← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 4/23

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(23)

Pembacaan Alkitab: Kis. 1:5, 8; 2:1-4; 10:44-48; 11:15-16

Dalam berita ini kita akan melihat satu hal yang akan membantu kita untuk memahami ekonomi Allah dalam catatan dari Perjanjian Baru. Kita akan melihat bahwa dalam ekonomi Allah ada hal-hal tertentu, khususnya baptisan dalam Roh Kudus, yang telah digenapi satu kali untuk selamanya.

ENAM PERKARA YANG KEKAL

Bagi pelaksanaan langkah-langkah yang dituntut oleh kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah, Allah Tritunggal telah melalui proses inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Selain empat perkara ini, kita memiliki penghembusan Roh Kudus ke dalam murid-murid (Yoh. 20:22) dan pencurahan Roh itu ke atas mereka.

Anak Domba yang Tersembelih

Sejak Pondasi Dunia Diletakkan

Inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, penghembusan Roh itu ke dalam murid-murid, kenaikan, dan pencurahan Roh itu ke atas murid-murid semuanya bersifat kekal. Perkara-perkara itu bukanlah perkara-perkara yang sementara; melainkan, tidak dibatasi oleh unsur waktu. Mengenai ketersaliban, misalnya. Menurut pemahaman kita, Kristus disalibkan sekitar 1900 tahun yang lalu. Tetapi Wahyu 13:8 membicarakan tentang, ”Anak Domba yang tersembelih sejak dunia dijadikan.” Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Allah Kristus telah disembelih sejak dunia dijadikan, sejak dunia yang diciptakan ini ada. Kristus telah disalibkan sejak permulaan keberadaan dunia materi karena penebusan-Nya harus mencakup alam semesta yang diciptakan. Mengenai hal ini, Ibrani 9:12 menunjukkan bahwa Kristus telah menggenapkan satu penebusan yang kekal. Penebusan-Nya bukanlah sementara, melainkan kekal.

Misalnya kita memakai sebuah lingkaran yang menandakan kekekalan, kemudian di satu tempat pada lingkaran itu kita menempatkan sebuah salib yang menandakan ketersaliban Kristus. Di manakah Anda akan meletakkan orang-orang kudus Perjanjian Lama seperti Abraham, dan Musa, dalam hubungannya dengan salib pada lingkaran itu, dan di manakah Anda akan meletakkan semua orang beriman Kristus sepanjang abad? Akan sulit untuk mengatakan, menurut diagram yang demikian, siapa yang sebelum salib dan siapa yang sesudahnya. Butir yang hendak kita tekankan di sini adalah bahwa ketersaliban itu kekal dan mencakup semua jangkauan yang diperlukan mulai dari keberadaan alam semesta ini, sejak dunia ini dijadikan. Bahkan sejak hal-hal yang diciptakan itu ada, telah ada keperluan akan kematian Kristus. Karena itu, di pandangan Allah, kematian Kristus dimulai sejak dunia dijadikan. Inilah sebabnya Wahyu 13:8 mengatakan bahwa Anak Domba itu tersembelih sejak dunia dijadikan.

Mengenai Anak Domba yang telah tersembelih sejak dunia dijadikan, kita perlu berhati-hati sekali dan tepat dalam pembacaan kita akan Kitab Suci. Meskipun Kristus telah disembelih sejak dunia dijadikan, Dia telah dikenal secara dini oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Mengenai hal ini, 1 Petrus 1:20 mengatakan bahwa Kristus ”telah dipilih sebelum dunia dijadikan.” Kristus telah ditetapkan, dipersiapkan secara dini oleh Allah untuk menjadi Anak Domba penebus bagi umat pilihan-Nya menurut pengenalan dini-Nya sebelum dunia dijadikan. Ini berarti Kristus dikenal dan dipersiapkan secara dini dalam kekekalan. Tetapi kematian-Nya digenapkan sejak dunia dijadikan; yaitu, digenapkan dalam waktu. Meskipun kematian-Nya digenapkan dalam waktu, penebusan Kristus itu kekal. Karena apa yang telah Kristus genapkan melalui kematian-Nya bersifat kekal, dalam Ibrani 9:12 hal ini disebut penebusan (kelepasan) yang kekal.

