← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 9/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(2)

Pembacaan Alkitab: Kis. 13:1-12

Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang 13:1-12. Dalam 13:1-4a kita melihat bahwa Barnabas dan Paulus dipisahkan dan diutus oleh Roh Kudus. Kisah Para Rasul 13:4b-12 menggambarkan perjalanan mereka ke Pafos di Siprus.

DISISIHKAN DAN DIUTUS OLEH ROH KUDUS Melayani Tuhan

Kisah Para Rasul 13:1-2 mengatakan, ”Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus. Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Di sini kita melihat bahwa nabi-nabi dan pengajar-pengajar ini tidak berunding dengan manusia dan berorganisasi; melainkan, mereka melayani Tuhan dan berpuasa.

Lima orang ini sedang melayani Tuhan secara langsung. Ini berarti dikatakan secara rohani, mereka bukan berada di mezbah di pelataran luar, melainkan di mezbah ukupan di dalam tempat kudus. Dalam Perjanjian Lama para imam melayani di dua tempat. Ketika mereka melayani orang-orang, mereka melayani di mezbah di pelataran luar, mempersembahkan kurban kepada Allah bagi umat itu. Tetapi ketika mereka melayani Tuhan secara langsung, mereka berada di tempat lain di mezbah di dalam tempat kudus membakar ukupan. Lima saudara di Antiokhia ini ada di mezbah ukupan di dalam tempat kudus melayani Tuhan secara langsung melalui doa-doa mereka.

Perkataan Tuhan sebagai Roh Itu

Sewaktu mereka melayani Tuhan dengan cara ini, Tuhan sebagai Roh itu datang dan berbicara kepada mereka, ”Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Ini menunjukkan bahwa di sini Roh Kudus adalah Tuhan.

Namun, banyak orang Kristen mengira bahwa Roh itu terpisah dari Tuhan. Ada beberapa yang bahkan mengatakan bahwa Roh itu adalah agen atau wakil Tuhan. Jika Roh itu hanya wakil Tuhan, maka dalam 13:2 Roh Kudus tidak boleh berkata, ”Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.” Tetapi Roh itu seharusnya berkata, ”Aku, Roh itu, adalah agen Tuhan. Aku mewakili Tuhan dan bekerja bagi Dia. Karena itu, Aku tidak mengatakan bahwa kalian harus memisahkan Barnabas dan Saulus bagi-Ku. Aku menyuruh kalian memisahkan Barnabas dan Saulus bagi Tuhan, yang bagi-Nya Aku bekerja.”

Dalam 13:2 kita memiliki Tuhan, Roh Kudus, dan ”Aku”. Siapakah Aku ini? Apakah Aku ini hanya Roh Kudus saja dan bukan Tuhan? Sesungguhnya Aku dalam ayat ini adalah Tuhan.

Lima nabi dan pengajar itu sedang melayani Tuhan. Sewaktu mereka melayani, Tuhan sebagai Roh Kudus berbicara kepada mereka. Ini berhubungan dengan perkataan Paulus, ”Sebab Tuhan adalah Roh” (2 Kor. 3:17). Maka, Roh itu dapat menyuruh mereka memisahkan Barnabas dan Saulus ”bagi-Ku”. Aku ini adalah Tuhan dan Roh Kudus. Karena itu, kita tidak boleh menganggap bahwa Roh Kudus itu terpisah dari Tuhan. Tidak, Roh Kudus adalah Tuhan yang kepada-Nya kita melayani. Ketika kita melayani, kita melayani Tuhan. Tetapi ketika Tuhan berespon kepada kita, Dia berespon sebagai Roh Kudus. Karena Dia adalah Tuhan, maka Dia dapat berkata sebagai Roh Kudus, ”Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku.”

