PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(21)
Pembacaan Alkitab: Kis. 10:1-33
KESUKSESAN MINISTRI PETRUS
Menjelang akhir pasal 9, Tuhan telah melakukan banyak hal untuk mempersiapkan jalan bagi Petrus guna membuka pintu bagi bangsa Kafir, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kisah Para Rasul 9:31 menunjukkan kesuksesan ministri Petrus: ”Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.” Di sini kita melihat bahwa gereja-gereja telah didirikan dengan kuat di tiga propinsi Yudea, Galilea, dan Samaria. Ini menunjukkan bahwa ministri Petrus dalam perkembangbiakan Kristus yang bangkit itu sangat sukses di tanah Yahudi. Tanah ini bukan hanya mencakup Yudea, tetapi juga Galilea dan Samaria (daerah di antara Yudea dan Galilea). Melalui ministri Petrus, daerah yang disebut tanah kudus itu dipenuhi dengan gereja-gereja.
Menurut 9:32-43, Petrus digerakkan Tuhan ke Kaisarea, yang adalah pusat pemerintahan Romawi yang kuat. Di Kaisarea hidup seorang yang bernama Kornelius. Di sini kita melihat persiapan Tuhan guna membuka pintu bagi bangsa Kafir untuk masuk ke dalam kehidupan gereja.
Dalam Matius 16:19 Tuhan Yesus memberikan kunci kerajaan kepada Petrus. Pada hari Pentakosta Petrus memakai yang pertama dari kunci ini untuk membuka pintu bagi orang Yahudi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Seperti yang akan kita lihat, dalam Kisah Para Rasul 10, Petrus memakai kunci yang kedua untuk membuka pintu Kerajaan Allah bagi bangsa Kafir.
SATU LANGKAH YANG LEBIH JAUH DALAM PEKERJAAN PEMBERITAAN INJIL TUHAN
Kisah Para Rasul 10:1-2 mengatakan, ”Di Kaisarea ada seorang laki-laki yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia beserta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.” Kata ”pasukan Italia” mengacu kepada salah satu da-ri sepuluh divisi pasukan Roma pada zaman kuno. Satu divisi ini terdiri atas 600 prajurit. Seperti pejabat istana Etiopia, Kornelius, perwira pasukan Romawi, mencari Allah, sebagaimana disebut oleh Paulus dalam 17:27.
Dalam 10:1 kita melihat bahwa Tuhan lebih maju selangkah lagi dalam pekerjaan Injil-Nya. Melalui ini Dia mencapai seorang Kafir murni, seorang Itali dari Kekaisaran Romawi di Eropa. Demikianlah, pintu Injil terbuka kepada semua orang Kafir. Sulit bagi para rasul dan murid Yahudi yang berlatar belakang dan kebiasaan Yahudi untuk mendekati orang-orang bukan Yahudi (ay. 28). Karena itu, ini adalah pergerakan yang luar biasa, yang memerlukan partisipasi malaikat Allah (ay. 3), seperti ketika Filipus men-datangi orang Etiopia dari Afrika dalam 8:26. Dalam kedua kasus ini, Roh itu secara khusus berbicara kepada Filipus dan kepada Petrus (8:29; 10:19).
Tuhan berdaulat atas segala situasi dunia. Apa yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 10 pasti menurut kedaulatan Tuhan. Di Kaisarea, satu kota yang penting bagi pemerintah Romawi, ada seorang perwira yang bernama Kornelius. Kornelius bukan hanya seorang yang baik dan bermoral, tetapi juga seorang yang saleh, seorang yang mencari Allah. Sejak adanya manusia, selalu ada orang-orang saleh yang mencari Allah. Kornelius berada dalam kategori ini. Ia dan semua orang dari keluarganya takut akan Allah dan saleh. Kisah Para Rasul 10:7 bahkan membicarakan tentang seorang prajurit yang saleh. Ini menunjukkan bahwa dalam rumah tangga Kornelius ada suatu atmosfir yang saleh. Dalam Kisah Para Rasul 10 kita melihat macam orang yang dipakai Allah untuk membuka jalan bagi Kerajaan Allah kepada dunia Kafir.
