← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 20/23

BERPERILAKU DI DALAM KRISTUS — RAHASIA ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Kol. 2:6; Ul. 8:7-10; Rm. 8:11;

2 Tim. 4:22; Flp. 1:19; 1 Kor. 6:17; Rm. 8:4, 6; Gal. 5:16, 25

Dalam berita sebelumnya kita membicarakan tentang pengalaman atas Kristus sebagai rahasia Allah. Sekarang kita akan meneruskan membahas tentang bagaimana berperilaku di dalam Kristus yang demikian. Dalam Kolose 2:6 Paulus berkata, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu berperilaku tetap di dalam Dia.” Berperilaku di dalam Kristus sebagai rahasia Allah berarti menempuh hidup, bertindak, bertingkah laku, dan membawa diri di dalam Dia.

Dalam Kolose 1 Paulus menyajikan satu wahyu yang dalam tentang Kristus. Aspek pertama Kristus yang diung-kapkan dalam pasal ini ialah Kristus sebagai bagian orang-orang kudus (ayat 12). Tanah permai dalam Perjanjian La-ma melambangkan Kristus sebagai bagian atau pusaka orang-orang kudus. Dalam pasal ini Paulus juga memperlihatkan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung dari segala yang diciptakan, Kepala Tubuh, yang pertama bangkit dari antara orang mati, dan persona yang di dalam-Nya seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal.

Paulus memulai pasal 2 dengan satu perkataan ten-tang perjuangannya yang berat bagi orang-orang Kolose agar hati mereka terhibur, sehingga mereka “memperoleh segala kekayaan keyakinan yang penuh akan pengertian, dan pengenalan yang penuh akan rahasia Allah, yaitu Kristus” (ayat 2 Tl.). Bilamana hati kaum saleh Kolose te-lah terhibur, terasuh dan dihangatkan, barulah mereka dapat memiliki satu pengertian yang tepat terhadap Kristus. Hal inilah yang memungkinkan mereka memiliki peng-alaman yang sejati terhadap Kristus. Orang-orang Kolose perlu satu hati yang terhibur dan pikiran yang jernih su-paya mereka memiliki pengenalan yang penuh akan Kristus yang telah mereka terima; dan yang kemudian dari-Nya mereka telah diselewengkan. Kristus ini, rahasia Allah, ada-lah persona yang di dalam-Nya tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan (ayat 3). Lagi pula, Dialah persona yang di dalam-Nya berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan secara jasmaniah (2:9). Bila orang-orang Kolose memiliki keyakinan penuh akan pengertian tentang Kristus yang al-muhit ini, mereka akan dapat berperilaku di dalam-Nya.

Kita telah menunjukkan bahwa kata (perilaku) dalam Kolose 2:6 berarti menempuh hidup, bertindak, bertingkah laku, serta membawa diri kita. Persona yang di dalam-Nya kita berperilaku ialah Sang almuhit yang diwahyukan secara mendalam dalam pasal pertama itu. Se-bagai persona yang demikian, Kristus adalah bagian orang-orang kudus dan rahasia ekonomi Allah. Seperti halnya orang-orang Kolose, kita pun perlu dianjuri untuk berperilaku di dalam Kristus yang adalah segala sesuatu kita.

TANAH PERMAI KITA

Ketika Paulus menulis Kitab Kolose, dia merenungkan lukisan tanah permai yang dalam Perjanjian Lama sebagai satu lambang Kristus yang almuhit. Ada sebuah petunjuk dalam Kolose 1:12, di mana Paulus mengatakan Kristus adalah bagian orang kudus. Lalu dalam Kolose 2:6 Paulus menyuruh kita untuk hidup (berperilaku) di dalam Kristus. Hal ini menyiratkan bahwa Kristus adalah tanah, kawasan, wilayah, atau alam lingkungan, yang di dalamnya kita da-pat berperilaku. Lagi pula, perkataannya dalam Kolose 2:7 tentang berakar di dalam Kristus juga menunjukkan bah-wa dia memikirkan tanah permai tersebut. Untuk berakar di dalam Kristus, maka Kristus harus menjadi bumi, tanah kita. Semuanya ini menunjukkan bahwa Kristus yang di-wahyukan dalam Kitab Kolose adalah tanah permai kita.

