← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 10/23

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PAULUS

(3)

Pembacaan Alkitab: Kis. 13:13-43

Dalam berita ini, kita sampai pada 13:13-52. Dalam bagian ini Paulus dan sekerja-sekerjanya datang ke Antiokhia di Pisidia, di mana mereka memberitakan Yesus Kristus yang tersalib dan bangkit sebagai Juruselamat (ay. 13-43). Tetapi, seperti yang akan kita lihat, mereka ditolak oleh orang-orang Yahudi (ay. 44-52).

Kisah Para Rasul 13:13 mengatakan, ”Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kem-bali ke Yerusalem.” Berdasarkan 15:38, alasan Yohanes meninggalkan Paulus dan temannya pastilah negatif; karena tindakannya itu bisa membuat mereka patah semangat. Namun, dia dipulihkan kembali kepada Paulus dalam minis-tri Paulus di kemudian hari (Kol. 4:10-11; 2 Tim. 4:11).

PERGI KE RUMAH IBADAT

Kisah Para Rasul 13:14 mengatakan, ”Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.” Tujuan kepergian para rasul ke rumah ibadat pada hari Sabat bukanlah untuk me-melihara hari Sabat, tetapi untuk merebut kesempatan memberitakan Injil. Seperti dalam 13:5, mereka bukannya pergi menghadiri perkumpulan ibadat orang Yahudi, tetapi menggunakan perkumpulan itu untuk memberitakan firman Allah, sama seperti yang Tuhan lakukan di dalam ministri-Nya di bumi (Mat. 4:23; Luk. 4:16). Dalam Kisah Para Rasul 13 ini kita melihat satu teladan yang lengkap untuk kita ikuti pada hari ini. Dalam hal pergi ke rumah ibadat, Paulus mengikuti jejak Tuhan Yesus, mengajar di rumah ibadat. Jika ada sebuah rumah ibadat di kota tertentu, Paulus akan pergi ke sana, bukan karena ia adalah seorang Yahudi atau ingin memelihara Sabat atau mempelajari firman Allah. Sebaliknya, Paulus pergi ke rumah ibadat untuk mengambil kesempatan untuk membicarakan firman Injil Allah. Kitab Suci diajarkan di setiap rumah ibadat, dan ada sejumlah orang, baik Yahudi maupun Kafir, yang mencari Allah. Karena itu, ini adalah hikmat Paulus untuk pergi ke rumah ibadat.

Dalam 13:15 kita melihat bahwa di rumah ibadat Antiokhia di Pisidia Paulus mendapatkan kesempatan untuk berbicara: ”Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: Saudara-saudara, jika ada di an-tara kamu mempunyai pesan untuk menguatkan umat ini, sampaikanlah.” Paulus bangkit dan berbicara kepada orang-orang yang ada di rumah ibadat itu, ”Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!” (ay. 16). Di sini orang-orang yang takut akan Allah adalah orang-orang Kafir yang mencari Allah. Paulus pergi ke rumah ibadat juga sesuai dengan prinsip dasar bahwa Injil Allah harus diberikan pertama-tama kepada orang Yahudi dan kemudian kepada orang Kafir (Rm. 1:16).

Dalam Yohanes 10 Tuhan Yesus menunjukkan bahwa orang Yahudi dan orang Kafir adalah domba yang membentuk satu kawanan yang unik. Dalam Yohanes 10:16 Dia berkata, ”Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Ku-tuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” Di sini domba-domba lain mengacu kepada kaum beriman Kafir (Kis. 11:18). Satu kawanan melambangkan satu gereja, satu Tubuh Kristus (Ef. 2:14-16; 3:6), yang dihasilkan oleh hayat Tuhan yang kekal dan ilahi, yang diberikan kepada anggota-anggota Tubuh-Nya melalui kematian-Nya (Yoh. 10:10-18). Dalam Yohanes 10:16 kandang domba mengacu ke-pada Yudaisme yang harfiah dan liturgis, dan kawanan domba adalah gereja yang hayati dan rohani. Di luar kandang Yudaisme, ada domba-domba lain, kaum beriman Kafir, yang akan dikumpulkan bersama menjadi satu kawanan dengan kaum beriman Yahudi. Seperti yang telah kita tunjukkan, satu kawanan ini adalah gereja.

