israel: susu, madu, air, ternak, gandum, barang tambang. Dalam menulis Surat Kiriman ini, Paulus menggunakan konsepsi tanah yang almuhit untuk menyuruh orang-orang Kolose yang tersesat agar tidak menerima apa-apa selain Kristus sendiri. Apa pun yang bukan Kristus berkaitan dengan kuasa kegelapan, dan kita tidak boleh menerimanya. Seba-liknya, kita harus tinggal saja dalam tanah permai dan tidak membiarkan unsur asing masuk. Hanya Kristuslah satu-satunya bagian kita, dan kita harus menerima yang berasal dari-Nya saja.

ROH ITU ADALAH TANAH PERMAI

Sebelum Paulus menulis Kitab Kolose, ia menulis Surat Kiriman kepada jemaat-jemaat di Galatia. Dalam Galatia 3:14 ia berkata, “Yesus Kristus telah melakukan hal ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bang-sa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Beberapa guru Kristen percaya bahwa berkat Abraham ditujukan kepada pembenaran oleh iman. Namun, menurut konteksnya, berkat itu seharusnya ditujukan kepada tanah permai itu. Dalam Kejadian 12 berkat yang Allah janjikan kepada Abraham adalah tanah itu. Dalam Galatia 3:14 Paulus merangkaikan berkat Abraham dengan janji Roh itu. Ini menunjukkan bahwa janji Abraham, janji tanah permai, ialah Roh itu. Jadi, Roh itu adalah tanah permai.

Dalam Galatia 3:14 Paulus membicarakan tentang Roh itu. Ini seharusnya mengingatkan kita kepada Yohanes 7:39. Ayat ini mengatakan, “Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Roh dalam Galatia 3:14 dan Yohanes 7:39 adalah ekspresi terakhir dari Allah Tritunggal. Roh itu adalah istilah unik yang menunjukkan Allah yang telah melalui proses. Bapa adalah sumbernya. Anak Allah sebagai salurannya telah berinkarnasi, hidup di bumi, disalibkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan semuanya merupakan aspek dari satu proses. Dalam kebangkitan, Kristus, Adam yang akhir, men-jadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Menurut Yohanes 1:14, Firman yang adalah Allah, telah menjadi daging. Me-nurut 1 Korintus 15:45 Adam yang akhir, yakni Kristus, telah menjadi Roh pemberi-hayat. Banyak guru Kristen yang membantah bahwa Roh pemberi-hayat dalam ayat ini bukanlah Roh Kudus; demikian berarti percaya adanya dua Roh yang dapat memberi hayat, Roh Kudus dan Roh pemberi-hayat. Roh pemberi-hayat pasti adalah Roh Kudus yang memberi hayat. Roh ini merupakan perampungan sem-purna dari Allah yang telah melalui proses. Roh ini tak lain adalah Kristus yang almuhit. Sebagaimana tanah permai adalah lambang almuhit Kristus, dan sebagaimana Kristus telah menjadi Roh itu, maka Roh itu, Roh yang almuhit sebagai Allah yang telah melalui proses, pada akhirnya ada-lah tanah permai bagi kita, kaum beriman Perjanjian Baru, sebagai penggenapan janji Allah kepada Abraham, agar se-mua bangsa di bumi beroleh berkat di dalamnya (Kej. 12:3).

Menurut Galatia 3:14, janji ini adalah janji tentang Roh itu. Tetapi Galatia 3:16 mengatakan bahwa janji-janji itu diberikan kepada keturunan Abraham, yakni Kristus. Ayat-ayat ini sukar dicocokkan. Di satu pihak, Roh itu adalah Kristus yang almuhit; di pihak lain, janji ini, Roh ini, dibe-rikan kepada Kristus sebagai keturunan. Walaupun ini su-kar dijelaskan secara doktrinal, tetapi lebih mudah dimenger-ti dalam pengalaman. Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, kita menerima Dia sebagai keturunan, sebagai ha-yat. Tetapi, keturunan ini adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit, realitas tanah permai itu. Ini berarti Kristus yang kita terima sebagai keturunan adalah Roh yang dilambang-kan oleh tanah permai. Kristus masuk ke dalam kita se-bagai keturunan. Tetapi ketika kita hidup oleh-Nya, Ia akan menjadi tanah yang adalah bagian kita.

