← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 3/23

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(22)

Pembacaan Alkitab: Kis. 10:34-48

Dalam berita ini kita akan meliput tiga hal: Berita Petrus kepada orang-orang yang berkumpul di rumah Kornelius (ay. 34-43); turunnya Roh Kudus di rumah Kornelius baptisan Roh Kudus kaum beriman Kafir (ay. 44-46); dan baptisan air keluarga Kornelius (ay. 47-48).

BERITA PETRUS

Tuhan dari Semua Orang

Kisah Para Rasul 10:34-36 mengatakan,”Lalu mulailah Petrus berbicara: Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia sampaikan kepada orang-orang Israel ketika Ia memberitakan damai sejahtera melalui Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.” Pertama, Petrus mengatakan bahwa Allah tidak membedakan orang. Kemudian ia melanjutkan mengatakan bahwa di setiap bangsa, orang-orang yang takut kepada Allah dan mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Mereka yang takut kepada Allah dan mengamalkan kebenaran di setiap negara, tetap merupakan bagian dari umat manusia yang jatuh. Allah menerima mereka karena penebusan Kristus. Di luar Kristus, tidak ada satu pun manusia jatuh yang bisa dibenarkan berdasarkan perbuatannya (Rm. 3:20; Gal. 2:16).

Dalam Kisah Para Rasul 10:36 Petrus mengumumkan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dari semua orang. ”Semua orang” mengacu kepada manusia (1 Tim. 2:4), tidak hanya orang Yahudi tetapi juga orang-orang Kafir. Perkataan Petrus di sini menunjukkan bahwa ia sekarang menyadari bahwa Allah telah membuat Kristus menjadi Tuhan bagi orang-orang Yahudi dan orang-orang Kafir. Dia tidak membedakan orang.

Kehidupan dan Ministri Tuhan Yesus

Dalam berita ini Petrus juga membicarakan kehidupan dan ministri Tuhan Yesus ketika Dia berada di bumi. Ia mengatakan kepada orang-orang yang ada di rumah Kornelius, bahwa mereka tahu firman yang Allah ”sampai-kan kepada orang-orang Israel ketika Ia memberitakan damai sejahtera melalui Yesus Kristus . . . segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: Bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai

Iblis, sebab Allah menyertai Dia” (ay. 36-38). Kata-kata ”segala sesuatu yang terjadi” dalam bahasa aslinya adalah perkataan (firman) yang telah tersebar. ”firman” disini mengacu kepada perkataan-perkataan seketika. Dalam ayat-ayat ini Petrus menunjukkan bahwa Tuhan Yesus melakukan mujizat-mujizat untuk menyelamatkan dan membebaskan orang-orang yang berada di bawah kekangan Iblis.

Kebangkitan Kristus

Dalam ayat 39-41 Petrus membicarakan kebangkitan Kristus: ”Kamilah saksi-saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di negeri orang Yahudi maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dengan menggantung Dia pada kayu salib. Allah telah membangkitkan Dia pada hari yang ketiga, dan memperkenankan Dia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa itu, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.” Kalimat ”menampakkan diri” dalam ayat 40 secara harfiah berarti ”menjadi terlihat.” Dalam ayat 40 Petrus mengatakan bahwa Allah membangkitkan Dia, tetapi dalam ayat 41 ia berkata bahwa Tuhan bangkit dari antara orang mati. Mengenai Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Rm. 8:11). Tetapi mengenai Dia sebagai Allah, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Dia sendiri bangkit dari antara orang mati (Rm. 14:9).

Hakim atas Orang-orang Hidup dan Orang-orang Mati

Dalam Kisah Para Rasul 10:42 Petrus melanjutkan berkata, ”Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa itu, dan bersaksi bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.” Di sini kita melihat bahwa Kristus telah ditunjuk menjadi Hakim atas seluruh umat manusia. Dia akan menghakimi orang-orang hidup dan orang-orang mati. Pada kedatangan-Nya kembali, sebelum masa seribu tahun, Kristus yang bangkit akan menghakimi orang-orang hidup di atas takhta kemuliaan-Nya (Mat. 25:31-46). Ini berhubungan dengan kedatangan-Nya yang kedua (2 Tim. 4:1). Setelah masa seribu tahun, Dia masih akan menghakimi orang-orang mati di atas takhta putih besar (Why. 20:11-15).

