← Daftar isi Latar Belakang dan Posisi Kitab ini · bab 21/23

JANGAN TEPERDAYA DAN JANGAN TERTAWAN KELUAR DARI KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Kol. 2:4, 8

Menurut perlambangan, bangsa Israel menikmati Kristus dalam tiga tahap: di Mesir, di padang gurun, dan di tanah permai. Paskah yang mereka nikmati di Mesir tidak saja untuk penebusan mereka, tetapi juga untuk menguatkan mereka agar mereka dapat keluar dari Mesir. Di padang gurun umat Allah itu hidup bersandarkan manna, yang me-mungkinkan mereka membangun Kemah Pertemuan Allah dan membawanya sebagai kesaksian. Setelah bangsa Israel memasuki tanah permai, mereka mulai menikmati hasil yang berlimpah dari tanah tersebut. Hasil itu memungkin-kan mereka membangun bait bagi kesaksian yang lebih kokoh. Dipandang dari segi perlambangan, bait di tanah per-mai adalah inti kehendak Allah di bumi. Allah damba mem-peroleh tempat kediaman di antara umat pilihan-Nya bagi ekspresi-Nya. Kehendak Allah tidak tercapai melalui menik-mati Kristus sebagai domba Paskah di Mesir, tidak pula melalui menikmati Kristus sebagai manna di padang gurun. Kehendak-Nya tercapai hanya bila umat-Nya menikmati Kristus sebagai tanah permai mereka.

Dalam 1 Korintus kita melihat Paulus menanggulangi orang-orang Korintus bersandarkan dua tahap pertama ke-nikmatan atas Kristus, tidak bersandarkan tahap ketiga. Dalam 1 Korintus 5:7 dia berkata, “Sebab Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih”(Tl.). Di ayat selanjutnya dia menyuruh mereka “berpesta”. Ayat-ayat ini menunjukkan kenikmatan atas Kristus sebagai Paskah di Mesir. Dalam 1 Korintus 10:3-4 Paulus menyebutkan makanan dan mi-numan rohani. Ini mengacu kepada kenikmatan atas Kristus di padang gurun. Dalam 1 Korintus tidak disinggung kenik-matan atas Kristus dalam tahap yang ketiga, tetapi dalam Kitab Kolose Paulus menganggap kaum beriman di situ berada dalam kenikmatan atas Kristus pada tahap ini.

Karena orang-orang Korintus tidak berada dalam tahap ketiga dari kenikmatan atas Kristus, maka hidup gereja di tempat itu merupakan hidup gereja Kemah Pertemuan, suatu hidup gereja yang dapat dipindah-pindah dan keku-rangan fondasi yang teguh. Sebaliknya, hidup gereja di Efesus, Kolose, dan Filipi merupakan hidup gereja bait, yaitu suatu hidup gereja yang mantap dan berdasar teguh. Batu tidak digunakan untuk membangun Kemah Pertemuan, te-tapi untuk membangun bait diperlukan banyak batu. Kare-na itulah bait, perluasan Kemah Pertemuan, teguh, kokoh, dan mantap.

Hidup gereja dalam Kitab Kolose dan Efesus lebih kokoh daripada dalam Kitab 1 Korintus, sebab dalam Suratsurat Kiriman ini kenikmatan atas Kristus bukan yang berada di tingkat dasar; bukan sekadar kenikmatan atas Kristus sebagai Paskah atau manna, tetapi kenikmatan atas Kristus sebagai tanah permai, sebagai bagian orang-orang kudus. Hari ini beberapa gereja mungkin berada da-lam tahap pertama atau kedua dalam kenikmatannya atas Kristus, sementara yang lain mungkin berada dalam tahap ketiga.

Jika kita ingin masuk ke dalam tanah permai, kita harus mengalahkan dan menaklukkan semua musuh yang dilambangkan oleh ketujuh suku. Musuh-musuh tersebut adalah penguasa, pemerintah, dan kuasa jahat di udara. Se-telah musuh-musuh ini dikalahkan, barulah kita memiliki damai sejahtera, dan dalam damai sejahtera ini barulah bait dapat dibangun.