PENGLIHATAN (VISI) AKAN SEORANG MALAIKAT
Kisah Para Rasul 10:3-4 mengatakan, ”Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, ia melihat dengan jelas seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: Kornelius! Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: Ada apa, Tuan? Jawab malaikat itu kepadanya: Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.” Walaupun seperti yang lainnya, Kornelius adalah bagian dari umat manusia yang jatuh, penuh dosa, dan dihakimi di hadapan Allah, namun Allah menerima doa dan sedekahnya; sedangkan persembahan Kain ditolak (Kej. 4:3, 5). Ini pasti karena Al-lah berdasarkan penebusan kekal Kristus dan pandangan bahwa Kornelius di kemudian hari percaya kepada Kristus, lalu menurut kemahatahuan-Nya yang lebih dini mengampuni dia (ay. 43).
Menurut 10:3, seorang malaikat Allah menampakkan diri kepada Kornelius dan berbicara kepadanya. Seorang malaikat juga dipakai Allah dalam perkara pejabat istana Etiopia. Dalam perkara itu, ”berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza” (8:26). Malaikat-malaikat dalam dua peristiwa ini menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah yang luar biasa. Pemberitaan Injil kepada pejabat istana Etiopia adalah membawa Injil kepada seorang Kafir. Demikian juga, pemberitaan Injil kepada rumah Kornelius adalah pemberitaan Injil kepada keluarga Kafir. Karena ini adalah peristiwa yang luar biasa, maka seorang malaikat dilibatkan. Tetapi, baik dalam peristiwa pejabat istana Etiopia maupun Kornelius dan rumah tangganya itu, bukan kepada malaikat diamanatkan untuk memberitakan Injil. Alasan untuk ini adalah bahwa hanya orang yang telah percaya Tuhan Yesus yang memiliki hak istimewa untuk membawa kabar baik kepada orang lain.
PENTINGNYA DOA
Setelah penglihatan Kornelius (10:1-8), kita memiliki penglihatan Petrus (10:9-16). Kisah Para Rasul 10:9 mengatakan, ”Keesokan harinya kira-kira tengah hari ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.” Kornelius mendapatkan penglihatan (visi) dalam doa, Petrus juga mendapatkan visi (ay. 17, 19) dalam doa. Melalui doa mereka, rencana dan pergerakan Allah terlaksana. Doa manusia diperlukan sebagai sarana bekerja sama dengan pergerakan Allah.
Dalam Kisah Para Rasul pasal 10 ada satu penekanan yang kuat tentang pentingnya doa. Pertama kita memiliki doa Kornelius dan kemudian doa Petrus. Doa-doa dari dua orang ini menjadi sarana bagi Tuhan untuk masuk membuka pintu bagi bangsa Kafir. Sewaktu Kornelius, seorang yang saleh, sedang berdoa, suatu penglihatan datang kepadanya. Demikian juga, sewaktu Petrus sedang berdoa, penglihatan yang tercatat dalam pasal ini datang kepadanya. Dari hal ini kita melihat bahwa kita semua perlu belajar memiliki satu kehidupan doa, karena kehidupan doa selalu mempersiapkan jalan bagi pergerakan Tuhan dan membuka pintu bagi-Nya untuk menyebar. Sebagai orang-orang yang berada di sini bagi pemulihan Tuhan, kita harus belajar bahwa Tuhan hanya dapat memakai orang-orang yang memiliki satu kehidupan doa, satu kehidupan yang berkontak dengan Dia dalam doa.