Ada nyanyian yang menyebutkan gereja sebagai kandang. Ini adalah konsepsi yang salah. Gereja bukanlah satu kandang yang menjaga domba. Sebaliknya, gereja adalah satu kawanan, yaitu, totalitas dari domba. Kandang dan kawanan adalah dua hal, tetapi gereja dan kawanan adalah satu hal. Yudaisme adalah sebuah kandang yang sementara dipakai Allah untuk menjaga domba-Nya. Sebuah kandang dipakai untuk menjaga domba selama musim dingin, cuaca buruk, dan malam hari. Zaman Perjanjian Lama adalah malam hari. Domba Tuhan dijaga di dalam kandang ini sampai fajar dengan kedatangan Tuhan Yesus (Luk. 1:78-89). Sebagai Gembala, Tuhan Yesus memanggil domba keluar dari kandang itu; yaitu, Dia memanggil mereka keluar dari agama Yahudi.

Orang-orang Kristen hari ini mungkin menganggap denominasi-denominasi sebagai gereja-gereja. Sebenarnya, denominasi-denominasi adalah kandang-kandang yang menjaga kaum beriman, yang adalah anggota-anggota gereja. Denominasi adalah sebuah kandang, sedangkan gereja adalah kawanan.

Pada zaman dulu rumah-rumah ibadat dalam Yudaisme adalah kandang-kandang, dan banyak domba Allah yang dijaga di dalam kandang itu. Ketika Tuhan Yesus datang, Dia memanggil umat pilihan Allah keluar dari kandang Yudaisme. Paulus mengikuti Tuhan untuk melakukan hal yang sama. Begitu ia tiba di satu kota, ia akan pergi ke kandang, rumah ibadat, di kota itu, karena ia tahu bahwa ada sejumlah domba Allah yang tertahan di sana. Karena itu, ketika Paulus memberitakan di sebuah rumah ibadat, ada sejumlah orang yang percaya. Di antara orang-orang yang percaya itu ada orang-orang Yunani. Ministri Rasul Paulus tidak hanya untuk memanggil umat pilihan Allah keluar dari agama Yahudi, tetapi juga untuk mendapatkan kaum beriman Kafir. Kemudian kaum beriman Yahudi dan kaum beriman Kafir disatukan guna membentuk satu gereja, satu kawanan. Hari ini dalam pemulihan Tuhan kita bukan membangun sebuah kandang; sebaliknya, kita merawat kawanan domba Allah.

Paulus pergi ke rumah ibadat adalah satu aspek dari teladan yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 13. Kita dapat belajar dari Paulus untuk pergi ke tempat-tempat di mana umat pilihan Allah berkumpul.

MEMBERITAKAN DAN MENGAJARKAN FIRMAN

DARI KITAB SUCI

Rumah ibadat adalah satu tempat di mana orang yang mencari Allah mempelajari Kitab Suci. Kapan saja Paulus pergi ke sebuah rumah ibadat, ia memberitakan dan mengajar dari Alkitab, yang pada waktu itu, tentu hanya terdiri dari Perjanjian Lama. Paulus dan Barnabas tidak memberitakan dan mengajarkan pengetahuan manusia mana pun atau sesuatu yang berasal dari diri mereka sediri. Sebaliknya, mereka memberitakan dan mengajarkan firman itu dari kitab Suci. Kapan saja mereka masuk ke dalam sebuah rumah ibadat, mereka memberitakan dari Alkitab.

Perkataan Paulus dalam 13:17-22 itu seluruhnya berdasarkan kitab Suci. Dalam ayat 17 ia berkata, ”Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang teracung Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.” Di sini ”teracung” berarti ditinggikan. Dalam ayat 18-19 Paulus selanjutnya berkata, ”Empat puluh tahun lamanya Ia ber-sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun.” Empat ratus lima puluh tahun ini dihitung mulai dari keluarnya umat Israel dari Mesir (ay. 17) sampai zaman Nabi Samuel (ay. 20), ketika Daud memerintah seluruh bangsa Israel (2 Sam. 5:3-5; bandingkan dengan Hak. 11:26; 1 Raj. 6:1).

Dalam 13:20-22 Paulus melanjutkan, ”Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman Nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberitakan kepada mereka Saul anak Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah bersaksi: Aku telah mendapat Daud anak Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Daud adalah orang yang berkenan di hati Allah, artinya ia tidak hanya sesuai dengan perkataan Allah, tetapi juga sesuai dengan maksud hati Allah.

Orang yang demikian pasti melakukan segala kehendak Allah.

