PENGALAMAN ATAS KRISTUS SEBAGAI RAHASIA ALLAH
Pembacaan Alkitab: Kol. 2:2-9
Dalam berita ini kita tiba pada masalah pengalaman akan Kristus sebagai rahasia Allah. Kita akan melihat be-berapa hal yang dapat membantu kita mengalami Kristus sedemikian.
I. MEMILIKI PENGENALAN YANG PENUH
AKAN DIA SEBAGAI RAHASIA ALLAH
Jika kita ingin mengalami Kristus sebagai rahasia Allah, kita perlu memiliki pengetahuan yang penuh tentang Dia sebagai rahasia Allah. Kita telah menunjukkan bahwa Paulus berjuang demi orang-orang Kolose, agar hati mereka terhi-bur “. . . sehingga memperoleh pengenalan yang penuh akan rahasia Allah, yaitu Kristus” (2:2 Tl.). Untuk memiliki pengenalan yang penuh akan rahasia yang sedemikian, se-luruh diri kita perlu dilatih. Jika kita hanya percaya kepa-da Kristus tanpa mengasihi Dia, kita tidak dapat memiliki pengenalan ini. Demikian pula, bila kita mengasihi Dia se-tengah-setengah, tidak sebulat hati, kita tidak dapat memi-liki pengenalan yang penuh akan Dia. Kita perlu mengasihi Tuhan Yesus dengan seluruh diri kita. Karena alasan ini-lah Markus 12:30 mengutip Ulangan 6:5, mengatakan, “Ka-sihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan de-ngan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Ketika segenap diri kita dila-tih untuk mengasihi Tuhan Yesus, kita akan memperoleh pengenalan yang penuh akan Dia.
Banyak orang Kristen menyukai kidung “Kucintalah Yesus”. Tetapi, kidung ini boleh jadi dinyanyikan secara dangkal, tidak menurut pengenalan yang penuh akan Kristus sebagai rahasia Allah. Hanya dengan melatih seluruh diri kita barulah kita dapat mengenal Kristus sedemikian.
Saya menyarankan agar semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan mempelajari tiga kitab Perjanjian Baru yang sangat penting: Matius, Yohanes, dan Ibrani. Sejum-lah berita Pelajaran-Hayat yang sangat berguna telah disaji-kan mengenai kitab-kitab tersebut. Pengkajian tentang Kitab Yohanes dan Ibrani sangat menyeluruh. Jika Anda menggu-nakan cukup banyak waktu untuk membaca ketiga kitab ini, Anda akan memperoleh pengenalan yang sangat banyak akan Kristus.
II. MENERIMA DIA
Dalam Kolose 2:6 Paulus berkata bahwa orang-orang Kolose “telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita”. Kristus adalah bagian yang telah ditentukan untuk orang-orang kudus (1:12) untuk mereka nikmati. Percaya ke dalam Dia berarti menerima Dia. Sebagai Roh yang almuhit (2 Kor. 3:17), Dia masuk ke dalam kita dan diam di dalam roh kita (2 Tim. 4:22), menjadi segala sesuatu bagi kita.
Begitu kita telah menerima Kristus Yesus, kita tidak perlu “menerima” Dia untuk kali kedua. Tetapi kita harus “menggunakan” apa yang telah kita terima. Namun, hanya sejumlah kecil orang yang telah menerima-Nya yang meng-gunakan Dia. Setiap hari kita semua harus berlatih meng-gunakan Kristus yang hidup secara riil. Dengan istilah yang umum, kita perlu menerapkan Kristus. Selama lebih dari lima puluh tahun, saya terus belajar bagaimana menerap-kan Kristus. Saya dapat bersaksi bahwa hal ini sukar, ka-rena sejak kita dilahirkan kita tidak terbiasa menerapkan Kristus, latihan-latihan kita pun tidak ditujukan untuk me-nerapkan Dia. Akhir-akhir ini, pengakuan dosa saya kepada Tuhan kebanyakan berhubungan dengan kegagalan saya dalam hal menggunakan Dia. Pelajaran tersulit bagi kita sebagai orang Kristen ialah menerapkan Kristus dan meng-gunakan Dia. Kita telah mendengar sejumlah berita ten-tang memperhidupkan Kristus, menumbuhkan Kristus, dan menghasilkan Kristus. Namun, dalam hidup kita sehari-hari dengan spontan kita selalu menerapkan diri sendiri se-bagai pengganti menerapkan Kristus. Kita tidak perlu men-coba menerapkan diri sendiri, sebab kita dengan otomatis dan spontan menerapkannya.
