← Daftar isi Kisah para Rasul (2) · bab 1/23

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(20)

Pembacaan Alkitab: Kis. 9:31-43

Dalam berita ini kita akan membahas 9:31-43

PEMBANGUNAN DAN PENGGANDAAN GEREJA

Di Tiga Propinsi

Kisah Para Rasul 9:31 mengatakan, ”Selama beberapa waktu jemaat (gereja) di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.” Ayat ini membicarakan tentang Yudea, Galilea, dan Samaria, ketiganya adalah propinsi di Kekaisaran Romawi. Yudea adalah bagian selatan tanah Yahudi, Galilea adalah bagian utara, dan Samaria berada di antara selatan dan utara. Ada gereja-gereja di tiga propinsi ini. Karena pada waktu itu gereja hanya meluas ke propinsi Yudea, Galilea, dan Samaria, dan karena kata ”seluruh” mencakup semua tempat di mana gereja berada, maka di sini digunakan istilah ”gereja” dalam bentuk tunggal ini dalam arti universal. Tetapi pasti ada gereja-gereja dalam arti lokal di sejumlah kota dalam ketiga propinsi tersebut.

Berada dalam Keadaan Damai

Menurut ayat 31, gereja di seluruh Yudea, Samaria, dan Galilea berada dalam keadaan damai. Gereja berada dalam keadaan damai secara batini meskipun ada penganiayaan yang di luar.

Dibangun

Dengan berada dalam keadaan damai di tengah-tengah penganiayaan, gereja itu dibangun. Pembangunan ini terjadi setelah pendirian gereja.

Hidup dalam Takut akan Tuhan

Kita juga diberi tahu bahwa gereja di propinsi-propinsi ini hidup dalam takut akan Tuhan. Meskipun ada penganiayaan, gereja tidak takut kepada manusia, tetapi takut kepada Tuhan, takut kalau-kalau gereja bersalah kepada Tuhan karena terpukul atau tertakluk oleh penganiayaan; juga takut kalau-kalau gereja berdosa kepada Tuhan dalam perkara yang lain.

Dalam Penghiburan Roh Kudus

Menurut 9:31, gereja juga hidup dalam penghiburan Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa gereja sedang menderita kesusahan karena penganiayaan,tetapi dalam keadaan itu gereja tetap hidup dalam takut akan Tuhan dan menikmati penghiburan Roh Kudus.

Orang-orang Yahudi menganggap Yudea sebagai pro-pinsi yang paling baik. Mereka menganggap Galilea sebagai satu daerah yang hina dan Samaria sebagai satu daerah yang penuh dengan percampuran. Karena itu, orang-orang Yahudi di Yerusalem menghina Galilea dan menolak Samaria. Tetapi dalam 9:31 kita melihat bahwa gereja-gereja di tiga propinsi ini dianggap satu gereja. Ayat ini membicarakan tentang ”jemaat di seluruh Yudea, Galilea, dan Samaria.” Saya percaya bahwa Roh itu memberikan ilham kepada Lukas untuk menuliskan dengan cara khusus ini untuk menunjukkan, bahwa tidak peduli betapa Galilea itu sangat diremehkan dan tidak peduli betapa Samaria ditolak oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem, gereja-gereja yang dibangun di daerah itu semuanya harus dianggap sebagai satu gereja. Secara lokal, ada gereja-gereja, tetapi secara universal, semua gereja ini adalah gereja. Di sini kita memiliki satu wahyu yang mendasar mengenai keesaan gereja secara universal.

PENYEBARAN MINISTRI PETRUS

Ke Lida, Menyembuhkan Eneas

Beberapa pembaca kitab Kisah Para Rasul mungkin mengira bahwa menjelang waktu dalam pasal 9, Saulus dari Tarsus masuk ke dalam pengujian Tuhan dalam pasal 9, Petrus telah mundur dari panggung itu. Tetapi, dalam 9:32-43 kita melihat bahwa Petrus masih ada dalam, dan ayat-ayat ini menggambarkan penyebaran ministri Petrus. Ministrinya telah menyebar dari Yerusalem ke Lida. Kisah Para Rasul 9:32 mengatakan, ”Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida.” Lida adalah suatu kota, kira-kira 18 km sebelah tenggara Yope, yang disebut Lod dalam Perjanjian Lama (1 Taw. 8:12; Ezr. 2:33). Sewaktu ia berada di Lida, Petrus menyembuhkan, ”seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh” (ay. 33). Petrus berkata kepadanya, ”Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu! Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan” (ay. 34-35).

