PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(24)
Pembacaan Alkitab: Kis. 11:1-18
Dalam berita ini kita sampai pada 11:1-18. Pertamatama kita akan melihat beberapa hal yang disebut dalam ayat-ayat ini. Kemudian kita akan memperhatikan dengan khusus perlunya suatu peralihan zaman.
PENGAKUAN RASUL-RASUL
DAN SAUDARA-SAUDARA DI YUDEA
Orang-orang dari Golongan yang Bersunat
Kisah Para Rasul 11:1-2 mengatakan, ”Rasul-rasul dan saudara-saudara seiman di Yudea mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah. Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.” Sunat adalah ketetapan lahiriah yang diwarisi orang Yahudi dari nenek moyang mereka, Abraham (Kej. 17:9-14). Sunat membuat mereka berbeda dan terpisah dari orang-orang Kafir. Ini menjadi satu formalitas tradisional yang mati, sekadar tanda pada daging tanpa arti rohaniah apa pun, dan ini justru menjadi penghalang besar bagi perluasan Injil Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya (Kis. 15:1; Gal. 2:3-4; 6:12-13; Flp. 3:2).
Penjelasan Petrus
Dalam ayat 3 orang-orang dari golongan yang bersunat itu berkata kepada Petrus, ”Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.” Mulai ayat 4 Petrus menjelaskan secara berurutan apa yang telah terjadi. Dalam ayat 12 ia berkata, ”Lalu kata Roh kepadaku: Pergilah bersama mereka tanpa membeda-bedakan! Keenam saudara ini pun menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu.” Keenam saudara ini ada di sana sebagai saksi bagi perkataan Petrus sewaktu ia berbicara.
Dalam ayat 15-17 Petrus melanjutkan menjelaskan bahwa Roh Kudus turun ke atas orang-orang di rumah Kornelius, dan Petrus, ”teringat . . . akan perkataan Tuhan: ”Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (ay. 16). Kemudian dalam ayat 17 Petrus menyimpulkan, ”Jadi, jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti kepada kita pada waktu kita percaya kepada Yesus Kristus, bagaimana mungkin aku mencegah Dia?”
Pertobatan kepada Hayat
Kisah Para Rasul 11:18 mengatakan, ”Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: Jadi, kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Dalam ayat ini kata Yunani untuk ”hidup” adalah zoe, mengacu kepada hayat Allah (Ef. 4:18), hayat kekal (1 Yoh.1:2), hayat bukan ciptaan dan tidak dapat binasa (Ibr. 7:16), adalah Kristus sendiri (Yoh. 14:6; 11:25; Kol. 3:4), sebagai Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45), milik hayat inilah Roh itu (Rm. 8:2). Hayat ini didapatkan oleh kaum beriman ketika bertobat dan percaya ke dalam Kristus (Yoh. 3:15-16), supaya mereka menikmati keselamatan yang sempurna (Rm. 5:10). Berkat-berkat ilahi yang tercakup dalam Injil yang diberitakan oleh Petrus tidak hanya pengampunan dosa (Kis. 5:31; 10:43) dan keselamatan (2:21; 4:12), tetapi juga Roh Kudus (2:38) dan hayat. Pengampunan menanggulangi dosa-dosa manusia; hayat, menanggulangi kematian manusia (Yoh. 5:24; 1 Yoh. 3:14; 2 Kor. 5:4).
PERLUNYA SUATU PERALIHAN ZAMAN Peralihan dari Ekonomi Perjanjian Lama kepada Ekonomi Perjanjian Baru
Kitab Kisah Para Rasul ini sangat bermakna (bersifat) zaman. Kata ”bermakna zaman” adalah bentuk kata sifat dari kata benda ”zaman”. Alasan bahwa kitab Kisah Para Rasul itu bermakna zaman adalah bahwa kitab ini menggambarkan satu peralihan yang besar yang digenapkan selama masa transisi. Ini adalah peralihan dari ekonomi Perjanjian Lama kepada ekonomi Perjanjian Baru.
”Ekonomi” adalah satu bentuk serapan dari bahasa Yunani oikonomia yang berarti pengaturan zaman. Maka, ekonomi dan zaman itu adalah sinonim, kata zaman dalam bahasa Inggris sama dengan kata oikonomia dalam bahasa Yunani.