Paulus memiliki latar belakang yang kuat dalam Per-janjian Lama. Ketika dia menulis Surat Kiriman seperti Roma, 1 Korintus, Galatia, Kolose, dan Ibrani, dia pasti me-miliki banyak ayat kitab Perjanjian Lama dalam benaknya, dan banyak tulisannya berdasar pada Perjanjian Lama. Ter-utama, ketika Paulus menulis Kitab Kolose, di hadapannya ada lukisan Tanah Kanaan. Dia sangat jelas bahwa umat pilihan Allah dalam zaman Perjanjian Lama menikmati tanah permai sebagai bagian mereka. Tidak hanya demi-kian, ia juga paham bahwa tanah permai adalah segala se-suatu bagi mereka. Melalui tanah permailah mereka dapat menyembah Allah dan membangun bait bagi kesaksian Allah dan bagi tempat kediaman-Nya yang unik. Melalui tanah permailah kehendak Allah dapat digenapkan oleh bani Israel. Paulus sepenuhnya memahami bahwa tanah permai ber-makna sekali bagi umat pilihan Allah, maka ketika dia me-nulis Surat Kiriman kepada orang-orang Kolose, dalam be-naknya tersirat gambar tanah permai. Sebab itu, jika kita ingin mengalami Kristus yang almuhit seperti yang diwah-yukan dalam kitab ini, kita perlu memahami bahwa Kristus yang demikian dilambangkan oleh Tanah Kanaan. Kristus yang dilambangkan oleh tanah permai ini adalah Allah Tri-tunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi-ha-yat. Saya akui bahwa saya tidak bosan-bosannya menekan-kan hal ini, sebab ini adalah amanat dan beban yang saya terima dari Tuhan.

Jika kita mau berperilaku di dalam Kristus sebagai ra-hasia Allah, kita harus nampak bahwa menurut konsepsi Paulus, Kristus yang di dalam-Nya kita berperilaku ini adalah tanah permai. Mengenai hal ini, kita perlu keyakin-an yang penuh akan pengertian tersebut. Berita demi berita dapat disajikan mengenai Kristus sebagai tanah permai. Hal ini tidak ada habis-habisnya.

Sidang istimewa yang pertama diadakan di Amerika Serikat bulan Desember, 1962, membahas “Kristus yang al-muhit yang dilambangkan oleh Tanah Kanaan”. Berita-beri-ta itu telah diterbitkan sebagai buku “The All-Inclusive Christ” (Kristus yang Almuhit). Ada sebuah kidung yang sangat indah (Kidung No. 378) yang menyatakan pengalaman atas Kristus sebagai hayat yang diilhamkan oleh beritaberita ini. Bait terakhir dari kidung ini mengatakan:

Nasib dan berkat mulia!

Aku hidup, Kristus nyata!

Kehendak-Nya aku gemar,

Mulia-Nya kuutarakan;

Lain tak mau, lain tiada,

Sasaranku Kristus s’mata.

Dalam sidang istimewa itu banyak berita yang disam-paikan tentang Ulangan 8:7-10. Berdasarkan ayat-ayat itu, kita melihat kekayaan yang tidak terduga dari tanah itu, antara lain: air, makanan, dan barang tambang. Apa yang kita persekutukan dalam berita-berita itu hanya merupa-kan pengantar saja. Masih banyak lagi kekayaan Kristus yang dilambangkan oleh Tanah Kanaan yang belum kita persekutukan.

Pelajar-pelajar Alkitab memahami bahwa Alkitab tidak mudah dimengerti. Ketika saya masih muda, saya memberi tahu Tuhan bahwa saya tidak setuju dengan cara Dia me-nulis Alkitab. Menurut opini saya, Dia seharusnya menulis dengan cara yang sistematis, secara sistematis menelaah se-tiap butir utama, dan meletakkan semua bahan di bawah berbagai pokok besar dan bagian-bagian kecilnya. Namun, harus kita akui bahwa cara Tuhanlah yang terbaik. Dalam Alkitab, Tuhan menyinggung sebuah subyek penting dalam berbagai tempat. Misalkan, tentang “pembenaran”. Subyek ini tidak hanya tercatat dalam satu kitab saja. Karena ka-pasitas kita sangat terbatas, Tuhan tahu bahwa dalam satu kesempatan Dia hanya dapat mewahyukan sedikit saja ten-tang masalah rohani, seperti masalah pembenaran. Demikian pula tentang wahyu Kristus sebagai tanah permai kita.