Ke Yope, Menyembuhkan Dorkas

Dalam 9:36-43 terdapat kesembuhan atau kebangkitan, Dorkas di Yope. Ayat 36 mengatakan, ”Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.” ”Dorkas” dalam bahasa Yunani sama dengan ”Tabita” dalam bahasa Aram, yang berarti kijang. Ketika murid-murid mendengar bahwa Petrus ada di Lida, yang dekat dengan Yope, ”mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: Segeralah datang ke tempat kami” (ay. 38). Petrus turun ke Yope dan menyembuhkan Dorkas. Mungkin lebih baik mengatakan bahwa Dorkas dihidupkan.

Ada orang mengira bahwa hidupnya Dorkas adalah satu perkara kebangkitan. Dorkas mungkin telah mati sehari penuh sebelum Petrus datang ke Yope. Petrus berdoa dan, ”berpaling ke mayat itu dan berkata: Tabita, bangkitlah! Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk” (ay. 40). Ini dapat dianggap sebagai satu peristiwa kebangkitan. Tetapi, istilah ”kebangkitan,” sebagai ungkapan yang tegas, tidak dipakai di sini. Karena itu, daripada mengatakan kebangkitan Dorkas, saya lebih suka mengatakan bahwa melalui Petrus ia disembuhkan atau dihidupkan.

Persiapan untuk Membuka Pintu Kerajaan bagi Bangsa Kafir

Dalam 9:32-34 kita melihat Petrus dalam ministrinya di luar Yerusalem, bahkan di luar Yudea, yakni di satu daerah yang agak berhubungan dengan bangsa Kafir. Ketika Petrus berada di Yope, ia tidak jauh dari Kaisarea, yang adalah pusat pemerintahan Romawi. Ini berarti Petrus telah bergerak jauh dari Yerusalem, ibukota pusat Yahudi, ke kota Kaisarea, kota tempat salah satu gubernur Romawi tinggal. Karena Yope dekat dengan Kaisarea, kota itu menjadi satu batu loncatan bagi Petrus untuk membuka pintu kerajaan bagi bangsa Kafir. Karena itu, tinggalnya Petrus di Yope merupakan satu persiapan baginya untuk pergi ke rumah Kornelius, dan memakai kunci kedua yang diberikan kepadanya oleh Tuhan untuk membuka pintu itu, supaya bangsa Kafir dapat masuk ke dalam kerajaan. Seperti yang akan kita lihat, di Kaisarea Petrus membuka pintu bagi bangsa Kafir Romawi untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

PENGLIHATAN DAN MUJIZAT

Baik dalam perkara Saulus maupun Kornelius, Tuhan bekerja melalui penglihatan-penglihatan. Dalam suatu penglihatan, Tuhan menampakkan diri kepada Ananias: ”Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan: Ananias! Jawabnya: Ini aku, Tuhan!” (9:10). Sebelum hal ini, Saulus dari Tarsus mendapatkan suatu penglihatan dari Tuhan sendiri. Tuhan menampakkan diri kepada Saulus dan berbicara kepadanya. Setelah itu, Saulus mendapatkan peng-lihatan lainnya, yang di dalamnya ia melihat Ananias me-numpangkan tangannya atasnya. Tuhan memberi tahu Ananias tentang hal ini dengan mengatakan bahwa Saulus, ”dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi” (9:12). Karena itu, Saulus dan Ananias melihat penglihatan. Di sini kita melihat perkara penglihatan yang berhubungan dengan perampungan pekerjaan Tuhan.