Pengampunan Dosa

Dalam 10:43 dikatakan, ”Tentang Dialah semua nabi bersaksi bahwa siapa saja yang percaya kepada-Nya, akan mendapat pengampunan dosa melalui nama-Nya.” Ini membuktikan bahwa walaupun Kornelius takut akan Allah dan mengamalkan kebenaran, doa dan sedekahnya juga diterima oleh Allah, dia masih perlu pengampunan Allah atas dosa melalui percaya ke dalam Kristus, Sang Penebus. Kornelius adalah seorang saleh, tetapi ia masih perlu pengampunan dosa. Meskipun ia itu saleh, ia tidak dapat mengatakan bah-wa ia tidak berdosa. Jadi, ia saleh, tetapi masih tetap penuh dosa. Karena itu, ia perlu penebusan dan pengampunan.

TURUNNYA ROH KUDUS DI RUMAH KORNELIUS —

BAPTISAN ROH KUDUS KAUM BERIMAN KAFIR

Kisah Para Rasul 10:44 mengatakan, ”Sementara Petrus berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.” ”Mendengar”di sini termasuk percaya ke dalam Tuhan (ay. 43; Yoh. 5:24; Rm. 10:14; Ef. 1:13).

Roh yang Almuhit

Sewaktu Petrus sedang berbicara, Roh itu turun ke atas orang-orang yang ada di rumah Kornelius. Tidak diragukan lagi, Roh itu adalah Roh yang almuhit. Setelah Roh yang almuhit turun ke atas rumah Kornelius, mereka mulai berkata-kata dalam bahasa lidah dan memuliakan Allah (ay. 46). Di sini memuliakan Allah adalah mengagungkan Allah. Ketika Petrus dan orang-orang yang bersama dengan dia melihat apa yang telah terjadi, mereka tahu bahwa orang-orang yang ada di rumah Kornelius itu tidak boleh dilarang untuk dibaptis dalam air (ay. 47).

Roh Kudus turun ke atas orang-orang yang mendengar firman di rumah Kornelius secara luaran dan secara ekonomikal. Dalam kasus di rumah Kornelius, Roh Kudus di aspek esensial masuk ke dalam kaum beriman menjadi hayat dan di aspek ekonomikal turun ke atas mereka menjadi kekuatan, terjadi serentak saat mereka percaya kepada Tuhan. Tetapi di sini hanya mencatat Roh Kudus di aspek ekonomikal turun ke atas mereka, karena ini adalah yang di luar, maka orang lain dapat mengetahuinya dari fakta mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan memuliakan Allah. Roh Kudus masuk ke dalam mereka dengan tanpa suara dan tak terlihat. Sebelum mereka dibaptis dalam air oleh anggota Tubuh Kristus yang lain, mereka langsung menerima kedua aspek Roh Kudus dari Kristus, Sang Kepala Tubuh, tanpa perantara mana pun. Ini dengan tegas menunjukkan bahwa perluasan Injil Kerajaan Allah kepada orang-orang Kafir berasal dari Tuhan, dan Kepala Tubuh membaptis mereka ke dalam Tubuh-Nya secara langsung, tanpa penumpangan tangan anggota Tubuh mana pun. Hal ini berbeda dengan kasus kaum beriman Samaria dan Saulus dari Tarsus (8:17; 9:17) yang perlu penumpangan tangan anggota Tubuh yang lain.

Karunia Roh Kudus

Kisah Para Rasul 10:45 mengatakan, ”Semua orang per-caya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat karunia, yaitu Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga.” Di sini, karunia ini adalah Roh Kudus itu sendiri, bukan sesuatu dari Roh Kudus yang diberikan kepada kaum beriman sebagai karunia. Mereka tidak menerima karunia apa pun yang diberikan oleh Roh itu, seperti yang disebutkan dalam Roma 12:6; 1 Korintus 12:4; dan 1 Petrus 4:10. Tetapi mereka menerima karunia yang adalah Roh Kudus itu sendiri, yang diberikan Allah kepada kaum beriman dalam Kristus sebagai karunia unik yang menghasilkan semua karunia yang disebutkan dalam Roma 12, 1 Korintus 12, dan 1 Petrus 4.

