PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(25)
Pembacaan Alkitab: Kis. 11:19-30
Dalam berita ini kita akan melihat 11:19-30. Dalam bagian dari kitab Kisah Para Rasul ini, kita memiliki penyebaran Injil ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia melalui murid-murid yang tersebar (ay. 19-26) dan komunikasi di antara gereja di Antiokhia dan gereja-gereja di Yudea (ay. 27-30). Pertama kita akan melihat ayat-ayat ini secara umum. Kemudian kita akan memperhatikan secara khusus kepada persiapan lebih lanjut dari Tuhan terhadap Saulus.
PENYEBARAN INJIL KE FENISIA, SIPRUS,
DAN ANTIOKHIA MELALUI MURID-MURID
YANG TERSEBAR
Penggenapan Firman Tuhan
Kisah Para Rasul 11:19 mengatakan, ”Sementara itu saudara-saudara seiman yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.” Karena penganiayaan, orang beriman yang tersebar dari Yerusalem ke tempat-tempat lain melakukan perluasan Injil untuk menggenapkan perkataan Tuhan dalam 1:8. Ini adalah kedaulatan Allah. Menurut 11:19, orang-orang yang pergi ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia memberitakan Injil itu hanya kepada orang Yahudi saja. Ini menunjukkan betapa kuatnya kaum ber-iman Yahudi memelihara tradisi mereka. Mereka tidak mau mendekati bangsa Kafir (10:28). Keadaan ini berlanjut bahkan setelah pemberitaan Petrus kepada Kornelius, orang Itali. Ini sungguh-sungguh membatasi pergerakan Tuhan dalam memperluas Injil-Nya menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Langkah Lebih Jauh dari Pergerakan Tuhan
Kisah Para Rasul 11:20 melanjutkan, ”Akan tetapi, di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang berbahasa Yunani dan memberitakan tentang Tuhan Yesus.” Orang-orang dari Siprus dan Kirene ini pasti orang-orang beriman Yahudi dalam perantauan (lihat 1 Ptr. 1:1). Pembicaraan mereka kepada orang-orang Yunani adalah langkah lebih lanjut dari pergerakan Tuhan dalam memperluas Injil-Nya kepada bangsa Kafir setelah apa yang terjadi di rumah Kornelius dalam pasal 10 dan sebelum Paulus memulai ministrinya kepada bangsa Kafir dalam pasal 13. Kisah Para Rasul 11:21 mengatakan, ”Tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.”
Wakil Kekuasaan
Kisah Para Rasul 11:22 memberitahu kita bahwa, ”Kabar tentang mereka itu terdengar oleh jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas pergi ke Antiokhia.” Secara harfiah, kata ”mengutus” di sini bahasa aslinya berarti diutus untuk suatu amanat khusus sebagai wakil kekuasaan. Barnabas diutus dari Yerusalem untuk mengunjungi kaum beriman di tempat-tempat lain; dia diutus dengan kuasa dari rasul, bukan dari gereja, karena para rasul berada di Yerusalem.
Saulus diselamatkan langsung oleh Tuhan tanpa melalui saluran pemberitaan mana pun (9:3-6) dan dibawa masuk ke dalam kesatuan dengan Tubuh Kristus melalui Ananias, seorang anggota Tubuh Kristus (9:10-19). Namun dia diperkenalkan kepada persekutuan yang riil dengan murid-murid di Yerusalem melalui Barnabas (9:26-28). Sekarang Barnabas diutus dari Yerusalem pergi mencapai Antiokhia untuk mendorong kaum beriman, dan dia pergi ke Tarsus untuk membawa Saulus ke Antiokhia (11:25-26). Ini adalah langkah yang besar, membawa Saulus masuk ke dalam pergerakan Tuhan, memperluas Injil kerajaan-Nya ke dunia orang Kafir (13:1-3).