MEMBERITAKAN KRISTUS

Sebagai Inti Kristus

Kita telah melihat bahwa pemberitaan dan pengajaran Paulus berdasar pada Perjanjian Lama. Namun, Perjanjian Lama itu mengandung banyak hal: sejarah, hukum Taurat, lambang-lambang, dan nubuat-nubuat. Orang Yahudi mempelajari Perjanjian Lama minggu demi minggu, tetapi mereka tidak menaruh perhatian kepada Kristus. Mereka memiliki beberapa pemikiran mengenai Mesias, tetapi mereka tidak memiliki pengertian apa pun tentang Kristus. Ketika Paulus masuk ke dalam rumah ibadat untuk memberitakan dan mengajar, ia tidak memperhatikan hal yang lain selain Kristus.

Ketika beberapa orang mendengar bahwa Paulus mem-beritakan Kristus dan hanya Kristus saja, mereka mungkin berkata, ”Bukankah Paulus memulai pemberitaannya de-ngan catatan sejarah dalam Perjanjian Lama? Tidakah ia membicarakan tentang Allah membawa umat-Nya keluar dari Mesir, dan tentang Saul dan Daud?” Ya, Paulus mebicarakan hal-hal itu, tetapi ia membicarakan itu guna mempersiapkan jalan untuk memberitakan Kristus. Dalam ayat 22 Paulus mengutip firman tentang Daud, seorang yang berkenan di hati Allah. Kemudian dalam ayat 23 ia melan-jutkan berkata, ”Sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, dari keturunannyalah Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.” Di sini kita melihat bahwa setelah pembukaan yang pendek itu, ia sampai kepada berita penting, yang benar-benar berintikan Kristus. Setelah memulai dengan sejarah sampai zaman Daud, Paulus selanjutnya menunjukkan bahwa dari keturunan Daud, Allah membawa seorang Juruselamat, Yesus Kristus. Pada-Nya ada keselamatan.

Dalam 13:24-25, Paulus menyinggung Yohanes Pembaptis: ”Menjelang kedatangan-Nya, Yohanes telah menyerukan baptisan tobat kepada seluruh bangsa Israel. Ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Sangkamu aku ini siapa? Aku bukan Dia. Sesungguhnya Ia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”Menjelang kedatangan-Nya” berarti ”sebelum wajah kedatangan-Nya.” Di sini Paulus menunjukkan bahwa sebelum Kristus datang, Yohanes mengumumkan baptisan tobat. Bertobat berarti mengubah pikiran, dan baptisan ber-arti mengubur orang-orang yang bertobat, mengakhiri mereka, supaya Juruselamat menunaskan mereka melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:3, 5-6).

Sewaktu Paulus melanjutkan membicarakan tentang ”firman keselamatan ini,” ia menekankan ketersaliban Kristus. Paulus menunjukkan bahwa umat Israel telah membunuh Dia. Dalam ayat 27 Paulus berkata, ”Penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang dibacakan setiap hari Sabat.” Mereka menghakimi Tuhan Yesus dengan menjatuhkan hukuman mati atas-Nya (Luk. 24:20). ”Setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang tertulis tentang Dia, mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur” (ay. 29).

Bangkit dari antara Orang Mati

Mulai ayat 30 Paulus mulai melanjutkan membicarakan tentang kebangkitan Kristus: ”Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Kita telah melihat bahwa kitab Kisah Para Rasul memberi tahu kita bahwa Allah membangkitkan Yesus (2:24, 32) dan bahwa Dia bangkit dari antara orang mati (10:40-41). Mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Rm. 8:11). Tetapi mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia sendiri bangkit dari antara orang mati (Rm. 14:9).

Putra Sulung Allah di dalam Kebangkitan

Setelah menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit ”menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini” (ay. 31), Paulus selanjutnya berkata, ”Kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah menjadi Bapa-Mu pada hari ini.” Kebangkitan adalah satu kelahiran bagi Manusia Yesus. Dia dilahirkaan Allah di dalam kebangkitan-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah di antara banyak saudara (Rm. 8:29). Sejak kekekalan Dia adalah Putra Tunggal Allah (Yoh. 1:18; 3:16). Setelah inkarnasi, melalui kebangkitan, Dia dilahirkan Allah di dalam keinsanian-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah.

Jika bukan karena Paulus, saya tidak yakin kita dapat melihat bahwa Mazmur 2 membicarakan tentang kebangkitan Kristus. Paulus dapat melihat kebangkitan Tuhan dalam perkataan, ”Engkaulah Anak-Ku; Aku telah menjadi Bapa-Mu pada hari ini.” Paulus menerapkan perkataan ”hari ini” kepada hari kebangkitan Tuhan. Ini berarti kebangkitan Kristus adalah kelahiran-Nya sebagai Putra sulung Allah. Yesus, Putra Manusia, lahir untuk menjadi Putra Allah melalui dibangkitkan dari antara orang mati. Karena itu, Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati berarti Allah melahirkan Dia untuk menjadi Putra sulung-Nya. Kita perlu nampak bahwa kebangkitan Tuhan adalah kelahiran-Nya. Ini adalah satu perkara yang penting.