Dalam perkara Kornelius, Tuhan juga bekerja melalui penglihatan. Pertama, Kornelius, ”dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, ia melihat dengan jelas seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: Kornelius!” (10:3). Pada hari berikutnya, Petrus melihat suatu penglihatan sewaktu ia berdoa di atas rumah (10:9-10, 17). Jadi, dalam perkara Kornelius kita melihat dua peng-lihatan lagi penglihatan yang dilihat Kornelius dan peng-lihatan yang dilihat Petrus.

Kita telah menunjukkan bahwa perkara Saulus dan Kornelius melibatkan penglihatan-penglihatan. Suatu penglihatan diberikan kepada Saulus dan kemudian kepada Ananias. Demikian pula, suatu penglihatan diberikan kepada Kornelius dan kemudian kepada Petrus. Di antara dua perkara ini, yang keduanya melibatkan penglihatan, ada dua mujizat yang terjadi melalui Petrus. Pertama, kita melihat kesembuhan Eneas, dan kemudian dihidupkannya Dorkas. Dalam mempelajari kitab Kisah Para Rasul, kita perlu mengajarkan berbagai perkara seperti ini dan kemudian melihat apa yang digambarkannya. Kita tidak boleh membahas pasal 9 secara terpisah. Sebaliknya, kita harus mempelajari pasal ini dalam hubungannya dengan perkara yang sebelumnya dan perkara yang berikutnya.

MINISTRI PETRUS DAN TAHAP PERMULAAN DARI MINISTRI SAULUS

Kisah Para Rasul 1 itu berdiri sendiri sebagai satu pasal mengenai persiapan. Kemudian dalam pasal 2 terdapat per-mulaan perkembangbiakan. Pasal 2-5 adalah satu bagian. Empat pasal ini berkenaan dengan ministri perkembangbiak-an Petrus. Dalam pasal 2 terdapat berita pertama Petrus, yang disampaikan pada hari Pentakosta, dan dalam pasal 3 kita melihat mujizat yang dilakukan untuk seorang yang lumpuh sejak lahirnya. Berdasarkan mujizat itu, Petrus menyampaikan berita lainnya, yang tercatat dalam pasal 3-4. Ini berhubungan dengan apa yang terjadi dalam pasal 5. Jadi, empat pasal ini membentuk satu bagian yang berkenaan dengan ministri perkembangbiakan Petrus.

Kisah Para Rasul 6 dimulai dengan penunjukan tujuh orang diaken. Di antara tujuh diaken ini, ada Stefanus, yang adalah seorang pengajar firman. Dalam pasal 7 terdapat ca-tatan tentang pengajaran Stefanus. Salah satu dari tujuh orang itu adalah Filipus, yang adalah seorang pemberita Injil. Pasal 8 memberikan suatu catatan tentang pekerjaan pemberitaan dari pemberita Injil ini.

Stefanus dianiaya dan akhirnya dibunuh. Seorang pemuda bernama Saulus mengambil bagian dalam peng aniayaan itu. Perkara Stefanus ini membuat para pemimpin Yahudi terangsang untuk menganiaya para pengikut Yesus. Mengenai hal ini, 8:1 mengatakan, ”Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem.” Setelah ini kita diberi tahu, ”Saulus berusaha membinasakan jemaat itu” (8:3). Ini menunjukkan bahwa Saulus adalah salah satu dari para pemimpin utama penganiayaan terhadap para pengikut Yesus. Tetapi sewaktu pemimpin peng-aniayaan ini berada dalam perjalanan dari Yerusalem ke Damsyik, ia diselamatkan. Bukan hanya diselamatkan ia pun menjadi seorang pemberita yang hebat, seperti yang ditunjukkan oleh catatan dalam 9:20-30.