Satu Langkah Besar yang Diambil oleh Tuhan bagi Penyebaran Injil ke Dunia Orang Kafir

Dalam 13:2, Roh Kudus sebagai ”Kristus yang pneumatik”, Kepala Tubuh, menyuruh kelima orang itu memisahkan Barnabas dan Saulus bagi pekerjaan yang kepadanya Dia telah memanggil mereka. Ini adalah langkah besar Tuhan untuk memperluas Injil Kerajaan-Nya ke dunia orang Kafir. Perluasan ini dimulai dari Antiokhia, pusat orang Kafir di Siria, tanpa mengorganisir suatu misi, tanpa pengumpulan dana, tanpa ketetapan manusia, dan tanpa rencana atau metode manusia yang mana pun. Pekerjaan ini hanya dimulai oleh lima anggota Tubuh Kristus yang mencari Tuhan dengan setia. Melalui ibadah dan puasa, mereka memberikan kesempatan kepada Kepala Tubuh, yang adalah Roh itu, untuk memisahkan mereka guna melaksanakan amanat-Nya yang besar, yaitu meluaskan kerajaan-Nya untuk mendirikan gereja-Nya di dunia orang Kafir melalui pemberitaan Injil-Nya.

Langkah besar ini sama sekali tidak ada hubungan organisasi dengan gereja di Yerusalem, juga tidak berada di bawah otoritas dan petunjuk Petrus maupun kesebelas rasul lainnya di Yerusalem. Langkah ini mutlak dan murni dimulai dari pusat orang Kafir, jauh dari suasana, pengaruh latar belakang, dan praktek agama Yahudi bahkan jauh dari praktek dan pengaruh gereja di Yerusalem. Ini mutlak pergerakan oleh Roh itu, di dalam Roh itu, dan dengan Roh itu melalui kerja sama anggota Tubuh Kristus yang setia dan menuntut di bumi dengan Kepala di surga. Karena itu, ini bukanlah suatu pergerakan agamawi yang diatur oleh manusia. Dari Antiokhia pergerakan Tuhan di bumi bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah mempunyai permulaan yang sama sekali baru. Walaupun aliran pergerakan Tuhan dimulai dari Yerusalem pada hari Pentakosta, kemudian sampai ke Antiokhia dan maju terus dari Antiokhia ke dunia orang Kafir, tetapi pergerakan ini mempunyai permulaan yang dimurnikan oleh Roh itu pada peralihannya di Antiokhia.

Penumpangan Tangan

Kisah Para Rasul 13:3 melanjutkan, ”Lalu mereka berpuasa dan berdoa dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan (mengutus) keduanya pergi.” Di sini kita melihat bahwa mereka berpuasa dan berdoa; kita tidak diberi tahu bahwa mereka berdiskusi dan me-mutuskan.

Dalam 13:3 penumpangan tangan mengacu kepada penyatuan, menandakan orang yang menumpangkan tangan adalah satu dengan orang yang ditumpangi tangan. Dengan ini mereka menyatakan kepada semua orang bahwa mereka bersatu dengan yang diutus di dalam kepergiannya untuk merampungkan amanat Tuhan yang besar. (Kata ”membiarkan” dalam ayat 13:3, dalam bahasa aslinya adalah ”mengutus”).

Bagian yang pertama dari 13:4 mengatakan, ”Oleh kare-na disuruh Roh Kudus.” Dalam ayat 3 Barnabas dan Saulus diutus oleh ketiga saudara lainnya. Tetapi di sini dikatakan bahwa mereka diutus oleh Roh itu. Ini membuktikan bahwa ketiganya bersatu dengan Roh itu di dalam pergerakan Tuhan, dan Roh itu mengakui pengutusan mereka sebagai pengutusan-Nya sendiri.

Penumpangan tangan dalam 13:3 tidak berhubungan dengan pentahbisan. Tiga orang yang menumpangkan tangan atas Barnabas dan Saulus itu bukan anggota-anggota dari suatu dewan misi atau organisasi agama yang menjamin orang-orang yang diutus itu dalam tunjangan keuangan mereka. Praktek dalam kelompok-kelompok orang Kristen pada hari ini, ialah orang yang diutus untuk misi lapangan mengira bahwa jika anggota-anggota dewan itu tidak menumpangkan tangan ke atasnya, maka ia tidak akan dijamin dalam hal tunjangan keuangan dari mereka.