Dalam keempat kitab Injil Tuhan menyuruh kita “ber-jaga-jaga dan berdoa”. Saya telah menghabiskan beberapa tahun untuk memikirkan makna perkataan ini. Pada mula-nya saya kira perintah ini tidak perlu. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa saya benar-benar perlu berjaga-jaga dan berdoa, khususnya dalam hal menggunakan Kristus. Keti-ka kita bangun pagi, kita perlu berjaga-jaga agar tidak me-lakukan apa-apa jika tidak menggunakan Kristus. Sering kali ketika kita bangun pagi, setan-setan seolah-olah berke-rumun di sekitar kepala tempat tidur. Walaupun kita dilin-dungi oleh Tuhan dan ditutup oleh darah-Nya yang menang, kita tetap perlu berjaga-jaga dan menolak pikiran-pikiran jahat yang disuntikkan oleh musuh ke dalam kita. Janganlah memikirkan apa pun jika kita tidak mengguna-kan Kristus. Kita benar-benar perlu waspada; yaitu perlu berjaga-jaga dan berdoa. Tetapi jarang sekali orang Kristen yang berjaga-jaga dan berdoa untuk menggunakan Kristus.
Meskipun kita semua telah menerima Tuhan Yesus, kita kurang sekali dalam memakai Dia, menggunakan Dia. Jika kita tidak menggunakan Dia, maka dalam pelaksana-an hidup sehari-hari kita, menerima Kristus tidak terlalu bermakna. Pengalaman kita atas Kristus tidak boleh begitu dangkal, dan kita tidak boleh mengira banyak hal memang seharusnya begitu. Kita bersyukur karena keselamatan Allah di dalam Kristus, dan kita berterima kasih karena kita te-lah menerima Dia. Tetapi, sekarang kita harus terus meng-gunakan persona yang telah kita terima ini.
III. BERAKAR DI DALAM DIA
Dalam Kolose 2:7 Paulus mengatakan bahwa kita “telah” berakar di dalam Kristus (Tl.). Berakar di dalam Dia ada-lah untuk pertumbuhan hayat. Dalam ayat ini Paulus me-mandang kaum beriman sebagai tanaman yang telah berakar di dalam Kristus sebagai tanah. Tetapi, kebanyakan orang Kristen belum berakar dengan memadai di dalam Kristus.
Jika kita telah berakar dengan tepat di dalam Kristus, kita tidak perlu banyak bicara tentang tumpuan gereja. Tumpuan gereja adalah kesatuan. Namun dasar kesatuan adalah satu Roh, satu Tuhan, dan satu Allah dan Bapa, seperti yang dikatakan Paulus dalam Efesus 4. Jika kita benar-benar telah berakar di dalam Kristus, maka dalam pengalaman kita, Dia adalah dasar kesatuan kita. Aliran kekristenan tertentu menganggap pemeliharaan hari Sabat adalah kesaksian lain di bumi, selain gereja lokal. Pernya-taan seperti ini menunjukkan kekurangan berakar di da-lam Kristus. Jika kita telah berakar di dalam Dia dengan dalam dan tepat, kita tidak akan mengatakan bahwa Allah telah mendirikan kesaksian yang lain. Satu-satunya kesak-sian Allah ialah Yesus Kristus. Jika kita berakar di dalam Dia, tidak ada satu pun yang dapat menyelewengkan kita dari Dia. Kita semua harus bisa berkata, “Tuhan Yesus, te-rima kasih kepada-Mu karena aku telah berakar di dalam-Mu. Di luar Engkau aku tidak mempunyai kedudukan.” Dalam pemulihan Tuhan kita dapat bersaksi bahwa tum-puan kita adalah Kristus dan Kristus semata.