Dalam Perjanjian Baru kata oikonomia menunjukkan satu pengaturan. Allah memiliki satu pengaturan, satu pengurusan rumah tangga, satu administrasi keluarga. Pengaturan rumah tangga Allah, atau pengaturan keluarga, adalah apa yang kita sebut ekonomi-Nya. Peralihan dalam kitab Kisah Para Rasul adalah dari pengaturan Perjanjian Lama Allah kepada pengaturan Perjanjian Baru-Nya.
Peralihan dari Bayang-bayang kepada Realitas
Pengaturan Perjanjian Lama Allah semuanya merupakan lambang-lambang, gambaran-gambaran, bayangbayang, dan nubuat-nubuat. Dengan kata lain, pengaturan Perjanjian Lama Allah tidak berada dalam realitas, melainkan berupa bayang-bayang yang menantikan penggenapannya.
Ketika Allah Tritunggal menjadi seorang manusia dalam inkarnasi, peralihan dari bayang-bayang kepada realitas itu dimulai. Segala sesuatu dalam zaman atau pengaturan lama Allah adalah bayang-bayang. Tetapi dalam pengaturan Perjanjian Baru Allah kita memiliki realitas. Peralihan dari bayang-bayang kepada realitas ini dimulai dengan inkarnasi Allah, yaitu keterkandungan Yesus, dan digenapkan pada hari Pentakosta dengan pencurahan Roh ekonomikal.
Kesulitan dalam Mengalami Peralihan
Karena peralihan zaman ini telah digenapkan sepenuhnya dengan pencurahan Roh itu pada hari Pentakosta, maka semua bayang-bayang seharusnya telah berlalu. Tetapi orangorang yang telah dipilih dan dipakai Allah itu telah dibangkitkan dalam zaman Perjanjian Lama, dan mereka telah dijenuhi dengan dan bahkan tersusun dari pengaturan Perjanjian Lama Allah. Akibatnya, sulit sekali bagi mereka untuk meninggalkan hal-hal itu dengan mutlak.
Marilah kita mengambil diri Petrus sebagai satu ilus-trasi. Petrus dipilih dan dipakai oleh Tuhan untuk melak-sanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya setelah Tuhan sendiri menggenapkan peralihan ini. Tetapi, Petrus telah dijenuhi dan tersusun dari hal-hal yang berasal dari zaman yang lama. Karena alasan ini, ketika Petrus melihat penglihatan kain lebar yang di dalamnya ada binatang-binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung, dan ketika ada satu suara yang menyuruh dia bangkit, menyembelih, dan memakannya, Petrus berkata, ”Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis” (10:14). Karena tahu situasi apa yang akan terjadi, maka Tuhan mengutus seorang malaikat kepada Kornelius dengan satu firman mengenai Petrus. Selanjutnya, ”Ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh kepadanya: Ada tiga orang sedang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka” (10:19-20). Petrus mengasihi Tuhan dan akhirnya ia pergi ke rumah Kornelius. Tetapi ini merupakan hal yang sulit untuk dilakukan Petrus.
Menurut catatan dalam Galatia 2, Petrus kembali menghadapi kesulitan mengenai peralihan zaman ini. Paulus memberi tahu kita bahwa sebelum orang-orang tertentu dari Yakobus datang, Petrus, ”makan sehidangan dengan saudara-saudara seiman yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut terhadap saudara-saudara yang bersunat. Orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia” (Gal. 2:12-13a). Di sini kita melihat bahwa bahkan setelah situasi yang tercatat dalam Kisah Para Rasul pasal 10 dan 11, Petrus masih berlaku munafik dengan tidak berani makan bersama kaum beriman Kafir secara terbuka sewaktu saudara-saudara yang datang dari Yakobus hadir di Yerusalem. Dari hal ini kita melihat betapa sulitnya bagi Petrus untuk sepenuhnya mengalami peralihan zaman.