I. JANGAN TEPERDAYA

A. Oleh Penganut Agama Yahudi atau oleh Penganut Gnostik

Walaupun orang-orang Kolose berada di dalam Kristus sebagai tanah permai, namun mereka telah teperdaya, ter-tipu. Itulah sebabnya Paulus berkata dalam Kolose 2:4, “Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah.”

Untuk memperdaya kaum beriman, diperlukan sesuatu yang mirip dengan kebenaran, seperti filsafat. Sebagai con-toh, uang palsu atau cek palsu bisa menipu orang, sebab rupanya sangat mirip dengan yang asli. Orang tidak akan teperdaya oleh uang atau cek yang jelas kepalsuannya. Demikian pula, orang-orang Kolose telah teperdaya oleh per-aturan-peraturan dan praktek-praktek yang mirip dengan pengalaman atas Kristus. Lagi pula, beberapa aspek Gnosti-kisme mirip dengan ajaran-ajaran Alkitab. Karena alasan inilah maka orang-orang Kolose dapat teperdaya.

Kita mudah sekali teperdaya oleh sesuatu yang sangat mirip dengan aslinya, oleh barang tiruan yang hampir sama dengan yang asli. Tanpa daya pembeda yang tajam, sukar untuk melihat perbedaan antara ajaran-ajaran dalam Per-janjian Baru dengan ajaran etis tertentu. Selagi muda, saya mendengar seorang misionaris yang mengatakan bahwa ajar-an etis Konghucu sama dengan ajaran-ajaran Alkitab. Alki-tab mengajarkan istri harus taat atau menurut kepada suami. Tetapi Konghucu mengajarkan ketaatan rangkap tiga. Pertama, seorang wanita harus taat kepada ayahnya; ke-mudian kepada suaminya; dan setelah itu, jika suaminya mati, taat kepada anaknya. Mengenai ketaatan, ajaran Konghucu dengan ajaran Alkitab kelihatannya tidak berbe-da prinsipnya. Jika kita tidak dapat membedakan, kita akan diselewengkan dari Kristus oleh ajaran-ajaran etis yang mirip dengan ajaran Alkitab tersebut.

Banyak aspek agama Yahudi yang sangat baik. Misal-nya, mengenai peraturan makanan dan minuman dalam Imamat 11, dan perintah untuk memelihara hari Sabat. Tampaknya benar, sebagaimana Allah beristirahat pada hari ketujuh setelah enam hari bekerja, maka manusia pun harus mempunyai hari istirahat (perhentian) setelah enam hari bekerja. Namun, ada masalah di sini. Menurut Alki-tab, apakah kita bekerja dahulu kemudian baru memiliki perhentian atau harus perhentian dahulu kemudian baru bekerja? Kita mungkin mengira, karena Allah memiliki per-hentian sesudah enam hari bekerja, maka kita pun harus demikian. Tetapi jika kita mempunyai terang dari Allah, kita akan nampak bahwa dalam Alkitab Allah bekerja lebih dulu, kemudian baru memiliki perhentian, tetapi manusia memiliki perhentian dulu, kemudian baru bekerja. Manusia diciptakan pada hari keenam, yaitu pada akhir pekerjaan Allah selama enam hari. Setelah menciptakan manusia, Allah beristirahat, dan manusia pun beristirahat bersama Allah. Ini menunjukkan bahwa begitu muncul, manusia memiliki perhentian. Karena itu, menurut prinsip Alkitab, kita memiliki perhentian dulu kemudian baru bekerja. Da-lam Perjanjian Baru kita nampak bahwa kita terlebih da-hulu menerima anugerah, baru bekerja. Bekerja sebelum menerima anugerah berarti hidup menurut hukum Taurat; tetapi menerima anugerah sebelum kita bekerja berarti me-nurut prinsip keselamatan Allah oleh anugerah. Jika kita tidak jelas akan hal ini, mungkin kita akan teperdaya oleh ajaran pemeliharaan Sabat dari aliran kekristenan tertentu. Kita perlu memberi tahu pengikut-pengikut aliran itu bah-wa Allah bekerja sebelum istirahat, tetapi kita beristirahat sebelum bekerja. Menurut Perjanjian Baru, menerima anu-gerah mendahului bekerja. Jika kita tidak menerima anuge-rah sebagai modal, kita tidak memiliki apa-apa yang oleh-nya kita dapat bekerja. Kita tidak dapat bekerja selain kita terlebih dulu menerima anugerah. Ini adalah prinsip dasar.