Dua Kelahiran Tuhan

Tuhan Yesus memiliki dua kelahiran. Pertama, Dia lahir dari Maria untuk menjadi Putra Manusia. Setelah itu tiga puluh tiga setengah tahun kemudian Dia disalib, di-kubur, dan dibangkitkan dari antara orang mati. Melalui kebangkitan, Dia memiliki kelahiran kali kedua, karena sebagai seorang manusia Dia dilahirkan dalam kebangkitan-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah. Karena itu, dalam kelahiran-Nya kali pertama Dia dilahirkan dari Maria untuk menjadi Putra Manusia, dan dalam kelahiran-Nya kali kedua Dia dilahirkan dalam kebangkitan untuk menjadi Putra sulung Allah.

Putra Tunggal dan Putra Sulung

Ketika beberapa orang mendengar bahwa Kristus dilahirkan untuk menjadi Putra Allah dalam kebangkitan, mereka mungkin bingung dan berkata, ”Bukankah Tuhan kita adalah Putra Allah sejak kekekalan?” Ya, sejak kekekalan Dia adalah Putra Allah. Sebelum kelahiran-Nya kali pertama, yaitu, sebelum Dia lahir dari Maria untuk menjadi Putra Manusia, Dia adalah Putra Allah. Injil Yohanes menekankan fakta bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah, dan Dia adalah Putra Allah secara kekal. Jika Dia adalah Putra Allah sebelum inkarnasi-Nya, mengapa Dia perlu dilahirkan untuk menjadi Putra Allah dalam kebangkitan-Nya? Jika kita ingin menjawab pertanyaan ini, kita perlu mempelajari Alkitab dengan teliti.

Roma 8:29 dan Ibrani 1:6 membicarakan Kristus sebagai yang Sulung. Dalam kelahiran-Nya kali kedua Tuhan Yesus dilahirkan untuk menjadi Putra sulung Allah. Menurut Perjanjian Baru, Dia adalah Putra Allah dalam dua aspek. Pertama, Dia adalah putra tunggal Allah; kedua, Dia sekarang adalah Putra sulung Allah. Kata ”tunggal” menunjukkan bahwa Allah hanya memiliki satu Putra. Yohanes 1:18 dan 3:16 membicarakan tentang Putra tunggal Allah. Secara kekal, Kristus adalah Putra tunggal Allah. Ini adalah status kekal-Nya. Tetapi melalui kebangkitan, Dia, sebagai seorang manusia, dilahirkan untuk menjadi Putra sulung Allah. Kata ”sulung” menunjukkan bahwa Allah sekarang memiliki banyak putra (Ibr. 2:10). Kita yang percaya kepada Kristus adalah anak-anak Allah dan saudara-saudara Tuhan, saudara-saudara dari Putra sulung Allah (Rm. 8:29).

Perwujudan Hayat dan Perkembangbiakan Hayat

Sebagai Putra tunggal Allah, Tuhan adalah perwujudan dari hayat ilahi. Injil Yohanes menekankan bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah dan sebagai Putra Allah, Dia adalah perwujudan dari hayat ilahi itu (Yoh. 1:4). Melalui kebangkitan, Kristus menjadi Putra sulung Allah sebagai penyalur-hayat untuk perkembangbiakan hayat. Pertama, Dia adalah Putra tunggal Allah sebagai perwujudan hayat; sekarang Dia adalah Putra sulung untuk perkembangbiakan hayat. Melalui Dia menjadi Putra sulung Allah dalam kebangkitan, hayat ilahi telah disalurkan ke dalam semua orang beriman-Nya, untuk menghasilkan perkembangbiakan hayat itu yang terwujud di dalam Dia. Kita semua perlu melihat hal ini.

Di sini, dalam Kisah Para Rasul 13, Paulus bukan memberitakan Kristus sebagai Putra tunggal Allah seperti yang dilakukan Injil Yohanes. Sebaliknya, Paulus memberitakan Kristus sebagai Putra sulung Allah untuk perkembangbiakan. Untuk alasan ini, Paulus memberitakan kebangkitan Tuhan Yesus sebagai kelahiran-Nya kali kedua. Melalui kelahiran-Nya kali kedua, kelahiran-Nya dalam kebangkitan, Kristus menjadi Putra sulung Allah bagi perkembangbiakan hayat ilahi.