Perkataan yang Berhubungan dengan Peralihan Zaman
Kita telah menunjukkan bahwa kitab Kisah Para Rasul adalah satu kitab yang bermakna zaman. Satu ayat yang berhubungan dengan unsur zaman dalam Kisah Para Rasul adalah 1:8, di mana Tuhan memberi tahu murid-murid, ”Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sebelum Tuhan mengatakan perkataan ini, murid-murid bertanya kepada-Nya, ”Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (1:6). Tuhan menjawab, ”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (ay. 7). Kemudian Tuhan melanjutkan mengatakan bahwa mereka akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya sampai ke ujung bumi. Dalam 1:8 Tuhan Yesus memberi tahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan memakai mereka sebagai saksi-saksi-Nya, tidak hanya di antara orang Yahudi di Yerusalem dan di seluruh Yudea, tetapi juga di antara orang-orang Samaria, dan bahkan di antara semua bangsa Kafir, sampai ke ujung bumi. Meskipun murid-murid itu mendengar perkataan ini, namun mereka tidak sadar apa yang sedang Tuhan katakan itu. Dalam perkataan yang sederhana ini Tuhan menunjukkan bahwa murid-murid perlu mendobrak zaman Perjanjian Lama. Dari pengalaman mu-rid-murid ini kita melihat bahwa mendengar adalah satu hal, tetapi menyadari dan mengalami apa yang telah di dengar itu adalah hal lain lagi. Misalnya, Petrus mendengar firman Tuhan dalam 1:8, tetapi meskipun demikian, ia sulit menerima penggenapan Tuhan terhadap firman ini.
Dalam 1:8 Tuhan mengatakan bahwa murid-murid akan menjadi saksi-saksi-Nya di Samaria. Ini digenapkan melalui pemberitaan Filipus pemberita Injil. Dalam pasal 8 kita melihat bahwa Filipus menginjili Samaria dan membawa sejumlah besar orang Samaria ke dalam Tubuh Kristus. Setelah itu, Tuhan ingin pergi lebih jauh lagi. Dia telah pergi dari Yerusalem dan Yudea ke Samaria. Sekarang Dia damba untuk pergi dari Samaria ke dunia Kafir. Pada mulanya Petrus tidak setuju untuk mengambil langkah ini, tetapi akhirnya ia menerima firman Tuhan mengenai bangsa-bangsa Kafir dan pergi bersama enam saudara lainnya ke rumah Kornelius.
Kewaspadaan Petrus
Menurut 10:23, ketika Petrus pergi ke rumah Kornelius di Kaisarea, ”beberapa saudara dari Yope menyertai dia.” Dalam 11:12 Petrus menunjukkan bahwa ada enam saudara yang pergi bersama dia. Kita telah mencatat sebelumnya bahwa dalam perkara ini Petrus tidak bertindak secara individu, tetapi dengan beberapa saudara dalam prinsip Tubuh Kristus, supaya mereka dapat bersaksi bahwa Allah menyelamatkan bangsa Kafir melalui pemberitaan Injil dengan melanggar tradisi dan kebiasaan orang Yahudi. Tetapi, Petrus tidak begitu mengenal prinsip Tubuh. Di sini ia mungkin bertindak berdasarkan kehati-hatian dan keperluan untuk melindungi dirinya sendiri dari kritikan-kritikan orang-orang golongan yang bersunat. Tidak ada catatan bahwa Tuhan menyuruh Petrus membawa keenam saudara ini bersamanya; juga tidak dikatakan bahwa Kornelius mengundang mereka datang bersama Petrus. Keenam orang ini tidak diutus oleh Tuhan atau diundang oleh Kornelius; sebaliknya, mereka dibawa oleh Petrus sebagai satu perlindungan baginya. Kita mungkin mengatakan bahwa Petrus memelihara prinsip Tubuh. Tetapi, jika kita dapat bertanya kepadanya tentang perkara ini, ia mungkin akan berkata, ”Anda terlalu memuji dengan mengatakan bahwa saya bertindak menurut prinsip Tubuh. Apa yang saya lakukan dalam membawa keenam saudara itu bersama saya adalah untuk perlindungan saya. Saya takut saudara-saudara Yahudi di Yerusalem akan menghakimi saya. Ka-rena itu, sebagai satu tindakan pencegahan, saya membawa enam saudara bersama saya ketika saya pergi ke Kaisarea.”
Petrus bukan hanya membawa enam saudara ini bersamanya dari Yope ke Kaisarea; ia juga membawa mereka bersamanya ke Yerusalem. Petrus tahu bahwa ia akan menghadapi kesulitan di Yerusalem dan bahwa ia akan dikritik karena hal yang telah ia lakukan di Kaisarea. Ia sadar bahwa ia memerlukan saksi-saksi. Petrus adalah saksi Yesus Kristus, dan enam saudara yang ia bawa ke Yerusalem itu adalah saksi-saksinya.