Tetapi jika mereka menumpangkan tangannya atasnya, maka ia akan tahu bahwa ia akan memiliki uang yang ia perlukan. Situasi yang demikian itu sangat umum pada hari ini.

Jika kita menumpangkan tangan ke atas orang-orang yang diutus, penumpangan tangan itu tidak boleh menjadi suatu janji tunjangan keuangan. Sebaliknya, dalam hal penumpangan tangan kita harus menjadi satu dengan Allah Tritunggal bukan untuk menetapkan orang-orang yang diutus, melainkan untuk menyatukan diri kita dengan mereka. Karena itu, penumpangan tangan melambangkan bah-wa roh kita, doa kita, dan segala sesuatu di dalam kita menyertai orang-orang yang diutus itu. Ini bukanlah pentahbisan ini adalah kesatuan.

Kapan saja kita menumpangkan tangan ke atas seseorang yang diutus Tuhan dalam pemulihan Tuhan, kita harus melakukannya dengan cara ini. Kalau tidak, kita tidak boleh mempraktekkan penumpangan tangan.

Penumpangan tangan bukanlah suatu liturgi atau suatu perkara yang berhubungan dengan pentahbisan. Penumpangan tangan adalah satu perkara hayat di dalam Roh itu. Dalam Kisah Para Rasul 13, tiga orang itu berbeban untuk berbagian dalam amanat Barnabas dan Saulus. Inilah sebabnya mereka menumpangkan tangan mereka ke atasnya. Melalui penumpangan tangan itu mereka menunjukkan bahwa mereka akan menyertai Barnabas dan Saulus dalam doa-doa mereka dan dalam Roh itu. Mereka akan menjadi satu dengan Barnabas dan Saulus dan menyertai mereka walau ba-gaimanapun.

Karena pengaruh latar belakang agama dan karena perusakan yang disebabkan oleh penumpangan tangan secara liturgi, maka kita segan mempraktekkan penumpangan tangan ini. Kadang-kadang saya memiliki beban untuk menumpangkan tangan ke atas orang tertentu. Namun, saya ragu untuk melakukan hal ini karena banyak orang menganggap hal ini sebagai suatu liturgi atau sesuatu yang berhubungan dengan pentahbisan. Kita tidak boleh memiliki pentahbisan atau liturgi apa pun. Apa yang kita perlukan adalah kesatuan yang sejati dan tepat. Memang perlu ada penumpangan tangan, tetapi kita tidak boleh melakukannya secara liturgi. Jika kita mempraktekkan penumpangan tangan, maka penumpangan itu harus menurut pimpinan batini dan dengan satu beban yang sejati di dalam Roh itu. Praktek kita harus berbeda dengan kekristenan tradisional yang jauh dari teladan yang disajikan dalam Kisah Para Rasul 13.

Satu Teladan yang Sangat Baik

Dalam Kisah Para Rasul 13 kita melihat satu teladan yang sangat baik. Kita tidak memiliki teladan yang demikian di Yerusalem karena gereja di sana berada dalam tahap permulaan. Apa yang Tuhan lakukan di Yerusalem sebenarnya dimulai dengan panggilan-Nya terhadap murid-murid. Sewaktu Dia berjalan di tepi Laut Galilea, Tuhan Yesus melihat dua orang saudara, Simon dan Andreas, dan Dia memanggil mereka untuk mengikuti-Nya (Mat. 4:18-19). Ketika Dia pergi dari sana, Dia melihat dua orang saudara lainnya, Yakobus dan Yohanes, dan Dia juga memanggil mereka (Mat. 4:21-22). Setelah memanggil keempat orang ini dan murid-murid lainnya, Tuhan membawa mereka menyertai-Nya selama tiga setengah tahun. Dia membawa mereka melalui ketersaliban-Nya dan masuk ke dalam kebangkitan-Nya. Kemudian dalam kebangkitan Dia menampakkan diri kepada mereka selama empat puluh hari. Setelah itu, Tuhan membawa mereka semua ke Bukit Zaitun dan di depan mata mereka Dia naik ke surga. Dengan latar belakang dan pendidikan rohani yang demikian, murid-murid itu berdoa selama sepuluh hari. Kemudian pada hari Pentakosta, ministri Petrus dimulai.