Melihat Anugerah (Kasih Karunia) Allah
Menurut 11:23 ketika Barnabas tiba di Antiokhia dan melihat kasih karunia Allah, ”Bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua dengan kesungguhan hati setia kepada Tuhan.” Kita telah menunjukkan di tempat lain bahwa kasih karunia adalah Allah di dalam Putra menjadi kenikmatan kita. Kasih karunia ini adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45) untuk membawa Allah Tritunggal yang telah melalui proses dalam kebangkitan ke dalam kita, menjadi hayat dan suplai hayat kita, supaya kita dapat hidup dalam kebangkitan. Karena itu, kasih karunia adalah Allah Tritunggal menjadi hayat dan segala sesuatu bagi kita. Kasih karunia yang Barnabas lihat pastilah Allah Tritunggal yang diterima dan dinikmati oleh kaum beriman dan diekspresikan dalam keselamatan mereka, perubahan dalam hidup mereka, kehidupan mereka yang kudus, dan karunia-karunia yang mereka gunakan dalam sidang-sidang, semuanya itu dapat dilihat oleh orang lain.
Penuh dengan Roh Kudus
Kisah Para Rasul 11:24 mengatakan, ”Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Lalu banyak orang dibawa kepada Tuhan.” Kata ”penuh” disini bahasa aslinya adalah pleres, bentuk ajektiva dari pleroo, menurut penggunaan di sini dan dalam 6:3, 5; 7:55; dan Lukas 4:1. Penuh dengan Roh adalah keadaan seseorang setelah dipenuhi dengan Roh itu di dalam dan secara esensial, seperti yang disebut dalam Kisah Para Rasul 13:52.
Murid-murid itu Disebut Kristen
Kisah Para Rasul 11:25-26 mengatakan, ”Setelah itu, pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu selama satu tahun, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Kata ”Kristen” di sini dalam bahasa aslinya adalah Christianos, satu kata bentukan bahasa Latin. Kata yang terakhir ianos, itu menunjukkan seorang pengikut dari seseorang, yang diterapkan kepada budak-budak milik keluarga besar di Kekaisaran Romawi. Orang-orang yang menyembah penguasa, Kaisar disebut Kaisarianos, yang berarti pengikut-pengikut Kaisar, orang-orang milik Kaisar. Ketika orang percaya kepada Kristus dan menjadi pengikut-pengikut-Nya, ini membuat beberapa orang di Kekaisaran itu menganggap Kristus sebagai satu saingan Kaisar. Di Antiokhia mereka mulai menyebut pengikut-pengikut Kristus itu Christianos (orang-orang Kristen), penganut-penganut Kristus, sebagai satu julukan, satu istilah penghinaan. Murid-murid di Antiokhia diberi julukan ini sebagai penghina-an. Ini menunjukkan bahwa mereka memikul kesaksian yang begitu kuat bagi Tuhan, sehingga mereka berbeda dan khusus dalam pandangan orang-orang yang tidak percaya.
Hari ini istilah orang Kristen seharusnya mengandung satu makna yang positif, yaitu, seorang yang milik Kristus, seorang yang bersatu dengan Kristus, bukan hanya milik Dia, bahkan memiliki hayat dan sifat-Nya dalam satu kesatuan yang organik dengan Dia; yang hidup oleh Dia, bahkan memperhidupkan Dia dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut 1 Petrus 4:16, jika kita menderita karena menjadi seorang yang demikian, maka kita tidak boleh malu. Sebalik-nya, kita harus berani memperbesar Kristus dalam pengakuan kita dengan cara hidup kita yang kudus dan bajik untuk memuliakan Allah dalam nama ini.
PERSEKUTUAN DI ANTARA GEREJA
DI ANTIOKHIA DAN GEREJA-GEREJA DI YUDEA
Dalam 11:27-30 terdapat satu catatan mengenai perse-kutuan di antara gereja di Antiokhia dan gereja-gereja di Yudea. Kisah Para Rasul 11:27 mengatakan, ”Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia.” Dalam Perjanjian Baru nabi-nabi adalah orang-orang yang berbicara bagi Allah dan mengutarakan Allah dengan wahyu, kadang-kadang maka digerakkan untuk bernubuat.