Contoh-contoh ini memperlihatkan bahwa ada beberapa peraturan dan ajaran tertentu yang “mirip” dengan bebe-rapa aspek keselamatan Allah. Inilah alasan kaum beriman di Kolose dapat tertipu oleh peraturan-peraturan Yahudi dan ajaran-ajaran kaum penyembah berhala, sehingga membiar-kan hal-hal itu menyerang masuk ke dalam hidup gereja. Saya prihatin jangan-jangan kaum muda kita telah teper-daya oleh mereka yang membela ajaran atau praktek ter-tentu. Kita perlu memiliki pengertian yang tuntas terhadap prinsip-prinsip pokok dalam Perjanjian Baru. Setelah itu baru kita memiliki hikmat dan pengetahuan guna meyakin-kan dan menundukkan orang-orang yang memperdaya kita.

Paulus membuka Kolose 2:4 dengan kalimat “hal ini kukatakan”. Kata-kata ini mengacu kepada apa yang telah Paulus ungkapkan dalam ayat 2 dan 3 tentang kekayaan keyakinan yang penuh akan pengertian, pengenalan yang penuh atas Kristus sebagai rahasia Allah, dan fakta segala harta hikmat dan pengetahuan tersembunyi di dalam Kristus. Paulus menekankan hal-hal ini agar orang-orang kudus di Kolose tidak sampai teperdaya. Jika kita telah nampak wahyu tentang Kristus dalam Kolose 1 ini, kita tidak akan teperdaya oleh ajaran-ajaran seperti baptisan air dan per-aturan Sabat. Kita akan mengetahui bahwa Kristus yang almuhit adalah inti ekonomi Allah, juga segala sesuatu bagi kita. Jika kita memiliki visi yang jelas tentang Kristus, tidak seorang pun dapat memperdaya atau menipu kita.

B. Oleh Kata-kata yang Indah

Dalam ayat 4 Paulus khusus mengatakan tentang “kata-kata yang indah”. Biasanya penipu sangat fasih dan pandai bicara. Waspadalah terhadap peta lidah yang demi-kian. Seorang pembicara bisa saja sangat menarik dan sangat fasih, tetapi realitas Kristus belum tentu ada di dalam kata-kata yang menarik dan fasih. Jangan tertarik oleh peta lidah si pembicara, tetapi tanyakanlah apakah ada realitas dalam perkataannya.

Saudari M. E. Barber pernah membantu Saudara Watch-man Nee dalam mempelajari hal yang penting ini. Semasa mudanya, Saudara Watchman Nee tertarik sekali oleh peta lidah dan pengetahuan pengkhotbah tertentu. Setiap kali Saudara Watchman Nee mengutarakan apresiasinya akan peta lidah pengkhotbah tertentu, Saudari Barber akan me-nunjukkan kepadanya bahwa walaupun orang itu baik peta lidah dan pengetahuannya, tetapi perkataannya tidak me-nyuplaikan hayat. Pada satu kesempatan khusus, Saudara Watchman Nee mengira khotbah seorang pemberita sung-guh menakjubkan, dan ia yakin kalau Saudari Barber pasti setuju. Namun, Saudari Barber tetap menunjukkan bahwa berita-beritanya kekurangan hayat dan realitas. Sejak saat itu, Saudara Watchman Nee tidak lagi mengapresiasi khot-bah-khotbah hampa dari pengkhotbah yang berpeta lidah. Semoga kita juga belajar agar tidak teperdaya oleh kata-kata yang indah.

Bila kita nampak visi Kristus yang almuhit yang di-tampilkan dalam Kitab Kolose, kita tidak akan teperdaya oleh apa pun. Tak peduli betapa indahnya dan betapa alki-tabiahnya suatu hal, hal itu tidak mungkin menawan kita dari Kristus. Penting sekali bagi kita untuk memiliki pan-dangan yang demikian terhadap Kristus dalam ekonomi Allah ini.