Apa yang Tuhan lakukan terhadap murid-murid dalam kitab Injil dan dalam dua pasal pertama dari kitab Kisah Para Rasul tidak dapat diulangi lagi. Tuhan tidak akan memanggil para pengikut-Nya pada hari ini seperti Dia memanggil Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Karena itu, mengenai murid-murid di Yerusalem kita tidak memiliki teladan yang dapat diikuti di antara kita pada hari ini. Namun, teladan dalam Kisah Para Rasul 13 dapat diikuti.

Ketika Tuhan Yesus memanggil Petrus dan Andreas, Dia berkata kepada mereka, ”Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19). Tetapi ketika Dia memanggil Saulus dari Tarsus, Tuhan menunjukkan ke-padanya melalui Ananias bahwa Tuhan bukan membuat dia menjadi penjala manusia, melainkan satu bejana. Dalam Kisah Para Rasul 9:15 Tuhan berkata kepada Ananias mengenai Saulus, ”Orang ini adalah bejana pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Tl.) Petrus dijadikan seorang penjala manusia, tetapi Paulus dijadikan satu bejana. Ada perbedaan yang besar di antara seorang nelayan dan satu bejana. Belokan baru dalam Kisah Para Rasul 13 bukan terjadi atas nelayan, melainkan atas bejana. Ketika Paulus diutus, ia diutus sebagai satu bejana. Ini berarti ia diutus untuk menjadi satu bejana yang menampung Kristus dan membawa Dia ke dunia Kafir. Ke mana saja Paulus pergi, ministrinya adalah menyalurkan Kristus yang ia mi-liki kepada orang lain. Paulus adalah satu bejana yang menampung Kristus, dan ia melayankan Kristus ini kepada orang lain.

Permulaan di Antiokhia sangat berbeda dengan permu-laan di Yerusalem. Permulaan di Yerusalem bukanlah satu teladan bagi kita pada hari ini. Tetapi permulaan, pembelok-an, di Antiokhia benar-benar adalah teladan kita, dan kita perlu mengikutinya.

PERJALANAN KE PAFOS DI SIPRUS

Kisah Para Rasul 13:4b memberi tahu kita bahwa Barnabas dan Saulus, ”berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus.” Inilah permulaan perjalanan ministri Paulus kali pertama, yang berakhir dalam 14:27.

Memberitakan Firman Allah di Rumah-rumah Ibadat

Kisah Para Rasul 13:5a mengatakan, ”Setibanya di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi.” Barnabas dan Saulus bukannya pergi menghadiri perkumpulan ibadat orang Yahudi, tetapi menggunakan perkumpulan itu untuk mem-beritakan firman Allah, sama seperti yang Tuhan lakukan dalam ministri-Nya di bumi (Mat. 4:23; Luk. 4:16). Seperti dalam Kisah Para Rasul 13:14, tujuan kepergian para rasul ke rumah ibadat pada hari Sabat adalah untuk memegang kesempatan memberitakan Injil.

Rumah orang Yahudi disebut Sinagoga. Kata ”sinagoga” adalah satu bentuk serapan dari kata Yunani sinagoge. Kata Yunani ini tersusun dari sun (bersama), dan ago (membawa). Maka, ini menunjukkan suatu perkumpulan, perhimpunan, jemaat, sidang. Sejangka waktu kata ini berarti tempat berkumpul. Ini dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan jemaat (Kis. 13:43; 9:2; Luk. 12:11) dan tempat jemaat Yahudi (Luk. 7:5), di mana mereka mencari pengetahuan akan Allah dengan mempelajari kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15).