Kisah Para Rasul 11:28 memberi tahu kita bahwa salah satu dari nabi-nabi ini ”yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan bahwa seluruh dunia akan ditimpa kelaparan besar. Hal itu terjadi pada zaman Klaudius.” Klaudius adalah seorang Kaisar Romawi. Pada tahun keempat pemerintahannya, yaitu sekitar 44 M, terjadi bala kelaparan di Yudea dan negara-negara tetangganya.
Kisah Para Rasul 11:29-30 mengatakan, ”Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan sumbangan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara seiman yang tinggal di Yudea. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.” Ayat 30 menunjukkan bahwa keuangan gereja pada masa sebermula berada di bawah pengaturan para penatua. Menurut 1 Timotius 3:3, seorang penatua bukanlah pecinta uang. Uang adalah ujian bagi semua orang. Seorang penatua harus bersih dalam perkara yang berhubungan dengan uang, khususnya karena keuangan gereja berada di bawah pengelolaan penatua.
Dalam Kisah Para Rasul 11:30 kita nampak bahwa sumbangan-sumbangan dari gereja di Antiokhia dikirimkan kepada para penatua di Yerusalem melalui Barnabas dan Saulus. Di sini Saulus, melalui Barnabas, dibawa ke dalam pelayanan di antara gereja-gereja.
PERSIAPAN LEBIH JAUH TUHAN
TERHADAP SAULUS
Mengenai Saulus, Allah berdaulat mempersiapkan dia sebagai bejana lainnya guna melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya kepada dunia Kafir. Allah tahu bahwa Dia perlu mempersiapkan bejana yang demikian.
Persiapan agar Saulus dari Tarsus menjadi bejana yang demikian dimulai dalam Kisah Para Rasul 16. Jika kita membaca kitab ini dengan cermat, kita akan nammpak bahwa pasal 2-6 adalah satu bagian yang menyajikan ministri Petrus bagi perkembangbiakan Kristus. Kemudian dalam pasal 6 persiapan terhadap bejana lainnya dimulai. Dalam Kisah Para Rasul 6 tercatat pemilihan tujuh orang yang penuh dengan Roh Kudus. Di antara ketujuh orang ini ada Stefanus, dan mati martirnya Stefanus membawa masuk Saulus.
Dihasilkan melalui Yerusalem
Sebagai satu bejana yang baru, Saulus dihasilkan melalui Yerusalem. Ini berarti ia bukan satu bejana asing yang dihasilkan terpisah dari Yerusalem.
Mati Martirnya Stefanus
Langkah pertama dalam menghasilkan Paulus melalui Yerusalem adalah mati martirnya Stefanus. Ketika Stefanus mati martir, Saulus mendengar satu bagian Injil. Ia mungkin mendengar Stefanus berkata, ”Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah” (7:56). Saulus mendengar Stefanus ”berdoa, katanya: Ya, Tuhan Yesus, terimalah rohku” (7:59). Saulus juga mendengar Stefanus berseru dengan suara nyaring, ”Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (7:60). Sekalipun Saulus telah menolak Stefanus dan menyetujui pembunuhannya, ia pasti pernah merenungkan perkataan-perkataan Stefanus.
Saulus adalah seorang yang sangat pintar dan penuh pemikiran, seorang yang telah menerima suatu pendidikan tinggi. Ia pasti memikirkan perkataan-perkataan yang diucapkan Stefanus ketika ia mengalami penganiayaan dan mati martir. Melalui Stefanus, Saulus mendengar pemberitaan Injil. Karena itu, Saulus dibawa masuk melalui penganiayaan dan martirnya Stefanus yang setia itu.