Situasi gereja di Kolose berbeda sekali dengan gereja di Korintus. Di Korintus standarnya rendah, ada perpecahan, beberapa orang kudus terlibat dalam tuntutan hukum, bahkan ada yang melakukan perzinaan. Di Kolose, standar perilakunya jauh lebih tinggi. Seperti telah kita tunjukkan, problem di Kolose ialah gereja di sana telah disusupi oleh kebudayaan, khususnya oleh Gnostikisme dan peraturan-peraturan agama Yahudi. Hal-hal ini sangat halus, dan karenanya mereka tertipu. Karena itu, kita dalam pemulih-an Tuhan hari ini harus hati-hati terhadap orang-orang yang kelihatannya berkebudayaan tinggi, terpelajar, dan berbi-cara dengan sopan dan lembut. Orang-orang yang paling pandai menipu biasanya nampak sangat baik. Ketika ular menemui Hawa di taman, pastilah perkataannya sangat ha-lus dan sopan. Waspadalah, jangan sampai Anda teperdaya oleh kata-kata indah dari orang-orang yang beradab. Sete-lah kita memiliki pengenalan yang jelas terhadap keduduk-an Kristus yang almuhit dalam ekonomi Allah, barulah kita dapat mengenal tipuan dan muslihat tersebut.

II. JANGAN TERTAWAN

Dalam ayat 8 Paulus selanjutnya berkata, “Hati-hati-lah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsa-fatnya dan tipuan yang kosong” (Tl.). Langkah pertama ialah teperdaya (ayat 4), langkah kedua ialah tertawan (ayat 8). Kata “menawan” di sini tidak berarti melukai atau meru-sak, melainkan menjadikan mangsa atau tawanan. Jadi mereka tertawan sebagai tawanan.

A. Dengan Filsafat dan Tipuan yang Kosong

Kita harus waspada agar tidak ada seorang pun yang menawan kita sebagai tawanan dengan filsafatnya. Dalam bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan “nya” adalah ar-tikel yang menekankan. Jadi, itu menunjukkan satu filsafat tertentu. Filsafat yang menawan kaum beriman di Kolose tak lain ialah Gnostikisme, sebuah campuran dari filsafat Yahudi, filsafat Timur, dan filsafat Yunani, yang merupa-kan tipuan yang kosong. Sebenarnya, setiap bentuk penipu-an adalah kosong. Tidak satu pun perkara yang sejati, yang memiliki isi yang riil, dapat menjadi satu penipuan.

B. Menurut Ajaran Turun-temurun

Dalam ayat ini filsafat dan tipuan yang kosong adalah “menurut ajaran turun temurun dan unsur-unsur (roh-roh, LAI) dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Sumber ajaran Gnostik di Kolose adalah tradisi manusia, yang bukan ber-dasarkan tulisan yang diwahyukan Allah, melainkan berda-sarkan tradisi manusia. Tradisi kebudayaan banyak yang baik. Jika tidak, tentu tak seorang pun mau memperhati-kannya. Kita perlu mempunyai daya pembeda yang tajam agar terlindung dari tipuan tradisi-tradisi dalam ajaran Ka-tolik dan berbagai denominasi. Satu prinsip yang harus kita ikuti ialah menguji setiap hal dengan Alkitab. Kita harus hanya memperhatikan wahyu firman kudus Allah yang langsung, tidak memperhatikan apa pun yang menurut tradisi manusia. Kita tidak perlu menerima apa pun yang diwarisi dari manusia sebagai tradisi jika hal itu tidak se-suai dengan wahyu ilahi dalam Alkitab.

Agama Roma Katolik hari ini terkekang oleh tradisinya sendiri. Mereka tidak mengatakan apa yang dikatakan Alkitab atau apa yang difirmankan Allah, melainkan selalu berpegang pada apa yang dikatakan “gereja”, atau apa yang diajarkan oleh pastur atau suster mereka. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menunjukkan kepada beberapa orang Katolik kesalahan pemujaan terhadap Maria dan telah me-nunjukkan kepada mereka bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan Alkitab. Namun mereka mengatakan bahwa pemu-jaan terhadap Maria itu sesuai dengan ajaran “gereja” Ka-tolik. Tradisi Katolik lainnya berkaitan dengan memasang lilin-lilin di depan patung-patung dan berdoa kepada orang-orang kudus dengan maksud mempersingkat waktu pende-ritaan yang harus dilalui oleh seorang kerabat (almarhum) dalam api penyucian. Walau praktek-praktek semacam itu tidak sesuai dengan Alkitab, tetapi orang-orang Katolik te-tap melakukannya karena tradisi. Tradisi-tradisi manusia juga terdapat dalam berbagai denominasi dan kelompok-ke-lompok Kristen yang bebas, di mana banyak orang beriman lebih memperhatikan tradisi manusia daripada firman Allah.