DILEPASKAN DARI KUASA KEGELAPAN

DAN DIPINDAHKAN KE DALAM KRISTUS

YANG ALMUHIT

Sama seperti tanah permai adalah bagian bani Israel, begitu pula Kristus hari ini adalah bagian orang-orang ku-dus. Kita telah menunjukkan bahwa ketika Paulus menulis 1:12, dalam pikirannya tersirat lambang tanah Kanaan. Dalam 1:13 ia selanjutnya berkata, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih.” Ayat ini mengingatkan kita cara bani Israel dilepaskan dari Mesir dan dipindahkan ke tanah permai. Jadi, konsepsi Paulus dalam 1:13 sama dengan yang diwahyukan dalam keluar dari Mesir dan ma-suk ke dalam tanah permai. Dahulu, Allah melepaskan umat-Nya dari Mesir dan membawa mereka masuk ke tanah permai. Allah Bapa telah melakukan hal yang serupa ter-hadap kita. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, yang dilambangkan oleh Firaun dan Mesir, dan memindah-kan kita ke dalam Kristus yang almuhit, yang dilambang-kan oleh tanah permai. Sama seperti bani Israel dipindah-kan dari Mesir ke tanah yang mengalirkan susu dan madu, tanah di mana tidak ada tirani, begitu pula kita telah dipindahkan ke dalam alam lingkungan yang amat indah, yang disebut Kerajaan Anak Bapa yang terkasih. Sebab itu, dilayakkan mendapat bagian dalam bagian orang-orang ku-dus sebenarnya berarti masuk ke dalam tanah permai. Jadi tulisan Paulus dalam 1:12 dan 13 adalah sesuai dengan lukisan Perjanjian Lama itu.

PASKAH, MANNA, DAN TANAH

Dalam menulis Kitab 1 Korintus, Paulus juga memakai lukisan-lukisan dari Perjanjian Lama. Dalam 1 Korintus 5:7 kita nampak Kristus adalah Paskah, dan dalam 1 Korintus 10:3-4, Dia adalah manna. Menurut lukisan-lu-kisan dalam Perjanjian Lama, bani Israel dilepaskan dari Mesir melalui domba Paskah, dan mereka bertahan di pa-dang gurun melalui manna. Tabernakel (Kemah Pertemu-an) yang didirikan di padang gurun melambangkan hidup gereja (church life) yang dapat berpindah-pindah. Hidup ge-reja semacam ini tidak kokoh, tidak didirikan dengan per-manen. Setelah bani Israel masuk ke tanah permai dan me-nikmati berkat yang dijanjikan kepada Abraham, mereka membangun bait dengan batu bersandarkan suplai kekaya-an tanah permai yang tidak terduga itu. Bait melambang-kan hidup gereja yang kokoh. Dalam 1 Korintus kita nampak gereja yang dilambangkan oleh tabernakel, tetapi dalam Ki-tab Kolose dan Efesus, gereja dilambangkan oleh bait. Kristus yang kita nikmati dalam Kitab Kolose bukan hanya anak domba dan manna, tetapi juga tanah permai, undian, bagian orang-orang kudus.