Pemberitaan Tuhan kepada Saulus
Setelah mati martirnya Stefanus, ada satu penganiayaan besar terhadap gereja di Yerusalem (8:1), dan Saulus hendak membinasakan gereja (8:3). Menurut 9:1-2, ”Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.” Tetapi ketika Saulus sudah dekat ke Damsyik, Tuhan datang menanggulangi dia. Sewaktu Dia menanggulangi Saulus, Tuhan memberitakan Injil kepadanya. Jika kita memikirkan pemberitaan Tuhan kepada Saulus bersamaan dengan perkataan yang diucapkan Stefanus pada waktu ia mati martir, kita akan sadar bahwa Saulus memang dihasilkan melalui Yerusalem.
Dikonfirmasikan Ananias
Setelah Saulus diselamatkan, Tuhan memakai Ananias untuk mengkonfirmasikan Saulus dan membawa dia ke dalam kesatuan dengan Tubuh Kristus melalui penum-pangan tangan (9:17). Tuhan tidak mengutus Petrus dan Yohanes ke Damsyik untuk tujuan ini. Sebaliknya, Dia memakai Ananias, yang pasti telah diselamatkan di Yerusalem dan kemudian bermigrasi ke Damsyik. Ini adalah satu petunjuk lebih jauh bahwa Saulus menjadi bejana Tuhan digenapkan melalui Yerusalem.
Dibawa ke dalam Persekutuan Tubuh melalui Barnabas
Di Damsyik Saulus memberitakan dengan kuat bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Kristus (9:20, 22). Pemberitaan Saulus sangat kuat sehingga tidak lama kemudian itu ia memiliki murid-murid (9:25). Tetapi, dalam kedaulatan-Nya Tuhan tidak membiarkan Saulus tetap tinggal di Damsyik. Setelah melarikan diri dari orang-orang Yahudi yang berencana untuk membunuhnya (9:23), Saulus pergi ke Yerusalem (ay. 26). Ia pergi ke Yerusalem karena Yerusalem adalah sumber yang melaluinya ia dihasilkan. Tetapi, orang-orang kudus di sana takut kepadanya, tidak percaya bahwa ia benar-benar telah bertobat, tidak percaya bahwa ia adalah seorang murid. ”Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceritakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara kepadanya dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus” (9:27). Di sini kita melihat bahwa Barnabas, anak penghiburan, membawa Saulus ke dalam persekutuan Tubuh. Memang Ananias yang menyatukan Saulus dengan Tubuh, tetapi Barnabaslah yang sebenarnya membawa dia ke dalam persekutuan Tubuh.
Setelah mempertimbangkan semua perkara ini, kita dapat melihat bahwa Saulus adalah satu bejana yang di-hasilkan melalui Yerusalem. Ia bukan seorang yang dihasilkan terpisah dari Yerusalem. Tetapi meskipun ia berhubung-an dengan Yerusalem, keadaannya tidak membiarkan dia untuk tetap tinggal di sana. Karena ada orang-orang tertentu yang akan membunuh Saulus, maka saudara-saudara, ”membawa dia ke Kaisarea dan dari situ mengirim dia ke Tarsus” (9:30).
Antiokhia dan Yerusalem
Dalam 10:1 — 11:18 Lukas mencatat penyebaran Injil kepada bangsa Kafir melalui Petrus. Dalam 11:19 selanjutnya memberi tahu kita bahwa orang-orang yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus, dan Antiokhia. Di sini kita melihat bahwa migrasi dari Yerusalem menyebar jauh sampai ke Antiokhia, di mana terdapat sebuah gereja. Karena itu, gereja di Antiokhia dihasilkan melalui Yerusalem. Kita perlu meneladani perkara dalam catatan kitab Kisah Para Rasul ini.
Sewaktu kabar tentang orang-orang di Antiokhia ”terdengar oleh jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu meng-utus Barnabas pergi ke Antiokhia” (11:22). Barnabas diutus untuk mengunjungi gereja-gereja di tempat-tempat lain.