Kisah Para Rasul 10:45 membicarakan tentang pencurahan karunia Roh Kudus. Karunia ini dicurahkan oleh Allah dari Kristus yang almuhit, bangkit, dan naik ke surga.

Pencurahan Roh itu setelah kenaikan Kristus adalah turunnya Kristus yang bangkit dan naik sebagai Roh yang almuhit untuk melaksanakan ministri surgawi-Nya di bumi guna membangun gereja-Nya (Mat. 16:18) sebagai Tubuh-Nya (Ef. 1:23) bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Berkata-kata dalam Bahasa Lidah dan Memuliakan Allah

Kisah Para Rasul 10:46 melanjutkan, ”Sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa lidah dan memuliakan Allah.” Berkata-kata dalam bahasa lidah bukan satu-satunya hasil dari menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal, karena dalam kasus ini mengagungkan Allah, yaitu memuji Allah, juga merupakan salah satu hasilnya, seperti bertutur sabda dalam kasus kedua belas orang beriman di Efesus (19:6). Karena itu, berkata-kata dalam bahasa lidah bukan bukti satu-satunya dari menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal; juga bukan bukti yang diharuskan, karena paling sedikit ada satu kasus tentang menerima Roh Kudus diaspek ekonomikal, yang tidak menyebut berkata-kata dalam bahasa lidah yaitu kasus kaum beriman Samaria. Dalam kasus Saulus dari Tarsus (9:17) juga tidak disebutkan tentang berkata-kata dalam bahasa lidah, walaupun di kemudian hari dia memberi tahu kita bahwa dia juga berkata-kata dalam bahasa lidah (1 Kor. 14:18).

Baptisan Roh Kudus

Seperti para rasul dan kaum beriman Yahudi sebermula pada hari Pentakosta (2:4), Kaum beriman kafir dalam rumah Kornelius menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal langsung dari Kepala yang naik ke surga. Dalam Perjanjian Baru hanya kedua contoh ini yang dianggap sebagai baptisan dalam Roh Kudus (1:5; 11:15-16). Dengan kedua langkah ini, Kepala Tubuh membaptis semua orang beriman-Nya, baik orang Yahudi maupun orang Kafir, sekali untuk selamanya ke dalam Tubuh-Nya (1 Kor. 12:13). Karena itu, baptisan di dalam Roh Kudus adalah fakta yang sudah rampung, di-rampungkan oleh Kristus dalam kenaikan-Nya pada hari Pentakosta dan dalam rumah Kornelius. Menurut wahyu Perjanjian Baru, tidak ada kasus lainnya kaum beriman Samaria dalam pasal 8, Saulus dari Tarsus dalam pasal 9, dan kedua belas orang beriman Efesus dalam pasal 19 yang dapat dianggap sebagai baptisan dalam Roh Kudus. Kasus-kasus ini hanyalah pengalaman kaum beriman terhadap baptisan dalam Roh Kudus yang sudah digenapkan sekali untuk selamanya.

Tentang kaum beriman menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal, yaitu, turunnya Roh Kudus ke atas mereka, kitab Kisah Para Rasul hanya membicarakan lima kasus. Dua di antaranya adalah untuk penggenapan baptisan Roh Kudus, masing-masing terjadi pada hari Pentakosta dan di rumah Kornelius. Ketiga kasus lainnya kaum beriman Samaria, Saulus dari Tarsus, dan kedua belas orang beriman di Efesus dianggap istimewa karena beberapa anggota Tubuh Kristus diperlukan untuk membawa kaum beriman itu bersatu dengan Tubuh melalui penumpangan tangan. Selain kelima kasus ini, masih banyak kasus keselamatan, seperti keselamatan tiga ribu orang (2:41), lima ribu orang (4:4); pejabat istana dari Etiopia (8:36, 38-39a), orang banyak yang percaya di Antiokia (11:20-21, 24), contoh-contoh di bawah ministri pemberitaan Paulus dalam pasal 13 dan 14, Lidia di Filipi (16:14-15), kepala penjara di Filipi (16:33), kaum beriman di Tesalonika (17:4), kaum beriman di Berea (17:10-12), kaum beriman di Atena (17:34), kepala sinagoga dan banyak orang beriman lainnya di Korintus (18:8), kaum beriman di Efesus (19:18-19), tidak disinggung tentang kaum beriman menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal, yaitu turunnya Roh Kudus ke atas kaum beriman. Karena dalam semua kasus itu kaum beriman dibawa masuk ke dalam Tubuh Kristus dengan normal melalui percaya, dan tidak perlu seorang anggota Tubuh Kristus secara khusus mem-awa mereka ke dalam kesatuan dengan Tubuh melalui penumpangan tangan. Menurut prinsip ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka semua telah menerima Roh Kudus menjadi hayat di aspek esensial dan menjadi kuasa di aspek eko-nomikal dengan normal melalui mereka percaya ke dalam Kristus.