Jika kita melihat situasi kekristenan dewasa ini, kita akan nampak bahwa berbagai denominasi dan kelompok bebas mempunyai sesuatu selain Kristus sebagai tumpuan mereka. Aliran kekristenan tertentu memelihara hari ke-tujuh sebagai tumpuan mereka, sedangkan denominasi Bap-tis bertumpu pada baptisan selam. Ada denominasi yang menyimpang lebih jauh dengan bersikeras bahwa hanya dengan air mereka saja barulah seorang beriman dapat dibaptis dengan tepat. Walaupun beberapa kelompok mempertahankan baptisan selam, kelompok lain menentangnya; mereka menyatakan bahwa baptisan adalah mutlak rohani dan di dalam Roh.
Tahun 1964 saya bertemu dengan seorang yang dengan kuat menentang baptisan dalam air. Dia berpendapat bah-wa baptisan yang dikatakan dalam Roma 6 mengacu kepa-da baptisan di dalam Roh. Dia menafsirkan setiap baptisan dalam catatan Perjanjian Baru setelah Yohanes Pembaptis sebagai baptisan di dalam Roh. Dia bahkan sangat marah ketika posisinya ditantang menurut ayat-ayat tertentu. Be-berapa hari kemudian ketika saya berkhotbah di suatu tempat, saya ditantang oleh seorang perempuan dari deno-minasi itu tentang baptisan air. Beberapa hari sebelumnya, seorang laki-laki mendebat saya tentang baptisan dalam Roh. Sekarang seorang perempuan dengan berani memper-soalkan baptisan air. Baik laki-laki maupun perempuan itu kedua-duanya belum berakar dengan memadai di dalam Kristus. Hal ini menggambarkan fakta yang memalukan, yakni orang-orang Kristen telah terpecah-belah karena me-reka menerima sesuatu selain Kristus sendiri sebagai tumpuan mereka.
Paulus menyadari pentingnya berakar di dalam Kristus. Dia tahu betapa seriusnya dialihtanamkan dari Kristus dan berakar dalam hal yang lain, misalnya filsafat kafir atau peraturan-peraturan Yahudi. Dia menghendaki orang-orang Kolose nampak bahwa filsafat bukanlah tanah yang di da-lamnya mereka berakar. Mereka telah berakar di dalam Kristus. Dialah satu-satunya tanah kita.
IV. DIBANGUN DI DALAM DIA
Setelah berakar di dalam Kristus, kita sekarang “sedang dibangun di dalam Dia” (2:7 Tl.). Dibangun adalah untuk pembangunan Tubuh. Walaupun kita telah berakar, kita se-karang masih dalam proses pembangunan. Hal ini merupa-kan ma-salah korporat juga individu. Sebuah bangunan tidak hanya tersusun dari satu bahan, melainkan dari banyak bahan yang dirangkai bersama. Kita perlu berakar di dalam Kristus dan juga dibangun di dalam gereja.