Kita tidak diberi tahu untuk apakah Kornelius dan Petrus berdoa. Tetapi, catatan ini benar-benar menunjukkan bahwa mereka menyisihkan waktu tertentu untuk berdoa, bahwa mereka berdoa menurut suatu jadwal. Kisah Para rasul 10:3 mengatakan bahwa Kornelius berdoa pada jam yang kesembilan, jam tiga petang, dan 10:9 mengatakan bahwa Petrus berdoa pada jam yang keenam, jam dua belas siang. Dari hal ini kita melihat bahwa mereka memiliki satu kehidupan doa dan bahkan berdoa pada waktu-waktu yang telah dijadwalkan. Jika kita di dalam pemulihan Tuhan memiliki kehidupan doa yang demikian menurut waktu-waktu yang dijadwalkan, kita akan dipakai oleh Dia dalam membuka jalan bagi penyebaran pemulihan-Nya.
PENGLIHATAN PETRUS
TENTANG SEBUAH KAIN LEBAR
Menurut 10:10 Petrus, ”merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi.” Di sini Petrus lapar melambangkan mencari perkara-perkara Allah (Mat. 5:6). Allah memenuhi orang yang lapar dengan hal-hal yang baik (Luk. 1:53). Kata ”makan” dalam bahasa aslinya biasanya diartikan ”mengecap citarasa.”
Mengalami Trans
Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”diliputi kuasa ilahi” berarti trans, meninggalkan tempatnya. Ini mengacu kepada keadaan orang yang dalam perasaannya keluar dari dirinya, lalu kembali lagi kepada dirinya (12:11), seperti dalam mimpi, tetapi belum tidur. Ini berbeda dengan visi, dalam ayat 3, 17, dan 19. Dalam visi, kita bisa melihat obyek yang tegas. Namun di sini, Petrus mengalami trans, dan ia melihat visi (11:5).
Penyebaran Injil
Dalam keadaan trans, Petrus ”melihat langit terbuka dan turunlah sesuatu seperti kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata dan burung” (ay. 11-12). Langit terbuka dalam ayat 11 menunjukkan bahwa pergerakan Injil Tuhan di bumi berada di bawah pengendalian takhta administrasi-Nya di surga (lihat Ibr. 8:1; Kis. 7:56). Semua rasul dan penginjil dari zaman dahulu sampai sekarang masih melaksanakan amanat surgawi di bumi, menyebarkan Injil Kerajaan Allah.
Berbagai Macam Manusia
Ayat 11 mengatakan bahwa ada sesuatu seperti kain lebar yang turun dari langit. Sesuatu ini melambangkan penyebaran Injil ke empat penjuru bumi untuk mengumpulkan berbagai macam orang yang najis (berdosa) (Luk.13:29). Binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung yang disebutkan dalam ayat 12 melambangkan berbagai macam manusia.
Kisah Para Rasul 10:13 mengatakan, ”Lalu kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Dalam tanda ini, makan berarti berhubungan dengan orang (ay. 28).
Dalam ayat 14 Petrus menjawab, ”Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis.” Petrus tidak makan sesuatu yang haram dan tidak tahir adalah menurut pengajaran dalam Imamat 11. Sunat, pemeliharaan hari Sabat, dan jenis makanan khusus adalah tiga ketetapan terkuat menurut hukum Musa, yang membedakan dan memisahkan orang-orang Yahudi dari orang-orang Kafir yang dianggap najis oleh orang Yahudi. Semua ketetapan kitab suci zaman Perjanjian Lama ini menjadi penghalang perluasan Injil kepada orang-orang Kafir menurut zaman Perjanjian Baru Allah (15:1; Kol. 2:16).
Kisah Para Rasul 10:15 melanjutkan, ”Kedengaran lagi untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya, ”Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Ini mengacu kepada orang yang telah Allah ber-sihkan melalui penebusan darah Kristus (Why. 1:5).