Dalam 11:19 kita melihat bahwa orang-orang kudus yang tersebar itu memberitakan firman itu hanya kepada orang Yahudi saja. Tetapi beberapa orang dari antara me-reka yang datang ke Antiokhia, mereka juga berbicara kepada orang-orang Yunani (ay. 20). Ini adalah satu petunjuk bahwa kecenderungan dari penyebaran Tuhan adalah terhadap bangsa Kafir.
Catatan Lukas tidak hanya memperlihatkan kecenderungan dari penyebaran Tuhan terhadap bangsa Kafir, tetapi juga mewahyukan bagaimana Saulus dihasilkan sebagai satu bejana untuk melaksanakan ministri Allah kepada dunia Kafir. Saulus dihasilkan melalui Yerusalem. Ia bukanlah satu permulaan yang baru yang terpisah dari Yerusalem. Migrasi Yerusalem mencapai Antiokhia, dan sebuah gereja didirikan di kota itu. Kemudian Yerusalem mengutus Barnabas sebagai satu wakil kekuasaan. Ketika ia melihat kasih karunia Allah, ia bersukacita. Ia gembira dengan situasi yang menakjubkan di gereja di Antiokhia. Meskipun demikian, Barnabas sadar bahwa masih ada satu keperluan khusus, yaitu keperluan akan ministri. Orang-orang kudus yang ter-sebar itu telah pergi ke Antiokhia untuk mendirikan sebuah gereja, namun di antara mereka ada satu kekurangan akan ministri. Karena hal ini, maka Barnabas ”pergi . . . ke Tarsus untuk mencari Saulus” (11:25). Ketika Barnabas bertemu dengan Saulus, ia membawanya ke Antiokhia, dan ”mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu selama satu tahun penuh, sambil mengajar banyak orang” (ay. 26). Ini adalah bagian dari permulaan ministri Saulus.
Selama kelaparan besar itu, orang-orang kudus di Yerusalem dan Yudea memerlukan bantuan. Bantuan materi dikirimkan dari gereja di Antiokhia kepada gereja-gereja di Yudea melalui Barnabas dan Saulus (11:29-30). Seperti yang telah kita tunjukkan, ini menandakan bahwa melalui Barnabas, Saulus dibawa ke dalam pelayanan di antara gereja-gereja. Setahap demi setahap Tuhan membawa masuk Saulus. Tidak diragukan lagi, ia disambut di Yerusalem. Setelah memenuhi tanggung jawab mereka, Barnabas dan Saulus kembali ke Antiokhia.
Memelihara Keesaan Tubuh
Menjelang waktu Barnabas dan Saulus kembali ke Antiokhia, Saulus telah sepenuhnya dipersiapkan sebagai satu bejana. Ia adalah produk melalui Yerusalem, karena ia dipersiapkan Allah melalui Yerusalem. Kita telah menekankan fakta bahwa pada Saulus, kita tidak memiliki satu permulaan baru yang terpisah dari Yerusalem. Kita menekankan perkara ini karena ini adalah sesuatu yang di-lakukan Tuhan secara berdaulat dan bijaksana untuk memelihara keesaan Tubuh.
Satu Arus
Dalam buklet yang berjudul The Divine Stream (Arus Ilahi) kita menunjukkan bahwa hanya ada satu arus dalam kitab Kisah Para Rasul. Arus ini dimulai dari Yerusalem dan mengalir melalui Samaria ke Antiokhia. Dari Antiokhia arus ini berbelok ke Asia Kecil dan kemudian ke Eropa. Tuhan tidak memiliki dua arus, yang satu mulai dari Yerusalem melalui Petrus dan yang lainnya di dunia Kafir melalui Saulus. Tidak, Tuhan hanya memiliki satu arus, arus yang dimulai dari Yerusalem.