BAPTISAN AIR DI RUMAH KORNELIUS

Dalam ayat 47 Petrus menjawab, ”Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?” Kemudian dalam ayat selanjutnya Petrus menyuruh orang-orang di rumah Kornelius untuk ”dibaptis dalam nama Yesus Kristus.” Ini menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan baptisan air, yang melambangkan kesatuan kaum beriman dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3-5; Kol. 2:12), sama seperti memperhatikan baptisan Roh. Baptisan Roh menghasilkan realitas dari kesatuan kaum beriman dengan Kristus dalam hayat diaspek esensial, dan dalam kuasa diaspek ekonomikal; baptisan air adalah pemastian kaum beriman atas realitas dari Roh itu. Keduanya diperlukan, dan tidak bisa saling menggantikan. Seluruh kaum beriman dalam Kristus seharusnya secara tepat memiliki keduanya dengan tepat.

Kornelius dan keluarganya dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup nama Yesus Kristus yang di dalamnya ada realitas baptisan itu.

”Nama” dalam ayat 48 mengacu kepada persona. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus berarti dibaptis ke dalam persona Kristus (Rm. 6:3; Gal. 3:27), yang juga berarti dibaptis ke dalam ruang lingkup persona-Nya.

SANG KEPALA TUBUH MEMBAPTIS TUBUH DALAM ROH KUDUS SEKALI UNTUK SELAMANYA

Dalam berita ini kita telah melihat sejumlah perkara, tetapi perkara utama yang perlu kita lihat adalah Kepala Tubuh menggenapkan baptisan Tubuh-Nya ke dalam Roh yang almuhit, yang sebenarnya adalah diri-Nya sendiri. Kita telah menunjukkan bahwa pada hari Pentakosta, Kristus, Kepala Tubuh, membaptis kaum beriman Yahudi ke dalam Roh itu. Itu adalah langkah yang pertama, kejadian yang pertama dari Kristus membaptis Tubuh ke dalam Roh itu. Kemudian di rumah Kornelius, Dia sebagai Kepala Tubuh, membaptis semua orang beriman Kafir ke dalam Roh itu. Ini adalah langkah yang kedua, kejadian yang kedua. Oleh dua langkah ini, dua kejadian ini, Kristus, Kepala Tubuh, membaptis seluruh Tubuh-Nya ke dalam Roh itu.

Selama lebih dari lima puluh tahun kita telah mempelajari perkara baptisan ke dalam Roh Kudus ini. Pada tahun 1933, Saudara Watchman Nee dan saya mengadakan satu pembahasan yang menyeluruh mengenai hal ini. Kami juga melihat bahwa dari lima perkara tentang Roh Kudus turun ke atas orang-orang kudus dalam kitab Kisah Para Rasul, hanya dua yang disebut baptisan Roh itu. Seperti yang telah kita lihat, yang pertama adalah kaum beriman Yahudi pada hari Pentakosta, dan yang kedua adalah perkara kaum ber-iman Kafir di rumah Kornelius. Dua Kejadian ini adalah dua langkah dari penggenapan baptisan Roh Kudus. Ketiga per-kara lainnya tentang Roh Kudus turun ke atas kaum beriman-kaum beriman Samaria, Saulus dari Tarsus, dan kaum beriman di Efesus tidak disebut baptisan dalam Roh Kudus. Selain itu, dalam banyak perkara pertobatan yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul, tidak disebutkan Roh Kudus turun ke atas kaum beriman secara ekonomikal. Kiranya kita semua melihat bahwa dalam kitab Kisah Para Rasul hanya ada dua kejadian yang disebut baptisan dalam Roh Kudus dan bahwa melalui dua kejadian ini Kristus sebagai Kepala Tubuh menggenapkan baptisan Tubuh-Nya ke dalam Roh Kudus sekali untuk selamanya.