PERALIHAN ZAMAN
Dalam Kisah Para Rasul pasal 10 kita melihat satu perkara penting yang berhubungan dengan ekonomi Allah perlunya suatu peralihan zaman. Dalam Perjanjian Lama, ekonomi Allah ada dalam zaman gambar-gambar, lambang-lambang, dan nubuat-nubuat. Sama sekali tidak ada penggenapan ekonomi Allah dalam Perjanjian Lama. Akhirnya Allah Tritunggal datang untuk menggenapkan segala sesuatu yang dituntut oleh kebenaran, kekudusan, dan kemuliaan Allah untuk merampungkan ekonomi-Nya. Bukan hanya Putra yang datang tetapi Putra bersama Bapa dan melalui Roh itu. Perampungan ekonomi Allah adalah penya-luran diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, supaya Dia dapat dibaurkan seluruhnya dengan keinsanian untuk membangun satu tempat kediaman kekal bagi-Nya dan bagi umat pilihan-Nya, sehingga Dia dapat memiliki satu ekspresi yang sempurna dari diri-Nya sendiri dalam kekekalan.
Karena Allah datang dalam Trinitas-Nya untuk menggenapkan segala sesuatu yang diperlukan agar Dia dapat merampungkan ekonomi-Nya, terjadilah suatu peralihan zaman. Di satu pihak, Allah tidak dapat menghindar untuk memakai orang Yahudi bagi peralihan ini. Di pihak lain, Yudaisme adalah halangan yang paling kuat bagi peralihan ini. Kita dapat melihat dalam keempat kitab Injil bahwa ada suatu pergumulan, konfrontasi, antara Yudaisme dengan Tuhan Yesus. Tuhan datang untuk memulai peralihan itu, yaitu memulai perubahan. Tetapi Yudaisme berusaha meng-gagalkan perubahan ini. Pergumulan yang dimulai dalam kitab-kitab Injil ini berlanjut dalam kitab Kisah Para Rasul.
Bahkan orang-orang pilihan Tuhan seperti Petrus, Yohanes, dan Yakobus tidak jelas mengenai perlunya suatu peralihan yang mutlak dan menyeluruh. Jawaban Petrus atas penglihatan dari kain lebar yang turun dari langit itu menunjukkan hal ini. Petrus sangat baik dalam memelihara waktu doa. Tetapi ketika Tuhan menghendakinya pergi kepada bangsa-bangsa Kafir dan bergaul dengan mereka, itu menjadi satu masalah bagi Petrus.
Berdasarkan latar belakang Yahudinya, Petrus tidak mau bergaul dengan bangsa-bangsa Kafir. Bagi orang Yahudi, bergaul dengan bangsa Kafir itu seperti makan ma-kanan yang tidak tahir. Makan sesuatu adalah mengambil sesuatu itu masuk ke dalam kita dan membuatnya menjadi satu dengan kita. Petrus menolak memakan barang-barang yang tidak tahir yang ada di dalam kain lebar yang turun dari langit itu adalah suatu gambaran dari ketidakrelaan orang-orang Yahudi untuk menerima bangsa-bangsa Kafir dan menjadi satu dengan mereka. Orang Yahudi mana pun yang mau pergi kepada bangsa-bangsa Kafir dan menjadi satu dengan mereka, akan menjadi seperti orang yang makan barang-barang yang tidak tahir.
Kita telah menunjukkan bahwa sunat, pemeliharaan hari Sabat, dan jenis makanan khusus adalah tiga ketetapan terkuat menurut hukum Musa, yang membedakan dan memisahkan orang-orang Yahudi dari orang-orang Kafir yang dianggap najis oleh orang Yahudi. Terhadap ketetapan ini orang Yahudi yang konservatif sangat tegas. Menurut Efesus 2:15, ketetapan-ketetapan dari hukum Taurat ini telah ditiadakan oleh kematian Tuhan di atas salib. Dia telah me-niadakan sunat, memelihara hari Sabat, dan tentang makan-an. Tetapi, meskipun Tuhan telah meniadakan ketetapan-ke-tetapan ini, Petrus masih tetap memegangnya.