Banyak guru Kristen membicarakan Paskah, manna, dan tabernakel. Tetapi saya tidak yakin di antara mereka ada yang telah nampak bahwa tanah permai adalah lam-bang Kristus yang almuhit. Lambang Kristus ini hanya da-pat digenapkan oleh Roh itu. Orang-orang Kristen boleh jadi mengetahui Roh Allah, tetapi mungkin mereka tidak mengetahui Roh itu, Roh pemberi-hayat yang almuhit se-bagai ekspresi terakhir dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses sebagai kegenapan janji tanah permai itu. Bagi kita, tanah permai yang dijanjikan Allah kepada Abraham adalah Roh itu. Dengan kata lain, Roh itu adalah berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham.

HIDUP DALAM ROH

Dalam Galatia 5:16 Paulus menyuruh kita untuk hidup (atau berjalan) dalam roh. Roh itu harus menjadi alam ling-kungan kita yang di dalamnya kita hidup. Selain itu, da-lam Galatia 5:25 Paulus berkata, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh roh.” Ini me-nunjukkan bahwa Roh itu adalah tanah permai kita. Kristus yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Kitab Kolose, adalah tanah yang almuhit. Tanah ini adalah Kristus sebagai Roh yang almuhit. Haleluya, kita telah menerima satu bagian dalam bagian yang sedemikian!

PERLUNYA SUATU KELUARAN

Jika kita nampak hal ini, kita tidak akan mengizinkan hal-hal yang bukan Kristus menduduki gereja. Orang-orang Kolose telah diganggu oleh peraturan, praktek, filsafat, dan ajaran pertapaan, sebab mereka tidak nampak Kristus se-bagai Roh yang almuhit itu adalah bagian mereka, tanah permai mereka. Sebagai pengganti bagian ini, mereka telah menerima tata cara, peraturan, dan filsafat. Pada prinsip-nya, kekristenan hari ini juga demikian. Kekristenan telah diduduki oleh kebudayaan. Tidak ada satu bagian pun dari kekristenan yang terhindar dari hal ini. Seluruh kekristen-an telah disusupi oleh kebudayaan. Tujuan pemulihan Tuhan ialah mengeluarkan kita dari semuanya itu lalu membawa kita masuk ke dalam diri Kristus sendiri. Pada mulanya, dunia adalah Mesir. Sekarang agama Kristen telah menjadi Mesir yang membelenggu umat Allah. Karena itu umat Allah hari ini perlu suatu keluaran. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi, ketika masuk ke dalam hidup gereja, kita telah melakukan suatu keluaran dan telah dilepaskan dari kuasa kegelapan.

HANYA KRISTUS

Ketika bani Israel mengembara di padang gurun, me-reka teringat akan rasa bawang prei, bawang merah, dan bawang putih yang mereka nikmati di Mesir, dan mereka masih ingin makan makanan itu. Tetapi ketika bani Israel masuk ke tanah permai, tidak ada satu pun yang berbau Mesir yang dibawa masuk ke dalam Kanaan. Jika memba-wa aroma Mesir ke tanah permai, itu akan menghina Allah. Memasukkan sesuatu yang bukan Kristus ke dalam gereja juga berarti penghinaan terhadap Allah. Dalam tanah per-mai tidak ada bawang prei, bawang merah, dan bawang putih Mesir. Dalam tanah permai kita hanya menikmati hasil tanah itu. Seprinsip dengan ini, dalam hidup gereja, tidak ada “bawang putih” duniawi, hanya Kristus sebagai bagian kaum saleh. Jika kita nampak hal ini, kita akan terhindar dari perbuatan memasukkan unsur asing apa pun ke dalam Tubuh Kristus.

Kita telah nampak bahwa bagian kaum saleh adalah Kristus sebagai tanah permai, Kristus yang almuhit seba-gai Roh pemberi-hayat. Pertama-tama, Kristus adalah ketu-runan yang memberi kita hayat. Kemudian Dia menjadi kerajaan, alam, lingkungan, yang di dalamnya kita hidup. Sebab itu, Kristus adalah keturunan kita dan tanah kita, hayat dan alam lingkungan kita. Inilah Kristus sebagai ba-gian orang-orang kudus.