SATU LAMBANG YANG ALMUHIT DARI KRISTUS

Di satu aspek, tanah permai diwahyukan dalam Per-janjian Lama, di aspek lainnya, tanah permai juga tersem-bunyi dalam Perjanjian Lama. Walau pernyataan ini keli-hatannya bertentangan, sebenarnya tidak. Karena Kitab Ulangan melukiskan tanah permai, dapat kita katakan bah-wa tanah permai diwahyukan di dalam Perjanjian Lama. Tetapi karena arti dan makna tanah permai tersembunyi, maka kita dapat juga mengatakan bahwa tanah ini tersem-bunyi di dalam Alkitab. Ketika anak-anak Allah, berdasar-kan suplai rahmat dan anugerah-Nya, mendalami firman Allah, barulah mereka mulai memahami bahwa tanah per-mai yang dijanjikan Allah kepada umat pilihan-Nya adalah lambang Kristus. Jika hari Paskah yang dinikmati di Me-sir dan manna yang dialami di padang gurun adalah lam-bang Kristus, maka tanah permai seharusnya juga melam-bangkan Kristus.

Dalam Yosua 5:11-12 kita nampak sebuah petunjuk bahwa tanah permai melambangkan Kristus sebagai kelan-jutan manna. Ayat 11 mengatakan bahwa bani Israel makan hasil tanah atau negeri itu. Ayat 12 terutama menjelaskan: “Lalu berhentilah manna itu, pada keesokan harinya se-telah mereka makan hasil negeri itu. Jadi orang Israel tidak beroleh manna lagi, tetapi dalam tahun itu mereka makan yang dihasilkan tanah Kanaan.” Manna adalah satu lambang Kristus sebagai suplai hayat bagi umat Allah. Se-perti ayat-ayat yang ditunjukkan dalam Kitab Yosua, hasil tanah permai itu adalah kelanjutan dari manna. Sebab itu, jika manna melambangkan Kristus, maka hasil tanah permai seharusnya juga melambangkan Dia. Melalui suplai manna di padang gurun, umat Allah dapat membangun Ke-mah Pertemuan sebagai tempat kediaman Allah. Sama hal-nya, melalui suplai hasil tanah permai yang kaya itu, me-reka dapat membangun bait sebagai tempat kediaman Allah yang lebih kokoh. Tidak dapat disangsikan, tanah permai yang dinikmati bani Israel adalah lambang Kristus yang utama, sebab melalui menikmatinya, maka terbangunlah Bait Suci. Kita bahkan dapat mengatakan bahwa tanah per-mai adalah lambang Kristus yang terutama yang terdapat dalam Alkitab, adalah satu lambang Kristus yang lengkap dan almuhit.

Agar hati kita terhibur dan terjalin bersama dalam ka-sih sehingga memperoleh pengenalan yang penuh akan Kristus sebagai rahasia Allah mencakup memiliki seluruh pengenalan yang penuh akan Kristus seperti yang dilam-bangkan oleh tanah permai. Kita perlu mengetahui dengan rinci bagaimana Kristus dapat dilambangkan oleh semua hal yang disebutkan dalam Ulangan 8:7-11. Dialah air yang berpancar dari lembah dan bukit-bukit. Dialah gandum dan jelai, yang masing-masing melambangkan Kristus yang ber-inkarnasi, yang tersalib, dan yang dibangkitkan. Kita ha-rus maju untuk melihat bagaimana Kristus dilambangkan oleh anggur, minyak, buah ara, buah delima, dan barang tambang. Tanpa ayat-ayat dari Ulangan 8, kita akan keku-rangan pengertian terhadap Kristus yang almuhit.

Tanah adalah inti yang penting dari kitab Perjanjian Lama. Inilah alasannya dalam kitab Perjanjian Lama, Tuhan berulang-ulang membicarakan masalah tanah. Allah me-manggil Abraham dan memberi tahu dia bahwa Dia ingin membawanya ke suatu tanah atau negeri, yaitu Tanah Ka-naan. Perhatikanlah, berapa kali Tuhan menyinggung ma-salah tanah itu mulai dari Kejadian 12 hingga akhir kitab Perjanjian Lama. Pada hakikatnya, inti Perjanjian Lama adalah bait yang dibangun di sebuah kota di tanah permai itu. Jika kita memahami Alkitab dan memiliki terang dari Allah, kita akan memahami bahwa inti rencana kekal Allah, ditinjau dari lambang, ialah tanah itu berikut bait dan kota-nya. Mulai dari Kitab Kejadian, kitab Perjanjian Lama meng-anggap tanah itu sebagai inti dan menyebut berulang-ulang hal-hal yang berkaitan dengan tanah itu. Seperti telah berkali-kali kita tunjukkan, tanah itu adalah lukisan dari Kristus yang almuhit, satu lambang Kristus sebagai segala sesuatu bagi kita.