Paulus prihatin jangan-jangan orang-orang Kolose te-lah diselewengkan dari Kristus dan gereja. Mereka telah berakar di dalam Kristus, tetapi mereka masih harus diba-ngun terus di dalam gereja. Untuk dibangun secara korpo-rat, orang-orang Kolose harus menyangkal tata cara Yahudi dan peraturan serta filsafat kafir. Jika tidak, mereka akan dialihtanamkan dari Kristus dan berakar di dalam hal yang lain. Tidak hanya demikian, mereka bahkan mungkin dise-satkan dari hidup gereja. Kapan saja kita menerima sejenis filsafat, peraturan, tata cara, atau praktek untuk menggan-tikan Kristus, hidup gereja kita akan habis. Kita harus ter-pisah dari orang-orang yang memiliki opini mengenai hal-hal tersebut. Mereka yang diduduki oleh hal-hal tersebut akhirnya akan mengabaikan hidup gereja.
Pada prinsipnya, itulah keadaan yang terjadi pada beberapa orang beriman di tengah-tengah kita yang terpengaruh oleh konsepsi-konsepsi tertentu. Akibatnya, mereka tidak berminat memperhatikan hidup gereja. Tidak mungkin lagi mereka dibangun secara korporat. Alangkah pentingnya kita berakar di dalam Kristus dan dibangun di dalam Kristus dan gereja! Dengan cara inilah baru kita da-pat mengalami Kristus sebagai rahasia Allah.
V. TEGUH DALAM IMAN,
MELIMPAH DENGAN SYUKUR
Ayat 7 menyimpulkan dengan kata-kata demikian: “Te-guh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Kata “dalam iman” di sini berarti dalam iman kita, dalam iman yang subyektif yang dengannya kita percaya. Jika kita diselewengkan dari Kristus dan mengalihkan perhatian kita kepada hal-hal yang menggantikan Dia, maka iman kita akan menjadi lemah, bahkan mungkin akan guncang. Te-tapi jika kita tetap di dalam Kristus dan dibangun di da-lam gereja, iman kita akan dikuatkan.
Mereka yang berbeda pendapat dan meninggalkan hi-dup gereja mengalami kelemahan iman. Di luaran, mereka mungkin menyatakan bahwa mereka mempunyai perseku-tuan yang manis dengan Tuhan, tetapi dalam batin, iman mereka telah menyusut. Ketika mereka sendirian, mereka mungkin merasa heran apakah yang terjadi dalam batin mereka. Mereka merasa resah karena keragu-raguan, dan mereka tahu dalam batin bahwa mereka telah kehilangan persekutuan dengan Tuhan. Karena mereka menaruh be-gitu banyak keragu-raguan dan pertanyaan, mereka tidak dapat teguh dalam iman mereka. Sebaliknya, orang-orang yang tetap dalam Kristus dan gereja memiliki iman yang kuat dan jaminan yang kokoh.
Kita telah menunjukkan bahwa “iman” dalam ayat 7 ditujukan kepada iman kita, iman yang subyektif. Mengapa Paulus mengatakan “iman” ketika ia menyinggung iman kita? Sebab ia menganggap iman ini adalah iman kita, iman kita adalah iman ini. Kita tidak dapat diteguhkan di dalam iman orang lain; kita harus diteguhkan di dalam iman kita sendiri. Ini berarti iman kita harus menjadi iman ini dan iman ini harus menjadi iman kita. Kita diteguhkan dalam iman kita sendiri, yaitu iman ini.
Jalan untuk diteguhkan dalam iman ialah melalui me-limpah dengan syukur. Ketika kita benar terhadap Tuhan dan memiliki persekutuan dengan Dia, kita akan dipenuhi dengan syukur. Namun, bila kita tidak benar terhadap Tuhan, kita tidak mungkin bersyukur. Jika Anda bertanya kepada orang-orang yang berpecah-belah apakah mereka melimpah dengan syukur, mulut mereka pasti akan terka-tup. Jika kita mengaku mempunyai persekutuan yang baik dengan Tuhan tetapi tidak dapat bersyukur kepada-Nya, pengakuan kita itu palsu.