Tuhan tahu bahwa perlu ada satu bejana khusus, satu bejana baru. Petrus tidak bersyarat menjadi bejana ini, dan Petrus tidak dapat menggantikan bejana ini. Tuhan melakukan segala sesuatu dengan bijaksana dan berdaulat untuk meletakkan Saulus, bejana pilihan-Nya, ke dalam persekutuan yang tepat dengan gereja di Yerusalem. Seperti yang telah kita tunjukkan, Saulus sebenarnya dihasilkan melalui Yerusalem.
Ministri Petrus dan Ministri Saulus
Dalam Kisah Para Rasul 1 kita melihat bahwa Tuhan sangat memakai Petrus. Meskipun Petrus itu baik, tetapi Gereja Roma Katolik salah bila meninggikannya begitu tinggi. Dalam Kisah Para Rasul 6, Petrus tidak dibicarakan, demikian pula dalam pasal 7. Memang, dalam pasal 8, Petrus dan Yohanes pergi ke Samaria untuk meneguhkan kaum beriman yang ada di sana sebagai bagian dari Tubuh. Kemudian dalam pasal 9 Saulus, sebuah bejana pilihan, dibangkitkan. Kita telah melihat bahwa dalam pasal ini kita bahkan diberi tahu bahwa tidak lama setelah Saulus diselamatkan, ia memiliki murid. Tetapi, Perjanjian Baru tidak pernah membicarakan tentang murid-murid Petrus.
Menurut catatan dalam Kisah Para Rasul 9, Saulus menjadi sangat menonjol di Damsyik. Tetapi dalam kedaulatan-Nya, Tuhan membawa orang yang sangat menonjol ini ke Yerusalem, di mana ia sama sekali tidak populer. Kaum beriman di sana bahkan tidak mengenal dia sebagai seorang murid. Jika kita menjadi Saulus, kita mungkin berkata, ”Di Damsyik aku sangat menonjol, dan aku memiliki sejumlah murid. Sekarang aku datang kepada kalian di Yerusalem, dan kalian tidak mengenalku. Aku tidak mau berhubungan dengan kalian. Aku akan kembali ke Damsyik dan memulai satu pekerjaan yang baru di sana.” Ini adalah praktek dari banyak orang Kristen pada hari ini.
Saulus tentunya menerima belas kasihan dari Tuhan. Ia bukan hanya tidak populer di Yerusalem; Tuhan juga ti-dak membiarkan dia memberitakan di Yerusalem untuk waktu yang cukup lama. Jika Saulus tetap tinggal di Yerusalem untuk memberitakan sejangka waktu, tidak diragukan lagi, ia akan mengungguli Petrus. Kemudian orang-orang kudus di Yerusalem mungkin berkata, ”Kami bukan pengikut Petrus dari Galilea, kami pengikut Saulus dari Tarsus.” Jika kita ada di sana pada waktu itu, kita mungkin berkata, ”Aku adalah bagi Saulus. Petrus membantu saya secara mendasar, tetapi sekarang aku menerima satu pendidikan yang tinggi dari Saulus.” Ini adalah sikap di antara banyak orang Kristen pada hari ini.
Di Yerusalem Saulus tidak begitu dihormati dan di-perhatikan. Selain itu, Tuhan membangkitkan lingkungan yang mendesaknya untuk meninggalkan Yerusalem. Akhir-nya, tangan Tuhan yang berdaulat memakai Barnabas untuk mencari Saulus di Tarsus dan membawanya ke Antiokhia.