BERPERANG BAGI TANAH ITU

Iblis, musuh Allah, telah berbuat sekuatnya dan terus-menerus untuk membuat umat Allah tidak bisa menikmati tanah permai. Dia berusaha sedapatnya untuk merusak ke-nikmatan mereka atas Kristus sebagai tanah itu. Tidak lama setelah Allah menciptakan langit dan bumi, dengan maksud memberikan bumi itu untuk dinikmati umat ma-nusia, Iblis segera melakukan sesuatu untuk menggagal-kan Allah. Karena pemberontakan Iblis, Allah harus meng-hakimi alam semesta, dan karena penghakiman itu, bumi lalu terkubur di bawah air yang dalam. Setelah sejangka wak-tu, Allah datang bekerja dan memulihkan tanah dari air yang dalam itu. Di atas tanah yang terpulih inilah muncul makhluk hidup yang sangat banyak, dan muncul pula sua-tu hayat yang segambar dengan Allah, satu hayat yang me-nerima amanat kuasa Allah. Akan tetapi, tidak lama kemu-dian musuh Allah datang lagi untuk menipu manusia dan Allah pun menghakimi bumi lagi. Pada zaman Nuh, bumi atau tanah yang telah dipulihkan sekali lagi digenangi oleh air yang dalam. Menurut lambangnya, manusia telah dipi-sahkan dari kenikmatan atas Kristus seperti yang dilam-bangkan oleh tanah itu. Tetapi melalui penebusan bahtera, Nuh dan keluarganya beroleh hak untuk memiliki tanah itu dan menikmati segala kekayaannya. Air bah telah me-misahkan umat manusia dari bumi, tetapi bahtera memba-wa Nuh dan keluarganya kembali ke dalam kenikmatan atas bumi. Sekali lagi manusia beroleh kedudukan atas ta-nah itu dan menikmati kekayaannya.

Tetapi, tidak lama kemudian musuh mengadakan peru-sakan lagi terhadap kenikmatan atas bumi, kali ini melalui pemberontakan Babel. Karena itu, dari bangsa yang jatuh yang dihasut untuk memberontak oleh Iblis, Allah memanggil seorang manusia, yaitu Abraham, dan memberi tahu dia bahwa Dia ingin membawanya ke suatu tanah atau negeri. Namun, bahkan orang yang terpilih ini juga berangsur-angsur terhanyut dari tanah itu ke Mesir, sehingga Tuhan harus mengembalikannya ke tanah itu. Pada akhirnya, ke-turunannya meninggalkan tanah itu dan turun ke Mesir. Setelah waktu yang sangat lama, Tuhan baru membawa umat-Nya keluar dari Mesir dan kembali ke tanah permai. Beberapa abad kemudian, musuh bergerak lagi dan mengutus tentara dari Babel untuk merusak tanah itu dan menawan umat itu. Tetapi setelah tujuh puluh tahun, Tuhan membawa mereka kembali ke tanah permai itu lagi. Dari kesemuanya ini kita nampak bahwa sejarah Perjanjian Lama berkaitan dengan tanah itu. Usaha Allah senantiasa bertujuan memu-lihkan tanah itu, sedangkan usaha musuh senantiasa bertu-juan menggagalkan, merusak, dan menghalangi kenikmatan atas tanah itu, dan melakukan sesuatu untuk mendatangkan kekacauan bagi tanah itu. Maksud musuh tidak lain ialah ingin menyerang tanah itu dan merebutnya. Tetapi setelah musuh membuat rencana demikian, Allah pun bangkit ber-perang bagi umat-Nya dan memulihkan tanah itu lagi.