Sebelum ketersaliban ada inkarnasi, dan setelah ketersaliban ada kebangkitan, penghembusan Roh itu ke dalam murid-murid, kenaikan, dan pencurahan Roh itu. Semua hal ini digenapkan dalam waktu, tetapi tanpa unsur waktu. Karena itu, hal-hal ini bersifat kekal. (Lihat dua diagram yang disisipkan.)

Karena ketersaliban Kristus itu kekal, maka Paulus dapat berkata, ”Aku telah disalibkan dengan Kristus” (Gal. 2:20). Bersama Paulus, kita dapat mengumumkan bahwa kita juga telah disalibkan dengan Kristus. Ini berarti kita disalibkan dengan Kristus jauh sebelum kita lahir. Kapankah kita disalibkan dengan Kristus? Kita disalibkan dengan Dia sejak dunia dijadikan. Karena itu, kita telah disalibkan sebelum kita lahir.

Karena Kristus telah disalibkan sejak dunia dijadikan, maka seorang dosa yang bertobat tidak perlu meminta Tuhan Yesus supaya mati baginya. Jika hal ini diperlukan, maka Tuhan perlu mati berulang-ulang. Tetapi, Dia telah disalibkan sekali untuk selamanya; Dia mati sekali untuk selamanya.

Penghembusan Roh Kudus

dan Baptisan dalam Roh Kudus

Prinsipnya sama dengan inkarnasi, kebangkitan, ke-naikan Kristus, penghembusan Roh itu ke dalam murid-murid-Nya, dan pencurahan Roh itu ke atas murid-murid-Nya. Ini bukanlah perkara bahwa setiap kali seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, Tuhan perlu menghembuskan Roh itu ke dalam orang itu, atau mencurahkan Roh itu ke atasnya. Sebaliknya, penghembusan Roh itu ke dalam kaum beriman telah digenapkan satu kali untuk selamanya dalam Yohanes 20. Seprinsip dengan itu, Kristus, Kepala Tubuh, te-lah membaptis semua orang beriman, setiap anggota Tubuh, ke dalam Roh itu satu kali untuk selamanya dalam dua langkah. Langkah yang pertama adalah pada hari Pentakosta, ketika kaum beriman Yahudi dibaptis dalam Roh Kudus. Langkah yang kedua adalah di rumah Kornelius, ketika kaum beriman Kafir dibaptis dalam Roh Kudus.

Misalnya kita akan membaptis seorang yang baru bertobat. Sewaktu kita membaptisnya, kita perlu menyadari bahwa penghembusan Roh esensial dan pencurahan Roh ekonomikal telah terjadi satu kali untuk selamanya. Karena itu, kita tidak boleh mengatakan kepada orang yang baru bertobat itu, ”Sekarang karena Anda percaya kepada Tuhan Yesus, Anda telah menerima Roh esensial. Setelah sejangka waktu, Roh ekonomikal akan turun ke atas Anda.” Kita tidak boleh memahami Roh esensial dan Roh ekonomikal dengan cara demikian.

Penggenapan dan Penerapan

Marilah kita memakai cara membuat dan memakan sandwich (roti lapis) untuk mengilustrasikan bagaimana inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, penghembusan Roh esensial, kenaikan, dan pencurahan Roh ekonomikal diterapkan kepada kita pada hari ini. Dalam mempersiapkan sebuah sandwich kita dapat mengambil dua potong roti. Kemudian kita mengoleskan selai kepada roti itu dan menambahkan daging kalkun, keju, tomat, dan lobak. Dalam mem-persiapkan sandwich yang demikian itu kita melakukannya tahap demi tahap. Tetapi dalam memakan sandwich itu, kita tidak mengambil rotinya dulu, kemudian daging kalkunnya, dan kemudian bahan sandwich lainnya. Sebaliknya, kita mengambil semua bahan sandwich itu sekaligus. Demikian juga, perkara inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, penghembusan Roh itu, kenaikan, dan pencurahan Roh itu diterapkan kepada kita pada waktu yang sama. Hal-hal itu digenapkan setahap demi setahap, tetapi diterapkan kepada kita secara bersamaan. Dengan memakai ilustrasi sandwich ini, kita dapat mengatakan bahwa inkarnasi adalah rotinya, ketersaliban adalah daging kalkunnya, dan kebangkitan, penghembusan Roh itu, kenaikan, dan pencurahan Roh itu adalah bahan-bahan lainnya. Ketika kita makan ”sandwich” yang almuhit ini, kita tidak makan ”roti” inkarnasinya dulu dan kemudian ”daging kalkun” ketersaliban. Tetapi, kita mengambil seluruh sandwich itu sekaligus. Kita tidak me-mikirkan butir-butir mana yang datang dahulu dan butir-butir mana yang datang kemudian.