Pertobatan Saulus dan fakta ia menjadi seorang pem-berita yang hebat bukanlah tanda akhir dari ministri Petrus. Segera setelah catatan pemberitaan Saulus, Petrus muncul lagi di panggung itu. Tetapi, panggung itu, bukan di Yudea melainkan di suatu tempat yang tidak jauh dari Kaisarea. Seperti yang telah kita lihat, tempat ini menjadi satu batu loncatan bagi Petrus untuk pergi ke dunia Kafir dan membuka pintu bagi bangsa-bangsa Kafir untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Para pembaca kitab Kisah Para Rasul mungkin merasa sulit untuk membagi kitab ini ke dalam berbagai bagian. Dalam pengkajian kita terhadap kitab Kisah Para Rasul, kita boleh menganggap pasal 6-11 sebagai satu bagian. Dalam bagian kitab Kisah Para Rasul ini kita melihat bahwa ministri Saulus dalam tahap permulaannya berbaur dengan ministri Petrus. Tetapi meskipun dua ministri ini berbaur, ministri Petrus masih tetap yang utama dalam pasal-pasal ini.

Seperti yang akan kita lihat, ministri Saulus masuk secara perlahan-lahan. Petrus pergi ke Yope yang menjadi satu batu loncatan untuk bangsa Kafir di Kaisarea. Ini ada-lah satu persiapan untuk mendapatkan bangsa Kafir supaya Saulus, yang akan menjadi seorang rasul bagi bangsa Kafir, dapat memulai ministrinya kepada bangsa-bangsa Kafir. Dalam pasal 6-11, meskipun ministri Petrus masih tetap yang utama, tetapi mulai keluar dari panggung. Juga dalam pasal ini, Saulus muncul di panggung. Mula-mula kita men-dengar Saulus pada akhir pasal 7 di mana kita diberi tahu bahwa saksi-saksi yang melempari Stefanus dengan batu,

”meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus” (7:58). Ini menunjukkan bahwa ketika Paulus muncul di panggung, ia muncul sebagai seorang penganiaya. Kemudian dalam pasal 9, penganiaya ini bertobat dan menjadi seorang pemberita yang hebat. Sampai akhir pasal 9, Saulus mulai melangkah ke dalam ministrinya. Seperti yang akan kita lihat, ministrinya ke dunia Kafir dimulai dengan satu cara yang mutlak dan menang dalam pasal 13. Menjelang waktu itu Petrus telah keluar dari panggung, dan Paulus sepenuhnya berada di panggung itu.

KEDAULATAN TUHAN

DALAM PERKEMBANGBIAKAN-NYA

Dalam pasal ini kita melihat kedaulatan Tuhan dalam mengembangbiakan diri-Nya sendiri dengan menyebar ke dalam umat pilihan-Nya. Tuhan meluangkan waktu tiga setengah tahun ditambah sejangka waktu tambahan untuk mempersiapkan Petrus. Kemudian Tuhan meluangkan wak-tu lainnya untuk mempersiapkan Saulus. Ketika kita membaca kitab Kisah Para Rasul, kita perlu menyadari bahwa di antara akhir pasal 9 dan permulaan pasal 13 terdapat suatu selang waktu. Selama selang waktu itu, Saulus me-nerima banyak hal dari Tuhan. Tetapi, apa yang terjadi itu tidak dicatat di dalam Kitab Suci. Kita hanya mengetahui bahwa untuk sejangka waktu Paulus berada di Arab (Gal. 1:17). Kita tidak bisa menemukan apa yang ia lakukan di sana. Meskipun demikian, kita percaya bahwa selama selang waktu itu, Paulus menerima lebih banyak hal dari Tuhan. Karena itu, ketika ia datang untuk memberitakan dalam pasal 13, pemberitaannya lebih limpah daripada yang ada dalam pasal 9. Pemberitaan Paulus dalam pasal 9 itu sederhana dan singkat. Menurut pasal ini, ia menekankan Yesus sebagai Anak Allah dan sebagai Kristus; yaitu, ia menekankan persona Kristus dan pekerjaan-Nya. Tetapi dalam pasal 13-28 pemberitaannya itu jauh lebih limpah.

Sewaktu kita mempelajari kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa Tuhan berdaulat untuk mempersiapkan satu bejana pilihan seperti Saulus dari Tarsus. Tuhan memalingkan dia dari seorang pemimpin penganiaya menjadi seorang yang mendatangkan berkat yang besar bagi kaum beriman.