Ketika Petrus tiba di Yerusalem, ”orang-orang dari go-longan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia. Kata mereka: Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka” (11:2-3). Kaum saleh di Yerusalem mendengar tentang apa yang telah terjadi di Kaisarea, tentang apa yang telah Petrus lakukan di rumah Kornelius. Orang-orang dari golongan yang bersunat itu menanyai Petrus tentang hal ini. Mereka seolah-olah berkata kepadanya, ”Petrus, apa yang telah kamu lakukan? Kamu telah mempelopori untuk bergaul dengan orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama mereka! Bagaimana ini?”
Penuturan Petrus
Menurut ayat 4, Petrus mulai menjelaskan secara berurutan apa yang telah terjadi di rumah Kornelius. Ketika saya membaca catatan dalam 11:1-18 bertahun-tahun yang lalu, saya mengira Petrus itu cukup rohani dalam cara ia menjelaskan perkara itu kepada orang-orang dari golongan yang bersunat itu. Tetapi, kemudian saya melihat bahwa Petrus sebenarnya agak pengecut, agak takut kepada orang-orang dari golongan yang bersunat itu. Namun tak peduli bagaimana situasinya saat itu, Petrus telah menjelaskan hal-hal itu dengan baik sekali.
Petrus menyimpulkan penuturannya dengan perkataan-perkataan ini: ”Ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti ke atas kita dahulu. Lalu teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Jadi, jika Allah memberikan karunia yang sama kepada mereka seperti kepada kita pada waktu kita percaya kepada Yesus Kristus, bagaimana mungkin aku mencegah Dia?” (ay. 15-17). Penuturan Petrus ini sangat bagus, dan kita dapat belajar darinya.
Pernyataan yang Heran dan Tidak Rela
Kisah Para Rasul 11:18 mengatakan, ”Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: Jadi, kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” Dalam ayat ini, kata ”jadi” tidaklah positif, karena perkataan ini bukan menunjukkan kerelaan. Orang-orang dari golongan yang bersunat itu heran bahwa Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup kepada bangsa Kafir. Rasa heran dan kekurang relaan mereka untuk menerima fakta ini ditunjukkan oleh kata ”jadi”.
Sebenarnya, orang-orang dari golongan yang bersunat itu tidak perlu heran bahwa Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup kepada bangsa Kafir. Dalam 1:8 Tuhan Yesus telah memberi tahu murid-murid bahwa mereka akan menjadi saksi-saksi-Nya di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan bahkan sampai ke ujung bumi, termasuk semua bangsa Kafir. Itu adalah perintah Tuhan, tetapi murid-murid tidak menyadarinya, dan mereka tidak menerimanya. Setelah kesaksian yang tegas diberikan mengenai pergerakan Tuhan di antara bangsa Kafir, orang-orang dari golongan yang bersunat itu hanya dapat berkata,
”Jadi, kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”
Berpaling dari Zaman yang Lama kepada
Zaman yang Baru
Kita perlu terkesan bahwa kitab Kisah Para Rasul adalah satu kitab bersifat zaman. Perkara peralihan zaman adalah satu butir penting dalam kitab Kisah Para Rasul. Berbicara tentang peralihan zaman berarti dalam kitab ini kita melihat perlunya satu peralihan yang besar, perlunya satu perpalingan yang besar. Peralihan ini, perpalingan ini, adalah dari zaman yang lama kepada zaman yang baru.
Kegagalan dalam Berpaling
Dalam kitab Kisah Para Rasul, kaum beriman seber-mula, termasuk rasul-rasul, berada dalam masa transisi. Kita telah menunjukkan bahwa bahkan rasul-rasul pun tidak memiliki visi yang jelas mengenai Allah meninggalkan barang-barang milik Yudaisme. Karena itu, Petrus dan para rasul lainnya tidak melalui masa transisi ini dengan sukses. Sebenarnya mereka melakukan satu kegagalan yang besar. Hal ini menyebabkan satu percampuran gereja dengan Yudaisme, dan hal itu tidak dihakimi oleh gereja sebermula di Yerusalem. Hal itu membuat Allah perlu memakai Titus dengan pasukan Romawinya pada tahun 70 untuk menghancurkan Yerusalem, Bait, dan agama Yahudi. Melalui Titus, percampuran agama di Yerusalem juga diakhiri. Kiranya kita semua melihat dari catatan dalam kitab Kisah Para Rasul mengenai perlunya satu peralihan zaman.