Kita telah memberikan banyak berita dalam usaha menunjukkan apa yang telah digenapkan oleh Allah Tri-tunggal. Allah Tritunggal dalam Putra telah menjadi daging. Itu adalah inkarnasi. Inkarnasi ini telah digenapkan satu kali untuk selamanya, dan tidak perlu diulang kembali. Demikian juga, Kristus disalib dan mati sekali untuk selamanya. Selain itu, Dia telah bangkit, Dia menghembuskan diri-Nya sendiri sebagai Roh pemberi-hayat ke dalam murid-murid-Nya, Dia naik, dan mencurahkan diri-Nya sendiri sebagai Roh yang almuhit sekali untuk selamanya. Kristus telah menggenapkan semua hal ini, dan Dia telah meng-genapkannya satu kali untuk selamanya. Sekarang semua perkara ini termasuk di dalam nama Tuhan. Karena itu, ke-tika kita berseru kepada nama Tuhan Yesus, kita akan me-nerima semua hal ini.

Melihat Wahyu Ilahi dalam Perjanjian Baru

Kita tidak perlu menganalisis apa yang akan kita terima melalui berseru kepada nama Tuhan Yesus. Kita tidak seharusnya bertanya kepada diri kita sendiri, ”Sudahkah aku menerima Roh esensial? Sudahkah Roh ekonomikal turun ke atasku? Mungkin aku memiliki Roh esensial di dalamku, tetapi aku tidak yakin kalau aku memiliki Roh ekonomikal. Mungkin Roh ekonomikal itu akan meninggalkanku, meskipun Roh esensial tidak akan meninggalkan aku. Jika Roh ekonomikal itu pergi, kapankah Dia akan kembali?” Bukanlah praktek yang sehat untuk menganalisis perkara-perkara ini dengan cara demikian.

Daripada mengadakan analisis yang tidak perlu, lebih baik kita melihat wahyu ilahi dalam Perjanjian Baru. Alkitab menyajikan inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, penghembusan Roh esensial, kenaikan, dan pencurahan Roh ekonomikal sebagai fakta-fakta yang telah digenapkan. Dalam Perjanjian Lama ada lambang-lambang, tanda-tanda, dan bayang-bayang, tetapi tidak ada fakta-fakta yang telah digenapkan. Namun menurut Perjanjian Baru, dalam jangka waktu yang kurang dari tiga puluh empat tahun, ada enam perkara kekal yang telah digenapkan. Seperti yang telah de-ngan tegas kita tekankan, enam perkara kekal yang telah digenapkan ini adalah inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, penghembusan Roh pemberi hayat, kenaikan, dan pencurah-an Roh yang almuhit. Karena semua hal ini telah digenapkan, maka kapan saja seorang dosa bertobat, percaya kepada Tuhan Yesus, dan dibaptis dalam air, yang mewakili Allah Tritunggal, Kristus, dan kematian Kristus, ia menerima segala sesuatu. Ini berarti ia akan berbagian dalam inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan Kristus, penghembusan Roh Kudus, kenaikan, dan pencurahan Roh itu. Jika seorang beriman yang baru menyadari hal ini, ia akan penuh pujian kepada Tuhan.

Kaum beriman mungkin menganalisis pengalaman mereka terhadap Roh Kudus karena pengaruh latar belakang agama mereka atau pengaruh pengajaran-pengajaran aneh yang umum di antara orang-orang Kristen tertentu pada hari ini. Kita tidak boleh menganalisis pengalaman kita dengan cara demikian, dan kita tidak boleh mengikuti pengajaran-pengajaran yang tidak tepat mengenai baptisan dalam Roh Kudus. Daripada menganalisis pengalaman kita, lebih baik kita memuji Tuhan untuk semua perkara yang telah kita terima.