Menurut ayat ini, perkataan “melimpah dengan syu-kur” berkaitan dengan “teguh dalam iman”. Ini menunjuk-kan apakah kita telah diteguhkan di dalam iman atau tidak tergantung pada apakah kita melimpah dengan syukur. Jika kita melakukan suatu perkara dalam persekutuan dengan Tuhan, kita akan dipenuhi dengan syukur. Namun, jika kita melakukan sesuatu di luar Dia, kita tidak akan dapat bersyukur. Sebagai contoh, dapatkah Anda bersyukur kepada Tuhan ketika Anda menikmati suatu hiburan du-niawi? Anda dapat mengaku bahwa Anda sangat gembira, tetapi Anda tidak dapat bersyukur kepada Tuhan dengan jujur. Adakalanya kita seakan-akan dapat bersyukur kepada Tuhan untuk hal tertentu, tetapi setelah sejangka waktu kita bertobat untuk hal yang kita syukuri. Kita tidak boleh menipu diri sendiri. Sebaliknya, kita harus me-meriksa apakah kita melimpah dengan syukur. Jika kita demikian, barulah kita telah teguh di dalam iman.
VI. BERPERILAKU DI DALAM DIA
Jalan lain untuk mengalami Kristus sebagai rahasia Allah ialah “hendaklah perilakumu tetap di dalam Dia” (Kol. 2:6 Tl.). Karena kita telah menerima Kristus, kita harus berperilaku di dalam Dia. Di sini, (perilaku) berarti menem-puh hidup, bertindak, bertingkah laku, dan membawa diri. Kita seharusnya berperilaku menempuh hidup, dan bertin-dak di dalam Kristus, sehingga kita dapat menikmati keka-yaan-Nya, sama seperti bangsa Israel yang hidup di tanah permai dan menikmati semua hasilnya yang berlimpah.
Dalam pengalaman kita, Kristus harus menjadi tanah permai yang di dalamnya kita menempuh hidup, berperilaku bertindak. Ini seharusnya tidak hanya menjadi doktrin bagi kita. Kita perlu berdoa, “Tuhan, aku mau menempuh hidup dan berperilaku di dalam-Mu. Tuhan, aku berdoa agar Eng-kau menjadi tanah permai bagiku dalam pengalamanku, dan agar setiap aspek hidupku boleh berada di dalam-Mu.”
VII. TIDAK DIPERDAYA DAN DITAWAN DARI DIA
Dalam Kolose 2:4 Paulus berkata, “supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah.” Dalam ayat 8 dia berkata lagi, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus” (Tl.). Jika kita ingin meng-alami Kristus sebagai rahasia Allah, kita harus berhati-hati, supaya jangan diperdaya atau ditawan dari Dia. Kita tidak boleh tertipu mengarah kepada hal-hal lain yang meng-gantikan Kristus. Kita perlu tetap berada di dalam Dia. Selama kita berada di dalam Dia, kita akan tetap di dalam gereja. Kristus harus menjadi satu-satunya fondasi kita, juga satu-satunya tumpuan dan kedudukan kita.
Beberapa tahun yang lampau ada sejumlah orang dise-lewengkan oleh hal-hal tertentu yang mereka ambil sebagai tumpuan mereka untuk menggantikan Kristus. Masalah-nya bukan hal-hal itu benar atau salah, tetapi hal-hal itu telah dipakai sebagai sesuatu yang menggantikan Kristus. Kristus seharusnya menjadi satu-satunya fondasi fokus kita. Kita tidak boleh mengizinkan hal apa pun, bahkan hal-hal yang paling benar dan paling alkitabiah untuk meng-gantikan Dia. Jika kita memperhatikan hal-hal lain dan tidak memperhatikan Kristus, kita akan diperdaya dan dita-wan dari Dia dan karenanya menjadi orang-orang Kolose masa kini. Siapa saja yang telah diperdaya dan ditawan dari Kristus perlu menerima perkataan Paulus dalam kitab ini dan kembali kepada Kristus yang almuhit. Semoga kita semua mengalami-Nya sebagai rahasia Allah!