C. Menurut Unsur-unsur Dunia

Filsafat dan tipuan yang kosong tidak saja menurut tradisi manusia, juga menurut unsur-unsur dunia. Dalam ayat ini dan dalam Kolose 2:20 dan Galatia 4:3, ungkapan ini tidak ditujukan kepada substansi atau zat; melainkan mengacu kepada pengajaran permulaan dari orang Yahudi maupun kafir, yang terdiri dari memelihara upacara me-ngenai makan daging, minum, pembasuhan, pertapaan, dan perkara-perkara lainnya. Dalam pandangan Paulus, tradisi manusia hanyalah prinsip-prinsip awal. Tradisi-tradisi ini tercakup pula dalam prinsip-prinsip awal dunia.

D. Tidak Menurut Kristus

Paulus menutup ayat 8 dengan mengatakan filsafat dan tipuan yang kosong itu tidak menurut Kristus. Kristus adalah prinsip pengendalian dari seluruh hikmat dan pe-ngetahuan yang sejati, realitas dari segala pengajaran yang sejati, dan satu-satunya patokan dari segala konsepsi yang diperkenan Allah. Kitab Kolose berpusat pada Kristus se-bagai segala sesuatu kita.

Tidak menurut Kristus pertama-tama berarti kita tidak menerima Kristus sebagai hayat (3:4). Kedua, berarti kita tidak berpegang pada Kristus sebagai Kepala Tubuh. Selain itu, berarti tidak mengenal Kristus sebagai rahasia Allah (2:2), juga tidak mengalami Kristus yang berhuni di batin sebagai pengharapan akan kemuliaan (1:27). Akhirnya, tidak menurut Kristus berarti tidak berperilaku di dalam Kristus (2:6).

Jika kita mengambil Kristus sebagai hayat, berpegang teguh kepada Dia sebagai Kepala Tubuh, mengenal Dia se-bagai rahasia Allah, mengalami Dia sebagai pengharapan akan kemuliaan, dan hidup di dalam Dia sebagai Roh yang almuhit, kita tidak akan tertipu oleh apa pun atau siapa pun. Orang-orang yang tidak mengalami Kristus dalam as-pek-aspek ini mudah sekali tertipu. Jika Anda menganalisis situasi orang-orang yang telah teperdaya dan tertawan, Anda akan memahami bahwa mereka tidak mengalami Kristus dalam kelima aspek tersebut. Mereka tidak menyadari bah-wa Kristus adalah segala sesuatu dalam ekonomi Allah, dan mereka tidak menerima Kristus sebagai hayat mereka atau Kepala mereka. Lagi pula, mereka tidak mengalami Kristus yang berhuni di batin sebagai pengharapan akan kemuliaan mereka, juga tidak menempuh hidup, bergerak, dan mem-bawa diri di dalam Kristus. Hasilnya, mereka tidak memiliki kekuatan pertahanan, dan akhirnya mereka teperdaya dan tertawan. Pertahanan kita untuk melawan penipuan ialah Kristus yang adalah hayat kita, Kepala kita, rahasia Allah, pengharapan akan kemuliaan, dan tanah permai yang di dalamnya kita berperilaku.

Saya percaya semua berita tentang Kristus yang almu-hit ini akan membantu menjaga kita dari penipuan dan pe-nawanan. Berita-berita ini akan membangun sebuah benteng pertahanan yang kuat bagi kita dalam pemulihan Tuhan. Tanpa pertahanan yang demikian, kita mudah teperdaya dan tertawan. Tetapi, jika kita mengalami Kristus sebagai inti ekonomi Allah dalam semua aspek ini, kita akan terlin-dung, dan kita akan terhindar dari penipuan dan penawanan.