Misalnya seseorang bertanya kepada Anda, apakah Anda telah menerima Roh Kudus. Pertanyaan ini sebenarnya diterapkan kepada suatu perkara yang luar biasa, seperti perkara dua belas orang beriman dalam Kisah Para Rasul 19. Dua perkara luar biasa lainnya dalam kitab Kisah Para Rasul adalah perkara kaum beriman di Samaria dan Saulus dari Tarsus. Tetapi, hari ini tidak ada perkara-perkara yang luar biasa. Maka, jika Anda ditanya apakah Anda telah menerima Roh Kudus, Anda harus menjawab dengan berani, ”Ya, aku benar-benar telah menerima Roh Kudus!” Dalam memberikan jawaban yang demikian, kita harus sadar bahwa sebenarnya kita menerima Roh Kudus lebih dari seribu sembilan ratus tahun yang lalu dan sekarang hari demi hari kita menikmati Dia oleh iman.

Satu Gambaran dari Fakta-fakta yang Telah Digenapkan

Perjanjian Baru menyajikan satu gambaran dari faktafakta yang telah digenapkan. Fakta-fakta ini sekarang diwariskan dalam wasiat, perjanjian. Dalam wasiat ini, perjanjian ini, inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan Kristus, penghembusan Roh itu ke dalam kita, kenaikan, dan pencurahan Roh itu ke atas kita semuanya telah diwariskan kepada kita. Tentunya, Kristus sendiri dan Allah Tritunggal termasuk dalam warisan dalam wasiat ini. Hari ini kita mewarisi warisan-warisan ini. Karena itu, kita harus dengan sederhana mengambilnya oleh iman dan menikmatinya. Kapan saja kita merasa perlu akan Roh esensial atau Roh ekonomikal, kita harus berkata, ”Amin! Dalam perjanjian itu aku memiliki Roh esensial dan Roh ekonomikal. Semua yang ku perlukan telah diwariskan kepadaku.”

CATATAN LUKAS MENGENAI BAPTISAN

DALAM ROH KUDUS

Catatan Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul mengenai baptisan dalam Roh Kudus itu jelas dan lengkap. Catatan ini, tentunya, ditemukan di berbagai tempat dalam dua puluh delapan pasal dari kitab Kisah Para Rasul. Karena hal ini, kita perlu mempelajari kitab ini dengan teliti sehubungan dengan baptisan dalam Roh Kudus.

Meskipun dalam kitab Kisah Para Rasul ada banyak perkara keselamatan mereka, hanya ada dua perkara yang disebut baptisan dalam Roh Kudus. Seperti yang telah kita lihat, perkara yang pertama adalah perkara kaum beriman Yahudi pada hari Pentakosta; perkara yang kedua adalah perkara rumah Kornelius. Dua perkara ini dipakai oleh Sang Kepala di surga untuk melaksanakan baptisan Tubuh-Nya dalam Roh Kudus.

Digenapkan dalam Dua Bagian

Mengenai baptisan dalam Roh Kudus, Tuhan Yesus berkata dalam 1:5, ”Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Ini digenapi dalam dua tahap: (1) semua orang beriman Yahudi dibaptis dalam Roh Kudus pada hari Pentakosta (2:4) dan (2) semua orang beriman bukan Yahudi dibaptis di rumah Kornelius (10:44-47; 11:15-27). Dalam dua tahap ini semua orang beriman sejati dalam Kristus telah dibaptis dalam Roh Kudus ke dalam satu Tubuh Kristus, sekali un-tuk selamanya secara universal (1 Kor. 12:13). Karena itu, apa yang terjadi pada hari Pentakosta dan di rumah Kornelius adalah penggenapan dari Kisah Para Rasul 1:5.

Perkataan Petrus dalam Kisah Para Rasul 11 membuktikan bahwa apa yang terjadi di rumah Kornelius adalah langkah yang kedua dalam pembaptisan Tubuh Kristus dalam Roh Kudus satu kali untuk selamanya. Petrus berkata, ”Ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti ke atas kita dahulu. Lalu teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (ay. 15-16). Karena itu, catatan dalam kitab Kisah Para Rasul dengan tegas menunjukkan bahwa hanya dua perkara inilah yang dianggap baptisan dalam Roh Kudus. Dalam dua kejadian ini Sang Kepala sendiri melakukan sesuatu secara langsung terhadap Tubuh-Nya. Tidak ada kelompok yang ketiga, tidak ada pengantara, di antara Sang Kepala dan Tubuh.