PETRUS DIUJI OLEH TUHAN
Dalam Kisah Para Rasul 10 Tuhan Yesus menguji Petrus. Sewaktu Petrus sedang berdoa, ia mengalami trans. Ini berarti Petrus berada dalam satu keadaan, merasa keluar dari dirinya. Sewaktu ia berada dalam keadaan demikian, trans, suatu penglihatan datang kepadanya. Ia melihat sesuatu seperti kain lebar turun dari langit, dan di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung-burung di langit. Petrus pasti sangat terkejut nampak penglihatan ini. Kemudian suatu suara berkata kepadanya, ”Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!” (ay. 13). Petrus menjawab dengan berkata, ”Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis” (ay. 14). Di sini Petrus seolah-olah berkata, ”Tuhan, aku tidak dapat makan barang-barang ini. Aku belum pernah makan sesuatu yang haram. Apa pun yang aku makan, Tuhan, pasti kudus. Aku hanya dapat memakan makanan-makanan yang dikuduskan.”
Jawaban Petrus menunjukkan bahwa Tuhan sulit mengalihkan Petrus. Karena kesulitan ini, maka penglihatan itu perlu terjadi sampai tiga kali: ”Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit” (ay. 16). Seperti halnya Petrus, kita juga mungkin sulit beralih pada hari ini, karena angan-angan kita masih berada di bawah pengaruh tradisi agama.
ROH ITU BERBICARA KEPADA PETRUS
DAN PETRUS PERGI KE KAISAREA
Dalam 10:17-33 kita memiliki catatan tentang kunjungan Petrus ke rumah Kornelius di Kaisarea. Ayat 19-20 mengatakan, ”Ketika Petrus sedang berpikir tentang penglihatan itu, berkatalah Roh kepadanya: Ada tiga orang sedang mencari engkau. Bangunlah, turunlah ke bawah dan berangkatlah bersama-sama dengan mereka, jangan bimbang, sebab Aku yang menyuruh mereka.” Ini menunjukkan bahwa pengutusan tiga orang oleh Kornelius (ay. 7-8) sebelum ia bertobat adalah pergerakan dan tindakan Roh itu melalui dia. Dalam 8:29 Roh itu berbicara kepada Filipus, dan di sini dalam 10:19, Roh itu berbicara kepada Petrus. Baik dalam perkara pejabat istana Etiopia maupun perkara Kornelius dan rumah tangganya, pertama-tama seorang malaikat berbicara dan kemudian Roh itu berbicara.
Petrus mempersilahkan orang-orang yang diutus oleh Kornelius untuk bermalam di situ. ”Keesokan harinya ia bangun dan berangkat bersama-sama dengan mereka, dan beberapa saudara dari Yope menyertai dia” (ay. 23). Dalam kasus yang strategis ini, Petrus tidak bertindak sendirian, tetapi berdasarkan prinsip Tubuh Kristus, bergerak bersama beberapa saudara supaya mereka dapat bersaksi bagaimana Allah memperlakukan orang Kafir, yaitu melalui Petrus me-mecahkan tradisi dan kebiasaan Yahudi memberitakan Injil kepada orang kafir (11:12).
Kisah Para Rasul 10:24 mengatakan, ”Pada hari berikutnya sampailah mereka di Kaisarea. Kornelius sedang me-nantikan mereka dan ia telah memanggil sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya berkumpul.” Di sini kita melihat bahwa Kornelius siap untuk menerima Petrus dan mendengar apa yang harus ia katakan. Untuk tujuan ini Kornelius telah mengumpulkan sanak saudaranya dan sahabat-sahabatnya. Di sini, kita memiliki satu teladan yang baik untuk pemberitaan Injil kita pada hari ini. Menurut teladan ini, kita harus membuka rumah-rumah kita dan mengundang sanak saudara dan sahabat-sahabat kita untuk mendengar Injil.
Dalam 10:28 Petrus berkata kepada orang-orang yang berkumpul bersama-sama di rumah Kornelius itu, ”Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul atau berkunjung kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut seorang pun najis atau haram.” Di sini perkataan Petrus menunjukkan bahwa akhirnya Petrus mengerti arti visi yang dilihatnya ketika ia diliputi kuasa ilahi (ay. 11, 17, 19), yaitu, binatang-binatang dalam kain lebar itu mewakili manusia. Dalam berita selanjutnya kita akan membahas isi dari berita Petrus kepada orang-orang yang ada di rumah Kornelius.