BERPERILAKU DALAM ROH YANG ALMUHIT

Kita harus memiliki kesan yang dalam bahwa tanah permai ini melambangkan Kristus yang almuhit. Kita telah menegaskan bahwa dalam Kolose 2:7, Paulus mengatakan bahwa kita telah berakar di dalam Kristus. Jika kita telah berakar di dalam Kristus, tentu Ia adalah tanah atau bumi kita. Pernahkah Anda menyadari bahwa Kristus adalah ta-nah yang di dalamnya Anda berakar, dan Anda adalah sebuah tanaman yang berakar di dalam Kristus sebagai tanah? Saya sungguh merasakan bahwa kebanyakan dari anak-anak Tuhan masih menetap di Mesir. Mereka hanya mengalami Tuhan sebagai Anak Domba Paskah. Ada orang yang sudah keluar dari Mesir dan menikmati Kristus sebagai manna mereka setiap hari ketika mereka mengembara di padang gurun. Tetapi sangat sedikit orang kudus yang mengalami Kristus sebagai alam lingkungan atau wilayah, ruang lingkup, tempat mereka berperilaku. Semoga Tuhan mencelikkan mata kita agar kita melihat bahwa Kristus adalah tanah permai kita dan kita harus berperilaku di dalam-Nya setiap hari!

Dalam Galatia 3:14 Paulus berkata, “Supaya di dalam Dia (Yesus Kristus) berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Di sini Paulus menyinggung berkat Abraham dan Roh yang telah dijanjikan. Berkat ini dituju-kan kepada tanah permai, dan penggenapan berkat ini bagi kita hari ini adalah Kristus sebagai Roh yang almuhit. Se-bab itu, menurut konsepsi Paulus, berperilaku di dalam Kristus sebagai tanah permai berarti berperilaku di dalam Roh yang almuhit itu.

Dalam Kolose 2:6 Paulus menyuruh kita untuk berpe-rilaku (hidup) di dalam Kristus, tetapi dalam Galatia 5:16 dia menyuruh kita hidup oleh Roh. Lagi pula, dalam Roma 8:4, dia membicarakan hidup menurut roh. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tanah permai bagi kita hari ini adalah Roh yang almuhit yang berhuni di dalam roh kita. Roh yang almuhit ini adalah Kristus yang almuhit sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Setelah melalui pro-ses, maka Allah Tritunggal adalah Kristus yang almuhit sebagai Roh yang almuhit bagi kita untuk kita alami. Hari ini Roh yang almuhit ini berhuni di dalam roh kita sebagai tanah permai kita.

Sejumlah kitab yang ditulis oleh Paulus, termasuk Kitab Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, dan Filipi menunjukkan bahwa hari ini Kristus adalah Roh yang almuhit. Kristus adalah perwujudan Allah dan ekspresi Allah. Melalui inkarnasi, Dia menjadi Adam yang akhir, yang telah tersa-lib di kayu salib untuk menebus kita. Dalam kebangkitan, Adam yang akhir ini telah menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45). Sebab itu, dalam 2 Korintus 3:17 Paulus ber-kata, “Sebab Tuhan adalah Roh itu” (Tl.). Karena Kristus sebagai Roh pemberi-hayat berhuni di dalam roh kita, maka kita menjadi satu roh dengan Dia. Dalam 2 Timotius 4:22 Paulus berkata, “Tuhan menyertai rohmu,” dan dalam 1 Korintus 6:17, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia.” Jadi, Kristus sebagai tanah permai yang almuhit sekarang berada di dalam roh kita. Tentang hal ini, kita semua memerlukan kekayaan keyakinan yang penuh akan pengertian.

Setelah memiliki keyakinan yang penuh bahwa Roh yang almuhit berbaur dengan roh kita, maka kita harus mengarahkan pikiran kita di atas roh perbauran ini (Rm. 8:6). Demikian, dengan spontan kita akan mengarahkan pi-kiran kita kepada Kristus. Setelah itu kita harus terus berperilaku di dalam roh perbauran ini. Hal ini berarti kita harus menempuh hidup, bergerak, bertindak, dan membawa diri kita menurut roh ini. Dengan demikianlah kita akan mengalami Kristus dan menikmati Dia sebagai tanah per-mai. Dalam Perjanjian Baru tidak ada satu perkara yang lebih penting, lebih inti, dan lebih vital daripada berperilaku di dalam roh perbauran ini. Kristus sebagai Roh yang al-muhit berhuni dalam roh kita menjadi hayat kita, persona kita, dan segala sesuatu kita. Keperluan kita hari ini ialah berpaling kepada-Nya, mengarahkan pikiran kita ke roh, dan berperilaku menurut roh ini. Inilah artinya berperilaku dalam Kristus sebagai rahasia Allah.