Tiga Perkara yang Luar Biasa

Kaum Beriman Samaria

Sewaktu kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa Lukas menggambarkan tiga perkara yang luar biasa mengenai menerima Roh Kudus secara ekonomikal. Perkara yang pertama mengenai kaum beriman Samaria. Di pandangan kaum beriman Yahudi, kaum ber-iman Samaria itu adalah orang asing. Karena latar belakang mereka, kaum beriman Yahudi sulit mengakui kaum beriman Samaria. Karena itu, dalam perkara yang luar biasa ini Sang Kepala melakukan sesuatu untuk menun-jukkan dan meneguhkan bahwa Dia telah menerima kaum beriman Samaria sebagai anggota-anggota Tubuh-Nya. Maka, daripada melakukan sesuatu secara langsung sehubungan dengan Roh ekonomikal, Kristus Sang Kepala menahan Roh ekonomikal itu sampai dua orang rasul, Petrus dan Yohanes, datang dari Yerusalem ke Samaria untuk menumpangkan tangan mereka atas kaum beriman Samaria supaya mereka dapat menerima Roh Kudus (8:14-17). Hanya dengan demikian Roh ekonomikal turun ke atas mereka, dan itu adalah bukti yang kuat bahwa kaum beriman Samaria telah diterima sebagai anggota-anggota Tubuh. Dalam perkara yang luar biasa ini perlu ada penumpangan tangan oleh seorang anggota dari Tubuh Kristus.

Saulus dari Tarsus

Perkara luar biasa yang kedua adalah perkara Saulus dari Tarsus, yang adalah seorang pemimpin penganiaya pengikut Yesus. Kita telah melihat perkara ini dengan rinci. Di sini kita akan menunjukkan kembali bahwa karena Saulus seorang penganiaya yang demikian dan diselamatkan secara langsung oleh Tuhan bukan melalui pemberitaan kaum beriman mana pun, maka tidak ada seorang pun yang percaya bahwa ia telah menjadi seorang anggota Tubuh Kristus. Jadi, dalam perkaranya ini perlu ada anggota Tubuh lainnya menumpangkan tangan ke atasnya, supaya Roh ekonomikal dapat turun ke atasnya. Perkara Saulus yang luar biasa ini perlu penumpangan tangan oleh seorang yang mewakili Tubuh.

Kaum Beriman di Efesus

Perkara luar biasa yang ketiga yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul adalah perkara kaum beriman di Efesus (19:1-7). Mengenai kaum beriman itu, perlu ada pemberesan kekurangan dalam ministri Apolos. Ministrinya kekurangan wahyu yang lengkap tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Karena kaum beriman itu hanya mendengar pemberitaan Apolos yang tidak memadai dan hanya mengenal baptisan Yohanes, maka mereka juga memerlukan penumpangan tangan seorang anggota Tubuh untuk menerima Roh ekonomikal. Tiga perkara luar biasa yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul ini menyingkapkan satu keperluan khusus akan penumpangan tangan oleh seorang anggota Tubuh.

Perkara-perkara yang Normal tentang

Menerima Roh Kudus

Selain perkara kaum beriman pada hari Pentakosta, kaum beriman Samaria, Saulus dari Tarsus, rumah Kornelius, dan kaum beriman di Efesus, ada banyak perkara pertobatan lainnya yang terdapat di seluruh kitab Kisah Para Rasul ini. Tidak ada dari perkara-perkara itu yang menyebutkan tentang penumpangan tangan untuk menerima Roh ekonomikal. Alasan untuk hal ini adalah bahwa semua perkara itu normal. Tetapi, pengajaran Pentakosta tertentu pada hari ini berusaha untuk membuat setiap perkara sebagai perkara yang luar biasa. Tetapi berbeda dengan perkara kaum beriman Samaria, Saulus dari Tarsus, dan kaum beriman di Efesus, kita bukanlah perkara yang luar biasa yang memerlukan penumpangan tangan. Tetapi, dengan normal dan oleh iman kita berbagian dalam baptisan Roh Kudus yang telah digenapkan oleh Sang Kepala atas Tubuh, sekali untuk selamanya.