Mengambil Yohanes sebagai Pembantu Mereka

Menurut 13:5b, Barnabas dan Saulus mengambil Yohanes sebagai pembantu mereka. Ini sebenarnya merupakan suatu cacat dalam teladan ini yang disebabkan oleh kekurangan pengalaman. Barnabas dan Saulus seharusnya tidak membawa Yohanes bersama mereka. Akhirnya, Yohanes meninggalkan mereka dan kembali ke Yerusalem (ay. 13). Alasan Yohanes meninggalkan Paulus mungkin karena ketidakmampuannya menanggung kesulitan dari perjalanan itu.

Ketika Barnabas dan Saulus hendak mengadakan per-jalanannya yang kedua, ”Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus”; tetapi Paulus dengan tegas berkata bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka” (15:37-38). Seperti yang akan kita lihat, ada satu perselisihan yang tajam antara Barnabas dengan Saulus mengenai hal ini. Karena Yohanes adalah keponakan Barnabas, ia ingin membawanya bersama mereka, tetapi Paulus tidak setuju. Butir yang hendak kita tekankan di sini adalah bahwa problem itu dimulai dengan kesalahan dalam membawa Markus bersama mereka pada kali pertama.

Orang-orang yang melayani Tuhan sepenuh waktu harus hati-hati dalam membawa seseorang bersama mereka. Tidak semua orang dapat menahan semua kesulitan dari melayani sepenuh waktu. Jika Anda sembarangan membawa seseorang bersama Anda, akan ada kesulitan. Kesalahan yang dibuat oleh Barnabas dan Paulus dalam membawa Markus bersama mereka pada perjalanannya yang pertama akhirnya membawa pemisahan antara Paulus dan Barnabas. Adalah satu perkara yang serius bagi mereka karena membuat kesalahan yang demikian.

Barnabas dan Paulus di Pulau Siprus

Kisah Para Rasul 13:6-7 mengatakan, ”Mereka menjela-jahi seluruh pulau itu sampai ke Pafos. Di situ mereka bertemu dengan seorang Yahudi bernama Baryesus. Ia seorang tukang sihir dan nabi palsu. Ia adalah kawan gubernur pulau itu, Sergius Paulus, seorang yang cerdas. Gubernur itu memanggil Barnabas dan Saulus, karena ia ingin mendengar firman Allah.” Pada waktu itu Siprus adalah sebuah propinsi perwakilan rakyat dari kekaisaran Romawi, dan kepala pe-merintahan lokalnya adalah gubernur.

Ayat 8 melanjutkan, ”Tetapi Elimas, tukang sihir itu demikianlah arti namanya menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya.” Kata ”iman” di sini dalam bahasa aslinya adalah ”kepercayaan”. Ini adalah kepercayaan yang obyektif, mengacu kepada isi Injil yang dipercayai oleh kaum beriman dalam Kristus.

Kisah Para Rasul 13:9 selanjutnya mengatakan, ”Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Ku-dus, menatap dia.” Perubahan nama bisa menunjukkan perubahan hayat. Bagaimanapun, setelah Paulus dipenuhi Roh Kudus di sini, dialah yang terus memimpin dalam ministri kerasulan. Pemenuhan Roh Kudus di sini adalah pemenuhan di luar untuk kuasa seperti dalam 2:4; 4:8, 31; dan 9:17.

Menurut 13:10, Paulus berkata kepada Elimas tukang sihir itu, ”Hai anak Iblis, engkau penuh dengan berbagai tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?” Jalan yang lurus adalah jalan yang benar dan jalan kebenaran (2 Ptr. 2:2, 15, 21).

Kisah Para Rasul 13:11-12 menyimpulkan, ”Sekarang, lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta, beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari. Seketika itu juga orang itu merasa diliputi kabut dan kegelapan, dan sambil merabaraba ia harus mencari orang untuk menuntun dia. Melihat apa yang telah terjadi itu, percayalah gubernur itu; ia takjub oleh ajaran Tuhan.” Elimas tukang sihir itu dihukum dan dipermalukan. Kemudian Tuhan memperlihatkan jalan-Nya yang lurus kepada gubernur Roma itu, dan gubernur Roma itu percaya dan diselamatkan. Hasilnya, satu kesaksian dibangkitkan di tempat itu.