Setelah catatan mengenai pemberitaan Saulus yang kuat dalam pasal 9, catatan itu kembali lagi kepada Petrus dan ministrinya. Catatan ini menunjukkan bahwa Petrus masih berkuasa. Petrus menyampaikan berita-berita dalam pasal 2, 3, dan 4, juga satu perkataan yang singkat dalam pasal 5. Ketika catatan itu berpaling kembali kepada ministri Petrus dalam pasal 9, tercatat ada dua mujizat Kesembuhan Eneas dan kesembuhan (atau kebangkitan) Dorkas. Petrus tetap berada dalam ministrinya; tetapi Tuhan tidak bekerja melaluinya. Dalam pasal 9 Petrus tidak berada di Yerusalem, tetapi melangkah ke Kaisarea, di mana ia akan memakai kunci kedua yang diberikan Tuhan Yesus kepadanya dalam Matius 16 untuk membuka pintu bagi bangsa Kafir masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di satu pihak, kita melihat Tuhan mempersiapkan jalan untuk menghasilkan satu bejana bagi dunia Kafir. Di pihak lain, kita melihat apa yang Tuhan lakukan dengan Petrus untuk membuka pintu bagi bangsa Kafir.
Seperti yang akan kita lihat, catatan Lukas dalam Kisah Para Rasul 12 kembali berpaling kepada Petrus. Tetapi, catatan itu bukan menceritakan ministri Petrus melainkan membicarakan pemenjaraannya. Catatan tentang pemenjaraannya itu menunjukkan bahwa ministrinya akan dipisahkan dari penyebaran Injil kepada dunia Kafir. Dalam pasal 13 kita melihat bahwa bejana bagi dunia Kafir telah dipersiapkan sepenuhnya, dan pintu ke dunia Kafir benar-benar telah terbuka. Dengan kata lain, bejana dan lingkungannya telah siap. Dalam Kisah Para Rasul 13 ministri ke dunia Kafir telah sepenuhnya dimulai. Setelah pasal 12 tidak ada catatan lebih lanjut mengenai Petrus.
Kita telah melihat bahwa Barnabas, seorang beriman dari Yerusalem, membantu dalam menghasilkan Saulus. Barnabas dan Saulus melakukan satu perjalanan ministri bersama-sama. Ketika mereka akan melakukan perjalanan yang kedua, ada satu perselisihan di antara mereka mengenai Markus (15:35-39), dan Barnabas berpisah dengan Saulus. Setelah itu, tidak ada catatan lebih lanjut mengenai Barnabas. Ini adalah satu petunjuk lebih jauh bahwa Saulus memang bejana pilihan bagi dunia Kafir.
Menurut gambaran dalam kitab Kisah Para Rasul, Tuhan hanya memiliki satu arus, arus yang dimulai dari Yerusalem, dan Dia tidak memulai arus lainnya dengan Saulus. Tuhan melakukan segala sesuatu secara berdaulat dan bijaksana untuk menahan ministri Petrus dari dunia Kafir dan membangkitkan ministri Saulus baginya. Kiranya kita semua melihat apa yang digambarkan dalam gambaran ini.
Memelihara Keesaan dalam Satu Arus
Dalam kitab Kisah Para Rasul kita melihat aktivitas dari Tubuh unik Tuhan. Aktivitas ini, aliran dari arus ini, dimulai di Yerusalem, melalui Samaria, dan mencapai Antiokhia. Dari Antiokhia arus ini berbelok ke dunia Kafir. Dalam aliran dari satu arus inilah keesaan Tubuh itu dipelihara.
Ketika kita sampai pada pasal 15, kita akan melihat orang-orang Yahudi tertentu dari Yerusalem menimbulkan kesulitan di Antiokhia. Ini membuat Paulus dan Barnabas perlu pergi ke Yerusalem. Dengan pergi ke Yerusalem, keesaan itu dipelihara dan bahkan dikuatkan.
Adalah penting bahwa kita semua melihat keesaan yang digambarkan dalam kitab Kisah Para Rasul dan belajar untuk memelihara keesaan ini. Kalau tidak, akhirnya di antara kita dalam pemulihan Tuhan akan ada beberapa permulaan yang baru, dan permulaan-permulaan yang baru itu akan menyebabkan perpecahan. Karena itu, kita perlu melihat bahwa dalam kitab Kisah Para Rasul, Tuhan secara berdaulat memelihara semua ministri dalam satu ministri dan dalam satu arus bagi satu Tubuh, untuk memelihara keesaan Tubuh ini.